Mencoba Bertahan Hidup Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 23

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 23 | Mencoba Bertahan Hidup Part 23 Start

Petunjuk yang Jelas​

Waktu telah berulang, lompatan waktu yang dilakukan Lizbeth sudah mencapai batas maksimalnya yaitu sekitar satu jam garis waktu sebelumnya.

Sejak awal Lizbeth merupakan emotion mage yang kekuatannya bergantung pada emosinya sendiri, salah satunya adalah aura yang dihasilkan dari emosi kesedihan yang berwarna abu-abu yang bisa memanipulasi waktu.

Dahulu ia secara tidak sengaja pernah menghentikan waktu saat bersentuhan dengan Ardian untuk kali pertamanya, namun siapa sangka ternyata kekuatan dari kesedihan ternyata memiliki potensi yang amat dahsyat.

Kemampuan dari aura kesedihannya yang berwarna abu-abu kini telah berkembang ke level yang lebih tinggi disebabkan kesedihan yang mendalamnya karena tak bisa melindungi orang-orang di sekitarnya yang ia sayangi, juga karena keinginan bertahan hidupnya yang begitu kuat, selain itu ia juga sudah berjanji akan melindungi tuannya dengan taruhan nyawanya sendiri.

Satu mata Lizbeth tidak bisa berfungsi sementara waktu setara dengan waktu yang ditelannya yaitu selama satu jam, itu berarti selama satu jam ke depan mata kirinya tak bisa digunakan untuk melihat.

Syukurlah karena mata kanannya masih bisa berfungsi dengan baik, walaupun tubuhnya sekarang tengah lemas terduduk bertumpu pada tumitnya setelah menggunakan teknik barunya tersebut yang begitu menguras tenaga.

Namun tak disangkanya, ternyata tubuh Lizbeth perlahan mengeriput, energi kehidupannya yang sudah menipis mulai habis karena teknik sihirnya barusan, rambut pirangnya menjadi putih penuh uban seperti orang tua, ia berusaha menutupi mukanya sendiri, berharap tuannya tidak jijik saat melihat kondisinya sekarang.

“Lizbeth? apa yang terjadi? Kenapa kulitmu jadi seperti ini?” ucap khawatir Ardian, tak sedikitpun rasa jijiknya terhadap tubuh Lizbeth yang mengeriput seperti orang tua.

“Pasti ini ulah mereka!” ujar Sariel.

“Tenanglah Sariel! Sepertinya kini saatnya kita balas dendam!” ucapan Ardian sambil tertawa sinis, sesuatu hal mesum nan kejam tengah melintas di pikiran Ardian.

“Dengan segala kerendahan hati tuan, mereka sesungguhnya belum melakukan apapun karena waktu sudah kembali ke masa semula” ucapan Lizbeth menasehati Ardian sambil terengah.

“Tapi . . . Lizbeth . . . mereka tadi telah . . .” ucapan Sariel yang diliputi amarah.

“Lihatlah tubuhmu baik-baik Sariel, tak ada luka sedikitpun, sampai saat ini tak ada batang kelamin lain yang pernah menjajahi vaginamu selain milik tuan pada saat malam pertamamu kemarin, jadikan ingatan di garis waktu lain tadi hanya sebagai kenangan buruk yang akan kita pendam” ujar Lizbeth menjelaskan.

“Tapi . . .Kondisimu . . .” ucap Sariel yang masih setengah tak terima.

“Kulitku yang mengeriput ini bukanlah ulah mereka tuan, jika anda menghakimi mereka di garis waktu yang telah berulang ini, itu sama saja anda menghukum seseorang yang belum melakukan kesalahan . . . namun keputusan akhir saya serahkan kepada anda, mohon supaya perkataan saya bisa dipertimbangkan” nasihat Lizbeth kepada Ardian sambil masih tetap menutup mukanya sendiri karena malu dengan wajah buruk rupanya.

“Sepertinya kau benar Liz, rasanya tak pantas jika aku menghukum mereka, terimakasih telah mengingatkanku, jika saja aku tadi membalas mereka dengan balasan yang keji maka tak ada bedanya aku dengan Burbuja yang semena-mena itu” ucapan Ardian.

“Semena-mena? Arrrgh . . . apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” ucapan Burbuja sambil memegangi kepalanya sendiri.

Ia kemudian menangis, tersenyum manis kepada Ardian, lalu tertawa jahat sambil memegangi senjata scythe miliknya dengan tatapan membingungkan.

