Mencoba Bertahan Hidup Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 20

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 20 | Mencoba Bertahan Hidup Part 20 Start

Anggota Petualang Baru

Malam itu Eikhtyrnir mulai gelap dan diliputi hawa dingin, walaupun kondisinya seperti itu, para elf yang rupawan dan anggun tetap melakukan aktifitas hariannya saat malam seperti malam-malam sebelumnya.

Petang merupakan fajar bagi mereka, begitupula kebalikannya.

Beberapa anak kecil mulai bangun bersiap untuk belajar memanah atau belajar bersinergi dengan alam.

Di tengah perkampungan terdapat sebuah pendopo dalam versi mereka, di dalamnya masih berlangsung jamuan makan vegetarian yang begitu mewah.

Seiris semangka yang merah dan berair baru saja dihabiskan Ardian dengan lahapnya.

Rasa lelahnya karena keikutsertaannya memperbaiki kampung Bjarki ditambah perjalanan cukup panjangnya melewati hutan larangan seakan langsung sirna begitu ia disambut jamuan mewah ini.

Perbincangan hangat pun terjadi antara ia, Earldhorath, dan para tetua Eikhtyrnir lainnya, dari masalah pertanian, politik, budaya, hingga hukum.

Hingga akhirnya Earldhorath mengantuk, tak dapat dipungkiri tubuhnya juga lelah akibat kerja kerasnya di Bjarki.

“Hoaaaamh, maaf . . . Sepertinya saya butuh tidur” kata Earldhorath di akhir obrolannya.

“Sariel . . . Ajaklah tuan Ardian berkeliling! Ayah ingin pergi tidur” ujarnya kemudian.

“Baik ayah” jawab Sariel.

Terdapat sedikit perasaan berbunga di hati Sariel karena malam ini ia akan selalu bersama untuk menemani Ardian berkeliling di perkampungannya.

“Kami mohon undur diri” ucap kepala suku kemudian disusul tetua lainnya.

Hanya meninggalkan dua insan, lebih tepatnya tiga karena ditambah sylph kecil yang kini sudah keluar dari dalam tubuh Sariel.

“Hai, kita berjumpa lagi manusia . . .” ujar sylph kecil elemen angin yang bernama Mili, ia merupakan sylph kepuyaan Sariel yang pernah ikut membantu Ardian dalam mengalahkan Shabh.

“Kamu rupanya, sylph kecil . . . “ Jawab Ardian.

“Jangan sembarangan, aku sudah besar tauk . . .”

“Masak? Kalau begitu mengapa dadamu belum tumbuh?” ejek Ardian.

“Hmmmhhh” ucapan Mili yang cemberut sambil menggembungkan pipinya karena tak terima dadanya yang kecil dibahas oleh pria di depannya itu.

“Daripada kau manusia mesum, waktu itu kau sengaja lama mencium bibir nona Sariel kan saat menggembalikanku? Dasar mesum!” ucapnya.

Waktu itu memang Ardian pernah mencium bibir Sariel saat berniat mengembalikan Mili ke tubuh Sariel untuk mengembalikan energi kehidupannya sesaat setelah Shabh ditakhlukkan.

“Ti ti tidak . . .” ujar Ardian, membuat Sariel juga tersipu malu membuat suasana menjadi canggung.

“Diamlah Mili, mulai sekarang duduk tenang dan jangan berisik . . . Ba ba baiklah kita mulai saja berkeliling . . .” ucap Sariel yang juga gugup dalam berkata-kata.

Kini dua pasang kaki itu melangkah, sampailah mereka di area perkebunan.

Ardian takjub, betapa indah dan tertata rapi ladang pertanian mereka, walaupun tanpa sinar matahari namun setiap saat para sylph pelayan Freyr berlalu-lalang membuat area ini menjadi terang dan begitu hangat.

Semua tanaman di ladang ini terlihat subur, akarnya kokoh, batangnya menjulang dan daun-daunnya lebat.

Beberapa petani dari Eikhtyrnir mengenakan pakaian compang-camping mirip seperti petani pada umumnya, dari pakaian mereka terlihat beberapa noda dari tanah.

