Mencoba Bertahan Hidup Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 24

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 24 | Mencoba Bertahan Hidup Part 24 Start

Demon Realm

Di sore hari yang dingin, Ardian, Lizbeth, Sariel, dan Burbuja berangkat menyusuri aliran sungai.

Sampai langkah mereka dipertemukan pada perbatasan yang dipenuhi kabut misterius.

“ini adalah titik terjauh kakiku pernah melangkah, aku sama sekali belum pernah memasuki wilayah bukit kesedihan itu secara sengaja!” ujar Burbuja kepada Ardian.

“Terakhir aku menghirupnya, aku menggila” Lanjut Burbuja.

“Mili!” panggil Sariel kepada sylph angin miliknya.

“?” ekspresi wajah Mili penuh tanya.

“Wind Wall!” ucap Sariel kepada Mili, lalu semua orang yang ada di tempat itu diselimuti oleh pusaran angin yang kencang melindungi orang-orang di dalamnya sehingga mereka tak terpengaruh racun dari kabut misterius di depannya.

Udara di tepi wind wall merupakan vacum, namun di dalamnya sangat kaya akan oksigen karena Mili mampu mengubah udara tercemar menjadi oksigen dengan menyampingkan unsur yang tidak dibutuhkan seperti karbon dan hidrogen ke dalam tepi vacum.

“Wow ini sangat praktis, udaranya juga segar” ucap Burbuja memuji kemampuan Sariel.

“Tentu saja, karena ruangan angin ini dipenuhi oksigen” ucap Sariel.

“Apa saya boleh menyalakan api tuan?” ucap Lizbeth iseng kepada tuannya.

“Tidak Lizbeth, ini bukan waktunya bercanda” ujar Ardian.

Lama sudah mereka menyusuri sungai kecil itu hingga akhirnya mereka berjumpa dengan Lina dan Kalea.

“Wind wall: Expanded” ucapan Sariel menyebabkan windwall miliknya meluas membersihkan kabut misterius di sekitar tempat itu.

“Lina!” ucapan Ardian lalu memeluk adik yang dicintainya itu dengan erat.

“%###%&&&^%$$$ %$$^D%^%^^%$%%$#####” &^$#@@$%^&*” &%##%” omelan Ardian kepada adiknya karena telah melanggar janji yang dahulu bahwa tak akan pergi tanpa pamit.

“Maaf kakak, ini darurat” ucapan Lina lalu pelukan mereka lebih erat dan suasana menjadi hening.

“Siapa dia?” ucapan Sariel memecah suasana hening.

“Dia adal. . .” ucapan Lina tertahan karena dekapan erat kakaknya.

“Perkenalkan namaku adalah Kalea, aku adalah pertapa elf yang selalu berusaha memurnikan air yang tercemar ini selama puluhan tahun” ucapnya.

“Elf? Sariel apa kau mengenalnya?” ucapan Lizbeth pada Sariel.

“Aku tak yakin” jawab Sariel sambil menggelengkan kepalanya.

“Sariel? Apakah kau bermarga bangsawan Veleinor?Tunjukkan Erendilmu jika kau memang marga bangsawan!” ucapan Kalea.

Lalu Sariel menunjukkan pisau yang dimilikinya sebagai bukti.

“Kau kini sudah besar dan cantik seperti ibumu!” ucapan Kalea sambi tersenyum bahagia mengetahui ia benar-benar keturunan Eiwen.

Ternyata dahulu Kalea adalah seorang murid dari Ewien Veleinor, ibu dari Sariel yang telah meninggal karena bertarung dengan Maripossa.

Tubuh Ewien direnggut bersamaan dengan pohon yggdrasil. Namun sylph nature bernama Mir bisa lolos dari hisapan jurus ruang dimensi Maripossa.

“Hanya makhluk ini peninggalan ratu Eiwen, ia bernama Mir”

“Mir, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?” ucap Kalea kepada sylph kecil itu.

“Kontrak kan? Baiklah” ucapnya.

“Letakkan cermin itu ke dadamu, kita berdua akan melakukan ritual!” ucap Mir.

