Mencoba Bertahan Hidup Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25

Mencoba Bertahan Hidup Part 1

Start Mencoba Bertahan Hidup Part 1 | Mencoba Bertahan Hidup Part 1 Start

Survival​

“Ciiiiiiit . . .” suara rem mendadak yang berasal dari mobil bermerk Mercedez-Benz S600 Pullman Guard yang mengangkut orang nomor satu di Negeri ini.

“R6 . . . , K2 . . . , turun dari mobil, amankan wilayah depan, lebarkan jalan untuk lewat!” perintah dari Headquarters yang terdengar jelas melalui headset di telingaku.

“Copy!” jawabku dan R6 serentak, dengan sigap kami berdua turun dari mobil lalu berlari kecil ke arah depan rombongan.

“Mohon maaf ibu, tolong mundur sedikit . . .” ucapku sembari melemparkan senyuman mencoba untuk ramah terhadap ibu-ibu di pinggir jalan yang sedikit menghalangi perjalanan rombongan kami yang baru saja mengantar presiden untuk blusukan mengecek langsung harga sembako.

“Pak Presiden! Pak Presiden! Boleh minta foto?” teriakan dari salah satu ibu-ibu fanatik yang nekat menerobos hadangan polisi lokal di pintu masuk Pasar Minggu.

“R6! . . .” kataku memberi peringatan.

R6 mengangguk kecil pertanda bahwa ia tahu maksudku.

Dengan segera ia hadang ibu-ibu paruh baya berdaster yang tadi berlari ke arah kami sambil membawa handphone kesayangannya.

“Huh aman sudah akhirnya, wanita perkasa berkode R6 akhirnya bisa menghentikan ibu-ibu ekstrim zaman now itu.

Perkenalkan nama asliku adalah Rizky Ardian Putra, aku adalah seorang laki-laki berumur 23 tahun, orang-orang terdekatku biasa memanggilku dengan sebutan Ardian.

Tubuhku berperawakan seperti tubuh orang Indonesia pada umumnya, namun aku memiliki otot sekal diakibatkan aktifitas harianku yang lumayan berat.

Aku terlahir dari keluarga biasa saja dari ayahku yang bernama Edi Wibowo dan Ibuku bernama Susanti yang dahulu merupakan perantauan dari desa.

Arlina Dwi Saputri merupakan nama dari adikku tersayang, ia baru berumur 18 tahun yang kini tengah masuk kuliah kedokteran di semester pertamanya.

Bentuk tubuhnya langsing namun payudaranya sungguh terlihat sangat membusung dan bokongnya juga mulai membesar menandakan ia sedang mengalami masa puncak pubertasnya.

Kampus tempat adikku kuliah sangatlah dekat dari rumah kami, sehingga ia tak perlu repot-repot mengeluarkan biaya lebih untuk membayar kost maupun transportasi.

Dahulu waktu kecil aku bercita-cita menjadi tentara, terbukti dari kaos-kaos koleksi masa kecilku yang banyak bermotif loreng hijau-hitam.

Alhamdulillah, sangat bersyukur karena cita-cita masa kecilku itu dapat terwujud, tentu saja itu semua dapat tercapai karena kerja kerasku dan pastinya disertai do’a kedua orang tuaku.

Dalam keseharianku kini terpaksa harus memalsukan namaku karena sekarang aku merupakan salah satu pasukan elite rahasia di negeri ini.

Bahkan kami pun dilarang mengetahui informasi nama-nama asli dari sesama rekan kerja kami sendiri.

Dahulu aku merupakan anggota resmi dari Dentasemen Harimau atau disingkat Denharin, satuan ini merupakan satuan militer yang amat sangat rahasia.

Banyak sekali rekan seangkatanku dari Kopassus, Denjaka, dan Kopaska gagal mengikuti seleksi masuk satuanku ini.

Itu wajar saja karena satuan ini hanya membutuhkan prajurit dengan spesialisasi khusus contohnya seperti penembak jitu, penjinak bom, gerilya, pembunuh senyap, pembebasan sandera dan lainnya, itupun harus disertai dengan label “terbaik”.

Syukurlah, aku sudah berhenti menjadi pasukan “hantu” tersebut dan kini aku ditugaskan sebagai salah satu anggota pengawal presiden karena atasanku mengaku terkesan dengan prestasiku dalam gerilya dan pembebasan sandera.

Gerilya adalah perang yang dilakukan secara sembunyi sembunyi, penuh kecepatan, sabotase dalam grup kecil maupun individu, operasi ini biasanya dilakukan di hutan atau tempat sepi lainnya.

Sedangkan pembebasan sandera adalah operasi membebaskan warga sipil, atau aset penting dari tawanan musuh, termasuk kemampuan tawar-menawar di dalamnya.

K2 adalah kodeku di kelompok ini, kini tanggung jawabku jauh lebih berat karena harus melakukan pengawalan presiden di dalam area ring, mungkin orang-orang lebih mengenal kami sebagai Paspampres.

