Mencoba Bertahan Hidup Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 4

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 4 | Mencoba Bertahan Hidup Part 4 Start

Malam Pertama​

Malam mulai menggulung langit, terlihat bulan purnama setia menghiasi kegelapan malam tak luput dari pandanganku banyak bintang bercahaya terang.

Mataku sungguh dimanjakan dengan indahnya pemandangan langit malam di hutan ini.

Raut wajah bintang-bintang terlihat jelas tak seperti ketika ku melihatnya di langit ibu kota.

Aku dan Lina dibiarkan menikmati malam pertama kami di gubug ilalang ini.

Kubuka atap ilalang yang bisa di bongkar pasang ini, kini ketika kami melihat ke atas, kami langsung dapat melihat indahnya cahaya bintang dan rembulan.

Dia kini berada di sampingku, kukecup bibirnya, kuraba-raba tubuh telanjang bulatnya.

Di bawah cahaya rembulan kami bergumul mesra melakukan foreplay panjang, aku kini bisa menikmati setiap jengkal tubuhnya dengan perasaan tenang.

Di sela-sela ciumanku dan remasan liar tanganku aku mulai berbincang pada lina untuk memastikan perasaan yang dirasakannya saat ini.

“Lin kamu takut berada di sini?”, tanyaku kepadanya.

“Sedikit kak, tapi dimanapun itu kalau lina berada di dekat kakak lina bisa merasa tenang”, jawabnya.

“Sebaiknya kita hilangkan rasa was-was kita, sepertinya kita aman di sini, toh kita juga sekarang sudah dianggap keluarga mereka”, kataku menenangkannya.

Ditengah perbincangan kami ada seseorang yang mengetuk pintu gubug ini, dan memanggilku.

Aku hafal suara ini, adalah suara mak cik isteri dari kepala suku.

Dengan telanjang bulat aku bergegas membuka pintu kayu ini dengan cara menggesernya ke samping.

Benar, kulihat kini di hadapanku Mak cik berdiri dengan membawa sebuah batok kelapa berisi minuman ungu yang sama seperti tadi siang.

Kuterima dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya lalu dia beranjak pergi.

Aku sudah tahu khasiat ramuan ini dan aku tahu pula aturan cara meminumnya.

Kuhampiri adikku, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Kami berbagi minuman ini, meminumnya dengan cara persis seperti tadi siang.

Ku minum sedikit dari batok kelapa tersebut, kusimpan sejenak di dalam mulutku kemudian tanpa dikomando Lina sudah tahu dan segera memajukan bibirnya menyambut suapanku dari bibir ke bibir.

Rasa dari ramuan ini cukup enak dan manis, sepertinya komposisi ramuan ini adalah tanaman herbal dan madu.

Beberapa kali kami bergantian menyuapi dari mulut ke mulut hingga terkadang nafas kami berdua memburu karena nafsu.

Terkadang ramuan ungu ini belepotan sampai ke pipi Lina, walaupun begitu aku tetap membersihkannya dengan jilatanku.

Kini giliran terakhirnya menyuapiku, kumajukan mulutku ke bibirnya lalu hap kulumat bibirnya, kuhayati setiap ciuman yang dia berikan, kusedot dalam dalam ramuan itu hingga ku menyedot-nyedot lidah Lina memastikan tak ada yang tersisa.

Kini cairan tersebut habis tak tersisa walau sedikitpun karena saat terakhir tadi Lina membersihkan sisi dalam batok kelapa ini dengan lidahnya, yang sesekali memamerkan kenakalan jilatan lidahnya kepadaku bermaksud menggoda diriku.

Sejenak kemudian panas menjalar di tubuh kami berdua, walaupun begitu kutahan nafsuku sejenak.

Sedikit iseng ku bermaksud melihat tingkah lina yang sedang dalam puncak birahinya.

Aku tunggu beberapa lama hingga dia benar-benar memohon untuk aku entot.

Melihat adikku sendiri memohon kepada kakak kandungnya untuk segera mengentotnya membuat birahiku semakin memuncak pula, namun tetap aku tahan, aku akan bertahan lebih lama lagi dan melihat tingkahnya semakin jauh.

Tiba-tiba dia mendekatiku dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhku dengan sesekali menciumi leherku.

