Love Never Takes Sides Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 21

Kenanglah

Satu bulan sudah aku dan Dina berada di kampung halamanku. Kini saatnya untuk kami kembali ke Jakarta. Karna 3 hari lagi aku akan wisuda. Setelah wisuda aku berencana melamar Dina lalu menikahinya.

Vika ? entah apa yang akan kubicarakan padanya bila bertemu dengannya. Bagaimana aku menyampaikan kabar jika aku dan Dina akan segera menikah. Jujur saja aku masih mencintai Vika, tapi aku tidak bisa mengambang di tengah-tengah terus. Aku harus mengambil keputusan sebelum semuanya telat.

Biarlah Vika membenciku dengan seluruh kebencian yang ada di dunia ini. Aku memang bodoh telah terlibat dalam situasi yang rumit, walaupun aku juga tidak terlalu nyaman dengan kisah cintaku. Semoga saja situasinya nanti tidak seperti yang aku bayangkan saat ini.

Tiga hari kemudian

Kunyalakan stater mobil Dina, aku dan Dina sudah bersiap di dalam mobil. Walaupun Dina belum lulus tetapi dia menjadi tamu undangan aku, karna aku sudah tidak memiliki orang tua jadi siapa lagi yang mau aku undang untuk menghadiri wisudaku. Ribet sekali ternyata nyetir saat menggunakan Toga seperti ini. Sedangkan Dina menggunakan batik berwarna putih dipadu dengan rok batik hijau tua selutut.

” Din, besok kita sama nyokap lo jenguk bokap lo yuk. Sekalian gw mau ngomong sama ortu lo tentang niat gw ”

” Eh beneran Dra ”

” Masa gw bohong sih ”

” Aduh kok gw jadi grogi Dra ”

” Yang mau ngomong kan gw, lo mah diem aja. Kenapa lo yang grogi ”

” Iya sih, tapi jantung gw nih berdegup kenceng banget. Eh klo kita udah nikah gw mau tinggal di kampung lo Dra ”

” Berarti lo musti buru-buru selesaiin kuliah lo. Lo lulus baru kita nikah ”

” Lama amat Dra, mulai nyusun skripsi aja gw belum ”

” Semangat donk, kan mau nikah ”

” Klo kita nikah, kita bakal tinggal di kampung lo kan, terus gw bantu usaha lo. Gk ada hubungannya sama jurusan hukum yang gw ambil Dra ”

” Adalah hubungannya, klo suatu saat usaha gw udah berbadan hukum, gw perlu seorang pengacara. Dan lo yang akan jadi pengacaranya ”

” Oh iya bener juga. Oke deh kasih waktu gw enam bulan, gw akan selesaikan kuliah gw ”

” Serius nih Cuma enam bulan ”

” Yoiii. Eh Dra, lo pengen punya anak berapa nanti ”

” Hmmmm dua puluh ”

” Eh gila lo, bisa jebol meki gw ngelahirin dua puluh orok ”

” He he he kasian gw ya klo meki lo jebol ”

” Nah tuh lo ngerti. Eh Dra kan lo lulus nih, terus gw kan masih enam bulan lagi target lulusnya. Nah lo mau gimana ”

” Balik ke kampung lagi lah, lagian sewa kos gw tinggal dua bulan lagi ”

” Bete donk gw. Mending lo tetep di Jakarta, kan di kampung adik-adik lo yang ngurus usaha lo ”

” Gw bete klo enam bulan gk ada kegiatan ”

” Lo cari kerja aja di Jakarta ”

” Jiaahhh males ah, ntar dah gw pikirin kegiatan apa yang enak klo gw di Jakarta setelah lulus ”

***

Disebuah gedung yang luas, gedung serba guna di kampusku, yang memang biasa untuk kegiatan wisuda dan acara lainnya. Gedung yang memiliki empat pintu tanpa satupun jendela, dilengkapi dengan AC sentral sebagai menyejuk ruangan. Semua wisudawan dan wisudawati telah berbaris rapi, di belakang mereka nampak tamu undangan duduk menyaksikan prosesi wisuda putra-putrinya. Suasana yang penuh kegembiraan terpancar dari wajah setiap orang yang ada di dalam gedung itu.