Wujud Mir lalu bercahaya lebih terang, lalu tubuhnya seakan menyelimuti tubuh Sariel.

Mereka bergabung lalu berbagi tempat dengan Mili.

“Hmmh hmmh hmmh” hidung Mir mengendus leher Sariel.

“Baumu mirip Eiwen, aku menyukainya” ucap Mir gembira.

Lalu mereka berdiskusi tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mata air yang tercemar itu, dengan pengetahuan pertapa Kalea akhirnya mereka menemukan solusi.

Ardian, Lina, Lizbeth, dan Sariel ditugaskan untuk mengambil kembali biji yggdrasil.

Kalea menunjukkan jalan, ia menjelaskan bahwa pusat kabut ini merupakan serpihan pintu gerbang dimensi yang tertinggal ratusan tahun lamanya yang terhubung dengan dimensi dimana Yggdrasil dialihkan oleh Maripossa.

Dengan cermin saktinya, Sariel diarahkan oleh Kalea membuka gerbang itu lebih besar dan berhasil.

Akhirnya semua orang masuk ke dimensi yang dimaksud itu, kecuali Kalea dan Burbuja, mereka berdua menjaga pintu gerbang dari luar.

“Aku akan masuk terlebih dahulu” ujar Ardian dengan Berani, lalu disusul yang lainnya satu-persatu.

“Bukankah itu yggdrasil?” perkataan Lizbeth sesaat setelah masuk ke dimensi misterius, karena ketajaman matanya, ia dapat melihat dari jarak yang jauh sekalipun.

“Sepertinya ini memang benar merupakan tempat yang dimaksud pertapa Kalea itu” ucap Lina yakin.

“Tekanan ini amat berat, sulit bagiku untuk bernafas di tempat ini” perkataan Sariel sambil memegangi dadanya sehingga menunjukkan sedikit payudara bagian atasnya yang mulus tampak naik turun. Di sekitarnya muncul juga sylph angin dan sylph nature barunya.

“Aku juga merasakannya Sariel, nafasku terasa lebih berat” ucapan Lizbeth.

“Apa kamu juga merasakannya Lina?” tanya Sariel kepada Lina.

“Tidak, entah mengapa aku tak merasakan apapun” jawab Lina.

Lina tak merasakan pegaruh apapun di tempat ini karena pusaka kalung sucinya.

Sedangkan Ardian hanya merasakan sedikit efek dari tempat ini karena ia memiliki tingkat adaptasi dan kekebalan yang tinggi.

Lalu Sariel kembali menggunakan jurus wind wall untuk bisa bernapas.

“Lina ikutlah denganku, Lizbeth, Sariel tolong jaga pintu gerbang ini, apapun yang terjadi jangan biarkan satu makhluk pun keluar ke dunia kita” perintah Ardian kepada rekannya.

Tempat kali ini mengandung tekanan magis gelap yang amat besar hingga manusia biasa merasa berat berada di tempat ini.

Bahkan nafas Sariel dan Lizbeth sekalipun terdengar juga berat saat berada di lingkungan asing ini tanpa jurus windwall.

“Baik tuan” jawab Liz dan Sariel sembari menstabilkan nafas mereka masing-masing di dalam lingkaran wind wall.

Keduanya lalu mendekati gerbang cermin lalu menjaganya, sedangkan Ardian dan Lina mencoba berjalan mendekati pohon raksasa yang jaraknya sekitar 100 meter dari gerbang cermin.

Langkah demi langkah mereka jalani hingga melewati jalan menyerupai jembatan, kiri kanan mereka hanya ada lava pijar yang menyerupai liquid, entah apa jadinya jika tercebur ke sana.

Dalam waktu satu detik saja tercelup mungkin tubuh manusia akan langsung overcook.

“Penyusup dari kalangan manusia? Langka sekali!”, kata seseorang laki-laki berwujud manusia biasa namun ia memiliki dua tanduk di kepalanya.

“Apa kau adalah budak Maripossa?” ujar Ardian.

