Love Never Takes Sides Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 20

Taman Diandra

Hmmmmm, suasana pagi hari di kampung halamanku begitu kusuka. Udara pagi disini dapat membersihkan jantungku. Kabut pekatnya dapat mendamaikan pandanganku. Suara binatang-binatang yang mulai sibuk mencari berkah di bumi menenangkan pendengaranku.

” Diunjuk kang mas Andra ” ucap lembut seorang wanita, menghidangkan segelas teh hangat di meja hadapanku. Oh lembut sekali suaranya, bagai lenting getaran senar kecapi, yang merambat hingga menggetarkan jantung ini. Segera kunikmati teh hangat yang terhidang, sebelum gema suara lembut itu hilang dari pendengaranku.

” Dina !!!!!! ” terkejut sekaget-kagetnya, hingga teh yang ada di mulutku berhamburan keluar. Betapa jantung ini sangat ingin terlepas dari kedudukannya, ketika kulihat Dina berpenampilan sangat berbeda. Dengan balutan kebaya putih dipadu rok batik semata kaki berwarna biru tua. Oh mahkotanya pun berubah, rambut hitam legam, terurai lurus dan bergelombang di ujungnya, tanpa sebuah aksesoris.

Apakah ini perwujudan dari makhluk peranakan, hasil kawin silang antara malaikat dan bidadari. Iblis paling hina sekalipun, akan tobat apabila melihat makhluk seindah ini. Bahkan hewan paling buas sekalipun, akan jinak bila tersentuh oleh kelembutan auranya.

” Kok bengong gitu toh kang mas ” ucap Dina tersenyum manis menatapku, menarik sebuah kursi di sampingku lalu mendudukinya.

Ada apa ini, darahku serasa beku, bahkan panas pada inti matahari, tidak akan mampu mencairkan darahku. Menerima kehadiran makhluk dari khayangan yang sudi turun ke bumi, hanya untuk mengantarkan secangkir air surga.

” D….Din ” ah tiba-tiba saja aku jadi gugup, pandanganku jadi tertunduk, tidak mampu menatap lebih lama indah binar matanya.

” Iya kang mas ” ohh suara lembut itu kembali menusuk telingaku. Meresap ke bilik-bilik jantungku, dan memompa darahku lebih kuat lagi.

” L..lo k…k….kesurupan a..a…apa ” sangat sulit bertutur kata dihadapannya saat ini.

” Lo tuh ya, ngapain sih ngomongin kesurupan. Udah tau gw parno sama hal-hal seperti ini. Ngerusak suasana aja sih. Lo kira gampang apa bersikap dan berpenampilan seperti ini. Susah payah gw ngelakuinnya tauuuuuu ” omelan Dina terus-menerus berserakan keluar dari mulutnya. Huft akhirnya Dina kembali ke wujud aslinya, hampir saja aku mati melihat perubahan sikapnya.

” Yaaahhh mbak Dina ndak bisa bertahan lama nih ” oceh Surti dari dalam rumah, lalu menuju teras tempat kami berdua duduk.

” Abis mas lo ini ngeselin ”

” Itu wajar nanya kayak gitu. Soalnya kan mba Dina berubah total, jadi orang yang ngeliatnya pasti heran ”

” Berarti harus ekstra sabar donk ngeladenin pertanyaan-pertanyaan nyinyir kayak gitu ”

” Iya mba, yo wis ayo aku ajarin lagi, biar mba Dina lebih dan lebih lagi ” ajak Surti seraya menuntun Dina memasuki rumah kembali.

” Pelan-pelan Sur, gw ribet nih jalan pake rok kayak gini ” ucap Dina terpelanting-pelanting dituntun Surti.

Walau hanya sekejap, Dina benar-benar menampakkan sesosok makhluk yang benar-benar indah. Apa Tuhan telah menciptakan makhluk baru bernama Dina ?. Semua pelukis terhebatpun akan menjadi pecundang karna tak dapat melukis keindahannya, dan tak akan mampu menangkap cahanyanya.

