Love Never Takes Sides Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 18

Lembaran Lama

1 minggu sudah kami berpesta merayakan kelulusan kami. 1 minggu yang sangat menyenangkan, dan akan selalu kami kenang seumur hidup kami. Semua orang bergembira, yah walaupun ada yang belum lulus ikut-ikutan tapi gk masalah. Dan walaupun ada inseden kecil tak membuat suasana kegembiraan dan kebersamaan jadi hilang.

Kami semua sepakat untuk memaafkan perbuatan Rudi and the gank, dan tidak membawa masalah ini sampai ke kepolisian. Senjatanyapun telah kubuang ke jurang yang tak mungkin ada orang yang menemukannya. Walaupun setelah insiden itu mereka menjadi kikuk dengan kami, itu resiko mereka.

Terlihat wajah-wajah sayu tergambar disetiap orang, tertidur di bangku bis. Mereka sangat lelah melewati 1 minggu yang begitu berkesan. Mungkin 10 tahun lagi saat kami reuni momen ini lah yang akan kami obrolkan saat itu. Teman-teman seperjuangan, hhhhmmm seperti apa ya kami 10 tahun yang akan datang. Kami semua turun di kampus untuk mengambil kendaraan pribadi yang terparkir di sana.

” Dra lo langsung pulang kampung nih ? ” tanya Vika saat turun dari bis.

” Lusa Vik, hari ini gw mau istirahat, besok siap-siap baru lusanya berangkat ” jawabku.

” Woiii Dra, mber ayo mau balik gk ” teriak Dina yang sudah ada di dalam mobil.

” Kemasukan malaikat apa lo bleb nawarin gw ” ucap Vika heran melihat Dinayang menawarkan tumpangan.

” Lo kan gk dijemput bokap lo, klo lo naik angkot terus angkotnya kecelakaan terus lo mati, gk ada orang yang gw hina-hina lagi ” ucap Dina setengah mengejek.

” Sialan lo sembleb ” ucap Vika sewot seraya menaiki mobil Dina. Begitupun denganku. Ku duduk di belakang dan merebahkan tubuhku, sedangkan Vika duduk di depan, di samping Dina.

” Oke ayo kita berangkat, supir ” ucap Vika mengejek.

” Eh sialan lo, gw turun di semak-semak pinggir tol nangis lo ” ancam Dina sembari menjalankan mobilnya.

” Emang gw penakut kayak lo apa bleb ” ucap Vika santai.

” Woi berisik, gw ngantuk nih ” omelku kepada kedua wanita itu.

***

Sesampainya di rumah Vika, aku bantu dia membawa barang bawaannya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dina menunggu di mobil. Setelah selesai aku pamit untuk segera kembali ke kosan bersama Dina.

” Gw balik dulu ya Vik ” ucapku dari dalam mobil.

” Iya Dra. Eh sembleb hati-hati ya, jangan sampe mati ” ejek Vika

” Kurang ajar lo sember, awas lo klo ketemu lagi gw kerjain ” ancam Dina kepada musuh abadinya itu.

***

2 hari kemudian.

Siang hari pukul 1:00 semua barang bawaanku telah rapi, tak perlu bawa pakaian banyak-banyak, di kampung juga masih ada pakaianku. Oke tinggal cari ojek untuk mengantarku ke terminal. Dengan tas carrier dipunggung, setelah mengunci kamar kos, aku temui Bu Maria terlebih dahulu untuk menitipkan kunci karna aku akan tinggal pergi lama.

” Heh mau kemana lo Dra ” tanya Dina yang sedang asik menonton TV dengan Bu Maria di salah satu sudut ruangan.

” Mau pulang kampung Din ” jawabku.

“Titip konci ya Bu ” ucapku pada Bu Maria seraya menyerahkan kunci kamar kosku.

” Berapa lama kamu pulang kampung Dra ” tanya bu Maria

” satu bulan Bu ” jawabku.

” Hah lama amat Dra ” ucap Dina terkejut.

” Iya Din, sampe waktu wisuda baru gw balik lagi kesini ” ucapku pada Dina.

” Gw ikut donk Dra, bete gw nih ” pinta Dina.

” Ntar dicariin ortu lo lagi ” ucapku.