“Kaaaaaakkk, cepet entot Lina kak, Lina udah nggak tahan”, perkataan mesumnya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.

Aku hanya duduk mematung dengan kontol ngaceng maksimal.

Sesekali adikku menjilati kontolku membuat kontolku kegelian,dia bermaksud menggodaku lebih jauh lagi dengan jilatan lidah merah mudanya.

Tak kuduga ternyata tangannya mulai memegangi pinggangku kemudian dengan nakalnya dia mulai menunggangiku.

Dan “Bleshhhh ooohhhh” nikmat kurasakan ketika adikku membenamkan kontolku ke dalam memeknya.

“Kamu nakal banget sih Lin kalo lagi nafsu”, candaku kepadanya.

Tanpa menanggapiku dia malah semakin cepat menunggangiku naik turun dengan posisi seperti orang naik kuda.

Kubiarkan dia menikmati kerasnya kontolku yang menjulang ke atas.

“Plok plok plok plok suara tumbukan dua alat kelamin kami karena saking cepatnya goyangan Lina.

Setelah beberapa lama akhirnya Lina mengejang menandakan dia dalam proses menuju puncak orgasmenya.

“Oshh ahhh ahhh ahhh sayang!!!”, membenamkan dalam-dalam kontolku sambil mengeluarkan lolongan kenikmatannya.

Seketika itu pula Surrrr siraman cairan kenikmatannya kurasakan banjir memandikan kontol ku yang masih senantiasa tegang, cairan tersebut mengalir deras membasahi lantai.

Kubiarkan adikku istirahat sejenak sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya, namun posisi kontolku masih tetap bersarang di vaginanya.

Dengan tubuh mulusnya yang mandi keringat dia memelukku, menyebabkan payudaranya mepet menempel ke dadaku.

Beberapa menit kemudian dia sepertinya terlihat nafsu lagi, perlahan kurasakan goyangan tubuhnya di kontolku naik turun naik turun, kembali rasa geli kurasakan membuat kontolku makin tegang sempurna.

Kali ini aku kasihan padanya yang sedari tadi bekerja keras menggerak-gerakkan tubuhnya berusaha menghujamkan kontolku ke dalam memeknya.

Kini ku lepas sejenak kontolku dari memeknya, kubalik tubuh mulus licinnya karena berkeringat tipis, tubuh adikku terlihat mengkilap tersinari sinar cahaya bulan purnama.

Didepanku kini adikku dalam posisi menungging siap untuk melakukan gaya dogy.

Karena aku sudah sangat nafsu, ku tusukkan kontolku secara sembarangan dengan nafas memburu.

Aku kesulitan menemukan lubang memek adikku karena dengan posisi dogy menyebabkan area lubang adikku tertutupi bayangan.

“Blesssshhhh”, sempit sekali kurasakan tusukanku kali ini.

Sejenak kemudian adikku menjerit keras.

Saking kerasnya, sepertinya jeritannya bisa terdengar oleh semua warga suku disini.

Aku yang tidak tahu kenapa adikku menjerit tetap saja ku maju mundurkan kontolku di lubang tersebut karena sudah kepalang nafsu.

Walaupun kutahu adikku kesakitan, kulihat dia ternyata tidak sekalipun mencoba menghentikanku, malah pasrah dengan menngangkat pantatnya makin ke atas mencoba memberikan pelayanan penuh pada suami barunya ini.

Akhirnya setelah beberapa lama aku genjot dengan hentakan cepat akhirnya tercapailah moment akan keluarkan spermaku.

Ketika ku genjot makin cepat rintihannya juga mulai terdengar jelas.

“Aaahhhsshh ahhhh ahhhh”, rintihanyya ketika kugenjot cepat.

“Lina sayang aku mau keluar, terima pejuhku Lina sayang ahhhhssh ! Dan Crooot croot crooot” beberapa kali semprotan ku tembakkan sedalam-dalamnya sampai mentok ke lubang Lina.

Lalu ku cabut, tak kusangka saat aku mencabutnya aku baru menyadari ternyata lubang yang barusan aku hajar adalah lubang anus Lina yang masih sangat sempit dan perawan.

Pantas saja kontolku barusan rasanya seperti dijepit hingga agak sakit-sakit nikmat.

