Mencoba Bertahan Hidup Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 7

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 7 | Mencoba Bertahan Hidup Part 7 Start

Penyihir Kesepian

Beberapa bulan kemudian terlihat tanda-tanda kehamilan dari semua wanita kecuali Lina dan Nuzu.

Masuk akal jika nuzu tidak hamil karena memang perawannya masih ku jaga sampai sekarang.

Yang aku herankan adalah perut Lina adik kandungku, walaupun vaginanya telah bertubi-tubi menerima semburan peju kentalku namun sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa perutnya berisi.

Padahal kutahu vagina Lina paling rajin aku sirami, aku takut apakah dia mandul ataukah ada faktor lainnya.

Sampai sekarang hal itu masih menjadi misteri di dalam kepalaku.

Likazkhimo, nuzu dan kehsa juga sekarang sudah bisa sedikit berbicara bahasa indonesia walaupun pelafalannya masih belum sempurna.

Begitu pula dengan kami, kami para orang kota juga sedikit-sedikit bisa bahasa suku pedalaman karena kami juga sering berlatih bahasa bersama.

Dua ekor harimau yang dahulu aku temukan ku beri nama “Black and White” juga kini mulai beranjak dewasa dan terlihat sehat lincah.

Tubuh mereka berdua kini sudah cukup besar walaupun belum mencapai ukuran maksimalnya.

Black merupakan harimau jantan peliharaanku yang kini kemanapun aku pergi dia akan setia menemaniku.

Sering sekali Black pergi ke hutan belantara sendirian untuk menunjukkan eksistensinya di hutan belantara ini.

Tak jarang aku dapati Black pulang membawa luka cakaran karena perebutan kekuasaan di dunia Harimau.

Sepertinya di dunia Harimau, yang kuatlah yang akan disegani.

Namun akhir-akhir ini saat dia bermain di hutan, ketika pulang dia sudah tak membawa luka lagi, sekarang harimau manapun yang melihat Black seperti patuh pada Black.

Tak ada lagi serangan harimau kepada manusia akhir-akhir ini semenjak adanya Black, malah sering sekali kawanan harimau bercorak kuning hitam lewat tengah perkampungan kami dengan tenang nampak seperti kucing jinak.

Terkadang kawanan tersebut seakan memanggil Black dan White untuk sekedar bermain bersama di sekitar perkampungan kami, dan aku hanya membiarkannya.

Itu membuktikan bahwa kini Black sangat disegani dan sudah seperti raja hewan di hutan ini.

Entah sudah berapa penderitaan yang telah Black alami hingga dia bisa menjadi seperti sekarang ini.

Yang pasti aku bangga padanya.

Sedangkan White harimau putih betina yang sangat setia pada majikannya yaitu Lina, karena adanya White sekarang aku tak terlalu khawatir jika Lina berjalan-jalan keluar sekedar mencari bunga.

Kedua harimau ini dulu hampir tiap hari kulatih agar mampu berburu bersamaku.

Dahulu kumulai sedikit demi sedikit latihan hanya sekedar memburu tikus, lama-kelamaan semakin meningkat seperti kelinci, kancil, kera, rusa, babi, dan sekarang mereka berdua dapat dengan mudah merobohkan kerbau sekalipun.

Suatu pagi yang cerah, semua wanita secara disiplin bangun dan mengerjakan pekerjaannya masing-masing.

Sudah sekitar seminggu aku tak melakukan hubungan intim dengan para wanitaku, karena akhir-akhir ini aku sibuk berlatih bersama peliharaanku si Black agar pergerakan kami sinkron saat berburu.

Karena lama tak melakukan hubungan intim maka testisku seakan penuh, dan itu sangat terasa jika di waktu pagi hari sehabis bangun tidur.

Kontolku rasanya tegang kaku maksimal naik turun haus akan liang senggama perempuan.

Kucari Lina adikku tersayang bermaksud tubuhnya akan kugunakan sebagai wadah penampung spermaku yang terasa sudah penuh ini.

Ku cari di berbagai sudut perkampungan dia tidak terlihat, dan di dalam bunker dia juga tidak ada.

Entahlah dia pergi kemana.

Aku tak sabar jika harus menunggunya pulang karena kini kontolku benar-benar dalam kondisi terbaiknya.

Aku tak menghiraukan kepergian Lina sejenak, mungkin dia sedang jalan-jalan.

Lagipula dia pergi bersama White, aku jadi sedikit tenang.