” Gk lah, kayak lo gk tau keluarga gw aja. Bentar ya gw beres-beres dulu ” ucap Dina seraya pergi menuju kamar kosnya untuk merapikan pakaian yang akan dia bawa nanti.

” Gk terasa ya Dra kamu udah lulus ” ucap Bu Maria. Kududuk di samping Bu Maria sambil menunggu Dina.

” Iya Bu, makasih ya Bu ”

” Sama-sama. Oh iya jangan lupa bawain saya oleh-oleh ya ”

” Oh tenang aja Bu ”

1 jam aku menunggu Dina merapikan barang-barangnya. Dasar wanita lama sekali Cuma merapikan pakaian saja. Apa Dina sedang mencoba-coba pakaian yang dia mau bawa nanti. Huft keburu sore nih.

” Yuk Dra gw udah kelar nih ” ucap Dina dengan 1 tas dipunggung dan 1 tas dia tenteng. Mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru muda dipadu dengan rok selutut berwarna sama.

” Din banyak amat bawaan lo. Kita naik ojek nih ” ucapku heran

” Naik mobil gw aja kaliiii ” ucap Dina.

” Stresss lo kira kampung gw dimana ” omelku.

” Mang dimana Dra ? ”

” Wonosobo, jawa tengah. Hampir 500 km dari Jakarta, kurang lebih 16 jam perjalanan naik bis ”

” Kenapa lo mau naik ojek Dra, naik bis aja lama ”

” Naik ojek ke terminal pulo gadung, dari sana baru naik bis ” ucapku ketus.

” Naik taksi aja ke terminalnya Dra ”

” Ya iya lah klo kondisinya kayak gini ”

Setelah pamit dengan Bu Maria, kami bergegas menuju terminal. Di jalan kami sempatkan mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa makanan. Setengah jam perjalanan akhirnya kami tiba di terminal pulo gadung.

” Kok terminal kayak gini ya Dra? ” tanya Dina seraya matanya keliling-keliling memperhatikan suasana terminal.

” Jangan udik deh ” ucapku ketus.

” Heh lo tuh yang udik, gw tuh biasanya ke bandara ” omel Dina tak terima dengan ejekanku.

” Udah ah, gw mau beli tiket dulu ” aku pergi menuju agen bus yang ada disekitar sana.

” Gw ikut, nanti gw diculik lagi ”

” Paling juga dijadiin pengemis lo klo diculik ” ejekku.

***

Mengingat dan membuka
Kisah lembaran lama
Membuatku tak bisa bicara

Ingin kucium bumi
Tempat aku berpijak
Agar terhapus semua penyesalan

Seputih awan yg di langit
Menghiasi angkasa
Sebening hatiku melepas
Masa lalu yg penuh hitam

Hilang, hilanglah sudah
Bergugur membisu jauh
Di dasar hatiku

Lepas, lepas semua
Lepas masa lalu
Jadikan kenangan yg terindah

Ingin kucium bumi
Tempat aku berpijak
Agar terhapus semua penyesalan

Seputih awan yg di langit
Menghiasi angkasa

Sebening hatiku melepas
Masa lalu yg penuh hitam

Radja : Lepas Masa Lalu​

Lengkingan suara pengamen di dalam bus menyanyikan lagu dari band Radja, membuat suasana menjadi semakin ramai. Belum lagi penjual cangcimen ( kacang, ciki, permen ) menjajahkan dagangannya kepada setiap penumpang bus antar propinsi tersebut.

Semilir angin pantura berhembus melalui celah jendela bus yang terbuka sedikit. Aku dan Dina duduk bersama menikmati perjalanan panjang menuju kampung halamanku. Entah apa yang aku katakan kepada orang-orang di kampung nanti tentang Dina.

Setelah bernyanyi beberapa lagu, kini saatnya si pengamen mengeluarkan pusakanya ( kantong plastik bekas snack, mereka menyebutnya kincringan ). ” Cring….cring….cring ” suara uang logam dari dalam pusaka itu menandakan sang pengamen mengharapkan ada sekeping / selembar uang sisa dari penumpang untuk dihibahkan kepadanya.

” Cring….cring….cring ” kini pusaka itu telah hadir di hadapanku dan Dina. Aku rogoh saku celanaku untuk ambil selembar uang bergambar patimura bawa golok untuk aku masukan kedalam pusaka itu.

