Mencoba Bertahan Hidup Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 8

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 8 | Mencoba Bertahan Hidup Part 8 Start

Kepribadian Ganda​

Langit masih gelap dihiasi sedikit pancaran cahaya matahari terbit yang indah, suasana makin memanas karena sebentar lagi akan terjadi pertarungan yang kelihatannya tak seimbang.

Seorang penyihir hebat melawan manusia biasa.

Setelah Lina keluar dan menunjukkan ekspresi datar tak mengenali kakaknya, kemudian seorang wanita cantik berambut pirang kira-kira seumuran Lina juga dalam keadaan telanjang ikut keluar dari rumah akar.

“Srek srek srek”, suara kaki si rambut pirang melangkah menuju arah Black yang sedang menggeram.

“Llie ira vena nuo essere emeso vien dal”,

ucap wanita berambut pirang kepada Black.

Tiba-tiba Black mendekatinya dan langsung merasa nyaman dengan wanita berambut pirang ini, yang disampingnya ada Lina dan White.

“Apa-apaan ini?”, batinku dalam hati.

Black yang sedari kecil merupakan peliharaanku dengan mudahnya akrab dengan wanita asing di depanku, ini sungguh tak wajar.

Kini aku hanya sendirian.

“Tunggu, aku ingat dibelakangku tadi masih ada Likazkhimo yang diam-diam membuntutiku”, batinku.

Lika! Bantu aku!”, perintahku pada Likazkhimo.

Namun dia keluar dari semak-semak sambil membawa tombaknya hanya berdiri mematung menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit karena hamil.

Dia sepertinya bersikap netral, bimbang antara akan membantuku atau bergabung dengan si pirang, entah apa yang dipikirkannya.

Kusadari aku benar-benar sendirian kali ini.

Sebelumnya aku kira Lina diperkosa laki-laki ternyata tak ku sangka barusan mereka melakukan adegan Lesbi hingga lendir mereka berdua keluar banyak sampai-sampai menetes.

Syukurlah ternyata Lina selama ini masih tak ternodai laki-laki lain selain aku.

“Berani-beraninya kau ganggu kami berdua yang sedang bercinta laki-laki kotor”, ucap si rambut pirang.

“Saya mohon master, jangan bunuh Tuan Ardian, walaupun dia adalah kaum laki-laki namun dia adalah orang baik”, ucap Lika mencoba membelaku.

“Diam kau Lika, kau sudah berani menentang mastermu sendiri, terimalah hukumanku”, ucap si rambut pirang mengeluarkan sihir hitam ke arah Lika membuatnya lemas.

“Jangan lukai Lika, Beatrice! teriak si gadis pirang seperti bicara sendiri, entah apa maksudnya.

“Lika!”, ucapku sambil berlari ingin menolong tubuhnya yang lemas tak berdaya karena sehabis diserang si rambut pirang.

Belum sempat tubuhku mencapai Likazkhimo, kepalaku tiba-tiba diserangnya juga.

“Matilah kau pria jahat!”, ucap wanita pirang tersebut sambil mengeluarkan cahaya hitam dari tangannya tepat menuju kepalaku, bergegas ku berbalik arah berhadapan dengan si rambut pirang tersebut.

Baru kali ini ku lihat adegan trik sulap tepat di depanku.

Tidak, ini berbeda.

Ini asli, cahaya hitam itu mendekat ke kepalaku dengan cepat.

Sihir memang sudah tak asing lagi kulihat saat dulu di militer.

Banyak dari rekanku dahulu menggunakan sihir untuk memperkuat tubuhnya sehingga kulitnya tak mempan senjata tajam dan peluru.

Selama ini aku selalu berpikir rasional, menganggap pasti ada alasan ilmiah dibalik itu semua.

Banyak orang menyebutnya sihir, namun aku lebih suka menyebutnya sebagai alkimia.

Kali ini sensasinya berbeda, magisnya benar-benar dapat kulihat dan kurasakan dengan mata kepalaku sendiri.

Akhirnya cahaya hitam itu menghantam kepalaku.

“Splash mak sentlep”

Pusing, kepalaku rasanya mau pecah.

Pikiranku rasanya seperti diserang suatu kebencian yang sangat pekat.

Walaupun begitu aku hanya roboh terduduk di dedaunan kering.

“Boleh juga isi kepalamu laki-laki biadab, biasanya hanya dengan satu serangan laki-laki manapun akan langsung mati pikirannya dilahap oleh kebencian”, ucap gadis berambut pirang.

“serangan psikologis ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan mentalku yang pernah ku alami saat aku dahulu ada di militer!”, ucapku sambil berusaha bangkit.

“Manusia rasional yang keras kepala dan pantang menyerah merupakan musuh alami para penyihir Liz. Ingatlah, dulu semua pembasmi penyihir yang kuat juga memiliki karakter seperti laki-laki ini, kau harus lebih berhati-hati!”, ucap si pirang bergumam sendiri entah dia berbicara pada siapa.

Kakiku seakan mati rasa menerima serangan cahaya hitam misteriusnya, walaupun kepalaku rasanya mau pecah aku tetap berusaha melawannya.

Entah mengapa kulihat mata Lina mulai berkaca-kaca melihatku menderita.

Memori otaknya memang sudah terkontaminasi ramuan si pirang namun mungkin tidak dengan hatinya.

Perasaan cinta Lina yang besar dan tulus terhadapku seakan bisa mengalahkan logikanya sendiri sehingga dia berlari ke arahku memasang tubuhnya sebagai perisai bermaksud untuk melindungi aku.