Masyarakat awam mungkin memandang kami terlihat sok keren dan konyol, puluhan orang berjas dan berkacamata berlalu lalang hanya megawal 1 orang.

Tentu saja kami melakukan hal itu bukan tanpa alasan, kami wajib melaksanakannya karena prioritas kami adalah melindungi presiden apapun yang terjadi.

Walaupun begitu orang-orang jarang mengetahui penderitaan yang telah kami lewati di seleksi pekerjaan ini sangatlah berat bagaikan neraka.

Latihan seperti survival di hutan, menyelam, menerbangkan helikopter dan pesawat dalam tekanan, disiksa fisik maupun psikologis adalah makanan sehari-hari bagi kami.

Pemanasan global dan banyaknya bencana yang diakibatkan pergeseran lempeng bumi menyebabkan kondisi bumi saat ini mulai tidak seimbang.

Hal itu dimanfaatkan negara adidaya untuk menyamarkan senjata bencana yang dibuatnya seolah-olah terlihat alami.

Hari ini kami mendapatkan informasi rahasia melalui kode sandi radio militer diberitakan oleh salah satu pasukan elite Russia bersumber dari intelijennya bahwa beberapa jam kedepan US akan menggunakan senjata HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program) yang merupakan aksi manipulasi bencana dan cuaca untuk memusnahkan negara-negara yang mereka anggap mengancam sekaligus dalam agenda pengurangan jumlah penduduk dunia (depopulasi).

Targetnya bukan hanya negara-negara timur tengah saja namun kali ini targetnya adalah negeri ini.

Kami menduga targetnya adalah kota-kota besar yang ada di Indonesia, dan kini presiden yang dikawal aku dan rekan-rekan satuanku sedang berada di Ibu kota otomatis kami harus melindungi dengan cara membawanya keluar ibu kota secepatnya.

Aku memang dahulu pernah disumpah walaupun apapun yang terjadi prioritas utama kami adalah melindungi presiden.

Namun dengan kondisi seperti ini aku bimbang dengan sumpahku, dengan terpaksa aku membelot menghianati presiden demi menyelamatkan keluargaku.

Ku lemparkan pistolku yang sebelumnya telah kubongkar, aku membuangnya begitu saja di tempat sampah.

Aku membuangnya karena memang sudah peraturannya setiap kami menembak obyek manusia harus meminta izin terlebih dahulu ke markas pusat (HQ) dan penembakan tanpa izin akan dianggap ilegal dan masuk kategori kasus pembunuhan.

Perlahan aku menyelinap menjauhi rombongan lalu dengan mobil militer aku bergegas menuju rumahku yang berada sekitar 3 km dari lokasiku sekarang.

“K2 ganti, K2 K2 respon”, suara alat canggih fasilitas negara di telingaku yang terhubung ke alat semacam telepon satelit yang sedang kubawa.

Kuabaikan suara tersebut lalu kucabut dari telingaku, kupacu mobilku secepat yang ku bisa lampu lalu lintas berwarna merah dan marka jalan pun sering aku abaikan, akhirnya setelah beberapa lama memacu kendaraan tersebut, sampailah aku di rumah.

Dengan langkah cepat aku melangkah menuju pintu gerbang rumahku, tiba-tiba terdengar suara seperti terompet dan terlihat pula aurora yang tidak wajar di langit.

Sepuluh detik kemudian gempa dengan kekuatan dahsyat menerjang tanah area kami, terpaksa aku harus berlindung di tanah lapang.

“Grrrrrrrrrr… Bruak… Bruak…”

Bangunan-bangunan disekitarku roboh terguncang dengan dahsyatnya tak terkecuali rumahku.

“Allahu Akbar! Ya Allah! Lindungi kami, selamatkan kami!” teriakan dari orang-orang berlarian bagai anai-anai yang tercerai berai menggambarkan betapa paniknya mereka.

Gempa tersebut memang hanya terjadi sebentar dalam waktu kurang dari satu menit, namun efek kehancuran yang ditimbulkannya begitu besar.

Setelah gempa berhenti aku bergegas menuju ke dalam rumah, ku dapati kedua orang tuaku tewas tertimpa tiang bangunan.

Aku merasa sangat sedih melihat kondisi kedua orang tuaku, namun entah kenapa mataku tidak bisa menangis.

Mungkin karena efek psikologisku sebagai prajurit militer menyebabkan air mata tak bisa mengalir lagi dari mataku.

Ku bergegas mencari adikku yang bernama Lina, kuharap dia selamat, sebentar kemudian kudengar jeritan minta tolong dari dalam kamarnya yang telah porak poranda.

“Hmmmmm Tolong… Tolong…”

Kusadari asal suara tersebut dari dalam lemari pakaian.

Syukurlah adikku nampaknya selamat karena dia sempat masuk lemari kayu saat gempa terjadi.

Ku angkat beberapa serpihan bangunan di atas lemari tersebut dengan kekuatanku.

“Bruak … Dug… Dug… Bruak… Brak…”

Dengan kakiku yang berlapis sepatu militer beralas besi, ku buka paksa lemari tersebut dari samping karena lemari tersebut dalam kondisi terguling.

