Menjadi Sekretaris Bosku Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17TAMAT

Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 15

Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 15

Kau yakin Sheila di sini?”

Rendra mengumpat kesal. Seharian mereka mencari Sheila di sekitar taman namun nihil. Dia ragu saat mengandalkan Ronald yang katanya melacak lokasi Sheila lewat GPS handphonenya.

“Lokasi terakhirnya di sini. Aku yakin.”

“Ha? Aku meragukan kemampuan IT mu. Ternyata kau tak mampu menemukan satu wanita saja.”

“Memangnya tadi siapa yang merengek minta bantuanku mencarinya hah? Kau pikir hanya kau saja yang cemas?”

“Merengek kau bilang? Aku tidak merengek. Tadi aku memerintahmu. Kau seperti bebek saja berisik”

“Dan kau cucunya bebek.”

Rendra dan Ronald terus berdebat mengenai lokasi Sheila. Raut wajah cemas tak mampu ditutupi keduanya walaupun mulut mereka saling mengejek. Akhirnya Rendra menyerah mengandalkan Ronald dan masing-masing menggunakan bantuan para bawahannya untuk menemukan Sheila yang tak ditemukan keberadaannya. Parahnya lagi Handphonenya tertinggal di taman, membuat mereka semakin yakin kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu.

***​

Sementara Ronald dan Rendra sedang sibuk mencari jejak Sheila, tubuh wanita yang dicari dua pria itu kini sedang bergetar dengan posisi meringkuk di pojok ranjang. Borgolnya sudah dilepas Arya. Melihatnya gemetar ketakutan membuat Arya sedikit melonggarkan aksinya.

“Ma… maafkan aku sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu.” Lelaki yang tampak seperti bajingan beberapa menit yang lalu itu menampakkan seraut wajah yang berbeda. Dia Nampak tersiksa sekaligus merasa kasihan melihat keadaan Sheila yang nampak bergetar ketakutan.

“Jangan… sakiti aku… kumohon…”

Hancur sudah benteng pertahanan Sheila. Sikap difensif dan kepongahannya di hadapan para lelaki seolah tenggelam tersapu badai memori yang kini berkelebatan di kepalanya. Membuat dia merasakan pusing luar biasa.

“Gadis kecilku… aku mencintaimu sayang…”

Arya berusaha meraih tangan Sheila namun dihalau wanita itiu.

“A..aku tidak mau. Kumohon.” Cicitnya dengan matanya yang memerah.

Kau yang suka main sama Kakakmu di gudang itu kan?

Sheila kecil melotot mendengar suara lelaki di sampingnya. Itu tetangga barunya sejak 3 bulan lalu. Walau mereka tak pernah saling menyapa tapi Sheila hapal wajahnya. Dia seumuran kakaknya.

Sheila memerah. Tidak menyangka akan ada yang melihat hal memalukan itu. Sumpah Sheila tidak ingin orang-orang tahu. Selain karena kakak tiri yang selalu mengancamnya, Sheila merasa takut dan malu dengan semua itu.

Lelaki itu, bocah kurus yang seumuran dengan kakaknya, dengan tinggi yang sama dengan kakaknya. Yang ia ketahui, dia adalah tetangga baru dan belum lama tinggal di sebelah kanan rumahnya. Sheila sering melihatnya bersepeda bila dia akan pergi sekolah. Pengalaman buruk dengan kakak tirinya membuat Sheila curiga dan sedikit trauma dengan anak seumuran itu. Dia tak mau mendekat. Tapi nasib membuatnya berada begitu dekat dengan bocah itu, selain karena anak itu berjanji untuk membuatnya bersembunyi dari buruan kakaknya.

Saat ini dia sedang membantu Sheila bersembunyi dari kejaran kakaknya. Lalu tiba-tiba Sheila mendengar kalau dia sering melihatnya di gudang belakang. Entah bagaimana caranya lelaki itu bisa melihat, otak Sheila yang masih berumur 11 tahun tak mampu memikirkannya, tapi rumah Sheila bukanlah rumah mewah yang dikelilingi pagar besi yang tinggi, halaman depan dan belakang yang cukup luas dan asri tetap saja memungkinkan seseorang untuk masuk dan berkeliaran di halaman rumahnya.

“Apa kau menyukai permainan yang dimainkan kakakmu di gudang belakang itu?.” Lanjut bocah itu. Pelan bocah itu semakin mendekati Sheila. Sementara gadis kecil itu menggeleng gugup.

“Rasanya sa… kit, aku… gak suka.” Pecahlah tangisnya. Suara khas anak kecil yang terisak cukup kencang di hadapan bocah itu. Sheila tak tahu harus bersikap bagaimana. Tetapi mendengar pertanyaan bocah itu membuatnya ingin mengungkapkan isi hatinya yang tak pernah diketahui oleh siapapun selama ini. Dia sudah tak mampu membedakan mana musuh dan mana teman. Dia hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat apa.

“SShhh gadis manis. Aku akan membantumu,” pelan bocah itu mengusap puncak kepala Sheila kecil.

***
Sheila tak berani menatap lelaki di hadapannya. Dia ingat betul, pria ini adalah orang yang membakar habis rumahnya, begitu pula dengan isinya, ayah dan ibunya pun tak luput dari insiden itu. Entah apa yang dilakukannya hingga dulu Sheila percaya begitu saja akan janji pria ini. Dia bilang Sheila akan selamat, tapi yang ada dia malah membuat semuanya makin hancur. Kini dia sendiri. Tak ada lagi rumah, tak ada ibu dan ayah, juga kakak tirinya yang jahat. Yah, untuk bagian terakhir dia merasa senang. Namun saat itu dia bingung harus bagaimana. Walaupun pada akhirnya dia berhasil kabur dan tinggal di sebuah panti asuhan hingga dirinya bisa seperti sekarang. Dan dia juga berhasil melupakan semua masa lalunya. Lelaki itu bebas karena semua orang mengira itu hanya kecelakaan semata.