” Hooooeeeeeekkk………….hoooooeeekkkkk…………hooooeeeekkkk ” seluruh isi perut Dina dimuntahkan.

” Wah mbak kok muntahnya di kincringan saya sih ” ucap pengamen itu dengan nada judes, tak terima pusakanya dijadikan tempat penampung muntah.

” Maaf mas, saya kira mas sengaja buat nampung muntahan saya ” ucap Dina polos.

” Kotor deh uang saya ” ucap pengamen seraya berlalu dengan wajah lesu.

” Norak amat si lo Din, naik bis aja mabok ” ucapku seraya memijat tengkuknya. Kuberikan kantong plastik hitam untuk menampung muntahannya.

” Brisik lo Dra, gw gk pernah naik bis ekonomi begini. Kenapa gk milih yang executive sih ” Omel Dina dengan suara lemah.

” Klo yang executive itu adanya jam 2 siang sama jam 7 malam. Lo sendiri aja tadi di kosan lama amat beres-beresnya. Lo juga gk mau lama-lama di terminal, ya udah gw pilih aja yang langsung berangkat ” ucapku memberi penjelasan. Bakal ribet nih diperjalanan.

” Pusing banget gw Dra ”

” Ya udah tiduran sini di paha gw ”

” Gw eneg banget gk bisa tidur Dra ”

” Nih makan permen dulu ” ucapku memberi sebuah permen mint untuk menghilangkan mualnya.

” Klo tau lo mabokan aturan tadi lo minum antimo dulu Din ”

” Kenapa lo baru ngomong sekarang Dra ”

” Gw mana tau klo lo bakal mabok. Biasanya sih di tukang cangcimen jual tuh antimo ”

” Ya udah klo ada tukang itu naik beli ya ” ucap Dina.

” Tapi sekarang kita baru aja masuk tol, liat aja tuh. Tukang jualan, pengamen udah pada turun sebelum pintu tol tadi ” ucapku santai.

” Kenapa lo tadi gk langsung beli sih, gw kan muntahnya tadi sebelum masuk tol ” ucap Dina lemas.

” Baru kepikiran Din ” ucapku.

” Jangan buat harapan kosong klo gitu. Seandainya gw punya tenaga, udah gw cekek lo ” ancam Dina.

Setelah kuberikan pijatan eklusif di tengkuknya, serta gosokan minyak angin di perut, kening dan hidungnya, akhirnya Dinapun tertidur dipangkuanku. Aku juga mencoba memejamkan mataku, tapi pandanganku selalu mengarah ke wajah cantik Dina, yang sedang tertidur. Wajah polos campur lemas, sangat menarik untuk kupandangi. Tangankupun tak sanggup untuk tak membelai kulit halus wajahnya itu.

***

Pagi hari di bawah tugu gilar-gilar Wonosobo, aku dan Dina setelah turun dari bus yang mengantar kami sampai tujuan. Sejuk udara yang sudah 4 tahun tak kurasakan. Kupandangi sekeliling tempat ini, hhhmmm hanya perubahan kecil yang terjadi selama 4 tahun.

” Hei Andra udah pulang toh ” ucap seorang bapak-bapak dari atas dokar.

” Ohhh Pak Sarno, apa kabar ” sapaku kepada pak Sarno yang sudah sedari aku kecil ia bekerja sebagai kusir dokar.

” Baik Dra, ayo naik dokarku ” ucapnya mempersilahkan aku menaiki dokar kesayangannya.

” Dra gk ngeri Dra, klo kudanya ngamuk gimana ” ucap Dina ketakutan dengan tangannya yang merangkulku erat.

” Udah gk usah takut ah ” ucapku, seraya menaikkan barang bawaan kami ke atas dokar, baru selanjutnya kami menaiki dokar milik Pak Sarno.

” Siapa ini Dra, cantik sekali ” tanya Pak Sarno saat melihat Dina.

” Calon istri pak ” ucapku seadanya. Yang membuat wajah Dina langsung memerah.

” Oalaaahhh lama ndak pulang, sekali pulang bawa calon istri ” ucap Pak Sarno. Aku hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalaku,

” Calon istri Dra ? ” tanya Dina berbisik padaku.

” Klo gw bilang lo itu teman atau pacar, bisa-bisa heboh orang satu kampung ” jawabku juga berbisik.

