Love Never Takes Sides Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 17

Manusia Lemah

Pagi hari saat makhluk-makhluk mungil berkicau diantara ranting-ranting pepohonan. Sinar matahari menerobos kabut embun yang membuyarkan pandangan. Para mahasiswa masih tertidur lelap karna lelah pesta semalam. Aku terbangun dari tidurku, sayang untuk dilewatkan pagi yang indah ini. Ku keluar tenda untuk menyapa makhluk mungil itu dan sang mentari pagi.

Terlihat seorang wanita duduk di dekat tumpukan kayu gosong bekas api unggun semalam. Asapnya masih keluar dari celah-celah batang kayu gosong itu. Ku hampiri wanita itu untuk menyapanya.

” Hai Vik. Tumben udah bangun ? ” sapaku pada Vika yang sedang duduk.

” Iya Dra. Gw lagi galau nih ” ucap Vika memandangi kayu gosong yang menyembulkan asap.

” Galau kenapa Vik ” tanyaku penasaran. Apa dia ingin balikan dengan mantannya itu, atau aku telah menyakitinya.

” 2 minggu lagi gw sama keluarga gw mau ke Lampung selama 2 minggu ” jawab Vika nampak tak bersemangat.

” Ohhh mau pulang kampung. Kenapa galau sih ? ” pasti kampungnya itu kampungan banget, gk ada hiburan atau semacamnya. Mungkin channel TV juga Cuma TVRI doank. Sungguh menyedihkan 2 minggu berada di pedalaman.

” Gw sepi gk ada lo Dra. Kesempatan buat si hakim sembleb tuh ngelangkahin gw ” ucap Vika sedikit emosi.

” Abis dari sini gw juga mau balik ke kampung gw, sekitar 1 bulan sampe waktunya wisuda kok ” ucapku seraya merangkul tubuh Vika.

” Kok lamaan lo, mang lo betah di kampung gk ada gw. Apa lagi kampung lo kan kampungan banget, gk ada hiburan atau semacamnya. Mungkin channel TV juga Cuma TVRI doank. Mang lo betah apa 1 bulan disana ” oceh Vika men-judge kampung halamanku. Kenapa bisa satu pemikiran gitu sih kami.

” Ngapain juga di Jakarta klo gk ada kegiatan mending gw sama adik-adik gw di kampung ” ucapku sedikit ketus.

” Kasian ya si sembleb klo gitu, gk ada lo dan gw, mau berantem sama siapa dia nanti ” ucap Vika membayangkan nasib Dina. Sejak kapan dia peduli dengan Dina.

” Ke curug yuk Vik ” ku ulurkan tanganku yang disambut dengan uluran tangan Vika, untuk menuntun Vika menuju curug yang berada di sekitar pegunungan itu.

Kutuntun Vika melalui jalan setapak yang sedikit licin dan berkelok. Sebelah kiri jalan terdapat tebing yang mengalirkan mata air segar, Sedangkan sebelah kanan terdapat semak-semak dan juga jurang yang hanya dipagari oleh kayu-kayu rapuh. Pohon-pohon besar juga terdapat di sepanjang kiri kanan jalan setapak itu.

” Dra ngeri amat jalannya ” ucap Vika erat berpegangan pada tanganku.

” Pelan-pelan jalan Vik ” ucapku seraya menuntun jemari lembutnya.

” Kok kayak gini sih jalannya Dra ”

” Namanya juga pegunungan Vik ”

Dalam genggamanku terasa jemari halus itu mengalirkan kehangatan yang menusuk hingga ke jantung. Vika adalah anugrah yang Kuasa yang bila tersentuh betapa indahnya. Sungguh lemah diriku, tak berarti hidupku bila tak ada dirimu. Andai kubisa akan kubalas semua cinta yang engkau berikan. Tapi cintamu sangat egois, datang disaat taman hatiku sudah bermekaran bunga-bunga cinta Dina.

Salahkah aku bila mencintaimu dan mencintainya. Dosakah aku bila tidak memilikmu. Mungkinkah aku harus meninggalkanmu, setelah aku mencintai dirimu. Memang bukan hanya kau yang bersemanyam di hatiku. Tapi kau selalu ada di hatiku sejak pertama ku melihatmu.