“Lelucon macam apa yang kau ucapkan itu manusia, tipu daya, aku hanya memperdayanya seolah aku melayaninya, padahal sebenarnya dialah yang melayaniku, aku hanya setia mengabdi pada iblis bukan yang lainnya hahahaha”

“Dimana kau sembunyikan biji pohon itu budak iblis?” Ujar Ardian nada keras kepadanya sambil menunjuk pohon yggdrasil yang telah layu.

“Aku adalah Enel ksatria api mulia penjaga yggdrasil, sebaiknya kau jangan sembarangan menyebut bapaku yang agung, kau sesungguhnya tak mengetahui apapun mengenai bapaku!” ucap laki-laki misterius itu yang marah ketika Ardian menyebut kata Iblis.

“Iblis tetaplah iblis yang dikutuk oleh tuhan” ucapan Ardian merendahkan.

“Kau tak tahu apa apa soal kesetiaan bapaku kepada tuhan, ia pernah mengabdi beribadah kepadaNya selama lebih dari 80.000 tahun lamanya. Dia pernah menjadi panglima perang terkuat yang memimpin pasukan malaikat, hingga akhirnya bapaku yang mulia dicampakkan hanya karena penciptaan bangsamu dari tanah yang hina itu” ketus Enel.

“Tetap saja ayahmu itu tetap bersalah karena melanggar satu perintah tuhan!” lanjut Ardian.

“Kau terlalu banyak bicara!” ucap Enel sedikit berteriak hingga membangunkan adiknya yang sudah tertidur selama puluhan tahun lamanya.

“Kakak, spertinya ada tamu tak diundang ya?” ucapan seorang wanita bertubuh kecil, ia cantik, mengenakan gaun biru, kedua matanya terpejam namun seolah ia tetap dapat melihat lingkungan sekitar tanpa harus membuka matanya, di lehernya terdapat kalung biji yggdrasil yang menyerupai kacang kenari yang menggantung sampai di celah antara kedua payudaranya.

“Agni? Maafkan kakak yang berisik sampai-sampai membangunkanmu, lanjutkanlah tidurmu adikku, biarlah kakak yang membereskan mereka”

“kakak, baru kali ini aku menjumpai manusia, rasanya aku juga ingin sedikit bermain dengan mereka, mencakar dan mencabik-cabik daging mereka sepertinya akan sangat menyenangkan!”

“Baiklah jika itu yang kamu mau adikku tersayang! Musnahkan mereka bersamaku!”

Sudah dipastikan dari bentuknya mereka adalah kakak beradik dari kalangan demon, tubuh mereka berdua diberkati dengan api agung Naga api Ignia.

Apa kalian mencari ini? ucapan wanita kecil itu sambil menunjuk ke dadanya yang tertutupi biji Yggdrasil.

“Serahkan biji itu!” ujar Ardian.

“Baiklah rebutlah biji itu sebelum jam pasirku berhenti mengalir maka biji itu menjadi milikmu!” ucap laki-laki itu sambil membalik jam pasir dari kantongnya dan meletakkannya di sebuah monumen kecil.

Laki-laki tersebut menarik pedang dari sarung pedang pinggangnya, pedang saktinya akhirnya tampil, pedang tajam dengan diselimuti nyala api jingga yang terlihat amat panas, sarung pedangnya ia buang begitu saja.

“Lina, berhati-hatilah! Tetaplah di belakangku!” ucap Ardian kepada adiknya.

“Shabh? Kau siap?” ucap Ardian seperti berbicara sendiri.

“Kapanpun kau minta” balas Shabh, namun perkataannya hanya Ardian saja yang mendengar.

Ardian mencoba serius sejak awal, berharap secepat mungkin merebut biji itu lalu keluar dari tempat ini.

“Wush” langkah Ardian terlihat begitu cepatnya hingga hampir-hampir tak terlihat, kakinya melayang cepat karena ia menggunakan teknik “shadow step”.

Tanpa ragu ia mengarahkan pedangnya ke arah leher si wanita kecil bermaksud memotong tali yang menjerat biji yggdrasil dari pemiliknya.

“Dang” peraduan Shabh Sword milik Ardian dengan senjata bernama Flaming Thunder milik Enel.

“Tak kusangka kecepatan manusia bisa secepat ini . . .” puji laki-laki misterius itu karena sedikit kagum.

