Moon Story Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat

Cerita Sex Dewasa Moon Story Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Moon Story Part 25

Menaklukkan Monster

“Ih, bo’ong!” bantah Bulan manja dengan pipi merona merah.

“Kapan aku bo’ong sama kamu?”

“Sekarang!” sergahnya cepat. Ditegakkannya badan hingga kita berhadapan.

“Aku liat sendiri tadi kamu juga terpesona ngeliatin dia.”

“Ha? Terpesona dari mana? Heran, mungkin. Kalo terpesona, ngga masuk akal.”

Dia siap melontarkan argumen tambahan tapi cepet-cepet gue cegat, “Mana mungkin terpesona sama cewek biasa selagi punya istri yang cantiknya melebihi bidadari.”

Dan pipi itu makin merona ngegemesin.

“Bo’ong lagi,” katanya, nyubit pinggang gue gemes, “orang yang ga percaya Tuhan, mana mungkin percaya sama bidadari,” ujarnya lugas.

Eh, bener juga.

Tanpa diminta, direbahkannya kepala di dada.

“Apa kata Ummi sama Ustadz kalo mereka tahu kamu sekarang jadi musuh Tuhan?” tanyanya hampir tak terdengar.

Gue ga bisa jawab. Makanya tadi tetep ikut shalat Ashar di masjid, biar mereka ngga perlu tahu.

“Aku ngga memusuhi Tuhan.”

Bulan mendengkus halus.

“Sesuatu yang ngga ada, ngga bisa dimusuhi.”

Sekarang dia tergelak.

“Yeah!” Bulan menegakkan punggung untuk melepas kerudung.

Akhirnya gue bisa bebas mengelus halus rambutnya.

“Gimana rasanya pake jilbab seharian?”

Bulan mengibaskan rambut, menerbangkan partikel aromatik ke udara. Keharumannya menguar, menguasai indera penciuman. Gue tarik dia dalam dekapan, ngga rela kehilangan satu pun molekul penenang otak ini.

“Waktu dilepas gini, rasanya jadi kaya ada yang hilang,” jawabnya jail, “mulai kebiasaan, nih.” Dia tertawa. Suaranya menggelitik kuping sampe ke perut.

“Apa mending aku pake buat seterusnya, ya?” selesai bicara begini, dia ketawa lagi.

“Terserah kamu. Yang penting nyaman dan ngga nyusahin.”

Fokus gue saat ini lebih ke menikmati helai rambut yang menutupi jalur masuk udara ke hidung. Aromanya jauh lebih tegas dari biasa. Mungkin karena seharian tertutup, jadi keharumannya pun seolah ikut terkunci.

“Tapi kalo kamu mau pake jilbab, tekanan sosialnya berat. Ntar begitu kamu bosen dengan model baju kaya gini, kamu bakal susah ganti model.”

Dia manggut-manggut.

“Tapi kamu lebih suka yang mana?” tanyanya lagi, kali ini agak serius.

“Hmm, rambut kamu ditutupin jilbab, jadi lebih harum.”

Dia menoleh, sedikit menengadah sambil merajuk, “Ih, kan aku lagi nanya, kamu lebih suka….”

Udah. Kebanyakan ngomong, kunci aja mulutnya biarkan napas dan lidah yang bicara.

Kayanya tangan gue mulai lepas kendali kali ini. Dia mencengkeram pergelangan tangan sampe jari-jari nyaris kebas ngga bisa gerak.

Di antara desah, sebuah tanya terlontar, “Kalo kamu udah dapet segalanya, kamu ngga akan ninggalin aku, kan?”

“Segalanya?” Gue puter tangan untuk melepaskan kuncian.

Wajah Bulan terlihat tegang. Pipinya yang tadi merona merah ngegemesin, sekarang keliatan pucat kekurangan darah.

“Tubuhku. Itu yang kamu inginkan, kan?”

Pengen ngakak, ngga tega. Bulan ngomong udah serius banget.