Si pirang bersiap mengeluarkan kekuatan magisnya guna melawanku untuk yang kedua kalinya namun kali ini di depanku ada Lina yang bermaksud melindungiku.

Tiba-tiba gadis pirang itu berjalan perlahan ke arah Lina sejenak berhenti seperti kaki dan tangannya ada yang menahan.

Dia perlahan masih berusaha mendekatiku, dan sepertinya dia berniat menyerang Lina.

“Cukup Beatrice!, sudah berulang kali ku katakan bahwa aku tak mau menyakiti wanita”, ucap si rambut pirang bicara sendiri sambil menahan tangannya sendiri.

Dari tangannya muncul aura yang berbeda, kali ini muncul energi berwarna abu-abu.

Kedua energi tersebut seakan bertolak belakang, dan sedang berebut mengendalikan tangan si pirang.

Entah apa yang terjadi sebenarnya, tubuh si pirang seperti memiliki dua kepribadian.

Kakiku masih tak bisa kugerakkan, namun sebelum Lina menjadi sasaran empuk sihir si pirang itu aku mencoba berinisiatif memanggil Likazkhimo yang sepertinya sudah bisa berdiri..

“Lika!, entah kamu saat ini berada di pihak siapa, tapi aku mohon selamatkan Lina, singkirkan tubuhnya dari depanku, bawa dia pulang ke rumah sekarang juga, kalaupun aku mati hari ini, aku mohon padamu, kelak rawatlah Lina seperti keluargamu sendiri.”, kataku disela-sela pergolakan hati si pirang yang masih menahan tangannya sendiri.

“Baiklah tuan”, ucap Lika.

Dengan cepat Likazkhimo meraih badan Lina lalu membawanya menjauh dari medan pertempuranku dan si pirang, mereka bergegas pulang menuju perkampunganku.

Para harimau juga terlihat sudah lepas dari pengaruh sihirnya karena si pirang kini konsentrasinya terpecah.

Dengan kode jariku yang artinya “home”, kedua peliharaanku bergegas pulang menyusul Lika dan Lina.

Kini hanya tinggal kami berdua yang bertarung.

Melihat Lina sudah pergi dari hadapanku, tak ada lagi pergolakan hati di dalam jiwa si pirang, dengan mantap dia kini berlari ke arahku dengan serangan penuh energi hitam bercampur abu-abu.

“Haaaaaaaa”, ucapnya seperti bekerja keras mengeluarkan seluruh serangan magisnya, kali ini energi magisnya tak dilempar seperti tadi.

Dua tangan penuh cahaya misterius hitam ditambah abu-abu ditempelkannya tepat ke arah kepalaku bermaksud menghancurkan kepalaku dalam sekali serangan.

Namun aku berusaha untuk tak mau kalah, walaupun aku tahu aku lemah tak berdaya menghadapi sihir namun aku masih tetap keras kepala.

Aku tetap berusaha untuk melampaui batasanku sendiri.

Kucoba dorong tubuhnya sekuat tenaga, namun tumpuan kakiku yang terasa lumpuh membuat doronganku tak bertenaga, kini tanganku hanya menempel di kedua pundaknya.

“Lalu splash BAMMMM”

Karena tanganku berada di pundaknya, maka energi tersebut seakan mengalir di kedua tubuh ku dan si pirang.

Membuat tubuhku dan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.

Lalu mataku terasa seperti dipaksa terpejam kemudian di pejaman mataku tersebut seakan aku mengalami sebuah mimpi yang sangat jelas.

Serangan sihir si rambut pirang dapat ditangkis Ardian karena kuatnya mental dan psikologis Ardian.

Kini sihir itu merambat ke dua tubuh sehingga pikiran Ardian dan si penyihir pirang terhubung.

Ardian dapat membaca memori yang ada di kepala si pirang dan secara langsung dapat merasakan penderitaannya di masa lalu si pirang.

Lizbeth Dan D’Loli

Penyihir hebat berasal dari tanah inggris berumur ratusan tahun namun saat ini penampilan fisiknya masih terlihat sangat muda.

Dia akan menerima siapapun belajar padanya tentang ilmu ramuan selama orang tersebut adalah wanita.

Namun tidak dengan laki-laki, Lizbeth sangat membenci semua laki-laki di dunia ini karena kenangan masa lalunya yang kelam.

Likazkhimo adalah salah satu murid setianya, jika dibandingkan, ilmu ramuan Likazkhimo berkisar hanya 1% dari keseluruhan pengetahuan Lizbeth.

Likazkhimo hanya mampu membuat macam ramuan yang bersifat pengaruh fisik, sedangkan Lizbeth mampu membuat ramuan yang berefek fisik maupun magis.

Alasan para wanita Slidrugtanni ahli dalam meramu berbagai ramuan tak lain adalah Lizbeth.

Lizbeth bersedia mengajari ilmu ramuan sederhana kepada siapapun wanita yang akan belajar padanya.

Ayahnya dahulu adalah seorang raja kerajaan Inggris bersimbol singa yang sangat terkenal.

Namun keberadaan Lizbeth kini telah dihapus dari buku sejarah karena kisahnya yang dianggap memalukan bagi kerajaan dan mencoreng nama agung raja.

Sebenarnya dulu Lisbeth adalah wanita yang baik hati.

Sifatnya yang rendah hati dan tak memandang status sosial membuat dirinya dipandang oleh rakyatnya sebagai wanita bangsawan yang paling merakyat.

Namun Lizbeth dipandang telah melakukan cinta terlarang dari sudut pandang kaum bangsawan.