Tak ada pilihan lain, kuputuskan untuk membuang pejuku ke salah satu budak-budakku.

Dan yang terdekat dengan posisiku sekarang adalah Nuzu dan Kehsa.

Sepertinya Kehsa adalah wanita yang beruntung karena pagi ini tubuhnya akan kujadikan tempat pembuangan pejuku.

Dengan kontol mengacung tegang maksimal aku mendekati Nuzu dan Kehsa.

Mereka berdua sedang asyik memerah susu kambing di kandang.

Melihat aku telanjang sudah siap tempur mereka berdua terkaget melihatku dengan menutup mulut mereka sambil melotot kaget.

“Tuan?”, kata Nuzu.

“Mendekatlah kemari kalian berdua, aku butuh tubuh kalian pagi ini!”, kataku.

“Tapi tuan kami sedang memerah susu kambing”, jawab Kehsa.

“Jangan membantah, baiklah kalau kalian enggan kemari maka aku yang akan kesana!”, ucapku sambil mendekati mereka dengan masuk ke kandang kambing hutan.

Kandang kambing ini tak berbau seperti kebanyakan yang ada di kampung-kampung.

Kambing hutan akan berkeliaran memakan rumput di sekitar perkampungan dan di malam hari mereka pulang ke kandang hanya untuk tidur sehingga tak ada satupun kotoran kambing di kandang ini.

Kuraih tubuh Nuzu lalu aku menciuminya, meremas-remas payudaranya yang indah, lalu aku menelanjangi pakaian bagian bawahnya.

Nuzu dengan bernafsu juga membalas ciumanku dan sesekali tangan lentiknya memegangi kontolku yang tegang.

Kulihat Kehsa bangkit juga bermaksud ingin melayaniku namun aku larang.

“Tetaplah perah susu kambing itu Kehsa, untuk sementara aku tak mau mengganggu pekerjaanmu”, ucapku sambil mencumbu Nuzu.

Seperti biasa aku sangat hobi menjilati vagina Nuzu yang keperawanannya masih kujaga sampai sekarang.

Vaginanya terlihat menggembung, lubangnya sempit hanya terlihat seperti satu garis merah muda dihiasi jembut-jembut halus.

Kujilati vagina perawannya yang merah dengan lembut, “lick lick lick”, suara sapuan lidahku terhadap vaginanya.

Sesekali klitorisnya aku sedot kuat-kuat membuat tubuhnya menggelinjang keenakan.

Setelah beberapa lama aku menyedot-nyedot klitorisnya tiba-tiba dia mengejang dan crit crit crit.

“Ahhhssh tuaan, saya keluar!”, teriakannya mengejang.

Cairan putih dan sebagian cairan bening keluar dari vaginanya.

Tak kulewatkan bagian ini, sebelum cairan itu tumpah dengan cekatan langsung hap mulutku menyedot cairan yang berasal dari vagina perawan Nuzu.

Lezat bagaikan seperti madu namun tanpa rasa manis, tak ada bau pesing atau amis dari cairan yang ku sedot habis ini karena kutahu Nuzu adalah wanita yang selalu menjaga kebersihan dan dia kini menjadi vegetarian membuat tubuhnya langsing dan tak pernah bau badan.

Kulirik Kehsa tak bisa konsentrasi melakukan pekerjaannya memerah susu karena melihat saudari kembarnya ku berikan pelayanan plus.

Aku mengabaikannya sejenak, aku sangat menyukai tubuh di depanku ini.

Gadis perawan yang tubuhnya selalu berbau wangi alami namun unik bagaikan bunga liar yang harum.

Setelah kusedot habis kini pakaian bagian atasnya kupereteli juga, wajahku aku naikkan lalu aku benamkan di kedua gunung kembarnya yang montok.

Aku benamkan hidungku seakan dibekap sampai tak ada udara yang bisa melewati hidungku lalu aku hirup dalam-dalam payudaranya.

“Akhsh enak tuan, Nuzu jadi tambah nafsu, bisakah tuan menusuk vagina saya menggunakan kontol tuan?”, Nuzu mendesah keenakan kuperlakukan seperti itu memohon padaku untuk segera mengambil keperawanannya.

“Tidak sayangku, keperawananmu harus selalu kamu jaga sampai tua nanti, karena tuanmu ini amat menyukai vagina Nuzu yang masih perawan!”, ucapku sambil mengecup bibirnya dengan lembut.