Syukurlah dengan beberapa kali tendangan akhirnya terbuka juga.

“Mas Ardian”, jeritnya sambil memeluk tubuhku sesaat setelah keluar dari lemari pakaian.

“Ayo Lin, cepat kita keluar dari sini!” sambil ku memegang tangan kanannya menuntun keluar rumah.

Saat sampai ruang tengah, adikku sempat melihat ayah dan ibuku yang telah tewas bersimbah darah tertimpa tiang.

Tangisnya pecah seketika seperti jeritan, ketika menyadari kedua orang tua kami telah tiada.

Ku tutup kedua matanya dan menyeret agak paksa tubuhnya keluar rumah.

“Kita harus bergegas Lin”, kataku tegas.

Jalanan didepan kami kondisinya sangat kacau, dengan iringan jeritan dan tangisan dimana-mana sangat mengerikan.

Aku tak mungkin mengendarai mobil saat kondisi jalanan seperti ini, terpaksa ku ambil saja motor matic yang ada di sekitar rumah kami yang tergeletak akibat gempa tadi.

Dengan mengeluarkan sedikit keahlianku, aku melakukan otak atik kabel akhirnya motor tersebut dapat menyala.

“Brummmmmm . . .”

Terpaksa sekarang aku mencuri motor tetanggaku, padahal selama hidupku aku benar-benar belum pernah mencuri kecuali dahulu saat masih kecil pernah mencuri mangga itupun hanya satu kali.

Ku perintahkan Lina segera membonceng, dengan bergegas aku mengendarai motor matic ini melalui jalanan aspal yang retak-retak dan berserakan serpihan bangunan serta banyak kendaraan tergeletak begitu saja di jalanan.

Dalam kondisi seperti ini aku hanya memikirkan satu tujuan utamaku yaitu “bandara”.

Setelah melalui perjalanan yang amat sulit karena aspal rusak yang kami lewati, akhirnya sampailah aku dan adikku di bandara.

Ternyata dalam bandara ini juga tak kalah kacau.

Sebagian orang malah memanfaatkan kekacauan ini dengan melecehkan wanita.

Di sekitar bandara ini terdapat wanita cantik ditelanjangi dan di remas-remas masal oleh beberapa pria tanpa ada yang berani menghentikan mereka.

“Ampun . . . Lepaskan saya . . . Tolong!”

Jeritan wanita cantik yang nampak“High Class” tersebut seakan tak digubris laki-laki yang memperkosanya.

Di sudut lain juga terdapat wanita cantik dikerubuti banyak lelaki berbagai kalangan dan berbagai usia.

Dengan tanpa malu mereka menyetubuhi wanita cantik tersebut di publik secara bergantian dan kulihat tubuh wanita cantik tersebut penuh dengan sperma karena kuduga pasti sebelumnya wanita cantik tersebut telah disetubuhi banyak lelaki bejat selain mereka.

Walaupun aku melihat penderitaannya, aku mengurungkan niatku menolong wanita-wanita tersebut.

Kupegangi tangan adikku dengan erat agar tak terpisah dariku dan berakhir menjadi santapan orang-orang bejat seperti mereka.

Terlihat di landasan ada satu buah pesawat “Macan Air” sepertinya siap untuk terbang.

Orang-orang berebut masuk pesawat untuk meninggalkan tempat ini namun pilot hilang entah kemana, dugaanku mungkin pilot tewas tertimpa bangunan bandara saat dia istirahat.

Namun pintu pesawat masih dihadang oleh dua petugas berpistol.

Sedangkan aku tak memiliki pistol maupun senjata lainnya, hanya satu buah pisau tactical yang terselip di sepatuku karena desain sepatuku memang memiliki tempat pisau.

Ku tunjukkan identitasku kepada petugas bahwa aku adalah anggota militer dan aku juga sudah terlatih mengoperasikan pesawat komersil.

Akhirnya setelah mereka berunding, akhirnya aku dan adikku diperkenankan masuk.

Di dalam pesawat telah duduk penumpang resmi pesawat ini, mereka juga terlihat panik.

Bahkan beberapa orang bodoh malah mencoba keluar pesawat.

Akhirnya setelah kami menghubungi pihak penerbangan yang berada di Kalimantan melalui radio aku diberi kepercayaan untuk mengoperasikan pesawat, ku pegang erat adikku agar jangan sampai terpisah dariku saat berjalan ke kursi pilot.

Adikku ku dudukkan di kursi co-pilot, kulihat tangannya sedikit memerah karena tarikan tanganku tadi.

“Lin kamu tak apa?” tanyaku khawatir, namun ia hanya diam membisu.

Tatapan kosong tergambar jelas di wajahnya, ia sangat terlihat syok, mungkin masih tak percaya dengan apa yang menimpanya.

Sejenak kemudian terjadi keramaian di pintu pesawat, dari luar mereka berbondong-bondong berebut ingin masuk pesawat karena menurut berita sebentar lagi akan terjadi tsunami.

