Love Never Takes Sides Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 16

Saatnya Pesta

2 minggu kemudian tepatnya hari Senin, setelah semua persiapan camping sudah beres. Semua mahasiswa berkumpul di kampus untuk berangkat menuju sukabumi. Kami menyewa 2 bus untuk transportasi, bus 1 diisi oleh mahasiswa Hukum yang dikoordinir oleh Arman, sedangkan bus 2 diisi oleh mahasiswa MI yang dikoordinir oleh Diki.

” Oke gw absen ya, yang gw sebut namanya masuk ke bis ” ucap Diki dengan toa di tangannya.

” Ali ” panggil Diki

” Hadir ” ucap seorang pria lalu melangkahkan kakinya menuju bus

” Ayu ”

” Hadir ” ucap seorang wanita

Skip…skip…skip

” Siska ” ucap Diki

” Ya hadir ” ucap seorang wanita dan melangkahkan kakinya menuju bus

” Eh sembleb nama lo kan bukan Siska, lagian bis anak hukum tuh di depan ” omel Vika menarik kaos bagian belakang Dini yang berpura-pura jadi Siska

” Gw tukeran bis sama Siska, tanya aja sama orangnya ” omel Dina seraya melepaskan tarikan Vika pada kaosnya

” Wah jangan-jangan lo pake cara yang kemaren ya ” ucap Vika setengah berbisik

” Lo kira lo doang yang nyimpen tuh foto ” ucap Dina tersenyum iblis

Skip…skip…skip

Setelah namaku disebut akupun bergegas menuju bus, saat kunaiki bus terlihat dibangku sebelah kiri bus. Yup bangku untuk 2 orang disana sudah ada Vika dengan bangku bertuliskan ” VIKA “, ” ANDRA ” pada sandarannya.

” Duduk sini Dra, udah gw tandain kok bangku buat kita berdua ” ucap Vika bersemangat seraya tangannya menepuk bangku di sebelahnya yang bertuliskan namaku

” Disini aja Dra, lengkapan juga duduk sama gw ” ucap Dina yang berada di sebelah kanan bus, bangku untuk 3 orang yang bertuliskan ” DINA “, ” ANDRA “, ” MAKANAN ” ( tentu saja terdapat makanan ) pada sandarannya.

” Waaahhhhh lo lagi pesta Din ” ucapku bersemangat seraya mengambil duduk di sebelah Dina, lalu kubuka snack yang tersedia disebelahku.

” Eh hakim sembleb licik banget lo, udah numpang bis orang ” omel Vika

” Eh ada yang sendirian, tau gitu gw tadi bawa anjing gw buat nemenin lo ” ejek Dina.

Vika yang kesal langsung bergegas menuju kursi di belakangku, dengan menyingkirkan orang yang sedang duduk disana ” Eh sembleb makanannya higenis gk nih, coba gw cicipi ” ucap Vika seraya mengambil makanan yang ada di kursi sebelahku.

” Eh sember gw gk nyediain buat lo ” omel Dina merampas makanan dari tangan Vika.

” Sembleb lo kan orangnya gk ngerti tentang makanan, klo makanan yang lo beli beracun gimana ” terjadi saling rampas makanan antar kedua wanita itu.

” Eh ada tv dan DVD player ternyata di bis ini ” ucap Vika kagum saat melihat fasilitas bus.

” Ih norak deh lo, gk pernah naik bis executive ya ” ejek Dina melihat tingkah Vika.

” Kok acaranya gk jelas gitu sih, kebetulan gw bawa film romantis nih ” ucap Vika seraya mengambil DVD yang ada di tasnya lalu coba memutar film yang ia bawa.

” KUNTILANAK ” heh apanya yg romantis

” Aaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkhhhhhhh ” jerit Dina ketika melihat film itu. Langsung memelukku dengan wajah merapat kepundakku.

” Brisik sembleb, belom juga mulai filmnya udah teriak ” omel Vika, sepertinya dia tau klo Dina sangat penakut dengan hal-hal berbau horor

” Lo jangan aneh-aneh deh, apanya yang romantis itu, ganti gk ” teriak Dina ketakutan, sambil melempar makanan kearah tv.