“Apa dia gila?” ucap Sariel penasaran.

“Sepertinya ada yang tidak beres dengan wanita itu, aku akan membekukan kakinya” niatan Lizbeth yang masih ingin memaksakan diri.

“Tidak Liz, kau harus istirahat, kondisimu sekarang sangatlah menghawatirkan, tunggulah di sini!” ucap Ardian.

Sariel merasa kelompoknya terancam membuatnya melakukan tindakan gegabah yaitu menyerang Burbuja dengan wind kick secara tiba-tiba.

Wind Kick merupakan serangan dengan menggunakan kaki, melaju cepat memanfaatkan kecepatan angin sebagai daya dorong.

Serangan tersebut mengenai perut Burbuja, membuat burbuja tersungkur menjauh memegangi perutnya sendiri yang kesakitan.

“Guargh . . . “ geram para serigala jadi-jadian peliharaan Burbuja, bentuk tubuh mereka berubah menjadi warewolf yang siap bertarung karena melihat Burbuja disakiti.

Mereka menggeram ke arah Sariel dengan tatapan ingin membunuh.

Musuh di depan Ardian sepertinya akan menyerang secara terang-terangan, untuk sekarang tak ada pilihan lain kecuali melawan mereka untuk bertahan hidup.

Ia menggenggam pedang hitamnya kuat-kuat, menggertak, berusaha mengancam, namun para warewolf tak menggubris, mereka sama sekali tak menunjukkan rasa takut sedikitpun.

“Haurgh Haurgh” suara mereka saat menyerang terdengar seperti anjing yang menggonggong namun suara mereka lebih berat dan lebih keras.

“Swush” salah satu dari warewolf tersebut menerjang berusaha menggigit dan mencakar Sariel dari arah belakang, namun Ardian mengetahui hal itu ia berlari ke arah Sariel dan berhasil mendaratkan pedangnya ke warewolf tersebut.

Gigi taring milik para warewolf terlihat begitu tajam, jika tergigit salah satu dari ke lima warewolf itu pasti kulit seketika akan robek.

“Splash” darah keluar dari salah satu warewolf yang berniat menyerang Sariel tadi, luka cukup dalam berhasil dilancarkan di salah satu paha warewolf, membuat ia pincang seketika.

Darah itu tetap mengalir deras karena efek pedang Ardian yang memiliki aura kutukan yang bisa membatalkan pembekuan darah.

Cara kerjanya yaitu membuat trombosit chan anone anone di sekitar luka seketika tertidur pulas, sehingga tanpa adanya trombosit yang seharusnya menutup luka akan menyebabkan darah terus mengalir.

Beberapa darah menempel di pedang Ardian membuat warna pedangnya berwarna hitam berhiaskan cairan merah.

“Hoek hoek” ucap suara misterius dari pedang milik Ardian seperti orang mau muntah, hanya Ardian yang mampu mendengarnya, bahkan Lizbeth dan Sariel sekalipun tak bisa mendengarnya.

“Shabh? Kau kah itu? Kau hidup?” ujar Ardian.

“Tentu saja dasar berisik!” ucapnya tetap dengan nada kejam dan sombong seperti waktu itu.

“Apa yang terjadi padamu Shabh?” tanya Ardian.

“Darah makhluk itu terasa tidak enak, aku tak tahan, rasanya aku ingin muntah!” keluhan Shabh kepada Ardian.

Shabh tak suka dengan darah mereka, itu berarti para warewolf ini sebenarnya memiliki hati yang baik, mereka pemberani, berusaha melindungi Burbuja dengan taruhan nyawanya sendiri sehingga Shabh tak menyukai darah mereka.

“Mereka terlalu agresif untuk ukuran makhluk fisik” ujar Lizbeth kepada Ardian.

“Seperti dugaanku tadi, pasti ada sesuatu yang tak beres dengan mereka!” ucap Ardian sambil menaikkan pedangnya dengan kuda-kuda bertahan.

“Jadi seperti itu, mereka sepertinya diliputi suatu sihir kutukan yang mengendalikan mereka menjadi lebih agresif” gumam shabh.

Tapi, bagaimana cara melawan mereka tanpa menyerang?” ucap Ardian kebingungan.

“Gunakan Shadow Field, dasar bodoh! Pastikan semua warewolf itu berada dalam jangkauan shadow field, agar aku bisa menggerogoti kutukan mereka!” ketus Shabh.