Hamparan kebun tembakau di kiri dan kanan mengiringi perjalananku menuju rumah. Terdapat beberapa orang yang menyapaku ketika melihat kedatanganku.

Setelah beberapa saat, disebuah rumah joglo khas jawa tengah kami turun dari dokar. Rumah yang lumayan besar terbuat dari kayu, serta ukiran-ukiran pada dinding kayu tersebut menghiasi rumah. Nampak 4 pendopo kecil di setiap sudut halaman rumah yang cukup luas, halaman yang ditumbuhi rerumputan halus menghiasi pekarangan rumahku.

” Mas Andra udah pulang ” teriak salah seorang adikku memberitahu kepada adik-adikku yang lain tentang kedatanganku. Tak lama kemudian adik-adikku yang berjumlah puluhan orang datang menghampiriku yang masih berada di halaman rumahku. Satu persatu mereka menyalamiku.

” Dra siapa mereka ” tanya Dina heran melihat adik-adikku.

” Adik gw Din ”

” Banyak amat adik lo Dra ” makin heran saja Dina mengetahui jumlah adikku yang banyak.

” Ini sih baru sebagian ” ucapku.

” Eh mas Andra siapa cah ayu ini ” ucap seorang adikku menunjuk kearah Dina.

” Calon istri, mba Dina namanya ” ucapku santai.

” Waaaaahhh mas Andra wis punya calon istri ” ucap adik-adikku serentak. Lalu satu persatu mereka juga menyalami Dina.

” Haaaaaauuuuuuwwwwww ” suara binatang mengaung dari belakang kami.

” Macan………macan……..macan ” teriak Dina saat menoleh ke belakang. Lalu memutar tubuhku dan bersembunyi debelakangaku.

” Ini kucing persia namanya Alex ” ucapku seraya membelai binatang peliharaanku itu.

” Kucing persia abad keberapa. Ini macan tauuuuuu ” omel Dina masih gemetar.

” Gk usah takut udah jinak kok ” ucapku seraya menarik Dina agar melepaskan cengkramannya. Alex pun mengulurkan tangannya ( lebih tepatnya kaki ) ke arah Dina.

” Kayaknya Alex mau kenalan tuh sama lo Din ” ucapku seraya menggerakkan tangan Dina agar menyambut uluran kaki si Alex.

Dengan gemetar Dina menyalami Alex sebagai tanda perkenalan mereka. Tanpa diduga Alex langsung mencium tangan lembut Dina. Sontak saja hal itu membuat Dina ketakutan dan menarik tangannya kembali.

” Dra macan lo genit banget sih ” ucap Dina heran.

” Bruaaakkkk ” tendangan Dina tepat mengenai muka Alex ketika mengetahui kepala Alex sudah berada dibawah selangkangan Dina, dengan wajah menghadap keatas seolah ingin melihat isi rok Dina.

” Dasar macan mesum sialan ” omel Dina yang sepertinya sudah hilang rasa takutnya.

” Hauw hauw hauw ” aungan Alex terdengar lirih menerima tendangan dari Dina.

” Udah yuk istirahat dulu ” kutuntun Dina menuju kamarku. Kamar yang lama tak aku tempati, walaupun begitu kamarku sangat rapi dan bersih karna adik-adikku selalu merawatnya.

***

Sore hari, aku duduk disebuah kursi rotan di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Sudah lama aku tak merasakan suasana seperti ini. Kupandangi hujan yang mulai turun sedikit demi sedikit membasahi pekarangan rumahku.

” Haiii mas Andra, kok pulang ndak ngomong-ngomong toh ” ucap Joko salah satu adikku, membuyarkan lamunanku.

” Oh Joko, sini duduk Jok ” dengan menyalakan sebatang rokok hasil lintingannya sendiri, Joko duduk di kursi rotan sebelahku.

” Rokok mas ” ucap Joko menawari rokok kreasinya.

” Kamu tau kan aku ndak ngerokok ” ucapku.

” Kirain tinggal di Jakarta jadi berubah ”

” Bapakku ngelarang aku ngerokok Jok ”

” Yo mas aku sudah tau. Eh ngomong-ngomong mas bawa calon istri ya. Mana mas calonnya ? ” tanya Joko celingukan.

” Lagi tidur, mabok dia selama perjalanan ” jawabku

” Dra rumah lo bagus banget ” ucap Dina dari arah belakangku.

