Love Never Takes Sides Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 19

Metamorfosis

Karna perjuangannya, Letnan Satu Waluyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Kapten Waluyo. Pak Waluyo wafat dengan meninggalkan 1 hektar tanah, rumah seluas 100 m2 dan 2 pasang sapi sebagai warisan untuk Andra.

Suasana pemakaman pak Waluyo berlangsung dengan cara militer. Pasukan TNI angkatan darat serta warga desa menghadiri pemakaman tersebut, dan juga hadir perwakilan anggota kepolisian sebagai bentuk penghormatan atas jasa pak Waluyo. Termasuk Andra kecil yang berdiri di atas lubang kubur bapaknya, menatap tajam peti jenazah bapak tercinta yang akan segera dikebumikan.

” Kepada Jenazah, Kapten Waluyo, HORMAT SENJATAAAAAAA GRAK ” teriak komandan upacara lantang. Diiringi ayunan senjata ke arah langit oleh para anggota TNI.

” Duar….duar……duarrrrr ” letupan tembakan salvo sebagai penghormatan terakhir, mengiringi penurunan jenazah ke liang lahat.

Lengkingan suara azan dari sang kakak ( Pak Wardi ) yang terdengar sangat berat, menjadi kata pengantar kepergian Adiknya. Andra hanya bisa diam menahan sesak di dadanya, air matanya tak berhenti mengalir. Bu Mirna hanya bisa memeluk erat keponakannya itu untuk memberinya kekuatan.

***

Setelah selesai upacara pemakaman pak Waluyo Pak Wahab dan Andra menujukediaman Pak Wardi. Untuk membicarakan nasib Andra setelah ditinggal bapaknya.

” Sekolah Andra akan ditanggung negara sampai SLTA, klo Andra mau masuk SMA taruna hubungi saya aja. Siapa tau Andra pengen kayak bapaknya. Terus untuk kehidupan sehari-harinya, Andra akan menerima uang pensiun bapaknya serta santunan dari negara. Karna yang mengasuh Andra adalah pak Wardi, dan karna Andra masih berusia 10 tahun, maka untuk pemberian uang pensiunan dan santunan untuk Andra akan diwakilkan oleh pak Wardi. Tolong dijaga Andra ya Pak Wardi ” ucap Pak Wahab dengan suara yang dalam, menjelaskan detail apa saja yang akan diterima Andra dari negara sebagai ahli waris Pak Waluyo.

” Iya pak ” jawab pak Wardi singkat menatap tajam mata pak Wahab, meyakinkan bahwa dia akan merawat Andra dengan sepenuh hati

” Ya sudah saya pamit dulu ya Pak. Andra kamu yang kuat ya nak ” ucap Pak Wahab seraya mengusap kepala Andra, dan berjabat tangan dengan pak Wardi

Andra masih saja terdiam dalam tangisnya, seolah tak percaya jika bapaknya telah pergi meninggalkannya. Seperti saat Andra ditinggal bapaknya tugas, Andra tidak mau tinggal di rumah pakdhenya, dia lebih memilih tinggal di rumahnya seorang diri, walaupun sudah dirayu oleh pakdhe dan budhenya sekalipun.

Saat di rumah Andra memasuki kamar bapaknya, dipandangi kamar yang menjadi tempat bapaknya beristirahat. Terdapat ranjang, kursi, sebuah meja, senjata laras panjang serta pedang yang tertempel di dinding kamar, dan kepala menjangan hasil berburu. Andra duduk di kursi rotan milik bapaknya itu, di depan terpampang meja yang biasa bapaknya pakai untuk menulis buku harian militer. Di bukanya laci meja itu dan menemukan sebuah catatan pribadi bapaknya. Di atas buku itu terdapat secarik kertas yang teripat dan bertuliskan ” Untuk Andra anakku tercinta “. Dibukanya kertas itu untuk melihat isi di dalamnya.

Andra, anakku tercinta.

Jika kamu menemukan surat ini dan membacanya, berarti bapak sudah bersama ibumu. Beberapa hari ini ibumu selalu masuk kedalam mimpi bapak, dengan keadaan yang sangat cantik, ibumu menuntun bapak ke sebuah taman yang indah, dan menyaksikanmu dari kejauhan.

Oh iya bapak belum pernah bercerita tentang ibu kamu ya. Maaf Dra, karna tugas bapak jadi gk sempat untuk bercerita banyak tentang ibumu. Tapi yang pasti ibumu melebihi harapan bapak untuk menjadi seorang istri serta seorang ibu. Kamu harus bangga.

Jika nanti bapak bertemu ibumu, bapak akan bercerita tentang kamu Dra. Pasti ibumu tidak akan menyesal memberikan nyawanya untukmu Dra.