“Sepertinya itu ide yang bagus, baik, bersiaplah!” perkataan Ardian kepada Shabh sambil menggenggam pedangnya itu ke arah bawah, lalu ia melompat setinggi-tingginya lalu menghentakkan pedangnya ke tanah.

Maka terciptalah shadow field, aura hitam berhasil membuat Burbuja dan para warewolf sesak napas.

Aura menyesakkan melanda tubuh lawan, memaksa tubuh mereka terduduk ke tanah seakan ada gravitasi yang amat besar yang menarik ke bawah.

Tak lama kemudian pedangnya ia cabut dari tanah, bersamaan dengan itu berakhirlah shadow field, kutukan yang berada di tubuh mereka ikut tertelan ke dalam pedang Ardian.

“Sepertinya ini berhasil!” ucapan Ardian sambil mendekati Burbuja.

“Uhhhh” ucap Burbuja lirih sambil memegangi kepalanya karena ia merasakan pusing.

“Maafkan aku, aku tak bisa mengendalikan diriku” ucap Burbuja lirih.

“Apa yang sebenarnya terjadi Burbuja?” tanya penasaran Ardian pada Burbuja.

“Ceritanya panjang . . . Tunggu bagaimana kalian bisa tahu namaku dan nama pengawalku?” tanya Burbuja juga penasaran.

“Ceritanya panjang” jawaban Ardian menirukan jawaban Burbuja lalu keduanya malah tertawa kecil.

Para warewolf juga terlihat lebih tenang, tak seperti saat di awal tadi.

Diajaklah Ardian, Liz dan Sariel ke perkampungan Fenrir tak jauh dari tempat tadi, cepat-cepat mereka berniat memberikan pertolongan pada Lizbeth.

Kondisi Lizbeth sangat mengkhawatirkan, tubuhnya keriput dan lemah, ia terlihat dibopong Ardian di posisi depan hingga ia tidurkan Lizbeth di salah satu kamp di perkampungan Fenrir.

Warga Fenrir terlihat berkumpul menyambut ratu mereka, namun tatapan mereka agresif dan liar, mata mereka memerah, namun anehnya mereka masih setia pada Burbuja sebagai ratunya.

“Lihatlah mereka, akhir-akhir ini tingkah kami terasa aneh, air yang kami konsumsi seperti memberikan efek magis yang dapat meliarkan kami terutama saat mendekati bulan purnama” ujar Burbuja menjelaskan.

“Tunggu, kau benar, malam ini adalah bulan purnama ke 12 menurut perhitunganku, ini adalah jadwal tahunanku harus memakan bayi atau . . . ” ucapan Lizbeth.

“Atau apa Liz?” Ucap Ardian khawatir.

“huhuhuuuuu, aku tak mau membunuh bayi yang tak berdosa lagi”, ucapan Lizbeth sambil menangis lalu dipeluklah tubuh keriputnya oleh Ardian, tangisan Lizbeth yang menderu membuat Sariel dan Burbuja juga iba.

“Tuan, maafkan saya, tak pantas rasanya saya mengotori baju tuan dengan air mata dan kulit keriput saya yang hina ini” ucapan Liz sambil mencoba menjauh dari dekapan tuannya.

“Tidak, beritahu aku cara untuk menyelamatkanmu Liz!” ujar Ardian berharap Lizbeth memberikan informasi selengkap-lengkapnya.

“Saya akan mati jika tak makan jantung bayi manusia sampai bulan purnama ke 12, di sisi lain saya tak mau lagi membunuh bayi yang tak berdosa,” ucapnya sambil sengaja menyembunyikan wajahnya dari Ardian.

“Pasti ada cara lain!” ucap Ardian yang juga bersedih mendapati Lizbeth menderita.

“Bahagia rasanya mengenal anda tuanku, anda selalu baik terhadap saya selama ini, mungkin ini saatnya perpisahan kita” ucap Lizbeth, suaranya semakin melemah.

“Bayi . . . Bayi . . . Aku butuh jantung bayi . . .!” ucapan Liz yang tiba-tiba liar, kali ini ia dikendalikan oleh Beatrice.

“Oeeek oeeek” suara bayi menangis di gendongan ibunya tiba-tiba menangis seolah mengetahui ancaman.

