Mencoba Bertahan Hidup Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 18

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 18 | Mencoba Bertahan Hidup Part 18 Start

Ksatria Naga​

Shabh sang naga bayangan akhirnya bersedia menjadi partner Ardian dengan beberapa pertimbangan dan pengamatan, pertama karena Shabh kagum dengan mental seorang manusia yang mampu mengayunkan pedang bayangan, dan sekaligus mampu bertahan dari aura ketakutan miliknya, pada intinya Ardian memenuhi syarat kekuatan.

Kedua, Ardian berani mengabaikan aturan yang di tetapkan Shabh sebagai penguasa kala itu demi menyelamatkan Sariel, selain itu ia rela berkorban walau kemungkinan untuk menang amat kecil demi menyelamatkan rekannya, dan pantang menyerah hingga akhir.

Karena hal ini, Ardian dianggap mampu berpikir bijak, ia dinilai telah memenuhi syarat kebijakan seorang ksatria sejati.

Bertarung bukan semata-mata hanya untuk dirinya sendiri namun bertarung demi melindungi orang yang disayanginya merupakan jalan ksatria yang sesungguhnya.

Dan yang ke tiga, yang paling menarik bagi shabh adalah ia menyadari bahwa Ardian memiliki potensi sifat psikopat.

“Psikopat”, satu bayangan yang terlintas di kepala kita mengartikan kata tersebut pasti sebagai “pembunuh berdarah dingin”, padahal arti sebenarnya dari kata tersebut mencakup pengertian yang luas.

Namun kata tersebut sering dikonotasikan buruk oleh bahasa sehari-hari sehingga artinya kian menyempit menjadi buruk pula.

Psikopat yang dimaksud dalam cerita ini adalah “orang gila tanpa gangguan mental”.

Sifat itu yang terpendam jauh di dalam dirinya, dan sifat itu pernah muncul ketika tadi Shabh membuat ilusi seolah Lina dan Lizbeth mati.

Menurut Shabh, seorang ksatria yang menggunakan aliran pedangnya harus memiliki sisi gelap, gila, untuk mampu melampaui batasannya sendiri sebagai senjata rahasia dalam menghadapi pendekar yang lebih kuat darinya di kemudian hari.

Di sisi lain, cermin Forbidden One ternyata memilih Sariel sebagai pemiliknya, sehingga cermin tersebut kini tenang ketika dibawa oleh Sariel, walaupun begitu benda pusaka tersebut masih penuh dengan misteri, entah alasan apa yang menyebabkan ia memilih Sariel sebagai pemiliknya.

Sambil berbincang, Ardian, Lina, Lizbeth, Sariel, dan Bjarldor berjalan pelan menyusuri jalan keluar.

Karena Bjarldor di posisi paling belakang maka ia disuguhi lenggak-lenggok bokong-bokong seksi gadis di depannya.

Di sepanjang perjalanan keluar, Bjarldor tak henti-hentinya berisik sendiri karena berusaha membuat lirik lagu baru tentang palu barunya dan langsung menyanyikannya sambil berjalan.

Wajar saja karena memang sudah kebiasaannya sehari-hari yang selalu banyak bicara dan sesekali menyanyikan lagu-lagu berlirik aneh yang sama sekali tidak merdu ketika didengar.

Sesaat konsentrasinya sempat terpecah akibat pandangannya terganggu oleh pemandangan bokong-bokong yang terlihat berlenggak-lenggok indah di depannya itu.

“Bokong-bokong . . . erhm tidak-tidak, bokong-bokong itu tak lebih berharga dan tak lebih indah daripada palu baruku ini!” pandangan Bjarldor yang memalingkan pandangannya dari ketiga bokong wanita cantik di depannya itu sambil beralih memeluk palu barunya.

Semua orang tertawa melihat tingkah Bjarldor yang unik itu.

“Kruuuukk kruuuuuk kruuuk” suara perut Bjarldor yang tiba-tiba berbunyi karena kelaparan.

“Hurgh aku lapar, sudah dua hari aku tak makan” keluh Bjarldor sambil memegangi perutnya yang buncit.

“Hei kepala suku, apa kau punya makanan enak di perkampunganmu?” tanya Ardian memastikan.