Mungkin itu firasat bahwa umur bapak sudah tak banyak lagi. Maafkan bapakmu Dra, tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi, walaupun bapak sangat ingin. Ibumu meninggal saat kamu dilahirkan, dan bapakmu ini sering bertugas keluar daerah sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan kamu juga tidak mau tinggal di rumah pakdhemu. Tapi itu menunjukkan jika kamu bisa hidup mandiri tanpa orang tua, jadi bapak tidak terlalu khawatir bila meninggalkanmu untuk selama-lamanya

Anakku, mungkin sekarang kamu sendiri, tapi kelak kau akan bertemu orang-orang yang berharga. Orang yang harus kau lindungi, dunia sangat luas kelak kau pasti bertemu. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dilahrikan benar-benar sendiri. Teruslah maju kedepan, jangan pernah menoleh kebelakang. Tertawalah disegala keadaan, walaupun kamu sedang sedih, tertawalah maka kesedihanmu akan berkurang.

Saat nanti bapak bertemu ibumu, akan bapak ceritakan betapa hebatnya dirimu Dra, anak kami. Di alam yang berbeda bapak dan ibumu selalu memperhatikanmu Dra. Doa bapak dan ibumu selalu menyertaimu. Bapak dan ibumu selalu mencintai dan menyayangimu anaku Andra. Jadilah pria yang kuat, karna kau adalah bukti jika aku ada.

Tertanda

Waluyo

Satu bulan kemudian.

Disebuah rumah sakit daerah, Bu Mirna dan Yoko sedang terduduk di depan ruang IGD. Andra lari tergesa-gesa menghampiri budhe dan sepupuhnya.

” Budhe, pakdhe Wardi kenapa ? ” tanya Andra dengan nafas tersengal, kedua tangan bertumpu pada lututnya. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut bu Mirna, hanya air mata yang terus membasahi pipinya.

” Bapak tadi di pasar batuk-batuk sampe ngeluarin darah, terus pinsan. Orang-orang di pasar mebawa bapak ke rumah sakit ” ucap Yoko menjawab pertanyaan Andra, matanya terlihat nanar saat bertatapan dengan Andra

Tak lama dokterpun keluar ruangan. Dengan wajah datar dokter itu menghampiri mereka bertiga ” Ibu, istri dari Pak Wardi ? ” tanya dokter itu kepada bu Mirna.

” Iya dok, bagaimana keadaan suami saya ” ucap Bu Mirna tak sabar mengetahui keadaan suaminya. Ditatapnya mata dokter itu dengan sejuta tanya, walau hatinya hanya memiliki sedikit harapan.

” Sabar ya bu, hidup dan mati sudah ditakdirkan oleh yang Kuasa. Pak Wardi sudah tidak ada umur ” ucap dokter itu dengan nada lirih, memegang pundak Bu Marni.

Bu Mirna hanya terdiam, tak mampu berkata-kata. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Dengan langkah yang gontai bu Mirna memasuki ruangan untuk melihat jenazah suaminya untuk yang terakhir.

” Bapaaaaaaakkkkkkk ” suara tangis bu Mirnapun pecah saat memeluk tubuh suaminya yang telah dingin. Begitu pula dengan Yoko dan Andra, mereka bertiga memeluk tubuh pak Wardi seraya menangis sejadi-jadinya.

***

Satu bulan sudah pasca kepergian Pak Wardi. Sejak pak Wardi wafat, bu Mirna sudah tidak pernah mengunjungi rumah Andra. Sudah tidak pernah memberinya makanan atau uang saku kepada Andra, uang pensiun dan juga santunan tidak pernah sampai ke tangan Andra lagi. Untunglah sekolah Andra sudah ditanggung sampai SMA, sedangkan untuk makan Andra mengandalkan dari sisa uang tabungannya. Itupun harus diiris sedemikan rupa, agar bisa makan esok harinya. Tiada hari tanpa rasa lapar menghinggapi perut Andra.

” Kenapa budhe gk pernah kesini ya, setiap aku kerumahnya selalu menghindar ” gumam Andra, bingung akan perubahan sifat bu Mirna sejak kepergian suaminya.

Sejak itu Andra mulai berfikir untuk menghasilkan uang sendiri. Dengan tanah peninggalan bapaknyam dia membeli bibit tembakau dari uang tabungannya. Andra mulai menanam tembakau, dari penyemaian, penanaman hingga perawatan. Setiap subuh Andra pergi ke ladang tembakaunya untuk merawat ladangya dan mencari rumput untuk 2 ekor sapinya. Barulah ia pergi kesekolah setelah aktifitas berkebunnya selesai.

Pulang sekolah tak lupa Andra menengok kembali kebunnya untuk melakukan perawatan kembali, lalu pergi ke pasar untuk menjadi kuli panggul di sana. Setelah pulang dari pasar Andra mencari rumput kembali untuk ternaknya dan kembali kekebun hingga matahari terbenam.

” Waahhh hari ini aku dapet banyak. Makasih ya Pak ” ucap Andra terkejut menerima upah sebagai kuli panggul yang lebih banyak dari biasanya.

” Tokoku rame, kamu juga kerjanya jadi lebih berat, makanya aku kasih lebih ” ucap Pak Kasdi pemilik toko sembako di pasar.