Jika kadar cintaku adalah 100, maka cinta untuk Vika adalah 100, sedangkan untuk Dina adalah 100. Bukannya aku jahanam, kuhanya menerima takdir.

” Wiiiiiiihhhh air terjunnya keren ya Dra ” teriak Vika saat sampai lokasi curug. Air terjun yang besar hingga cipratan airnya mengenai kami berdua, dan banyak bebatuan sungai, seolah mengobati kelelahan kami saat menelusuri jalan kecil berliku menuju lokasi.

” Lo mau berenang Vik ” tanyaku

” Gk ah, alirannya deres, airnya dingin lagi ” ucap Vika dengan tubuh menggigil.

Kutuntun Vika melewati bebatuan kecil menuju batu besar yang berada di tengah sungai. Kami duduk berdua disana, kulingkarkan tanganku pada perutnya, kupeluk Vika dari arah belakang, kukecup pipi halusnya.

” Dra ” ucap Vika lirih dan membelai rambutku. Kubiarkan bibirku tetap pada kedudukannya di pipi Vika untuk beberapa saat, sambil menikmati deburan air yang jatuh dari atas tebing nan tinggi di hadapan kami.

Vika !! Cintamu dapat kucium di udara, dapat kudengar di air, dapat kurasakan di bumi. Di tepian hati kutemui, cinta indah penghibur hati. Tapi aku tak bisa mengikat janji walau telah kuberikan cinta berhiaskan safir.

Walau Telah lama kau kucinta, bersamamu ku sangat ingin hingga merasuki mimpiku. Kau adalah pelangi yang berseri menggoreskan senyum di langit setelah badai.

” Vika, apa yang lo inginkan ? bunga ? akan gw taburkan di kasur lo setiap malam. Permata? Akan gw carikan yang lebih besar dari mata lo. Jika lo ingin menjadi ratu, akan gw rebut sebuah kerajaan untuk lo ” bisikku pada telinga mungil Vika.

” Ih apaan sih lo Dra ” ucap Vika lirih dengan wajah yang langsung memerah.

Oh pagi!! dapatkah kau saksikan wanita yang berada dalam dekapanku ini. Wanita yang dulu sering kuceritakan kepadamu menjelang aktifitasku setelah malam pergi. Kini wanita itu sudah berada sangat dekat denganku.

Oh siang!! Dapatkah kau lihat wanita yang bersandar di tubuhku. Wanita yang dulu sering kuhayalkan kepadamu saat kulihat wajahnya. Kini wanita itu selalu tersenyum manis kepadaku.

Oh malam!! Dapakah kau dengar suara hati wanita yang ada dipelukku. Wanita yang dulu sering kuimpikan kepadamu saat kumulai pejamkan mata. Kini wanita itu sudah menempatkan aku pada relung hati terindahnya.

” Dra balik yuk ” ucap Vika.

” Kok buru-buru sih Vik ” protesku.

” Gw udah kedinginan banget nih, dari tadi kecipratan air terjun. Lo sih enak di belakang gw gk kena cipratan air ” ucap Vika setengah mengomel.

Setelah perdebatan panjang ( gk juga sih ), akhirnya aku dan Vika berlalu meninggalkan curug menuju lokasi perkemahan. Kugenggam erat jemari Vika yang terasa bergetar. Jelas saja Vika kedinginan, karna baju yang ia gunakan basah terkena cipratan air terjun.

” Clak….clak….clak ” di tengah perjalanan, terdengar suara langkah kaki orang dari arah depan kami, sepertinya ada banyak orang yang hendak menuju ke curug.

” Heh sember kok lo udah duluan ke curug sih ” ucap Dina yang melihat Vika kembali dari curug.

” Ya iya lah, berdua kan lebih romantis dari pada ramai-ramai ” ucap Vika pongah.

” Berdua ? ” ucap Dina heran.

” Lho kok ranting kayu. Tadi gw sama Andra ke curug, tadi Andra ada di samping gw ” ucap Vika kaget saat melihat benda yang berada dalam genggaman tangannya.