” Dasar penakut. Eh ini kan bis anak MI, lo Cuma numpang jangan ngatur-ngatur deh ” ucap Vika santai.

” Eh sembleb ada tangan di bawah kolong bangku lo, mau narik lo tuh ” ucap Vika membisikkan Dina yang sedang memelukku erat.

” Aaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhh ” sontak saja Dina langsung menaikkan kakinya keatas bangku. Tubuhnya bergetar sangat kencang, semakin erat pula genggaman tangannya yang berkeringat dingin.

Karna komplain dari mahasiswa yang berada di bis maka film horor diganti menjadi video musik. 5 jam perjalanan menuju Sukabumi, kami bernyanyi bersama, bercanda gurau bersama. Suasana yang menyenangkan walaupun ada peperangan antara dua wanita monster itu. Dan sampailah kami pada tujuan kami.

” Huuuuaaaaaaaa ” kuhirup dalam-dalam nafasku menikmati segarnya udara disini. Area parkir yang sangat luas, dan ada banyak warung yang menjual makanan ataupun pernak-pernik sebagai cindera mata.

” Dra sini Dra ” ucap Vika menarik tanganku menuju tempat penjual pernak-pernik.

” Bagus ya kalungnya Dra ? ” tanya Vika saat memegang kalung terbuat dari batu yang diasa, seperti yang pernah kubelikan untuk Dina saat di tangkuban perahu.

” Ya lumayan ” jawabku singkat.

” Pak berapa nih kalung harganya ? ” tanya Vika kepada bapak penjual pernak-pernik

” 200 Ribu aja neng, gk mahal kok, ” jawab bapak itu.

” Segitu mah mahal pak, kurangin ya ” ucap Vika berusaha menawar

” Ya udah 180 ribu lah buat pelanggan pertama hari ini ”

” Masih mahal pak ”

” Udah mentok itu neng, nih kalung unik neng, semakin lama semakin mengkilap warnanya, apalagi klo aura yang make bagus tambah mengkilap ”

” Masa sih pak ”

” Bener neng, klo bohong balikin aja, saya kembaliin duit neng 2x lipat ” ucap bapak itu sangat meyakinkan.

” Ya udah 100 Ribu ya, kan pelanggan pertama, nanti saya doain deh semoga laku “Vika kembali berusaha menawar

” Gk dapet neng ”

” Masa sih, modalnya paling Cuma 50 Ribu ”

terjadi tawar menawar yang sangat sengit antar kedua orang itu, aku sudah malas mendengarkan transaksi mereka dan akhirnya……..

” Ya sudahlah 100 Ribu buat neng deh, semoga pacar neng bisa tenang di saat terakhirnya ” ucap bapak itu menyerah seraya matanya menatap kearahku. Maksudnya apa omong begitu.

” Dra gw udah nawarin tuh, sekarang gantian lo yang nawarin ” ucap Vika menatapku dengan tatapan sayunya.

” Maksudnya apa Vik ” perasaanku mulai gk enak

” Maksudnya, lo nawarin diri untuk beliin tuh kalung buat gw. Gk peka banget sih lo ” jiiiaaaahhhh modus gembelnya kumat lagi. Daripada ribet kubelikan sajalah kalung yang Vika inginkan.

” Eh Vik lo ngomong apa sama tuh bapak, kok dia jadi nyerah terus kata-kata terakhirnya tuh penuh misteri ” tanyaku pada Vika.

” Oh, gw bilang klo cowok yang di samping gw ( Andra ) itu punya penyakit kanker stadium akhir, gk punya duit buat berobat. Tapi mau beliin buat ceweknya ( Vika ) kenangan untuk mengenangnya saat dia meninggal. Kasih aja harganya segitu daripada arwahnya gk tenang ” ucap Vika santai

” Lo kejam banget Vik bilang gw mau mati ”

” Eh sembleb lo beli apa tuh ” tanya Dina yang berada dihadapan kami.