***

Suatu siang di halaman rumahku. Suasana yang tenang, kulihat Dina sedang asik bersama adik-adik perempuanku termasuk Surti di dalamnya. Mungkin dia sedang diberikan pelajaran kembali. Dina nampak antusias mendengarkan ocehan adik-adikku. Apa yang sedang mereka rencanakan kira-kira. Apa akan ada kejutan lagi untukku.

Kuberjalan menghampiri Dina yang sangat ayu dengan penampilan barunya ” Din jalan-jalan yuk ” ajakku.

” Ndak ah kang mas, besok-besok aja kan masih lama kita disini ” ucap Dina, sial lembut sekali suaranya membuat nadiku semakin sempit untuk mengalirkan darahku, hingga sandi-sandiku lemas.

” Bagus mba Dina ” bisik Surti. Ini dia biang keroknya.

” Mbak Dina pesenanmu udah datang tuh ” teriak Joko dari depan gerbang rumahku. Dan nampak sebuah truk yang memuat kaca-kaca tebal berhenti tempat di depan gerbang.

” Iya Jok, masukin aja semua barangnya ” sahut Dina.

Dua orang yang berada di truk mulai menurunkan kaca-kaca itu, dan diletakkan di salah satu sudut halaman. Banyak sekali kaca yang dipesan Dina, beserta engsel-engselnya, besi-besi lainnya dan juga ada beberapa lampu yang besar. Dengan ukuran luas kaca yang berbeda-beda, Dina mulai menghitung satu persatu.

” Oke semua sudah lengkap ” ucap Dina ketika selesai menghitung kaca pesanannya. Terlihat sangat bersemangat sekali nampaknya.

” Ini mbak tagihannya ” ucap supir truk itu seraya memberikan secarik kertas kepada Dina.

” Oh iya pak, sebentar ya ” sahut Dina.

” Joko, bayar ini, abis itu kumpulin pasukan, kita mau kerja bakti ” ucap Dina menyerahkan kertas itu kepada Joko.

” Siap mbak, aku ambil dulu duitnya ” dengan penuh semangat Joko menerima kertas itu dan berbalik hendak menuju ke dalam rumah.

” Heh Jok, sejak kapan kamu keluarin duit tanpa persetujuanku ” protesku.

” Ah mas Andra gimana sih. Mba Dina kan calon istri mas, berarti sekarang dia kepala keuangan disini. Setiap pengeluaran dengan persetujuan mba Dina sudah cukup ” ucap Joko menjelaskan, terlihat Dina bertolak pinggang seraya manggut-manggut membenarkan ucapan Joko.

” Ribet amat sih lo Dra ” ucap Dina

” SALAH ” teriak Surti dari pendopo.

” Eh, maksudku. Ndak apa-apa toh kang mas Andra, sekali-sekali ” ucap Dina merevisi ucapannya yang tadi.

Ah mulai lagi kesurupannya. Tapi yang seperti ini yang membuatku menjadi tak kuat berlama-lama di dekatnya. Sial kenapa aku jadi canggung begini. Gema suaranya yang lembut tapi telak menusuk kejantungku. Oh makhluk khayangan ini mulai lagi membekukan darahku.

Saat aku terdiam dan terpaku pada pijakanku, Dina pergi menghampiri adik-adikku yang telah berkumpul. Entah apa yang akan mereka kerjakan. Sebidang bagian halaman rumahku ditutupi oleh lembaran-lembaran triplek, hingga aku tak tau apa yang mereka kerjakan di dalam dengan kaca-kaca itu.

Hanya terdengar suara-suara gemuruh seperti tukang yang sedang membangun sesuatu. Adik-adikku yang perempuan juga nampak menyiapkan makan dan minum untuk mereka yang sedang kerja bakti itu. Ah sudahlah lebih baik aku masuk kerumah dan menuju ruang kerjaku.

Ruang kerja yang sudah lama tak kutempati, hmmm selalu rapi pasti adik-adikku selalu merapikannya. Kududuk dikursi yang terbuat dari kayu jati, dengan dudukan serta sandaran dilapisi busa tebal. Terdapat satu unit komputer di sisi kiri meja, lengkap dengan printer. Kupandangi sekeliling ruangan, di sebelah kanan meja terdapat dua buah lemari. Satu lemari untuk arsip dan satu lagi untuk pajangan. Di tembok depan mejaku terdapat dua buah lukisan Ibu dan Bapakku.