Banyak sayuran juga ditanam menggunakan media air, sayur-sayuran itu ditanam di lubang bambu yang dibawahnya dialiri air.

Begitu banyak ikan berenang bebas kesana kemari menyusuri setiap sudut kolam alami, populasi ikan di tempat ini tetap terjaga karena tak satupun warga Eikhtyrnir yang mau memakannya.

Di sudut lain terlihat beberapa tanaman bunga yang indah, bunga-bunga yang bermekaran ini merupakan tempat favorit Sariel untuk bersantai.

Setelah itu mereka berdua beranjak ke sebuah pohon yang misterius, tampak seperti pohon beringin besar yang di tengahnya terdapat celah yang digunakan sebagai ruangan penelitian.

Semakin terkejut Ardian dibuatnya, di dalam ruangan itu terlihat beberapa alchemist elf tengah serius mengutak atik alat misterius semacam microscope.

“Siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan Sariel?” tanya Ardian heran.

“Mereka adalah para alchemist yang hampir putus asa, namun akhir-akhir ini mereka sedang bersemangat, bertahun-tahun lamanya mereka mengalami kesulitan dalam membuat obat-obatan yang mujarab, dengan kehadiran Lizbeth kemarin mereka mendapatkan obyek penelitian baru yang langsung menyibukkan mereka” Jelas Sariel.

“Apa itu?”

“Salamander totol” jawab Sariel.

Salamander merupakan hewan amfibi mirip kadal yang unik, ia bisa melakukan regenerasi bagian tubuhnya yang hilang.

Berbeda dengan cicak yang hanya mampu meregenerasi ekornya, salamander ini bahkan dapat menumbuhkan kaki dan tulang yang patah sekalipun.

Dengan petunjuk Lizbeth kemarin diharapkan suku ini dapat mengembangkan metode penyembuh yang bisa mengatasi luka luar karena itu akan sangat berguna dalam penyembuhan orang-orang yang terluka karena perang antar suku.

“Bagaimana bisa di tempat ini terdapat alat-alat aneh seperti itu?”

“Kami maju dengan cara kami sendiri yaitu maju sejalan dengan alam, itulah rahasianya hehehe” ucap Sariel.

“Apa maksudmu?”

“Jadi begini, sejak dahulu alam telah memberikan kita semua energi tak terbatas yang jika anda mengamatinya semua energi tersebut diberikan alam kepada kita secara cuma-cuma”

“Hmmmh jadi begitu . . .”

“Sebagian ilmuwan kami semenjak dahulu suka berlomba-lomba membuat rancangan alat yang kami sebut canggih dalam sudut pandang kami, sebuah alat praktis tanpa kabel sedikitpun”

“Wow itu luar biasa, namun dimana alat-alat canggihmu itu sekarang?”

“Itu dia masalahnya, kaum kami tak cukup pintar jika dalam hal membuat peralatan atau prakarya, kami tak dilahirkan secerdas dwarf jika dalam hal mewujudkan racangan dalam bentuk karya”

“Jadi semua yang kamu ceritakan itu hanya berupa rancangan?”

“Ya, itu benar, dahulu ada begitu banyak rancangan karya luar biasa dari ilmuwan kami, namun sebagian besar dari mereka kini beralih profesi menjadi petani karena larangan ayahku berhubungan dengan suku lain”

“Jika saja ayahku tak membatasi suku ini bergaul dengan dwarf mungkin saat ini kaum kami bisa menguasai dunia dengan alat-alat canggih kami” ujarnya.

“Jadi itu masalahnya yang menghambat kalian ya, baiklah besok aku akan berdiskusi dengan ayahmu mengenai hal ini!” Janji Ardian menenangkan Sariel.

“Terimakasih Ardian” ucap Sariel sambil tersenyum manis.

Senyumannya penuh arti, bukan hanya mengundang kenyamanan namun juga perasaan sange sange enyoi menyertainya.

Mereka berdua lantas bertatapan tajam, mata bertemu dengan mata, membuat nafsu mereka semakin bergejolak.

Sariel pun mengarahkan Ardian untuk menuju suatu tempat yang tersembunyi, sebuah taman bunga favoritnya tadi.