“Baiklah tuan jika itu kemauan Anda, maka Nuzu akan menjaga keperawanan Nuzu demi tuan”, jawabnya menurutiku.

Lalu segera kunaikkan kedua tangannya, ku hirup dalam-dalam ketiak mulusnya, Nuzu terlihat kegelian mendapatkan perlakuan seperti itu.

Tangannya sering kali berniat diturunkannya, namun tetap aku tahan kuat-kuat tangannya dan jilatanku ke arah ketiaknya malah semakin gencar.

Sesekali aku berikan kecupan dan cupangan sebagai jejak di ketiak dan toketnya hingga tubuh Nuzu lemas.

Kehsa yang melihat kami melakukan foreplay panas menjadikannya hilang konsentrasi.

Tumpahlah beberapa air susu kambing dari batok kelapa yang baru saja dia perah.

Lalu aku berbalik ke arahnya.

“Apa yang kamu lakukan Kehsa!”, ucapku.

Dia terlihat ketakutan, takut jika aku marah karena barusan dia menumpahkan susu.

“Ampuni saya tuan!”, ucapnya ketakutan.

Karena kebiasaanku menghukum budak-budak yang melakukan kesalahan dengan memukul bokong mereka dengan telapak tanganku sampai merah agar mereka disiplin.

Namun walaupun begitu aku tahu batas, aku hanya melakukannya sebagai iseng ditambah lagi itu menyenangkan, dan wanita yang ku hukum tak terlalu merasakan sakit.

“Aku akan menghukum kamu, tapi tenang saja Kehsa, hukuman kali ini akan lebih enak”, ucapku.

“Maksud Anda tuan?”, jawab Kehsa keheranan.

“Kamu sudah tahu kan seperti biasanya, apa yang harus dilakukan ketika kamu berbuat kesalahan!”, ucapku.

“Baiklah tuan”, ucapnya.

Kehsa meletakkan batok kelapa yang berisi susu menuju ke arahku lalu segera memunggungiku, kemudian jongkok lalu menungging, memamerkan perut buncit hamil dan pantat montoknya, bersiap menahan sakit di pantatnya karena akan ku tampar dengan telapak tanganku.

“Makannya kamu jangan nakal Kehsa, pantatmu bisa merah kalau nakal”, ucap Nuzu sambil tertawa mengejek saudari kembarnya.

“Plak plak plak”, tamparanku pada bokong mulus montok Kehsa.

“Ashhhh ashhh ashhhhhhhhhhh”, ucapnya.

Kurasa itu bukan jerit kesakitan namun jerit keenakan.

“Lagi tuan, tampar pantat saya lagi!”, ucap Kehsa malah ketagihan.

“Dasar kamu Kehsa!”, ucapku sambil membelai lembut pantatnya yang mulai memerah cap tangan.

Dari arah vagina Kehsa terlihat sudah sangat becek karena sedari tadi dia melihat adegan foreplay ku dan saudari kembarnya si Nuzu.

Karena aku juga sudah sangat nafsu langsung saja aku tusukkan kontol tegangku ke arah vagina Kehsa yang sudah becek.

“Blesssshhhh, oohhh enak banget memek kamu Kehsa sayang”, ucapku.

“Ahhhss ampun tuan, jangan perkosa saya”, ucapnya berpura-pura padahal keenakan.

“Dasar kamu nakal”, sambil ku percepat sodokanku dan sesekali pantatnya aku tampar.

Setelah aku tampar kemudian ku tusukkan kontolku dalam-dalam hingga Kehsa keenakan.

“Plak plak plak”, suara peraduan kontolku dan memeknya.

“Jangan ke arah anus saya tuan, tak akan muat”, katanya padahal aku masih menggenjot vaginanya.

Karena provokasinya akhirnya ku sodok juga anusnya yang sempit.

Sepertinya sedikit kesakitan dirasakan Kehsa, namun aku tetap menggenjot anusnya tanpa peduli.

Secara bergantian kini kutusuk vagina, kadang anus, bergantian lubang sesukaku.

Kupanggil Nuzu yang sedang terduduk.

“Kemari Nuzu sayang, aku pengen mencium bibirmu!”, ucapku kepada Nuzu lalu dia bangkit dari duduknya kemudian langsung menciumku.

Kini aku melakukan adegan ciuman mesra dengan Nuzu sambil menggenjot Kehsa, sensasinya benar-benar nikmat.