” Udah bangun Din ”

” Oalahh ayu tenan mas calon istrimu ” ucap Joko saat melihat Dina.

” Kenalkan ini Joko Adikku ” ucapku memperkenalkan Joko.

” Joko ”

” Dina ” merekapun berjabat tangan.

” Mas Andra ini pengusaha muda lho mbak. Kebun tembakaunya ada 20 hektar, mba Dina tau pasti tadi kesini lewat kebon tembakau kan, nah itu kebon punya mas Andra, terus sapi ada 100 ekor lebih yang ada di belakang rumah yang nomor dua, sama kebun jati ada 5 hektar, tuh yang di sebelah rumah. Semua itu dia rintis dari kecil ” ucap Joko nyerocos menceritakan asetku. Dina hanya bisa diam mematung.

” Oh iya, mbak silahkan duduk ” ucap Joko kembali seraya berdiri memberikan kursi yang dia tempati untuk Dina.

” Makasih Jok ”

” Aku tinggal dulu ya mas, mbak ” ucap Joko lalu pergi entah kemana.

” Dra, gw gk nyangka klo lo orang berada juga ” ucap Dina yang heran dengan kondisiku.

” Masih hebatan keluarga lo Din, rumah gw Cuma pake kayu doank. Sedangkan lo pake bata, 2 lantai lagi ” ucapku merendah.

” Apaan Cuma pake kayu, tapi kayunya kayu jati semua, luas banget lagi. Ada ukirannya di dindingnya, kamarnya gw liat juga banyak ”

” Udah gitu peliharaan lo juga serem banget Dra ”

” Masih sereman anjing lo. Klo ada cewek telanjang mau nyuri di rumah gw, pasti dibiarin sama si Alex. Klo anjing lo kan gk bakal ” ucapku kembali.

” Oh iya, adik lo kok banyak amat sih Dra, ada berapa semuanya ” tanya Dina dengan penuh tanda tanya di kepalanya.

” 100 lebih lah klo di total ” ucapku santai.

” Haaaaahhh banyak amat ”

” Mereka semua anak-anak terlantar yang udah gk punya orang tua, gk punya tempat tinggal. Jadi gw tampung, gw pekerjakan di kebun dan peternakan gw. Mereka semua gk gw anggap sebagai pekerja tapi sebagai adik gw ”

” Orang tua lo dimana Dra dari tadi gw kok belum ketemu ” tanya Dina kembali.

” Orang tua. Ibu gw meninggal saat melahirkan gw, sedangkan bapak gw meninggal saat gw umur 10 tahun ” jawabku. Mengingat kedua orang tuaku membuatku meneteskan air mata.

” Sorry Dra. Gw turun berduka cita. Tapi gimana lo bisa seperti ini Dra, sampe bisa nampung adik-adik lo yang banyak ini ” tanya Dina semakin penasaran.

” Tentang bagaimana gw seperti ini dan tentang adik-adik gw, itu cerita yang berbeda. Bersambung ” ucapku santai

” CERITAIN SEKARANG ” omel Dina.

” Ya sudah gw ceritain sekarang. Semua ini bermula saat gw masih berusia 10 tahun ” ucapku memulai cerita.

( FLASH BACK 13 tahun yang lalu )

Di pinggir kali yang mengalir jernih. 3 orang bocah sedang melakukan kegiatan memancingnya.

” Dra empannya jangan dimakan, nanti mancingnya pake apa ” ucap Kardi teman sebaya Andra.

” Abis empannya roti sih, empan tuh mustinya cacing ” ucap Andra kecil berargumen.

” Ikan sekarang tuh seleranya tinggi-tinggi. Udah ndak doyan yang namanya cacing ” ucap Kardi.

” Woooooiiii Dra, bapakmu wis pulang, sekarang lagi ada di rumahku ” teriak Yoko sepupuh Andra dari atas jembatan.

” Iya mas Yoko aku kesana sekarang ” ucap Andra dengan gembiranya mendengar tentang kepulangan bapaknya. Pak Waluyo, bapak dari Andra seorang perwira angkatan darat berpangkat letnan satu. Kembali ke desanya setelah 1 tahun bertugas di Aceh.