” Aku pulang dulu ya pak, makasih banyak nih ” ucap Andra seraya berlalu menuju padang ilalang untung mencari rumput segar.

Di salah satu toko yang sudah tutup terdapat seorang anak tertidur. Anak itu juga bekerja sebagai kuli panggul di pasar.

” Hei kamu kok tidur disini ” tegur Andra menunduk melihat bocah yang terbaring lemas.

” Aku ndak punya rumah mas ” jawabnya tanpa melihat kearah Andra.

” Orang tuamu mana ” tanya Andra kembali seraya mengambil posisi disebelah anak itu lalu duduk di sebelahnya.

” Wis meninggal ” jawab anak itu lirih

” sama kayak aku, orang tuaku wis meninggal, tapi aku masih punya rumah. Kamu mau temenin aku di rumahku ” ajak Andra. Anak itu hanya terdiam melihat Andra menawari tempat tinggal.

” Kok malah bengong, aku tinggal sendirian, gk punya teman ” ucap Andra kembali seraya mengulurkan tangannya.

” Beneran mas, makasih banget nih mas ” ucap Anak itu girang, menyambut uluran tangan Andra.

” Aduh aku lemes banget mas ” ucap Anak itu susah payah bangkit dari tidurnya, walaupun sudah dibantu oleh Andra.

” Kamu kenapa ” tanya Andra

” Aku belum makan 3 hari mas ” jawab anak itu.

” Ya udah kita makan dulu yuk ” Andra coba membopong tubuh lemas anak itu menuju warung makan.

***

” Kenyang banget aku mas ” ucap anak itu ketika selesai menghabiskan makanannya.

” Oh jadi nama kamu Joko. Umurku 1 tahun lebih tua darimu ya, berarti kamu adik aku sekarang ” ucap Andra.

” Iya mas Andra. Eh ngomong-ngomong kenapa mas makannya lebih banyak dari aku ? ” tanya Joko heran. Dia yang belum makan 3 hari kenapa paling banyak makannya si Andra.

” Kata bapakku, kita harus makan yang banyak, biar klo ketemu musuh, kita punya tenaga yang cukup untuk melawannya ” ucap Andra santai.

” Mas ada duit buat bayar makanan ini semua ”

” Tenang Jok, hari ini aku dapet rejeki banyak. Toko pak Kasdi lagi rame, aku gotong barang lebih banyak ”

” Tapi inget Jok, kita harus nabung. Kita juga harus saling kerja sama, kita ndak boleh menyerah kepada dunia yang kejam ini ” ucap Andra bersemangat.

” Iya mas ” ucap Joko penuh keyakinan.

Sejak itu kedua anak tersebut saling bahu-membahu dalam mencari uang. Setiap Andra sekolah, Joko lah yang menggembala sapi dan mengurus kebun. Ketika Andra pulang sekolah barulah Joko ke pasar untuk menjadi kuli panggul, sedangkan Andra gantian yang menggembala sapi dan mengurus kebunnya. Pada malam harinya setelah Andra mengerjakan tugas sekolah, ia lantas mengajari Joko pelajaran, karna Joko sudah putus sekolah.

” Mas aku masih laper mas ” ucap Joko lirih.

” Sama Jok aku juga, hari ini kita dapat uangnya sedikit. Kita harus sabar ya Jok ” ucap Andra coba menenangkan Joko

3 bulan kemudian. Saat musim panen tembakau tiba.

” Waaahhhh hasil penjualan tembakaunya lumayan banyak mas ” ucap Joko gembira saat panen tembakau yang hasilnya lumayan bagus.

” Iya ini karna cuacanya juga lagi bagus, karna kita juga saling kerja sama. Klo ndak ada kamu Jok, aku bakal kerepotan ngurusi kebun ini ” ucap Andra.

” Inget Jok, kita harus tabung sebagian dari hasil penjualan tembakau ini ” ucap Andra kembali.

” Iya mas ”

” Suatu saat aku pasti bakal menyekolahkan kamu Jok ” ucap Andra berjanji pada Joko.

” Sudahlah mas, aku ndak perlu sekolah, kan ada mas Andra yang ngajari aku ” ucap Joko.

” Ilmu itu ndak Cuma dari aku saja, klo sekolah kamu bisa menimba ilmu dari mana saja ” ucap Andra kembali.

” Mas ke hutan yuk, cari kayu, soalnya kandang sapi sudah mulai rapuh ” ajak Joko.

” Yuk Jok ”

***

Sesampainya di hutan mereka menemukan seekor anak macan sedang meraung-raung di samping induk macan yang terbaring tak bergerak.

” Wah mas ada kucing tuh, kayaknya di tinggal mati induknya ” ucap Joko.

” Iya Jok. Ah aku tau, ini tuh kucing persia, aku pernah baca di buku perpustakaan sekolah ” ucap Andra melihat ke arah binatang itu.

” Kasian ya mas, kayak kita masih kecil udah kehilangan orang tua ” ucap Joko lirih.