Bapak, Ibu sedang apa kalian disana. Hmmm aku bawa gadis cantik ke desa, kuperkenalkan dia kepada warga dan adik-adikku sebagai calon istriku. Ya walaupun itu hanya sebuah alasan belaka agar tak terjadi ocehan, tapi aku mencintai dia. Jika kalian melihatnya tolong berikan pendapat untuk anakmu ini ya. Karna anakmu ini sekarang lagi bingung, ada satu wanita lain yang sedang berada nun jauh disana juga aku cintai.

Tapi sepertinya kalian sreg sama yang saat ini berada disini. Pagi hari aku dikejutkan oleh sebuah penampakan yang sangat indah. Binar matanya itu lho, begitu menyilaukan, andai saja aku tak buru-buru menunduk, sudah dapat dipastikan aku akan buta. Dan suaranya itu, ah sial jika keingat oleh suaranya serasa tubuh ini dicengkram erat hingga tak bisa bergerak.

Bahkan seorang kahlil gibranpun, pasti langsung membakar habis semua syairnya bila melihat makhluk seindah itu. Karna tidak ada satupun syair yang mampu mengungkapkan keindahan makhluk itu.

Dina namanya, makhluk indah dari khayangan yang sedari tadi kuceritakan. Bagaimana, apa kalian suka ?. Oh iya nanti aku akan bawa ke makam kalian untuk membuktikan segala ucapanku barusan.

” Mas ” ucap Joko membuyarkan lamunanku. Membawa sebuah file besar.

” Iya Jok ”

” Ini rekap keuangan selama 4 tahun ” ucap Joko meletakkan file itu di mejaku.

” Oh, ini yang kamu kirim lewat email ya ”

” Iya Mas ”

” Aku sudah baca, taruh saja di lemari arsip ”

” Oke mas ” ucap Joko, seraya menaruh file itu ke dalam lemari arsip.

” Jok ”

” Iya ”

” Kalian di doktrin apa sama Dina, kok jadi nurut gitu ” tanyaku.

” Mba Dina kan calon istrinya mas Andra, jadi kita musti nurut lah ”

” Menurut kamu dia gimana Jok ”

Dengan antusias Joko mengambil duduk di kursi depan mejaku ” Gimana ya mas. Hhhmm asik aja orangnya, lucu juga sih. Apalagi waktu diajarin Surti supaya lebih anggun ”

” Terus kalian bikin apa tuh di halaman ” tanyaku penasaran

” Oh tidak bisa klo itu. Kata mba Dina ndak boleh bilang-bilang sama mas Andra ”

” Heh, kok kalian jadi nurutnya sama Dina sih dibanding sama aku ”

” Udah ya mas, mba Dina nyuruh aku ndak boleh lama-lama perginya. Masih banyak kerjaan nih di halaman ”

Sialan, sekarang Dina sudah mulai mengambil alih kendali atas adik-adikku. Tapi tidak apa-apalah, aku senang dia cepat akrab dengan suasana disini. Liatkan Pak, Bu. Wanita itu dengan cepat mengambil hati adik-adikku. Aku yakin jika kalian masih ada, makhluk indah itu pasti juga dengan mudah mengambil hati kalian.

***

Tiga hari sudah Dina dan adik-adikku melakukan pekerjaan yang tak dapat kusaksikan. Aku mulai menebak-nebak apa yang sedang dibangun oleh mereka.

Saatku keluar rumah, kulihat triplek yang menutupi aktivitas mereka sudah tidak ada. Dan wow indah sekali, terdapat rumah kaca yang di dalamnya ditumbuhi berbagai tumbuhan dan bunga yang indah. Kulangkahkan kaki menuju tempat itu, walau terhalang oleh kaca tetapi harumnya dapat kucium dari luar.

” Bagus tidak kang mas tamannya ” suara lembut itu kembali bergema di telingaku.

” Yuk masuk kang mas ” tarik Dina, menuntunku masuk ke dalam rumah kaca itu.