” Woiiiii lo pada kok ninggaling gw sih ” ucapku dari belakang rombongan mahasiswa yang hendak ke curug. Saat mendengar suara langkah orang banyak, aku yakin jika mereka adalah teman-teman kampusku dan pasti ada Dina diantara mereka. Dengan secepat kilat kutukar tanganku yang berada dalam genggaman Vika dengan ranting kayu yang ada di sekitarku. Dan secepat kilat pula aku loncat ke semak-semak yang berada di sampingku dan mengendap-ngendap menuju arah belakang rombongan mahasiswa.

” Lo kemana aja sih Dra dari tadi dicari-cari gk ada, tau-tau nongol di belakang ” omel Dina.

” Gw lagi ke warung tadi ” ucapku beralibi. Kulihat Vika hanya bengong menatap ranting kayu yang masih dalam genggamannya.

” Eh Vik kok lo udah basah duluan sih ” ucapku santai di hadapan Vika.

Akhirnya aku dan Vika kembali lagi ke curug bersama rombongan. Vika yang mengigil kedinganan tak berkata apapun. Kuberikan jaketku untuk mengurangi rasa dinginnya.

” Dra tadi lo sama gw kan ? ” ucap Vika masih tertunduk lemas.

” Hhhmmmm ”

” Dra nih ranting kayu lumayan juga klo kena kepala orang ” ucap Vika mempertegas ranting kayu yang masih berada dalam genggamannya.

” Glek ” kuhanya bisa menelan ludah melihat ekspresi Vika yang dalam emosi tingkat tinggi.

” Akhirnya sampai juga ” teriak salah seorang dari kami ketika sampai tempat tujuan.

” Dra ayo nyemplung, jernih nih airnya ” ucap Dina seraya menarik tanganku.

” Aduh Din gw gk bawa baju ganti nih ” ucapku menahan tarikan tangan Dina.

” Lagian kenapa lo gk bawa baju ganti sih ” protes Dina.

” Lo sih ninggalin gw, jadi gw buru-buru deh, gk sempet bawa ganti ” ucapku memberi alasan.

Dengan bibir yang maju kedepan, Dina menceburkan diri ke dalam sungai bersama teman-temannya. Aku hanya duduk di bebatuan, mematung melihat kawan-kawanku asik bermain air di sungai. Aku duduk di samping Vika yang sedari tadi diam dengan ranting kayu yang masih dipegangnya.

” Vik ” ucapku membuka omongan.

” APA ” omel Vika dengan tatapan tajamnya, seolah ingin menerkamku.

” Kita kesana yuk ” ucapku menujuk salah satu sudut tempat yang agak jauh dari lokasi teman-temanku bermain air. Disana nampak sepi, hanya ada sebuah pohon besar nan rindang.

” Yuk ” ucap Vika tersenyum melihat lokasi yang aku tunjukkan. Sepertinya dia sudah tidak marah padaku.

Setelah sampai di lokasi yang kami inginkan. Kami duduk di akar-akar pohon yang keluar dari dalam tanah dan bersandar pada batang pohonnya. Berdua menyaksikan tubuh-tubuh basah yang menggigil bermain air, saling lempar air ke arah wajah mereka. Ada pula yang bertapa di tengah aliran sungai.

” Vik ” panggilku dengan menggemgam erat jemari halus Vika.

” Ya Dra ” sahut Vika begitu manisnya menatapku dengan tatapan sayunya.

Lama kami hanya saling pandang, tanpa ada lagi kata yang kami ingin ucapkan. Cukup dengan tatapan kami sudah tahu isi hati masing-masing. Lalu Vika menyandarkan kepalanya di bahuku.

” Dra, lo cinta gw ? ” tanya Vika yang membuatku semakin terdiam dan membeku. Udara dingin pegunungan saja tidak sanggup membuatku beku. Tapi mengapa pertanyaan dari Vika sanggup membekukanku. Bahkan udara di sekitarku terasa membeku hingga aku sulit untuk bernafas.

” Mungkin lo berfikir klo lo Cuma buat pelarian gw aja, setelah gw putus sama Rudi. Tapi itu gk bener Dra, gw udah mulai cinta sama lo saat kita 1 kelompok tugas akhir. Saat kita ngerjain tugas bareng, disaat itu gw nemuin sosok yang smart ” ucap Vika dengan suara begitu lembutnya.

” Uhuk…uhuk….uhuk ” ucapku sedikit berbangga dibilang smart.

