Moon Story Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 30

Bicara

Bising gemerisik mengawali rekaman.

Lalu terdengar suara Ratna, “Ponakan Pak Kris ternyata anak IT.”

Ini bagian yang bikin gue nahan napas. Udah kebayang lanjutannya, Pak Kris manfaatin video yang pernah viral di kalangan anak-anak IT. Untung Ratna sempet ngasih perintah hapus pada seluruh bawahannya. Alhasil, Pak Kris sebenernya cuma dapet cerita-cerita berplatform gosip internal.

Namun seorang yang licik ngga akan diem aja ngeliat kesempatan. Dia nyari tahu, sampe akhirnya menghubungi Ratna.

“Dia nawarin seratus juta buat videonya dan limapuluh juta buat nyebarinnya.”

Ini bagian yang bikin ga abis pikir. Cuma seratus juta, sekali klik juga gue kasih ke mantan.

“Tapi kamu bener-bener ahli strategi, Mal,” kedengeran suara Ratna setengah ngeledek.

Gue lirik Pak Kris, keringet mulai terbit di dahinya. Pak Santoso memutar-mutar bolpoin dengan jempol dan telunjuk, sementara jari kirinya melingkar di depan mulut.

“Aku tahu antisipasimu sejak awal ngga akan bisa dipatahkan.” Terdengar Ratna mendengkus.

“Kamu berhasil melindungi Bulan, tapi gagal melindungi diri sendiri.”

Lalu dia cerita tentang penawarannya pada Pak Kris. Iya, dia sendiri yang nawarin buat ngejatohin gue. Sumpah! Kepala jadi makin sakit denger pengakuannya di bagian ini.

Gila banget dia! Ngancurin diri sendiri demi uang 200 juta. Gue tahu duit mungkin bukan inceran utamanya. Ada beberapa sasaran yang dia tembak. Pertama Sandi, mereka bertengkar hebat waktu video ini jadi viral. Suaminya itu ngira kita selingkuh, Ratna ngga ngasih tahu kapan tepatnya video itu dibuat.

Harga diri Sandi terluka, dan itu cukup untuk membuat Ratna menceraikannya dengan bangga. Benar-benar logika pikir yang aneh. Ketika dendam menguasai, akal sehat menjadi rusak.

Kedua, gue.

“Heran, kenapa kalian ngga bertengkar juga? Kenapa kamu malah dateng ke sini bawa dia?” terdengar suara Ratna mengeluh.

“Karena cintaku pada Bulan lebih kuat daripada semua cintaku yang pernah ada buat kamu.” Saat itu Bulan mempererat genggamannya.

Sekarang pun, senyumannya menjadi penguat diri, biar ngga pingsan di tengah-tengah rapat ini.

Bulan mematikan rekaman, dan beralih pada kedua pemegang saham yang duduk di seberang gue.

“Sekarang, Bapak-bapak udah dengar semua. Siapa biang keladi dari semua kekacauan di Purwaka Grup ini.”

“Saya ngga nyangka,” Pak Santoso angkat bicara, “Anda picik sekali, Pak Kris.”

Ha! Ada yang berusaha cuci tangan rupanya.

Pak Kris menoleh dengan marah.

“Maksud Anda apa, Pak Santoso?”

“Ini benar-benar memalukan!” Pak Santoso beralih pada kami berdua.

“Saya menyesal sudah mendukung Pak Kris untuk menjadi Presdir selanjutnya.”

“Apa?! Bukannya ide untuk…” Satu tinjuan dilayangkan Pak Santoso ke rahang sekutunya itu.

“Maaf,” kata Pak Santoso merapikan jasnya yang agak berantakan, “satu tinjuan pun rasanya ngga cukup.”

Kepala gue makin sakit ngeliat drama ini. C’mon! Siapa yang bisa percaya kalo Pak Santoso ngga tahu apa-apa soal taktik video ini.

Pak Kris susah payah berdiri.

“Kurang ajar!” Dia menarik kerah Pak Santoso.

“Cukup! Bapak-bapak, tolong dramanya di luar ruangan ini saja. Kita akan membahas tentang penguasaan Bapak-bapak berdua atas saham Purwaka Grup,” Bulan menyela sebelum terjadi baku hantam lagi di depan mata.