” Kalung donk, bagus kan, dibeliin Andra nih ” jawab Vika seraya menunjukan kalung di lehernya.

” Idih kok lo ikutan beli kalung gitu. Gw udah punya lebih dulu nih, dibeliin Andra pas di tangkuban perahu ” ucap Dina tak mau kalah menunjukan kalung.

” Eh sembleb kok kalung lo lebih mengkilap sih ” ucap Vika memperhatikan kalung Dina.

” Oh iya donk, secara aura gw lebih bagus daripada aura lo terus gw udah lama dibeliinnya ” ucap Dina berbangga.

Sontak saja Vika kembali menuju penjual pernak-pernik itu, menanyakan apa ada yang lebih mengkilap lagi. Tapi sayang semuanya seperti itu warnanya.

” Wooiiiii semua ngumpul jangan pada mencar ” teriak Diki dengan toa di tangannya.

Setelah semua mahasiswa berkumpul barulah kami berjalan menuju lokasi perkemahan. Lumayan jauh dari lokasi parkir kendaraan, jaraknya sekitar 1 km dengan jalan yang menanjak yang sangat melelahkan. Tapi semua itu terbayar saat sampai di lokasi yang sangat alami, cukup luas di kelilingi pepohonan juga ada fasilitas out bond-nya dan dilengkapi juga dengan fasilitas untuk mck ( mandi, cuci, kakus ).

Kami semua membuat tenda di lokasi tersebut, ada 20 tenda dan setiap tenda terisi oleh 5 orang. Dan juga ada 1 tenda yang besar untuk memasak dan menyimpan bahan makanan. Untuk keamanan kegiatan memasak dilakukan diluar tenda, tapi saat mengolah tidak masalah berada di dalam tenda, saat selesai barulah kompor dimasukan kedalam tenda.

Setelah semua rapi para mahasiswa bergantian menggunakan kamar mandi. Sambil menunggu giliran, aku dan Adi seperti biasa bermain PES dengan taruhan tentunya.

” Dra ” ucap Adi setengah berbisik.

” Napa ” jawabku

” Gw lagi demen nih sama anak hukum, namanya Uci. Lo tau dia kan Dra, senyumnya itu lho bikin darah gw beku Dra. Apalagi suara serak-serak basahnya membuat gw seolah berada di taman surga. Dan terutama wajahnya itu Dra cantik melebihi bidadari, gw gk sanggup lama-lama menatapnya. Nanti saat acara api unggun gw mau nembak dia Dra, gw mau ngomong sama seksi acara biar dikasih waktu. Pasti berkesan banget tuh menyatakan cinta di malam hari di tengah orang-orang yang mengelilingi api unggun sebagai saksi ” ucap Adi dengan sangat dramatisnya.

” Sorry gk terima curhatan cowok ” ucapku santai. Yang membuat Adi tertunduk lemas

” Lo kan temen gw, seharusnya lo dukung gw napa ” ucap Adi mengangkat kepalanya. Terlihat pipi yang dipenuhi air mata.

” Cengeng amat si lo jadi cowok, baru gitu doank udah nangis apalagi klo ditolak nanti ” ucapku kembali.

” Lo tega banget sih, malah buat gw down gitu ” air mata Adi semakin deras saja membasahi pipinya. Haduh….haduh cowok bukan sih.

” Udah ah gw mau mandi dulu, udah sepi kayaknya kamar mandi ” ucapku seraya pergi setelah mengambil perlengkapan mandiku.

” Eh tunggu dulu taruhan kita gimana nih ” teriak Adi

” Gk jadi ” teriakku

Setelah selesai mandi, ku mencium bau harum makanan dari tempat masak. Sepertinya Dina dan Vika sedang memasak sesuatu yang sedap nih. Ku langkahkan kaki menuju tempat mereka berdua menyiapkan hidangan. Disana sudah terdapat Dina, Vika dan juga teman-teman wanita lainnya yang membantu memasak.

