Mencoba Bertahan Hidup Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 14

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 14 | Mencoba Bertahan Hidup Part 14 Start

Sifat Serakah Manusia​

Seorang pria pendek berdiri tegap di depan ukiran teka-teki dwarf di depan pintu masuk ke tiga, tak dapat menyembunyikan jenggotnya yang rindang sampai-sampai hampir meutupi keseluruhan mukanya sendiri.

Ia berdiri sambil menunjukkan perutnya yang membuncit tertutupi armor besi buatannya sendiri, kondisi perutnya yang seperti itu tidak lain akibat ia terlalu sering duduk ketika menempa besi.

Pria bernama Bjarldor ini belum juga menyerah setelah jawaban pertamanya tadi salah, ia mencoba menjawab lantang kembali dengan jawaban konyol lainnya “Tem . . .”, sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Liz menyelanya.

“Tunggu!”

Kemampuan logika berpikir kaum dwarf semenjak dulu memang terkenal amat rendah, ras mereka selalu dicap sebagai ras paling bodoh, paling konyol, dan ditambah lagi banyak bicara.

Itu pantas saja karena kebanyakan dari mereka hanya mendedikasikan hidupnya hanya pada seni dan memutuskan mendalaminya secara total.

“Tunggu, jangan sembarangan menjawab, ada peringatan lain di sisi bawah. Coba perhatikan!”, ucap Lizbeth dengan suara lantang memperingatkan Bjarldor..

“Tiga kali jawaban salah maka kau mati” Bjarldor dan Liz yang menerjemahkannya secara bersama-sama, sambil semua orang fokus ke tulisan di bagian bawah yang tadi sempat luput dari perhatian.

“Fiuh syukurlah Liz, untung tadi kamu sempat memperingatkan Bjarldor kalau tidak kita semua bisa saja mati konyol”, ucap Ardian lega.

“Hmmm ini rumit, kemungkinan jawabannya amat luas, sebenarnya apa jawaban yang benar ya?” ucap Ardian sambil memegangi dagunya sendiri.

“Mungkinkah cinta?” usul Lina.

“Atau penjara?” usul Lizbeth.

Semua orang lalu terdiam, wajah ke empat anak manusia ini serius menunjukkan ekspresi sedang berpikir keras mencoba mendapatkan kemungkinan jawaban lainnya.

“Pasti ale!” ucap Bjarldor kembali mengutarakan usul konyolnya.

“Hahaha ale? jangan ngelantur pak tua”, ucap Lizbeth menanggapi usul Bjarldor yang dirasanya konyol.

“Ale? Apa itu ale?”, tanya Ardian heran.

“Ale adalah minuman khas suku Bjarki tuan, kabarnya para dwarf menyukai ale lebih dari minuman apapun di dunia ini”, penjelasan Liz.

“Ya, Ale adalah kesukaanku, minuman lezat yang terbuat dari ekstrak jahe yang difermentasikan adalah yang terbaik, huft aku sangat merindukan minuman tersebut, sayang sekali jahe-jahe kami akhir-akhir ini kaku dan busuk karena musim dingin”, penjelasan Bjarldor yang malah curhat tentang kerinduannya pada minuman ale.

“Fokuslah Bjarldor, tak mungkin jawabannya sesederhana itu kan. Lagipula perutmu buncit seperti itu pasti karena kebanyakan minum ale”, tanggapan Ardian mengenai usul si kerdil sambil tertawa.

“Tapi jangan lupa, bukankah pembuat teka-teki ini adalah dwarf? Mudah masuk susah keluar, menurutku jawaban “ale” sangat berkemungkinan besar benar mengingat dwarf sangat menyukai ale”, hasil analisa cerdas Lina.

“Baiklah kalau begitu, daripada buang-buang waktu lebih baik kita mencobanya dengan jawaban Ale”, tegas Ardian memutuskan setelah beberapa pertimbangan berat dipikirkannya.

“Mudah masuk susah keluar?”

“Ale”

Mereka menatap tulisan yang terakhir di bebatuan berharap jawabannya benar, namun sayang sekali cahaya merah kembali meliputi tulisan tersebut tanda jawaban masih belum tepat.

Bulir-bulir keringat tampak terlihat di leher keempat manusia ini karena pengapnya ruangan yang kurang oksigen, membuat leher dan dagu Lina terlihat semakin menggiurkan untuk dijamah, namun mengingat keadaan sedang gawat dan terbatas waktu, sepertinya tak ada niatan Ardian untuk melakukan perbuatan nakal kepada adiknya itu untuk sekarang, nggak tau kalau entar sore.

Dari atap ruangan ini terdapat kristal-kristal yang dapat memantulkan cahaya matahari menunjukkan teknologi zaman dahulu yang memanfaatkan alam sekitar dengan maksimal dan tentu saja ramah lingkungan.

Banyak kristal di sudut-sudut ruangan ini sebagai obyek refleksi cahaya, kesemuanya dipasang dengan sangat presisi.

Dengan adanya kristal-kristal tersebut, cahaya dapat memantul dan menyinari setiap relung ruangan dalam piramida menjadikannya bak lampu neon.

Waktu pun terasa cepat berlalu, kini hari menjelang sore, waktu mereka terbuang banyak di pintu kecerdasan ini, otak mereka juga semakin memanas akibat terlalu berat berpikir.

Kesempatan mereka menjawab hanya tinggal satu kali lagi.