“Jadi buatmu, tubuhmu itu segalanya?”

Bulan menarik diri, merapikan dua kancing gamisnya yang sempet gue lepas tadi.

“Ya ngga. Tapi, itu yang kamu incer, kan?”

“Apa yang aku incer? Tubuhmu?” Sekarang gue yang narik diri, melipat tangan, membuat jarak. Kata-kata Bulan terasa sangat merendahkan.

Dia mengangguk ragu.

Hhh, musti ngatur napas lagi, biar ga bablas marah-marah.

“Tubuhmu, ya punyamu. Aku ga akan bisa memilikinya. Emang sekarang masih jaman perbudakan? Jaman ketika manusia bisa diperjual belikan dan dimiliki? Aku menikahimu, bukan membelimu.”

Bulan tertegun.

“Sayang,” dengan seruas telunjuk, menyentuh dagunya yang manis menggoda seperti cupcake minta digigit,

“saat bercinta, kita saling menggunakan tubuh untuk mengekspresikan cinta. Aku merelakan tubuhku untuk kamu gunakan. Apakah kamu merelakan tubuhmu untuk aku gunakan?”

Dia diam. Matanya menembakkan keraguan, gue tahu.

“Kamu boleh menolak, dan aku ngga akan maksa.” Gue turun dari tempat tidur, sebelum ketegangan ini makin bikin pusing.

Bulan juga ikutan turun, ngambil ransel, dan menarik sepasang kaos plus celana. Kemudian ngelewatin gue gitu aja, masuk kamar mandi.

Hhh! Ngga pake diminta, dia ganti baju di kamar mandi. Dulu dia nyantai aja bugil depan gue. Tapi sekarang rasanya mungkin jadi beda.

Tiba-tiba kangen masa itu, ketika dia ngga perlu ragu sama gue. Tapi kembali ke masa itu berarti kembali ke masa ketika dia totally ngga ada rasa. Kini dia ragu, mungkin karena perasaan itu kian mengganggu.

Gue lepas celana denim dan kemeja. Menggantinya dengan kaos longgar dan celana pendek.

Bagi Bulan, mungkin benar, tubuhnya adalah segalanya. Pertahanan terakhir dari serangan laki-laki. Jadi nyesel, harusnya dua pemerkosa itu gue bikin lumpuh, atau sekalian disunat sampe abis.

Gila emang dampaknya. Ini aja ngga sampe beneran diperkosa. Baru level percobaan tapi traumanya udah kaya gini. Gimana kalo waktu itu beneran kejadian. Bisa tetep waras aja mungkin udah bagus.

Bulan keluar dengan penampilan yang udah berganti, tank top tanpa bra dan celana pendek buat tidur. Demi apa dia pake baju kaya gitu? Mau ngedorong gue sampe batas?

Dasar Bulan, kalo ngga mau disentuh, jangan pake baju yang mengundang buat megang-megang. Bikin ngucap mantra berkali-kali, ngga tertarik, ngga tertarik, ngga tertarik.

Ambil remote TV buat ngalihin perhatian. Acaranya ga ada yang bagus. Drakor, reality show, adzan Maghrib, sinetron, film kartun…

Dia merapikan gamis ke dalam laundry bag, trus lanjut naik ke ranjang dan narik selimut buat tidur. Padahal semburat merah sisa matahari terbenam belum lagi hilang. Malam bahkan belum sepenuhnya datang.

“Sayang,” panggilnya manja, “aku mau tidur.”

“Hmm,” terserah, gue pusing kebanjiran adrenalin.

Masih nyari saluran TV buat ngalihin fokus. Yang ada malah Natgeo lagi nayangin proses mating belalang sembah. Hadeh, kenapa semesta ngga ada yang mendukung.

“Aku ga bisa tidur,” rengeknya lagi makin manja.