Ah indah sekali, taman yang digelari rerumputan hijau, dengan jalan berbatu kolar setapak yang membelah rumput menjadi berpetak-petak. Tumbuhan dengan batang meliuk setinggi satu meter lebih, berdiri disetiap petaknya. Dikelilingi bunga-bunga yang berwarna warni. Dan ada beberapa lampu ditiap sudutnya.

Ouh apa ini, sebuah tumbuhan yang dibuat sedemikian rupa hingga membentuk seperti dua ekor angsa yang sedang berhadapan membentuk hati. Dan juga ada sebuah bangku taman dengan sandaran jeruji besi yang ditumbuhi tumbuhan berjalar. Di depan bangku taman terdapat sebuah kolam dengan air mancur di tengahnya.

Kami duduk di bangku taman, seluruh tubuhku menjadi dingin berada di samping Dina. Digenggam telapak tanganku, Dina menatapku begitu dalam, tatapan yang tak biasanya.

” Hah capek gw Dra klo mesti ngomong begini ” akhirnya Dina menghentikan siksaannya padaku. Ucapannya kembali seperti semula. Huft aliran darahku telah normal, detak jantungku sudah kembali seperti semula.

” Lagian apa sih yang Surti ajarin ke lo ” tanyaku.

” Kata dia, sebagai calon istri lo, gw harus berpenampilan yang ayu dan berkata yang lembut ” hei hei hei calon istri kan hanya sebagai pengalihan isu saja, kenapa dibuat serius olehnya.

” Eh ngomong-ngomong, bagus banget taman yang lo buat ini Din, tapi kok pake rumah kaca segala ya ”

” Oh iya donk. Gw buat di dalem rumah kaca soalnya kan disini tuh sering hujan, udah gitu jarang ada sinar matahari. Tumbuhan seperti ini gk baik klo kena air terus, lo liat tuh di rumput ada penyemprot air otomatis, setiap 6 jam air bakal kesemprot ke seluruh taman, nah gw kasih lampu-lampu gede tuh buat pemanas tumbuhan saat matahari jarang muncul, kaca juga bagus buat lebih menghangatkan tumbuhan ”

” Ternyata lo hebat juga ya menghias taman ”

” Iya donk ”

” Nama taman ini apa ? ” tanyaku. Dina berfikir sejenak sebelum meneruskan kata-katanya.

” TAMAN DIANDRA ” ucap Dina penuh semangat.

” Wow nama yang bagus ”

” Yup, artinya taman Dina And Andra ”

Kupererat genggaman tangannya, kutatap wajah cantiknya. Wajah yang telah menerbangkanku menuju sebuah keindahan. Mungkin disana tempat dia berasal, ya disanalah khayangan itu. Dan taman ini adalah perwujudan khayangan yang ada di bumi.

” Gw cinta sama lo Dra ” ah kata-kata yang terlontar dari kedua bibir manisnya, terasa begitu manis dari seluruh pemanis yang ada di dunia ini. Bunga-bungapun ikut tersenyum mendengar kicau manis dari sang makhluk seindah Dina.

Kupandangi wajah indahnya, kutatap dalam-dalam binar matanya ” Menikahlah denganku adinda Dina ” ucapku dengan segenap hati, segenap perasaan.

Dina hanya terdiam, bibirnya bergetar. Binar matanya semakin terang. Dapat kurasakan deru nafasnya yang semakin berat. Suhu tangannya yang lebut turun drastis, lebih dingin dari salju, lebih lembut dari sutra.

” Dra…. ” peluk erat Dina yang tak dapat meneruskan ucapannya. Tubuhnya bergetar hebat, terdengar lirih isak tangisnya.

” Seandainya gw diberi kesempatan untuk hidup sebanyak lima kali. Gw akan tinggal di lima benua yang berbeda, merasakan lima kuliner yang berbeda, menjalani lima profesi yang berbeda, dan lima kali mencintai orang yang sama ” ucap Dina disela tangis haru kebahagian yang tengah menyelimutinya.

Saksikanlah wahai bunga-bunga indah, yang berjajar rapi menghiasi rerumputan hijau, yang memberi harum di bumi ini. Saksikanlah janji indah kedua pasang makhluk ini, yang satu manusia dan yang satunya adalah sebuah keindahan tak terucap, maha karya sang pencipta tak terbanding.