” Gimana kalo kita rawat, dia senasib sama kita. Setiap makhluk yang senasib dengan kita harus kita rawat Jok ” ucap Andra tegas.

” Baik mas ” ucap Joko bersemangat.

Dengan membawa kayu-kayu serta anak macan, kedua bocah itu pulang kerumah. Setelah memperbaiki kandang sapi. Barulah mereka beristirahat.

” Mas namanya siapa ya untuk kucing itu ” tanya Joko.

” Kasih nama yang keren aja Jok ” ucap Andra memperhatikan wajah anak macan yang sedang terbaring lemas di atas kain tebal.

” Hhhhmmm apa ya, aku ndak dapet ide tuh ” ucap Joko kembali.

” Gimana klo namanya Alex ” ucap Andra.

” Wiihh keren amat mas namanya ”

” Lebih bagus dari nama kamu Jok ha ha ha ha ” ledek Andra.

” Oke. Alex salam kenal ya ” ucap Joko sedikit ketus.

” Kayaknya laper tuh si Alex ”

” Kasih rumput mau gk ya ”

” Masa kucing makannya rumput, yang bener aja Jok. Lagi pula kayaknya dia masih bayi deh. Kasih susu aja ya ” ucap Andra dengan tatapan kearah Alex.

” Sapi kita belum bisa ngeluarin susu ” ucap Joko.

” Kita beli saja, gk papalah demi adik kita yang baru Jok ”

Semakin hari tubuh Alex semakin besar, dan sudah mulai dapat membantu pekerjaan Andra dan Joko. Seperti menjaga sapi yang sedang Joko gembalakan, selagi Joko merawat kebun tembakaunya. Dengan ketekunan, kerja keras, dan didukung kepandaian Andra dalam mengelola keuangan, perlahan usaha mereka semakin maju. Luas kebun Andrapun semakin luas dari tahun ke tahun, begitu pula ternak sapi Andra berkembang biak semakin banyak.

Setiap ada anak terlantar, yang sudah tidak meliliki orang tua ditampung oleh Andra di rumahnya. Mereka dijadikan Adik oleh Andra. Bukan hanya merawat mereka, bahkan Andra melindungi mereka, apabila ada yang menyakiti adik-adiknya tak segan-segan di hajar oleh Andra.

” Mas Andra, si Surti digodain sama pemuda dari desa sebelah pas abis belanja di pasar ” ucap Joko

” Siapa yang berani godain adikku. Ayo adik-adikku yang cowok kita hajar mereka ” teriak Andra memanggil adik-adiknya.

” Yoooo mas Andra ” segera adik-adiknya memenuhi panggilan Andra dengan membawa kayu sebagai senjata.

***

” Mas Andra Alex dikroyok warga gara-gara ketahuan ngintipin gadis mandi ” teriak adikku berlari dikejauhan.

” Dasar si Alex, biar aku yang urus ” ucap Andra, berlari ketempat Alex dikeroyok

***

” Bibit apa itu mas ” tanya Joko melihat Andra membawa sekotak bibit.

” Bibit jati, aku mau tanam di tanah yang baru aku beli. Buat bikin rumah yang besar ” jawab Andra.

” Jati lama lho mas tumbuhnya. Bisa sampe 10 tahun baru bisa kita jual ” ucap Joko.

” Buat investasilah. Lagi pula aku mau bikin rumah pake kayu jati ” ucap Andra.

( KEMBALI KE MASA KINI )

” Yah begilah Din kehidupan gw ” ucapku setelah panjang kali lebar sama dengan lega, menjelaskan rentetan lika-liku kehidupanku.

” Pribadi yang kuat, selalu lahir dari penderitaan yang hebat ” ucap Dina dengan gaya mario teguh.

” Kenapa lo menganggap orang disini adik lo ” tanya Dina kembali.

” Keluarga bukan hanya orang yang memiliki hubungan darah saja, melainkan orang yang bersama-sama dengan kita saat susah maupun senang. Keluarga adalah hal yang gw inginkan, karna hidup sendiri itu sangat menyakitkan buat gw. Lebih baik mati dari pada hidup seorang diri ” kupandang wajah Dina yang nampak antusias dengan kehidupan pribadiku.

” Terus gimana keadaan budhe lo sekarang. Dia kan udah makan hak yang menjadi milik lo ”

” Dia tetap saudara gw, dan juga punya jasa terhadap gw. Gw gk mikirin perbuatan buruk terhadap gw. Gw tetap bantu mereka ”

” Pantes waktu di tangkuban perahu lo bisa ngomong seperti itu ” ucap Dina mengingat ucapanku saat memberinya semangat di tangkuban perahu.

” Nah lo kenapa gk ke SMU taruna aja, sesuai kata-kata atasan bokap lo ”

Gk ah Din, gw gk mau pergi-pergi ninggalin orang yang gw sayangi karna tugas ”

Hujan yang sudah reda sedari tadi, menggeser awan hitam yang menyelimuti. Nampak bulan sudah menampakan dirinya, sepertinya malam ini akan terang bulan. Aku menoleh kearah Dina dan menatapnya dalam-dalam. Kini ia sudah tahu masa laluku yang sangat berat. Dia juga sudah tahu kehidupanku.