Cairan pejuku mengalir dari dalam anus Lina yang kini mengaga kemudian cairan tersebut membasahi lantai, sepertinya ada sedikit darah terlihat dari anusnya yang kini kembang kempis terlihat seperti anus ayam.

“Maaf Lin, kakak nggak tahu ternyata yang barusan itu lubang anus kamu”, kata permintamaafanku kepadanya.

“Nggak papa kak, Lina rela dimasuki kontol kakak di semua lubang di tubuh Lina, kan kakak sekarang sudah jadi suamiku, kakak bebas melakukan apa saja terhadapku termasuk menyodomi Lina”, ucapnya.

Ku raih tubuhnya yang lemas, ku dekati wajahnya ternyata ada sedikit air mata mengalir di pipinya.

Kuusap lalu kuciumi mulut mungilnya,

“Ummmmmmm”, ciumanku mengecup mesra bibirnya.

“makasih ya Lin”, ucapku.

“Sama-sama kak”, katanya.

Kulihat senyum manisnya, tanda bahwa tidak ada penyesalan saat ku nodai anusnya tadi.

Lalu kami melakukan ronde berikutnya kali ini kupastikan kontolku tepat masuk di lubang vaginanya.

Kami mengulanginya sampai kami berdua kelelahan dan tertidur bersama.

Lantai kayu yang kami tinggali benar-benar basah dimana-mana tercecer spermaku dan cairan orgasme Lina, dan di beberapa sudut terdapat cairan percampuran antara spermaku dan cairan Lina.

Semalaman suntuk aku puas menikmati malam pertamaku dengan pengantin baruku yang tak lain adalah adik kandungku sendiri yang bernama Lina.

Entah berapa kali kami ulangi prosesi sex terlarang antara kakak kandung dan adik kandungnya sendiri, beberapa menit setelah orgasme kami selalu nafsu dan nafsu lagi.

Itu pasti efek dari ramuan ungu tadi.

Setelah kami berdua benar-benar puas kami akhirnya tertidur pulas.

Pagi menjelang, kembali kulihat matahari terbit dari ufuk timur sangat indah dipandang.

Aku tinggalkan tubuh telanjang Lina tetap berada di rumah baru kami, kemudian aku keluar untuk mencoba berbaur dengan tetangga baruku.

Pagi-pagi kulihat bocah-bocah mulai bermain dengan memukul-mukul tongkat ditanah dan melakukan kejar-kejaran berlarian kesana kemari.

Kucoba mendekati bocah-bocah tersebut, namun saat ku hampiri, mereka malah malu dan masuk ke rumah mereka masing-masing.

Sesekali mata kecil mereka mengintip dari pintu rumah-rumah kayu atap ilalang, seakan ragu dan takut akan kehadiranku.

Kulantunkan lagu “Balonku”, ternyata mereka mulai terkesan penasaran dan mulai mendekat kepadaku sambil malu-malu.

Saat lirik lagu mencapai “Meletus balon hijau, Dor”, mereka terkaget dan tertawa terbahak-bahak bersama.

Tak kusangka lagu “balonku” bisa menjadikanku semakin dekat dengan bocah-bocah suku ini.

Kini mereka mulai tak malu-malu lagi mendekat padaku, bahkan banyak yang minta digendong dan dipangku olehku.

Saat bermain aku juga mengajarkan kepada mereka sedikit bahasa indonesia tentang benda di sekitar kita dan ketika belajar mereka terlihat antusias.

Sepertinya aku diterima baik di suku ini oleh kalangan orang dewasa maupun anak-anak.

Setelah ku bermain dengan para bocah ini kulangkahkan kakiku menyambut kepala suku yang baru saja keluar dari rumahnya bersama isterinya.

Kuajak mereka berbincang.

Setelah ku telusuri dan banyak bertanya-tanya kepada kepala suku di sini melalui penerjemah isterinya, ternyata suku ini tidak sembarangan dan memiliki aturan tertentu jika hendak memakan manusia.

Menurut kepercayaan suku ini, aturan memakan manusia itu berlaku hanya ketika ada salah satu anggota suku ini yang meninggal dunia.

Untuk pemakaman, jasad yang telah tak bernyawa dari anggota suku ini diletakkan begitu saja di dekat pohon raksasa.