“Sepertinya persediaan daging kami menipis, hmh ini semua salah Earldhorath yang memasang harga daging rusa terlalu tinggi” ucap Bjarldor mengeluh.

“Emmm maafkan kami jika harga yang ayahku tetapkan memberatkan pihak kalian, mengenai harga itu nanti pasti akan aku sampaikan ke ayahku” sambung Sariel sesaat setelah mendengar nama ayahnya diucapkan oleh Bjarldor.

“Jadi kamu adalah puteri dari Earldhorath Veleinor si kepala suku Eikhtyrnir?” tanya Bjarldor tegas.

“Ya, itu benar namaku Sariel Veleinor, puteri dari Eardhorath Veleinor yang terkenal itu” jawab Sariel sedikit berbangga diri.

“Dasar, tak tahukah kalian penderitaan kami yang kelaparan di musim dingin yang tiba-tiba ini? tak tahukah kalian jika sehari-hari aku terpaksa makan sayuran?, padahal aku sama sekali tak menyukai sayuran?” curhatan dan makian Bjarldor ke arah Sariel.

“Sudah-sudah tuan Bjarldor, untuk selanjutnya jangan tergantung pada suku lain, menurut saya, mulai sekarang suku Bjarki harus membuat peternakan sendiri dan berlatih berburu, dan memang seharusnya anda makan sayuran agar perut anda itu tak semakin membuncit!” jawab Ardian dengan santai dan tertawa.

“Beternak? Berlatih berburu? Sepertinya itu saran yang bagus, maafkan aku puteri Sariel karena tadi aku telah meluapkan kekesalanku yang seharusnya pada Earldhorath malah kepadamu” lanjut Bjarldor menyesal meminta maaf pada Sariel.

“Tak apa tuan Bjarldor” jawab Sariel sambil tersenyum.

“Oh iya, setelah ini kalian akan pergi kemana?” tanya Sariel penasaran.

“Kalau aku akan pergi tidur lalu esok hari aku akan membuat senjata-senjata sakti dengan palu kesayanganku ini!” jawab Bjarldor dengan ekspresi ceria.

“Sepertinya kami akan istirahat sejenak, lalu melanjutkan petualangan mengunjungi kampung-kampung lainnya” jawab Lina menanggapi Sariel, mencoba bersahabat.

“Bolehkah aku ikut? Boleh ya? Aku mohon izinkan aku ikut . . . ” ucap Sariel penuh harap.

Dalam hidupnya Sariel sebenarnya amat ingin melihat dunia luar, ia merasa bosan karena sejak kecil ia selalu menetap di hutan larangan, selain itu ia ingin mencari tahu penyebab kejanggalan alam musim dingin yang tiba-tiba ini dan cara mengatasinya.

“Kalau mau ikut sih terserah tuan Ardian mengizinkan atau tidak” jawab Lizbeth.

Ardian terlihat berjalan perlahan dengan gagahnya keluar dari sarang naga bayangan walaupun sebenarnya ia kelelahan, terlihat pula Lina yang juga berjalan tepat di sampingnya, lalu disusul Lizbeth, Sariel dan Bjarldor yang mengikuti di belakangnya.

Tak mereka sadari saat perjalanan keluar, diantara kegelapan ada sepasang mata kecil yang mengintai mereka.

“Setelah sekian lama, Purification Necklace dan cermin Forbidden One akhirnya ada yang bisa mengeluarkannya dari tempat terkutuk ini, ini kesempatanku kikikiki” ucap makhluk misterius yang kini semakin hilang di kegelapan.

“Apa itu tadi? Ah itu pasti hanya perasaanku saja” gumam Ardian yang barusan merasakan seakan diawasi.

Belum ia sadari Ardian kini memiliki kemampuan “Danger Instinc”, yang memungkinkan penggunanya bisa merasakan bahaya yang mengintai dari balik bayangan atau kegelapan disekitarnya.

Seseorang yang telah mengalahkan naga tak bisa hidup seperti manusia normal lagi, ia kini telah menjadi ksatria naga yang memiliki pedang legendaris yang di dalamnya tersegel jiwa Shabh, tak mustahil jika kini ia memiliki potensi kemampuan-kemampuan melebihi batas kewajaran manusia biasa.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya sampailah mereka di pintu keluar, di sisi pojokan pintu masih terlihat beruang berbadan besar yang sedang mendengkur tertidur nyenyak.