Lizbeth merupakan puteri raja yang telah jatuh cinta dengan pria sederhana dari kalangan rakyat jelata.

Kerajaan jelas menentang kisah cinta mereka berdua.

Karena cintanya yang begitu mendalam, Liz memutuskan untuk kabur dari lingkungan kerajaan dengan pria idamannya tersebut.

Akhirnya Liz dan pacarnya itu membina rumah tangga, melakukan sex tanpa pernikahan sah dan mereka berdua terpaksa bermukim hanya ber duaan di pegunungan untuk bersembunyi.

Si lelaki ketika bercinta selalu hanya mementingkan dirinya sendiri.

Sesaat setelah si lelaki sudah mengalami orgasme maka kegiatan bercinta akan dihentikan.

Lizbeth sekalipun belum pernah mengalami orgasme dalam hidupnya selama ini karena dulu pacarnya begitu egois dan tergolong ejakulasi dini dan entah kenapa spermanya encer sehingga berapa kalipun vagina Liz menerima sperma lelaki tersebut tetap saja tak akan pernah berhasil menjadi bayi, sepertinya dia mandul.

Walaupun Lizbeth mengetahui pasangannya mandul, namun dia tetap mencintainya apa adanya.

Sebulan sekali pemuda tersebut akan turun gunung menuju ke kota untuk berdagang pahatan kayu hutan.

Saat berdagang pahatan kayu, pria ini tidak akan pulang selama kurang lebih satu minggu.

Kesepian melanda batin Lizbeth kala ditinggal suami tak sahnya itu ketika si pria berjualan pahatan di kota.

Apa yang bisa diharapkan gadis kesepian tinggal sendirian di hutan?

Smart phone!

Tunggu dulu, tak ada yang namanya smart phone pada zaman itu.

Dia membutuhkan teman bicara.

Suatu malam salah seorang wanita berparas cantik mengetuk rumah sederhana Lizbeth.

Tok tok tok

Lizbeth Dan D’Loli?

Lizbeth keheranan mendengar ada seseorang yang mengetahui nama aslinya, padahal lingkungan kerajaan saja jarang yang mengetahui nama lengkapnya.

Karena penasaran akhirnya Lizbeth membuka pintu.

Terlihat di depan pintu terdapat wanita sebayanya tengah berdiri membawa sebotol minuman anggur.

“Siapa kau?”, tanya Liz penasaran.

“Aku hanya wanita biasa yang kebetulan lewat”, ucap wanita misterius.

“Tidak masuk akal seorang gadis cantik berjalan-jalan sendirian di tengah hutan seperti ini, dan bagaimana kau bisa mengetahui nama lengkapku?”, tanya Liz memastikan.

“Sebenarnya aku adalah penyihir di hutan ini”, jawab penyihir.

“Ha? penyihir? Kau adalah orang yang kerap menculik bayi di kerajaan!, kau adalah musuh kerajaan!”, ucap Liz berapi api.

“Apa kau percaya begitu saja hal yang kau dengar tentang penyihir di kerajaan Liz? Itu hanya sepenggal kisah diambil dari sudut pandang mereka terhadap kami para penyihir yang malang”, jelas penyihir.

“Apa maksudmu?”, tanya Liz.

“Kami kebanyakan mengasingkan diri di hutan ini karena dahulu pernah kecewa dengan keadaan, kami menganggap bahwa tuhan tak adil pada kami, nasib kami terpuruk, perasaan kami terkoyak, kami muak dengan aturan yang dibuat manusia”, perkataan penyihir sambil menitikan sedikit air mata.

“Tenanglah, jangan menangis, sebagai sesama wanita aku paham kesedihanmu, tapi mengapa kalian para penyihir tega menculik bayi setiap tahunnya?”, tanya Liz kembali.

“Alasannya sangat sederhana Liz, tanpa memakan jantung bayi setiap tahunnya, maka kami para penyihir akan menua seketika dan mati”, kata penyihir.

“Baiklah gadis muda, masuklah ke dalam dahulu agar tubuhmu hangat, akan ku buatkan kau minuman”, ucap Liz.

“Muda? Hahahaha, umurku sebenarnya sudah lebih dari 500 tahun Liz, selama itu pula hidupku was-was dikejar pemburu penyihir, tak perlu kau membuatkanku minuman, aku sudah membawakan sesuatu untuk kita minum”, kata si penyihir.

“O iya, siapa namamu penyihir tuuuaaaa?”, kata Liz sambil bercanda.

“Sebenarnya aku sudah lama melupakan namaku sendiri, aku benci dengan namaku dahulu, panggil saja aku witch”, ucap penyihir.

“Apa yang kau bawa itu? “, tanya Liz.

“Ini adalah anggur terbaik di kerajaan ini, apa kau mau mencobanya?”, tawar si penyihir.

“Baiklah berikan aku segelas”, jawab Liz lalu segera meminumnya.

“Hmmmmm minuman ini lezat sekali, ini adalah anggur terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku”, lanjut Liz.

“Tentu saja, karena ini adalah anggur berumur lebih dari 300 tahun”, ucap penyihir.

“Hai Liz, ngomong-ngomong kau tahu bahwa aku adalah penyihir, apakah kau masih mau berteman denganku?”, tanya penyihir.

“Tak masalah, lagipula aku kesepian tak ada teman bicara”, jawab Liz.

Beberapa minggu berlalu dan mereka berdua berbincang seakan telah menjadi teman baik.