Salah seorang ibu-ibu dari warga Fenrir terlihat sedang menggendong anaknya ketika menyambut ratu Burbuja menjadi was-was, ia seketika ingin kabur menyelamatkan anaknya, takut jikalau dimakan oleh Lizbeth.

“Tenanglah dulu Beatrice . . . apa ada syarat pengganti lain selain jantung bayi?“ tanya Ardian kepada Beatrice.

“Satu jantung bayi untuk satu tahun tambahan kehidupan, ada penggantinya namun itu menjijikkan, yaitu meminum sperma sekitar satu liter, dan itu harus diminum langsung dari sumbernya. . . tapi itu hanya akan menunda selama satu bulan, untuk mencegah Lizbeth mati maka anda harus mencari beberapa orang untuk melakukan oral cumshoot sebulan sekali dilakukan secara rutin” penjelasan Beatrice yang mengetahui seluk beluk pertukaran setara akan hal ini.

“Oral Cumshoot? Memasukkan sperma langsung ke mulut Lizbeth?” tanya Ardian memastikan.

Pilihan tersebut amatlah sulit, Ardian merasa keberatan jika Lizbeth di lecehkan oleh orang lain namun untuk sekarang tak ada pilihan lain, daripada membunuh bayi tak bersalah lebih baik dilakukan dengan cara menjijikkan ini.

“Kalian para laki-laki berkumpullah, berikan sperma kalian ke nona ini!” ucapan Burbuja memeritahkan warganya.

Beberapa isteri takrela suaminya melakukan hal mesum tersebut, namun mereka tetap pasrah karena itu merupakan perintah dari ratu mereka.

Lizbeth diletakkan dalam tenda, di dalam tenda tersebut terdapat Ardian, Lizbeth dan Burbuja.

Sedangkan Sariel tengah pergi menyelidiki sungai yang kabarnya tercemar itu.

Satu persatu dari para lelaki berbaris membentuk barisan seperti kereta.

Giliran 10 orang pertama masuk ke tenda mesum tersebut.

“Buka celana kalian! Onani dengan tangan kalian sendiri lalu muncratkan sperma kalian tepat ke mulut nona ini!” perintah Burbuja.

Mereka terlihat canggung memegangi batang kelaminnya masing-masing.

Sepuluh orang pertama tersebut berusaha keras mengocok-ngocok kelaminnya sendiri namun tak kunjung berdiri.

“Ada apa? Apa kalian lemah syahwat?” tanya Burbuja ketus.

“Tidak ratu, sebenarnya kami sama sekali tak nafsu dengan nenek-nenek di sana itu!” ujar salah satu laki-laki suku Fenrir di dalam tenda.

“Jaga mulut kalian! Aku akan mengeksekusi kalian jika tak sopan dengan tamuku! Ancam Burbuja keras.

“Ampun Ratu . . .” hanya itu kata-kata mereka, walaupun mata mereka memerah karena pengaruh air yang tercemar yang membuat mereka menjadi liar, ternyata mereka semua masih tetap tunduk kepada ratu Fenrir.

“Baiklah kalau begitu, aku akan sedikit berbaik hati” ucap Burbuja sambil melirik ke arah Ardian.

Tak disangka-sangka oleh para warga suku Fenrir, ternyata ratu mereka amatlah mesum, ia lucuti satu persatu pakaiannya sendiri.

Sampai tubuh Burbuja kini telajang bulat, melihat itu sontak para warga Fenrir di tempat itu kegirangan.

Batang kelamin mereka seketika mengacung tegang maksimal karena disuguhi wanita MILF molek dan bokongnya amat montok.

Kulit dalam Burbuja putih bersih, payudaranya pun juga besar, jauh lebih besar daripada milik Lina, sedangkan tangan dan kakinya cenderung lebih hitam karena selalu terpapar sinar matahari.

Lalu ia meremas-remas payudara jumbonya dengan tangannya sendiri.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki tak tahan, ia mendekatkan batangnya yang berkedut ke arah mulut Lizbeth.

“Shhh ahh ahh ahh montok kali tubuhmu Burbuja! Gimana kalau tubuhmu dinikmati satu kampung?” perkataan tak sopannya kepada ratunya sendiri karena ia diliputi nafsu yang meledak-ledak, sambil memaju mundurkan penisya di mulut Lizbeth yang keriput dengan cepat.

“Ash pelan-pelan . . .” ucap Lizbeth.

Ia tak memperdulikan rupa Lizbeth yang keriput karena kedua matanya sedang konsentrasi menatap tubuh montok ratunya sendiri.