Tempat itu sepi, di alasnya terdapat rerumputan yang amat lembut, sangat nyaman ketika bersantai di atasnya.

Terlihat banyak sekali bunga bermekaran dengan warna yang begitu beragam.

Bunga memang tak bisa berkomunikasi, namun dimanapun tempatnya, bunga selalu dapat mewakili perasaan cinta maupun duka.

Begitupun untuk Sariel, tempat penuh bunga yang amat nyaman ini merupakan bentuk ketulusannya, menggambarkan hatinya yang juga sedang berbunga-bunga.

Akhirnya ia merasakan apa itu yang namanya cinta pertama, seorang manusia yang bernama Ardian seakan mengaburkan semua fokusnya terhadap dunia.

Ardian memetik beberapa bunga berwarna merah yang dikenal dengan nama latin Polyalthia sp. atau kita biasa menyebutnya dengan bunga Asoka.

Seperti anak SD pada umumnya, ia dahulu juga gemar menghisapi ujung bunga Asoka yang terasa manis itu.

“Apa kau tahu? Dahulu saat aku kecil, aku sangat suka menghisap cairan bunga merah ini Sariel”

“Benarkah?” sambil tangannya ikut memetik lalu memeras cairan bening nan manis dari bunga tersebut ke bibirnya sendiri hingga cairan manis tersebut membuat bibir Sariel menjadi berair.

Tanpa satu patah katapun mereka mulai berciuman mesra di antara padatnya bunga-bunga yang indah dipandang mata lagi harum mewangi aromanya.

Sebelumnya kedua insan ini telah melakukan ciuman pertama dan keduanya di dalam piramida, jadi untuk sekarang bisa dikatakan sebagai ciuman ketiga bagi Sariel.

Beberapa kecupan mesra membuat Sariel merasa amat nyaman, ciuman ketiga dalam hidup Sariel itu membuatnya seakan takhluk pada pujaan hati yang ada di dekapannya itu.

Begitupun Ardian, bibirnya seakan dimanjakan oleh bibir lembut milik Sariel ditambah sensasi manis cairan bunga Asoka membuat kenikmatan ciuman tersebut terasa berlipat ganda.

Lehernya yang jenjang nan halus tak terlewat pula dari bibir Ardian yang mengecup dengan liar.

Baju berbahan sutera yang amat tipis itu juga ditanggalkan hingga kini Sariel memamekan tubuh bagian atasnya tanpa rasa malu kepada orang yang dicintainya itu.

Dua buah payudara yang indah tak terlewat dari remasan dan kecupan nakal Ardian, beberapa cairan bunga tadi ia teteskan pula di kedua puting milik Sariel lalu segera dilahapnya kemudian.

“Ashhh ahhh” beberapa kali desahan dari mulut Sariel tak bisa ditahan, desahan itu keluar begitu saja tanpa bisa dikontrol.

Desahannya yang begitu menggoda membuat Ardian semakin tak tahan, hingga akhirnya ia lucuti pula pakaiannya sendiri.

Batang kelaminnya yang perkasa kini mengacung dengan bebas, menunjuk kaku pada seorang wanita di depannya yang berpotensi menjadi pemuas nafsunya malam ini.

Betapa besar batang milik Ardian itu hingga membuat Sariel menutup mulutnya karena hampir tak percaya.

“Tidak, aku tak mau bersetubuh sebelum menikah, nikahi aku jika kau mau ini” ucapan Sariel sambil menunjuk vaginanya yang masih perawan yang kini sedikit terpampang karena pakaiannya sudah amburadul.

“Bukankan kamu tadi yang sudah memulai sayang?” tawar Ardian.

“Baiklah, untuk saat ini aku akan membantumu mengeluarkan spermamu itu namun jangan setubuhi aku, kamu janji?”

“Baiklah” ujar Ardian.

Batang kelaminnya kemudian dilahap dengan perlahan dan kesusahan karena bentuknya yang terlalu besar untuk ukuran mulut mungil milik Sariel.