” Eh sembleb lo dari tadi diem aja sih. Ngerjain apa kek ” omel Vika yang melihat Dina hanya diam memperhatikan teman-temannya memasak.

” Heh sember, gw tuh mandor tugas gw tuh ngawasin kerjaan lo terus nyicipin hasil masakan lo, enak apa gk buat Andra ” omel Vika tak mau kalah

” Lo udah pernah gw rebus belum bleb. Sini lo gw rebus ” omel Vika kembali.

” Eh sember ajarin gw masak donk ” ucap Dina mendekati Vika

” Kemasukan arwah siapa lo bleb, tiba-tiba mau belajar masak ” ejek Vika

” Jangan omong tentang arwah deh ” protes Dina

” Lo mang mau masak apa ? ” tanya Vika

” Apa aja yang penting mah enak ” jawab Dina

” Ya udah lo gw ajarin masak air aja deh ” ucap Vika enteng

” Heh sember nenek-nenek sekarat juga bisa klo Cuma masak air doank mah ” Protes Dina tak terima dengan ucapan Vika.

” Sorry deh gw kira lo udah nenek-nenek ” ucap Vika dengan santainya.

” Jangan bikin gw emosi deh mber ”

” Nih coba lo ulek dulu bumbunya ” ucap Vika menyodorkan cobek beserta rempah-rempah di atasnya.

Dina mengikuti perintah Vika, dia tumbuk bumbu yang banyak ke dalam cobek yang lumayan besar itu. Semakin lama semakin banyak saja bumbu yang diperintahkan oleh Vika untuk ditumbuk.

” Aduh mber pegel tangan gw nih ” keluh Dina yang sudah tak kuat

” Baru gitu aja ngeluh lo bleb ” ucap Vika

” Eh Andra itu daging belom mateng, buat acara barbeque nanti malem ” ucap Vika setengah ngomel padaku.

” Puaaahhhhh ” kumuntahkan daging yang sedang ku kunyah

” Pantes gk enak rasanya ” ucapku sembari mengambil segelas air lalu berkumur dan membuang air tersebut.

” Lagian sejak kapan sih lo ada disini. Ngembat makanan lagi ” protes Dina yang juga kesal terhadapku.

” Ih lo gk peka banget sih bleb. Andra pasti laper tuh, lo sih dari tadi diem aja ” omel Vika pada Dini.

” Ini gara-gara lo sember, lo sih masaknya lelet. Sebenernya bisa masak gk sih lo ” omel Dina tak mau kalah.

Sepertinya hanya mereka berdua saja yang ramai. Para wanita lainnya yang juga ikut membantu memasak tidak begitu ramai.

***

Malam hari, seluruh mahasiswa mengelilingi api unggun yang sangat besar. Menghangatkan tubuh-tubuh yang kedinginan. Dalam suasana kehangatan, kebersamaan dan kegembiraan kami berkumpul mengadakan malam kenangan. Berdiri ditengah seorang lelaki, ketua panitia Diki akan memberikan sepatah dua patah kata pembuka sebelum memulai pesta.

” Oke kawan-kawan hari ini kita bergembira karna kelulusan kita kecuali satu orang ” ucap Diki

” Satu orangnya jangan diomongin dan jangan liat gw dengan pandangan kotor kalian ” omel Dina tak terima dengan ucapan Diki.

Dengan senyum menyeringai Diki kembali melanjutkan omongan tak bergunanya ” Setelah kita melewati tahun-tahun penuh perjuangan, doa dan air mata, setiap menit………. ”

” MARI SAATNYA PESSTAAAAAAAAAA ” teriakku menyela omongan membosankan dari Diki.

” YYYYOOOOOOO ” teriak seluruh mahasiswa menyambut ucapanku. Dan kami pun berpesta ria, memanggang daging, bakar jagung, bernyanyi-nyanyi, tertawa, semuanya bergembira bersama kecuali…………….

” Gw kan ketua panitia kenapa omongan gw gk dianggap ” ucap Diki lemas dengan mode suramnya.