” Dra kenapa lo selama ini menutupi jati diri lo. Kelakuan pertama kali ke rumah gw, gw kira lo orangnya udik ” ucap Dina.

” Lo tuh yang udik, naik bis aja mabok ” ejekku.

” Eh sialan lo kudanil, lo tuh yang udik ” omel Dina tak terima dengan ejekanku.

” Eh Dra kenapa lo kuliah ngambil MI, aturan mah ngambil pertanian aja ? ” tanya Dina.

” Gw mau buat sistem untuk usaha gw ini, supaya lebih mudah dalam manajemennya. Terus gw mau buat web untuk promosiin usaha gw dan desa gw. Orang klo mau pesan tembakau, susu, daging sapi bisa pesan online juga. Lagi pula klo gw ngambil jurusan pertanian mah buat apa, gw udah tau caranya bertani. Mahasiswa pertanian juga sering KKN disini, jadi gw bisa nimba ilmu dari mereka ” jawabku.

” WOoooooiii mas Andra, pestanya sudah siap nih. Ayo kesini ” teriak Joko dari halaman rumah, disana sudah berkumpul seluruh adik-adikku pria ataupun wanita.

” Sapi sudah di potong tadi, sudah tinggal di bakar saja. Anggurnya juga sudah siap ” teriak kembali Joko.

” Yuk Din, kita kesana ” ajakku seraya beranjak dari kursi dan menuntun Dina menuju halaman rumah.

” Ayo semuanya kumpul ” teriakku memanggil adik-adikku yang berpencar di halaman.

” Nih Din buat lo ” kuberikan segelas besar anggur kepada Dina. Dina hanya terdiam menerima gelas itu.

” Tenang aja Din, gk bikin mabok kok. Anggurnya Cuma diperas dan disaring aja, gk sampe diendapin. Jadi belum ada proses fermentasinya. Ini racikan sendiri lho ” ucapku menjelaskan pada Dina.

” Yaahh gk bisa ngefly donk, udah lama gw gk minum-minum nih ” ucap Dina sepertinya kecewa. Dasar tukang mabok

” Semuanya. Untuk kelulusan mas Andra, dan calon istrinya mari bersulanggggggg ” teriak Joko yang berada di tengah-tangah kami.

” Yooooooooo ” teriak semua orang disini menyambut ucapan Joko.

” Musikkkkk ” teriakku, yang di sambut dengan suara 4 buah speaker aktif besar, disetiap sudut halaman.

♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Pergi mengantar sebotol anggur ♪
♪ Ayo ikuti angin laut dan gelombang! ♪
♪ Di langit malam ada mentari merah bersinar♪
♪ Dan burung-burung pun bernyanyi menyambut kehidupan yang menyenangkan ♪
♪ Selamat datang, di kampung halamanku! ♪
♪ Mari menyanyikan lagu persatuan! ♪
♪ Saat kami berangkat mengarungi gelombang perak dan emas ♪
♪ Saat kami mengangkat layar menuju lautan ♪
♪ Badai yang datang bagaikan iringan pukulan drum ♪
♪ Laut pun bergolak saat mentari tiba ♪
♪ Wahai para pengecut, berharaplah kalian tidak pernah dilahirkan! ♪
♪ Karena kalian akan tenggelam di dasar laut sebelum melihat mentar i♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪
♪ Yo-hohoho, Yo-hohoho, ♪

Binks’ Sake- Brook ​

” Sini….sini gw mau coba panggang daginggnya ” ucap Dina mengambil 1 potong daging untuk di bakar.

” silahkan mbak ” ucap salah seorang adikku mempersilahkan Dina.
” Hauww hauww hauww ”

” Aaaaaaahhhhhh macaaannnnn ” teriak Dina begitu mengetahui Alex ada di belakangnya

” Pergi sana, makan nih daging ” ucap Dina menyodorkan sepotong daging mentah

” Mba Dina si Alex ndak suka daging mentah ” ucap Joko

Susana keakraban, rasa rindu dan berbagai macam kejenakaan adik-adikku mewarnai malam ini. Malam yang seharusnya sunyi dan tenang menjadi riuh sekali karna kedatanganku.

” Woiii ada yang liat Rinto ndak ” teriakku mencari salah seorang adikku yang bernama Rinto, tadi aku lihat sepintas, sekarang sudah tak terlihat lagi.

” Tuh mas di pendopo lagi galau sepertinya ”

” Ndak ada wanita yang tulus mencintai lelaki, mereka hanya melihat harta, kedudukan dan apalah yang membuat gengsi mereka menjadi terangkat. Cinta wanita palsu, tidak ada yang MURNI. Oke aku single bukan karna ndak laku, tapi karna aku ndak punya satria fu atau ninja R ” gerutu Rinto di pojokan pendopo terduduk menunduk meratapi nasib seorang jones.