Sinar matahari terlihat menyilaukan bagi pupil Ardian dan rekan-rekannya karena selama seharian mereka berada di dalam piramida yang minim cahaya.

Dari arah luar terdengar suara berisik dari beberapa orang yang beradu argumen.

Sepertinya kemampuan membaui sisa aroma Sariel dari hidung para elf menuntun mereka sampai ke perkampungan Bjarki.

“Biarkan kami lewat atau kami terpaksa menghancurkan pertahanan kalian!” ancam Earldhorath, seorang kepala suku Eikhtyrnir yang gagah dan memiliki rambut panjang, ia berasal dari bangsa Elf sekaligus ayah dari Sariel.

“Tidak! Kalian tidak diizinkan masuk perkampungan Bjarki tanpa persetujuan tuan Bjarldor!” jawab Ngohweh sambil berbaris bersama dengan para dwarf lainnya sambil menggunakan formasi pertahanan mutlak yang terkenal dari bangsa dwarf.

Yang dimaksud pertahanan mutlak milik dwarf ini yaitu masing-masing anggota pertahanan berbaris memegang perisai yang formasinya rapi dan terlihat seperti benteng perisai sparta yang amat kokoh, disela-sela perisainya telah siaga tombak runcing ke arah depan yang siap menghabisi siapa saja yang berani mencoba mendekati barisan pertahanan dwarf ini.

Walaupun dwarf memiliki strategi pertahanan yang amat kokoh namun mereka tahu bahwa elf memiliki kemampuan penguasaan alam yang jauh melebihi kemampuan manusia biasa sehingga kali ini mereka harus lebih waspada.

Sebagian besar dari para prajurit elf melakukan kontrak dengan sylph berbagai elemen, memungkinkan setiap prajurit elf menguasai salah satu energi alam.

Sepertihalnya Sariel, kakaknya yang bernama Namriel juga memiliki kecepatan super karena ia juga melakukan kontrak dengan sylph cahaya.

Sedangkan Earldhorath merupakan satu-satunya elf zaman ini yang berhasil melakukan kontrak dengan dua sylph sekaligus, yaitu sylph tanah dan sylph api membuatnya amat kuat dan berbahaya.

Konon kabarnya menurut cerita legenda yang beredar di kalangan elf dan dwarf, jika seorang elf mampu melakukan kontrak dengan semua jenis sylph maka ia akan menjadi seorang sage atau penguasa semua elemen alam.

Lama sudah para elf bertarung dan berpikir keras melakukan berbagai strategi namun masih saja belum bisa menembus pertahanan dwarf yang kokoh.

“Tembus pertahanan mereka!” Perintah dari Earldorath yang sebentar kemudian menggerakkan para elf untuk maju serentak.

Namriel mulai maju menyiapkan panahnya yang bermata tiga siap ditembakkan, tinggal menunggu aba-aba dari ayahnya.

“Brul . . . Brul . . . Swish . . .”

Beberapa bebatuan merekah dan berguncang akibat serangan Earldhorath, serangan dahsyat tersebut seperti gempa dan sempat membuat perisai-perisai di barisan tengah terangkat sepersekian detik.

Tanpa dikomando Namriel tahu apa yang harus dilakukan.

“Swirl… swirl… swirl…” suara tiga anak panah yang dilepaskan sekaligus.

Dengan sedikit celah yang terbuka tersebut, Namriel melepaskan tiga anak panah, tembakannya tepat ke arah perut para dwarf yang sedang lengah terangkat perisainya itu, namun sayang sekali para dwarf hanya merasakan geli tertembak anak panah Namriel, ternyata tak hanya perisai yang kokoh, namun para dwarf juga memiliki zirah besi yang amat kuat.

Sebentar kemudian formasi mereka kembali rapi dan kokoh seperti semula.

“Sial, percuma saja ayah!” keluh Namriel yang telah gagal menembus pertahanan dwarf.

“Kalau terus begini, terpaksa akan kulakukan cara itu!” gumam Earldhorath.