Tepok jidat. Kalo diladenin, ga bisa jamin tangan ini bisa diam di tempat. Takutnya malah bikin dia tambah trauma, gue juga yang susah ntarnya.

“Aku butuh obat tidur.” Jiah, dia balas dendam.

Baiklah, jadiin ini bales budi, sambil terus baca mantra, ngga tertarik, ngga tertarik, ngga tertarik. Tapi gimana caranya ngga tertarik, sementara istri gue terlalu cantik dan menarik. Hadeh, nasib.

Gue berbaring dengan melipat tangan kanan buat jadi bantalnya. Bulan tersenyum manis banget, lebih manis dari biasanya.

“Makasih, ya,” katanya, melintangkan tangan di dada gue, “udah selalu bikin aku ngerasa nyaman.”

Hiks. Pengen tereak, gue yang ngga nyaman sekarang.

“Aku ga tahu kenapa, berhadapan sama kamu itu membingungkan. Pengen mendekat sekaligus ingin lari sejauh-jauhnya.”

Gue kecup ubun-ubunnya sembari mengusap rambutnya.

“Apa yang kamu takutkan?”

Bulan mempererat pelukannya.

“Aku takut kamu ninggalin aku.”

Astaga! Gitu doang?

“Kan ini cuma setahun,” suaranya lirih sementara tangannya bermain di perut.

“Abis itu, kamu bakal ninggalin aku.”

Gue miringin badan supaya bisa langsung berhadapan dengannya.

“Kamu mau berapa lama?”

Dia menatap dengan mata penuh pengharapan.

“Apa aku boleh minta selamanya?”

“Boleh.” Gue tangkupkan telapak tangan di pipinya, berbagi hangat untuk kulitnya yang terasa sejuk.

“Selamanya adalah hingga tiap sel penyusun tubuhku mati.”

Dia melingkarkan lengan hingga ke punggung. Kepalanya menyuruk masuk di dada.

Aaargh! Rasanya mau meledak.

“Kamu kenapa?” tanyanya polos tanpa rasa bersalah.

“Jantungmu suaranya tiba-tiba keras banget?”

Jawab apa nih?

Dia malah menggoda dengan satu kerlingan.

“Butuh obat penenang?”

Holy shell! Not now! Gue butuh lebih dari aroma rambut.

“Aku butuh ke kamar mandi.” Langsung kabur.

Bulan cepet nangkep tangan gue.

“Aku tahu,” katanya narik badan untuk duduk, “satu-satunya cara menaklukkan ketakutan adalah dengan menghadapinya.”

Glek! Maksudnya?

Gue ikutan duduk, menggenggam tangannya berhadapan.

Bulan menghela napas. Kata-kata seperti berat sekali ngelewatin tenggorokan.

“Aku ngga mau hidup dalam ketakutan,” ucapnya ditegar-tegarkan.

“Bantu aku menaklukkannya,” dia meminta penuh pengharapan, “taklukkan monster yang mengurungku.”

Selipkan helaian rambut yang nutupin pipi ke belakang telinga. Wajah cantiknya pun terbingkai indah meski keraguan masih memancar lemah.

Monster itu, dia yang ciptakan. Kini mulai memakan dirinya sedikit demi sedikit.

“Asal kamu siap, aku akan bertarung untukmu.” Berasa jadi Pendekar Pedang Sakti, siap menumpas monster durjana.

Bulan menghela napas lagi. Seulas senyum ditarik sulit sekali.

“Lakukan,” katanya.

“Ngga. Kamu yang lakukan. Tunjukkan jalan menuju monster itu.”

Malam itu, Bulan jadi pemandu yang cekatan. Menunjukkan jalan menuju benteng-benteng pertahanan. Memperlihatkan bagian terlemah tiap lapisan untuk diserang habis-habisan. Memberitahu kapan harus berjalan, kapan harus berlari, bahkan kapan harus berhenti sejenak untuk menyiapkan gempuran yang lebih dahsyat.