Penyihir tersebut sama sekali tak memberitahukan namanya kepada Lizbeth, dan Liz hanya memanggilnya dengan sebutan “witch”.

Mulai saat itu Liz diajari membuat ramuan-ramuan sederhana semacam penghilang lelah dan juga obat-obatan sederhana, namun lama kelamaan karena kecerdasan Lizbeth yang lebih, dia dapat mengingat komposisi ramuan yang sangat rumit sekalipun akhirnya Lizbeth bisa menguasai semua ilmu ramuan yang penyihir ajarkan.

Kini dua gadis ini berbincang dan bersenang-senang membuat percobaan ramuan baru setiap suami Lizbeth pergi ke kota.

Sambil mengaduk ramuan, terjadi perbincangan tak terduga.

“Liz, apa yang kau harapkan dari laki-laki seperti dia?”, ucap penyihir.

“Apa maksudmu witch?”, tanya liz.

“Aku tahu seperti apa sebenarnya sifat asli dari suamimu, aku bisa mengetahuinya hanya dari melihat sorot matanya”, ucap penyihir.

“Tidak, kau pasti salah menilai suamiku penyihir, aku sama sekali tak mempercayai ucapanmu, aku sangat mencintai suamiku dan aku percaya padanya sepenuhnya”, jawab Liz.

“Memang kebanyakan laki-laki jika dalam keadaan sederhana akan terlihat selalu setia, namun lihat saja jika dia kaya, dia benar-benar akan lupa daratan Liz, kau masih terlalu muda untuk bisa melihat itu semua!”, ucap Penyihir sambil menggunakan nada tinggi sehingga suara tua seramnya tak sengaja keluar.

“Enyah dari sini dasar penyihir, seharusnya dari awal aku tak menerimamu, mulai sekarang aku tak ingin lagi berteman denganmu, pergi kau dari sini dan jangan sampai aku melihat wajahmu lagi!”, ucap Lizbeth kesal.

“Semua ilmu ramuan sudah ku ajarkan padamu dengan susah payah, dan barusan aku hanya menceritakan kebenaran, dan inikah balasannya?”. Ucap penyihir dengan wajah kesal sambil berlalu menuju gelapnya hutan.

Liz hanya berdiri terdiam dengan wajah marah tak terima penyihir itu mengatakan yang bukan-bukan tentang suami yang amat dicintainya.

Setelah penyihir itu berlalu Liz segera membereskan gentong dan wadah ramuan lainnya, agar suaminya tak tahu tentang kegiatannya selama ini tentang membuat ramuan.

Beberapa hari setelahnya berlalu, sayembara diadakan oleh raja, bagi siapapun yang menemukan puterinya dalam keadaan hidup maka akan diberi hadiah satu peti berisi emas.

Manusia merupakan makhluk yang tak bisa lepas dari nafsu.

Prediksi yang dikatakan penyihir benar terjadi, si pemuda tersebut tega menghianati cinta tulus puteri Lizbeth demi peti emas.

Sesaat setelah melihat sayembara yang tertulis di papan pengumuman, pria ini bergegas menuju kerajaan dan langsung meminta emas karena pria ini mengklaim telah menemukan tuan puteri.

Raja pun mempercayainya dan memerintahkan satu pasukan untuk segera membawa pulang puteri dari gunung.

Tubuh puteri Lizbeth kemudian dibawa paksa kembali ke kerajaan dan sesuai janji raja maka kekasih Liz mendapatkan satu peti berisi penuh emas.

Menyadari bahwa kekasihnya sendiri menghianatinya dan tega menukarkannya dengan emas membuat tangis Lizbeth pecah dan kini di kerajaan dia hanya mengurung diri di kamar tak mau makan akibat trauma mendalamnya disakiti laki-laki yang amat dicintainya.

Beberapa hari berlalu, di pagi hari sekali, puteri Lizbeth mendapat surat dari penyihir yang dikirim oleh burung hantu.

Isi surat tersebut adalah permintaan maaf penyihir pada Lizbeth karena witch pernah berkata kasar padanya.

Untuk Lizbeth, temanku tercinta.

Mungkin ini adalah kata-kata terakhir yang bisa kusampaikan padamu.

Semenjak kemarin aku sudah diintai para pemburu penyihir, dan aku bisa saja mati sewaktu-waktu.

Aku tahu kau pasti bersedih diakibatkan perbuatan kekasihmu.

Dia tak hanya menukarkanmu dengan emas namun dua hari yang lalu dia menikahi enam gadis.

Maafkan aku telah berbicara dengan nada kasar saat terakhir kita bertemu waktu itu, ku harap kau segera sembuh dari kesedihanmu.

Witch​

Mendengar kabar tersebut Lizbeth semakin bersedih, dia menyesal karena tak percaya apa yang pernah dikatakan witch dan juga menyesal karena dulu sempat mengusir teman baiknya itu.

Dari sini awal mula timbulnya kebencian Lizbeth kepada semua laki-laki.

Kebenciannya mulai membentuk pribadi baru di dalam diri Lizbeth.

Itu semua adalah awal lahirnya kepribadian Beatrice di jiwa Lizbeth.

Esok harinya, gemuruh sorakan para warga kerajaan berpesta karena para prajurit kerajaan dan pemburu penyihir telah berhasil menangkap semua penyihir yang ada di hutan.

Para penyihir yang berjumlah 9 tersebut kini di ikat dengan tali pada sebuah tiang dan menunggu giliran untuk di hukum penggal.

Semua warga dan para bangsawan kerajaan menonton termasuk Lizbeth.

