Mencoba Bertahan Hidup Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 12

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 12 | Mencoba Bertahan Hidup Part 12 Start

Dalam Gelap Kami Bercinta

“Kok celanaku kayak basah lengket-lengket gini?”, ucap Lina yang baru bangun sambil menatap ke arah Ardian.

“Degh”, jantung Ardian mendengar keluhan Lina.

“Em . . . itu . . . anu . . .”, jawab Ardian terbata-bata.

“Itu ramuanku Lina, agar pegal-pegal mu hilang”, ucap Lizbeth sambil mengedipkan mata ke arah Ardian dengan senyum nakalnya.

“Oh begitu, kalau begitu terimakasih Liz”, ucap Lina yang tak tahu apa yang terjadi sebenarnya bahwa cairan sperma kakaknyalah yang bersarang di dalam vaginanya.

“fiuuuh”, ucap lega Ardian, tenang sudah adrenalinnya karena diselamatkan Liz dari keadaan gawat.

Akhirnya ketiganya keluar, langit cerah, bersyukur mereka karena hari ini tak turun salju.

Kembali hidangan favorit suku ini yaitu babi hutan disuguhkan suku ini ke kelompok Ardian namun hidangan tersebut hanya untuk Ardian, Lina dan Lizbeth.

Namun Lizbeth tak memakannya karena ia sejatinya tak membutuhkan makanan dan minuman kecuali sedang terluka atau sedang pengen.

Lagipula babi yang kini dinimatinya seperti babi yang masih muda, karena ukurannya baru sebesar helm.

“Huaaaaaaaaa”, suara tangisan salah satu anak kecil digendong ibunya sambil menunjuk-nunjuk ke arah babi bakar yang sedang Ardian dan Lina nikmati dengan lahapnya.

Ardian tersadar dari janggalnya tatapan mereka.

Mereka kelaparan!

Ardian salut, walaupun dalam kondisi kelaparan, namun mereka masih bersedia berkorban menyuguhkan daging babi berharganya untuk memuliakan tamu.

Pemburu senior kebanyakan tewas saat perang disergap suku gagak saat itu.

Hingga kini yang tersisa hanya pemburu muda yang masih pemula dalam hal berburu.

Lagipula cuaca dingin membuat kebanyakan babi pergi menuju ke kawasan dataran tinggi dan berdiam di sarangnya di bawah tanah.

Berburu rasanya sudah tidak efektif di musim dingin seperti sekarang ini.

Tak sampai hati rasanya Ardian melanjutkan prosesi makannya.

“Apa kalian lapar?”, Tanya Ardian kepada anak-anak.

Mereka mengangguk kecil, lalu ia bagi daging babi yang dipegangnya dalam beberapa potongan kecil lalu dibagi rata kepada anak-anak.

Walaupun hanya secuil itu sudah membuat mereka terlihat bahagia ketika makan.

“Liz!”, panggil Ardian.

Apa ada hewan yang bisa dimakan disekitar sini?

Liz sebenarnya sangat menyayangi semua binatang, bahkan ia lebih menghargai nyawa binatang dibandingkan manusia berjenis kelamin laki-laki, namun karena terpaksa ia akhirnya mengangguk, ia tetap harus jujur kepada tuannya.

“Panggil hewan-hewan itu kemari!”, tegas Ardian.

“Tapi tuan jangan terlalu banyak membunuh binatang”, ucap liz sambil mengiba kepada tuannya sedikit menitikan air mata karena rasa sayangnya terhadap binatang hutan ini.

“Tenanglah Liz, aku hanya mau memilih beberapa indukan yang bagus diantara mereka.

Di musim seperti ini tak efektif rasanya jika meminta pemburu muda yang masih pemula berburu, lebih baik kita ajarkan kepada mereka beternak.

Nuzu dan Kehsa harusnya kita ajak kesini untuk mengajarkan seluk beluk beternak, namun tak apalah, sepertinya beternak babi lebih mudah karena babi bisa memakan apapun”, ucap Ardian.

Beberapa menit berlalu dengan kemampuan “Animal Whisperer” milik Lizbeth akhirnya datanglah beberapa babi hutan, disusul kelinci, ayam, rusa, dan lainnya.

Dipilih dari hewan hewan tersebut beberapa indukan jantan dan betina yang kira-kira bagus.