Ini bener-bener perjalanan panjang yang menguji stamina. Hingga tiba di satu titik, rasanya pengen bilang, istirahat dulu, kita lanjutin besok. Tapi Si Pemandu melingkarkan lengan dengan kukuh seolah berkata, tomorrow will be too late.

Dan perjuangan panjang pun terbayar, ketika monster itu terkulai, tak berdaya di ujung pedang.

“You did it, honey.” Gue kecup manis keningnya yang basah. Harum rambut bercampur peluh menguasai penciuman.

Air mengambang di pelupuk matanya.

“You’re the hero.” Kelima jarinya memberi sensasi pijatan lembut di kepala.

“I love you,” bisiknya halus pada lekukan leher.

Jejak Digital

Bangun dalam keadaan polos dan lapar. Udah lama ga kaya gini. Ga apa-apa dinikmati dulu barang semenit dua menit.

Istri kesayangan masih terpejam. Pertarungan melawan monster semalam memang melelahkan. Melihatnya terlelap sekarang, kaya yang ga butuh matahari lagi. Bulan udah memancarkan cahaya sendiri. Ga bisa nahan senyum memandangnya.

Getar hape di nakas mengganggu kenikmatan. Telepon dari Esti. Mungkin mau laporan progress gosip kemaren.

“Halo, Mbak Esti. Gimana progress gosipnya?” langsung tembak biar cepet kelar.

“Oh, ya. Bagus, Pak. Gosip tentang Mbak Bulan mereda. Apalagi data dari server nunjukin video yang beda. Tambahan lagi, ada postingan dari Ustadz pemilik ponpes di Jombang yang ngasih liat Mbak Bulan pake jilbab. Keren banget, Pak. Pencitraan yang bagus!”

“Oh, hehehe,” ternyata Ustadz mengunggah foto bareng sebelum pulang kemaren.

“Iya, Pak. Alhamdulillah. Apalagi caption dari ustadznya yang bilang kalo Bapak adalah inspirator pendirian ponpesnya itu dan juga jadi investor saat pembangunan masjid.”

Wadaw! Itu bukan cerita yang seratus prosen bagus sebenernya.

“Sekarang gosipnya beralih, Pak,” jelas Esti lagi.

“Beralih?”

“Sekarang Bapak yang jadi topik utamanya,” kata-katanya pelan sekali kaya yang lagi ngegosipin topik rahasia.

“Kok saya?”

Esti terdengar mengembus napas pelan.

“Bapak belom baca WA saya?”

“Blom, saya baru bangun.”

PR Purwaka Group itu mendeham singkat lalu berkata, “Baiknya Bapak tonton dulu video yang saya kirim, setelah itu baru kita pikirkan langkah counter-nya.”

Kalimat Esti bikin dahi berkerut.

“Emang video apa?”

“Liat aja, Pak,” jawabnya singkat.

Jelas gue mengernyit. Tiba-tiba kaya ada kabut siap menghalau pagi terindah dalam hidup gue.

Bulan menggeliat, mengubah posisi jadi membelakangi. Ngga, gue ngga mau dipunggungin kaya gini. Gue susupin tangan ke bawah kepalanya. Kaya refleks, dia berbalik hingga kita berhadapan lagi.

Hahaha, ternyata ngga cuma gue yang bisa refleks meluk, dia juga punya refleks itu.

Bodo amatlah soal video yang dikirim Esti. Gue mau menikmati pagi terindah hingga batas paling tepi.

***

“Telepon dari Papa,” kata Bulan ketika kita sama-sama baru keluar dari kamar mandi.

“Angkat aja.” Gue masih ngeringin rambut dengan handuk kecil.

Sekarang rambut gue sama baunya dengan rambut Bulan. Dia sendiri yang ngebalurin kepala pake shampo-nya.

“Biar kamu selalu inget aku,” gitu katanya. Padahal ngga pake shampo yang sama pun, dia selalu ada dalam ingatan.