Termasuk Vika yang berada tepat disampingku. Entah kapan dia berada di sampingku karna sejak sampai kampus, baru aku lihat dia sekarang. Dia nampak cantik dengan pakaian toga yang berpadu dengan rok batik coklat semata kaki. Ada rasa rindu dihati saat melihat kehadirannya di sampingku.

” Hai Vik ”

” Eh Dra, kok baru keliatan ”

” Mana oleh-olehnya nih Vik ”

” Bodo ah, gw kan lagi marah sama lo ” Vika tiba-tiba ketus denganku. Belum apa-apa sudah marah, apalagi nanti saat dia mengetahuinya.

” Marah kenapa sih Vik ”

” Lo tuh gk ada kabar selama di kampung ”

” Maklum lah, kan kampung gw kampung banget. Gk ada sinyal gw ” ucapku memberi alasan.

Sang rektor sudah berada di atas mimbar untuk memberi kata sambutan. Dengan suara yang berat khas orang tua yang terserang penyakit panu stadium 15, sang rektor mulai berkata-kata. Lebih baik rektor itu berbicara sendiri saja, karna sepertinya tidak ada yang memperhatikan sama sekali. Setiap orang sibuk dengan bisik-bisiknya, suara bisik-bisik yang tertutup dengan suara rektor yang menggunakan pengeras suara.

” Bruaaak, drededededed ” suara dobrakan dilanjutkan dengan tembakan senapan ke arah langit-langit gedung. Nampak puluhan orang tak dikenal dengan menenteng senapan berjenis AK 47, memasuki ruangan melalui keempat pintu, lalu keempat pintu itu dijaga ketat. Hingga tak ada yang dapat keluar. Suasana menjadi panik, ada yang berteriak, ada yang berlarian kesana kemari.

” Semuanya jangan ribut jika tidak ada yang ingin mati ” teriak salah seorang dari mereka. Lalu satu persatu dari kami digeledah dan diambil semua alat komunikasinya.

Sepertinya mereka adalah anggota sebuah gerakan separatis, atau bisa dibilang teroris. Entah apa maksud kedatangan mereka disini. Mereka menjadikan kami semua sebagai sandra, kami semua dikumpulkan di pojok ruangan, lalu salah seorang dari mereka mengambil foto kami. Mungkin untuk meminta tebusan, tapi meminta tebusan kepada siapa, pasti ini bukanlah masalah uang.

Setelah itu mereka merantai setiap pintu pada bagian gagang pintunya. Kecuali satu pintu yang tidak mereka rantai, dan di pintu itulah mereka semua keluar. Entah apa yang mereka rencanakan. Semua berjalan sangat dingin, wajah-wajah ketakutan terpancar disetiap sandra.

” Dra itu pasti senjatanya palsu kan ” ucap Vika yang berada di sebelahku berbisik padaku.

” Bisa jadi tuh mber, kayak si Rudi waktu itu ” bisik Dina yang juga berada di sampingku.

” Dari suaranya aja ketahuan klo itu terbuat dari besi, pasti senjatanya asli. Klo lo berdua mau buktiin, minta aja supaya mereka nembak lo ” ucapku santai

” Klo senjatanya asli. KENAPA LO MALAH ASIK MAIN PES ” omel Vika

” Sejak kapan tuh tas beserta laptop lo ada disini sih ” oceh Dina tak kalah dengan Vika. Aku memang menyembunyikan tasku dibalik pakaian toga yang kukenakan, entah kenapa teroris melewatkanku saat menggeledah. Tadinya untuk hiburan saat kata-kata sambutan dari berbagai petinggi kampus, tapi sekarang berubah.

” Tinggal lima pertandingan lagi nih, gw musti menangin semua biar bisa juara liga Inggris, piala FA dan liga Champion. Trebble winner gitu deh ”

” Serius sedikit napa jadi sandra ” omel Vika kembali.

” Nama gw Andra bukan Sandra ”

” Sudahlah mber, klo dia mau seperti itu biarin aja. Mungkin ini cita-cita dia sebelum mati ” ucap Dina.

” Pada berisik nih, jadi gk konsen gw ” ucapku lalu menyudahi permainanku.

Aku berjalan santai menuju pintu keluar yang tidak dirantai oleh para teroris itu. Setelah sampai di depan pintu, aku buka pintu itu dengan cepat. Dan satu orang teroris masuk dengan senjatanya.