Hari itu seluruh warga suku yang sudah dewasa bekerja keras mencari kayu dan bambu untuk membangun kandang.

Bahkan anak-anak kecil juga ikut membantu membawa beberapa batang kayu kecil-kecil sambil berlarian bermain.

Beberapa hewan seperti babi, ayam, dan lainnya mereka kandang untuk dijadikan peternakan dan dimanfaatkan di kemudian hari.

Sementara itu babi yang paling tua dan besar mereka masak lalu dihidangkan kepada seluruh suku hingga mereka semua bergembira sambil bernyanyi dan menari ala pedalaman.

Lima hari sudah ia menginap di perkapungan Sidrugtanni mengajarkan mereka beternak dan bercocok tanam.

Kunjungan Ardian di sini dirasa sudah cukup, pagi-pagi mereka berbenah dan membersihkan diri lalu berangkat, namun Likazkhimo diminta tetap tinggal di Slidrugtanni mengawasi dan memastikan suksesnya peternakan.

Selain itu ia masih tinggal untuk sementara guna membangun kembali semangat keluarga besarnya.

Kini perjalanan dilanjutkan tim petualang suku Panthera yang anggotanya tinggal Ardian, Lina, dan Lizbeth.

Kembali Lina menjadi beban karena ia kelelahan padahal perjalanan baru satu jam.

Masih juga ia enggan digendong kakaknya, terpaksa Liz yang kemudian bekerja keras mengerahkan mananya untuk mengendalikan akar tanaman sebagai tumpuan tubuh Lina di sepanjang perjalanan.

Beberapa jam kemudian Liz kelelahan, hingga sisi Beatrice terpanggil.

Lizbeth dan Beatrice memiliki mana sendiri-sendiri yang terpisah.

Jika dibayangkan dibandingkan dengan angka, jumlah mana yang dimiliki Liz 100 sedangkan Beatrice 1000.

Beatrice kini sudah patuh pada tuannya hingga disepanjang jalan Beatrice menyerahkan mananya secara sukarela kepada Liz untuk digunakannya.

Area pepohonan rindang semakin lama semakin jarang, sampailah ketiganya di rawa-rawa terdapat jalan setapak yang bercabang.

Ardian tahu jika ke kiri menuju ke perkampungan gagak, namun ia masih enggan kesana karena ia sadar sedang membawa Lina.

Ia tak mau mengambil resiko ke kampung tersebut karena kemungkinan terburuknya adalah Lina dijadikan budak sex mereka jika tertangkap.

Lagipula sudah enam hari mereka menghabiskan waktu diperjalanan dan ditambah di kampung Slidrugtanni.

Satu hari lagi pesanan senjatanya pada Ngohweh akan selesai.

Akhirnya Ardian memilih jalan ke kanan, ke tanah gersang kawasan suku Bjarki.

Dahulu memang gersang namun sekarang tanah disekitaran mereka diselimuti salju dan sebagiannya lembab karena salju yang mencair.

Malam menjelang, hawa dingin mereka rasakan.

Tak ada batang pepohonan untuk mereka jadikan api unggun, terpaksa mereka bertiga beristirahat di sebuah gua batu, mungkin bukan gua namun lebih tepatnya cekungan batu.

Salju kembali turun di malam ini, namun syukurlah hanya hujan salju tipis.

Lina dan Ardian tidur dalam kegelapan, sedangkan Liz dalam mode Beatrice berjaga di luar menanggulangi jikalau ada sergapan dari suku gagak, karena posisi mereka masih dekat dengan perkampungan gagak.

Saat dalam mode Lizbeth memang ia bisa merasakan sakit dan merasakan dingin namun ketika dalam mode Beatrice, efek alam sama sekali tak mempengaruhi tubuhnya.

Ardian dan Lina tidur berdampingan karena sempitnya cekungan batu tersebut namun masih dalam posisi saling memunggungi.

Turunnya salju semakin membuat tubuh Lina menggigil kedinginan.

“Ardian dingin banget, tolong buatlah api unggun”, keluh Lina sambil menggigil.

“Maafkan aku, kali ini aku tak bisa memenuhi permintaanmu lin, di sini tak ada batang pohon untuk memulai api unggun”, balas Ardian.

“Emmm rapatkanlah tubuhmu ke tubuhku agar rasa dingin yang kamu rasakan berkurang”, ucap Ardian berharap.