“Tsunami . . . Sebentar lagi Tsunami . . . Biarkan gue masuk!” suara teriakan mereka.

Entah darimana mereka mendapatkan berita itu padahal kutahu listrik mati dan sinyal hp pun buruk.

Untungnya aku masih berbekal handphone satelit dan kulihat di hp ku ternyata benar, pemerintah mengumumkan peringatan bahwa semua kota-kota besar mengalami gempa dan sebentar lagi berkemungkinan besar terjadi tsunami.

Pikiranku kalang kabut tak bisa berpikir jernih lagi, bergegas aku berniat menerbangkan pesawat ini dengan menarik tuas kendali pesawat, aku menerbangkannya tanpa memperhatikan prosedur keamanan entah pintu penumpang belakang masih terbuka atau tertutup.

Pesawat ini agak berat kurasakan, dugaanku pasti terlalu banyak penumpang ilegal yang masuk, dengan terpaksa kulanjutkan saja penerbangan ini.

Ternyata benar berita tersebut, satu menit kemudian kulihat dibawah kami tsunami mulai melanda.

Sejauh mata memandang, kami hanya melihat gelombang besar dan ombak-ombak keruh menyapu seluruh bangunan-bangunan ibu kota.

Tak bisa dihindari pasti banyak sekali korban manusia yang tewas karena bencana nasional ini.

Aku tersambung ke radio dan ku sebutkan tujuanku adalah bandara salah satu kota di Kalimantan dan mereka mengarahkan koordinatnya namun sejenak kemudian radio mati entah apa yang terjadi.

“Ssssssssssssss, halo? Halo? Ganti? Ganti?” panggilanku tak berbalas, namun tetap kulanjutkan tanpa ragu ke bandara tersebut.

Mengapa aku menghubungi bandara di pulau Kalimantan?

Tentu saja alasannya karena telah ku ketahui dalam sejarah, Kalimantan adalah pulau besar di Indonesia yang sangat jarang sekali mengalami bencana gempa, karena memang letaknya bukan tepat di ring of fire.

Ring of Fire adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. (wikipedia)

Namun naas tak terduga ketika kami sampai di bandara kalimantan, ternyata kota di sini juga terkena dampak tsunami dahsyat, pantas saja tadi operator radio bandara tak merespon.

Tak ada tempat yang layak dan aman bagi pesawat komersil ini mendarat.

Hari mulai gelap, dengan bahan bakar pesawat yang semakin menipis aku tak mungkin melanjutkan penerbanganku ke bandara negara lain karena keterbatasan bahan bakar.

Ku aktifkan auto pilot dengan masih terbang rendah, bergegas ku tinggalkan adikku sendirian dan aku ke belakang memerintahkan semua penumpang di kabin membuka koper mereka.

Kusadari ternyata penumpang gelap pesawat ini sangat banyak ada yang berdiri dan ada yang duduk berebut.

Aku pinjam kain, selimut, benda berbahan karet dari mereka tanpa ku menyebutkan tujuanku yang sebenarnya kepada mereka.

Dalam keadaan seperti ini aku harus sedikit licik agar aku dan adikku bisa selamat, semua benda berbahan karet, kain dan selimut tersebut ku bawa ke depan kulilitkan ke tubuhku dan adikku untuk antisipasi mengurangi efek dentuman nantinya ketika pesawat mengalami kontak dengan daratan.

Akhirnya dengan nekat aku mendaratkan pesawat ini ke hutan belantara agar mengurangi gesekan langsung dengan tanah.

“Sreeeeeeeeeek . . .”

Terdengar suara keras berasal dari gesekan badan pesawat ini dengan pepohonan.

Aku sangat yakin kedua sayap pesawat ini juga patah.

Seketika kupeluk adikku dengan erat, ketika kami terhenti tubuh berlilitkan selimut dan bahan karet kami menghantam tombol kontrol dan kaca depan pesawat.

Beruntunglah kami semua akhirnya berhasil mendarat, lalu ku buka selimut yang melilit adikku dan membawa tubuhnya keluar dari pesawat.

Syukurlah kami selamat tanpa ada luka gores sedikitpun.

Saat menengok ke kabin untuk mengecek, aku melihat kebanyakan dari penumpang tewas dan banyak juga yang mengalami luka berat.

Kali ini tak mungkin pihak Basarnas menolong kami karena kutahu hampir seluruh kota besar di negeri ini juga porak poranda.

Kami yang selamat akhirnya berkumpul dan merencanakan apa yang harus kami lakukan selanjutnya.

Kutaksir kami yang selamat hanya berjumlah sekitar 50 orang termasuk yang luka ringan dan luka berat.

Kami terdampar di hutan belantara, aku mengusulkan kepada mereka bahwa segeralah cari makanan atau bahan makanan yang tertinggal di pesawat sebelum pesawat meledak.

Akhirnya mereka setuju dan para laki-laki masuk mencari di setiap sudut ruangan, dengan terpaksa aku tinggalkan sejenak Lina di pepohonan yang tersembunyi.