Lizbeth hanya menonton dari kejauhan tak terlalu tertarik dengan pertunjukan membunuh penyihir ini.

Lalu terkaget disadarinya salah satu dari sembilan penyihir tersebut adalah temannya yang kemarin mengirim surat sekaligus yang dahulu mengajarinya berbagai macam ramuan.

“Witch-witch!, bebaskan dia ku mohon!”, teriakan sedih Liz sambil berlari ke arah tempat antrian eksekusi diikatnya temannya itu.

Akhirnya Lizbeth sampai ke tubuh temannya dan seketika dia memeluknya.

Dengan tangan terikat penyihir berkata:

“Tenanglah tidak apa-apa, dengarkan aku Liz, ini penting, mungkin waktuku tinggal sebentar lagi. Maafkan aku, sebenarnya minuman yang aku berikan kepadamu dahulu waktu pertama kali kita bertemu adalah ramuan untuk membuka sirkuit manusia agar bisa menjadi penyihir.

Semua ilmuku telah ku turunkan padamu sepenuhnya, dan tinggal satu langkah lagi agar kau jadi penyihir sempurna, saat bulan purnama kau makanlah jantung bayi maka kau akan memiliki kekuatan misterius seperti kami dan tubuhmu akan awet muda selamanya.

Ketika kau berhasil menjadi penyihir maka selanjutnya akan berlaku hukum pertukaran setara.

Setiap tahunnya kau harus memakan satu jantung bayi manusia untuk ditukarkan dengan satu tahun tambahan umurmu.

Kau bisa memilih tetap diam di sini menjalani hidup konyol dan pasti nantinya kau akan dinikahkan dengan bangsawan yang sama sekali tak kau cintai, atau kau bisa menjadi penyihir seperti kami dan kau bisa membalas dendam kepada lelaki yang menghianatimu”, ucap penyihir dengan tergesa-gesa.

Sebentar kemudian teman Lizbeth tersebut ditarik paksa dan dieksekusi mati dengan Guillotine (semacam hukuman pancung).

Terpaksa tubuh Liz dengan raut wajah sedih penuh tangis duka diseret paksa dan di bawa ke kamarnya.

Akhirnya saat bulan purnama dengan membayar salah satu oknum prajuritnya dia berhasil mendapatkan bayi yang baru saja lahir tepat di bulan purnama.

Akhirnya karena dendam mendalamnya dan dorongan dari sisi pribadi Beatrice, Lizbeth secara sembunyi-sembunyi tega memakan jantung bayi dan kini jadilah dia penyihir sejati.

Malam itu juga Liz mencari dan membunuh mantan suami yang menghianatinya dan ketika membunuhnya dia hilang kendali, tubuhnya dikendalikan penuh oleh sifat Beatrice.

Mantan kekasihnya itu dia kuliti hidup-hidup sebelum akhirnya memutilasinya, daging dan tulangnya diberikan pada anjing.

Setelah itu Liz memutuskan pindah ke hutan mengasingkan diri dengan diiringi tawa jahat penuh kepuasan di setiap langkahnya.

Disadarinya ternyata inderanya semakin peka, kini dia dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan, telinganya bisa mendengar suara dari kejauhan, hidungnya dapat mengenali perbedaan bau dari tumbuhan, dan dia kini mulai bisa berkomunikasi dengan hewan-hewan di sekitarnya.

Di dalam gelapnya hutan, Liz kini hanya asyik berbincang dengan para hewan dan mulai membenci semua laki-laki dan akan sangat iri jika ada seseorang menunjukkan cinta sejati di sekitarnya, jika dia melihatnya maka Liz akan mencoba menghancurkan hubungan pasangan cinta sejati tersebut.

Hutan inggris semakin tak aman karena gencarnya pihak kerajaan dan pemburu penyihir menyisir hutan guna membasmi penyihir yang tersisa.

Inggris juga mulai mengirim pasukan ke berbagai belahan dunia dalam misi Gold, Glory, & Gospell.

Terdapat kabar bahwa sebagian prajurit akan dikirim guna misi ke wilayah asia untuk mencari rempah-rempah, Lizbeth tahu bahwa asia memiliki kawasan hutan yang sangat luas karena Lizbeth dulunya rajin membaca buku.

Maka Lizbeth menyusup naik kapal tentara Inggris menyamar sebagai pelayan, akhirnya setelah berlayar beberapa minggu sampailah di pulau Borneo.

Sesampainya di Borneo para tentara mulai menjajah Pulau Borneo sebelah atas, yang kini mungkin dikenal sebagai Malaysia dan Brunei.

Lizbeth memisahkan diri menyusup ke hutan tak ikut campur dalam penjajahan dan setiap tahunnya akan menculik bayi, kemudian menetap di hutan Borneo yang sekarang sebagiannya disebut Hutan Kalimantan.

Disini Lisbeth merasa sangat aman, tak ada lagi yang namanya pemburu penyihir di tempat ini, namun tetap saja dia merasa kesepian.

Kesepian yang dialaminya selama ratusan tahun membuat pribadi Beatrice semakin menguasai dirinya.

Lizbeth sebenarnya memiliki sifat baik, cerdas, berwawasan luas, suka menolong wanita lain, pemurung, suka menyendiri, membuat aura sihir yang dihasilkannya berwarna abu-abu.

Sedangkan sisi lain Lizbeth yang disebut Beatrice memiliki sifat sombong, pemarah, psikopat, pendendam, dengki, membuat aura yang dihasilkannya berwarna hitam kelam.