Sejenak Lina berpikir keras menimbang dengan keadaan tubuhnya yang kedinginan, ia sangat butuh kehangatan, ia berpikir menghilangkan rasa malunya sejenak.

“Baiklah, tapi ingat, kamu jangan macam-macam”, ucap Lina memperingatkan kepada Ardian yang kemudian mendekat ke tubuh kakaknya itu.

Kedua insan ini akhirnya merapatkan badanya masing-masing, melakukan pelukan erat saling menghangatkan.

Terbesit nafsu dari Ardian namun ia tau ia harus bersabar.

Walaupun begitu, tubuh seorang wanita yang berada dipelukannya tak mungkin tidak membangkitkan syahwat kelaki-lakiannya.

Padahal ia sudah menahan sekuat tenaga namun si junior berontak dan ereksi dengan sendirinya.

Tubuh Lina yang sesekali menggeliat menunjukkan bahwa ia juga dalam pengaruh nafsu.

Dalam diam mereka merapatkan kedua kelaminnya yang masih saling terbungkus.

Di dalam otak Lina memang Adian belum cukup dikenalnya, namun wanita mana yang tahan dengan godaan penis lelaki gagah perkasa menempel di bagian paling sensitifnya.

Tubuh Lina terasa makin hangat, sesekali ia sadar bermaksud menghilangkan nafsunya dengan mundur menjauhkan bagian sensitifnya dari lesakan penis Ardian.

Namun Ardian malah memegangi pinggul Lina lalu menariknya mendekati selangkangan Ardian, ditempelkannya kembali dua kelamin yang tadi sempat terpisah.

“Ahhh ardian . . .”, rintih Lina lirih tanda protes.

Lina jauhkan kembali bagian sensitifnya ke belakang namun lagi-lagi Ardian menarik pinggulnya mendekat, hingga junior semakin dalam menekan vagina lina.

Lina lakukan gerakan mundur menghindar secara terus menerus namun lagi-lagi Ardian dengan kuatnya melesakkan juniornya menekan ke selangkangan Lina berkali-kali hingga gerakan mereka bagaikan dua insan yang sedang bersenggama.

Ardian melakukannya dalam diam hanya diiringi dengus nafas keduanya yang semakin berat.

Dengan berani Ardian mengecup bibir Lina, dalam keadaan seperti itu Lina hanya bisa pasrah bibirnya dilumat Ardian.

Ada niat dipikirannya untuk menolak namun ada juga dorongan nafsu yang menguasainya.

Dalam bimbang Lina hanya membiarkan bibirnya dilumat Ardian dengan ganasnya namun ia tak menunjukkan tanda setuju ataupun tanda menolak.

Bibirnya lembutnya hanya diam ketika lidah lelaki di depannya itu menyapu gigi dan menyedot-nyedot bibir indahnya.

Ciuman itu turun ke arah kain kulit kayu tipis penutup payudara milik Lina.

Hingga diturunkannya dengan mudah lalu kini terpampanglah dua gundukkan memabukkan milik Lina.

Dengan bernafsu Ardian memilin-milin puting kiri Lina, lalu mulutnya mengenyoti puting satunya.

Itu dilakukannya sambil tetap menggenjot selangkangan Lina dari balik kain penutup vaginanya yang tipis.

Lina hanya pasrah mendesah kecil ketika putingnya dimainkan oleh Ardian.

Hingga kini tangan Ardian turun ke arah kain penutup vagina milik Lina, dibelai dengan lembut lalu diturunkannya secara perlahan hingga akhirnya Lina tersadar dari godaan nafsunya.

Namun kini ia sudah dalam kondisi telanjang bulat.

“hentikan aaakkk!”, rintih lina.

Disadarinya ternyata Ardian sudah melepas celananya.

Dengan cepat Lina menghindar memunggungi Ardian dan bermaksud menjauh namun seketika Blesshhh kepala kontol Ardian menyeruak ke vaginanya yang sudah basah namun tetap susah di masukkan semuanya karena sempitnya vagina Lina dan juga karena besarnya ukuran junior milik Ardian.

“Aaaakkk hentikan”, jerit Lina namun pinggunya hanya diam.

Dengan sentakan keras satu kali lagi akhirnya blesh terbenam seluruhnya kontol Ardian ke vagina Lina.