” Kami kan seksi acara, harusnya ada acara baca puisi, kenapa jadi begini ” ucap Indah dan Ani juga dengan mode suram

” Gw kan rencananya mau nembak Uci, kok malah berantakan gini sih acaranya ” gerutu Adi seraya berlutut lemas, lebih suram dari ketiga orang itu.

” Kok lama banget sih matengnya Vik ” gerutuku yang sedang mengipasi daging panggang.

” Sabar napa makan yang lain dulu sana ” ucap Vika yang berada di sampingku.

” Heiiiiii semua merapat kesini. Gw mau bercerita tentang petualangan gw di hutan terlarang yang ada di balik gunung ini ” teriak Chandra seorang petualang ( dalam tanda kutip ) yang katanya sering menjelajahi area-area terlarang di negri ini.

Dan entah kenapa masih aja ada yang mau dengar ocehan bodohnya itu. Apa mereka sudah kerasukan iblis penghayal juga. Mereka berkumpul mendengarkan Chandra yang berada di atas tumpukan batang pohon, segera memulai celotehan tak bergunanya itu.

” Eh Chandra ada uler tuh di bawah kaki lo ” teriak salah seorang mahasiswa.

” Aaaaahhhhhh mana ulernya mana ” teriak Chandra berlari dan bersembunyi di balik tenda. Katanya petualang sama uler aja gemeter. Padahal bukan uler tapi ulet bulu dasar pengecut

” Kenapa Ani, kenapa kau hianati cintaku yang tulus kepadamu. Aku pergi bukan untuk hura-hura Ani. Aku pergi untuk mencari uang agar bisa melamarmu. Mengapa kau malah memilih lelaki lain, ku akui dia lebih kaya dariku, lebih segala-galanya dariku, tapi Ani cintaku itu suci kepadamu ” seru Rudi dengan gaya melankolis ala rhoma irama. Disambut tepukan tangan dari teman-teman idiotnya itu.

” Hebat gk akting gw, gw udah masuk 10 besar waktu casting film layar lebar, tapi sayang pas final gw sakit. Terpaksa deh gw nyerahin kemenangan gw yang udah didepan mata ” ucap Rudi si artis gagal dengan bangganya itu bercerita tentang pengalaman ngaconya di dunia hiburan.

” Jangan pake-pake nama gw klo mau main akting-aktingan ” omel Ani seraya menghantamkan tinjunya tepat di kepala si artis gagal itu.

” Minggir-minggir kasih gw jalan, gw anak jendral nih, gw punya kartu nama bokap gw nih ” ucap Salim dengan gaya petentang-petentengnya sambil menunjukan sebuah kartu nama yang tak jelas.

” Gubraaaaaaaaaaakkkkk ” tiba-tiba Salim terjatuh karna tersandung batu yang tak ia lihat. Dan tentu saja orang yang disekitarnya menyorakinya. Ada-ada saja tingkah si tukang mimpi itu.

” Kita harus rubah sistem pendidikan di negri tercinta ini. Agar adik-adik kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita bisa mengenyam pendidikan yang layak. Mari saudara-saudara kita perjuangakan nasib generasi penerus kita, jangan sampai kita kalah dengan kaum-kaum kapitalis yang menjajah negri ini baik secara micro ataupun macro ” teriak Hadi mahasiswa tukang demo berorasi di depan sekelompok mahasiswa lainnya. Disambut dengan teriakan-teriakan pembakar semangat juang.

” Ada satpol PP ” teriak salah seorang mahasiswa.

” Wah gawat membahana cyin. Ayo cyin lari nanti kita di tangkep ” teriak Hudi lalu berlari berjinjit sambil menenteng sendalnya masuk ke dalam tenda. Ada ya makhluk astral seperti itu.

Heh ngomong-ngomong dimana si Dina ya kok tau-tau menghilang, ku coba mencari-cari di sekitar tempat kami berkumpul tak ada. Jangan-jangan dia di culik kolong wewe. Coba ku cari di tendanya dan ternyata dia sedang duduk merenung di dalam tenda seorang diri. Sepertinya dia sedang murung, apa karna dia satu-satunya yang tidak lulus disini jadi dia minder.