” Jangan sebut-sebut namaku klo lagi galau. Ndak laku karna tampang aja cari alasan ” omel adikku Murni seraya melempar sepotong daging mentah tepat mengenai wajah kusam Rinto

” Surti, betapa indahnya dirimu dalam pandanganku, ah bukannya aku tak sanggup memandangmu. Oh sinar terangmu dapat membutakan mataku. Surti, merdu suaramu membuat aliran darahku begitu cepat mengalir ke dalam jantungku. Ah bukannya jantungku bisa berhenti bila kau membisikkan kata cinta. Surti, gerakkan lembutmu selalu terekam jelas di kepalaku, ah bukannya kepalaku bisa pecah bila memimpikanmu. Surti maukah kau menjadi kekasihku ” lantunan syair terlontar dari mulut Bimo, yang sangat menyukai Surti dan berharap Surtilah cinta terakhirnya.

” Ndak mau ” ucap Surti, singkat, padat dan jelas. Memalingkan muka lalu pergi begitu saja.

” Ha…ha….ha…ha selamat ya, selamat ini udah ke 30 kali kamu ditolak Bim. Hebat rekor kamu belum ada 1 orangpun yang mampu nandingin ” ucap 5 orang adikku mengelilingi Bimo, seraya menaburkan bunga-bunga kearah tubuh Bimo. Bimo hanya bisa meratapi kegagalannya yang sudah berulang kali.

………………………………………………………………..

” Ayo Dra sini ” ucap Dina menarikku yang sedang berada di tengah pesta. Mengajakku masuk ke kamar.

Setelah masuk ke kamar dan menguncinya, Dina langsung mencium bibirku, lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulutku, seraya melucuti seluruh pakaianku. Akupun tak tinggal diam, kuterima tantangannya bermain lidah, begitu pula dengan pakaiannya kulucuti habis tak bersisa.

Kupandangi wajah cantiknya, nampak seberkas cahaya berpancar dari keindahan raganya. Tubuh polos bercorak kuning langsat itu kini berdiri di depanku. Rambut yang tergerai indah, menambah kilau pesona jiwa membutakan pandangan.

Tak ubah duri berbunga mawar, pekat harumnya mengundang rasa untuk menjamahi. Kubaringkan ke ranjang, tubuh yang terdapat segala bentuk keindahan didalamnya. Kutelusuri dengan lidahku jejak-jejak keindahan yang bertabur harum disekujur tubuhnya. Dina hanya bisa memejamkan matanya, sesekali terdengar desahan lirih dari bibir manisnya.

Sejak aku mengenalinya berbagai macam rasa terjalin membentuk jembatan antara hatiku dan hatinya. Dengan mudahnya Dina masuk ke dalam hatiku, begitu pula diriku. Dan kini mahkluk indah yang bernama Dina itu telah berada dalam peraduan kenikmatan bersamaku. Merajut bait-bait cinta dalam dekapan birahi.

” Ouuhhh ” mata sayu itu menatapku yang sedang asik bermain dibongkahan mulus payudaranya, yang selalu dan selalu membakar birahiku. Mata yang seolah berbicara ” jangan, jangan ragu untuk memberiku kepuasan “, menarikku untuk segera masuk kedalam tahap teratas dalam daftar birahi kami.

Kedua kaki mulusnya dilebarkan, dengan mata terpejam dan bibir terbuka, memberi isyarat padaku untuk segera memasuki lubang berlendir. Tak peduli dengan isyarat yang diberikan, aku hanya menggesekan penisku pada vaginanya saja. Kupagut bibir tipisnya yang lembut, seraya tanganku berpetualang diantar bukit kembar nan halus.

Dina yang sudah semakin tak dapat menahan luapa birahinya, berusaha mencari penisku dengan tangannya yang merayap kearah selangkangan. Tapi dengan sigap kugenggam jemari lentiknya agar tak dapat sesegera mungkin mendapatkan harta karunku yang paling berharga.

Semakin keras usaha Dina untuk mendapatkan kendali penuh atas permainan kami. Tubuhnya berusaha mendorong tubuhku, tapi aku juga berusaha mengendalikan permainan. Kutahan tubuh yang sudah mengelepar-gelepar itu. Kutelusuri wajah cantik yang bercahaya bak sinar lampu petromak di malam yang tanpa sinar bulan. Kecupan-kecupan lembutku berjajah di pipi, kening dan dagunya.

Berlawanan dengan ucapan Khalil Gibran. Bila nafsu memanggilmu, janganlah kau ikuti segera kehendaknya, walau liukan tubuhnya begitu menggoda. Bila nafsu mencengkrammu, tahanlah walau dekapan birahi bagai pedang di sela-sela sayap begitu menyiksa.

” Dra jangan siksa gw ” lenguh Dina yang sudah nafsu bukan kepalang, menerima hujaman rangsangan yang berjalan terlalu santai.