“Jangan Ayah, mereka bisa mati jika ayah menggunakannya, lagipula jika ayah mengeluarkan serangan itu, energi kehidupan ayah bisa menipis!” ucapan larangan Namriel kepada ayahnya yang hendak melancarkan serangan pamungkas.

Namun Earldhorath tak peduli, demi menyelamatkan Sariel ia akhirnya memaksakan dirinya untuk menggunakan serangan maksimalnya yaitu membuat guncangan ke tanah atau bebatuan dan mengeluarkan lava darpadanya.

Dua sylph berwarna cokelat tanah dan merah api terlihat dimasing-masing bahu Earldorath, dengan mantap ia hentakkan kedua tangannya ke bebatuan di bawahnya hingga batu-batu mulai retak.

Serangan tersebut amat dahsyat, setara dengan gempa berkekuatan 8.0 skala richter disertai dengan pijaran api lava dari dalam tanah.

“Grrrrrrrrrrr brul brul brul”

Membuat tanah pemukiman Bjarki porak poranda, pertahanan mutlak dwarf yang tadinya amat kokoh tak tertembus kini tercerai berai karena kaki-kaki kecil mereka kepanasan, rumah-rumah juga ambruk dan terbakar karena saking dahsyatnya gempa ditambah lava yang berpijar sampai sekarang masih juga belum berhenti memancar dari dalam batuan.

“Hentikan!” Teriak Ardian yang keluar dari dalam gua sambil melompat dan menancapkan pedangnya ke tanah, lalu seketika serangan gempa tadi berhenti.

Bersamaan dengan itu, pedangnya mengeluarkan aura menyesakkan, menakutkan, sekaligus terasa menjijikkan, membuat bulu kuduk semua orang di hadapannya menjadi berdiri, mereka semua merinding ketakutan termasuk para prajurit elf dan warga dwarf yang berada di depan Ardian.

“Perasaan apa ini?” Keluh Earldhorath yang heran, dadanya terasa sesak tak nyaman dengan aura yang dilepaskan pedang Ardian.

“Jangan gentar, tetaplah berdiri para prajurit terpilih Eikhtyrnir!” Perintah Earldorath pada anak buahnya yang tersungkur karena ketakutan.

Pancaran aura menyesakkan dari pedang Ardian itu hanya sesaat kemudian memudar dan hilang, namun telah membuat banyak orang merinding.

“Dia ayah! Dialah manusia rendahan yang telah lancang mengikatku dan menculik Sariel!” ucap Namriel Tegas.

“Baiklah, segera habisi dia!” Perintah kepala suku Eikhtyrnir ke semua prajuritnya untuk segera menyerang Ardian.

Tindakannya memang ingin segera menghentikan perkelahian, namun tindakan Ardian kali ini bisa dikatakan terlalu gegabah.

“Sial aku terlalu dalam menancapkan pedangku ke tanah!” gumam Ardian yang terlihat susah payah berusaha mencabut pedangnya dari celah batu, ia sadar bahwa ia akan segera disergap oleh kelompok elf, namun pedang hitamnya masih saja tertancap di batu karena saking kuatnya ia melompat dan menancapkannya tadi.

Ia juga masih lelah setelah pertarungan dahsyatnya dengan Shabh tadi, tak mungkin sempat jika ia menundukkan badannya untuk mengambil pisau di sepatunya, tak mungkin pula ia lari dari tempat ini karena kini ia telah terkepung.

Tak buang-buang waktu Namriel langsung melepaskan tembakan tiga anak panahnya tepat ke arah jantung, perut dan kepala Ardian.

“Swirl . . . Swirl . . . Swirl . . .”

Kualitas panah dan kemampuan menembak Namriel yang tidak diragukan lagi membuat mata panahnya melesat tajam, tak mungkin bisa dihindari Ardian dalam kondisinya sekarang.

“Sial dengan jarak ini aku pasti kena!” suara hati Ardian karena ia tahu bahwa kali ini ia tak punya kesempatan untuk menghindari serangan Namriel.

“Lizbeth . . .” satu nama terpikirkan di batin Ardian, ia berharap Lizbeth menggunakan kemampuannya melambatkan waktu.

