Menjadi Sekretaris Bosku Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17TAMAT

Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 14

Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 14

“Apa yang kita lakukan?”

Rendra menghentikan pukulannya dan menatap Ronald.

“Tentu saja berkelahi,” tangannya kembali melayang di udara namun terhenti saat Ronald mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk berhenti.

“Kau kenapa memukulku?’

Alis Rendra terangkat mendengar pertanyaan rekan bisnisnya tersebut. Tentu saja cemburu. Dia pikir kenapa.

“Kau menyentuh milikku.”

“Siapa?”

“Tentu saja Sheila. Aku baru tahu rekan bisnisku ini tak mampu berpikir dengan cepat.”

Ronald dengan tingkat kesabaran yang lebih tinggi sepertinya ingin mengendalikan situasi menjadi lebih bersahabat. Walau biasanya Rendra tak jauh berbeda. Namun sifat posesifnya seolah menjadi yang utama saat ini.

“Oke, oke tapi Sheila bilang padaku dia bukan pacarmu. Jadi kau tidak berhak mengklaimnya seperti itu.” Sekali lagi Rendra berusaha berbicara dengan kepala dingin. Tak lupa menekankan bahwa dia masih punya peluang dalam hal ini –mendapatkan cinta Sheila tentu saja-.

“Tentu saja dia milikku. Dia bekerja di kantorku.”

“Hanya sebagai bos dan sekretarisnya kan?”

Ronald begitu membuat Rendra kesal, walau begitu dia mengakui kalau hubungannya dengan Sheila baru sebatas itu. Tapi tentu saja dia memiliki poin lebih,“Ya. Tapi kami sudah pernah tinggal bersama. Satu atap.. hm maksudku wanita itu hanya belum menyadari perasaannya. Sebentar lagi dia jadi milikku.” Rendra menjelaskan dengan seringaian kemenangan.

“Aku tak peduli. Kau tahu kan sebelum janur kuning melengkung. Atau all fair in love. Jadi… apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja?”

Menghembuskan nafasnya Rendra mengusap rambutnya yang tebal. “Baiklah terserah kau. Tapi aku tak akan membiarkanmu menang.”

“Deal?” Ronald mengulurkan tangannya, mendadak mereka jadi rival setelah perkelahian yang cukup bodoh tadi.

“Kalau aku menang, apa taruhannya?” Jiwa bisnis mereka masih mengambil alih sekalipun dalam hal percintaan.

“Mobil koleksi terbaruku.”

Rendra tersenyum senang. Dia tahu betul mobil apa yang dimaksud, 918 porsche spyder. Ronald adalah tipe yang senang mengkoleksi mobil mewah. Dan itu sudah pasti sangat menguntungkan.“Kalau aku menang, sahamku 10% untukmu. Deal?”

“DEAL!”

Ha ha ha ha.

“Ngomong-ngomong, Dimana Sheila?”

“Sheila?”

dan yeah.. mereka baru sadar kalau wanita yang diperebutkan sudah lama hilang dari hadapan mereka entah sejak kapan.

***​

Sheila membuka kelopak matanya perlahan. Penglihatannya samar saat membiasakan diri dengan cahaya di sekitarnya sejenak kemudian, pemandangan menjadi tampak semakin jelas. Dia mendadak kebingungan dengan tempat asing yang ditempatinya sekarang. Hal terakhir yang dia ingat adalah saat dia sedang duduk di taman kota sambil menyantap eskrimnya. Memorinya perlahan kembali, ketika ada seseorang yang membekapnya dan membuatnya pingsan, entah siapa.

“Wah-wah kau sudah bangun rupanya.” Sheila menoleh mencari sumber suara yang mengusik telinganya. Hingga didapati sesosok lelaki sedang duduk tepat di samping tempat tidur yang ia tempati. Badannya kurus, rambutnya tersisir rapi dengan belahan tepat di tengah, gaya jaman dulu. Dan kumis tipis di atas bibirnya. Tak salah lagi, dia lelaki yang sangat ia kenal. Selama ini Sheila berusaha menjauhi pria itu karena tak tahan dengan rayuannya yang murahan. Tidak di kantor, tidak di luar. Lelaki itu selalu mengganggunya. Sampai kini di hadapannya pria itu sedang tersenyum puas menatap Sheila dan… tubuhnya.