Oh mawar, anggrek ataupun dahlia. Manakah diantara kalian yang lebih indah, yang cocok untuk menggambarkan keindahan cintanya untukku ini. Aku yakin bunga-bunga disini akan layu jika bersanding dengan rasa yang diberikan oleh Dina untukku. Layu karna merasa tak lebih indah dari rasa itu.

***

Disebuah pemakaman umum, tepatnya di depan makam ibuku. Aku dan Dina berziarah, aku memang tidak pernah melihat wajah ibuku secara langsung, hanya lewat foto yang aku bisa lihat. Tapi kasih sayangnya selalu terasa olehku.

” Hai Tante, eh anda kan calon mertua saya, ralat deh. Hai Bu, salam kenal ya. Nama saya Dina, sebagai calon istri kang mas Andra, saya mau nanya nih. Ibu waktu hamil Andra ngidam apa sih, kok dia ngeselin gitu sih ?. Tukang ngabisin makanan, sering berbuat seenaknya. Hmmm seandainya Ibu masih ada, saya ingin berbicara banyak hal. Tentang pakaian apa yang nanti saya pakai saat pernikahan, dekorasi, hmmm apa lagi ya. Pokoknya banyak deh ” Dina terus menerus berbicara seolah Ibuku ada dihadapannya. Terlihat linangan air mata turun ke pipinya. Setelah selesai berbicara nampak Dina merapal tangannya menengadah ke langit. Entah doa apa yang dia panjatkan kepada Tuhan untuk Ibuku.

” Makam bokap lo dimana Dra ” ucap Dina setelah selesai berdoa.

” Gk jauh dari makam nyokap gw kok ” ucapku seraya mengulurkan tangan hendak menuntun Dina menuju makam bapakku.

Kami berjalan menelusuri makam-makam dari penduduk desa. Hanya beberapa orang terlihat yang sedang berziarah. Tidak seperti makam di Jakarta yang selalu ramai, bahkan menjadi objek wisata. Makam disini ramai hanya hari-hari besar saja, dimana warga menziarahi makam kerabatnya.

” Nih makam bokap gw Din ” ucapku

Dina hanya memandangi makam bapakku saja, terdiam selama beberapa saat. Setelah itu barulah ia mulai memanjatkan doa untuk bapakku. Entah apa yang ada dipikirannya saat melihat makam bapakku.

” Lo kok Cuma diam aja Din ” tanyaku saat Dina selesai berdoa.

” Gw gk punya kata-kata untuk bapak lo. Bahkan setelah meninggalpun, aura keberanian seorang tentara masih terpancar di makamnya ”

” Sudah, pulang yuk Din ” ajakku.

***

Temarang malam di bawah sinar bulan purnama, merambat melalui celah kayu merasuk ke dalam ruang. Ruang yang terisi sepasang tubuh tak berbalut benang, dalam kesunyian malam, hati kami meyakinkan hasrat untuk mengukir indah kebersamaan abadi.

Gemerlap indah raga seharum kasturi, memancar melalui celah pori-pori tubuh Dina. Kini terdiam pasra menerima rintik birahi dariku. Kupegang erat tangannya, kubelai lembut halus kilau wajahnya. Hingga bibirku bertahta di atas bibirnya yang terhias guratan senyum manis penggetar jiwa, pengantar kenikmatan.

Kucium bibirnya, bibir yang coba membunuhku dengan kelembutan suaranya. Bibir yang berhasil meruntuhkan dinding-dinding keegoisanku, bibir yang telah menghentikan aliran darahku.

Pagutan lembut mulai berhamburan dikedua mulut kami, memancing nafsu dipelupuk hasrat. Dalam aliran sang malam yang mengeluarkan hembusan dingin, kupeluk Dina, kurasakan getaran jantung yang terpacu cepat. Kelembutannya dapat sangat kurasakan, hingga melembutkan tulang-tulangku.