“Tidak mungkin, tak ada waktu baginya untuk persiapan merapalkan mantera perlambatan waktu yang rumit dan panjang” lanjutnya dalam hati.

Lagipula jika bagian tubuh lain yang terkena anak panah, mungkin Lizbeth bisa mengobatinya dengan segera namun jika jantungnya yang hancur maka tak mungkin ada harapan baginya untuk tetap hidup.

“Kakak!” teriak Lina yang sadar bahwa hidup kakaknya kembali terancam, kakinya melangkah secepat mungkin ingin meraih tubuh kakaknya yang hampir tertembak mata panah itu namun Lina sadar bahwa ia tak mungkin sempat meraihnya.

Ardian hanya menatap Lina, tatapan terakhirnya ia gunakan untuk melihat Lina pujaan hatinya sambil tersenyum, seolah matanya mengatakan “inilah akhir dari hidupku, terimakasih atas segalanya, aku ingin kamu selalu ingat bahwa aku sangat mencintaimu, Lina adikku tersayang”.

“tidak . . . tidak . . .” ucapan Lina lirih sambil menggelengkan kepalanya putus asa.

“Wush”

Secara tak terduga tiba-tiba Sariel berlari secepat angin dari dalam gua menuju depan tubuh Ardian yang tak berdaya, tangan kirinya terlihat memegang cermin, sedangkan tangan satunya terlihat telah menangkap tiga batang anak panah yang tadi melesat dengan cepat.

“Hentikan kak Nam! Hentikan Ayah! ini semua hanyalah salah paham!” ucap Sariel dengan sedikit berteriak, tubuhnya dengan cepat berpindah dari mulut gua ke depan Ardian, ditangannya masih terihat tiga anak panah yang barusaja ditangkapnya.

“Sariel? sejak kapan langkah anginmu menjadi secepat ini?” ucap kagum Namriel kepada adiknya karena mustahil ada seseorang yang berhasil menangkap tiga anak panahnya sekaligus jika hanya dengan tangan kosong.

“Aku tak tahu, sepertinya Mili baru saja berevolusi” jawab Sariel seadanya pada kakaknya itu.

Kecepatan Sariel meningkat drastis, sylph angin kepunyaannya yang bernama Mili telah berevolusi saat ia pingsan, kemampuan dan kecepatan sylph kepunyaannya meningkat pesat karena keikutsertaan pertarungannya melawan Shabh.

“Apa maksudmu dengan salah paham?” Tanya Ayah Sariel yang heran.

“Sebenarnya ia hanya ingin menyelamatkan rekannya, dan yang paling penting anda bisa lihat sendiri bahwa saya tidak terluka sedikitpun” ucap Sariel mencoba membela Ardian.

“Kak Ardian, mau sampai berapa kali kakak membuatku khawatir?” ujar Lina dengan nada marah sambil memukul-mukulkan tangannya ke dada Ardian, namun air matanya tetap menetes, tangannya kemudian mengulur memeluk Ardian dengan erat.

“Maafkan aku Lin, aku tahu aku salah, sepertinya aku tadi terlalu gegabah” perkataan Ardian di antara pelukannya dengan Lina.

“Earldhorath, berani-beraninya kau menghancurkan desaku?” bentak Bjarldor yang tiba-tiba mengacungkan Hellfire Hammer, ia marah karena melihat rumah-rumah warganya ambruk karena serangan pamungkas kepala suku rusa tadi.

“Sudahlah Bjarldor, semuanya sudah terlanjur, jangan kalian bertengkar, lagipula ini sebenarnya adalah salahku” ucap Ardian terpaksa menghentikan pelukannya terhadap Lina lalu menahan acungan palu milik Bjarldor.

“Tuan Earldhorath, maafkan saya karena telah menculik puterimu” ucapan permintaan maaf Ardian pada kepala suku rusa.

Akhirnya setelah duduk bersama, berbincang panjang lebar akhirnya Earldhorath memahami situasinya, ia merasa bersalah pada warga Bjarki karena telah memporak-porandakan rumah-rumah warga.

Warga-warga Bjarki yang kakinya terluka bakar juga terlihat sedang diobati susah payah oleh Lizbeth, namun Lizbeth hanya sekedar membantu memberikan pertolongan pertama kepada mereka karena kemampuan alkimianya terbatas.