“Kau!” Suara Sheila tertahan saat satu kata itu terlontar di mulutnya. Kemudian dia menyadari kalau kini tangannya terikat dengan borgol besi dengan posisi terlentang dan masing-masing tangan ke tepian ranjang. Brengsek. Umpat Sheila saat tahu kondisinya yang kini tak berdaya.

“Haha. Sheila… Sheila… kau tak kan bisa lari sayang,” sahut Arya dengan suara yang Sheila pikir begitu menjijikan.

“Kau pikir siapa dirimu berani menculikku seperti ini? Jangan pikir kau akan mendapatkan yang kau mau bodoh. Kau pikir ini sinetron.” Sheila berbicara dengan gayanya yang sedikit pongah seperti biasa. Namun Arya tetap tenang dan malah menurunkan kaki kirinya yang sejak tadi ditopangkan ke kakinya yang lain. Dia berjalan mendekati Sheila yang tak berdaya dengan tangan terikat dan tubuh terlentang.

“Sinetron? Yah anggap saja begitu. Kau tak tahu kalau aku begitu lama menunggumu. Apalagi melihatmu berkeliaran setiap hari di kantor, dengan pakaian yang seksi, kakimu yang indah… wah.. kau tahu kalau kau membuatku merinding setiap waktu… berdebar… bergairah… ssshhh.” Matanya tertutup seolah sedang menikmati Sheila dalam bayangannya sendiri.

“Sial kau!” Teriak Sheila frustasi karena keadaannya. Sementara Arya hanya tertawa puas. Dia mendekati wanita itu perlahan, meneliti setiap inchi tubuhnya. Paha Sheila yang tereskspos membuat Arya meneguk ludah. Jakunnya naik turun, apalagi saat melihat dada Sheila yang membusung indah dan bulat. Tangannya terkepal ingin segera menjelajahi dua gunung kembar yang membuatnya meneteskan liur tanda mendamba.

Tanpa menunggu lama, tangan Arya mengelus paha kiri Sheila membuat wanita itu berteriak jijik. “Kurang ajar. Lepaskan tangan kotormu,” katanya sambil menendang ke tubuh Arya, namun lelaki itu cepat mengelak dan kembali tersenyum culas.”

“Aku sedih…” ucapnya kemudian, “Saat kau bekerja bersamaku di kantor, aku sangat sedih karena kau sama sekali tak mengingatku. Padahal selama ini aku tak pernah lupa akan dirimu.”

Sheila mengerutkan keningnya mendengar nada penuturan Arya yang tiba-tiba berubah menyedihkan. “Apa maksudmu?” apa sebelumnya mereka pernah bertemu? Sheila berusaha berpikir keras mengingat kalimat yang dilontarkan Arya.

Arya tertawa miris,”Tentu saja.” Dia mengusap kepalanya.

“Dulu aku hanya bisa memandangmu dari jauh, tanpa sempat menyentuh atau menikmati tubuhmu.”
Sheila semakin bingung dengan ucapan Arya. Bukankah pertama kali mereka bertemu itu di kantor Rendra?

“Padahal dulu tubuhmu masih terlalu kecil untuk membuat seorang pria bernafsu, tapi kau telah membuat saudaramu dan teman-temannya, dan aku… sangat mendambakanmu.”

Deg.

Saudaramu dan teman-temannya.

Saudaramu dan teman-temannya.

Sheila seolah merasakan tamparan yang luar biasa. Ingatan tentang masa lalu yang sudah lama dia lupakan seolah mengalir deras.