Saat Beatrice menguasai tubuh Lizbeth, wajahnya akan dipenuhi kedengkian dan sering kali melakukan senyum sinis atau tertawa jahat.

Hati Lizbeth telah mati, seakan tak ada lagi ruang untuk laki-laki.

Setiap harinya Liz hanya berbicara sendiri atau kadang bicara dengan hewan-hewan disekitarnya.

Di gelapnya hutan Kalimantan dia akan memandu wanita yang tersesat, namun jika dia menemui laki-laki yang tersesat maka Beatrice akan mengambil alih dan laki-laki tersebut langsung dibunuhnya.

Lizbeth awal niatnya adalah hanya memisahkan raga Ardian dan Lina.

Hingga akhirnya kemarin dia menggiring Lina ke rumahnya melalui bisikan yang dilantunkan ke harimau bernama White.

Karena Liz telah sangat lama kesepian, melihat manusia mulus timbul nafsunya walaupun kepada sesama perempuan.

Pantas saja Ardian sangat betah tergoda dengan kemolekan dan kecantikan adiknya, Lizbeth yang berkelamin wanita saja juga bisa tertarik dengan Lina.

Lizbeth memberikan ramuan yang fungsinya menghilangkan memori tentang laki-laki yang dicintai target.

Namun ramuan ini hanya berfungsi ketika cinta sudah memudar dari perasaan si target, oleh karena itu beberapa bulan yang lalu Liz mengirim Lika untuk memudarkan cinta dari dalam diri Lina.

Sesaat setelah ramuan itu di minum Lina, Lina menjadi linglung seperti orang bingung.

Melupakan nama Ardian dalam kamus do otaknya.

Maka Liz segera meminta White duduk tenang, lalu mengajak Lina pergi ke kamarnya untuk bergumul.

Diraihnya kedua lengan Lina lalu dikecup mesra, Lina juga membalasnya dengan ciuman ganas.

Mulailah tangan lentik Liz mengusap-usap payudara Lina yang menantang dan lancip di bagian putingnya karena terangsang.

Tak mau ketinggalan Lina juga memberikan remasan-remasan lembut pada bagian payudara Lizbeth yang putih merona.

Lama kelamaan tangan mereka berdua turun ke bagian memek.

Sambil berciuman mesra, tangan Lina menusuk-nusuk memek Liz, sedangkan Liz jarinya juga ditusukkan ke memek Lina.

Desahan demi desahan mereka lantunkan sangat merdu seperti nyanyian peri.

Terkadang kepribadian Beatrice juga muncul ditengah pergumulan mereka menjadikan pergumulan semakin liar.

Akhirnya Lina mengalami orgasme, karena memek Lina memang tergolong sensitif, dan kasarnya permainan jari pribadi Beatrice.

Sedangkan Liz masih meminta Lina menusuk-nusuk kembali dengan tusukan yang lebih cepat berharap segera mendapatkan orgasme perdana dalam hidupnya.

Belum sempat Liz mendapatkan orgasmenya, tiba-tiba pintu di dobrak.

Lina mengetahui hal itu langsung keluar dengan memek masih berlendir akibat cairan orgasmenya masih ada yang terjebak di dalam memeknya, dan cairan itu mengalir menetes seiring kakinya berjalan.

Meninggalkan Liz yang masih kelojotan berharap segera orgasme namun belum sempat mengalami puncak kenikmatannya malah ada pengganggu sehingga orgasme pertama dalam hidupnya tak jadi didapatkannya, lalu akhirnya Liz menyusul Lina dengan telanjang bulat juga keluar bermaksud ingin melenyapkan si pengganggu.

Dengan sihirnya Liz menyerang Ardian, namun aneh, Ardian tak mempan dengan sihir kuatnya.

Malah tumbukan energi tersebut menyebabkan Liz bertukar pikiran beberapa saat dengan Ardian.

Tubuh Ardian terpaku seakan tak percaya melihat masa lalu Lizbeth yang begitu kelam.

Begitu pula Lizbeth juga terdiam membisu terduduk bertumpu pada kakinya melihat masa lalu Ardian yang penuh perjuangan dalam hidupnya di militer, penghianatannya kepada presiden, juga perjalanan bertahan hidup Ardian di hutan ini sejak awal hingga saat ini, bahwa Ardian selama ini selalu mengutamakan adiknya agar tetap hidup.

Setelah sesi tukar pikiran selesai, maka mereka berdua kembali ke kondisi awal mereka.

Kini Liz hanya berdiam membisu.

“Aku telah melihat semuanya, aku sangat mengerti kesedihanmu Lizbeth Dan D’Loli!”, ucap Ardian sambil memberanikan diri memeluk Lizbeth.

Mendengar ada seseorang yang memanggil nama lengkapnya setelah sekian lama membuat hati Lizbeth yang telah mati mulai bergetar, seakan timbul tunas baru dari tanah kekeringan di relung hatinya yang paling dalam.

“Aku memang dahulu pernah menghianati presiden, mungkin di duniamu sama saja aku adalah prajurit kerajaan yang menghianati rajanya, namun semua itu aku lakukan demi menyelamatkan adikku Lina.

Aku harap pandanganmu terhadap laki-laki mulai sekarang bisa berubah.

Memang kebanyakan laki-laki di dunia ini berengsek, namun tak semua laki-laki seperti itu Liz”,

ucap Ardian.

Lizbeth hanya pasrah dalam keadaan telanjang bulat dipeluk Ardian sambil menitikan air mata, terdiam menyesali kebodohannya selama ratusan tahun mengasingkan diri di hutan dengan menganggap semua laki-laki itu sama.