“Luka bakar benar-benar merepotkan, aku tak bisa melakukan pertukaran setara antara arang karbon dengan daging, kalau bukan karena tuanku, aku enggan ikut campur dengan luka kalian” perkataan Lizbeth yang dingin terhadap prajurit Bjarki sambil tetap berusaha mengurangi rasa sakit mereka.

Sementara itu ketiga kepala suku bisa duduk dan berdiskusi dengan kepala dingin, dengan pertemuan ini Earldhorath jadi tahu siapa Ardian sebenarnya dan ia juga memahami penderitaan warga Bjarki selama ini karena kesalahannya dalam memasang harga daging rusa yang amat tinggi.

Perkampungan ini sudah tak mungkin lagi bisa dihuni warga Bjarki karena rumah-rumah mereka telah rusak parah.

Karena kondisi yang tidak memungkinkan tersebut, untuk sementara para wanita, orang tua dan anak-anak dibawa ke perkampungan Eikhtyrnir, begitupula dengan prajurit Bjarki yang terluka bakar cukup parah.

Prajurit yang terluka akan diobati oleh tabib-tabib Eikhtyrnir.

Bjarldor dan sebagian prajurit yang sehat membawa rekannya yang terluka menggunakan tandu menuju Eikhtyrnir.

“Kami akan bertanggung jawab membangun kembali rumah-rumah kalian” pernyataan Earldhorath kepada warga Bjarki.

“Jangan sembarangan kau Earldhorath” bentak Bjarldor dengan muka serius.

“Degh” detak jantung Earldhorath sedikit tersentak mengira bahwa Bjarldor marah.

“Kami laki-laki dari Bjarki tak akan membiarkan kalian bekerja sendirian, kami juga akan membantu para elf untuk membangun rumah-rumah baru kami, hahahaha” lanjut Bjarldor.

“sudah seharusnya kita warga Bjarki dan Eikhtyrnir bekerja sama tanpa pamrih sepertihalnya nenek moyang kita dahulu” ucapan Bjarldor lebih lanjut.

“Huh, aku kira kau marah, hahahaha , tumben perkataanmu bijak Bjarldor, namun kuakui kali ini perkataanmu memang benar, kita harus berdamai, tak ada curang-menyurangi dalam hubungan dagang kita selanjutnya” jawab Earldorath, lalu keduanya tertawa bersama.

“Syukurlah kalian sudah akur, kalau begitu esok hari aku juga akan ikut membangun rumah Bjarki” perasaan lega Ardian mengetahui hubungan kedua suku yang kini semakin membaik, ia juga menawarkan bantuan tenaganya esok hari untuk merenovasi rumah-rumah Bjarki.

Akhirnya para wanita dan anak-anak suku Bjarki bersiap mengungsi ke perkampungan Eikhtyrnir yang berada di tengah hutan larangan bersama dengan prajurit yang terluka.

Bjarldor dan Earldhorath terlihat sudah berangkat mengantarkan para tentara yang terluka.

Bersamaan dengan itu, Sariel dan Namriel juga ikut mengantarkan wanita dan anak-anak.

Sementara itu Ardian dilarang ikut karena mereka tahu kondisinya sekarang sedang lemah dan staminanya juga sudah terkuras akibat bertarung.

Lina dan Lizbeth juga masih belum ikut mengungsi ke Eikhtyrnir karena masih khawatir dengan Ardian, keduanya mau memastikan dahulu Ardian beristirahat dengan baik.

Mereka tetap tenang karena sore nanti Sariel akan menjemput mereka lagi dengan langkah anginnya.

Di perkampungan Bjarki kini tinggal Ardian, Lina, Lizbeth serta tiga prajurit elf dan lima prajurit dwarf yang diperintahkan berjaga untuk sementara sampai kepala suku ras mereka berdua kembali sore nanti.

Lizbeth terlihat duduk tenang membuka satu persatu halaman Black Grimore miliknya, ia duduk beralaskan tirai lembut yang dipungut dari sebuah rumah yang ambruk.

Sebuah energi misterius menarik minatnya untuk tetap menatap ke dalam buku, membuatnya cuek dengan keadaan sekitar termasuk sekedar menyapa tuannya sekalipun.