Lidahku mulai bergerak mengelilingi tubuhnya. Dimulai dari dagu lalu menukik tajam menuju leher jenjang yang telah menunggu untuk kujamahi. Kugenggam erat tangannya lalu kerentangkan keduanya. Dina hanya terpejam dengan hembusan nafas yang semakin berat.

Tanpa disadari lidahku sudah mendaki bukit kembar yang mulai mengeras. Menyentuh lembut yang mengungkapkan bagaimana lidah ini, berhasrat lembut pada payudaranya. Terngiang dari kedua bibir Dina, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.

Semakin turun lidahku hingga kini sudah berada dalam liang surgawi. Terlihat jelas bagaimana cairan nafsu itu telah melumuri bibir vaginanya. Kurentangkan kedua paha yang coba menghalangi lidahku. Jilatan-jilatan lembutku pada pinggir vagina Dina mulai memberi rona merah wajahnya yang terselimuti birahi.

Liurku mulai turun dari dasar rongga mulut, yang kemudian berbaris rapi ikut campur dalam memberi pelumasan pada vagina Dina. Lidahku mulai kututurkan memasuki liang vagina yang telah mekar, lidah yang dapat menghentaki jantungnya karna desiran nafsu yang menjalar hingga ujung kepala Dina.

” Dra ” lenguh Dina memanggilku, jemari-jemarinya berkeliling diantara rambutku, mengacak-ngacak.

Aku hanya tersenyum memandangi rona merah wajah ayu yang terpampang menatapku. Menghentikan sejenak petualanganku dibawah perutnya. Kupandangi makhluk yang lari dari kerajaan surga di khayangan, lalu tiba di atas ranjangku dan masuk dalam dekapan birahiku. Setelah itu mulailah ia berkicau lenguhan desah nafsu dengan suara bergetar.

Dina menarik kepalaku, menuntunnya keatas. Dicumbui bibirku ketika tepat berada di atas bibirnya. Dipeluk tubuhku sangat erat, pisau-pisau birahinya kini telah menancap disetiap inci tubuhku.

Tanpa perintah dan arahan, penisku mulai memasuki vagina Dina. Sedikit demi sedikit menggesek dinding vagina yang telah licin. Belenggu nafsu kini semakin kuat mencengkram tubuh kami. Mengomandoi agar segera bergerak, memompa cairan kenikmatan yang masih ada di dasar kelamin.

Kecupan-kecupan lembutku mulai mengitari wajah Dina. Menghisap manis madu yang keluar di sela-sela kulitnya. Menangkap sinar-sinar yang berhamburan dari dalam tubuhnya. Lenguhan binal makin terniang jelas keluar dari kelembutan suaranya.

Kuremasi kedua bongkah indah payudaranya. Terasa jelas bagaimana putting payudaranya telah mengeras. Segera kuplintir perlahan putting coklat kemerahan itu, yang membuat tubuh binal Dina mulai menggelinjang tak karuan.

Kupercepat gerakan pinggulku, yang diiringi gerakan-gerakan binal Dina. Denyut-denyut dinding vaginanya dapat jelas kurasa, meremas-remas penisku yang naik turun beradu birahi pada dinding vaginanya.

” Ooouuugggghhhhhh ” luapan orgasme itu benar-benar hebat, hingga dapat membuat katup-katup jantung terbuka lebar memerahi tulang-tulang putihku. Syaraf-syarafku menegang sejadi-jadinya, kicau kenikmatan dari bibir Dina memecah kesunyian malam. Beradu suara dengan binatang malam.

Rasa ini begitu dalam merasuki jiwa kami, membakar seluruh nafsu hingga meluap keluar. Menyelimuti tubuh kami, memberi kehangatan di malam yang dingin ini. Rintik peluh nampak menghiasi tubuh kami, mengalir keluar berasaan dengan cairan orgasme.

Malam bersama Dina selalu ingin kunikmati. Dina, seorang wanita bermata lembut, yang menyentak dinding-dinding hatiku. Lalu bertahta disana, dengan bermahkotakan cinta dan memiliki pasukan yang bernama keindahan. Pancaran sinar yang selalu menyilaukan pandanganku, terus menerus memberi sebuah penerangan hingga di tempat tergelap sekalipun di dalam tubuhku.

Bersambung