Sesampainya dirumah Pak Wardi kakak dari bapaknya Andra. Andra langsung loncat memeluk bapaknya yang sudah 1 tahun tak ia temui.

” Gimana kamu Dra, nakal gk sama pakdhe dan budhemu ? ” tanya Pak Waluyo bapaknya Andra.

” Andra gk mau saya suruh tinggal disini, maunya tinggal di rumahnya aja ” ucap Pak Wardi. Walaupun begitu bu Mirna istri pak Wardi, selalu mendatangi rumah Andra untuk memberikannya makanan serta mengurusi kebutuhan Andra lainnya.

” Aku kan lelaki gk boleh takut klo tinggal sendiri ” ucap Andra dengan lantangnya.

” Uhuk…uhuk….uhukkk ” suara batuk pak Wardi terdengar berat sekali, dengan tangan menutupi mulutnya.

” Mas kamu masih merokok ” tanya pak Waluyo.

” Susah kang masmu ini klo dibilangi Dik ” ucap bu Mirna, istri dari pak Wardi.

” Aku ndak bisa sehari tanpa rokok ” ucap pak Wardi dengan santainya.

” Wis kayak bocah klo dilarang, rokok tak buang pasti ngambek, ndak mau makan seharian ” ucap Bu Mirna sewot.

” Uhuk….uhuk….uhuk ” kembali pak Wardi terbatuk. Dan terlihat darah dari mulut membasahi telapak tangannya.

” Bahaya ini mas, harus periksa ke dokter ” ucap pak Waluyo kwatir dengan keadaan kakaknya.

” Udah ndak apa-apa ” ucap pak Wardi tidak menghiraukan ucapan Adik dan istrinya.

***

Dibelakang rumah yang sangat sederhana kedua bapak dan anak sedang berlatih bela diri. Pak Waluyo sedang melati Andra agar menjadi lebih kuat.

“Auuuwww ” jerit pak Waluyo saat Andra memukul perutnya.

” Sakit ya Pak ” ucap Andra senang.

” Lumayan, pukulanmu sudah mulai berasa. Sekarang kita latihan menembak ” ucap Pak Waluyo seraya mengambil senjata laras panjang.

” Liat kamu harus bidik targetmu terlebih dahulu, tangan jangan kaku, tapi juga jangan lemas. Setelah itu baru. Duaarrrr ” seketika burung yang sedang bertengger disebuah ranting pohon tertembak jatuh.

” Hebat bapak ” ucap Andra kagum dengan bapaknya.

Setelah berlatih cukup lama, Andra dan pak Waluyo beristirahat di bawah pohon yang rindang. ” Dra bapak Cuma 1 bulan disini, bapak bulan depan ditugasi ke kalimantan ”

” Iya gk apa-apa pak, bapak kan seorang tentara, harus membela negara ” ucap Andra dengan bangganya.

” Sebenarnya bapak gk boleh mengajarkan kamu menembak, tapi bapak percaya sama kamu, klo kamu gk akan menyalah gunakan kemampuan kamu itu. Kamu harus jadi anak yang kuat, jika kelak kamu memiliki seseorang yang berharga, kamu harus bisa melindunginya ” ucap Pak Waluyo memberi arahan kepada Andra.

” Iya pak ” jawab Andra dengan fokus.

” Sekarang kita ke hutan, kita berburu menjangan yuk, ganti bajumu dulu sana. Ingat jangan pakai baju warna putih, karna terlalu mencolok bisa ketahuan musuh / buruan. Pake baju warna hijau karna menyatu dengan alam ” ajak pak Waluyo. Merekapun berburu ke hutan hingga sore hari baru pulang dengan seekor menjangan hasil buruan.

…………………………………………………

Pagi hari, suasana desa sangat heboh. Orang-orang berlarian entah apa yang terjadi. Bahkan orang dari desa sebelah pun berlarian seolah sedang mengungsi.

” Ada apa toh pak ” tanya Pak Waluyo yang baru saja keluar dari rumah, saat melihat ada kepanikan di desanya.

” Desa sebelah lagi ada baku tembak polisi sama teroris. Jadi penduduknya di evakuasi kemari. Ada sebuah rumah yang di duga tempat bersembunyi teroris ” ucap salah seorang bapak.

” Wah gawat…gawat kita juga harus ngungsi ini ” ucap salah seorang warga desa berlari menuju pos keamanan yang letaknya tak jauh dari rumah Andra.