Gue ambil alih handuknya dan mulai ngegantiin tangannya untuk mengeringkan rambut. Dia menekan simbol telepon hijau di layar dan menyapa Papa.

“Halo, Pa. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” suara Papa penuh penekanan.

“Mana Kamal?”

Wadaw! Kenapa Papa jadi ngegas gini?

“Di sini, Pa. Bulan nerima telepon pake speaker.”

Gue masih ngeringin rambut Bulan dari belakang. Biar pun sekarang wangi kepala kita sama, tapi menghirup aroma rambutnya tetap memberi sensasi yang berbeda.

“Kamu selingkuh?”

“Ha?” auto-pause gue.

“Selingkuh gimana?”

“Mama dapet videonya di grup keluarga besar. Gila kamu, Mal. Kaya gituan ngapain direkam?”

Bulan noleh, mengernyitkan dahi.

“Sekarang jadi viral kaya gini, mau ngumpet di mana kamu? Mau ngeles juga ngga bisa. Tanda lahirmu keliatan jelas di situ. Malu-maluin. Makanya sebelum berbuat mikir dulu, Mal! Mikir!”

Sumpah! Gue ngga ngerti.

“Video apaan?”

“Masih ngeles? Ya Allah, Mal! Sekarang seluruh dunia tahu pasti kalo kamu pezina. Seluruh badanmu keliatan jelas! Astaghfirullah! Kamu ngga malu? Papa malu! Mama sampe pingsan tadi. Sekarang ngurung diri di kamar. Ngga mau ngapa-ngapain. Ini Papa cuti karena tadi ditelepon Bibi waktu Mama pingsan. Kamu ngga malu, Mal? Astaghfirullah!”

Lutut gue lemes. Gue ambil hape dari tangan Bulan dan duduk di tepi tempat tidur.

“Mama pingsan? Gimana Mama sekarang?”

“Ngga mau keluar, ngga mau ngomong.” Kedengeran suara ketokan pintu, lalu suara Papa lagi, “Sayang, ini Kamal mau ngomong.”

Hening.

“Aku ke sana sekarang.”

Ngga tahu video apa yang diliat Mama. Yang jelas, Mama pasti terluka sekali sekarang. Banyak kenakalan, mungkin juga kejahatan yang gue lakuin. Semua harus disembunyiin dari beliau. Mama terlalu rapuh untuk bisa menahan badai kehidupan.

“Kita ke Jakarta?” tanya Bulan.

Gue berhenti masukin barang-barang ke ransel.

“Aku aja. Kamu harus nyelesein TA cepet-cepet, kan? Janjian sama dosen udah di-cancel hari ini. Jangan sampe besok di-cancel lagi.”

Dia duduk di tepi ranjang, ngambil hape gue dan mulai buka-buka, entah aplikasi apa.

“Kamu udah berani ke kampus sendiri, kan?”

Dia mengedikkan bahu. Kemudian ngetuk ponsel dengan ujung jempol.

Tak lama kemudian terdengar suara perempuan, “Hi, America, I’m coming!”

Wadefak! Gue rampas hape dari tangan Bulan. Sialan! Kenapa video ini bisa ada di hape. Kurang ajar!

Bulan tersentak. Matanya ngga terima.

“Video apa itu?” Dia pengen ngintip tapi gue alingin. Detik selanjutnya, dengan dua kali ketuk, video itu terhapus.

“Kok diapus?” protesnya keras.

“Ngga penting!”

“Video apa itu?” desaknya mulai marah.

Gue liat lagi nama pengirim video, Esti. Jadi ini video yang bikin gosip itu? Video ini juga yang diributin sama Papa tadi? Sialan! Kenapa bisa bocor?

Video itu dibikin buat jadi kenang-kenangan sebelum Ratna pergi ke Jepang. Maksudnya biar kalo kangen, kita punya sesuatu buat diliat-liat. Jadi yang punya filenya cuma gue sama Ratna.