“Saya minta Bapak berdua menyerahkan kembali saham yang Bapak miliki kepada Purwaka Grup, atau kasus ini akan diusut tuntas oleh pihak kepolisian,” ujar Bulan tegas seperti pisau daging membelah sekali tebas.

Dasar bapak-bapak pengecut. Baru digertak segitu aja udah lemes. Mereka setuju, dengan syarat posisi sebagai Direktur di anak perusahaan Purwaka Grup tidak diganggu gugat.

Bulan tak menolak namun ini hanya untuk periode jabatan yang tinggal beberapa bulan. Setelah itu, mereka berdua dipaksa pensiun dan dilarang ikut serta lagi dalam semua kegiatan bisnis Purwaka Grup.

Kepala gue makin berat dan badan tambah lemes. Setelah Hana menyodorkan surat penyerahan saham, ngga ada lagi yang masuk ke memori.

***

Gue bangun dengan tangan pegal dan gatal. Waktu digaruk, ada sesuatu yang ngganjel. Pas buka mata, shock!

Infus? Eh, bukan. Isi selangnya warna merah.

Darah?

Gue liat ke atas, sekantong darah dengan huruf AB tertulis besar-besar di sana.

Gila! Sakit apaan gue sampe perlu transfusi segala?

Sekeliling ruangan, sangat khas rumah sakit. Untung aja dindingnya warna biru laut, jadi ngga terlalu nyeremin kaya rumahsakit yang biasanya putih.
Sebuah gawai dengan banyak tombol, ada di sebelah kanan, dekat tangan seseorang yang tertidur tertelungkup di tepi tempat tidur. Bulan, wajah putihnya masih terlihat bercahaya di suasana kamar yang temaram.

Langit Jakarta terlihat merah jingga di balik jendela. Lama juga gue ketiduran ternyata.

“Udah bangun,” serak suara Bulan ngagetin.

“Kamu yang tidur.”

Dia tersenyum. Sedikit ngulet lalu menegakkan punggung.

“Kamu pingsan tadi,” ujarnya mengambil telapak tangan gue untuk disentuhkan ke pipinya.

“Untung dokter bilang kamu cuma anemia biasa. Tapi sekalian aja kusuruh general check up biar bener-bener yakin.”

“Hasilnya?” Gue belai keningnya, berusaha menghilangkan sisa kecemasan yang mungkin masih ada.

“Ngga tahu, hasilnya baru dikasih tahu besok.”

“Aku ngga apa-apa. Cuma kecapekan.”

Gue ambil remote dekat tangannya tadi. Ini alat untuk mengatur posisi tempat tidur. Gue tekan satu tombol dengan simbol elevasi. Separuh bagian kepala tempat tidur terangkat. Sekarang bisa setengah duduk berhadapan dengan istri tersayang.

Bulan tersenyum. “Yeah! Semoga.”

Kemudian dia bercerita tentang RUPS yang terpaksa dipending karena gue pingsan tiba-tiba.

“Untungnya surat penyerahan saham udah berhasil ditandatangani.”

Gue manggut-manggut.

“Kamu ngga ke Semarang?” Ganti topik, ngomongin perusahaan bikin tambah sakit.

“Ngga. Aku bilang sama dosenku, suamiku tiba-tiba pingsan. Trus dia bilang, first thing first. Well, you always be my first,” katanya menyungging senyum lalu ngambil posisi di samping gue.

“Eh? Ini tempat tidur orang sakit.”

“Aku juga sakit,” rajuknya, merebahkan kepala di bahu gue, “sakit malarindu tropikangen,”

Halah!

Dia merangkul tangan gue, seperti biasa.

“Aku lagi kacau tau, ga?”

Omaigat! Bukannya gue yang lagi kacau?

“Ngga. Kenapa?”

Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang ada di atas nakas.

“Tadi pagi Bibi nemuin ini di kantong kemejamu,” katanya nyerahin selembar amplop yang udah kebuka sampulnya.

Kayanya ini amplop angpaw dari bokapnya si Riana.

“Tolong nyalain lampu.”

Bulan menarik tali buat nyalain lampu baca yang ditempel pas di atas tempat tidur.

Isinya ternyata bukan duit, tapi selembar surat tulisan tangan.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bulan merapatkan tubuhnya yang ngerangkul tangan gue.

Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Jika berbicara langsung, mungkin akan butuh waktu lama sekali karena bicara menjadi hal yang sangat sulit sekarang.

Namun saya berterimakasih untuk itu. Saya tak menyangka, betapa banyak hal yang selama ini terlewat hanya karena saya terlalu banyak bicara.

Nelen ludah. Jadi ngerasa bersalah karena udah bikin si bapak mengalami stroke ringan. Yah, mungkin masih dibilang ringan, karena cuma bagian mulutnya aja yang mengalami stroke. Mudah-mudahan gitu.

Saat ngga bisa bicara. Saya jadi lebih banyak mendengar. Betapa lembutnya suara istri saya saat berbicara. Saya hampir lupa, bagaimana suara manisnya dulu membuat saya jatuh cinta ketika pertama kali mendengarnya menyanyi. Saya juga baru sadar, betapa saya telah lama tak mendengarnya bersenandung di rumah.

Kini senandung istri saya kembali lagi. Wajahnya juga terlihat lebih cerah dan senyumnya makin banyak tersungging.

Yah, karena tak bisa banyak bicara, saya juga akhirnya banyak melihat. Melihat bagaimana anak-anak saya dapat berbincang akrab dengan ibu mereka, namun tidak dengan saya. Melihat bagaimana kini Riana telah tumbuh dewasa.

Iya, Riana. Saya harus mengakui bahwa dia adalah anak perempuan saya.

Terlalu banyak bicara sudah membuat saya buta dan tuli, hingga hanya bisa melihat diri sendiri. Lupa bahwa hidup ini jadi indah justru ketika kita menyadari keberadaan diri sendiri bersama banyak orang lain yang mengasihi.

Akhirnya, hanya bisa mengucap terimakasih.

Terimakasih telah membukakan mata dan telinga saya.

Terimakasih telah membungkam mulut saya.

Gue lipat surat dari bapaknya Riana. Bulan masih merebahkan kepala di bahu.

“Aku jadi ngga tahu,” katanya lirih, “apa aku harus maafin Adrian?” Diusapnya mata ke bahu.

“Dia udah minta maaf kemaren. Dia juga keliatan udah berbeda. Oke, sebagian dari diriku bisa nerima dia. Tapi sebagian lagi tetep ngga bisa,” kalimatnya tersumpal kain piyama seragam pasien.

“Aku tahu.” Gue usap kepalanya dengan tangan yang tersambung selang.

“Tapi dia sendiri mungkin korban,” katanya mengangkat kepala, “korban dari bapak yang ngga mempedulikan anaknya. Sama kaya aku, kan Sayang?”

Di bawah cahaya lampu baca, kami bertatapan. Matanya minta persetujuan.

“Ngga, kamu beda.”

“Bedanya?”

“Kamu istriku.”

“Apaan, sih?” Dia malah nyubit pinggang gue. Salah gue apa? “Aku lagi ngga ngomongin itu,” serunya

“Trus, ngomongin apa?”

“Hhh! Aku baru sadar. Ternyata ngga ada orang yang bener-bener bersih. Semua orang tuh abu-abu, ngga ada yang putih atau item. Coba liat, Adrian, ternyata ngga setulus yang gue kira. Trus Papa, aku selalu ngerasa Papa sama Mama tuh relationship goals banget, deh. Tapi ternyata….” Bulan memberi sedikit jeda,

“amit-amit jabang bayik. Aku ngga pengen punya relationship kaya gitu.”

“Makanya, kalo kamu punya masalah sama aku, omongin sama aku. Jangan sama orang lain, apalagi cowok lain.”

“Kok jadi aku, sih?” Bulan protes, “aku lagi ngga ngomongin itu, Sayang,” sekarang mulai merajuk.

“Aku tuh mau ngomongin soal abu-abu itu.”

“Kenapa dengan abu-abu?”

Bulan duduk bersila, sebelah kakinya ada di atas kaki gue.

“Aku inget soal panduan yang kamu omongin waktu itu. Apa kamu udah nemuin panduan yang tepat buat hidup kita?”

Narik napas panjang lalu menggeleng.