Sambil mencari makanan, aku mengumpulkan beberapa alat yang mungkin akan berguna nantinya, ku ambil tas ransel, palu darurat, botol air mineral kosong, dan sebuah selimut.

Setelah beberapa menit, kami akhirnya dapat mengumpulkan beberapa makanan dari dalam pesawat kami membagikannya ke 50 orang dan mereka segera memakan jatahnya masing-masing karena kelaparan.

Semua orang memakannya kecuali punyaku dan adikku.

Roti jatahku ku dan adikku ku bungkus plastik dan memasukkannya ke tas ranselku, lalu kami mulai menjauh dari mereka.

“Bledddooouummmm! . . .”

Suara keras saat pesawat meledak di bagian tengahnya, api menyala raksasa membuat sekitar kami bagai disinari flash photo.

Untung saja kami sudah keluar dari dalam pesawat tersebut, kalau tidak, entah daging kami jadi apa.

Bau wangi daging bakar tercium semerbak, tentu saja semua orang sudah tahu darimana asalnya.

Ku bawa adikku menjauh dari keramaian karena takut ada proyektil yang meloncat dari ledakan pesawat.

Namun sejenak kemudian aku mendengar sesuatu yang mengagetkanku.

“Dor… dor… dor…”, suara beberapa tembakan dilepaskan.

Kulihat dua orang petugas berpistol tadi menembak sambil berbincang entah apa yang dibicarakan mereka.

Kupandang dari kejauhan ternyata beberapa orang cacat dan terluka dibunuh oleh petugas.

Kini hanya tersisa 30 orang sehat, sejenak kemudian juga terdangar kembali suara pistol.

“dor… dor… dor…” tiga kali tembakan kembali terdengar.

Kulihat lagi, ternyata dengan kejamnya petugas tersebut juga membunuh manusia sehat, yaitu wanita-wanita paruh baya yang kurang menarik dan kini hanya menyisakan wanita-wanita cantik berjumlah 5 orang saja, yang didalamnya termasuk 2 orang pramugari Macan Air yang cantik.

Kucermati jumlah mereka dengan seksama dari kegelapan terdapat 15 pria dan 5 wanita cantik.

Kuharap mereka tak menyadari diriku dan adikku, kami cermati lagi dari kejauhan para lelaki mengeluarkan batang kelaminnya masing-masing dan mulai merobek paksa pakaian pramugari dan menelanjangi wanita-wanita muda lainnya.

“Bret . . .”

“Ampun! . . .” suara pilu mereka sampai terdengar.

Tiga penumpang wanita dan dua pramugari kini dalam keadaan telanjang dan para pria bejat tersebut bersekongkol mulai menyetubuhi para wanita secara bergantian (orgy).

5 wanita tersebut di genjot secara kasar oleh 15 pria, hanya terdengar jeritan-jeritan minta ampun dari para wanita tersebut namun tak digubris.

Malah orang yang kini sedang mendapat giliran menggenjotnya semakin kasar dan nafsu menyetubuhi gadis di depannya masing-masing karena mendapatkan rangsangan jeritan kesakitan nan merdu dari korbannya.

Menyadari hal tabu itu, adikku otomatis menjerit.

“Aaaaaaammm” jeritnya tertahan karena mulutnya langsung aku bungkam.

Salah satu dari mereka menyadari keberadaan kami yang bersembunyi di kegelapan dan melepaskan beberapa tembakan, salah satu petugas bandara tersebut sambil telanjang memegang pistol ditangannya berjalan menuju ke arah kami sambil menembak acak.

“Dor… Dor… Dor…”

Beruntung peluru-peluru itu tak ada yang mengenai kami.

Bergegas ku membawa adikku masuk lebih jauh ke dalam gelapnya hutan.

Dengan berbekal pengetahuanku dan pelatihanku sebelumnya aku berfokus mencari sumber air.

Tubuhku memang masih sehat dan bugar karena staminaku terlatih, namun tidak dengan adikku, dia terlihat sudah kelelahan dan tiba-tiba jatuh pingsan, kumaklumi karena dia sejatinya adalah seorang wanita biasa dan bukan dari kalangan militer.

Terpaksa ku gendong adikku yang lemas pingsan itu, di kegelapan tetap kuyakinkan langkahku berjalan terus ke utara.

Sambil mataku mengawasi ke kanan ke kiri diantara kegelapan waspada jikalau ada serangan mendadak dari hewan buas.

Lama berjalan hingga esok hari pun menjelang, rasa panas mata ini terasa karena dari kemarin aku belum tidur.

Beruntungnya kami, kutemukan gua kecil yang di dalamnya ada sungai bawah tanah.

Ku letakkan dengan hati-hati tubuh adikku yang entah tertidur atau pingsan ini, setelah kusenderkan di batu, kuperhatikan tubuhnya sangat basah karena keringatnya sendiri berlari bersamaku tadi malam.

Dan baru kusadari ternyata dia hanya mengenakan tanktop kekinian yang berbahan tipis dengan satu tali tanktop dan tali BHnya melorot ke lengan kanannya dengan bawahan hotpants, memamerkan payudara besarnya yang menyembul hanya sebelah dan tentu saja juga memamerkan paha mulusnya karena hotpants tersebut benar-benar sangat mini bahkan tertutup tanktop.