File punya gue udah diapus dari seluruh hard disk waktu gue mutusin nikah sama ulet bulu. Ngga tahu yang disimpen sama Ratna. Apa bocor ke orang yang iseng upload ke internet?

“Sayang?” Tangan Bulan bersedekap minta penjelasan.

Gue ajak dia kembali duduk di tepi ranjang.

“Itu cuma masa lalu,” mulai ngomong dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.

“Video apa itu?” Bulan masih melipat tangan di dada.

Tenang. Tarik napas, embuskan pelan-pelan.

“Kamu harus tahu, itu cuma masa lalu…”

“Iya, udah tau! Tapi itu video apa?”

Hadeh pala gue jadi gatel. Gimana cara paling enak ngejelasinnya?

“Jadi, waktu itu…”

Bulan masih nunggu meski ekspresinya jauh dari sabar. Dia udah kaya bom waktu yang tiba-tiba bisa meledak.

“Kamu harus tahu kalo itu cuma masa lalu…”

“Sayang! Kamu udah ngomong gitu berkali-kali. To the point! Itu video apa?”

Tarik napas dan embuskan lagi.

“Abis mukamu kaya siap meledak sewaktu-waktu. Ngeri tau!” Gue raih tangannya yang terlipat. Wajahnya sedikit melunak.

“Jadi, waktu itu aku kabur sehari dari pelatnas.”

“Pelatnas? Kamu pernah jadi atlet?”

Jiah! Belom tahu dia. Gini-gini pernah jadi atlet nasional. Biar ngga menang, yang penting pernah tanding bawa nama Indonesia, uhuk.

“Kamu mau dengerin soal pelatnas apa video itu?”

Bulan memperbaiki posisi duduknya jadi lebih serius menghadap gue.

“Oke, video itu,” ujarnya mantap.

“Oke.” Tarik napas lagi.

“Itu hari terakhir Ratna di sini sebelum berangkat ke Jepang.”

“Hah? Jadi cewek itu Ratna?” Mukanya langsung emosi lagi.

Gue diem. Mau gimana lagi. Satu-satunya cewek yang ada di hati waktu itu cuma Ratna. Itu satu hal yang ga bisa diubah, biar gimana juga.

“Trus? Kalian bikin video kenang-kenangan gitu?” Bulan makin ngegas.

Mau bilang iya, ragu. Jadinya cuma ngangguk doang.

Bibir Bulan mencong-mencong ke kanan dan ke kiri. Ngga tahu apa yang dipikirinnya.

“Kata Mbak Esti, video itu sekarang jadi viral.”

Ngangguk lagi. Soal jadi viral gue bodo amat. Masalahnya, Mama ngeliat video itu, dan ngga tahu gimana perasaannya. Ini yang bikin gue down banget.
Bulan mengembus napas kasar.

“Gila! Oke, aku bisa terima videonya. Lagian aku juga ngga lurus-lurus amat.”

Nah!

Dia menyugar rambut cepat.

“Musti ngomong sama Adrian buat memusnahkan semua video kita. Bisa gawat kalo sampe kesebar juga.”

“Kalian bikin video juga?” Emang kita pasangan serasi. Dia ternyata lebih gila.

Bulan mengangkat bahu.

“Cuma dua atau tiga, lupa.” Dia ngambil ponsel dan mulai mengusap-usap layar.

“Aku apus semuanya sekarang,” katanya santai,

“seperti kamu bilang, itu semua masa lalu.

Gue liatin dia nyari video lalu ngapusin satu-satu. Ada juga beberapa foto mesra.

Hhh! Tahu kalo semua itu masa lalu, tapi tetep aja ketika bentuknya foto atau video, seolah kejadiannya baru tadi pagi.

“Kamu pasti sayang banget sama dia waktu itu,” ujarnya lagi, lirih tanpa ngalihin pandang.

Gue rangkul pundaknya.

“Kamu jealous?”