“Panduan itu penting, Sayang. Di dunia serba abu-abu ini, berinteraksi dengan orang-orang yang juga serba abu-abu, kita butuh panduan yang jelas biar ngga salah menilai. Kalo ngga ada panduan, bisa-bisa kita salah menilai dan akhirnya terjerumus pada pilihan-pilihan salah setiap saat.”

Ngalihin pandang ke langit di balik jendela. Cahaya merah makin merajai cakrawala. Di langit Jakarta ini, yang terlihat hanya satu warna. Padahal, senja memiliki banyak warna. Dari teras atas masjid di pondok dulu, warnanya bisa juga ungu atau pink.

Di mana kita berpijak, mungkin akan menentukan warna apa saja yang kita lihat di kala senja menghampiri malam.

“Jadi kamu butuh panduan yang seperti apa?”

Bulan terdiam.

“Entahlah.” Lalu kembali menyandarkan punggung di samping gue, bergelung sambil ngerangkul tangan.

“Mungkin sesuatu yang selalu tetap, tak pernah berubah. Di tengah perubahan yang sangat cepat di zaman serba instan ini, harus ada yang tetap supaya kita ngga kehilangan arah.”

Hahaha! Permintaan konyol.

“Mana ada yang kaya gitu.”

“Harusnya ada. Kalo ngga ada, kita ngga akan punya panduan. Dan kita semua pasti akan tersesat,” bantah Bulan.

“Sayang, kekekalan itu ilusi. Perubahan itu nyata.”

“Kalo gitu, kita ngga mungkin punya panduan,” ucapnya masygul.

Dia makin rapat bergelung di tangan. Kamar makin gelap, dengan lampu baca menjadi satu-satunya cahaya. Di luar, langit indigo dihiasi bintang-bintang. Gemerlap seperti manik-manik di gaun sang malam.

“Seperti yang kamu bilang, kita perlu punya panduan. Tapi ngga bisa yang kaku, dia juga harus fleksibel hingga bisa sesuai zaman apa pun.”

“Tapi, kalo dia ikut berubah, namanya bukan lagi panduan. Bagaimana mungkin panduan malah dipandu oleh perubahan zaman?”

Hmm, masuk akal.

“Harusnya panduan itulah yang memandu perubahan zaman.”

“Memandu perubahan…” Dua kata yang agak sulit dicerna.

Tak ada kata-kata lain. Mungkin kita sama-sama tenggelam dengan pemikiran masing-masing. Ngga nyangka pembicaraan kemaren ternyata beneran dipikirin sama Bulan. Lumayan, sekarang ngga perlu lagi mikir sendiri.

Keheningan itu tiba-tiba berantakan oleh suara perut yang bernyanyi. Bulan terkejut dan bangun dengan tertawa.

“Sorry,” katanya, “lupa tadi makan malammu udah dianterin sama petugas dapur.”

Dia berdiri lalu menarik meja yang terlipat di kaki tempat tidur. Kemudian dengan cekatan menata makan malam di atasnya. Setelah tutup plastik piring dan mangkuk dibuka, aroma daging sapi menguar, membangkitkan selera.

“Kamu ngga makan?”

Bulan menyalakan lampu kamar sebelum menjawab, “Udah tadi.” Kemudian beranjak ke jendela dan menutup tirainya.

“Kenapa ditutup?”

Tangan Bulan terhenti.

“Apa mau dibuka? Kan udah malem.”

“Kalo ditutup, kita ngga bisa liat bintang-bintang.”

Dibukanya lagi tirai yang hampir tertutup kemudian beranjak duduk ke samping gue lagi.

“Enak?” pertanyaannya lebih mirip basa-basi.

“Kamu belom makan,” nebak doang, tapi dia membalas dengan senyum jail.

“Iya, aku pesen sekarang,” ujarnya meraih ponsel dari dalam tas.

“Nih, sambil nunggu.” Gue suapin rolade saus asam manis ke mulutnya.

“Mau pesen apa?”

Bulan menggeser-geser layar nyari makanan.

“Kamu bener,” katanya setelah menyelesaikan order makanan melalui aplikasi ojol, “bintang-bintangnya cantik.”

“Yeah.” Gue abisin air di gelas sebagai penutup makan malam.

“Menurut kamu, bintang-bintang itu sebenernya diciptakan untuk apa?”

“Diciptakan?”

“Bener, kan, diciptakan?”