” Yah walaupun lo suka nyebelin dan gk peka, tapi itu keunikan lo dibanding cowok lain. Karna waktu itu gw udah berkomitmen aja sama Rudi jadi gw gk bisa lebih dekat lagi dengan lo ” sambung Vika.

” Tapi syukurlah takdir memutuskan hubungan gw sama Rudi, dan gw bisa lebih dekat lagi dengan lo ” ucap Vika kembali. Aku masih dengan pose patung membeku mendengar pernyataan dari Vika.

Tanpa ia utarakanpun aku juga sudah tahu isi hatinya. Cinta itu bukan kata tapi rasa, tak perlu diucapkan dengan kata, hanya perlu dengan merasakan kehadirannya dalam hatiku, aku dapat tahu rasa cintanya padaku.

” Vik gw laper nih belum sarapan ” ucapku

” Oh iya, kita kan belum makan dari tadi. Lo sih segala pake balik lagi kesini ” protes Vika.

” Udah balik yuk ke perkemahan ” ajakku

” Yuk, lagian gw dingin nih disini ” ucap Vika

Tanpa sepengetahun teman-teman termasuk Dina, aku dan Vika kembali lagi ke perkemahan kami. Di perkemahan hanya ada Adi dan beberapa orang lainnya untuk menjaga barang-barang kami. Mereka sedang asik membakar jagung yang tersedia pada perapian.

” Woiiiii siapa yang suruh kalian bakar jagung ” omel Vika sang seksi konsumsi.

” Ya elah Vik pelit amat sih, gw udah bayar mahal nih buat ikut acara ini ” sahut Adi memprotes omelan Vika.

” Kwok gk adwa raswanya sih ” ucapku saat mengunyah jagung yang telah selesai dibakar.

” Payah lo bakar jagung aja gk bisa ” ejek Vika pada para lelaki itu.

” Sini gw yang bakar aja ” ucap Vika seraya mengambil duduk di depan perapian.

” Adi ambilin margarin, sama air asin kesini ” perintah Vika yang langsung dikerjakan oleh Adi.

***

Siang menjelang sore hari semua orang telah berkumpul di lokasi perkemahan. Akan diadakan acara lomba diantara kami. Ya walaupun tidak ada hadianya tapi tetap disambut antusian untuk menambah seru kegiatan kami.

Dengan toa di tangan Ani si seksi acara berdiri di tengah para mahasiswa untuk menjelaskan lomba seperti apa yang akan dimainkan

” Oke semuanya, lomba kali ini terdiri dari 2 tim, setiap tim berjumlah 2 orang dan dari jurusan yang berbeda supaya lebih akrab. Kalian lihat ban yang ngegantung di pohon itu ” ucap Ani menunjung 2 buah ban yang bergantung di pohon pada arah yang berlawanan, berjarak 20 meter.

” Ya itu adalah gawang. Pertandingan terdiri dari 2 babak, 1 babak dinyatakan selesai apabila salah satu tim berhasil memasukkan bola pada ban itu. Jika terjadi sekor 2-2 maka dilanjutkan dengan babak tambahan sebagai penentu ” ucap Ani menerangkan aturan permainan.

” Pemain tidak boleh membawa bola lebih dari 5 langkah, harus segera dioper jika sudah 5 langkah. Bola tidak boleh jatuh ke tanah. Tidak boleh berbuat kasar kepada tim lawan. Apabila melangkar bola menjadi milik tim yang tak melangkar. Akan ada lemparan bebas ” ucap Ani kembali menerangkan peraturannya.

” Untuk daftar tim dan pertandingan silahkan liat disini ” ucap Ani seraya menempelkan sebuah kertas berisi daftar tim dan jadwal pertandingan

” Heh An, kenapa gw 1 tim sama si sember sih ” protes Dina yang tak terima 1 tim dengan Vika.

” Kalian kan seksi konsumsi jadi sekalian aja jadi 1 tim ” ucap Ani menjelaskan alasannya.

” Mang gk ada orang lain apa ” protes Dina kembali.

” Udah ah ini kan Cuma hiburan aja ” ucap Ani santai.

” Huh bisa repot gw nih klo 1 tim sama si hakim sembleb ” ucap Vika pelan.