Sehingga ketika ia berdiri akan terlihat seakan tidak memakai celana.

“Gulp . . .” aku menelan ludah.

Sebelumnya aku tak pernah berpikiran negatif terhadap adikku ini, namun hari ini entah kenapa aku sangat nafsu dengan wanita muda di depanku ini yang tak lain adalah adik kandungku sendiri.

Mungkin ada yang salah dengan diriku, bisa-bisanya aku nafsu pada adik kandungku sendiri, kuurungkan niatku karena walau bagaimanapun aku sadar dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa, kemudian aku naikkan kembali tali BHnya yang melorot kembali ke tempat seharusnya.

“Lin . . . Lin . . . Bangun! . . .”

Kubangunkan dengan lembut adikku yang sedang terbaring, saat tersadar dia mulai menitikan air mata kembali dan memelukku.

“Kakak . . .!”

Pelukannya benar-benar membuat jantungku berdebar, dalam hatiku berkata tak mungkin aku mencintai adikku sendiri, tak mungkin aku nafsu pada adikku sendiri.

Ku lepaskan secara perlahan pelukan tubuhnya sebelum nafsuku menjadi bertambah liar, kualihkan konsentrasiku dengan meninggalkan adikku di mulut gua, sementara aku masuk makin dalam ke gua itu dan minum dari aliran sungainya.

“Gluk . . .Gluk . . . Gluk . . .”

Sungguh sangat segar kurasakan di tenggorokanku ketika air sungai jernih ini kuteguk.

Tak sabar aku melucuti seluruh pakaianku untuk kemudian mandi di aliran sungai bawah tanah yang cukup deras ini.

“Ahhh segarnya . . .” gumamku bersyukur.

Lelah penat seperti hilang sejenak tergantikan dengan kesegaran menjalar di seluruh tubuhku.

Tinggi aliran sungai ini hanya setinggi lututku namun alirannya agak deras membuatku harus lebih hati-hati agar tidak tergelincir.

Beberapa menit berlalu aku asyik mandi, dari instingku kusadari ada yang mengawasiku dari belakang.

Kusiapkan pisauku, dan segera menoleh waspada.

Dan benar ketika kulihat ke belakang ada secerca bayangan, setelah ku amati ternyata itu adalah adikku yang sedang berdiri mematung tak berkedip melihat tubuh atletisku basah dan tersinari sedikit cahaya dari atap gua.

Lalu setelah sejenak kami bertatap-tatapan canggung akhirnya dia berbicara kepadaku memecah keheningan.

“Kak aku haus . . .”, ujarnya.

“Emm yasudah, minum air dari sungai bagian atas Lin yang masih fresh, jangan minum sungai bagian bawah karena sudah bekas mandiku”, ucapku menimpalinya sambil melempar pisauku ke samping.

“Aku minum yang ini aja kak yang deket, tangan kananku sakit soalnya, slurppppp . . . gulp gluk gluk”, suara air diminum.

Lina tanpa risih mengambil air aliran bawah bekas mandiku dengan tangan kirinya.

Aku menyuruhnya sekalian membersihkan diri dengan mandi air di sungai bawah tanah ini.

“Aku nggak bisa kak, tangan kananku sakit” ujarnya.

“Tanganmu sakit kenapa lin?” tanyaku kepadanya.

“Kemarin tangan kananku terkilir saat ditarik kakak di bandara” jawabnya sambil cemberut.

“Tolong bantu mandikan Lina kak”, ucapnya sedikit malu.

“Oh ternyata kamu terkilir karena kakak, maafin kakak ya lin, yasudah sini ku bantuin buka bajumu”, ucapku sambil gemetar.

Lalu adikku ikut turun ke aliran sungai dan mendekatiku, memegangi tubuh telanjangku dengan tangan kirinya agar tidak terpeleset.

Dalam hidupku aku biasa menghadapi rintangan dan tantangan militer seberat apapun, aku tak pernah gemetar, baru kali ini tubuhku rasanya gemetar hendak melucuti pakaian adikku sendiri.

“Angkat kedua tanganmu ke atas Lin, kakak pegangi perutmu biar nggak kepleset” ucapku.

Adikku hanya diam menuruti apa yang aku perintahkan dengan mengangkat kedua tangannya.

Sambil dag dig dug ku pegangi perut bagian kirinya, ku buka tanktop basah dan BH yang menempel di tubuhnya.

Terlihatlah di depanku toket besar menantang kencang ranum dengan puting pink mencuat agak ke atas, ini merupakan payudara yang pertama kali kulihat secara langsung dalam hidupku karena selama ini aku benar-benar masih perjaka.

Seketika kontolku menegang maksimal disuguhi pemandangan indah di depanku ini, namun aku agak berjongkok menyembunyikannya di air agar Lina tak menyadarinya.

“Kalau begini aku tak tahan . . .!” batinku bergejolak.