” Hai Din lagi pain nih ” ucapku seraya ke sentuh pundaknya. Tak ada jawaban apapun dari Dina, hanya menoleh kearahku dan langsung memelukku erat. Terdengar isak tangis dengan tubuh yang gemetar.

Ku belai rambutnya coba menenangkannya, mungkin Dina sedang teringat oleh keluarganya. Yah siapapun pasti akan sedih bila mengalami hal yang dialami Dina. Sungguh sangat menyedihkan, di usianya yang masih muda, dia harus mengalami cobaan hidup yang begitu berat.

” Ta..ta…di ” ucap Dina terbata mulai terbuka olehku.

Dengan tatapan nanarnya Dina melanjutkan ucapan yang terputus ” Tadi si IT sember bilang klo kita buat keramaian disini, penunggu sini pasti minta 1 tumbal. Dan tumbal yang diinginkan penunggu sini tuh adalah satu-satunya orang yang beda dari yang lainnya. Dan lo taukan disini satu-satunya orang yang beda itu gw, gw belum lulus sedangkan yang lain lulus. Gw takut Dra klo gw jadi tumbal ”

Heh ternyata Dina Cuma kena korban jahilnya Vika saja. Dasar penakut, semakin kencang saja pelukan Dina, dan semakin banyak saja produksi keringat dingin dari tubuhnya.

Kuangkat wajahnya yang sudah basah oleh keringat dan air mata. Kukecup bibirnya agar mengurangi rasa takutnya itu. Dapat kurasakan bibir yang bergetar perlahan mereda berganti dengan permainan bibir seperti biasa dia berikan padaku.

Kecupan-kecupan lembut bibirnya mengundang lidahku untuk keluar dari mulutku dan masuk ke dalam mulutnya untuk mencari-cari lidahnya yang ternyata sudah menunggu di dalam. Ku belai tangan yang terbalut sweater tebal berwarna putih itu, kugenggam jemari halusnya. Kurapatkan tubuhnya agar lebih menghangatkan kami di malam yang begitu dingin ini.

Tubuh indah berbalut pakaian tebal kini berada dalam dekapanku, bibir mungilnya bersaut-saut tak bersuara beradu dengan bibirku. Dengan mata terpejam menikmati percumbuan yang telah sering kami lakukan. Tak memperdulikan sorak-sorai para manusia yang tengah dalam kegembiraan. Kesenangan kami berdualah yang lebih menyenangkan dibanding mereka.

” Uuupppfff ” terdengar sayup-sayup suara lenguhan Dina tertahan. Belaian mesra jemari lembutnya mengelilingi punggungku, terasa sedikit geli.

Dina mulai melepas cumbuan kami dan mulai membuka sweaternya dan sweater yang kugunakan. Tubuh kami saat ini terlindung oleh kaos tipis dan celana training panjang.

Ku rebahkan tubuh indah yang sudah mulai terbakar nafsu. Kembali cumbuanku hinggap dibibirnya, lidah kami saling menggeliat menggali nafsu agar lebih berkobar. Ku naikkan kaosnya hingga nambah bra berwarna hitam sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya itu. Kumulai turunkan lidahku menuju perut ratanya itu. Kujilati lubang pusarnya hingga Dina menggelinjang kegelian menerima rangsanganku.

Kusingkap bra yang membungkus payudara besar nan sekalnya dan kunaikkan lidahku menuju jalan setapak yang membelah kedua bukit indahnya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Dina merentangkan tangannya diatas kepalanya lalu mengunyel-ngunyel rambutnya sendiri.

” Ooooohhhhssssssss ” desahan Dina mempertegas bahwa nafsunya telah mulai meninggi. Sudah tidak ada ketakutan lagi pada dirinya. Kini yang ada hanya kebinalan yang menjadi ciri khasnya dalam bercinta.