” Lo ngomong apa mber ” ucap Dina mendengar ucapan Vika.

” Lo main yang bener ya sembleb, jangan takut kuku lo rusak ” ejek Vika.

” Brisik lo sember, awas lo bikin tim kita kalah ” omel Dina tak mau kalah dengan Vika.

Skip skip skip

Pertandingan antara Dina dan Vika yang menggunakan rompi merah melawan Bela dan Uci yang menggunakan rompi biru segera dimulai. Kedua tim bersiap-siap melakukan pemanasan terlebih dahulu.

” Minggir lo sember ganggu pemanasan gw aja ” omel Dina seraya mendorong ke samping tubuh Vika dengan lengannya agar menjauh darinya.

” Di samping lo masih luas kali sembleb, ngapain lo ngambil tempat pemansan gw ” omel Vika menahan dorongan dari Dina. Terjadi saling dorong antar kedua wanita itu dan saling tatap dengan tatapan tajam setajam silet.

” Priiiiiitttt ” suara peluait ditiupkan oleh Indah sebagai tanda dimulai.

Bola pertama dipegang oleh Bela dari tim biru, lalu dioper kepada Uci. Uci berlari menuju gawang tim merah, sebelum langkah ke 5 Uci melempar bola untuk dioper kepada Bela, tapi ” tap ” dengan sigap Dina memotong aliran bola itu dan berlari menuju gawang tim biru. Setelah 5 langkah Dina mengopernya ke arah Vika.

” Bruaaakkkk ” bola tepat mengenai wajah Vika yang membuat Vika hilang keseimbangan, untunglah Vika masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh ketanah.

” Heh sembleb lo sengaja ya, ngelempar kenceng banget ” omel Vika

” Lo aja yang oon, gk bisa nangkep operan gw secara gw atlit profesional sedangkan lo amatir ” ejek Dina dengan senyuman iblisnya itu.

” Heh wasit ini namanya pelanggaran nih ” omel Vika kepada Indah sang wasit.

” Kalian kan 1 tim jadi gk diitung pelanggaran itu ” ucap Indah.

” Awas lo sembleb gw bales deh ” ucap Vika mengancam Dina.

Karna bola menyentuk tanah maka bola menjadi milik tim biru. Kembali Uci mengoper bola kepada Bela, lalu meliuk-liuk Bela diantara tim merah berusaha melewati pertahanan dari tim merah. Lalu dioper kembali bola kepada Uci.

Kedua wanita dari tim merah langsung menghampiri Uci yang sedang memegang bola, dengan cerdik Uci langsung mengoper kembali kepada Bela. Tim merah yang geram langsung menghampiri Bela untuk merebut bola.

” Gedabruuuuuukkkk ” kedua wanita dari tim merah jatuh berbarengan, karna kaki mereka saling mengait satu sama lain. Dengan begitu mudah bagi tim biru memasukan bola ke gawang tim merah.

” Priiiiiiitttttttt ” peluit berbunyi tandanya goal dan berakhirnya babak pertama.

” Lo klo gk bisa main jangan halangin gw deh ” omel Dina yang masih tergeletak di tanah.

” Lo tuh yang gk becus, ikutin gw mulu, orang mah mencar klo main ” omel Vika tak mau kalah dan juga masih tergeletak di tanah.

” Huh lawan tim cere kayak mereka mah gk perlu tenaga maksimal ” ucap Uci dengan sombongnya.

” Yoi bener itu, pake 1 tangan juga bisa menang kita ” sahut Bela tak kalah sombong.

” LO BERDUA NGOMONG APA ” ucap Dina dan Vika berbarengan dengan sangat berapi-api.

” Priiiiitttttt ” babak kedua dimulai dengan bola pertama untuk tim merah.

Ada yang berbeda dengan tim merah kali ini. Mereka jadi lebih kompak, operan-operan silang keras yang terarah tepat tak mampu dipotong oleh tim biru. Bahkan meskipun tim biru dapat menyentuh bola yang dioper tapi tak dapat memotong aliran bola itu karna begitu kerasnya aliran bola. Hingga membuat tangan wanita dari tim biru menjadi memerah.

” Goooaaaallll ” bola berhasil dimasukkan oleh Dina, skor untuk tim merah yang sudah sangat baik dalam permainannya.