“Siapa yang menciptakan?”

Bulan mengangkat bahu tapi tetap menjawab, “Tuhan?”

“Yakin?”

Dia berpikir sejenak, kemudian berkata, “Bukannya semua memang diciptakan oleh Tuhan?”

Pengen ketawa, tapi akhirnya cuma senyum aja. Percakapan seperti ini bikin de javu. Dulu pernah terlibat obrolan macam gini sama Ratna. Bedanya, waktu itu gue ada di posisi Bulan, yang keyakinannya dibombardir hingga hancur.

“Kalo bukan Tuhan, trus siapa yang menciptakan?”

“Segala sesuatu ada karena ada yang menciptakan, itu asumsi bukan fakta.”

Bulan mengernyit.

“Kamu mengurung pikiranmu dengan asumsi penciptaan hingga meyakininya sebagai sebuah fakta.”

Perempuan tercantik di dunia ini masih belom bisa menerima argumen barusan. “Oke,” katanya, “lalu apa faktanya?”

“Faktanya, kita aslinya ngga tahu apa-apa soal alam semesta.”

Bulan menoleh dengan keterkejutan.

“Maksudnya?”

Gue susun piring dan mangkuk jadi satu dan menyerahkannya pada Bulan buat dipinggirin. Dia menerima semua, lalu berdiri, meletakkan seluruh perangkat makan itu ke luar pintu.

“Semua bintang yang bisa kita liat dengan mata telanjang adalah penghuni galaksi bimasakti.”

“Trus?” tanya Bulan menarik kembali meja lipat itu untuk disimpan di ujung tempat tidur.

“Trus? Galaksi bima sakti, kalo dibandingin sama seluruh alam semesta yang kita tahu sampai saat ini, cuma segede satu butir pasir.”

Bulan ternganga.

“Berarti kita….?” dia bahkan ngga bisa melanjutkan pertanyaannya.

Gue ngangguk-angguk.

“Berarti kita, jauh lebih kecil. Kita ini cuma noktah superkecil di tengah alam semesta.”

Bulan duduk di tepi tempat tidur, agak limbung dengan mata yang tampak berpikir keras.

“Dan noktah superkecil ini merasa cukup cerdas untuk menguak rahasia semesta.”

Bulan menoleh.

“Kok aku jadi ngeri, ya?”

“Nyantai, Sayang. Kan ada aku di sini.”

“Halah!” Tapi dia tetap saja, kembali meringkuk dengan ngerangkul tangan gue.

“Kalau alam semesta sebesar itu, berarti penciptanya lebih besar lagi, ya?” suaranya hampir seperti bisikan.

Bintang-bintang di langit malam masih berkelip-kelip.

“Kalau ada penciptanya.”

“Kalo ngga ada, gimana bisa terjadi seluruh semesta raya ini?”

Narik napas dalam, melepas rangkulannya dari tangan dan balik merangkul seluruh pundaknya.

“Seluruh atom di dunia ini selalu bergerak mencari keseimbangan. Kurasa, hal yang sama juga terjadi di level yang lebih besar. Planet-planet, bintang-bintang, bulan-bulan, semua bergerak demi mendapatkan keseimbangan. Terus bergerak untuk mempertahankan keseimbangan.”

“Kamu ngomong gini, kedengeran makin mengerikan,” ujarnya makin merapatkan badan.

“Kenapa?”

“Keseimbangan atom-atom adalah keseimbangan yang rapuh. Kesetimbangan equilibrium atom-atom itu selalu berada dalam posisi genting. Kalo ada satu bagian aja yang ngga sejalan, hancur semuanya. Ledakan nuklir jadinya.”

Pengen ngakak. “Tapi bisa jadi, alam semesta ini pun terjadi dari ledakan besar itu, kan? Sesuatu yang tadinya equilibrium, lalu tiba-tiba meledak.”

“Apa kamu mau bilang kalo ledakan itu pasti terjadi?”

Gue angkat bahu soal ini.

“Bisa jadi. Abis itu baru muncul alam semesta yang baru. Semacam siklus kejadian.”

Bulan membenamkan wajahnya ke pundak gue.

“Berarti kiamat itu emang bener bakal terjadi, dong?”

“Hahaha! Kalo bakal terjadi, trus kenapa?”