Semua orang berusaha mencari petunjuk, Liz dengan serius membaca satu persatu perkamen berisi tulisan-tulisan kuno namun tak satupun petunjuk berarti yang didapatkannya, sedangkan Lina mencoba menelusuri tembok dengan perlahan dan teliti.

“Ardian, coba perhatikan ini, mungkin ada sebuah petunjuk dari tulisan ini”, ucap Lina sambil menunjuk tulisan peringatan tadi.

“Huh aku tak ingat apa tadi ya artinya?”, keluh Ardian.

“Hih ingatanmu benar-benar lemah”, ucap Lina sewot.

“Bukannya kamu juga lupa ingatan?, dasar adikku Lina kalau bicara suka blak-blakan, untung kamu cantik jadi kubiarkan saja kali ini, yah karena orang cantik itu bebas”, batin Ardian menanggapi kalimat sewot Lina sambil senyum-senyum sendiri.

“Jalan yang benar atau tersesat, pulang atau terjebak, bergembira atau terbunuh, empat atau sembilan, dua jalan gelap dua jalan terang”, ucap Lina menjelaskan.

“Hmm ini menunjuk pada satu maksud yang mungkin berhubungan dengan jawaban terakhir.

Tidak salah lagi, pasti itu yang dimaksud!”, ucap Ardian membuat semua orang penasaran lalu ia dekati Lizbeth karena kali ini ia mau menjawab dengan suaranya sendiri dalam bahasa dwarf.

“Ya, itu jawaban yang sangat masuk akal”, gumam lainnya setelah ia memberitahukan kepada semuanya.

Dirasanya semenjak tadi Lizbeth memandanginya dengan tatapan yang berbeda.

“Jika jawaban kali ini salah, kita semua mungkin akan mati, sebelum hal itu terjadi aku perlu mengutarakan perasaanku pada kalian berdua.

Lizbeth, aku tahu sikapmu sedikit berubah semenjak membuka pintu ke dua tadi namun yang perlu kamu tahu yaitu aku akan selalu menyayangimu.

Dan untukmu, Lina, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun apapun yang terjadi!”, kata-kata terakhir Ardian lirih membuat suasana mendadak berubah menjadi haru.

Perlahan langkahnya mendekati Lizbeth lalu memeluknya, setelah itu ia melangkah kembali mendekati tubuh Lina.

Perlahan Ardian mendekati tubuh Lina yang dekat dengan tulisan kuno di dinding piramida.

Entah mengapa air mata perlahan menetes dari sudut-sudut mata Lina yang indah tanda sedih hingga membuat pipinya merona.

Suasana piramida yang pengap dan lembab menjadikan lehernya penuh dengan butiran-butiran keringat mirip embun yang tentu saja menambah nafsu lelaki.

Diraih dan dipeluk tubuh adik yang amat dicintainya itu, tak terlihat perlawanan darinya, ia telah larut dalam haru, ia juga berpikir bisa saja ini merupakan detik-detik akhir dalam hidupnya.

Ingatannya tentang posisi Ardian sebagai kakak sekaligus pengantin memang masih tersembunyi, tersegel kuat jauh di dalam relung hatinya yang paling dalam.

Walaupun begitu, teringat perbuatan Ardian kemarin malam saat terjebak di cekungan batu membuatnya semakin menginginkan hal tabu itu untuk diulanginya kembali saat ini.

Ia ingat betul rasa nikmat disenggamai lelaki di depannya ini walaupun saat itu kondisinya setengah dipaksa.

Walau pikirannya masih waras sebagai wanita yang jual mahal namun nyatanya vagina miliknya berharap lain.

Pelukan haru tersebut justru membuat vaginanya geli-geli gatal dan semakin becek.

Penis Ardian pun juga tak bisa dikondisikan, pelukan yang seharusnya menjadi pelukan kesedihan malah berubah menjadi pelukan erat penuh nafsu.

Sesekali penis Ardian yang tegang menusuk-nusuk dari balik celana lusuhnya tepat ke arah vagina Lina.

Perasaan mereka campur aduk, keduanya tahu bahwa waktu mereka terbatas di tempat ini karena dituntut segera menyebutkan jawaban terakhir.

“Ardian . . .”, ucap Lina Lirih ketika Ardian mulai melonggarkan pelukannya.

Walaupun dalam kondisi yang bisa dibilang gawat ini, mereka tetap memiliki niatan untuk menuntaskan dahaga nafsu.

Karena bisa saja ini merupakan kesempatan terakhir perjumpaan antara mereka berdua.

Pelukan mereka makin erat, desahan manja dari Lina tak bisa disembunyikan lagi, ia terangsang hebat.

Lizbeth dan Bjarldor hanya berdiri melongo menyaksikan perbuatan cabul saling menggesek-gesekkan kelamin dari balik pakaiannya masing-masing yang tepat dihadapannya itu.

Ciuman mesra saling mengulum lidah dipraktekkan Lina dan Ardian dengan ganasnya.

Pakaian alakadarnya milik adiknya itu ia lucuti dengan tak sabar lalu terlihatlah payudara montok putih berputing merah muda kecoklatan.

Terlihat juga sedikit garis pembuluh darah berwarna hijau tipis terlihat di payudara Lina karena terlampau putih kulitnya.

“Aaaaahhh” desahan keras Lina saat puting indahnya dikenyot Ardian sekuat-kuatnya membuat putingnya makin memerah dan kini dinodai sedikit cairan saliva milik Ardian membuat putingnya terlihat mengembang kaku dan sedikit lembab.

“Cepat lakukan sayang . . .” kata lirih Arlina.