“Namun sayangnya itu masih belum cukup!” lanjutnya.

“Switch!” kata misterius laki-laki bertanduk itu.

Tiba-tiba adiknya bergerak maju mengeluarkan dua buah pisau belati dari pinggangnya lalu dengan mudah menghempaskan pedang Ardian hingga Ardian susah payah menahan tubuhnya dengan tumpuan kakinya.

“Switch!” perkataan Agni juga secara tiba-tiba.

Belum sempat ia stabil menjaga keseimbangan tubuhnya karena sempat terhempas serangan si gadis kecil Agni, tiba-tiba serangan dari Enel tiba-tiba meluncur dengan cepat.

Kombinasi serangan mereka sangat rapat namun tak sekalipun mereka bertabrakan, gerakan “switch” mereka sangat teratur dan presisi.

“Swush” ayunan pedang itu ke arah leher Ardian, namun dengan sigap Ardian mundur kembali satu langkah untuk menghindarinya, alhasil menyebabkan keseimbangannya menjadi oleng namun ternyata Lina dari belakang meraih dan menjaga tubuh kakaknya agar tetap berdiri.

“Sial!” ketus Ardian tiba-tiba tangan kanannya merasa seperti tersengat aliran listrik menjadikan tangan kanannya mati rasa selama beberapa detik.

“Klonthang” suara Shabh Sword terpaksa jatuh ke bebatuan berwarna jingga di samping kakinya karena tangan Ardian terasa kaku tak mampu menggenggam pedangnya.

“aku yakin aku tadi telah berhasil menghindari serangan laki-laki itu, tapi kenapa tanganku terasa kaku seperti ini!” keluh bergumam Ardian.

Lina dengan cepat memegang tangan Ardian yang kaku itu, entah mengapa dengan kemampuan suci Lina tiba-tiba tangannya pulih kembali.

Lina terlihat amat khawatir, namun sayangnya ia tak terlatih untuk bertarung, ia terlihat seperti pemula yang hanya sebagai support di tempat itu.

“Kau terlalu fokus melihat apa yang terlihat, sampai-sampai tak menyadari bahaya yang tak terlihat!” ucapan Enel sambil tersenyum meremehkan.

Pedang itu memang meleset beberapa inchi, namun ternyata nyala api itu mengandung sengatan listrik yang amat menyakitkan.

Dan sengatan listrik itulah yang tadi sempat mengenai tangan Ardian hingga membuat tangannya kaku.

Ia raih kembali pedang yang tergeletak diantara kakiya, lalu memasang kembali kuda-kuda menyerang.

“Wush” dengan shadow step ia kembali meluncur ke arah Agni, namun lagi-lagi Agni dengan dua bilah belatinya berhasil menahan pedang Ardian.

“Switch!” perkataan Agni sesaat setelah menghempaskan serangan Ardian.

“Aku sudah hafal pola mereka berdua, kali ini laki-laki bertanduk itu pasti akan menyerang, kali ini aku pasti bisa menahan serangan laki-laki itu!” ucap Ardian di dalam hati.

“Swush” ayunan Flaming Thunder, gerakannya kali ini ternyata menipu Ardian, ia seolah ingin menyerang Ardian namun ia sisihkan pedangnya ke samping lalu bersiap meluncur ke arah Lina.

“Sepertinya wanita di belakangmu itu hanya menjadi beban! Akan ku kurangi bebanmu itu agar kau lebih bersemangat bertarung!” ucapan Enel terdengar samar karena ia mengucap sambil meluncur.

“Tidak!!! . . . Lina . . .!” teriak Ardian.

Ia akhirnya mengendurkan kuda-kudanya lalu berbalik arah mengejar laju langkah Enel tanpa menghiraukan Agni.

“Aaaaaaa” hanya teriakan manja yang terdengar dari bibir Lina ketika serangan Enel menghampirinya.

“Jleb”

“Satu tumbang!”

Ucap bangga Enel karena senjata Flaming Thundernya mengenai sesuatu yang diyakininya adalah tubuh Lina, namun ternyata dugaannya salah, itu merupakan “Ice Wall” yang melindungi tubuh Lina.