Proses bertukar pikiran tak sengaja barusan membuat keduanya seperti saling mengenal dan memahami satu sama lain.

“Maafkan aku Ardian, aku sangat menyesali perbuatanku!”, ucap Lizbeth kepada Ardian ditengah pelukan Ardian.

“Kau sungguh sangat lemah Liz, begitu mudahnya kau takhluk dengan laki-laki di depanmu ini”, perkataan Beatrice yang melemah karena sekarang jiwa asli Lizbeth yang mendominasi.

Sisi asli Lizbeth memang sudah mengakui kesalahannya, namun bagaimana dengan sisi Beatrice?

Begitupun dengan perasaan Ardian yang juga sedang dalam keadaan iba terhadap Lizbeth, namun bagaimana dengan nasib si junior yang kini mulai mengembang karena memeluk tubuh telanjang wanita bule muda di depannya?

Tatapan iba Ardian berubah menjadi tatapan nafsu.

Dikecupnya bibir Lizbeth, namun anehnya Lizbeth malah ikut membalas ciuman Ardian.

Lizbeth sebenarnya haus akan sentuhan laki-laki ditambah lagi tadi dia batal mendapatkan orgasmenya.

Sehingga membuatnya kini mulai pasrah diperlakukan apapun oleh Ardian.

Kecupan romantis dipraktekkan Ardian ke bibir manis Lizbeth dengan mahir, hingga lidahnyapun menyapu-nyapu hampir seluruh bagian mulut Liz.

Liz gelaapan dengan permainan lidah Ardian karena Liz masih pemula dalam hal ciuman.

“Shhhhhhahhhh Ardian!”, desah nafas memburu Lizbeth ditengah peraduan bibir mereka berdua.

Toket merona Lizbeth juga diremas dan dijilati Ardian, sesekali dia menggigit putingnya karena gemas mebuat Liz menggelinjang merinding.

Dituntunya tangan Ardian menuju rumah akar milik Lizbeth, di dalamnya terdapat benda-benda magis yang belum pernah dilihat Ardian.

Ruangan tengah Lizbeth benar-benar terlihat seperti kapal pecah terdapat tungku, bejana, disampingnya ada meja berantakan penuh dengan cangkir, botol, kulit kayu, tumbuhan, dan lain-lainnya.

Dituntunnya Ardian menuju ke kamar Lizbeth, berlawanan dengan ruangan tengahnya, kamarnya ternyata begitu rapi dengan alas permadani mewah berwarna merah entah darimana.

Di permadani tersebut terdapat noda cairan yang sepertinya merupakan sisa cairan orgasme Lina.

Ardian segera duduk lalu disusul Lizbeth bersujud di depan selangkangan Ardian kesusahan membuka celana Ardian yang mulai lusuh.

Dengan bantuan tangan Ardian kini celana lusuhnya lepas memamerkan kontolnya yang tegang maksimal.

Ukurannya jelas berbeda jauh dengan mantan kekasih yang menghianatnya dulu, milik Ardian bagaikan kadal terbesar di asia.

Penis Ardian terlihat tegak berdiri gagah perkasa membuat Liz kagum dengan benda kerad di depannya.

Tangan Ardian mengarahkan kepala Liz untuk segera mengulum pucuknya.

Tangan Liz dengan cekatan memegang pangkal kontol Ardian lalu diciumnya pucuk Ardian, karena kita semua tahu bahwa bagian terbaik ada di pucuknya.

Dikulumnya dengan lembut pucuk kontol Ardian, sesekali dijilat-jilat bagaikan menjilat es krim batangan hingga pucuknya terlihat mengkilap.

Meleleh lendir dari mulut Lizbeth yang kualahan menerima hujaman di mulutnya.

Setelah kiranya cukup kini tiba saatnya yang ditunggu-tunggu.

Vagina Liz yang merah merona dengan jembut pirang tipis sudah basah dan siap untuk dihujami kontol.

Dengan satu hentakan jleb akhirnya amblaslah alat kelamin Ardian terbenam vagina Lizbeth.

Erangan Lizbeth benar-benar merdu membuat semangat Ardian makin membara.

Semua adegan dinikmati keduanya secara pelan dan romantis.

Setelah beberapa menit akhirnya Liz orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya dengan posisi MOT.

Saat orgasmenya terlihat suaranya parau bercampur dengan suara kejam Beatrice.

“Ahhhhhhhhh!!”

Beatrice kini menguasai penuh tubuh Lizbeth karena energi Liz seakan habis akibat nikmatnya orgasme barusan.

Dalam kondisi kontol Ardian masih berada di dalam vagina Liz, dan bagi Ardian ini baru seperti pemanasan, tiba-tiba kepribadian Beatrice meronta tak terima dengan perbuatan mesum Ardian kepada Liz.

“Dasar laki-laki hina, cabut benda hina itu dari tubuhku!”, ucap Beatrice berusaha melepaskan kontol Ardian dari vaginanya.

Sedari tadi memang Ardian melakukannya persetubuhan bersama Liz dengan penuh penghayatan dan halus atas dasar suka sama suka.

Namun menyadari tubuh Liz sedang dalam kendali Beatrice, Ardian kini inginkan sensasi yang lebih.

Selama ini Ardian melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka dengan wanita manapun dan belum pernah melakukan perkosaan terhadap wanita.

Timbul niatannya untuk memperkosa sisi Beatrice.