” Tok…tok…tok…tok….tok ” suarang kentungan di pukul-pukul orang itu, untuk mengumpulkan seluruh warga desa. Tak lama warga desapun berkumpul

” Ada apa toh pak ” tanya salah seorang warga lainnya.

” Kita juga harus mengungsi, karna polisi yang menggrebek para teroris di desa sebelah, sedang dalam keadaan terjepit. Ada kelompok teroris lainnya yang mengepung mereka dari arah belakang. Klo polisi dapat dikalahkan sudah pasti target mereka adalah warga desa itu dan desa disekitarnya termasuk desa kita ini ” ucap orang itu dengan tergesa-gesa.

” Bagaimana bisa polisi terjepit seperti itu, seharusnya mereka ada pasukan cadangan yang siaga untuk memberi bantuan bila kondisinya seperti itu. Apa mereka kecolongan ” gumam pak Waluyo. Sontak dia langsung masuk ke dalam rumah dan keluar membawa senjata laras panjangnya.

” Mas Wardi titip Andra ya ” ucap pak Waluyo kepada kakaknya itu. Seraya pergi menuju tempat terjadinya baku tembak.

” Bapak aku ikut ” teriak Andra yang tak dihiraukan oleh bapaknya.

” Udah kamu disini sama aku Dra ” ucap Pak Wardi kepada Andra seraya memegang erat tangan Andra agar tak menyusul bapaknya.

***

Disebuah bukit pak Waluyo membidik satu-persatu teroris yang sedang melakukan penyerangan dari arah belakang kepada polisi itu. Satu-persatu mereka jatuh ,tanpa mengetahui siapa yang sedang menembaki. Polisi yang sedang terjepit, sedikit bisa leluasa bergerak, karna teroris sedang dalam keadaan panik, setelah anggotanya ditembak dari kejauhan.

” Ooohh jadi disini toh orang yang menembaki kami ” ucap salah seorang teroris yang berhasil menemukan tempat Pak Waluyo melakukan serangan. Dengan pistol diarahkan ke kepala Pak Waluyo, sang teroris hendak menembaknya.

” Jleeebbb ” sebuah bambu runcing, tepat menyambar leher dari teroris itu sebelum menembakkan senjatanya di kepala pak Waluyo. Langsung membuat teroris itu jatuh tersungkur dengan bersimbah darah segar yang keluar dari lehernya.

” Andraaa ” ucap pak Waluyo terkejut ketika menoleh ke arah datangnya bambu runcing itu. Dan ternyata sang anaklah yang melemparkannya.

” Aku mau melindungi bapak, aku rela mati demi bapak. Aku udah bunuh ibuku, aku gk mau bapakku meninggal ” ucap Andra dengan lantangnya.

” Durhaka seorang anak apabila mati mendahului orang tuanya. Bukan kamu yang bunuh ibumu, tapi ibumu yang telah merelakan nyawanya demi kelahiran kamu Dra ” teriak sang bapak menjelaskan kepada anak semata wayangnya.

” Kamu sudah diselamatkan oleh ibumu ketika kamu lahir, ingin mati setelah diselamatkan itu adalah hal yang bodoh ” teriak pak Waluyo kembali.

” Pulanglah, ada saatnya kamu akan melindungi orang yang kamu sayangi. Saat ini adalah saatnya bapakmu melindungi orang yang bapak sayangi, melindungi kamu anakku yang paling aku sayangi. Bantuan dari markas akan tiba dalam waktu 30 menit, bapak dan polisi hanya harus bertahan selama 30 menit saja. Jika bapak biarkan teroris itu mengalahkan polisi sebelum bantuan datang, maka teroris akan mengincar warga desa. Situasinya akan sangat sulit bila itu terjadi ” ucap pak Waluyo seraya memeluk anaknya.

Andrapun langsung berlari menuju desa, terdengar suara-suara tembakan yang saling bersautan. 1 jam sudah sejak Andra pergi meninggalkan bapaknya berjuang. Setelah situasi aman semua orang kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Andra, terduduk lemas di teras rumah menunggu kepulangan bapaknya.

” Kamu Andra ya ” ucap seorang pria bertubuh tinggi besar, dengan pakaian militer.

” Bapak ini siapa ” tanya Andra saat menoleh ke arah pria itu.