Dirasakannya sensasi kehangatan yang yang sangat dirindukannya.

Akhirnya kelamin Ardian kembali bersarang ke vagina Lina yang merah merekah seperti setelah sekian lama bagaikan kedua kelamin tersebut melepas rindu.

Pikiran Lina saat ini jelas menolak perbuatan tak senonoh Ardian terhadapnya namun sepertinya ia kini sudah diliputi nafsu.

Ia membiarkan saja penis Ardian menyogok-nyogok kelamin miliknya hingga basah, sangat basah karena sudah lama juga Lina tak melakukan persenggamaan.

Digenjotnya dengan perkasa dari belakang tanpa satu patah kata, hanya terdengar suara angin dan suara peraduan kedua kelamin mereka yang saling beradu.

Desahan Lina tak bisa ia sembunyikan karena nikmatnya vaginanya dibombardir dengan tempo yan sangat cepat.

“Aaaahhh ah ahhh ahhh”, rintih Lina setiap kali kontol Ardian melesak masuk jauh hingga mencapai rahimnya.

Ardian bosan dengan posisi ini karena ia tak bisa melihat keindahan payudara Lina dan keindahan paras adiknya itu.

Dibaliklah tubuhnya secara perlahan hingga kini mereka saling berhadapan lalu Lina meronta kembali.

Ia tak mau melanjutkan persenggamaannya ini, namun Ardian malah memegangi kedua tangannya lalu mengecup bibirnya.

Jika saja Lina berniat memberontak maka ia bisa saja menggigit lidah atau bibir Ardian hingga berdarah, namun itu tak dilakukannya.

Ia hanya memberontak saat penis Ardian ada diluar vaginanya,

Kata “jangan” hanya terucap ketika penis Ardian tak bersarang di kelaminnya, namun ketika benda keras milik Ardian terbenam dalam di vaginanya, ia serasa hilang kendali dan hanya pasrah diperlakukan apapun oleh Ardian.

Beberapa kali Lina mengalami orgasme menyebabkan seakan tubuhnya melayang, hingga akhirnya setelah beberapa lama crot crot crot sperma Ardian melesak masuk jauh sampai ke dalam hingga memenuhi rahim Lina, vaginanya serasa penuh.

Malam itu penis Ardian tetap masih tegang dan masih menancap di vagina Lina tak membiarkan setetespun spermanya keluar dari lubang surgawi milik adiknya itu.

Kini tubuh keduanya lemas dan akhirnya tertidur masih dalam kondisi berpelukan.

Hingga akhirnya pagi menjelang, Lina perlahan terbangun dari tidurnya.

Tubuhnya masih terjebak dipelukan Ardian tak bisa bergerak, sejenak ia teringat persetubuhannya tadi malam yang sangat panas.

Karena goncangan tubuh Lina yang mau keluar dari dekapan Ardian akhirnya Ardian terbangun juga.

“Sayang, ternyata kamu sudah bangun?”, ucap Ardian.

Lina hanya cemberut ngambek teringat dengan perlakuan Ardian tadi malam namun tak ada tanda-tanda marah yang serius dari wajahnya.

“Hayo apa yang kalian lakukan tadi malam saat aku berjaga?” tanya Lizbeth dengan tatapan nakalnya.

Ardian hanya tersenyum sedangkan Lina masih dengan cemberut berkemas membenahi pakaiannya yang tercecer di bebatuan lalu memakainya.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, disepanjang perjalanan Lina hanya cemberut namun sesekali melihat mata Ardian menunjukkan rasa penasarannya kepada Ardian.

Didalam otaknya masih terbayang perbuatan Ardian tadi malam yang memuaskannya, dengan gagahnya ia menerobos dan menghujam kelamin perkasa ke dalam vaginanya, pikirannya mengatakan bahwa pantas saja banyak wanita yang bersedia menjadi budaknya.

Bebatuan sepertinya semakin banyak menyebabkan langkah mereka pelan.

Setelah susah payah berjalan selama setengah hari dari perkampungan Slidrugtanni, sampailah Ardian, Lina dan Lizbeth di jembatan penghubung ke Bjarki.

Sejauh mata memandang, banyak sekali bebatuan terjal, dan diantara bebatuan tersebut tak jarang berlumut dan berair karena salju yang mulai meleleh.