“Blesh Blesh Blesh” tak disangka ternyata Lina yang terlihat lemah dimata Enel itu ternyata mengeluarkan serangan es bersamaan dengan teriakan manjanya.

“Kyaaah”

“Creation Magic: Icicle Spear” Menciptakan tombak es dalam jumlah besar yang begitu keras dan dingin yang meluncur cepat ke segala arah seperti proyektil granat.

Alhasil tubuh Enel terkena dampaknya karena ia begitu dekat dengan Lina, hingga baju zirahnya hancur berkeping-keping dan juga menyebabkan satu luka tusukan di jantungnya.

Es yang amat dingin menancap dalam di jantung Enel, tubuhnya yang terbiasa dengan energi api menjadikan luka akibat tombak es itu amat terasa menyakitkan baginya.

Flaming Thunder miliknya terlempar meluncur ke atap menyebabkan goncangan yang menandakan atapnya akan segera runtuh.

“Huargh” teriaknya kesakitannya menyambut kematian, jika saja ia mencabut tombak itu maka seketika ia pasti langsung akan mati.

“Kakak!” teriak khawatir dari Agni terhadap kakaknya yang kesakitan.

“Ini kesempatanku!” batin Ardian dengan segera mengayunkan pedangnya ke arah leher Agni, ia hanya bermaksud merusak talinya bukan bermaksud untuk membunuh Agni.

“Swosh” Pedang Ardian melesat ke arah tali di leher Agni, tali kalung tersebut putus namun bersamaan dengan itu luka sayatan kecil menggores leher Agni yang indah meninggalkan bercak darah berwarna hijau, akhirnya Ardian berhasil mendapatkan biji pohon kehidupan yggdrasil dan menggenggamnya kuat-kuat.

Saat pedang Ardian itu meluncur tiba-tiba mata Agni terbuka, ia sangat marah ketika mengetahui kakaknya terluka, kedua matanya yang baru terbuka itu ternyata berwarna biru dan menyala-nyala, kedua matanya bagai nyala api biru yang sangat indah.

Matanya sayu terlihat seperti hanya terbuka separuh, ekspresinya datar menakutkan menunjukkan nafsu membunuh yang amat besar.

Dalam SAINS nyala api biru tersebut ternyata dua kali lebih panas dari api merah jingga yang biasanya.

Si gadis itu terlihat menggila, ia sama sekali tak memperdulikan luka kecil di lehernya yang berdarah.

Ardian mencoba meraih tubuhnya mencoba menghalaunya, namun gadis itu mengabaikan begitu saja keberadaan Ardian.

Kemarahannya dan kesedihannya yang mendalam menyebabkan belatinya juga diselimuti nyala api biru secara penuh.

Ia dendam, amat dendam dengan Lina, ia sama sekali tak memperdulikan Ardian yang berusaha menghalaunya dengan pedang.

Ia menyiapkan pisaunya lalu meluncur dengan mudah melewati Ardian, dengan kuat ia bermaksud menusuk jantung Lina.

Tiba-tiba “Splash!” darah berhasil mengalir akibat tusukan pisau api biru milik Agni.

Apakah darah itu milik Lina? Bukan.

Darah tersebut ternyata adalah milik kakaknya sendiri.

“Kenapa begini?” tangis Agni mendapati kedua belatinya menancap di dada kakaknya sendiri.

Lihatlah jam pasir itu adikku, pasirnya jelas masih mengalir, itu berarti mereka telah berhasil dan berhak memiliki biji yggdrasil.

“Tapi kenapa? Kenapa harus berakhir seperti ini” ujar Agni sambil menitikan air matanya lebih deras sambil memegangi kakaknya.

“Jangan menangis, ini bukanlah akhir, ini adalah awal bagimu untuk melihat dunia atas”

“Kita berdua adalah salah satu makhluk mulia yang tercipta dari api dan kita adalah spesial karena bisa mewujudkan diri secara permanen, oleh karena itu jantung hati kita juga terwujud menjadi nyata. Sampai kapanpun aku akan memegang pesan bapa ku, bahwa jangan sampai kaum kita dipandang lebih rendah daripada kaum manusia”.