Bulan mengangkat kepalanya.

“Kamu ngga takut?” tanyanya heran.

“Kenapa harus takut? Itu kan cuma siklus kehidupan.”

Sebuah panggilan masuk di ponselnya.

“Dari abang ojol,” katanya lalu menekan tombol hijau.

“Oke, saya turun sekarang.” Lalu dia turun dari tempat tidur sambil pamit, “Aku ambil pesenan dulu ke bawah, si Abang Ojol ngga boleh naik sama satpam.”

***

Setelah makan, kami berbincang lagi tentang bintang. Kali ini dengan topik yang lebih romantis hingga bisa diakhiri dengan ciuman dalam sebelum berpelukan menjelang tidur.

Kejutan datang keesokan paginya. Perawat baru aja ngelepas jarum dan selang dari tangan gue ketika Bulan curhat dengan muka manyun.

“Aku baru install Alqur’an di hape,” keluhnya lirih.

Tiba-tiba jadi ngeri gue.

“Kamu install Alqur’an?”

Dia ngangguk.

“Tapi aku ngga bisa bacanya,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Astaga.

“Ngapain nyusahin diri sendiri?”

“Aku mau belajar Alqur’an. Aku mau beriman aja.” Lalu seperti teringat sesuatu, dia terpaku.

“Kamu ngga apa-apa, kan kalo aku beriman?”

Huh! Pake nanya.

“Ngapain kamu beriman?”

“Biar tenang. Ngeri aku kalo beneran kiamat. Trus aku ngga punya apa-apa, ngga ngelakuin apa-apa. Panduan hidup aja belom ketemu. Ya ampun, hidupku di dunia ini sia-sia.”

Heran, logikanya aneh ni anak.

“Kamu bisa melakukan banyak hal. Kamu duduk di sampingku waktu aku lagi kacau aja udah bisa bikin pikiranku tenang. Buatku, itu udah luar biasa banyak. Apa yang kamu lakukan selama ini sangat berarti, apa kamu ngga sadar?”

“Sayang,” katanya duduk di tepi tempat tidur.

“Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari semesta ini, yang membuat segalanya tetap berada dalam keseimbangan equilibrium. Mulai dari atom-atom terkecil, sampai bintang-bintang terbesar. Dia yang bisa melakukan itu, juga pasti bisa membuat kesetimbangan itu hancur. Mungkin cuma kaya menjentikkan ujung jari,” jelasnya lagi sambil menjentikkan telunjuk di depan mata gue.

“Kamu boleh menolaknya, tapi aku akan menyebut Dia Yang Jauh Lebih Besar Dari Semesta itu sebagai Tuhan.”

Mata Bulan menyiratkan ketegasan. Nada bicaranya pun udah ngga bisa diganggu gugat.

“Dan kamu memilih Tuhannya umat Islam untuk diimani?”

Dia mengangkat bahu.

“Soalnya, itu satu-satunya Tuhan yang kukenal.”

Huh! Serah! Gue ngga ikutan.

“Kamu ngga apa-apa, kan kalo aku beriman kepada Tuhannya umat Islam?”

Gue tatap mata Bulan kesal. Emangnya masih bisa dibantah. Kalo dia udah mutusin sesuatu, samudera luas pun ngga akan jadi penghalang untuk melompat.

“Terserah kamu. Keimanan akan membutuhkan konsekuensi. Semoga kamu kuat menghadapinya.”

Bibirnya mengulas senyum.

“Makasih, Sayang,” katanya seraya memberi pelukan erat.

“Sekarang, aku mau belajar Alqur’an,” dia berkata penuh semangat.

Menit-menit selanjutnya gue terpaksa ngedengerin berbagai channel youtube yang menyenandungkan huruf hijaiyah.

“Lucu juga, ya. Ada lagunya, loh.”

Ya iyalah! Buat ngajarin anak kecil huruf-huruf, apalagi yang lebih efektif daripada lagu-lagu?

“Aku bisa ngajarin kamu baca Alqur’an.”

“Eh? Kamu mau ngajarin aku baca Alqur’an?” Dia ngakak keras banget.

“Ironis sekali. Aku diajarin baca Alqur’an oleh seseorang yang tidak beriman.”

“Ngga perlu beriman kalo cuma mau baca Alqur’an.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat