Mencoba Bertahan Hidup Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 13

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 13 | Mencoba Bertahan Hidup Part 13 Start

Jangan Remehkan Kekuatan Wanita

Pintu kekuatan masih belum juga terbuka, padahal Liz sudah mengerahkan sihirnya sekuat tenaga untuk menghancurkan kristal merah yang menempel di pintu.

Entah karena kepekaannya atau faktor lain, ia mendengar bisikan misterius yang memanggilnya.

Suara itu berasal dari jin penjaga pintu yang tugasnya memang menggoda manusia yang berpotensi membuka pintu.

Bangsa jin memang tak terlihat oleh manusia normal karena memiliki dimensi yang berbeda, tapi Lizbeth bisa merasakannya berkat adanya sisi Beatrice di dalam tubuhnya.

Sering terjadi rancu di telinga kita mengenai istilah Iblis, jin dan setan.

Jin merupakan keseluruhan makhluk secara umum yang dimaksud, seperti halnya istilah manusia secara umum.

Terdapat Jin yang baik di dunia ini, ia tak pernah sekalipun mencampuri urusan manusia.

Namun ada juga Jin yang bersifat jahat, jin bersifat jahat tersebut mengabdi kepada junjungannya yaitu Iblis, tugasnya adalah menggoda manusia menuju ke perbuatan buruk melalui bisikannya.

Sifat jahat tersebut lah yang dinamakan setan.

Sedangkan Iblis dulunya merupakan jin yang baik, ia selalu mengabdi kepada tuhannya lebih dari siapapun.

Namun karena kesombongannya yang menolak bersujud penghormatan kepada manusia pertama bernama Adam, ia dikutuk oleh Tuhan dan bersumpah bahwa golongannya akan mengganggu keturunan Adam hingga kiamat tiba.

Jin bersifat setan tersebut bisa mengetahui nama lengkap Liz karena ia bisa mengetahui pembicaraan yang ada di hutan ini.

Memang semenjak dahulu tugas setan adalah membisikkan hal buruk kepada manusia dan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai dunia ini.

Bahkan ada segelintir jin yang mampu mencuri informasi rahasia dari langit.

Dengan informasi tersebut 1 informasi benar akan dikabarkan kepada manusia pilihannya, namun 100 kebohongan akan menyertainya, ia adalah penghasut yang nyata.

Selain itu kemampuan unik lainnya dari bangsa Jin, ia bisa mencuri informasi dari seseorang dengan cara masuk melalui lubang-lubang manusia dan berjalan melewati aliran darah manusia menuju otak untuk mendapatkan informasi.

“Lizbeth Dan D’loli . . .”

“Kau itu kuat, kau bisa menjalani kehidupan jauh lebih baik dari sekarang Liz,

kau dianggap oleh Ardian hanya sebagai budak nafsunya,

kau sama sekali tak berarti dalam hidupnya,

Betapa bodohnya kau mau menuruti permintaannya,

Mau susah payah membuka pintu ini atas perintahnya?

Yang benar saja . . .” suara bisikan misterius.

Lizbeth mulai merenung, bisikan tersebut dirasanya ada benarnya juga.

Rasa cintanya terhadap Ardian yang semakin besar membuatnya berpikir dua kali.

Namun tetap saja, cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan.

Saat itu juga hatinya serasa teriris, dan tiba-tiba ia meneteskan air mata dan terduduk lesu.

“Lizbeth?”ucap Ardian yang khawatir dan heran dengan wajahnya yang tiba-tiba bersedih sambil memegang pundaknya.

Dengan mantap Liz menepis tangan Ardian dan melanjutkan tangisannya yang malah semakin menjadi.

Menyadari Liz yang bersedih Beatrice otomatis juga ikut merasakannya.

Identitas Beatrice sebenarnya adalah Jin qarin yang mampu bersatu dengan tubuh manusianya, dan kaum jin merupakan alasan umum mengapa segelintir orang di dunia memiliki kepribadian ganda.

Perkataan qarin berasal daripada bahasa Arab yang berarti “teman”, “pasangan” atau “pendamping”. Kata qarin kemudian digunakan oleh kalangan Muslim Asia Tenggara, diartikan sebagai makhluk-makhluk halus yang senantiasa mendampingi manusia, sejak seseorang itu dilahirkan hingga dia meninggal dunia, kemudian sampai pada hari kebangkitan (Wikipedia).

Beatrice amat sangat menyayangi Lizbeth, ketika Lizbeth bersedih maka ia juga turut merasakannya karena mereka berdua adalah satu.

“Diam kau setan terkutuk yang telah berani membuat Liz bersedih!”, teriakan Beatrice menandakan ia sangat kesal dengan paksa mengambil alih tubuh Lizbeth lalu mengeluarkan energi kemarahannya.

Serangan penuh kemarahan berwujud api plasma berwarna merah pun keluar menghancurkan kristal di pintu hingga hancur berkeping-keping.

Beatrice mengerahkan seluruh mananya untuk serangan tersebut hingga kini Beatrice kehabisan mana.

Serangannya bukan hanya berefek ke dunia nyata namun juga menjangkau hingga ke dunia Limbo.

Limbo adalah dimensi lain di bumi ini yang dihuni oleh jin, hanya makhluk malaikat dan jin yang bisa bebas bepergian ke sana.

manusia tertentu memang bisa memasukinya namun kebanyakan tak pernah bisa kembali ke dunia nyata seperti kasus raja-raja dan orang dahulu yang kabarnya bertapa hingga mencapai moksa.

Selain itu terkadang dimensi Limbo tak sengaja terbuka saat seseorang koma atau mengalami Lucid dream.

Serangan api merahnya mengenai sebagian tubuh dari Jin yang membisiki Lizbeth di awal tadi.

Jin tersebut tangannya terbakar habis dan lari terbirit-birit karena kesakitan.

Seketika pintu terbuka, namun karena kedahsyatan serangan Beatrice, dinding dan atap gua tersebut rusak parah lalu seketika runtuh.

Terpaksa Ardian, Lina, Lizbeth, dan kepala suku Bjarki yang bernama Bjarldor masuk ke balik pintu kedua untuk berlindung dari reruntuhan.

Lalu bebatuan di atap seara sempurna kini menutupi jalan, tak ada lagi kini jalan untuk kembali, pilihan yang ada adalah diam disini dan menunggu penggali mencapainya atau melanjutkan perjalanan.

Reruntuhan ini memiliki batuan yang keras jadi dikhawatirkan hingga batas malam, penggalian belum selesai maka kemungkinan terburuknya ke empat anak manusia ini bisa mati.

Karena syarat memasuki piramida ini di siang hari merupakan syarat yang bersifat mutlak.

Maka tak ada pilihan lain selain berusaha maju terus dan menyelesaikan dua pintu lainnya yang belum pernah dilihat siapapun kecuali oleh pembuatnya.

Batas waktu mereka membuka dua pintu lainnya hanya sampai matahari terbenam, jika sampai malam menjelang belum juga bisa membuka ke empat pintu maka entah apa yang terjadi yang pasti nyawa taruhannya.

Ngohweh yang kebetulan berjaga di barisan belakang terpisah karena reruntuhan.

“Ngohweh kau baik-baik saja?”, teriak Bjarldor si kepala suku Bjarki karena suaranya terhalang reruntuhan.

Saya baik-baik saja kepala suku.

“Syukurlah, kalau begitu kembalilah ke perkampungan, panggil seluruh penempa, suruh mereka menghentikan kegiatan mereka dan menggali reruntuhan ini untuk menyelamatkan kami”, lanjut Bjarldor sambil teriak.

“Sesuai perintahmu yang mulia” jawab ngohweh lalu ia bergegas keluar ke perkampungan Bjarki berteriak minta tolong, lalu seluruh penempa menghentikan aktifitas harian mereka membuat mata panah besi.

Mereka dengan terburu-buru meletakkan palu-palu mereka lalu mengambil sekop dan bergegas menuju reruntuhan untuk menyelamatkan kapala sukunya.

Beruang penjaga permukaan pintu pun dengan sukarela dimasuki wilayahnya karena ia tahu yang memasuki tempat ini adalah bau yang familiar baginya.

Sementara para warga bekerja keras, tim Ardian mulai tergesa-gesa mencari dimana letak pintu selanjutnya.

Dengan berani Ardian memimpin di depan, ia mulai melangkah lalu suara “klik” saat ia tak sengaja menginjak batu kotak bagai menginjak ranjau di film-film.

Tanpa jeda, beberapa panah tajam melesat ke arah jantung dan perut Ardian , namun dengan sigap ia menghindar sambil melompat ke samping dan salah satu panah tersebut mengenai pahanya.

Ternyata peringatan di dinding pintu ke dua tadi yang berbunyi “perhatikan setiap langkahmu” bukanlah isapan jempol belaka.

Kakinya kesakitan, mata panah yang melukai kaki Ardian ini bukan mata panah sembarangan.

Panah yang tertancap ini mengandung energi sihir yang mengakibatkan rasa sakitnya berlipat ganda, semakin lama mata panah tersebut bersarang di dagingnya maka semakin meningkat rasa sakitnya.

Dengan terpaksa Bjarldor mencabut panah tersebut secara paksa hingga merobek kulit Ardian.

Namun Ardian beruntung karena di situ ada Liz yang bisa mengobatinya dengan healing aura.

Daging dan kulitnya yang tadinya robek dan berlubang sangat dalam dengan ajaib bisa kembali seperti semula.

“Kita harus lebih berhati-hati ketika melangkah”, ucap Ardian memperingatkan.

“Bjarldor!, memang bukan wewenangku untuk memerintahmu, namun kali ini aku minta kepadamu untuk berjaga di belakang, dan lindungi Lizbeth beserta Lina apapun yang terjadi.

Jika ada panah menuju mereka, kau gunakan tubuhmu sebagai tameng hidup untuk melindungi kedua gadis ini.

Namun yang paling penting, jangan sampai Lizbeth terkena luka sedikitpun, karena ia adalah satu-satunya penyembuh di sini.

Liz, jika Lina terluka tolong segera sembuhkan dia, aku menyayangi kalian berdua.

Sementara itu aku akan berjalan di barisan depan sebagai orang yang melangkah pertama memijak bebatuan, walaupun resikonya besar terhadap keselamatanku, namun kurasa ini adalah strategi terbaik yang bisa kita lakukan saat ini.”, penjelasan Ardian kepada lainnya.

Mereka menuruti apa kata Ardian, lalu Ardian dengan pelan melangkah di lantai dan menandai jejak kakinya.

Jejak tesebut lalu dipijak oleh Bjarldor, Lina dan Lizbeth secara aman.

Kotak pijakan ini cukup besar, dan tak bisa melangkah terlalu jauh karena tak sampai, pijakan ini hanya bisa di skip satu kali ketika melangkah.

Beberapa kali jebakan batu yang melesatkan panah diinjaknya namun karena refleknya cukup bagus ia dapat menghindarinya.

Namun aneh, semakin jauh ia melangkah malah semakin jarang pijakan berisi panah yang keluar.

Walaupun begitu jumlah dari panah semakin banyak.

Di pijakan awal tadi hanya tiga buah anak panah, namun sekarang mencapai sebelas biji anak panah sihir sehingga mengakibatkan lebih susah menghindarinya.

Hanya sesekali mungkin tangan atau kakinya tergores sedikit karena cepatnya lesakan panah sihir tersebut, namun Liz segera menyembuhkannya kemudian.

Ketika perjalanan, Lina mengatakan sesuatu yang mengherankan.

“Ardian, semenjak tadi kuperhatikan, jebakan ini memiliki pola tertentu, ini seperti kelipatan angka.

Panah hanya muncul saat bilangan 1, 3, 6, 10,..? dan seterusnya, ini persis seperti salah satu soal logika matematika sederhana yang dulu sempat kulalui saat seleksi masuk kuliah kedokteran.

Kita tinggal menyisipkan angka secara berurutan untuk mengetahui letak pijakan yang berisi jebakan di langkahmu berikutnya” ucap Lina.

“Aku masih belum paham maksudmu Lin”, ucap Ardian.

“Jadi gini, kita tinggal memasukkan selisih antara 1 dan 3 yaitu 1 angka, sedangkan selisih antara 3 dan 6 adalah 2 angka, selisih antara 6 dan 10 adalah 3 angka dan seterusnya.

Ardian tak begitu mengerti dengan matematika jika tak tertulis di kertas, sedangkan Lina karena kecerdasannya mampu melakukan analisa matematika sederhana tanpa ditulis di kertas sekalipun.

Dengan kecerdasannya pantas saja dulu ia dengan mudahnya melewati seleksi masuk fakultas kedokteran ternama di ibukota.

Lalu dengan langkah santai Lina maju sambil menghitung, melangkah di depan mendahului Ardian dengan percaya diri.

“Lina . . .!”, panggil Ardian tanda khawatir tubuh Lina jikalau diterjang panah sihir ketika melangkah.

Namun dengan lancar ia melangkah dengan kaki seksinya tanpa satupun pijakan yang berisi jebakan.

“Huh, syukurlah tak ada panah mengenai tubuhnya, yah sampai saat ini satu-satunya panah yang pernah menancap ke tubuhnya hanyalah panah milikku, bukan panah namun pedang raksasa lebih tepatnya, ups*, ternyata keberadaan Lina di sini ada gunanya juga”, batin Ardian sambil tersenyum.

Karena bangunan ini berbentuk piramida maka jalan yang ditempuhnya sedikit menurun mengelilingi tepi piramida yang berbentuk persegi.

Itu artinya di tengah-tengah mereka ada ruangan yang entah apa isinya.

Dengan santai Lina melangkah, langkahnya diikuti Ardian Liz dan Bjarldor hingga mencapai pintu ke tiga.

Sesuai dengan namanya sepertinya ini merupakan pintu kecerdasan.

Seperti biasa tertulis bahasa kuno di dinding kiri yang kemudian diterjemahkan Lizbeth:

GERBANG KE TIGA

Segel empat jalan

Jalan yang benar atau tersesat

Pulang atau terjebak

Bergembira atau terbunuh

Empat atau sembilan

Dua jalan gelap dua jalan terang

Di kiri kanan pintunya terdapat puzzle, satunya berbahasa ancient elf , berada di sebelah kiri pintu, satunya berbahasa ancient dwarf di sebelah kanan pintu.

Dua puzzle ini diletakkan secara terpisah, terdapat juga manuskrip kuno petunjuk dan beberapa benda menyerupai pion catur.

Semua benda-benda ini masih utuh tak luntur atau dimakan rayap karena benda-benda di sini kokoh karena merupakan buatan dwarf dan juga telah dilindungi dengan mantra sihir elf.

Bentuk teka-teki ini tak seperti sebelumnya yang selalu menempel di pintu, namun kali ini memiliki papan horisontal menyerupai papan catur yang memiliki kotak sejumlah 100.

Sedangkan puzzle satunya berisi kata-kata misterius.

Di gerbang pintunya hanya batu halus polos berisi dua lubang kunci pintu berwarna hitam dan satunya lubang kunci berwarna putih.

Ardian dan Bjarldor berpikir keras sambil memperhatikan detail puzzle di kanan.

“Ini adalah kata-kata berbahasa ancient dwarf!”, ucap Bjarldor kepada Ardian.

“Apa kau tahu maksudnya?”, tanya Ardian.

“Ya aku bisa membacanya, tapi ini seperti teka-teki puisi, aku tak paham jawabannya”, ucap Bjarldor.

Sementara itu Lina dan Lizbeth bermain-main dengan pion berisi huruf ancient elf di puzzle sebelah kiri.

“Apa arti huruf ini Liz?”, tanya Lina sambil memegang salah satu pion berisi satu huruf dengan penasaran.

“Ini angka 9”, jawab Liz.

“Kalau ini?” Tanya Lina sambil menunjukkan pion lainnya.

“Kalau ini angka 5”, jawab Liz.

Jadi semua tulisan di pion ini merupakan angka ya?

“Iya ini angka 0, ini 1, ini 2, ini 3, ini 4, ini5, ini 6, ini 7, ini 8, ini 9”, ucap Liz menjelaskan kepada Lina.

“Tunggu dulu, ini kan sudoku, tapi ini aneh seharusnya tak ada angka 0 dalam sudoku”, ucap Liz sambil mengernyit.

“Apa itu sudoku?” tanya Liz penasaran.

“Itu lho permainan yang ada di handphone”, jawab Lina.

“Ha? Handphone? Apa itu handphone?”, ucap liz dengan nada polosnya.

“Oh iya aku lupa, kamu kan lama tinggal di hutan ini sendirian sampai tak mengenal handphone”, ucap Lina sambil menepuk jidatnya sendiri.

“Pokoknya cara mainnya seperti ini, buat setiap kotak seimbang nilai dengan kotak lainnya”, ucap Lina menyusun pion-pion itu perlahan sambil berpikir.

“Tiga, emm tidak-tidak . . . seharusnya ini diisi angka 0”, gumam Lina sambil menyusun pion lain dengan tangan lentiknya hingga pion terakhir terpasang.

Lalu grrrrrrr . . .

Kotak puzzle itu seketika bergetar sesaat setelah Lina menyelesaikan puzzle sudoku.

“Lina, Lizbeth, jangan sembarangan menyentuhnya”, ucap Ardian memperingatkan kedua gadis usil nan pintar ini.

Tapi terlambat, kedua gadis ini telah mengutak-atik puzzle sudoku tadi dan anehnya dengan kerjasama mereka berdua puzzle elf telah terselesaikan.

Lalu papan batu tersebut membalik, dan dibaliknya terdapat kunci berwarna hitam.

Dengan ekspresi heran Ardian dan Bjarldor terkaget tak percaya akan kecerdasan para gadis.

“Aku tak percaya!” ucap Ardian sambil mendekati dan mengecup bibir Lina.

Lina mencoba menghindari ciuman tersebut namun karena kecepatan Ardian akhirnya bibirnya mencapai bibir Lina.

“Ih apaan sih”, kata Lina yang terlihat keberatan sambil berusaha lepas dari pelukan Ardian lalu cemberut.

Lalu Liz hanya melihat Ardian dengan tatapan iri.

“Liz kamu mau dicium juga?”, tanya Ardian.

“Iya tuan . . . lebih dari ciuman juga nggak papa” jawab Liz yang mukanya seketika memerah.

Lalu Ardian mengecup bibir sambil meremas pantat dan payudara Liz.

Kemarilah para gadis selesaikan teka-teki satunya.

Sebenarnya Liz bisa membaca tulisan tersebut namun ia memberi kesempatan kepada Bjarldor untuk menerjemahkannya.

Terdapat petunjuk di atas teka-teki kedua ini.

Bacalah dengan Lantang lalu disertai jawabannya dalam bahasa ancient dwarf.

Bisa pecah tanpa disentuh?

Tidak makan tetapi bisa memanjang?

Bisa sebesar gunung namun lebih ringan daripada udara?

Ia terasa berarti setiap hari namun tak bisa kau sentuh?

Mudah masuk susah keluar?

Dengan sungguh-sungguh mereka mencoba memecahkan teka teki tersebut.

Akhirnya mereka berdiskusi dan menemukan ke empat jawaban awal namun tidak dengan pertanyaan terakhir.

Pertanyaan terakhir bersifat sangat umum membuat mereka bingung memikirkan jawabannya.

Pertanyaan umum tersebut menjadikan kemungkinan jawabannya sangat banyak, dan tak tahu mana yang dimaksud.

Walaupun begitu, dengan lantang Bjarldor menjawabnya.

Ke empat tulisan pertanyaan seketika diliputi cahaya sihir berwarna hijau tanda bahwa ke empat pertanyaan benar.

Sedangkan untuk pertanyaan terakhir diliputi cahaya merah tanda masih salah.

Kira-kira apa jawaban pertanyaan terakhir?

Bersambung . . .

Spoiler Jawaban

Janji

Rambut

Bayangan

Matahari

Kontol

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 13 | Mencoba Bertahan Hidup Part 13 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 12)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 14)