Oleh karena itu aku akan memegang janji ksatriaku, karena mereka berhasil merebut yggdrasil seed sebelum jam pasirku berakhir maka mereka berhak memilikinya dan pergi dari tempat ini.

“Grrrrrrrr” tempat yang menyerupai gua yang menyala itu tiba-tiba bergetar, tempat itu mulai runtuh.

Ardian, aku tahu kau adalah ksatria, bawalah Adikku! Perlakukan dia dengan baik! Berjanjilah.

“Baiklah aku berjanji” ucap Ardian kepada Enel.

“Agni, setelah ini anggaplah Ardian seperti kakakmu sendiri, anggap saja ia adalah aku!” ucapnya sambil menitikan air mata.

“Peganglah janji ksatriamu Ardian! Cepat pergilah sebelum tempat ini runtuh!” ucapan Enel diikuti anggukan dari Ardian.

“Tidaaak! Kakak!” ucapan Agni yang perutnya dipegangi oleh Ardian, ia membawanya begitu mudah karena tubuh gadis itu langsing.

Perlahan ia menjauh dari kakaknya, ia terpaksa melihat Enel tersenyum manis ke arah Agni ketika tubuhnya ditimpa reruntuhan yang bercampur dengan magma di perut bumi hingga tubuhnya tenggelam magma sampai-sampai tak terihat.

Jalan di depan Ardian ternyata juga runtuh, Lina mengikuti Ardian dari belakang.

“kita harus memutar!” ucapan Agni yang tiba-tiba mencoba menunjukkan jalan lain.

“Kau tak bermaksud menyesatkan kami kan?” ujar Ardian.

“Jangan salah paham, aku seperti ini hanya karena perintah kakakku, ingat itu manusia!” Ketus Agni.

Agni hanyalah seorang gadis kecil, selalu menutup mataya karena ia bosan dengan pemandangan di bawah tanah yang itu-itu saja.

Ia penasaran dengan dunia atas, namun kaumnya selalu melarang.

Doktrin Iblis selalu menyelimutinya, bahwa di atas sana terdapat makhluk yang lebih kejam daripada kaumnya.

Walaupun sebenarnya doktrin itu memang merupakan kebenaran.

Sesekali ia mencoba bertanya pada sylph pelayan Ignia tentang apa itu dunia atas, namun itu belum memuaskannya.

Selama ini ia tak pernah tersenyum kecuali ketika bercanda dengan Enel, kakaknya yang telah meninggal tadi.

Saat ini ia memiliki kesempatan untuk berpetualang menikmati dunia luar bersama kelompok Ardian, semoga saja ini merupakan awal dari berakhirnya wajahnya yang selalu murung.

“Liz, Sariel kita keluar sekarang!” teriak Ardian sambil lari dari jalan di belakangnya yang runtuh mendekatinya dengan cepat, lalu kelima orang itu akhirnya berhasil keluar dari dimensi hollow bawah tanah.

Mata biru Agni yang indah merasa silau ketika pertama kali melihat sinar matahari sore sesaat setelah keluar dari gerbang dimensi demon realm.

“Benda apa itu yang bersinar di langit?” tanyanya penasaran.

“Itu adalah Matahari” jawab Ardian.

“Apa kau bisa menurunkaku sekarang?” Ucap Agni kepada Ardian karena perutnya masih dipegangi Ardian.

“Kalian Berhasil!” Ucapan Pertapa Kalea menyambut kedatangan mereka.

“Maafkan aku, aku tadi tak bermaksud . . .” ucapan Lina meminta maaf kepada Agni karena ia secara tidak sengaja menusuk kakak Agni dengan proyektil es

Agni hanya menatap Lina mendongakkan kepalanya, karena ia bertubuh lebih kecil dari Lina

Lalu Lina mengelus kedua buah tanduk birunya yang imut, seketika itu pula wajahnya yang murung berubah menjadi muka sange.

“Geli, Hentikan . . . Jangan di situ!” ucap Agni, namun wajahnya tetap tak mampu menutupi wajah sangenya karena kegelian.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 24 | Mencoba Bertahan Hidup Part 24 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 23)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 25)