Sudah sekitar setengah jam aku menggenjot Kehsa dengan kecepatan penuh.

Akhirnya dia mengalami orgasme pertamanya, ku biarkan dia istirahat sejenak.

“Ahhss tuan cukup tolong hentikan, jangan perkosa saya lagi!”, ucap Kehsa pura-pura sambil pantatnya semakin ditunggingkan bergoyang-goyang menggodaku.

Kutusukkan lagi kontolku ke vaginanya, karena dia makin menunggingkan pantatnya menjadikan kontolku masuk semakin dalam sampai menyodok ke rahimnya.

Mungkin fantasi Kehsa suka berkhayal jika tubuhnya diperkosa, mungkin suatu saat akan kuwujudkan fantasi liarnya ini.

Lalu kurasakan cairan hangat menyiram kontolku lagi membuat semakin licin.

Sepertinya Kehsa kelelahan setelah mendapatkan orgasme keduanya, namun masih tanggung bagiku, dalam keadaan masih lemas memeknya tetap saja ku genjot, itung-itung hukuman karena tadi menumpahkan susu kambing.

“Cukup tuan, aku sudah lemas, vaginaku ngilu, hentikaaaaaan, jangan perkosa aku lagiiiiiiih!”, ucap Kehsa lirih.

Ku abaikan perkataannya, kupercepat genjotanku dan akhirnya aku menuju puncak, kontolku masuk menyeruak vaginanya sedalam-dalamnya hingga menyentuh wadah rahimnya.

“SSSSSHhhhhhahhhhhhhhhh”

Crot crrrooot crrrooot

Semburan peju kentalku yang selama ini sudah kusimpan selama satu minggu akhirnya keluar sangat banyak di rahim Kehsa.

Hingga pejuku melimpah ruah, vaginanya tak kuasa menerima semua cairan kental yang ku lepaskan.

Akhirnya bendungan vagina yang menahan peju kentalku hendak jebol, sebelum meleleh aku raih batok kelapa berisi setengah susu kambing karena setengahnya tadi telah tumpah.

Kutadahi cairan pejuku yang keluar dari vagina Kehsa, ternyata mengalir sangat banyak, kemudian aku mencampurnya dengan susu kambing, ku aduk dengan jariku, membasuh jariku berlumur susu ke mulut Kehsa yang masih lemas hingga jariku bersih.

“Kalian berdua minum ini, bagi yang adil susu ini!”, perintahku.

“Baiklah tuan”, ucap Nuzu dan Kehsa secara serentak kemudian secara bergantian mereka sarapan susu bercampur pejuku tersebut.

Sebenarnya aku masih belum puas, kontolku masih sanggup berdiri, namun hari ini aku harus berburu bersama Black.

Akhirnya kuputuskan untuk menyarungkan kembali senjata pamungkasku, lalu bersiap berburu.

Saat berburu kudapatkan satu ekor rusa gemuk, lumayan bisa untuk persediaan.

Lalu kami pulang saat malam hari.

Di malam itu masih tak ku jumpai Lina dan White di dalam bunker ataupun di perkampungan di atasnya.

Kutanyai para budak-budak dan prajurit wanitaku juga tak satupun mengetahui keberadaan Lina.

Entah kemana perginya Lina sampai larut malam begini belum juga pulang.

Yang aku takutkan adalah jika dia ditangkap atau diperkosa beramai-ramai oleh suku pedalaman lainnya, atau lebih parahnya lagi jika dia dibunuh.

Pikiranku sangat kalut mengetahui Lina menghilang.

Satu-satunya orang sang kucintai dan kusayangi di dunia ini pergi meninggalkanku entah kemana.

Kemanakah perginya Lina?

Tubuhku cukup lelah karena tadi habis berburu bersama Black.

Aku tak peduli ini malam atau siang, kumulai perjalananku dalam pencarian Lina.

Black kuminta mengendus sisa-sisa bau dari Lina dan White.

Setelah beberapa jam aku dan Black mencari tanpa hasil, akhirnya pagi menjelang, matahari mulai terbit berwarna kemerahan dari timur.

Kusadari dibelakangku ada yang membuntuti, kutahu dia adalah Likazkhimo, aku sangat paham dengan gerakannya, entah apa maksudnya namun ku biarkan saja.

Black mengendus, mengarahkanku sampai ke tempat menyeramkan ini, kulihat di depanku terdapat satu rumah terbuat dari akar-akar tanaman yang berlumut.