Kedatangan mereka telah disambut oleh mata-mata kaum Bjarki yang mengintai dari puncak bukit bebatuan.

“Lewat sini!”, ujar lelaki kerdil mengarahkan tim Ardian dalam bahasa pedalaman.

Jalan yang dilalui mereka kali ini benar-benar tidak manusiawi, jalan sempit ini memang dirancang hanya untuk manusia-manusia kerdil.

Bebatuan terjal terkadang terpaksa mereka lewati, jika lengah sedikit saja bisa terperosot ke dalam jurang yang tak kelihatan ujungnya.

Sesekali Ardian menuntun Lina yang kesulitan melewati bebatuan, jika di dalam hutan mungkin Lizbeth bisa menggunakan akar-akarnya untuk membantu tumpuan kaki Ardian dan Lina.

Namun sialnya kali ini di sekitar mereka hanya ada bebatuan sehingga kemampuan Liz mengendalikan akar tanaman tak bisa dilakukannya di sini.

Namun tetap saja namanya penyihir, beribu trik licik bisa dipikirkannya.

Dengan sedikit mantra “arc vena enoma viel”, Lizbeth pun seketika dapat mengubah fisiknya menjadi lebih muda.

“Ini tak adil Liz”, ucap Ardian pura-pura kesal namun tetap tertawa, sambil kesusahan menuntun Lina.

“weeek”, kata Lizbeth dengan tampilan seperti bocah belasan tahun menggoda tuannya melewati bebatuan dengan mudah menggunakan kedua kakinya yang kecil dan lincah.

Karena tubuhnya mengecil, pakaian Lizbeth kini jadi kedodoran hingga tangannya tak terlihat tertutupi lengan jubah cokelatnya membuat penampilannya semakin imut menggemaskan.

Dengan hati-hati mereka melanjutkan langkah agar jangan sampai tergelincir ke jurang.

Setelah beberapa lama berjuang susah payah melewati jembatan terjal akhirnya sampailah Ardian Lina dan Lizbeth di perkampungan Bjarki.

Sisi Beatrice sepertinya kali ini bisa lebih tenang ketika melihat laki-laki karena sudah berulang kali Ardian nasehati.

“Selamat datang!”, sambutan salah seorang yang misterius bertangan besar dengan jubah beruang.

“Terima kasih sambutannya tuan”, jawab Ardian lalu menengok ke kanan.

“Ngohweh!”, seru Ardian melihat Ngohweh yang terlihat berlari mendekat bermaksud menyambut kedatangannya.

“Kepala suku, ini adalah Ardian yang kemarin saya ceritakan kepada Anda”, ucap Ngohweh mengenalkan Ardian kepada kepala sukunya.

“Kepala suku? Jadi anda adalah kepala suku Bjarki? Maafkan saya tidak mengenali anda”, kata Ardian bermaksud mencairkan suasana.

“Tidak apa-apa, santai saja, lagi pula ini pertama kalinya kita bertemu, selamat datang di perkampungan Bjarki tuan Ardian dari suku Panthera, Ngohweh telah menceritakan kepada saya tentang banyak hal mengenai anda, mari silakan duduk”, sambut kepala suku dengan hangat.

Ardian akhirnya duduk diantara Lina dan Lizbeth di pahatan batu yang sangat indah dan rapi, dari ukirannya tergambar keterampilan tinggi pembuatnya.

Lizbeth masih dalam mode anak kecil belasan tahun yang imut dan menggemaskan dengan pakaian kedodoran, sehingga para warga suku Bjarki mengira Lizbeth adalah anak Ardian dan Lina.

Suguhan daging rusa, kentang, dan bengkoang disantap mereka sambil berbincang.

Segarnya bengkoang membuat Ardian dan Lina merasakan kesegaran, tenggorokan mereka yang kering serasa diobati oleh segarnya buah bengkoang yang banyak mengandung air.

Sedangkan Lizbeth tak terlalu tertarik karena dirinya tak pernah merasakan lapar ataupun haus, dia hanya makan sedikit makanan yang tersaji untuk sekedar menghormati pemilik rumah.

Ucapan terimakasih tak lupa kepala suku Bjarki haturkan kepada Ardian karena sudah menyelamatkan Ngohweh.

Selain itu Kepala suku Bjarki juga berterimakasih karena telah membuat kesepakatan yang terkesan menguntungkan suku Bjarki.