Lalu akhirnya “crottt croot crooot” sperma orang itu membanjiri kerongkongan Lizbeth. Tubuhnya yang kering kerontang seakan disirami oleh sedikit energi kehidupan membuat perlahan keriputnya berkurang sedikit.

Lalu disusul lainnya juga berhasil menyumbangkan spermanya ke mulut Lizbeth. Lizbeth berangsur-angsur terlihat semakin berkurang keriput di tubuhnya.

Tadi mukanya keriput tak berbentuk seperti wanita tua ratusan tahun, namun berkat tembakan sperma-sperma di mulutnya tadi itu membuat Ia kini terlihat bagai wanita tua umur 60 tahun.

Batang kelamin Ardian juga bereaksi, ia tak tahan dengan kemolekan dan kemontokan tubuh khas MILF milik Burbuja.

Sembilan dari sepuluh peserta angkatan pertama telah menumpahkan spermanya di dalam mulut Lizbeth, masih tersisa satu orang.

“Kenapa kau masih belum juga keluar?” tanya Burbuja.

“Kurang hot Bunda Ratu” ucapnya.

“Baiklah gimana kalau begini . . . “ ucaan Burbuja sambil menggoyang-goyangkan pantat montoknya, sesekali meregangkan kakinya untuk memamerkan vaginanya yang berjembut kepada salah satu warganya itu.

“Ahs enak pasti itu kalau dientot kasar Ratu” ucap orang tersebut sambil gemetar memegangi kelaminnya sendiri.

“Ha dientot? Tapi rakyat rendahan sepertimu tak pantas untuk mengentot ratu sepertiku” ujar Burbuja jual mahal dan sombong.

“Gimana dengan dia Ratu, Kabarnya dia adalah prajurit tangguh dan dia juga kepala suku Panthera kan? Kalau begitu dia boleh dong ngentot bunda ratu?” Tanya orang terakhir tersebut sambil masih bekerja keras mengocok kelaminnya sendiri.

“Tuan Ardian sangat pantas, namun aku tak yakin ia mau bersetubuh denganku” jawab Burbuja sambil mendekati orang tersebut.

Ardian sudah berada di dalam puncak nafsunya, secara tiba-tiba dari belakang ia lesakkan batang kelamin besarnya ke vagina milik Burbuja.

“Plok” gerakan kasar yang tiba-tiba, kelamin Ardian melesak jauh ke dalam vagina milik Burbuja hingga Burbuja menjerit karena tersentak kaget.

‘Shhh ohhhh” teriak desah Burbuja terdengar keras.

Tumbukan pertama tersebut membuat pantat Burbuja yang kenyal berguncang, kelamin Ardian masuk sedalam-dalamnya ke vagina berjembut miliknya.

“Ohhhs ohhh Ratu Burbuja dientot orang asing berkontol besar ohhhh, crooot croot croot” rancau orang terakhir tersebut yang tak tahan melihat pantat ratunya yang gembur bergetar-getar terkena sodokan Ardian hingga akhirnya spermanya melesak ke mulut Lizbeth.

Orang terakhir tersebut lalu keluar dari tenda mesum.

“Shhh Kloter Selanjutnya!” teriak Burbuja memanggil angkatan ke dua dengan susah payah karena menahan sodokan di vaginanya.

Sepuluh orang lalu masuk ke dalam tenda mesum, mereka terkaget melihat ratu mereka telanjang bulat, dan lagi posisi ratu mereka kini sedang disodok-sodok oleh Ardian di belakangnya dalam posisi doggy.

“Lihat tuh Ho . . . Ibumu sedang dientot kasar” ujar salah satu dari mereka.

“Poho?” Ucap Burbuja kaget, ternyata anak kandungnya ikut di kloter kedua ini.

“Ibu?” tatapan wajah nanar anak kandung Burbuja melihat ibu kandungnya sendiri sedang telanjang bulat dientot kasar oleh orang asing.

Poho merupakan anak kandung dari Burbuja, Burbuja mengira anaknya sedang pergi berburu. Ia kaget ternyata anaknya sendiri hendak ikut berpartisipasi dalam menyumbang sperma kepada Lizbeth.

Bergegas Burbuja panik dan tangannya berusaha meraih pakaian yang berserakan di lantai, namun sayangnya Ardian malah menahan pantatnya dan menggenjot Burbuja semakin brutal.