Sedangkan untuk menghormati jiwa orang mati tersebut agar rohnya nantinya tak tersesat di alam arwah maka harus ditemani dan diantar jiwa yang lain, jiwa yang lain itulah yang nantinya mereka buru dan mereka makan bersama-sama dagingnya.

Jika ada orang kota tersesat maka akan mereka simpan hidup-hidup dengan cara mengikatnya seperti perlakuan mereka terhadap Lina kemarin siang dan akan mereka gunakan untuk ritual kematian anggota suku ini nantinya dikemudian hari jika sewaktu-waktu ada yang meninggal.

Orang tersebut akan diberi makan dan diberi minum setiap harinya, jika orang tersebut mati sebelum dikorbankan maka anggota suku ini tidak akan memakan dagingnya.

Setelah berbincang panjang akhirnya aku mengerti banyak hal tentang aturan dan budaya di suku ini.

Kutahu juga bahwa sebenarnya suku di hutan ini tak hanya satu, suku di hutan ini cukup banyak dan masing-masing dari mereka memiliki kepercayaan dan budaya yang berbeda.

Mereka tersebar di penjuru hutan ini dan sesekali juga terjadi konflik antar suku, menurut informasi beberapa suku di hutan ini ada 6, antara lain adalah:

1. Slidrugtanni (Suku Babi), suku yang aku huni saat ini.

2. Bjarki (Suku Beruang)

3. Huginn Muninn (Suku Gagak)

4. Heidrun (Suku Kambing Hutan)

5. Eikthyrnir (Suku Rusa)

6. Fenrir (Suku Serigala)

*NB: nama-nama suku ini bukan karangan saya asli, nama-namanya diambil dari mitologi fantasi Northgard

Tibalah saat suku ini berburu babi sebagai rutinitas mingguannya, dan tak lupa aku pun diikutsertakan dalam perburuan ini karena sekarang aku bagian dari mereka.

Aku berpamitan kepada adikku di rumah gubuk, dia masih dalam keadaan telanjang bulat, tak apa lah aku tinggal sebentar lagipula di suku ini ada makcik yang nanti akan menemaninya, ku kecup keningnya, lalu menuju ke tengah perkampungan yang sudah berbaris rapi 6 orang laki-laki dengan berbagai alat yaitu tombak dan panah.

Satu orang lelaki seram berpakaian bulu babi serta kulit kepala babi yang masih lengkap dengan taringnya memberkati kami dengan asap menyan mengantar kepergian kami ke hutan.

Walaupun kulitku lumayan gelap karena hasil dari pelatihan militerku dahulu, ternyata diantara anggota tim pemburu ini akulah yang memiliki kulit paling putih.

Akhirnya 7 anggota suku Slidrugtanni termasuk aku berangkat ke dalam hutan untuk mencari babi, ini adalah kali pertama aku menjalankan misi dari suku ini.

Di perjalanan berangkat, kulihat 2 orang laki-laki berbaju biru dan satunya memakai kemeja putih yang kemarin telah aku potong otot tendonnya ternyata sedang di tawan suku ini.

Mereka dalam keadaan terikat kencang tak sadarkan diri, kaki mereka sepertinya di obati oleh tabib.

Aku mengabaikan mereka dan tetap di barisan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan yang kami lalui benar-benar menguras tenaga karena melewati hutan dan rawa-rawa.

Saat di rawa, kulihat ada beberapa orang berjubah hitam yang sedang membawa para gadis yang kemarin ada di tempat jatuhnya pesawat.

Kuduga pasti mereka menculik para gadis dan akan membawa ke lima gadis telanjang tersebut untuk dinikmati di perkampungan mereka.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada beberapa laki-laki bejat yang ada di dekat pesawat kemarin, mungkin mereka dikalahkan suku tersebut.

Ku ketahui dari ciri-ciri pakaian mereka, mereka adalah suku Huginn Muninn atau suku Gagak Hitam.

Karena menurut informasi dari makcik, Suku Huginn Munnin sejak dahulu merupakan suku yang gemar memperkosa wanita suku lainnya.

Lalu datanglah pimpinan kami menemui pimpinan grup mereka.

Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 4 | Mencoba Bertahan Hidup Part 4 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 5)