” Pletek ” aku yang berada di belakang pintu, langsung kupatahkan leher. Dan orang itu jatuh tersungkur, kulihat suasana luar sepertinya hanya dia yang berjaga di depan pintu. Aku melihat dikejauhan para teroris sedang berjaga-jaga di setiap sudut kampus. Segera kututup kembali pintunya.

Kugoyangkan tubuh orang itu tapi tidak ada gerakan sama sekali. Jangan-jangan mati nih, mungkin saja karna lehernya patah.

” Tidaaaakkkkkkkk aku telah menjadi pembunuh, aku seorang pembunuh. Artis gagal mode on ” ucapku menirukan akting Rudi.

” SERIUSSS SEDIKIT ” teriak para hadirin

” Biar gk tegang bro ” ucapku santai.

Aku mulai menggeledah tubuh teroris itu. Aku menemukan sebuah handy talky, 5 buah magazen peluru dan ponsel. Yup ini dia yang kucari, segera kuhubungi polisi untuk meminta bantuan.

” Selamat siang, kantor polisi disini. Ada yang bisa saya bantu ” ucap seseorang disebrang telepon.

” Pak saya salah seorang sandra di kampus UGD ( Universitas Gajah Duduk ) ”

” Yang benar kamu, saat ini memang ada berita tentang penyandraan disana. Dan para penyandra tidak menyebutkan apa yang mereka mau ”

” Serius saya pak, anda bisa sadap dimana lokasi saya berada jika anda tidak percaya. Saya sudah berhasil melumpuhkan salah satunya dan mengambil alat komunikasi yang ada padanya. Mereka berjumlah sekitar lima puluhan orang ”

” Lalu bagaimana kondisinya disana ”

” Beritahu para polisi agar jangan ragu untuk melakukan serangan, saya bisa menggunakan senjata. Akan saya lindungi para sandra sampai polisi datang menyelamatkannya ”

” Berapa orang yang akan melindungi sandra sebelum polisi datang ”

” Hanya saya sendiri ”

” Jangan ngawur kamu, satu orang melawan lima puluh orang ”

” Sudahlah anda percaya saja pada saya, sudah tidak ada waktu lagi. Jangan berbicara hal-hal yang membosankan terus, semakin anda tak percaya semakin sedikit peluang kami selamat ”

” Baiklah, semoga berhasil ” ucap polisi itu mengakhiri percakapan kami.

Kulepas pakaian togaku. Dengan hanya menggunakan kemeja putih dan celana hitam, aku mulai mengalungkan senjata pada punggungku. Dan menyimpan beberapa amunisi pada tasku. Bapakku melarangku pakai baju warna putih, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada persiapan sebelumnya.

” Hei anak muda ” ucap sang rektor dengan suara beratnya.

” Hmmm ”

” Sudahlah tak perlu kau mempertaruhkan nyawa untuk kami. Aku sudah tua, jika aku mati sekarang aku rela ” ucap rektor tersebut coba menahanku.

” Heh, kakek sekarat, anda pikir disini isinya kakek-kakek semua. Disini juga masih banyak anak muda, jalan mereka masih panjang. Bahkan diantara mereka ada yang belum merasakan bagaimana rasanya berciuman dengan lawan jenis ” ucapku ketus.

” Sudahlah jangan berbuat nekat, biarkan saja melakukan apa yang teroris itu mau. Klo tebusannya sesuai juga kita akan selamat. Pasti pihak pemerintah telah bernegosiasi dengan mereka ” ucap salah seorang dosen.

” Bukan uang yang mereka inginkan, klo saja uang pasti mereka sudah mengancam kita disini. Pasti diantara kita ada orang yang kaya, hampir semua malah. Klo mereka ingin uang pasti sudah menyuruh kita untuk menyiapkan dana. Tapi mereka malah menjadikan kita sandra, dan kata polisi yang tadi ditelpon, para teroris tidak menyebutkan apa keinginan mereka. Bisa saja ini adalah sebuah teror untuk negri ini ”

” Pemerintah pasti sedang melakukan negosiasi. Saat negosiasi dipandang akan berhasil, lalu teroris membunuh kita semua. Pasti itu akan membuat kekacauan yang besar. Para teroris berhasil menunjukkan seberapa menakutkannya teror mereka. Walaupun setelah membunuh kita, mereka juga akan dibunuh oleh polisi karna jumlah mereka yang sedikit ”