Kuhentikan seluruh aktifitasku, Kutatap wajahnya dalam-dalam, kutahan seluruh gerakannya yang meronta. Kucari partikel cinta terkecil di hatinya, ingin kumiliki seluruh cinta yang ia punya. Egois memang tapi begitulah bila cinta sudah bertahta di singgasananya. Semuanya yang indah hanya untuk cinta.

Perlahan penisku mulai penetrasi ke dalam liang surgawi yang memanggil-manggil sedari tadi. ” Aahhh ” lenguh Dina perlahan saat inchi demi inchi penisku menggesek dinding vaginanya.

Kudiamkan sejenak penisku saat memasuki seluruh bagiannya. Kembali kupandangi wajah ayunya yang masih terpejam, meresepi kenikmatan yang mengalir ke seluruh tubuh melalui tetes-tetes darah.

Perlahan kugerakkan penisku naik-turun, seirama dengan gerakan pinggulnya. Kembali lidah kami saling pagut, jemariku menelusuri bagian-bagian tubuh halus, tak akan kulewatkan kelembutan kulitnya walau hanya 1 mili.

Rintik peluh membasuhi tubuh polos yang meliuk-liuk di atas ranjang kebebasan hasrat. Hiruk-pikuk manusia yang sedang bergembira di luar sana, seolah tenggelam oleh deburan ombak birahi bernyanyikan lenguh kenikmatan.

Lengan indah nan halus Dina bergerak menelusuri lebar punggungku. Mencabik-cabik lembaran kulit, seperti kesal tadi kupermainkan hasratnya yang sudah di ujung. Dengan mata sedikit terbuka Dina menatapku sayu, memperlihatkan rona wajah yang telah berubah menjadi kemerahan. Memandang penuh daya tarik agar lebih menghujamkan penisku, agar lebih kuat menggesek dinding rahimnya, agar api birahi makin besar berkobar.

” AAAAAakkkkkkkkhhhhh ” jerit kami berbarengan, begitu juga cairan kenikmatan kami yang sudah bertumpuk di dalam tampungannya. Bersemburan, berhamburan, bercampur menjadi satu hingga mengalir keluar membasahi selangkangan Dina.

Wajah manis nan ayu yang terbasahi peluh, kini hanya bisa saling menatap denganku dalam-dalam. Sembari menyela nafas yang nampak berat sehabis diterpa badai orgasme. Rambut indah yang tergerai tak beraturan, serta tubuh lemas yang sedang kugagahi. Terpancar rona kepuasan dalam tubuh kami.

Kubiarkan penisku masih tertancam, menikmati sisa-sisa kenikmatan. Sayang rasanya bila disudahi begitu saja. Kukecup keningnya seraya tersenyum memandangnya. Tak ada kata yang terucap hingga penisku keluar sendiri dari dalam vaginanya. Dan kamipun tidur terlelap hingga pagi hari.

***

Saat kubuka setengah mataku, terasa berat sekali padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Mungkin karna aku belum beristirahat total setelah perjalanan dari Jakarta. Kulihat sebelahku sudah tidak ada Dina di tempat tidur, mungkin saja dia sedang mandi atau sedang melihat-lihat.

Kulangkahkan kami menelusuri setiap bagian dari rumahku, tampak sepi sekali, hanya terlihat beberapa adik perempuanku sedang memasak di rumah belakang khusus wanita. Rumahku ada 2 yang depan khusus laki-laki dan yang belakang khusus wanita. Ah aku baru ingat, sesuai dengan perhitunganku bahwa hari ini panen tembakau. Pasti adik-adikku sedang di kebun tembakau.

Kubergegas mandi dan langsung menuju kebun tembakau. Kuberjalan kaki ke kebun yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Nampak di kejauhan adik-adikku sedang memetik tembakau dan memasukkannya ke dalam karung. Adapula yang sedang merapikan kedalam truk untuk dijual ke pabrik rokok.

♪ Lir-ilir, Lir-ilir ♪
♪ Tandure wus sumilir ♪
♪ Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar ♪
♪ Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi ♪
♪ Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro ♪
♪ Dodotiro, dodotiro kumitir bedhah ing pinggir ♪
♪ Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore ♪
♪ Mumpung padhang rembulane , mumpung jembar kalangane ♪
♪ Yo surako… surak iyo… ♪

♪ Lir-ilir, Lir-ilir ♪
♪ Tandure wus sumilir ♪
♪ Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar ♪
♪ Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi ♪
♪ Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro ♪
♪ Dodotiro, dodotiro kumitir bedhah ing pinggir ♪
♪ Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore ♪
♪ Mumpung padhang rembulane , mumpung jembar kalangane ♪
♪ Yo surako… surak iyo… ♪​

Terdengar sayup-sayup dendang dari mulut adik-adikku. Lagu yang selalu kami nyanyikan setiap panen tiba. Semuanya bergembira menyambut hasil kerja keras kami selama kurang lebih tiga bulan berbuah manis. Tembakau yang nampak menghijau royo-royo, panen yang melimpah ruah.

” Draaaa gw udah dapet 3 karung nih. Hebat kan ” teriak Dina di kejauhan, nampak di sampingnya terdapat tiga karung tembakau. Semangat sekali dia, padahal aku saja masih letih.