“Halaman pertama, sihir terlarang iblis aliran ruang, sihir ini bernama Black Hole, sebuah materi misterius dari inti gravitasi, memakan apapun yang disentuhnya tak terkecuali cahaya, aturan pertukaran sihir ini antara lain . . . ” kalimat yang dibaca Lizbeth di halaman pertama bukunya.

Ia begitu antusias membaca Black Grimore hingga satu persatu halaman ia baca dengan lengkap.

Sementara itu Ardian dan Lina pun berbincang melepas rindu, matanya sudah sayu karena amat sangat mengantuk, namun tetap saja rasa rindunya itu bisa mengalahkan rasa kantuk.

“Seperti baru sebentar aku mengenalmu lagi setelah sekian lama aku dibelenggu, sekarang haruskah aku berpisah denganmu lagi?” ucap Lina kepada kakaknya dengan wajah yang amat dekat dengan kakaknya itu.

Ia masih merasa tak rela untuk sekedar melepaskan adiknya mengungsi ke perkampungan suku risa karena masih merasa rindu.

“Selama ini aku memang selalu bersama dengan ragamu, namun entah mengapa aku tetap selalu merasa kesepian.

Aku merasa sangat merindukanmu, mungkin kemarin kamu sempat tak mengenalku karena musibah lupa ingatan, disaat itu pula cintamu seakan telah pergi dan hampir membuatku putus asa.

Namun syukurlah dengan peristiwa itu kini aku jadi tahu bahwa aku tak hanya membutuhkan ragamu, namun aku juga haus akan cintamu ” jawab Ardian lirih, tak sungkan bagi mereka mengucap bahasa menyatakan perasaan yang sebenarnya, lalu wajah mereka kian mendekat.

Dengus nafas keduanya bertemu, ciuman mesra pun tak bisa terelakkan, awalnya hanya pertemuan biasa kedua bibir mereka, namun lama kelamaan keduanya saling memangut lidah dan semakin lama Lina terlihat sangat menikmati ketika lidah kakaknya menjelajahi setiap jengkal mulutnya.

Nafsu keduanya bagai kobaran api yang bergejolak, ia tuntun Lina ke balik bukit yang cukup jauh dari pemukiman Bjarki, sementara warga-warga lainnya sedang sibuk melakukan persiapan.

Tak buang-buang waktu, Ardian gunakan kesempatan singkat itu untuk menggauli Lina.

Walau keduanya tak begitu merasa nyaman dengan keadaan alam yang terbuka, namun melakukan seks secara sembunyi-sembunyi tersebut menciptakan sensasi yang mendebarkan dada.

Ardian arahkan posisi Lina menungging hanya bertumpu pada sebuah batu, lalu dari belakang ia cabuli secara perlahan.

Bagian selangkangan pakaian alakadarnya milik Lina hanya ia sisihkan ke samping, lalu Ardian melumatnya seperti adegan ciuman mesra, ciuman antara bibir Ardian dengan bibir bawah Lina tersebut menyebabkan Lina melenguh nikmat tak tertahankan.

Dari mulutnya yang mungil terdengar suara desahan memburu yang semakin membangkitkan nafsu kakaknya itu.

“uuuuhhhh aaahhhh ahhhhh” suara desah nafas Lina yang mendera nikmat.

“Stttt pelan-pelan aja, nggak enak kalau sampai terdengar penjaga” ucap lirih Ardian kepada adiknya yang pasrah.

Kelamin merah mudanya mulai lembab dan berair, lipatan daging merah muda yang sempit tersebut kini semakin haus, sangat ingin dengan segera dimasuki batang kelamin kakaknya yang perkasa.

Tak membuang waktu, batang kelamin Ardian segera ia arahkan tepat ke arah vagina Lina yang sudah semakin basah itu.

Dalam satu kali sentakan ia berharap bisa menembus rapatnya vagina Lina untuk segera menuntaskan hajatnya, namun sayang sekali penetrasi tersebut masih belum berhasil karena ada hal aneh terjadi pada alat kelamin Lina.