“Ahsh ohh ohh ohhh” desahan Burbuja diperhatikan anaknya sendiri.

“Oouuh gila montok banget ibumu, baru pertama aku lihat tubuh moleknya telanjang, apalagi sekarang ibumu sedang dientot pendekar asing itu! Ohh bikin nggak tahan” ucap salah satu dari mereka lalu mereka segera mengocok kelaminnya masing-masing secara cepat di mulut Lizbeth.

“Ouuuh Ratu . . . Ratu Burbuja . . . Montok banget tubuhmu . . . “ gumam mereka.

“Hei pendekar pedang, itu anus Ratu Burbuja nggak sekalian dihajar?” usulan ngawur salah seorang dari mereka, ia adalah teman baik Poho.

“Gila kamu, itu Ratu Burbuja, ibunya Poho loh, masak lubang analnya ditawarkan ke pendekar nggak jelas” gumam laki-laki lainnya.

Mendengar usulan orang tersebut membuat Ardian tertantang, entah mengapa sekarang ia sangat ingin menyodomi anus Burbuja yang sempit.

“Jangan . . . Jangan di situ . . .” rengek Burbuja memohon.

Namun itu terlambat, batang kelamin Ardian kini telah melesak sedalam-dalamnya ke lubang anus Burbuja yang sempit.

“Brooot” suaranya seperti orang kentut ketika anusnya menerima tusukan pertama itu sedalam-dalamya.

Poho melihat adegan tersebut menjadikan batangnya tegang maksimal, ia perhatikan setiap jengkal tubuh moleh montok ibunya sendiri yang kini sedikit mengkilat karena keringat tipis.

Dengan berani ia mendekati ibunya sendiri, Poho lalu mengoles-oleskan kepala penisnya ke ketiak ibunya sendiri yang sedikit berkeringat.

“Berhenti Poho, aku ini ibumu sendiri, tolong jangan perlakukan ibu seperti ini!” larangan Burbuja sambil menitikan air mata.

“Diam kamu bu!” ucapan Poho sambil menjambak rambut ibu kandungnya sendiri. Ia kasar karena pengaruh air yang tercemar.

Ia alihkan kepala penisnya yang sedikit berbau ketiak ibunya sendiri lalu mengarahkannya tepat ke mulut ibu kandungnya.

“Kulum buk!” ucap Poho dengan nafas memburu.

Burbuja hanya bisa pasrah menuruti kemauan anaknya, lalu dengan cepat ia memaju mundurkan batangnya di mulut ibunya sendiri hingga amblas sampai ke tenggorokan Burbuja.

Kesembilan warga tersebut tak tahan melihat Poho melecehkan ibunya sendiri, kemudian satu persatu memuntahkan spermanya ke mulut Lizbeth.

“Pelan-pelan, gantian . . .” ucap Lizbeth yang kuwalahan menerima batang kelamin yang saling berebutan memuntahkan sperma di mulutnya secara marathon.

Dua orang terakhir menyadari ada yang berbeda, tubuh Lizbeth telah pulih dari keriput, namun tubuhnya masih seperti tante-tante MILF khas wanita inggris yang berwajah cantik.

“Eh, ini nenek-nenek kok jadi cantik gini, jadi nafsuin” ujarnya kaget sambil meremas-remas dada tante Lizbeth yang masih dibalut kain sutera.

Tatapan kedua orang tersebut kini beralih dari yang semula fokus ke tubuh ratu mereka, kini menjadi bimbang, fokus mereka berdua terbagi, disatu sisi terangsang melihat ratu mereka yang sedang disodomi, di sisi lain dihadapannya ada tante-tante pirang yang begitu menggoda.

Akhirnya mereka fokus kepada muka Lizbeth yang di sela-sela bibirnya masih terdapat cairan sisa warga sebelumnya, sebagian meleleh.

“Aku dulu! Aku dulu! Aku dulu!” ucap mereka berebut menyentakkan batangnya ke mulut Lizbeth.

“Pelan-pelan” ucapan yang selalu diulang-ulang oleh Lizbeth karena mereka selalu berebut kasar.

“Yaudah kita barengan aja!” ucap salah satu dari dua orang tersebut.

Lalu akhirnya mulut Lizbeth dijejali dua buah batang yang berkedut, “Shhh ohhhh cantik banget, rambutnya pirang, bibirnya lembut” rancau mereka.