Semua laki-laki terpesona dengan hadirnya Lina, sepertinya seumur-umur mereka belum pernah melihat wanita seindah Lina.

Terlihat juga di situ wanita dan anak-anak, semua bentuk tubuhnya juga kerdil, diantara mereka yang paling besar tubuhnya hanya kepala suku.

Tubuh kepala suku terlihat seperti kerdil pada umumnya namun tangannya sangat besar berotot, karena efek terlalu sering menempa.

“Ini pesanan anda tuan Ardian, kedua senjata ini saya sendiri yang menempanya, jika tak sesuai keinginan anda maka akan kami tempa ulang”, ucap kepala suku Bjarki menyerahkan benda terbungkus kain.

Perlahan Ardian membuka bungkusan tersebut dengan sangat hati-hati seolah membuka kardus handphone baru.

“ini sempurna”, gumam Ardian saat memegang pisau hitam dan tongkat sihir hitam tersaji di depannya.

“Syukurlah jika karya saya sesuai dengan keinginan Anda”, sahut kepala suku Bjarki bangga.

Pertama-tama dimasukkanlah pisau baru tersebut ke sarung sepatu Ardian.

Ternyata sangat pas, ukurannya benar-benar identik dengan pisaunya dahulu, kemudian digenggamnya kembali.

Ditempelkannya mata pisau untuk menguji coba ketajamannya ke telapak tangan Ardian dan “slash” darah segar mengucur dari jari Ardian menetes perlahan ke tanah meninggalkan luka sayatan cukup dalam.

Semua orang heran dengan tindakan nekat Ardian yang dengan berani mengetes ketajaman senjata dengan tangannya sendiri, seolah-olah tak mengenal rasa sakit dan takut.

Terbukti pisau tersebut sangatlah tajam, jauh lebih tajam dari pisau taktikalnya dahulu karena bahan baku pembuatan pisau ini sangatlah langka.

“Ardian?”, ucap Lina khawatir, walaupun logikanya selalu cuek, namun tak dapat dipungkiri perasaannya bergejolak setiap melihat Ardian terluka.

“Tidak apa-apa Lina”, ucap Ardian menenangkan gejolak perasaan Lina.

“Liz!”, ucap Ardian.

Tanpa banyak bicara cahaya kuning (Healing aura) menyelimuti telapak tangan Ardian yang terluka, lalu dalam hitungan detik luka di telapak tangan Ardian dengan ajaibnya sembuh seketika seperti sedia kala.

Semua orang yang melihat terkesima melihat kemampuan Lizbeth yang masih dalam tampilan anak kecil.

“Apa anda tabib? Rasanya tabib tak punya kemampuan seperti ini, kemampuan seperti ini seharusnya hanya dimiliki oleh penyihir”, kata kepala suku memastikan.

“Ya aku memang penyihir, lalu kenapa?”, ucap Lizbeth judes karena bawaan perasaannya yang masih saja membenci laki-laki.

“Sssst sopanlah Liz, minta maaf!”, bisik Ardian memerintahkan Lizbeth.

Lizbeth hanya mengangguk kecil kemudian segera meminta maaf ke kepala suku Bjarki.

“Hahaha tak apa, bukan maksud kami merendahkanmu, jutru kami sejak dulu mengharapkan adanya penyihir mengunjungi suku kami.”, jelas kepala suku.

“Mengapa anda mengharapkan penyihir mengunjungi pemukiman bjarki?”, tanya Ardian penasaran.

Dengan panjang lebar akhirnya kepala suku Bjarki menceritakan seluk beluk sukunya kepada Ardian karena menurut kepala suku Bjarki Ardian adalah sosok yang baik dan dapat dipercaya menjaga rahasia, selain itu ini merupakan kesempatan emasnya karena kini ada penyihir yang kebetulan lewat di kampungnya.

Perkampungan Bjarki memang sudah sering memanggil penyihir-penyihir dari kampung lain namun tetap saja belum ada satupun penyihir yang kekuatannya mampu membuat segel pintu terbuka.

Suku ini berada di medan bebatuan, di tempat ini mereka hidup berdampingan dengan para Beruang dengan damai dan saling membantu.