” Hebat kan permainan seorang pro seperti gw ” ucap Dina dengan bangganya.

” Klo gk ada gw gk mungkin kita bisa cetak goal ” sahut Vika tak kalah bangga.

Kedua wanita itu kembali saling berpandangan dengan sangat tajamnya. Seolah api keluar dari dalam tubuh mereka.

” Priiiitttttt ” peluit kembali dibunyikan memulai pertandingan babak tambahan.

Bola milik tim biru, langsung direbut oleh tim merah ketika tim biru melakukan operan. Dengan secepat kilat terjadi operan-operan yang makin terlihat ganas. Bahkan bola tak terlihat kapan diopernya, tau-tau sudah ada aja di tangan mereka bergantian.

” Goaalll ” Vika berhasil memasukkan bola ke gawang, pertandingan dimenangkan oleh tim merah, Dina dan Vika.

Sekarang giliran regu putra yang bermain. Tak perlu diceritakanlah tim-tim yang bertanding lainnya, apa lagi timku yang langsung kalah pada pertandingan pertama di regu putra. Tak seperti tim Dina dan Vika yang melaju sampai ke Final, bahkan mereka berhasil menjadi juara di regu putri.

Tak ada yang menandingi kehebatan 2 wanita monster ini dalam pertandingan. Mungkin klo juara dari regu putra di adu oleh merekapun aku yakin pasti 2 wanita itulah pemenangnya.

” Ha ha ha ha seorang jenius gk ada yang bisa nandingin ” ucap Dina dengan sombongnya seraya bertolak pinggang.

” Hi hi hi hi permainan berubah saat seorang yang cerdas mulai serius ” ucap Vika tak kalah sombong dengan tangan menyilang di dadanya.

” Blebek…blebek…..blebek ” suara perutku bergemuruh di tengah perayaan kemenangan Dina dan Vika, sepertinya ada yang mau keluar nih, sial bener-bener ada yang mau keluar. Langsung kuberlari menuju toilet.

Beberapa saat kemudian ” Huh leganya ” tapi kok eneg ya mulutku “hooooeekkkkk….hooooeeeekkkk ” kumuntahkan isi perutku. Kok jadi lemes gini ya

” blebek….blebek ” sepertinya ada yang mau keluar lagi. Sialan buru-buru kukembali ke toilet.

Skip…skip….skip

Sudah 10 kali lebih aku muntah dan buang air besar, sepertinya aku terkena muntaber. Tubuhku sangat lemas sekali, semua makanan yang tadi kumakan keluar semua. Setiap diisi selalu saja keluar lagi dari jalur atas dan bawah.

” Heh sember lo masakin apa, si Andra kok jadi muntaber gini ” omel Dina melihat keadaanku. Semua orang berkumpul mengelilingiku. Kenapa jadi pusat perhatian gini sih.

” Gk mungkin klo dari makanan yang gw masak ” ucap Vika membela diri.

” Lagipula dalam acara perkemahan ini, gw khusus menyediakan makanan untuk Andra 100 kali lebih teliti daripada untuk kalian. Gw selalu memastikan makanan segar untuk Andra yang gw masak mengandung gizi yang tinggi. Sisanya baru untuk kalian, dan sisa paling buruk untuk si hakim sembleb ini ” ucap Vika kembali menjelaskan tentang makanan yang ia masak.

” Sialan lo sember untuk gw gk kenapa-kenapa ” omel Dina mendengar pernyataan Vika.

” Kurang ajar lo Vik, tega bener sama kita-kita ” ucap salah seorang mahasiswa.

” Itu aja sudah enak sekali kok ” ucap Adi tersenyum lebar.

” Selain makan dari yang gw sedian, lo juga makan di luar ya Dra ? ” tanya Vika.

” Gk Vik, gw gk beli makanan di warung ” ucapku dengan tubuh gemetar karna perut kosong.

” Duuuuuuuaaaaaarrrrrrr ” tiba-tiba saja terdengar suara letusan, seperti suara dari senjata api.

” Woiiiii apa maksud lo Rud ” ucap seorang mahasiswa yang melihat Rudi sedang mengacungkan sebuah pistol rakitan ke udara.