Tanpa sadar tanganku mengarah memegangi pinggang kanan dan kirinya lalu kuberanikan diriku mengecup bibir manisnya.

“Cuppp”, suara kecupan bibirku ke bibir manisnya.

“Kakak? . . .Apa yang kakak lakukan?”

“Lina, kakak sayang kamu. . .” ucapku sambil masih mengecupinya.

Ia berontak sedikit, lalu mengatakan.

“Ini dosa kak . . ., kita ini sedarah . . ., tak seharusnya melakukan hal seperti ini . . .” lanjutnya.

Tanpa memperdulikan perkataannya aku makin liar mengecupinya, walaupun kecupanku sembarangan karena masih pemula dalam hal ini, namun kulakukan ciuman mesra itu secara terus menerus sebisaku.

Terlihat semakin lama tak ada penolakan dari adikku saat kuciumi bibirnya dengan mesra.

Sesekali dia hanya memanggilku dengan agak mendesah manja.

“Kak hmsh cuppp aahhhhh”, desahnya sampai akhirnya ciuman kami semakin liar.

Kumainkan lidahnya dan adikku ini juga terlihat nafasnya semakin memburu karena nafsu.

Aku raba seluruh badannya, ku remas payudaranya yang membusung menantang menunjukkan sedikit urat-urat hijau tipis terlihat karena saking putih toketnya.

Ku pindahkan kecupanku hingga turun ke toket ranum adikku, ku ciumi dan ku sedot-sedot dengan buas putingnya. Sesekali kujilati aerolanya yang merah muda kecoklatan menyebabkan adikku mendesah lebih keras.

“Akkkhhhssssshh geli kak ennaaaaakk aaahhh”, kata-kata adikku terbata-bata karena desahannya.

Matahari makin naik, menyebabkan cahayanya yang terang masuk ke goa ini semakin banyak melalui celah-celah kecil, sebagian cahayanya menyinari tubuh kami berdua.

Kini aku bisa semakin jelas melihat bentuk dan detail buah dada putih bersih menantang dihadapanku ini, sebagiannya agak memerah karena sesekali aku berikan cupangan.

Kubuka hotpantnnya yang basah beserta cangcut putih berenda motif bunga-bunga berenda, aku mulai membelai vaginanya yang ternyata masih gundul tanpa jembut.

Aku raba pelan dengan tanganku namun kali ini adikku seperti tersadar lalu keberatan.

“Kalau ini jangan kak, aku masih perawan”, katanya sambil menepis tanganku.

Tanpa peduli aku berjongkok kemudian dengan lidahku ku jilati vaginanya yang sempit berupa satu garis lurus itu.

Dengan bernafsu ku maju mundurkan lidahku sesekali ku jilati pula klitorisnya.

Setelah beberapa kali kujilati liar akhirnya vaginanya mulai merekah, ku pakai tangan kanan dan kiriku untuk menarik kulit sekitar vaginanya ke kanan dan kiri untuk sedikit melebarkan lubangnya.

Setelah itu kembali ku jilati dengan liar, lalu beberapa menit kemudian “ahhhhhh ahhhshh ahhhss enakkk kakk ahhhhhhhhh”, adikku lina malah menekan vaginanya semakin masuk ke mulutku dan dengan tangan kirinya memegangi rambut kepala belakangku semakin menekannya dan “ahhhhhhhhh” jeritnya mengalami orgasme pertama dalam hidupnya.

“Surrrr . . .surrr . . . surrrr . . .”

Terpaksa ku telan habis seluruh cairan madu yang dikeluarkannya tanpa tersisa sedikit pun, ku sedot-sedot sampai benar-benar bersih, kemudian dia ambruk.

Untunglah tubuh telanjangnya ambruk bukan di bebatuan namun di genangan air, sehingga kepalanya aman.

“Byurrrr”, suara tubuh mulusnya jatuh ke air.

Aku pegangi kedua punggungnya kanan kiri dari depan sehingga tanganku menyentuh ketiaknya, ku tuntun dia berdiri perlahan.

“Ahsshhhh kak enak banget”, sambil mengecup bibirku kembali dan memelukku erat.

Saat dia memelukku dia menyadari kontolku yang menegang maksimal.

“emm ini punya kakak kok masih tegang kak?”, tanya Lina dengan polosnya.

“Lin tolong bantu kakak pakai mulut kamu biar punya kakak bisa tidur”, ujarku sambil mengecupnya.

Betapa senang hatiku tiba-tiba dia berjongkok, lalu dia menyiapkan mulutnya tepat di hadapan kepala penisku yang mengacung mengarah ke bibir manisnya.

Lalu adikku lina memulai berusaha melakukan oral kepada penisku walaupun susah, karena bibirnya sangat mungil sedangkan kontolku terlampau besar dan ngacung maksimal menunjukkan urat-urat khas kontol lelaki perkasa.

Saat kepala penisku masuk ke mulut adikku, dia mulai mengoceh tak jelas.

“Hmmnngggaammmaaattttkkkk (nggak muat kak)”, kata-katanya tak jelas ketika kepala penisku masuk ke mulutnya.