Terdapat suatu rahasia di tempat ini, gua berisi pintu gerbang misterius yang sejak dahulu tak pernah bisa dibuka, gua ini dijaga ketat oleh beruang secara turun-temurun dan tak ada seorangpun dari suku Bjarki berani mengusir beruang dari dalam gua tersebut.

Gua ini tesambung dengan piramida terbalik yang ada di bawah tanah yang unik, semakin ke bawah malah semakin mengerucut tak seperti kebanyakan piramida di dunia ini.

Konon kabarnya piramida ini dibangun oleh kaum ancient dwarf dan elf yang bekerja sama saat membangunnya.

Jauh di dalam gua ini terdapat palu suci yang disegel oleh salah satu penempa legendaris ancient dwarf kala itu, palu tersebut bernama “Watakule” atau agar berasa keren kita bisa mengartikannya sebagai “Hellfire Hammer”.

Palu tersebut disiapkan untuk manusia yang sanggup melewati rintangan di dalamnya.

Tak ada aturan khusus bahwa hanya suku bjarki yang boleh masuk, itu artinya tantangan masuk tersebut berlaku untuk umum.

Namun ada syarat mutlak saat hendak memasuki piramida ini yaitu waktu masuk harus di siang hari.

Jika ada yang berani masuk di malam hari maka ia akan mati seperti pembuka pintu pertama.

Hellfire hammer adalah salah satu dari dua senjata suci yang diyakini berada di balik gerbang terakhir.

Suku bjarki meyakini informasi secara turun temurun bahwa di dalam gua tersebut terdapat dua benda suci dan dua benda terkutuk, dan perlu diketahui bahwa suku ini hanya terobsesi dengan Hellfire Hammer.

Terdapat empat pintu yang hanya bisa dibuka oleh orang-orang tertentu di dalam piramida terbalik bawah tanah.

Empat pintu tersebut konon masing-masing berurutan adalah:

1. pintu keterampilan,

2. pintu kekuatan,

3. pintu kecerdasan, dan

4. pintu kebijaksanaan.

Pintu keterampilan memang sudah berhasil dibuka oleh kakek dari kepala suku Bjarki yang sekarang, pintu pertama tersebut hanya bisa dibuka oleh orang dengan keterampilan menempa tinggi, namun menurut cerita kepala suku bjarki, kakeknya wafat karena nekat masuk piramida saat malam hari untuk membuka pintu ke dua.

Pintu pertama (pintu keterampilan) tersebut berisi 99 lubang unik yang berbeda dan harus diisi dengan besi tempaan yang tepat, jika salah satunya tak pas maka pintu itu sama sekali tak bisa terbuka.

Beruntunglah berkat jasa kakek kepala suku Bjarki dahulu, kini pintu keterampilan sudah terbuka.

Sekarang saatnya membahas ke pintu ke dua (pintu kekuatan), terdapat bahasa ancient dwarf yang tak semua orang tahu maksud bahasa ancient dwarf yang tertulis tepat di pintu masuk.

Kemungkinan orang yang tau adalah para penyihir yang sudah hidup ratusan tahun lamanya.

Itu adalah alasan para warga Bjarki sudah sejak lama menantikan penyihir mendatangi perkampungannya ini untuk membuka pintu ke dua.

Kira-kira seperti itu point yang dijelaskan kepala suku Bjarki kepada Ardian, Lina dan Lizbeth.

“Apa anda berkenan membantu kami?”, tanya kepala suku Bjarki kepada Liz.

Ardian memberi tanda agar Liz mau membantu mereka, akhirnya karena Ardian, Liz setuju namun mengajukan syarat, Liz mengajukan apapun nanti isinya maka hasilnya dibagi 50:50.

“Baiklah kalau begitu, silakan anda semua beristirahatkah di rumah ini, anggap saja rumah sendiri, besok pagi kita berangkat ke bukit untuk menengok pintu yang saya ceritakan tadi”, kata kepala suku Bjarki sambil menunjuk satu rumah.

“Terimakasih”, ucap Ardian.

Akhirnya Ardian masuk rumah tersebut bersama Lina dan Lizbeth sesekali mereka keluar berbaur dengan warga, lalu saat malam hari mereka tertidur pulas kecuali Liz karena ia memang tak membutuhkan tidur.

Sebelum tidur Ardian memberikan hadiah kepada Liz berupa tongkat sihir hitam hasil tempaan dari bahan yang sama dengan pisau milik tuannya membuat Liz sangat senang.