Mendengar tanda persetujuan tersebut dengan tergesa-gesa dan bernafsu Ardian lucuti pakaian Lina dengan nafas memburu, lau disusul pakaiannya sendiri yang di lepas oleh Lina.

Pakaian lusuh milik Ardian dijadikannya alas alakadarnya, tak butuh waktu lama ia baringkan Lina di kain-kain lusuh tersebut lalu melesaklah penis Ardian ke sarangnya.

Penetrasi terlihat sangat lancar karena vagina Lina juga sudah amat basah.

Genjotan cepat, kasar nan buas dipraktekkan Ardian karena ia tahu bahwa paling tidak ia butuh waktu minimal satu jam sampai ia bisa meraih puncak kenikmatannya jika dengan tempo normal.

Sedangkan waktu sekarang ini sangat terbatas, maka ia harus mempercepat tempo dan memperdalam hentakannya di vagina wanita yang amat dicintainya itu.

Air mata haru menghiasai wajah Lina, tatapannya sayu tanda pasrah, bahkan sesekali ia mengimbangi genjotan Ardian dengan maju mundur sesuai irama.

Setengah jam sudah ia menggmpur vagina Lina, Lina tak tahan dengan tempo cepat yang dipraktekkan Ardian membuat adegan squirt tak dapat terhindarkan keluar dari vaginanya yang merekah.

“Ahhh ahhh ahhh ahhhh”, teriakan keras Lina yang tak kenal malu.

Cairan bening mengalir dari vagina merahnya membasahi alas pakaian di lantai menyerupai tanggul bendungan yang jebol.

Ardian biarkan sebentar namun kontolnya masih setia menancap tanpa digerakkan mencoba memberi kesempatan kepada adiknya itu untuk sejenak istirahat menikmati orgasme hebatnya.

Mata indah Lina terpejam saat mencapai puncak kenikmatannya, lalu kini terbuka menatap sayu kembali ke wajah ganteng Ardian.

Masih terdapat sedikit air mata haru menghiasi wajah cantiknya.

Kedua tangan mulusnya membelai wajah hingga telinga Ardian, membuat laki-laki didepannya itu kegelian, perlahan ia memegangi tengkuk leher Ardian bagian belakang, lalu menariknya perlahan hingga ciuman mesrapun kembali dilakukan.

Bibir manisnya mengeluarkan nafas nafsu yang hangat, tak menunggu lama, sebentar kemudian ditutup dengan kecupan bibir Ardian, tak lupa lidah Ardian bergerilya berpetualang di dalam mulut Lina hingga menyebabkan si wanita kehabisan nafas.

Mulutnya seperti berontak mencari nafas namun masih saja dipaksa dibungkam mulut milik Ardian hingga adegan tersebut terlihat seperti pemerkosaan.

Melihat Lina yang gelagapan seperti itu membuat Ardian bernafsu lagi dan ia gerakkan kembali batang kontol yang masih tertancap di vagina adiknya itu dengan tempo pelan teratur lalu semakin lama semakin cepat dan sangat cepat.

“Uhhh ahhh mmmmm”, desahan nafas Lina yang masih gelagapan karena dibekap mulut Ardian.

Timbul rasa kasihan dari Ardian melihat adiknya gelagapan mencari nafas, kemudian ia berniat menjauhkan bibirnya dari bibir Lina, namun anehnya ketika ia mencoba menjauhkan bibirnya guna membebaskan mulutnya dari bungkaman mulut Ardian, secara tak terduga Lina malah menarik kembali tengkuk Ardian.

Bibirnya tak ingin jauh dari sapuan lidah Ardian yang membatasi nafasnya, ia memang terlihat menderita gelagapan mencari napas namun sepertinya gadis cantik itu malah terbuai menikmatinya.

Tak sampai disitu, sambil menahan hentakan maju mundur, ia malah mencari-cari tangan Ardian.

Ia raih kedua tangan milik Ardian lalu ia tuntun ke arah leher miliknya yang mulus dan berkeringat tipis itu.

Ardian tahu apa yang harus dilakukan, tangannya memegang sisi samping leher Lina lalu ia mencekik pelan leher putih mulus milik Lina sambil tetap menciuminya.

Bukan cekikan ingin membunuh, melainkan cekikan lembut perlahan agar nafas si wanita makin berat dan susah di atur.

Cekikan pelan tersebut menyebabkan kontraksi hebat di vagina miliknya, tak bisa terhindarkan batang kontol milik Ardian rasanya diremas dipijit-pijit kencang oleh otot vagina milik adiknya itu menciptakan sebuah sensasi kenikmatan yang baru, sampai ia bagai melayang hilang kendali.

Digenjotlah dengan kasar vagina Lina yang makin terasa sempit itu, lidah Lina sampai menjulur pasrah.

Melihat pemandangan di depannya yang terlihat amat sangat mesum membuat Bjarldor membuka celananya lalu mengelus batang kontolnya sendiri, sambil membayangkan dirinya berada di posisi Ardian.

Walaupun ia kerdil, ternyata batang juniornya hampir menyamai milik Ardian, hanya bedanya jika milik Ardian tegak lurus memanjang, sedangkan milik Bjarldor lurus lalu sedikit bengkok ke bawah.

Entah kenapa biasanya bentuk kemaluan laki-laki pada umumnya bengkok menuju ke arah atas namun tidak dengan miliknya itu, miliknya malah bengkok ke bawah.

Wajar saja, lelaki normal manapun pasti akan hilang kendali melihat wanita secantik dan semulus Lina diperlakukan seperti itu, tak terkecuali Bjarldor.

“Ardian apa aku boleh gantian mencicipi vagina Lina? Dia benar-benar sangat cantik, memeknya benar-benar terlihat sempit dan menggiurkan membuat kontolku tegang maksimal, baru kali ini aku tak tahan seperti ini”, ucap Bjarldor yang tak tahan melihat tayangan mesum di hadapannya itu.

Ardian melepas cekikannya dan melambatkan temponya untuk menjawab Bjarldor.

“Tidak, vagina Lina hanya milikku, kalau mau kau ngocok saja dari situ!”, ucap Ardian menolak permintaan Bjarldor yang lancang ingin ikut menodai Lina.

Tangan Lina kembali mencari-cari tangan Ardian lalu sekali lagi ia arahkan ke lehernya sendiri.

Lina amat menyukai saat-saat dicekik pelan dan dibungkam mulut Ardian, dengan perlakuan seperti itu entah mengapa dapat menambah gairahnya, perlakuan tersebut membuat otot vaginanya makin berkontraksi menyebabkan vaginanya merasakan nikmat tiada tara.

Sedangkan Lizbeth menaikkan jubahnya yang mirip daster lalu tanpa malu melakukan masturbasi sambil memperhatikan proses keluar masuknya kontol tuannya di vagina Lina.

Dengan bernafsu Bjarldor mendekati Lina sambil mengocok kontolnya sendiri.

Dengan lancang ia meraih beberapa helai rambut Lina lalu menempelkannya ke kontolnya sambil dikocok-kocok.

Tak ada larangan dari Ardian membuatnya berani berbuat lebih.

Terlihat Ardian malah memberi jalan pada Bjarldor dengan melepas tangannya dari leher Lina lalu tangan Ardian beralih ke pinggul Lina sambil tetap menggenjot dengan tempo cepat.

Tak hanya rambut, kini tindakan Bjarldor makin nekat, ia gesekkan kontol besar bengkoknya ke arah telinga, lalu leher, hingga turun ke ketiak milik Lina.

Bjarldor mulanya hanya menempelkan kepala kontolnya di pangkal ketiak milik Lina, namun kemudian ia berinisiatif menggesek-gesekannya ke ketiak Lina bagian dalam, tak juga terlihat reaksi larangan dari Ardian.

Semakin berani si kerdil tersebut kini makin mengarahkan kontolnya makin ke atas, kini ia dengan berani memaju mundurkan kontolnya menusuk-nusuk payudara milik Lina secara perlahan dari samping hingga payudara Lina bergoyang-goyang, namun Ardian juga membiarkannya.

Erangan Lina semakin keras saat payudaranya ditusuk-tusuk oleh Bjarldor.

“Ahhh ahh ahhh ahhh”, desah Lina makin keras karena mendapat perlakuan lancang dari si kerdil.

Mendengar rintihan Lina yang amat merdu menyebabkan kontol Bjarldor tak bisa bertahan lebih lama, jutaan sel-sel sperma dirasanya berebut hendak keluar.

“Boleh nggak keluar di wajah?”, tanya Bjarldor dengan dengusan nafas memburu.

Lalu Ardian meminta persetujuan Lina, “Lin boleh nggak?”.

“Terserah kamu sayang”, ucapnya lirih menjawab pertanyaan Ardian.

Lalu karena mendapat persetujuan dari adiknya, Ardian hanya mengangguk tanda setuju.

Ia berpikir tak ada salahnya sedikit berbagi membantu Bjarldor mendapatkan puncak kenikmatan yang mungkin saja merupakan kenikmatan terakhirnya.

Dengan cepat Bjarldor mengocok-ngocok kontolnya, tanpa permisi dengan lancang ia menggesek-gesekkan kepala kontolnya di bibir dan lidah Lina yang sedikit terjulur.

Karena miliknya bengkok ke bawah kepala kontolnya dengan leluasa menggesek-gesek permukaan bibir Lina, namun tak sampai jauh masuk lebih dalam.

Lina hanya pasrah bibirnya dicabuli seperti itu karena ia sedang terbuai dengan rasa nikmat di vaginanya.

Ardian membantu detik-detik kenikmatan puncak Bjarldor dengan mencekik pelan kembali leher Lina sehingga lidah Lina terjulur dengan bebas.

Dengan kegirangan Bjarldor mengocok dan menggesekkan kepala kontolnya makin cepat lalu “uuuuhhhh!” crot crot crot crot crot crot.

Kontolnya yang bengkok ke bawah menyebabkan arah semprotan tepat mengenai wajah Lina yang cantik, menyebabkan semua cairan tersebut menyemprot deras ke wajah dan lidah Lina, tak ada setetespun sperma yang terbuang sia-sia.

Banyak sekali spermanya belepotan kemana-mana di area wajah Lina, namun paling banyak adalah area lidah merah mudanya, lalu disusul bagian bibir, sebagian lagi masuk lalu cairan putih kental terlihat tergenang mengotori gigi putih milik Lina.

Kelopak matanyapun tak luput dari semburan cairan hina milik Bjarldor.

Lemas sudah tubuh Bjarldor kini terduduk telanjang, namun disisi lain ia benar-benar puas karena diberi kesempatan untuk menggesekkan kontolnya hingga pejunya mengotori lidah dan wajah Lina yang cantik jelita.

Karena melihat wajah Lina yang tampak tambah cantik karena hiasan sperma, membuat Ardian kembali menggila.