” Tapi dengan begitu, ini akan menjadi sebuah ancaman untuk negri ini, karna mereka pasti mempunyai anggota yang lebih banyak lagi. Akan terjadi kepanikan luar biasa di negri ini bila itu terjadi. Mereka akan mengirim kelompok-kelompok kecil untuk melakukan hal yang sama ”

” Coba kalian bayangkan jika misi mereka berhasil, setiap orang di negri ini pasti dilanda ketakutan yang luar biasa. Orang akan sangat takut bila keluar rumah, saat kondisi seperti itu akan timbul caos, krisis ekonomi dan kerusuhan pasti tidak akan bisa dihindari lagi ”

” Saat kerusuhan terjadi diberbagai penjuru negri, maka kemanan akan difokuskan pada kerusuhan itu. Dan akan mempermudah teroris melakukan rencana besarnya. Mengambil alih kendali atas negri ini ”

” Klo kita membiarkan teroris mengendalikan rencananya dengan mudah, sudah dapat dipastikan nasib kita. Paling tidak harus gangguan kecil dari kita, dengan begitu waktu antara negosiasi sampai saat membunuh kita dapat diulur. Sehingga pihak kepolisian dapat mudah bergerak tanpa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kita ”

” Dari mana lo tau yang kayak gitu Dra ” tanya Adi heran

” Waktu itu gw pernah main game tentang memburu teroris. Gw lupa nama gamenya, yang jelas tuh ceritanya kayak gitu dah persis ” ucapku.

” Ini dunia nyata anak muda ” ucap Adi lemas

” Berapa peluang kita bisa selamat seandainya kamu melakukan perlawanan ” tanya seorang dosen

” Klo dilihat dari jumlah mereka dan dari cara mereka memegang senjata, dipastikan mereka adalah orang yang profesional. Peluang kita selamat sekitar 0,1 persen ” jawabku

” Kecil sekali. Lalu peluang kita bisa selamat jika kita diam saja menunggu pertolongan polisi ”

” 0,1 persen ”

” Klo sama aja ngapain kamu melawan ” omel sang dosen kesal dengan jawabanku.

” Lebih baik mati karna mencoba sesuatu, daripada mati karna tak pernah mencoba sesuatu. Selama peluangnya belum 0 persen, walau Cuma 0,1 persen aku akan tetap berusaha ” ucapku tegas.

” Lagi pula, aku punya dendam pribadi terhadap teroris ” sambungku kembali. Aku jadi teringat kembali bagaimana bapakku meninggal.

” Dor…dor….dor….dor ” suara baku tembak terdengar dari luar ruangan. Sepertinya polisi sudah mulai bergerak, pasti akan ada anggota teroris yang masuk ke ruangan ini.

” Braak…braaakk..braaak dor dor dor dor ” suara dobrakan dilanjutkan dengan tembakan kearah pintu. Pasti kesulitan membuka pintu karna pintu sudah kutahan dengan bangku-bangku.

Dengan duduk di bangku lurus dengan posisi pintu yang sedang coba didobrak teroris. Aku mulai membidikkan senapan ke arah pintu. ” Duaarrr ” tembakanku tepat mengenai kepala teroris itu ketika berhasil membuka sedikit pintu.

” Duaar ” untuk kedua kali tembakanku tepat mengenai anggota teroris lainnya yang coba memasuki ruangan. Mereka teroris melakukan kesalahan kecil, merantai ketiga pintu masuk dari dalam, sedangkan mereka yang memegang kunci berada di luar ruangan.

Ini membuat mereka Cuma punya akses satu pintu saja untuk masuk, dan ini membuatku lebih mudah dalam bertahan. Sebanyak apapun mereka pasti tidak akan bisa serentak masuk ke dalam ruangan. Pintu-pintu ruangan ini terbuat dari kayu jati yang tebal, ditambah dengan kursi-kursi yang menahan disetiap pintunya, jadi tidak mudah untuk menjebol ketiga pintu yang dirantai. Keculai mereka memiliki bom, tapi kuperhatikan tidak ada dari mereka yang membawa bom atau granat.