“Shhh ouhhh crott croot crooot” teriak mereka berbarengan, penis mereka secara bersamaan menghambur-hamburkan sperma di dalam mulut Lizbeth yang amat lembut.

Lalu keduanya keluar dari tenda mesum dengan wajah berbunga, puas tiada tara setelah mengeluarkan sperma mereka di mulut Lizbeth dalam mode MILF yang amat cantik.

Perlahan Burbuja menikmati perlakuan mesum anaknya, ia kini hanya pasrah ketika anus dan mulutnya dibombardir orang yang berbeda, satunya orang asing yang tampan gagah, dan satunya lagi anaknya sendiri membuat tubuhnya makin mendera nikmat.

“Selan . . . jut . . . nya aaahhhh!” teriak Burbuja memanggil kloter terakhir.

Ucapannya tertahan karena kesusahan mengatur nafas saat mulutnya dijejali batang anak kandungnya sendiri, anusnya masih disodok-sodok oleh Ardian dengan gencar.

Mereka bersepuluh lalu masuk, mereka terkejut pula dengan tubuh moleh ratunya yang amat montok sedang disodomi oleh Ardian.

“Lihat itu, Ratu Burbuja sedang disodomi, mulutnya dipake buat ngulum batang anaknya sendiri!” ucap salah satu dari mereka.

“Mana sampai keringetan begitu lagi, bkin pengen aja” ucap lainnya.

“Mana, katanya kita disuruh mejuhin mulut nenek-nenek, tapi nggak ada nenek-nenek di sini” gumam mereka sambil mencari-cari sosok nenek-nenek di seluruh sudut ruangan.

“Kenapa kalian malah keliling?” ucapan Burbuja, ia mencabut kelamin Ardian dari anusnya.

“Berhenti dulu anakku sayang!” ucap Burbuja kepada anaknya karena ia mau bicara pada warga yang baru saja datang.

Tubuh Burbuja mulai merangkak perlahan, namun secara tak terduga ia merasakan pantatnya ditampar-tampar, tiba-tiba vaginanya kembali tertusuk secara kasar, lalu ketika Burbuja menengok ke belakang ternyata yang melakukannya adalah anaknya sendiri.

Burbuja hanya bisa membiarkan anaknya membombardir vagina dan anusnya secara bergantian, sesekali anaknya itu juga menampar sampai menyebabkan pantatnya yang montok memerah, sodokannya amat kasar karena anaknya dalam pengaruh air terkontaminasi membuat nafsu Poho meledak-ledak.

Ia merangkak sambil merengek-rengek karena menahan geli keenakan, lalu sampailah ia tepat di depan Lizbeth yang terduduk.

“Ini nona Lizbeth yang harus kalian sedekahi sperma di mulutnya!” perkataan Burbuja dengan kalimat kesusahan karena menahan nikmatnya batang anaknya.

“Lizbeth?” ucap Ardian pagling karena ia dapati fisik Lizbeth seperti tante-tante inggris yang amat seksi.

Ardian acuhkan begitu saja tubuh Burbuja, fokusnya kini langsung beralih ke Lizbeth yang masih dalam mode tante-tante.

“Kamu cantik banget Lizbeth, seperti lukisan ratu inggris” puji Ardian yang kagum dengan kecantikan khas MILF Lizbeth.

“Tuan nafsu lihat saya seperti ini?” tanya Lizbeth menantang sambil membuka kain sutera yang dipakainya, memamerkan payudaranya yang besar dan sedikit kendor.

Seketika Ardian langsung menerkam tubuh Lizbeth mode tante-tante itu, ia singkap rok suteranya lalu menusukkan batangnya secara berulang-ulang ke vagina Lizbeth.

Kini giliran Poho yang semakin cepat menggenjot ibunya sendiri.

“Buuk . . . Poho mau keluar . . .” Rengek anaknya itu.

“Jangan di dalam nak, nanti ibu bisa hamil, ibu nggak mau hamil dari sperma anak kandung sendiri” larang Burbuja.

Namun anaknya itu malah semakin brutal, larangan itu malah membuatnya semakin bernafsu untuk menembakkan spermanya ke dalam vagina ibunya sendiri. lalu akhirnya crooot crooot crooot.

Sperma Poho membanjiri vagina Burbuja hingga ke relung paling dalam yaitu rahimnya yang hangat, 100% ia pasti hamil karena tak ada pil KB di suku pedalaman ini.