” Ayo sini ” bentak 2 orang mahasiswa lainnya yang juga membawa pistol berjenis revolve, menarik lengan Vika dan Dina seraya menodongkan pistolnya ke arah kepala kedua wanita itu. 2 orang mahasiswa yang bernama Iwan dan Ari, mereka dari jurusan hukum. Apa yang Rudi dan juga kedua temannya rencanakan.

” Diri lo Dra ” ucap Rudi saat menghampiriku, dia juga menodongkan pistolnya ke arah kepalaku. Semua mahasiswa berkumpul di belakangku, sementara Dina dan Vika berada di sampingku bersama kedua pria yang menodongkan senjatanya itu. Tak ada yang berani bertindak karna pistol di tangan ketiga pria itu.

” Vika. Karna cowok ini lo jadi mutusin dari gw. Dan lo juga Din, karna dia lo jadi jauhin gw ” bentak Rudi menatap kedua wanita itu.

” Gimana klo cowok ini mati dihadapan kalian. Gw dendam banget saat dia menghajar gw di mall dan sekarang saatnya pembalasan ” ucap Rudi kembali dengan tatapan bengis ke arahku. Aku hanya bisa menatapnya seraya tanganku memegang perutku yang terasa mules sekali.

” Gw yang naruh racun dimakanan lo Dra, sekarang lo gk bisa berbuat apa-apa. Ha ha ha ha ” si artis gagal itu tak bisa berhenti mengoceh sedari tadi. Membuat aku muak saja.

Dengan tatapan kebengisan mengarah ke arah kedua wanita seolah ingin menunjukkan betapa hebatnya dia ” Sekarang lo liat berdua lelaki yang kalian bela ini mati dihadapan kalian ” teriak Rudi sekeras-kerasnya.

” Brruuuuaaaaaaaakkkk ” tendanganku tepat mengenai tangannya, saat Rudi sedang lengah menatap kedua wanita itu. Hingga pistol ditangannya melayang ke udara.

” Bruuuaaakkk ” kembali tendanganku lancarkan, kali ini tepat mengenai perutnya hingga dia jatuh terduduk di tanah. Kuambil pistol yang telah jatuh ke tanah dan kutodongkan ke kepalanya.

” Manusia lemah seperti lo masih terlalu cepat 1000 tahun buat melawan gw ” ucapku.

” Dra taruh pistolnya atau gw tembak cewek ini ” ucap Iwan yang sedang menodongkan pistol kearah Dina.

” Gw hitung sampai 5 klo gk cewek ini juga gw tembak ” ucap Ari yang juga sedang menodongkan pistol ke arah Vika.

” Gw hitung sampai 3, lepasin kedua wanita itu ” ucapku tegas.

” Sedikit aja lo lukain Rudi, gw gk akan ragu buat nembak kepala cewek ini ” teriak Iwan mengancamku.

” Bruuuaaaakkkk ” sekali lagi tendanganku tepat mengarah ke muka artis gagal itu.

” Coba aja tembak klo berani. Lo tembak, gw juga tembak orang ini ” gertakku tak kalah galak.

” Dra lo pengen gw mati apa ” teriak Dina ketakutan.

” Iya Dra. Lo gk peka banget sih, klo gw mati gimana ” teriak Vika tak kalah ketakutan.

” Tidak ada negosiasi untuk manusia lemah macam mereka. Sorry Dina, Vika. Sepertinya kalian harus berbagi nasib dengan Rudi ” ucapku santai.

” APA MAKSUD LOOOOOO ” teriak kedua wanita itu berbarengan.

” Tenang aja, gw akan usul kepada rektor untuk memberi kalian penghargaan. Dan keluarga kalian akan bangga ” ucapku kembali dengan santainya.

” GW GK BUTUH PENGHARGAAN ITUUU ” teriak mereka kembali berbarengan.

” Hei kalian 2 cowok suram, peluru kalian paling Cuma berisi 10 peluru disetiap senjata. Sedangkan disini ada 100 orang. Klo kalian menembakan peluru itu Cuma ada 20 orang yang bisa kalian bunuh, dan sisanya akan meringkus kalian dan memasukkan kalian ke dalam penjara. Lo tau gimana rasanya hidup di penjara. Makanannya gk enak, kerja kuli gk dibayar, dan lebih parah lagi di penjara tuh banyak lelaki kesepian. Tak ada wanita, priapun jadi, lo mau disodomi, bukan Cuma pake barang cowok tapi pantat lo juga bakal dicoblos pake linggis. Lo berdua mau ? ” ucapku coba menakutkan mereka.