Gadis kecil berkuncir dua dengan boneka teddy bear di pelukannya tampak tersenyum gembira. Dia berbicara dengan bear cokelatnya hingga matanya yang bulat tampak berbinar indah, kadang tersenyum, atau bibirnya tertawa bulat. Sampai kegiatannya terhenti dengan kedatangan sesosok bocah lelaki dan menghampirinya.

“Sheila… ayo main.”

“Main apa kak?”

“Main tembak-tembakan,”

Sheila kecil mengangguk lalu mengikuti kakaknya yang membawanya ke gudang belakang rumah mereka.

“Mana tembak-tembakannya?” Gadis itu tak berhenti mengoceh hingga kakaknya menyuruhnya berbaring. Sheila kecil menurut, memejamkan mata hingga sesuatu benda keras menghantam bagian bawah tubuhnya.

“Ini apa Kak?”

“Ini pistol Kakak.” Bocah lelaki itu tampak sibuk menusuk Sheila, makin lama terasa makin menyakitkan bagi perempuan itu hingga air matanya perlahan keluar.
“Kak, sakit. Sheila gak mau main lagi. Lepasin kak.” Tapi bocah itu tak menggubris dan melanjutkan kegiatannya hingga cairan hangat dan kental terasa di paha Sheila.
Sheila mendadak merasakan sakit di kepalanya saat kenangan itu menghantam memorinya dengan sangat jelas. Pelipis dan keningnya berkeringat dan matanya memerah.

“Apa yang kau ketahui tentangku?” Sheila selalu berpikir bahwa tidak akan pernah ada yang mengetahui masa lalunya yang menjijikan. Arya menyeringai lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Sheila dan berbisik, “Semuanya.”

“Kak Sheila gak mau main lagi kak. Sakit.”

“Gak kok, kali ini gak sakit.”

Gadis kecil itu ketakutan. Dia tak pernah lagi merasa nyaman dengan kakak laki-lakinya yang dulu dia banggakan. Pertama kali diperkenalkan oleh Ibunya yang baru, dia merasa senang karena menemukan sesosok kakak yang dia idamkan. Tapi sekarang tidak lagi. Tidak semenjak Kakaknya selalu mengajaknya melakukan permainan aneh selama 3 minggu ini. Dia takut, dan kesakitan. Dia tak pernah lagi menemukan sosok kakak dalam diri bocah lelaki kelas IX SMP itu, namun hanya seringaian nafsu yang sama sekali Sheila belum pernah lihat dari seorang lelaki terhadap dirinya.

“Gak mau Kak.”

“Nah, ini teman Kakak. Nanti kita main bareng ya.” Tanpa beban Kakak Sheila tersenyum manis, begitu pula dengan bocah berkacamata itu. Namun bagi Sheila kecil, senyuman itu terasa mengerikan dan… mengancam.

“Ayo main nanti habis ini Kakak belikan ice cream ya.” Sheila hendak berlari namun tubuhnya digendong oleh kakaknya.

“Sheila gak mau kak. Gak mauuu.”

“Ayo. Nanti Kakak belikan eskrim.”

“Sheila gak mau Kak.”

“Ayo ikut Kakak.”

Gadis kecil berumur 11 tahun itu menangis. Dia memang tidak mengerti, namun dia tahu, kalau hal itu bukanlah hal yang patut dilakukan seorang kakak terhadap adiknya.

“Ayo buka celananya, kita main tembak-tembakan.”

“Heh, adik lu gak apa-apa gue entotin?”

“Halah, udaah pake aja, gue aja sering kok ma dia. Udah gausah sungkan, yaelah sama gue ini.” Bocah itu menyahut dengan entengnya, “Heh, dek. Awas ya lu bilang bokap nyokap. Lu gabakal selamet.” Dengan tega dia melakukan kebejatan itu pada adiknya sendiri.

Arya berusaha mencium bibir Sheila namun dia mengelak sehingga ciuman itu hanya sampai di pipi kanannya. “Jangan berani kau menyentuhku. Kau bajingan.”

to be continued

(Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Cerita Panas Menjadi Sekretaris Bosku Part 15)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game