Diperlakukan seperti itu Ardian pun semakin melayang, kulit mulus terawat dan langsingnya tubuh Sariel menjadikan itu semua menimbulkan kenikmatan tersendiri.

Tak cukup sampai di situ, Sariel hanya pasrah merapatkan dua gunung kembarnya dengan kedua tangannya untuk kemudian melakukan titsjob pada kekasih barunya itu.

Beberapa kali sentakan keras menusuk-nusuk celah tengah dari himpitan kencang kedua payudaranya membuat Ardian hampir mencapai puncak.

Ardian mulai mengerang, ia pegangi dua pundak milik Sariel kemudian crot . . . crot . . . crot . . . beberapa siraman sperma membanjiri leher Sariel, beberapa menempel di dagunya, beberapa mengotori rambutnya yang panjang.

Cairan kental itu pun kemudian turun perlahan hingga mengenai paudaranya, alirannya amat sangat lambat karena kekentalan cairan milik Ardian tersebut amat pekat.

“Esok aku akan melamarmu Sariel . . .” ucap Ardian.

“Janji?”

“Ya, aku berjanji sayang” jawab Ardian kemudian.

Mendengar janji Ardian ia kemudian berbunga, beberapa cairan sperma yang melimpah di dadanya ia ratakan ke payudaranya hingga ke bagian vaginanya hingga membuat Ardian heran.

“Apa yang kamu lakukan sayang?” tanya Ardian.

“Aku mencintaimu, aku tak mau cairan berharga ini terbuang begitu saja” ujar Sariel.

Ardian hanya mengecup bibirnya yang manis kemudian keduanya memakai pakaiannya masing-masing lalu pergi pulang kerumahnya.

Akhirnya Ardian diantar Sariel sampai ke rumah pohon tenpat adiknya dan Lizbeth beristirahat.

“Saatnya aku pamit . . .selamat beristirahat . . . ” kata Sariel gugup.

Tubuh Sariel kini wangi semerbak beraroma khas sperma, secepat mungkin ia pulang ke rumah melalui jalan pintas agar baunya tak dicium oleh orang-orang, ia akan tetap membiarkan cairan hina itu menyelimutinya sepanjang hari.

Permainan Ardian yang hanya sekali tentu saja belum memuaskannya, akhirnya Ardian menghabiskan malamnya yang tersisa untuk menusuk dan membuahi vagina Lina secara berulang-ulang.

Di malam selanjutnya . . . .

“Bruak”

Terdengar suara tangan Earldhorath menggebrak meja tanda menolak keras usulan Ardian.

“Tidak Ardian, sampai kapanpun kaum kami tak boleh bergaul dengan suku-suku lainnya” ujar kepala suku dengan tegas kepada Ardian.

“Tapi lihatlah Earldhorath, suku ini memiliki potensi yang begitu besar di segala bidang, kau sangat tahu kan piramida yang ada di Bjarki? Itu adalah hasil karya kerjasama kaum leluhurmu dan para dwarf!”

“Sudah ribuan tahun bangunan itu berdiri sampai sekarang masih saja kokoh karena buah dari kerja sama”

“Jika ada kerjasama yang terbuka antar suku kalian dan Bjarki atau mungkin suku lainnya, maka aku menjamin kaummu akan lebih makmur dari hari ini!” Ucap Ardian juga dalam mode ngegas.

“Tapi . . . Aku takut . . . aku takut jika budaya leluhurku akan dilupakan lalu tergantikan oleh budaya suku lain, generasi mudaku saat ini sudah tak lagi menyukai memanah, bahkan termasuk Sariel anakku sendiri”

“Tenanglah Earldhorath . . . bakat dan minat tak bisa dipaksakan, memang benar budaya leluhurmu mengenai memanah itu penting namun kau harus tahu budaya merupakan hasil cipta rasa manusia dan tidak mustahil hal itu dapat berkembang seiring berjalannya waktu”

“Apa kau punya solusi Ardian?”

“Kumpulkan semua ilmuwan, tabib, alchemist, petani, pemburu dan lainnya, dengarkan suara, ide-ide mereka, apa yang mereka inginkan lalu setelah kau mendengarkan apa kata mereka, bisa kau pertimbangkan” usulan Ardian.