Saat Beatrice berusaha mundur diraihnya tangan Beatrice lalu menguncinya sehingga tak bisa bergerak, dengan paksa Ardian menciumi bibir Beatrice.

“Jika kau berani menciumku lagi, jangan salahkan aku jika lidahmu akan ku gigit manusia biadab!”, ucap Beatrice.

Tak peduli dengan perkataannya, Ardian nekat tetap menciumi Beatrice dengan buas, namun tak disangka Beatrice tetap diam sepertinya tak tega menggigit lidah Ardian saat lidahnya sesekali masuk ke mulut Beatrice menyapu seluruh mulutnya hingga lidahnya menjilati langit-langit mulut Beatrice.

Beatrice hanya pasrah namun dengan wajah masih marah.

Ekspresi wajah tersebut malah membuat Ardian makin dibakar nafsunya.

Dia balik tubuhnya menjadi posisi doge lalu degan satu hentakan dibenamkannya kontol Ardian ke lubang anal Liz yang kini sedang dikuasai pribadi Beatrice.

“Tidak biadab! Jangan perkosa anusku!

Dengan susah payah Ardian memegangi pinggul Beatrice, dengan beberapa kali percobaan tetap tak bisa.

Akhirnya dia hujamkan paksa ke lubang anusnya hingga sedikit mengeluarkan darah.

Dan seketika langsung hap, mulut anus Beatrice seakan menelan habis kontol Ardian walaupun kesusahan.

“Perih! Lepaskan aku bajingan!, ucap Beatrice sambil meronta-ronta kesakitan.

“Diam kau sisi jahat Liz, nikmati saja persetubuhan ini!”, ucap Ardian di sela-sela genjotannya terhadap anus Beatrice sambil menjambak agak keras rambut pirang gadis tersebut hingga dia terpaksa mendongakkan wajahnya yang cantik.

Setelah satu jam anusnya dibombardir oleh kontol Ardian kini ekspresi mukanya mulai berubah, beberapa kali vaginanya orgasme keenakan karena sensasi enaknya anusnya dibombardir.

Wajah yang tadinya diliputi amarah berubah menjadi seperti wajah budak yang ketagihan sex dan lidahnya terlihat selalu menjulur dengan bola mata hanya terlihat putihnya persis seperti di film-film hentai.

Akhirnya melihat ekspresi muka Beatrice yang begitu menggoda membuat Ardian tak tahan.

Seperti biasa dia cabut dari anusnya lalu dikeluar masukkan secara brutal ke vagina Beatrice lalu akhirnya Ardian mengalami ejakulasi hebat.

Sengaja menembakannya ke vagina korbannya agar korbannya bosa hamil dari bibit spermanya.

Lalu crot crot crot crot semburan sperma kental akhirnya melesat masuk memenuhi vagina Beatrice.

Karena Ardian tahu bahwa vaginanya tak akan cukup menampung keseluruhan sperma, Ardian segera melepas nya kembali dan sisanya dia genjotkan kasar pula ke anus Beatrice hingga spermanya habis tak tersisa.

Setelah prosesi tersebut selesai, Beatrice mulai menjilati seluruh bagian wajah Ardian sambil tertawa jahat menunjukkan rasa sayangnya ala gadis kejam.

Ardian hanya membiarkannya menikmati sisa-sisa kenikmatannya, hingga kini wajah Ardian penuh lendir ludah Beatrice.

Mulai saat itu pula kepribadian Beatrice mulai jatuh hati juga kepada Ardian, jatuh hati ala monster.

Sesaat kemudian pribadi Beatrice pergi beristirahat, kini tubuh cantik mulus lemas tersebut dikendalikan kembali oleh Lizbeth.

“Ardian!”, panggil Lizbeth lirih.

“Iya sayang?”, ucap Ardian.

“Sepertinya aku mulai menyukaimu, bukan sekedar suka namun sepertinya aku mulai mencintaimu”, ucapnya lirih.

“Tapi aku sudah punya Lina Liz, aku tak mungkin mencintaimu!”, jawab Ardian mencoba jujur dan tegas.

“Aku hanya ingin kau biarkan aku mencintaimu, kau tak perlu membalas cintaku, hanya biarkan aku berada di dekatmu aku sudah senang, sudah terlalu lama aku kesepian, bawa aku bersamamu aku mohon Ardian!”, permohonan Liz.

“Baiklah ikutlah ke kampungku Liz, nanti kamu harus obati Lina juga”, ajak Ardian dengan lembut.

“Tapi tunggu, aku takut kepribadian Beatrice mencelakaimu Ardian”, ucapnya khawatir.

“Tenang saja, sepertinya Beatrice akan patuh padaku Liz”, ucap Ardian menenangkan Liz sambil tertawa.

“Bagaimana dengan barang-barangmu Liz? Apa kau mau meninggalkannya?”, tanya Ardian.

“Tentu saja tidak, aku bisa memindahkan rumah ini kemana pun kumau namun tidak dengan kondisiku sekarang, energiku sedang habis, tubuhku rasanya lemas”, keluhnya.

“Kalau begitu mari kita pulang ke rumah barumu Liz”, ucap Ardian sambil memegang kedua pipi imut Liz.

“Bagiku kamulah rumah!”, ucap Liz sambil menatap mata Ardian dalam-dalam.

“Bisa aja kamu, yuk cepetan berangkat sebelum matahari terik!”, ajak Ardian.

“Haaaaa gendong!”, ucap Liz manja.

“OK!”, jawab Ardian segera menggendong Liz menuju rumah.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 8 | Mencoba Bertahan Hidup Part 8 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 7)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 9)