“Permisi tok tok tok”, Kucoba mengetuknya.

Tak ada jawaban, hanya terdapat beberapa desahan dua wanita.

Salah satu suara itu aku yakin adalah suara milik Lina, karena aku hafal betul dengan suara merdu desahannya.

Black menggeram didepanku tanda merasakan ada ancaman, bermaksud melindungiku.

Ku mendobrak pintu tersebut.

“Brakkkkk”, hancurlah pintu depan, aku kaget di depanku kini terdapat White mengaung menghalangiku.

Baru kali ini white bersikap aneh melawanku.

Tiba-tiba Lina keluar telanjang bulat dari kamar rumah misterius ini, dari arah vaginanya tercecer lendir menetes ke pahanya, sambil berjalan ke arahku dengan langkah gontai lemas.

Ku sangat sedih pasti semalam dia habis diperkosa bergiliran oleh beberapa orang atau bahkan di gangbang, namun syukurlah, senang hatiku melihat tubuh Lina masih dalam keadaan baik-baik saja.

“Lina!”, panggilku.

“Siapa Anda paman?”, ucap Lina kepadaku dengan nada datar.

Hancur hatiku melihat Lina lupa ingatan, “apa yang terjadi?”, batinku.

Sedikit Flash back waktu perang Slidrugtanni vs Huginn Muninn​

Jauh di dalam gelapnya hutan Kalimantan, seorang gadis muda bertudung hitam menunjukkan sedikit rambut pirang alaminya terlihat tengah membuat ramuan misterius.

Bejana hitam penuh cairan berwarna cokelat beraroma lezat terduduk di atas tungku dengan nyala api kecil.

Di wajah gadis berparas cantik belasan tahun asli keturunan bangsawan Inggris ini tercetak senyum licik terpancar aura dendam.

“Apa yang sedang kau buat Liz?”, kata seekor tikus kecil di meja yang berantakan.

“Ramuan pemudar cinta”, ucap wanita misterius ini sambil menyeringai.

“Mengapa kau susah payah membuat ramuan sesulit ini?”, kata tikus kecil.

“Aku merasakan bibit-bibit cinta sejati telah lahir di gua dekat pemukiman Slidrugtanni, cinta ini begitu rumit, berbeda dari yang biasanya kurasakan di hutan ini, satu sisi itu adalah kasih sayang tulus antara kakak beradik, namun disisi lain itu juga merupakan cinta yang besar antar kekasih, dan konsentrasiku sangat terganggu akan hal itu, membuat kedengkianku semakin membesar”, ucap Liz.

“Apa kau akan menghabisi mereka Liz?”, kata tikus kecil penasaran.

“Jika kutemui laki-lakinya pasti tanpa segan akan ku bunuh, namun tidak dengan si wanitanya”, ucap Liz.

“Apa kau perlu bantuanku?”, tawar si tikus kecil.

“Berikan saja surat ini kepada Lika, aku akan memberinya misi untuk memberikan ramuanku ini kepada si wanita agar cintanya pada lelakinya kian memudar seiring berjalannya waktu. Kulampirkan pula beberapa pil yang barusan aku buat, jangan sampai kau makan pil ini tikus kecil, karena efeknya kau perlahan akan kehilangan rasa cinta kepada laki-laki sedikit demi sedikit dan untuk sementara kau tak bisa hamil.”, perkataan Liz menjelaskan kepada si tikus betina kecil.

“Baiklah Liz”, ucap tikus sambil berlalu membawa gulungan surat menuju perkampungan Slidrugtanni.

Sesampainya di perkampungan, perang suku akan segera terjadi, si tikus buru-buru menemui Lika lalu menyerahkan surat tanpa bicara.

Mengetahui isi surat tersebut berasal dari gurunya maka Lika segera mengabaikan perang dan bergegas menuju ke mulut gua menghadang rombongan Ardian.

Misinya adalah ikut dengan Ardian dan memberikan pil misterius kepada Lina secara sembunyi-sembunyi rutin sebulan sekali hingga cinta Lina pada Ardian memudar.

Dan misi itu berhasil sampai sekarang tanpa diketahui, hingga kini cinta di hati Lina kepada Ardian semakin memudar seiring berjalannya waktu.

Kepada siapa sebenarnya gadis suku Slidrugtanni yang bernama Likazkhimo ini berpihak?

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 7 | Mencoba Bertahan Hidup Part 7 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 8)