Walaupun begitu jika dibredel senapan terus menerus pasti akan jebol, paling tidak ini dapat mengulur waktu sampai polisi berhasil melumpuhkan semua teroris yang ada.

” Duar….duar……..duar ” rentetan tembakan menghantam pintu, membuatku terpaksa bersembunyi dibalik mimbar. Sepertinya ada beberapa yang coba masuk, beberapa kali aku juga coba melakukan serangan. Sialnya peluruku juga sudah menipis, aku semakin terpojok. Para teroris mulai membabi buta menembaki keempat pintu masuk.

Orang-orang yang berada dalam ruangan semakin terjepit menghindari rentetan peluru dari arah pintu. Tapi beberapa saat kemudian tembakan-tembakan ke arah pintu sudah tidak ada, walaupun terdengar suara tembakan. Pasti mereka sedang terjepit oleh polisi.

” Brrrruuuuaaakkkk ” suara hantaman pintu didobrak oleh seorang bertubuh tinggi besar, berhasil masuk lalu memberondong senjatanya. Aku tak mau kalah, kuberondong juga dia dengan senjataku.

Dia bersembunyi dibalik kursi-kursi menghindari tembakanku, begitupun aku dan orang-orang juga bersembunyi. Sialan peluruku habis, aku harus tenang. Berusaha mendekat dan menjatuhkan senjatanya dan bertarung tangan kosong dengannya.

” Kau kehabisan peluru anak muda ” teriak teroris itu. Bagaimana dia bisa tau klo aku kehabisan peluru, sial aku harus cepat melumpuhkannya.

” Aku juga sama ” ucap teroris itu kembali dan keluar dari persembunyiannya. Aku juga keluar dari persembunyianku.

Aku berlari menujunya, hendak menyerangnya. Begitupun dia juga berlari kearahku ” Duar ” suara tembakan tepat mengenai kakinya dan membuatnya jatuh tersungkur. Terlihat beberapa anggota polisi. Akhirnya selesai juga drama penyandraan ini.

Aku duduk menyandarkan tubuhku pada sebuah tembok, kulihat polisi mulai memborgol teroris itu dihadapanku. Terlihat matanya yang sangat tajam melihatku.

” Kau hebat anak muda, mampu membuat rencana kami berantakan ” ucap teroris itu saat diseret oleh polisi.

” Traaang ” teroris itu berhasil memutuskan borgol yang membelenggu tangannya. Secepat kilat dia mulai mengambil pistol yang ada di pinggang polisi.

” Apa kau bisa melindungi temanmu ” teriak teroris itu mengarahkan pistol kearah Vika yang ada di sebelahku. Tidakkkk. Secepatnya aku memagari Vika dengan tubuhku membelakangi tubuh Vika. Kupejamkan mataku untuk menerima rentetan peluru yang segera menembus dagingku.

” Duar….duar…duar….duar….duar ” terdengar jelas suara tembakan yang memekakan telingaku. Ah mengapa tidak ada rasa sakit, apa aku sudah mati dan berada di dunia lain. Tidak aku tidak merasa sakit sama sekali, aku masih ada di dunia nyata. Kucoba buka kedua mataku.

” D…..d….. Dina ” tepat berada dihadapanku, Wajah Dina nampak jelas menatapku dan ambruk di pelukanku. Terdengar berat suara nafasnya. Kulihat teroris itu sudah jatuh bersimbah darah di kepalanya, dan seorang anggota polisi mengarahkan pistol kearah teroris itu.

” Darah ” kulihat tanganku yang baru saja menyentuh punggung Dina, sepertinya teroris itu sempat menembakkan pelurunya sebelum polisi menembaknya. Dan Dina yang menjadi pagar hidupku.

” Lo harus segera di tolong, siapa aja cepat beri Dina pertolongan ” teriakku kepada seluruh orang yang berada disini.

” Gk perlu Dra, gw tau kapan waktu gw sendiri ” ucap Dina sebelum semua orang memberinya pertolongan.

” Kenapa Din ”

” Emang lo doang yang boleh bersikap keren. Gw juga boleh kan ” ucap Dina lirih, suaranya sudah semakin melemah. Begitu pula dengan tubuhnya semakin lemah berada dipelukanku.