” Woiii Dra gw gk mau jadi salah satu dari 20 orang itu ” teriak salah seorang mahasiswa.

” iya gw juga gk mau ”

” Gw juga ”

” Sama gw juga ” suasana menjadi sangat heboh sekali. Karna mereka takut menjadi korban pembunuhan.

” Berisik lo semua dasar pengecut ” bentakku kepada mereka mahasiswa pengecut.

” Heh gimana lo mau gk seperti itu ” ucapku kembali kepada 2 pria yang sedang menodongkan pistol kepada kedua wanita.

Kedua pria itu langsung gemetar, hingga membuat mereka menjatuhkan pistol dari genggaman mereka.

” Gw gk mau masuk penjara Dra, maafin gw deh. Gw Cuma disuruh sama Rudi dan dijanjiin bakal dibayar ” ucap Iwan tertunduk berlutut.

” Iya gw juga gk mau Dra ” ucap Ari.

” Dra maafin gw Dra, gw Cuma bercanda kok ” ucap Rudi dengan tubuh mengigil hebat.

” Bruuuaaakkk ” untuk kesekian kalinya tendanganku hinggap ke wajah Rudi hingga membuat dia tak sadarkan diri.

” Duar…duar…duar…duar ” kutembakkan pistol yang ada ditanganku ke arah langit untuk menghabiskan pelurunya. Setelah itu kubongkar senjata rakitan itu dan kumasukkan kedalam pelastik agar tidak ada yang menyalah gunakanny.

Ku hampiri Dina dan Vika yang masih ketakutan akan peristiwa tadi. ” udah kalian gk usah takut semua udah beres kok ” ucapku coba menenangkan mereka.

” Klo tadi dia bener nembak gw gimana Dra ” ucap Dina gemetaran.

” Iya bener tuh kata sembleb ” ucap Vika juga gemetaran.

Kuambil kedua pistol yang dijatuhkan oleh Iwan dan Ari. Kemudian kuarahkan ke kepala kedua wanita itu ” Dorr..dorr ”

” Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ” kedua wanita itu berteriak dan ada juga teriakan dari wanita lainnya yang kaget dengan tembakan yang barusan terdengar.

” Gk mati kan kalian. Ini tuh senjata palsu yang Cuma bisa ngeluarin suara letusan, yang asli Cuma yang dipegang Rudi aja ” ucapku santai.

” Heh ” Dina dan Vika heran.

” Alasan pertama. Liat aja cara Rudi megang senjata, tangannya gemeter. Sedangkan Iwan sama Ari terlihat biasa saja. Senjata asli lebih berat, untuk Rudi yang masih amatir itu membuatnya kesulitan. Dan 2 orang temannya juga amatir tapi kenapa mereka biasa saja saat memegang senjata. Pasti itu karna senjata yang mereka pegang senjata palsu atau mainan ”

” Alasan kedua. Senjata Rudi rakitan sedangkan senjata kedua temannya buatan pabrik sejenis revolve. Disini Rudi sebagai bosnya karna dia yang bayar kedua orang itu. Gk mungkin seorang bos malah pegang senjata rakitan, kecuali revolve itu palsu pasti bosnya milih yang asli ” ucapku memberikan analisaku.

” Bruak…bruak ” tiba-tiba saja kedua wanita itu merebut senjata dari tanganku dan serentak memukulkannya ke kepalaku.

” EMANG INI GK BISA BIKIN GW MATI. TAPI BISA BIKIN JANTUNG GW COPOT BODOOOOHHH ” teriak mereka sangat kompak dalam menyiksaku. Ternyata mereka sewot karna main asal menembakkan senjata palsu itu ke arah kepala mereka.

” Masuk lo ke tenda, lagi muntaber jangan banyak tingkah deh ” omel Dina seraya menyeretku ke tenda.

” Kalian semua iket ketiga cowok ini di pohon. Gw mau cari obat dulu buat Andra ” perintah Vika kepada para mahasiswa.

Bersambung