“Tenang saja Buk, lagipula semua warga sekarang juga sudah tahu kalau ibu mesum” ucap Poho sambil mencium bibir ibunya sendiri, lalu mereka lemas dan puas.

Ardian juga akhirnya ejakulasi dimulut Lizbeth, jumlah deposit spermanya sangat banyak, setara dengan lima orang warga Fenrir.

Beberapa sperma Ardian itu ditampung mulut Lizbeth yang ternganga pasrah.

Banyaknya porsi sperma Ardian membuat mulut Lizbeth juga penuh sampai meluber mengotori pakaian suteranya.

Satu kali ejakulasi tak membuat batang Ardian loyo, justru batangnya malah semakin menjulang tegak dan kaku.

“Puas kan? sekarang gantian ya” ucap Ardian kepada Poho yang sedang menikmati sisa-sisa puncak kenikmatannya.

Mendengar hal itu, ia cemburu ketika ibunya hendak dipakai lagi oleh orang lain, namun perasaan cemburu tersebut kalah dengan rasa penasarannya.

Poho hanya mengangguk setuju mempersilahkan Ardian menyodomi Ibunya sendiri.

Ardian gunakan sisa tenaganya untuk memborbardir kembali anus Burbuja sampai akhirnya croot croot croot, ia ejakulasi di anus.

Melihat ibunya diperlakukan mesum seperti itu Poho kembali bangkit dan ikut menyodomi ibunya sendiri hingga anus Burbuja penuh dengan sperma Ardian dan Poho.

Kemudian sepuluh orang sisanya akhirnya menusukkan batangnya masing-masing dan menyemprotkan spermanya ke mulut Lizbeth sampai mulutnya penuh sperma kembali.

Setelah tigapuluh porsi sperma berhasil diminumnya, tiba-tiba fisik Lizbeth kembali ke keadaan semula yaitu seperti wanita inggris yang masih muda.

Kulitnya sangat mulus, tubuhnya langsing, perutnya rata, bokongnya montok, rambut pirangnya begitu menggoda.

Lalu semua orang akhirnya membersihkan diri setelah puas.

Sementara itu di tempat lain Sariel menyusuri sungai berharap ia bisa menemukan petunjuk.

Sedari tadi ia dapati para warga di sekitar sungai tak menunjukkan gejala mata merah.

“Sariel air ini sepertinya sudah tak tercemar lagi, emm bau air ini seperti Lina, tapi aku tak yakin” ucap Mili si Sylph kecil kepunyaan Sariel.

“Apa kau yakin? aku malah tak bisa mencium apa-apa dari air ini” ucapan Sariel.

“Hidung elfmu itu sepertinya rusak” ejek Mili sambil tertawa.

“Tunggu, Lizbeth adalah penyihir, ia memiliki penciuman yang spesial, mari kita bawa air ini ke Lizbeth untuk memastikan!” lanjut Mili.

“Itu ide bagus” ucap Sariel mendukung usulan mili.

“Lihat apa yang kutemukan Liz” ucap Sariel mengagetkan semua orang, ia berkata seperti itu sambil terengah memegang gelas kecil berisi air sungai.

“Hfffff” suara hidung Liz yang menghirup aroma air tersebut.

“Bagaimana Liz?” ujar Ardian penuh harap.

“Benar, tak salah lagi tuan, ini adalah bau tubuh Lina, kita mungkin bisa menemukannya jika menyusuri sungai” ujar Lizbeth.

“Burbuja, perintahkan semua wargamu untuk mandi air sungai untuk menyembuhkan mereka!” permintaan Ardian kepada Burbuja kemudian Burbuja segera membuat pengumuman terbuka kepada para warganya.

“Poho minumlah air sungai, pimpin semua warga bersamamu!” perintah Burbuja kepada anaknya.

“Baik Bu” ucapnya sambil tangannya nakal menampar pantat ibunya sendiri dari balik pakaiannya yang kini sudah Burbuja kenakan.

Setelah pengumuman disampaikan ia kembali menemui Ardian.

“Sepertinya anda akan membutuhkan warga lokal sebagai penunjuk jalan untuk menembus lembah kesedihan . . . Bolehkah saya ikut?” pertanyaan Burbuja.

“Baiklah kita tak boleh membuang-buang waktu, kita berangkat!” perintah Ardian pada Sariel dan Lizbeth dan Burbuja, kemudian ketiganya mengangguk.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 23 | Mencoba Bertahan Hidup Part 23 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 22)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 24)