” Kan lo pernah bilang klo lo gk akan mati meninggalkan gw. Masih inget gak sih lo ” ucapku lirih, air mataku jatuh teruarai membasahi pipiku.

” Ya, jika tidak ada pahlawan kelaparan seperti lo, gw gk akan berkeinginan untuk hidup. Lo tau kan gimana keluarga gw ”

” Lo kan udah berjanji sama gw tentang kebahagian lo ”

” Gw udah menemukan kebahagian gw kok, saat gw menjadi calon istri lo. Waktu lo bilang ‘ menikahlah denganku adinda Dina ‘ oh itu saat paling bahagia di hidup gw. Baru waktu itu gw merasa sebahagia itu. Jadi gk salahkan klo gw memberikan hidup gw untuk seseorang yang telah membuat gw bahagia ”

” Oh iya, klo nanti lo pulang kampung. Tolong sampaikan salam gw buat Alex, entah kenapa tiba-tiba gw jadi inget peliharaan mesum lo itu. Bilang ke dia klo udah gk ada orang yang ngerantai dia lagi, jadi gk usah takut. Sampaikan maaf gw pada Joko, maaf karna gw seenaknya memerintah dia. Untuk Surti, bilangin ya maaf klo gw belum bisa sepenuhnya mempraktekkan semua ajarannya. Dan terakhir untuk semua adik-adik lo, terima kasih telah menerima gw sebagai bagian dari keluarga kalian ”

” Mereka semua sangat menyukai lo kok Din, gk perlu minta maaf ” ucapku semakin lirih, air mata ini tak dapat lagi kubendung.

” Si IT sember, ah tidak maksud gw Vika. Walaupun kami selalu bertengkar, tapi kami sebenernya adalah dua sahabat baik. Kami memiliki beberapa kesamaan, sama-sama menyayangi lo salah satunya. Dan dia satu-satunya wanita yang gw percaya untuk mendampingi lo. Dia pinter masak kok, jadi gw gk perlu khawatir klo lo bakal kelaparan ”

” Oh iya Dra, gw belum pernah dengar lo bilang klo lo cinta sama gw. Apa lo cinta sama gw ? ”

” Ya gw cinta sama lo, gw cinta banget Din sama lo ”

” Terima kasih, telah mencintai gw ” kata-kata terakhir Dina mengiringi kepergiannya untuk selama-lamanya.

” DINAAAAAAAAA ” teriakku sekeras-kerasnya, seolah memanggil kembali roh Dina yang telah terbang tinggi merangkai awan, menembus langit agar kembali masuk ke dalam jasadnya. Aku benar-benar tak percaya dengan kejadian ini. Teriakanku terus menerus menggema di ruangan ini, mengiringi air mataku yang tak berhenti mengalir deras.

Hantaman jarum-jarum takdir ini begitu menyakitkan saat menembus jantungku. Takdir Tuhan, sekeras apapun aku mencoba aku tak akan mampu mengalahkan takdir. Tapi kenapa takdir ini terasa begitu menyesakkan dadaku, takdir mengambil ibuku saat aku sangat butuh belai kasih sayang seorang ibu. Takdir mengambil bapakku saat aku sangat butuh bimbingan seorang bapak. Dan kini takdir pula yang mengambil Dina saat aku sangat butuh cinta darinya.

Semua harapanku telah musnah, harapan untuk menyatukan cintaku dan cintanya telah hancur. Kepingan-kepingan memoriku bersamanya terus-menerus menghujam dikepalaku. Memori yang membuatku semakin hancur bila mengingatnya. Seluruh tinta emas yang mengisi lembaran kenanganku menjadi tak ada gunanya, aku hanya bisa mengenang keindahannya saja.

***

Langit cerah siang hari, mengiringi pemakaman Dina, nampak burung-burung berkicau hinggap di dahan-dahan pepohonan sekitar area pemakaman umum. Semua pelayat mengenakan pakaian serba hitam, kontras dengan apa yang kugunakan. Justru aku mengenakan pakaian serba putih, ya putih adalah warna kesukaan Dina. Walaupun Dina tidak pernah memberitahuku, tapi dapat terlihat dari pakaian yang sering dia gunakan dan barang-barang yang ia miliki.