Saat itu juga semua ilmuwan, alchemist dan profesi lainnya ia kumpulkan, selama mereka hidup mereka dibungkam, dihukum jika tak sesuai ideologi kepala sukunya, namun hari ini mereka diperkenankan untuk berbicara tentang apa yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan zaman es ke depan.

Sangat tak terduga , hanya dalam waktu satu malam mereka semua menghasilkan rancangan-rancangan yang amat luar biasa.

Beberapa rancangan telah mereka cetuskan dalam begadang mereka di siang hari, diantaranya sistem tanam hidroponik dengan media air hangat, alat pencair salju, ramuan anti musim dingin, obat flu dan lain-lain.

Panah hidrolik bertenaga sylph berbagai elemen yang mereka beri nama “Sylphian Bow” merupakan salah satu hasil rancangan mereka yang luar biasa, namun sayangnya itu semua masih hanya sekedar rancangan semata.

Di malam selanjutnya Ardian dan Earldhorath bertemu kembali, tak seperti sebelumnya mereka kini akur dalam berbincang.

“Ini luar biasa” ujar Earldhorath ketika kagum melihat rancangan panah dari para ilmuwan Eikhtyrnir.

“Benar kan?, siapapun juga akan bosan dengan panah klasik, dengan beberapa rancangan yang ada di tanganmu itu kini keputusan terserah padamu. Tetap hidup seperti ini tanpa sosial atau kau mulai belajar berbaur dengan suku lain”

“Baiklah mulai sekarang aku akan mencoba berbaur . . . “ ujar Earldhorath yang tersadar dari peraturan anti sosialnya.

“Langkah pertama segera bawa rancangan tersebut ke Bjarki, dengan kerjasama kalian aku yakin banyak karya luar biasa akan terlahir dari otak Elf dan otot Dwarf di kemudian hari” saran Ardian.

“Sepertinya solusi alternatif sudah kita dapatkan, untuk itu aku akan mengatakan sesuatu padamu Rath” ujar Ardian.

“Apa itu Ardian? Katakanlah!” tanya kepala suku rusa.

“Aku akan melamar Sariel puterimu, aku akan menjadikannya salah satu dari isteri-isteriku”

“Hahaha jadi ocehanmu tentang anti sosial itu berujung di sini ya?”

“Tentu saja, jika aku melamar Sariel waktu itu aku pasti ditolak olehmu dengan alasan aku adalah ras manusia kan . . . ” ujar Ardian sambil tertawa.

“Kau sangat cerdik Ardian, tapi asal kau tahu, jawabanku sekarang tetap tidak!”

“Degh”

“Sial” ucap Ardian di dalam hati, mukanya seketika layu.

…………

“Aku menolak . . . lengkapnya aku menolak untuk menolak lamaranmu itu! Hahahahah . . .” ujar Earldhorath.

“Apa maksudmu, tak bisakah kau berkata jelas?” ujar Ardian.

“Hahaha aku akan menerima kau menjadi menantuku!” ujarnya kemudian.

Lalu keduanya tertawa bersama.

Upacara pernikahan yang mewah pun segera diadakan, walaupun sederhana namun hikmat.

Hingga kini Ardian dan Sariel telah resmi menjadi pasangan suami isteri.

“Ayah, aku ingin menjadi seorang sage” ucap Sariel dengan nada serius begitu ia resmi menjadi isteri Ardian.

“Jangan bercanda anakku sayang, tubuhmu bahkan tak mampu menanggung lebih dari satu sylph”

“Dengan segala hormat ayah, sejak awal aku memang tak berbakat memanah, selain itu aku memang tak memiliki tubuh yang bisa menampung dua sylph sekaligus seperti ayah, namun kini aku punya ini, aku bisa menampung puluhan sylph sekaligus ke dalam pusaka ini” ucapan Sariel sambil menunjukkan pusakanya yang berupa cermin imajinasi.

Hanya sekilas lihat saja Earldhorath telah tahu apa benda yang dipegangnya itu tak lain merupakan benda pusaka dari piramida Bjarki.