Ia cekik lagi leher Lina lalu ia genjot dengan kecepatan penuh, membuat mulut Lina yang masih belepotan cairan kental mengerang kenikmatan sedikit berbusa.

Lalu dibenamkannya dalam-dalam hingga mencapai rahim Lina, lalu crot crot crot crot crot kontol perkasa milik Ardian akhirnya menginjeksi vagina sempit milik adik kandungnya itu hingga memenuhi ruang terdalam.

Setelah beberapa saat ia cabut kontol perkasanya dari vagina lembut milik Lina.

Sebagian spermanya tentu saja hendak tumpah karena vagina sempitnya tak mampu menahan keseluruhan deposit sperma kakaknya yang amat banyak itu.

Sebelum tumpah Ardian bergegas menadahi lelehan sperma tersebut dengan tangannya lalu ia masukkan ke dalam mulut adiknya yang masih menganga dan lidahnya sedikit menjulur karena kelelahan dan kenikmatan.

Sperma miliknya sedikit lebih kental daripada milik Bjarldor, namun sperma milik bjarldor juga dikumpulkannya ke arah mulut Lina.

Lalu dengan pasrahnya Lina menampungnya ke dalam mulut mungilnya sampai terlihat penuh, dimain-mainkannya sebentar lalu ditelan seluruhnya.

Namun saat prosesi tersebut Lina agak terbatuk-batuk karena sepertinya ia belum terbiasa menelan sperma.

Walaupun begitu tetap saja seluruh sperma tersebut ditelannya sampai habis tak tersisa.

Kini wajahnya masih mengkilap karena masih ada sedikit sperma yang tersisa, ia akan membiarkannya begitu saja sampai mengering sendirinya bagai masker alami.

Sementara itu Lizbeth juga tak tahan karena melihat kontol tuannya yang berwarna merah karena baru saja keluar dari liang senggama Lina, membuatnya tergiur untuk menjamahnya.

Sebelum orgasme ia dekati kontol tuannya yang masih ada sedikit sperma buah hasil pertempurannya dengan Lina, lalu dengan buas ia kulum sampai bersih.

Tak lama kemudian gelombang kenikmatan segera dirasakannya, dengan pelan penuh kasih sayang diakhiri dengan kecupan pada kepala kontol tuannya, lalu ia lepas batang milik tuannya dari mulut lalu beralih mendekati Bjarldor yang masih terduduk lemas masih menikmati sisa-sisa kenikmatannya.

wajah Bjarldor ia arahkan tepat ke vaginanya, karena lemas si kerdil tak bisa apa-apa, dan terpaksa menerima perlakuan Lizbeth yang mulai memajukan vaginanya ke mulut Bjarldor, lalu surrrrr surrrrrrrrrrrrrrrrr cairan bening milik Lizbeth membasahi muka, rambut , hingga jenggot Bjarldor yang tebal hingga si lelaki kerdil gelagapan, sesekali ia tampar pipi Bjarldor secara kasar.

Sepertinya ia dalam kendali Beatrice, karena sangat terlihat dari perlakuannya kali ini amatlah kasar terhadap laki-laki di depannya itu.

Mungkin ia memendam hasrat untuk melecehkan laki-laki namun ia tak berani melakukannya terhadap tuannya.

Tak sampai di situ, tak berselang beberapa lama setelah gelombang orgasmenya mereda kini cairan urin berwarna kuning milik Lizbeth mengalir deras tepat ke arah mulut Bjarldor, lalu ke pakaian, ke rambut, ke jenggot, sampai seluruh bagian tubuh Bjarldor basah kuyup tak luput dinodai oleh Beatrice.

Semua orang terkapar lemas kecuali Ardian, staminanya tak terlalu terkuras karena pergumulan hebat tadi, bahkan jika saja ia mau ia masih kuat untuk dua atau tiga ronde lagi.

Dengan langkah perlahan ia dekati puzzle dwarf lalu menatap ke semua orang, semua orang hanya mengangguk pelan tanda setuju dan percaya pada apapun keputusan jawaban akhir Ardian.

Sebuah keputusan yang menentukan keberlangsungan hidup mereka kedepannya.

“Labirin!” perkataannya dengan lantang yang tentu saja dengan bahasa dwarf yang telah diajarkan Lizbeth tadi.

Seketika tulisan “Labirin” muncul disertai dengan cahaya sihir hijau menandakan bahwa jawabannya kali ini benar.

“Grrrrrrrr” seketika puzzle bergetar lalu membalik, mengeluarkan satu buah kunci berwarna putih.

Semua orang tersenyum lega karena telah berhasil, pakaian yang tadinya berserakan kini dipakai kembali oleh semua orang.

Lalu dengan semangat Ardian mengambil kunci tersebut lalu kunci hitam dan putih dimasukkannya dalam lubang pintu menyebabkan pintu bergetar lalu akhirnya terbuka lebar.

Senyum ke empat orang ini semakin melebar merujuk pada sebuah tawa, walau badan mereka lemas namun wajah mereka menunjukkan ekspresi lega dan gembira karena telah berhasil membuka pintu kecerdasan.

Namun kejutan belumlah usai, sepertinya mereka terlalu cepat merasa senang, secara tak terduga beberapa untaian rambut cokelat raksasa berlapis sihir melilit ke empat tubuh manusia ini.

Rambut-rambut tersebut melilit dengan kencang lalu menarik tubuh mereka ke beberapa tempat yang berbeda hingga saling terpisah satu sama lain.

Semua orang dilepaskan sendirian pada ruangan dengan kondisi lembab berair dengan kondisi tak tahu posisi manusia lainnya.

“Lina? Lina? Dimana kamu? Liz? Lizbeth? Kalian dimana?”, teriak Ardian dengan suara bergaung memastikan kondisi para wanita namun tak juga mendapatkan respon.

Cahaya matahari yang terpantul masih saja menerangi relung ruangan ini. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa syarat memasuki piramida ini hanya boleh di siang hari.

Terdapat sembilan pintu pilihan untuk dimasuki.

Masing-masing dari mereka menyadari bahwa didepannya ini merupakan labirin.

Dengan mengingat petunjuk yang tertulis tadi, “Empat atau sembilan” Ardian dengan langkah mantapnya dengan yakin mulai memasuki pintu ke empat.

Sementara itu Lina yang masih lemas dengan langkah gontai mulai berjalan menuju pintu masuk ke sembilan.

Bjarldor sama sekali tak menghiraukan peringatan tadi, atau mungkin ia lupa, dengan langkah mantap pula ia masuk ke pintu nomor 2.

Lizbeth sepertinya diuntungkan pada stage ini karena kemampuan animal whisperer nya, terdapat beberapa laba-laba, kecoa, dan serangga misterius di gua ini yang bisa ia ajak bicara, sebagiannya mau bekerja sama namun sebagian dari hewan tersebut cuek menolak bekerja sama.

“Dimana pintu yang benar wahai para hewan yang diberkati?”, tanya Lizbeth.

“Empat atau sembilan, namun empat lebih cepat”, kata seekor kecoa.

“Tidak, jangan kesana pintu ke empat memang cepat sampai namun terdapat beberapa jebakan, lebih aman melalui pintu ke sembilan, walaupun jaraknya agak jauh namun labirinnya mudah dan tak ada jebakan sama sekali”, kata seekor laba-laba.

“Bagaimana dengan pintu lainnya?”, tanya Liz lebih lanjut.

“Pintu lainnya merupakan labirin biasa namun kupikir nampaknya lebih susah dan lebih jauh, bolehkah aku meminta sedikit darahmu sebagai imbalan karena aku telah menjawab pertanyaanmu?”, kata seekor nyamuk.

“Baiklah, tapi darahku mungkin tak selezat makhluk hidup lainnya”, jawab Liz sambil mengulurkan tangan untuk dihisap darahnya oleh beberapa nyamuk.

Spesies hewan-hewan disini semenjak dahulu terjebak dan terisolasi membentuk suatu ekosistem baru di dalam piramida.

Akhirnya Liz memutuskan masuk ke pintu yang sama dengan pilihan Lina yaitu pintu ke sembilan..

Penakhlukan labirin pun mereka mulai, sesaat setelah masuk pintu, otomatis tertutup tak ada jalan untuk kembali.

Tak butuh waktu lama, dengan bantuan beberapa hewan akhirnya Lizbeth lah yang pertama kali sampai ke ruangan tengah yang merupakan pusat dari piramida ini.

“Cih Emas? Klasik sekali”, gumam Lizbeth sesaat setelah menemukan pintu keluar labirin.

Dihadapannya terlihat beberapa peti koin dan batang emas yang menggunung.

Lalu disusul Lina, karena kecerdasan dan ingatannya yang tajam, ia mampu mencari jalan keluar dengan menandai beberapa tembok yang pernah dilewatinya dengan bebatuan.

“Lizbeth!” Panggil Lina.

“Lina?, syukurlah kamu selamat Lin!”, ucap Lizbeth sambil memeluk Lina, walaupun ia tahu betul Lina merupakan satu-satunya orang yang tuannya cintai namun Lizbeth tetap menganggapnya sebagai sahabat baik.

Sementara itu Ardian masih bingung melewati pilihan jalan di depannya, terdapat dua jalan menyerupai gua yang gelap dan dua lainnya terang, akhirnya setelah berpikir ia memilih jalan yang terang.

Tak terduga pintu kembali tertutup lalu sebuah panah menancap di kakinya menyebabkan pendarahan.

Kakinya pincang, walau begitu tak ada alasan baginya untuk berhenti.

Dengan berjalan perlahan sambil menahan sakit ia lanjutkan perjalanannya.

“Rasa-rasanya aku pernah lewat jalan ini tiga kali” gumamnya karena mendapati beberapa tembok yang identik.

Namun ia menghilangkan ragunya, ia jalan lurus mengikuti instingnya, akhirnya setelah beberapa saat sampailah ia di ruangan tengah piramida.

“Ardian! Sini! . . .”, terlihat Lina menyambutnya dengan hangat membuat luka yang dirasakannya sesaat tak terasa sakitnya.

“Tuan! Anda tidak apa-apa?”, segera Liz langsung mengobati kaki tuannya karena terluka.

“Dimana Bjarldor?” ucap penasaran Ardian.

“Mungkin dia mati”, ucap Liz yang tak terlalu peduli.

Sementara itu Bjarldor dengan santainya melangkah, disetiap langkahnya ia tetap bergembira diiringi lagu kesukaannya tentang ale.

“Ale . . . ale . . . minuman para dewa, jahe mewangi menghangatkan badan, minuman berbuih kesukaan kita”, nyanyian Bjarldor sambil tertawa.

Karena lagu dan tawanya itu menimbulkan suatu gelombang suara yang bisa terpantul ke beberapa medan elektrik buatan dwarf zaman dahulu.

Efeknya membuat tembok-tembok bergeser dan menunjukkan jalan yang benar pada Bjarldor.

“Bergembira atau mati” sepertinya juga berlaku untuk stage ini.

Pembuat labirin ini merupakan Dwarf, jadi pembuatnya juga tahu pasti hobi para dwarf saat jenuh tidak lain adalah bernyanyi.

Pembuat labirin ini pastinya berniat tak ingin mempersulit kaumnya sendiri yang bisa masuk.

Dengan tertawa Bjardor akhirnya sampai. “Huahahaha”

“Bjarldor!” teriak Ardian.

“Hahahahaha”, jawab Bjarldor dengan riang tanpa luka sedikitpun.

mereka yang tadinya terpisah akhirnya berkumpul kembali.

“Hoaaaaamh (suara menguap). . . Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat manusia”, kata seekor naga hitam yang terganggu tidurnya mendengar berisik akibat kehadiran empat orang manusia di depannya.

Naga dalam budaya Kalimantan, kususnya suku Dayak dan suku Banjar dianggap sebagai simbol alam bawah. Naga digambarkan hidup di dalam air atau tanah dan disebut sebagai Naga Lipat Bumi. Naga merupakan perwujudan dari Tambun yaitu makhluk yang hidup dalam air. Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk naga dan burung enggang gading diwujudkan dalam bentuk tatah ukiran. (Wikipedia)

Tekanan di ruangan ini tiba-tiba menjadi berat karena pengaruh salah satu kekuatan pasif Naga, kekuatan tekanan tersebut bisa kita sebut sebagai Shadow field.

“M.. m .. monster?”, ucap Lina yang tiba-tiba menggigil lalu terduduk dipenuhi rasa takut yang amat besar.

Bjarldor juga ketakutan melihatnya sampai-sampai ia berlindung di koin-koin emas mengubur dirinya sendiri seolah pura-pura mati.

Bahkan Lizbeth yang notabene merupakan penyihir “S class” pun juga ikut merinding dan tak nyaman merasakan tekanan aneh ini.

Sedangkan Ardian tergolong paling kuat, ia juga merasakan tekanan ini namun dengan mental kuatnya ia terus mencoba berdiri tegak.

Selama ini ia kira Naga merupakan mitos belaka, namun nyatanya ia kini melihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Hmmh maafkan aku, seharusnya tampilanku tak seperti ini ketika menyambut orang yang berhasil membuka tiga pintu”, ujar sang naga yang kemudian merubah wujudnya ke dalam bentuk manusia berjubah hitam memegang pedang hitam diliputi aura kegelapan.

Hahaha kurasa kalian sesak napas karena ketakutan, tapi tenang saja, untuk sekarang aku tak sedikitpun diijinkan mencelakai kalian, ya untuk saat ini hahahahaha.

“Siapa pemimpin diantara kalian?” tanya naga tersebut dalam tampilan manusia sambil duduk di singgasana dengan anggunnya.

“Bukan aku”, ucap Bjarldor dengan suara anehnya karena mukanya tertutupi kepingan emas masih berpura-pura mati.

“Hahahah kaum dwarf ya?, semenjak dulu memang kaum kalian selalu bisa menghiburku”.

“Sayang sekali tak ada Elf di kelompok kalian, aku sangat merindukan nyanyian para elf yang merdu”.

“Biar kutanya sekali lagi, siapa diantara kalian yang merupakan pemimpin kelompok ini?”.

“Aku”, jawab Ardian dengan mantap.

“Hahahaha siapa namamu manusia muda?”

“Ardian”, jawab Ardian dengan lantang.

“Ard ya? Hahahah, namamu sedikit mirip dengan salah satu kaum tunin yang ku kenal.

Perkenalkan namaku Dabbat Al Shabh, kalian cukup memanggilku dengan sebutan Shabh, aku merupakan salah satu dari bangsa Tunin atau kalian biasa mengartikannya sebagai naga.

Tekanan ini sepertinya menyesakkan bagi manusia ya? Hahahahaha . . . padahal ini baru auraku yang sejatinya merupakan tunin lemah, kalian pasti lari terbirit-birit jika merasakan aura tunin lain yang bernama Dabbat Al Ard yang masih tertidur di luar sana” Ucap Naga yang kini dalam bentuk manusia.

“Ambillah apapun yang kalian mau, sekarang apapun yang ada di sini telah sah menjadi milik kalian termasuk empat benda pusaka di depan kalian, jika pusaka itu setuju untuk kau ambil tentunya!” pernyataan Shabh sambil menunjuk ke empat peti spesial.

Karena dirasa aman, dengan tergesa-gesa Bjarldor bangun dari pura-pura matinya lalu berlari menuju ke empat peti tersebut.

Ia tentu saja langsung mengambil palu legendaris bernama Hellfire Hammer lalu mengangkatnya tinggi-tinggi karena bangga dan bahagia, hal yang diimpi-impikan nenek moyangnya kini menjadi miliknya.

Sesaat ia berniat mengambil pusaka lainnya untuk diberikan kepada Ardian namun tangannya seolah ditepis oleh kekuatan magis.

“Hahahaha berhentilah mencoba dwarf kecil, pusaka itu tak mau ikut denganmu, biarkan temanmu yang lain mencobanya!”

Lalu Lizbeth memberanikan diri untuk maju mengambil satu persatu dari ke tiga pusaka yang tersisa.

Sebuah pusaka bernama Black Grimore bisa dia ambil, black grimore merupakan senjata penyihir dark elf zaman dahulu.