” Hebat banget lo Din ” ucapku tersenyum kepadanya. Kubantu dia menaikkan karung tembakau ke atas truk.

” Asik banget ya klo lagi panen gini ” ucap Dina nampak sangat senang sekali berada di tengah suasana yang menyenangkan ini.

” Lo udah gk capek Din ” tanyaku mengkhawatirkan keadaannya. Aku masih ingat dia tidak boleh terlalu lelah.

” Gk Dra, gw senang suasana seperti ini. Kekeluargaannya sangat kental Dra ”

” Ya gitulah, keluarga adalah hal yang berharga ”

Entah sudah berapa kali 2 unit trukku mondar-mandir mengambil hasil panen untuk dijual. Tak terasa hari sudah sore. Masih banyak tembakau yang belum sempat kami petik, akan dilanjutkan keesokan harinya. Setelah merapikan alat-alat kami semua bergegas kembali ke rumah.

” Eh Danang kamu liat Alex ndak ” ucapku menanyakan keberadaan Alex yang dari tadi pagi belum aku lihat. Kuperhatikan sekeliling halaman rumah tak ada tanda-tanda Alex.

” Ora genah mas, tadi di sungai juga aku ndak lihat Alex. Makanannya dari pagi juga masih utuh ” jawab Danang yang juga bingung akan keberadaan Alex.

” Sweee wewewewengggggg ” suara gergaji yang dinyalakan Joko mengagetkan aku dan Danang.

” Jok, emang persediaan kayu kita habis ” tanyaku melihat Joko menenteng gergaji mesin.

” Ini bukan buat nebang pohon mas, tapi buat ngelepasin rantai yang ngiket Alex ” ucap Joko seraya pergi menuju kamar mandi umum yang letaknya di belakang rumah.

” Hah rantai ”

” Iya, ada yang ngerantai Alex di kamar mandi ”

” Udah-udah ndak usah digergaji, biar aku yang urus ” ucapku, seraya berjalan menuju Dina yang sedang bersama Surti di pendopo, sedang asik mengobrol.

” Eh Din…. ”

” Abisnya ngintipin gw mandi, gw rante aja. Masih untung gk gw congkel matanya ” ucap Dina menyela omongannya, sepertinya dia sudah tau aku ingin bertanya apa.

” Lagian lo ngapain mandi di belakang rumah sih, itu kan pemandian umum buat adik-adik gw ”

” Emang ada ya kamar mandi di dalem rumah lo ”

” Adalah ”

” Aduh abis gw udah kebelet, terus gw pikir biasanya kan kamar mandi di kampung ada di belakang rumah ”

” Ya udah lepasin si Alex. Dia gk bakal ngintip lo lagi deh ”

” Bener nih ya. Nih kuncinya ” ucap Dina seraya memberi kunci rantai kepadaku.

Ternyata Dina bisa lebih buas dari hewan buas bila privasinya terganggu. Huft hari ini sangat melelahkan sekali. Rasanya inginku beristirahat total malam ini. Semoga tidak ada keributan lagi.

***

3 hari sudah aku berada di kampungku, Dina sepertinya sangat menikmati keberadaannya di desa kelahiranku. Karna sibuk panen tembakau, aku jadi belum sempat mengajak Dina ke tempat wisata yang ada disini. Pasti dia sangat senang berwisata disini.

Pagi hari, udara dingin yang menusuk tulang membangunkanku dari tidurku. Terlihat Dina nampak kebingungan mengobrak-ngabrik lemari pakaian. Sepertinya dia mencari-cari sesuatu tapi entah apa itu.

” Dra ” ucap Dina memanggilku saat melihat aku sudah bangkit dari tidurku.

” Hmm ”

” Anterin gw ke pasar yuk beli celana dalam sama BH. Gw kan kesini bawa celana dalam sepuluh terus BH sepuluh juga, masa sekarang tinggal setengahnya ” ucap Dina ternyata kehilangan aset pribadinya itu.

” Ohh gitu ”

” Apa gk sengaja diangkat adik lo ya, waktu masih ada di jemuran ”

” Udah yuk ikut gw ” ucapku seraya turun dari ranjang dan menuntun Dina keluar kamar.

Kuajak Dina ke sebuah ruangan yang berada di teras rumahku. Saat kubuka ruangan itu nampak Alex sedang terbaring di atas tumpukan celana dalam dan BH yang bermacam-macam model dan warnanya.

” Woiii minggir Lex ” kutendang Alex yang sedang tertidur lelap. Alexpun menyingkir dan keluar ruangan.

” Lo cari aja mana punya lo ” ucapku menunjuk ke arah tumpukan kain-kain pribadi wanita.

” Macan lo normal gk si Dra, mau gw rante lagi apa tuh binatang mesum ” omel Dina melihat kelakuan Alex.

” Normal lah, diakan cowok. Oh iya dia tuh kucing persia ”

” Bodo amat ”

Bersambung