Aku hanya terdiam memandangi jasadnya yang mulai dikebumikan. Mengiringi kepergiannya, makhluk indah itu kini telah kembali ketempat asalnya di khayangan sana. Mungkinkah dia akan bercerita kepada teman-temannya disana tentang kehidupannya di bumi saat bersamaku.

Dina. Pertemuan kita dipenuhi dengan ketidak sengajaan, tapi kenapa perpisahan kita kau malah sengaja melakukannya. Andai kau tidak bersikeras meminta agar aku mengundangmu diacara wisuda, mungkin ini semua tak akan terjadi. Aku disini selalu mengenangmu Dina, saatku tatap langit cerah aku harap kau berikan senyum termanismu dari atas sana.

” Dra ” ucap Vika memanggilku dari arah belakang.

” Vik ” kuberbalik menghadapnya, memandangnya. Terlihat rona kesedihan pada wajahnya

” Gw denger semua yang diucapkan Dina disaat terakhirnya. Seperti yang dia bilang kami adalah sahabat. Sabar ya Dra, gw juga sangat kehilangan musuh sekaligus sahabat buat gw ” ucap Vika memelukku, mencoba menenangkanku dari kesedihan tak berujung ini.

” Vik ” kulepaskan pelukannya, kugenggam erat tangannya dan kutatap matanya dalam-dalam.

” Jujur gw cinta sama kalian berdua. Gw juga cinta lo Vik, walaupun akhirnya gw memilih Dina tapi rasa cinta ini masih sama untuk kalian berdua ”

” Gw juga masih cinta sama lo Dra, gw harap lo bisa bangkit dari semua ini. Dan gw akan bantu lo untuk itu semua ” ucap Vika

” Kota ini terlalu menyakitkan buat gw Vik, gw akan kembali ke kampung halaman gw untuk merangkai kepingan hati gw yang hancur. Setelah itu gw akan kembali lagi kesini dan menemui lo Vik. Saat itu tiba gw akan merealisasikan cinta kita berdua Vik. Tapi gw gk tau saat itu kapan akan tiba ”

” Dra, gw ngerti kok sama perasaan lo saat ini. Semoga saja gw bisa nunggu lo sampai kembali kesini ”

” Gw pastikan gw akan kembali lagi, walau waktunya gk bisa gw pastikan. Dan gw pastikan saat itu tiba hati gw masih tetap untuk lo. Jika lo saat itu lo masih sabar menunggu gw, maka kita jodoh. Tapi jika ada pria lain yang bisa masuk ke hati lo, gw iklhas kok ” ucapku

” Mungkin saat ini cinta tak pernah memihak kepada kita, tapi saat nanti gw yakin cinta akan memihak pada kita. Semoga gw bisa menunggu lo ” ucap Vika.

Kulepaskan genggaman tanganku, lalu kupergi meninggalkannya beserta orang-orang yang datang menghadiri pemakaman Dina. Aku tak kuat terlalu lama berada di pemakaman Dina, rasanya begitu menyakitkan untukku. Dina, semoga kau tenang di alam sana.

Aku tak bisa tinggal di kota ini untuk beberapa saat. Kejadian yang kualami membuatku tak sanggup untuk menginjakkan kakiku disini. Maaf Vik, aku sudah memastikan perasaanku, dan aku pasti datang menemuimu nanti. Jodoh atau tidaknya kita kamu sendiri yang tentukan.

Bisa kau lihat luka menyala di mataku
Dan kau tahu betapa keras karang menghantam hatiku
Kau layak mendapat yang jauh lebih baik
Biar kugantikan tempatmu di alam sana
Dan aku takkan pernah mengecam
Semua takdirmu bagi hidupku

Aku tak bisa membuatmu bersedih
Aku tak bisa mendustaimu
Aku tak bisa mencegahmu
Ke tempat dimana kau berasal

Kau takkan pernah bertanya kenapa
Hatiku begitu tersamar
Aku tak bisa lagi berbohong
Lebih baik kulukai diriku sendiri
Daripada harus membuatmu pergi

Tak ada lagi yang perlu dikatakan selain selamat tinggal
Kau layak mendapat tempat terindah di khayangan
Aku tak yakin aku layak mendapatkan pengorbananmu
Kehilanganmu sangat menyakitkan bagiku​

……………………………………………T..A..M..A..T……………………………………………