” Saya Pak Wahab, atasan bapakmu nak ” jawab bapak itu kembali.

” Hormat komandan ” ucap Andra lantang seraya berdiri dan memberi hormat.

” Bapakku bilang klo dia harus menghormati atasannya. Klo bapakku menghormati, berarti aku juga harus menghormati anda ” jawab Andra tegas.

” Anak pintar, pantas klo bapakmu sangat bangga padamu nak ” ucap pak Wahab seraya memeluk dan mengusap kepala Andra.

” Tapi pak komandan, bapakku kok belum pulang ya ?” tanya Andra.

” Sebentar lagi pulang kok nak. Bapakmu lagi tidur, tidurnya pules banget. Klo nanti bapakmu pulang masih tidur, jangan kamu ganggu ya ” ucap Pak Wahab.

” Siap pak komandan. Tapi kenapa perasaanku ndak enak banget ya ” ucap Andra lirih.

” Oh mungkin karna kamu masih takut karna ada teroris tadi ” ucap pak Wahab coba menenangkan Andra.

” Ndak aku ndak takut sama teroris, tadi aku bunuh 1 teroris yang mau nembak bapakku. Semuanya bisa aku lawan kecuali Tuhan. Aku Cuma takut sama Tuhan ” ucap Andra kembali.

” Hebat kamu nak, darah tidak bisa berbohong, kamu memang anak dari seorang Lettu Waluyo ” ucap pak Wahap Lirih.

” Ngiiiiiiuuuuuuuu….ngiiiiiiiiuuuuu……ngiiiuuuuuuu ” suara sirine terdengar meraung, nampak dikejauhan sebuah mobil putih yang mengeluarkan suara tersebut, bertuliskan ambulance.

” Nah itu bapakmu sudah datang ” ucap Pak Wahab seraya menunjuk ke arah ambulance tersebut.

” Kok naik ambulance pak ? ” tanya Andra heran melihat mobil yang membawa bapaknya.

” Mobil yang lainnya sedang dipakai, ada Cuma mobil ambulance. Tapi ndak masalah toh, yang penting bisa nganter bapakmu ” jawab pak Wahab.

Sebuah peti coklat dengan ditutupi kain merah putih di keluarkan dari dalam ambulan oleh beberapa orang berpakaian TNI. Terlihat wajah pucat dengan sedikit senyum tergurat, berbalut kain putih, ketika peti jenazah di buka.

” Pak komandan, kenapa bapakku pake baju putih. Dia ndak suka pake baju putih, kemaren tetangga meninggal juga pake baju putih sama kayak bapak. Bapak kenapa pak komandan, kenapa ? ” teriak Andra penuh tanya dengan tangis yang memilukan.

Dengan pelukan yang sangat erat pak Wahab coba memberi pengertian kepada Andra ” Kamu harus kuat nak, bapakmu gugur demi menyelamatkan rekannya, demi melindungi desanya dan juga demi melindungimu. Kamu harus bangga nak, seperti bapakmu bangga kepadamu ”

” Baappppaaaaaaaaaaakkkkkkkk….. baaaapaaaaakkkkkk ” teriak Andra sejadi-jadinya menyaksikan bapaknya terbujur kaku. tangis pilu seorang anak yang begitu menyayangi bapaknya menggelegar mengiringi kepergian sang bapak.

” Sabar nak sabar. Mengetahui kehilangan dan penderitaan, berteriak dan menangis adalah jalan untuk menjadi lelaki sejati. Menangislah nak, menangislah sampai kamu puas lalu bangkitlah ” ucap Pak Wahab lirih yang juga tak dapat membendung air matanya.

Takdir memilih awal dari hidup,
dan takdir pula yang menentukan akhir dari hidup.

Membawaku menuju jalan yang harusku ambil,
Menuntunku melintasi jalan yang tajam.

Terbungkus nyeri dan penderitaan,
sangat kuat hingga membuat sempit hidup ini.

Bahkan jika harus menghilang dari dunia,
Aroma penderitaan tetap selalu memimpin perjalanan ini.

Tapi aku tidak perlu takut, karena tekad api terwarisi di hati.
Aku tidak harus gentar, karena orang-orang yang berharga menungguku kelak.
Aku harus maju menuju cakrawala biru.​

Bersambung