Lalu karena dorongan Lizbeth Lina juga maju mengambil, Lina mendapatkan Liontin putih yang entah apa fungsinya. Liontin tersebut ia perhatikan sangat cantik, terbuat dari bahan menyerupai berlian dan bersinar di intinya, namun masih saja ia genggam, ia berharap yang memakaikannya adalah Ardian.

Ardian melangkah maju, tersisa satu pusaka misterius.

Namun ketika ia mencoba mengambilnya, pusaka tersebut menghempaskan tangan Ardian.

Ia sangat kecewa, iri, manusia lainnya dengan mudah mendapatkan pusaka sedangkan ia tidak.

“Ardian?” panggil Lina yang seolah menyadarkan lamunannya dari iri hati.

“Iya Lina?”

“Bisakah kamu memakaikan liontin ini ke leherku?”

“Baiklah”

Lina menyerahkan Liontin tersebut kepada Ardian, dengan tangannya ia raih lalu memakaikannya ke leher Lina yang mulus.

Sungguh cantik tampilannya kini, tubuh seksi mulus dengan wajah cantik kini ditambah hiasan sebuah Liontin yang juga cantik, seakan melipat gandakan keanggunan Lina.

Tiba-tiba sesuatu terjadi.

Liontin ajaib itu bercahaya sejenak lalu membuat Lina terdiam.

“Kakak?” ucap Lina kepada Ardian.

Ingatannya yang dahulu tersegel karena mantra Beatrice kini terbuka dan Lina kini mengingat semuanya.

“Aku sangat merindukanmu kak Ardian!”, ucap Lina sambil menitikan air mata bahagia.

“Lina? Ingatanmu sudah pulih?” ucap Ardian penasaran.

Lina mengangguk kecil lalu keduanya berpelukan mesra semesra-mesranya.

Ardian amat bahagia, ingatan berharga Lina yang kembali merupakan anugerah baginya.

“Purification Necklace ya? Menarik!” ucap Shabh sambil memegangi dagunya sendiri.

“Apa kalian sudah selesai?”, tanya Shabh memastikan.

Walaupun mereka sudah mendapatkan tiga pusaka dan ditambah kebahagiaan karena Lina sudah pulih ingatannya namun dirasa masih kurang menurut Ardian.

Ia satu-satunya manusia disini yang tidak mendapatkan benda pusaka.

“Shabh? Tadi kau bilang semua yang ada di sini sudah menjadi hak kami kan?

Kalau begitu termasuk pedang yang kau genggam itu?”, tanya Ardian.

“Hahahaha apa kau sangat menginginkan pedang terkutuk ini manusia muda?” tanya balik Shabh.

“Ya”, ucap Ardian tegas.

“Hahahaha manusia serakah, kaum manusia memang sejak dulu tidak pernah berubah, baiklah ambil ini!” perkataan Shabh yang kemudian melemparkan pedang tersebut ke arah Ardian dengan tidak sopan.

Ketika lepas dari genggaman Shabh, pedang tersebut hanya berupa gagang pedang yang kosong saja.

“Gagang kosong? Yang benar saja?” ucap Ardian protes sambil melihatnya tergeletak di lantai, ia enggan mengambilnya karena tadi dilemparkan secara tidak sopan oleh Shabh.

“Hahahaha terserah, sekarang saatnya pertukaran setara!”

“Degh” batin Lizbeth ketika telinganya mendengar kata “pertukaran setara” pasti ada sesuatu hal yang tidak beres.

Seketika tubuh Lizbeth, Lina, dan Bjarldor dililit rambut seperti tadi lalu dimasukkan ke dalam penjara magis bercahaya hitam menyerupai penjara sempit.

“kekasih dan rekan yang kau sayangi adalah harga yang pantas untuk pedang milikku, mulai sekarang orang-orang ini adalah milikku! Sudah lama aku tak makan daging! hahahaha”, jelas Shabh.

“Kakak! . . .” teriak Lina.

“Tuan! . . .” Teriak Lizbeth.

“Hei-hei lepaskan aku dasar rambut sialan! . . .” ucap Bjarldor sambil menggoyang-goyangkan palu barunya.

“Lina!. . . tidak, tidak . . . Shabh! aku tarik kembali ucapanku, aku mohon bebaskan mereka, sebagai gantinya pedang ini tetap menjadi milikmu!” ucap Ardian.

“Seorang ksatria tidak pernah menarik ucapannya sendiri!”, ucap Shabh.

Kuberikan kau pilihan,

1. relakan ketiga rekanmu dan bawa emas beserta pedang terkutuk itu bersamamu keluar dari sini.

2. kau relakan tubuhmu untuk kumakan, sebagai gantinya maka mereka bebas, atau

3. berikan aku seorang gadis elf perawan yang pandai bernyanyi, ia akan kusuruh bernyanyi sampai lagu terakhirnya kemudian aku makan juga.

Ardian berpikir keras, ia tak tahu apa jadinya jika hidupnya tanpa Lina.

Disisi lain ia juga berpikir bahwa bagaimana nasib Lina nantinya jika tanpanya, pastinya Lina akan sangat bersedih.

Selain itu juga ia tak tahu dimana mencari elf perawan yang pandai bernyanyi.

Namun pilihan ke tiga adalah pilihan yang menguntungkan saat ini baginya.

“Terlalu lama berpikir membuatku muak, cepat jawab, apa yang kau pilih Ardian?”, ucap Shabh yang tak sabar.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 14 | Mencoba Bertahan Hidup Part 14 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 15)