Wawasan Earldhorath mengenai pusaka tak diragukan lagi karena posisinya sebagai kepala suku memungkinkan ia memiliki akses bebas dalam membaca scroll rahasia berisi informasi penting peninggalan leluhurnya.

“Itu kan . . . Forbidden One . . .” ucap ayah Sariel dengan ekspresi kaget.

“Pusaka sakti itu telah memilih Sariel sebagai pemiliknya, pasti ada sesuatu yang spesial dari anakku ini” ucap Earldhorath dalam hati.

“Baiklah, kau kuizinkan untuk menjadi sage seperti mendiang ibumu, namun pesanku berhati-hatilah karena tak semua sylph ramah kepada elf” ucapnya yang berubah seketika karena mengetahui anaknya memiliki cermin imajinasi.

“Terimakasih ayah . . .”

Di hari selanjutnya kelompok Ardian berpamitan kepada Earldhorath dan warga lainnya, Sariel pun juga tak ketinggalan ikut bersama mereka.

“Sariel ! ! ! . . . ” seru kakaknya yang bernama Namriel.

“Kakak? Aku akan sangat merindukan kakak” keluh Sariel sambil menangis di dekapan kakaknya

“Bawa ini bersamamu! Pegang pisau ini di dadamu ketika kau merindukan kami, jangan sampai kau menghilangkannya” perkataan Namriel sambil memberikan Erendil (pisau khas bangsawan elf).

Mereka berempat akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke perkampungan Fenrir (suku serigala).

Jalan setapak yang licinpun terpaksa harus mereka lalui karena jalan tersebut merupakan jalan penghubung satu-satunya, di beberapa bagian jalan tersebut tertutupi es akibat hujan salju tadi malam.

Lama sudah mereka berjalan meninggalkan perkampungan Eikhtyrnir.

Kita istirahat dulu sejenak, aku akan mencari kayu untuk perapian.

“Kak aku mau pipis sebentar, anterin yuk!” kata Lina kepada Ardian.

“Aku harus mencari kayu Lin . . . ajaklah Sariel atau Lizbeth“ ucap Ardian.

“Hiiiih” ucap Lina sedikit kesal lalu ia malah nekat beranjak sendiri untuk pipis di balik pepohonan.

Ia sisingkan rok suteranya lalu “Suuuurrrr” cairan urin mengalir kencang dari vagina Lina yang begitu sempit, hingga akhirnya cairan tersebut tuntas dikeluarkan.

“Lina . . . ” panggil seekor hummingbird kecil lagi imut dengan tiba-tiba.

Ia terbang ke kanan ke kiri ke depan ke belakang dengan sangat anggunnya membuat Lina terpukau.

“Aneh, kau memanggil namaku? kau bisa bicara burung kecil?” ujar Lina.

“Benar, apa kau bisa menolongku sebentar? Anak-anakku sedang mengalami kesulitan” ucap hummingbird kecil itu.

“Baiklah, namun sebelumnya aku akan memanggil kakakku dulu untuk ikut membantumu” ujar Lina.

“Tak perlu, tak akan cukup waktu, ayo ikuti aku!” ucap burung tersebut.

Dengan ketulusan hati Lina yang murni ingin menolong burung kecil itu akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkah mengikuti arah terbang dari hummingbird di depannya itu.

Langkah demi langkah ia lewati namun ta kunjung sampai seperti apa yang dikatakan hummingbird kecil itu.

“Masih jauh?”

“Tidak kok, sebentar lagi” pertanyaan dan jawaban yang selalu diulang-ulang.

Di tempat lain, Sariel dan Lizbeth sedang sibuk membereskan salju yang berserakan di tanah, mereka berdua menutupinya dengan dedaunan.

Sedangkan Ardian sedang asyik bersiul sambil memunguti kayu yang dianggapnya cukup kering untuk bisa dibakar sebagai penghangat nanti saat istirahat.

“Degh”

Kemampuan danger instinc milik Ardian tiba-tiba bekerja.

Tiba-tiba ia merasakan dari bayangan pepohonan, keberadaan Lina semakin samar lalu menghilang.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 20 | Mencoba Bertahan Hidup Part 20 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 19)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 21)