Bulan noleh, menantang langsung ke mata dan bilang dengan tenang, “Iya.”

Gue kecup ubun-ubunnya lembut.

“Aku juga.”

Dia mendengkus halus.

“Aku jealous liat foto-foto kamu sama dia,” gue tunjuk layar hape pake dagu.

Bulan ketawa miris.

“Ini kebodohan masa lalu,” katanya, “kenapa aku bisa goblok banget jatuh masuk perangkapnya. Bisa-bisanya aku percaya kalo aku tuh lesbian. Sekarang jadi ngga percaya kalo lesbian itu bener-bener ada. Jangan-jangan cuma imajinasi orang-orang yang sakit aja.”

Gue dekap dia dengan kedua tangan.

“Masa lalu kita bukan kumpulan cerita baik. Seenggaknya kita bisa ngambil pelajaran dari situ buat jadi orang yang lebih baik.”

Dia balik merangkul dengan senyum yang manis.

“Tuhan baik banget sama aku, sampe dia kirimin kamu buatku.”

Hahaha! Ini bener-bener quote of the day.

“Kamu percaya sama Tuhan?”

Dia terkikik geli.

“Ah, ya. Lupa. Kamu ngga percaya sama Tuhan.”

***

Hari itu, kami putuskan untuk ke Jakarta. Lagi-lagi Bulan harus reschedule jadwal konsultasinya dengan dosen pembimbing. Rencananya kita akan dua hari di Jakarta untuk menenangkan Mama dan meng-counter gosip. Setelah itu, kembali ke Semarang untuk fokus menyelesaikan TA yang tertunda.

“Pokoknya sebelum Pak Dosen ke Jerman musti udah kelar!” tekad Bulan tak bisa diganggu-gugat. Sebagai suami, gue iya-in aja, dah.

Sebelum berangkat gue telepon Esti buat ngobrolin rencana counter gosip. “Gampang sebenernya, Pak. Kalo Bapak bisa buktiin ngga punya tanda lahir itu di punggung, selesai perkara.”

Gue manggut-manggut.

“Masalahnya udah ada wartawan yang konfirmasi ke salah satu keluarga di Malang, dan confirmed, Bapak punya tanda lahir itu,” penjelasan Esti bikin jantung hampir copot.

Hadeh! Ini akibatnya kalo jarang buka grup keluarga. Jadi ngga ngerti info terkini skala keluarga dan ngga bisa juga kalo mau bikin counter isu dari sana. Keluarga di Malang berarti keluarga besar dari pihak Mama.

Keluarga Mama emang lumayan relijius. Mungkin juga ngga tahu soal gosip video yang viral itu. Jadi waktu ditanya soal tanda lahir, mungkin mikirnya semacam pertanyaan receh buat becandaan.

“Jadi, apa kita bikin doorstep interview lagi, Pak?”

“Ngga,” buru-buru gue nolak ide itu, “saya belom siap.”

“Baik, Pak. Tapi sekarang isunya sudah mulai meningkat jadi ketidakpercayaan pada Bapak sebagai presdir. Sebagian karyawan mulai gelisah. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana mungkin perusahaan yang mengkampanyekan nilai-nilai keislaman dipimpin oleh seorang yang melakukan dosa besar.”

Pala gue langsung nyut-nyutan. “Mbak Esti punya ide?”

“Maaf, Pak. Tampaknya Bapak harus membuat press conference. Menyatakan bahwa yang di video itu bukan Bapak dan meyakinkan bahwa Bapak akan meneruskan usaha Pak Hendro dalam membumikan nilai-nilai keislaman di seluruh lini Purwaka Grup.”

Makin nyut-nyutan, dah. Gimana caranya membumikan nilai-nilai keislaman ketika gue sendiri ngga mau terikat dengan agama.

“Oke, saya pikirkan dulu. Hari ini saya langsung ke Jakarta. Besok kita ketemuan di kantor.”

“Baik, Pak.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Tamat