Vagina Lina yang tempo-tempo hari telah dibombardir berulang kali tanpa ampun itu kini seakan merapat kembali, selaput daranya yang sudah pernah robek dahulu saat melakukan ritual perkawinan di suku Slidrugtanni kini secara ajaib bisa kembali ke bentuk semula.

Purification Necklace yang mengandung kekuatan lambang kesucian air itu memancarkan “Denif Blessings” disekujur tubuh Lina setiap saat, menjadikan tubuhnya dapat beregenerasi.

Kemampuan regenerasi itulah yang sebenarnya menyebabkan kembalinya keperawanan Lina.

Selain regenerasi, sekujur tubuh Lina kini disadarinya semakin sensitif, kulitnya yang putih mulus pun selalu merinding jika tersentuh sesuatu.

Setiap daging-daging yang berwarna merah disekujur tubuhnya akan mudah sekali merasakan rangsangan, termasuk vagina, anus, mulut dan juga bibirnya, itulah mengapa ciuman kakaknya tadi dengan mudah merangsang libidonya.

Darah keperawanan Lina terlihat merembes keluar ketika kepala penis kakaknya itu mulai menembus dinding virginanya.

Ardian pun sontak kaget, khawatir menyakiti adiknya yang cantik itu.

“Sakit sayang?” tanya Ardian memastikan namun dijawab Lina haya dengan gelengan kepala.

“Haaa cepetan masukin kak, adekmu ini sudah pengen” jawab Lina lirih memburu, ia mengabaikan pertanyaan kakaknya itu.

Pinggul Lina dipegangi Ardian cukup kuat dengan kedua tangannya, seakan tak membiarkan pemuas nafsunya itu kabur.

Lalu dalam sentakan kesekian kali akhirnya selaput dara Lina bisa diterobos oleh batang kelamin Ardian yang keras, menjadikan seluruh bagian kelaminnya yang besar dan panjang terbenam seutuhnya.

Wajah Lina sempat meringis merasakan sedikit perih, namun rasa tak mengenakkan itu kian kalah dengan kenikmatan yang dirasakan vaginanya kemudian.

Hentakan batang perkasa kakaknya kembali menjejali lubang vaginanya yang sempit, rasa perih dan ngilu yang sempat terasa saat diawal tadi kini semakin memudar digantikan oleh kenikmatan tiada tara pada si wanita.

Tempo hujaman berulang-ulang yang cepat menyebabkan vaginanya yang makin sensitif itu kuwalahan, tak butuh waktu lama hingga akhirnya Lina mengalami orgasme pertamanya.

Begitupun Ardian, kondisinya yang sedang loyo akibat bertarung menyebabkannya ia cepat-cepat ingin meraik puncak kenikmatan.

Hanya dalam sepuluh menit hujaman cepat, bendungan sperma Ardian akhirnya tumpah ruah memenuhi rongga rahim adik kandungnya yang cantik.

Bersamaan dengan itu muncul juga gelombang orgasme tambahan dari Lina karena ia merasakan kenikmatan lebih ketika proses kakaknya membuahi rahim miliknya.

Batang kelaminnya kian melemas lalu akhirnya tercabut, sementara itu vagina Lina kembali beregenerasi akibat kemampuan liontinnya, vaginanya perlahan berdenyut memproduksi selaput dara baru sehingga menjadikan sperma kakaknya yang kental itu terjebak di dalam kelamin Lina.

Keduanya merasa puas, kerinduan terhadap cinta yang selama ini tertahan karena amnesia akhirnya bisa diobati dengan bukti pertemuan dua cairan cinta yang berasal dari kelamin yang berbeda mereka berdua.

Untuk pertamakalinya Ardian tumbang hanya dalam satu ronde, sejak tadi tubuhnya memang sudah terasa diambang batasnya namun kerinduan seakan menampik batas tersebut sesaat hingga membuahkan persenggamaan tabu barusan terlaksana dengan hikmat.

Tubuhnya yang berotot sekal itu kini lemas sesaat setelah berhasil melepaskan spermanya ke dalam liang senggama adiknya itu.

Ardian terlihat roboh pingsan bersandar begitu saja di bebatuan bukit Bjarki karena tenaganya habis.

Lina bingung, panik dan khawatir dengan kondisi kakaknya itu.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 18 | Mencoba Bertahan Hidup Part 18 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 19)