“Sheila…’’

Wanita itu beringsut, masih takut pada pria itu. Walau kini tampangnya sudah berubah, dan bukan bocah yang dulu lagi tetap saja bagi Sheila dia adalah manusia yang mengerikan. Apakah sebutan untuk lelaki yang pada umur 15 tahun berani membunuh tiga nyawa sekaligus? Sheila tak mampu memikirkannya.

“Jangan takut sayang… aku.. aku tak akan menyakitimu,” katanya, “A..apa kau ingat? Dulu akulah yang menyelamatkanmu? Aku adalah orang yang melindungimu dari kakakmu yang jahat itu hm?”

Sheila menggelengkan kepala dengan cepat. “Kau bohong! Kau membunuh semua keluargaku dan berusaha memperkosaku! Kau tak ada bedanya dengan dia kau bajingan!”

Mata lelaki itu membulat, lalu dia menyunggingkan bibirnya. “Kau salah. Aku mencintaimu sayang… aku..”

PLAKK.

Sheila menampar pria itu hingga meninggalkan jejak merah di pipi Arya. Lelaki yang kini sudah jauh berubah dibanding bocah yang ia kenal dahulu. Rambut yang dulu cepak, dan tubuh yang kurus, sekarang jauh berbeda dengan postur tubuh Arya yang penuh berisi. Rambut tebal, dan bibir yang menghitam di bagian pinggirnya, tetapi satu yang Sheila ingat dari pria ini, sorot matanya yang tak menyenangkan, penuh hawa nafsu. Pantas Sheila selalu merasa tidak betah bila berdekatan dengan pria ini, sejak awal mereka bertemu. Nyatanya kini terjawab sudah, Memori yang ia buang jauh-jauh kini sudah kembali, menyisakan kesakitan yang amat dalam, hingga membuat dadanya sesak.

Sementara tamparan yang terasa panas di pipi Arya, membuat pria itu terpancing emosinya. Dengan sekali sentakan pria itu menindih Sheila dengan tubuhnya, membuat tubuh wanita itu kini semakin bergetar penuh kengerian.

Apa yang harus aku lakukan?Pikirnya panik. Dia berontak sekuat tenaga, walau kekuatannya tak sebanding dengan lelaki dewasa. Jelas dia kalah. Baju yang dia pakai dirobek pria itu, membuat suara jeritan Sheila semakin menjadi. Lelaki itu tak sabar lagi, dia ingin segera menuntaskan hasratnya yang dulu begitu menggebu, dan belum terpuaskan.

Sheila, dengan ketidakberdayaan dirinya tetap berusaha melindungi tubuhnya dari jamahan tangan dan mulut lelaki biadab ini. Hingga sampai dia hampir telanjang pun, Sheila masih berusaha keluar dari kungkungan pria penuh dosa yang membuat Sheila membencinya setengah mati.

“Ssss… Sheila..sayangku.” Arya berusaha menikmati setiap jengkal yang ia lakukan kepada Sheila hingga kekuatan terakhir Sheila berhasil mendorongnya saat lututnya membentur paksa selangkangan Arya. Membuatnya berteriak penuh kesakitan. Ereksinya membuat benturan antara lutut dan milik lelaki itu membuat sakitnya bertambah dua kali lipat.

Sheila menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Walau tak semudah itu Arya membiarkannya kabur. Ditengah pergulatan mereka untuk ke sekian kali, akhirnya Sheila menemukannya…
Mata wanita itu tertuju pada sebuah vas bunga yang terdiam indah di meja samping ranjangnya. Dengan sigap dia berlari kea rah vas itu saat Arya lengah dan membenturkannya ke kepala pria itu.

PRANGG

Sekuat tenaga vas keramik itu pecah, lelaki itu berteriak hingga pusing menderanya, dan sekali lagi, pukulan dari Sheila akhirnya membuat pria itu terjatuh, lalu tak sadarkan diri.


***

Rendra amat frustasi dengan menghilangnya Sheila, kemungkinan-kemungkinan sudah dia analisa untuk menemukan jejak Sheila, teman-temannya pun sudah dihubungi untuk ditanyai tentang Sheila. Dia juga sudah melapor pada polisi untuk tindakan lebih lanjut. Dia sungguh payah, tanpa petunjuk apapun dia mencari Sheila, membuat orang-orang di sekitarnya pun sama bingungnya. Ronald pun begitu. Hingga saat mereka mulai putus asa, telepon Rendra berdering dan itu dari karyawannya di kantor. Arya.

Dahinya mengerut, tak mengerti namun tanpa pikir panjang dia mengangkatnya dan terkejutlah ia saat suara yang begitu dirindukannya kini mengalun indah di telinganya.

“Ren…dra..”

“Sheila??” Tanya dia antusias, belum begitu sadar dengan nada bicara Sheila yang sedikit terbata.

“To..long…a…ku…” terisak dia mencoba mengatakan apa yang dipikirkannya, dia tak mampu lagi bicara lebih lanjut, hanya air mata yang kini mengalir di pipinya, lalu isakannya semakin kencang.

Rendra paham. Meskipun cemas, dia tahu kalau dia harus segera mengetahui dimana Sheila berada agar bisa segera menjemputnya.

Setelah Sheila menyebutkan alamatnya, Rendra pun segera pergi untuk menemui wanitanya. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi kini jantungnya berdegup tak beraturan, cemas luar biasa karena nada suara Sheila di telepon tadi begitu mengoyak hatinya.
Sayang, bertahanlah, aku akan kesana.

(Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 16)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game