Ku pegangi kepala bagian belakang adikku Lina kemudian aku mulai memaju mundurkan kontolku dan blessshh akhirnya setelah beberapa lama kumaju mundurkan masuklah setengah penisku ke dalam mulut mungilnya.

“Bloakhbloakh ennnnhhkk kkkag? (enak kak?)”, tanyanya sambil sorot matanya ke arah atas memperhatikan mataku.

Tanpa menjawabnya kumaju mundurkan lagi hingga sesekali ku tusuk mentok ke tenggorokannya menahannya sampai tangan adikku menepuk-nepuk pahaku karena kehabisan nafas.

Lalu kulepaskan kontolku dari mulut mungilnya seketika dia terbatuk.

“uhuk uhuk uhuk kak aku nggak bisa nafabloaaakkkkh”, belum selesai kalimatnya ku tusukkan lagi ke mulutnya dan dengan semakin cepat ku maju mundurkan ke mulut becek adikku, kurasakan ada yang akan keluar dari dalam tubuhku.

Kupercepat menghujam mulut adikku, saat spermaku hendak keluar ku hentakkan mentok ke tenggorokannya.

“Crot . . . crot . . . crot. . .”

Deposit sperma perjakaku yang sangat banyak terpaksa Lina telan agar dia bisa bernafas.

Kembali tangannya menepuk-nepuk pahaku karena kehabisan nafas.

Lalu ku keluarkan kontolku dari mulutnya.

Tak terlihat sedikitpun sperma menetes dari mulutnya karena tadi aku mengeluarkannya langsung ke tenggorokan adikku, otomatis semuanya tertelan habis.

“Makasih ya dek”, kataku puas.

Dengan lemas wajahnya memerah dia menjawab, “iya kak sama-sama”, lalu dengan tubuh lemasnya bangkit memelukku.

“Aku juga sayang kakak”, kata-kata lina adik kandungku tersebut meluluhkan hatiku.

Membuat rasa cintaku kepadanya semakin dalam.

Kucuci semua baju kami yang lusuh karena tanah dan keringat, menjemurnya, setelah kering kami memakainya kembali.

Kami berdua kemudian tertidur dengan posisi aku memeluk tubuh sintal adikku.

Setelah itu kami terbangun, makan roti yang kukumpulkan semalam.

Aku dan adikku masing-masing memakan roti kira-kira hanya sebesar 2 jari yang dirapatkan karena kami tahu kami harus pintar memanajemen makanan untuk bisa bertahan di dalam hutan rimba seperti ini.

Untuk sementara kami memutuskan untuk tinggal di gua ini.

Sampai tak terasa sudah satu hari satu malam kami menetap dan tidur di gua ini, stok roti kami pun mulai menipis.

Muncul ideku untuk mencari makanan tambahan, aku keluar mencari buah dan berry hutan.

“Kamu tunggu sini ya Lin, kakak mau keluar sebentar memeriksa keadaan dan mencari makanan tambahan!” ucapku membujuknya untuk tetap tinggal di sini untuk sementara.

“Tapi aku takut sendirian kak!” rengeknya.

“Tenang saja tak ada hewan buas saat malam hari . . .”lanjutku.

“Baiklah, tapi kakak jangan lama-lama . . .” ucapnya manja.

Lalu berangkatlah aku sendirian mengawasi sekitar dan mencari beberapa makanan tambahan untuk kami gunakan untuk bertahan hidup.

Saat siang hari aku sedang perjalanan pulang ke gua sehabis mencari berry hutan dengan meninggalkan adikku sendirian di dalam gua, tiba-tiba kulihat dari kejauhan ada dua orang menjelajah tempat ini.

Secepat mungkin aku tiarap kemudian kucermati keadaan, kusadari dia adalah petugas bandara yang kemarin dengan satu rekannya terlihat seperti warga biasa.

Tak ku sangka ternyata kelompok orang-orang bejat tersebut memiliki pencari jejak yang cukup handal.

Dan target yang mereka incar tak lain adalah membunuhku dan menjadikan tubuh mulus adikku sebagai budak sex mereka seperti halnya ke lima wanita cantik kemarin malam.

“Ini gawat . . .” batinku.

Mereka berdua kemari pasti karena mereka menyadari kami kabur malam itu dan mengamati jejak kaki yang kami tinggalkan.

Walaupun aku adalah mantan pasukan militer terbaik di negeri ini jika pertarungan di siang hari dan di alam terbuka seperti sekarang ini aku jelas kalah telak karena salah satu dari mereka memiliki pistol.

Aku harus pulang ke gua secepat mungkin mendahului mereka tanpa menarik perhatian kedua orang itu.

Yang bisa ku lakukan sekarang hanyalah kabur dan prioritas utamaku adalah menyelamatkan Lina.

Aku harap aku bisa lebih dulu mencapai gua jauh sebelum mereka tiba kesana.

Bersambung

END – Mencoba Bertahan Hidup Part 1 | Mencoba Bertahan Hidup Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(Mencoba Bertahan Hidup Part 2)