Pagi menjelang, berangkatlah Ardian, Lina, Lizbeth, Ngohweh dan kepala suku Bjarki menuju bukit.

Tak lupa ia membawa pisau barunya, sedangkan Liz membawa tongkat hadiah dari tuannya.

Sebenarnya Ardian ragu mengajak Lina karena bisa saja di dalam sana terdapat bahaya, namun ia juga takut meninggalkannya di perkampungan yang masih asing.

Setelah berjalan 10 menit menanjak akhirnya sampailah mereka di mulut gua yang dimaksud.

“Nghooooooarghh”, suara beruang penjaga dari dalam gua yang merasakan bau asing di sekitarnya.

Kepala suku Bjarki berniat hendak ke dalam gua untuk menenangkan si beruang yang mendadak agresif, sebelum kakinya melangkah, Lizbeth mengucap mantra yang bisa dimengerti hewan.

“Llie ira vena nuo essere emeso vien dal, emora”, ucap Liz.

Dengan ajaib beruang penjaga gua tersebut seketika jinak, Liz segera mendekat ke beruang dan mengelus bulu lembut dan hangat milik si beruang.

Seketika membuat kagum kepala suku Bjarki dengan kemampuan Lizbeth yang bisa dengan mudahnya akrab dengan hewan buas khas Bjarki.

Beruang tersebut melanjutkan tidurnya dengan tenang, sementara para rombongan masuk ke dalam lebih jauh.

Sampailah di mulut pintu pertama, pintu keterampilan.

Terlihat di sisi kiri pintu terdapat bahasa ancient elf dan ancient dwarf di samping pintunya menambah petunjuk bahwa tempat ini dibangun oleh kaum elf dan dwarf yang bersahabat baik kala itu.

Tulisan misterius tersebut diterjemahkan Lizbeth dengan lancar, isinya kurang lebih sebagai berikut:

GERBANG PERTAMA

Segel empat jalan

99 besi suci atau 99 besi terkutuk

Menempa atau pergi

Lengkapi atau mati

Gagal atau lanjutkan

Berani dan Terampil

Hanya itu petunjuk yang ada di dinding samping pintu pertama, yang kini pintunya sudah terbuka dan di pintu tersebut terdapat tempelan tempaan besi yang lengkap 99 biji berbagai ukuran diisi dengan perfect.

Semakin ke dalam semakin kental nuansa zaman batu.

Ardian dan Kepala suku Bjarki jalan di barisan depan, Lina dan Liz dibelakangnya, sedangkan Ngohweh berjaga di paling belakang sambil menikmati pemandangan bokong indah Lina dan Liz yang geal-geol karena berjalan.

Terlihat disamping kanan dan kiri mereka relief-relief tampak seperti di candi Borobudur hanya saja ukirannya menceritakan tentang bangsa kerdil dan bangsa elf yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari kala itu seperti mandi, mencari ikan, berburu, meramu dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Tak terasa Ardian dan Kepala suku Bjarki mengobrol panjang lebar akhirnya sampailah di pintu ke dua.

Sedikit berbeda dari pintu pertama, pintu ini tampilannya seperti pintu pertama namun di tengah pintu ini terdapat kristal merah sebesar bola voli.

Dengan lancar Liz kembali menerjemahkan tulisan di pintu ke dua.

GERBANG KE DUA

Segel empat jalan

Kekuatan besar atau sia-sia

pecahkan atau tinggalkan

fisik kuat atau sihir hebat

Bersabarlah

Perhatikan setiap langkahmu​

Dengan usaha keras Lizbeth mengerahkan seluruh mananya, namun masih saja belum terbuka.

Lalu muncul bisikan dari seseorang yang hanya Lizbeth yang mendengarnya, sedangkan orang lain tak menyadarinya termasuk Ardian.

“Lizbeth Dan D’Loli”, panggil bisikan misterius tersebut.

Apa yang terjadi?

Siapakah gerangan bisikan misterius itu berasal?

Bisakah kelompok mereka membuka gerbang ke dua dan melanjutkan eksplorasinya semakin jauh menuju piramida bawah tanah yang terbalik?

Bersambung . . .

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 12 | Mencoba Bertahan Hidup Part 12 – END

(Mencoba Bertahan Hidup Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 13)