Kumulai melirik seonggok daging kecil berwarna merah kecoklatan yang berada diujung payudaranya. Lidahku mulai merangkang naik menuju puncak bukit kebanggaannya. Setelah sampai tanpa menunggu perintah ataupun isyarat mulutku langsung mencaplok putting yang sudah mengeras. Kupermainkan dengan lidahku putting yang berada dalam kulumanku.

Tangan Dina mulai menelusuri kepalaku, menekan kuat kepalaku agar lebih dalam lagi saat mengulum puttingnya. Tanganku juga tak tinggal diam, kuremasi bukit yang sedari tadi tegang agar lebih tegang lagi. Terlihat urat-urat payudaranya menghijau mempercepat sirkulasi darah pada payudara Dina.

Kukulumi bergantian kedua putting payudaranya yang selalu menantangku ” Oooouuuggghhhh ” desahan Dina semakin kencang menerima perlakuanku yang semakin liar.

Dina yang sudah tak tahan menurunkan kepalaku kearah vaginanya yang masih terbungkus celana training itu. Aku yang sudah paham mengenai keinginannya langsung menurunkan celana beserta cd-nya sampai ke lutut Dina. Dengan sekali sapuan lidahku menelusuri ujung ke ujung vagina yang sudah basah.

Jilatan pada vaginanya diiringi oleh remasanku dikedua bongkahan payudaranya. Dina makin menggelinjang ke kiri dan ke kanan menikmati gejolak birahi yang terus mengalir seiring gerakan lidah dan tanganku memainkan tubuh halus nan indahnya.

Kusudahi permainan lidahku pada vagina Dina. Sekarang saatnya ke menu utama, ku turunkan celanaku hingga sebatas lutut, dan langsung mengacung tegang penisku yang sudah sangat mengeras sedari tadi. Ku belai-belai vagina Dina dengan ibu jariku sebelum melakukan penetrasi. Setelah kupastikan bahwa vaginanya telah siap menerima hujaman penisku barulah kumulai memasukkannya secara perlahan.

” OOoooouuuggggghhhh ” lenguh kami berbarengan menikmati setiap inchi pergesekan antar penisku dan vagina Dina. Saat penisku menyentuh sisi terdalam vaginanya, akupun tak kuasa untuk menahan gejolak cinta dalam balutan nafsu.

Kini baru aku sadari cinta bisa hadir saat bersama mengarungi lautan birahi, dengan perlahan tapi pasti merasuk ke jiwa ini setiap bait kenikmatan yang terukir. Sejenak hilafku lupakan Vika yang sedang membakar daging untukku.

Kini tubuh binal wanita bernama Dina berada di bawahku dalam kendaliku. Tubuh yang meliuk-liuk kesana-kemari, meresapi nikmat yang terlalu dalam untuk kami berdua rasakan. Desahan-desahan binal dari mulutnya membuatku semakin berambisi untuk lebih kokoh menancapkan penisku memaku vaginanya yang telah mengembang memberi akses keluar – masuk.

Semakin lama waktu berjalan semakin kencang gerakanku memompa vaginanya. Begitu pula Dina dengan gerakan pinggulnya yang semakin binal membuat penisku lebih kencang tersedot oleh vaginanya.

Tenda yang tebal membuat orang-orang diluar tak dapat melihat aktifitas kami di dalam yang sedang berpacu dalam birahi. Memberi kami rasa nyaman yang membuat kegiatan percintaan kami semakin bergelora.

” AAAAAAAAAaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhh Drraaaaaaaaaaa ” leguh Dina saat mendapatkan orgasmenya.

” Ooooooouuuuugggggghhhhh Diiiiiiiin ” begitu pula denganku saat spermaku menyembur dan membasahi dinding vagina Dina.

Berdua digelapnya malam dan pikiran kami melayang, menerawang jauh terbang melintasi awan dengan rasa nikmat yang tak berhingga. Ingin sekali kami gapain puncak dari langit tak beratap, saat kami raih semua orgasme dan sejuta rasa tak terucap yang terlepas dari seluruh keinginan nafsu yang terus menerus membakar tubuh-tubuh terbalut semilir angin pegunungan.

Tubuh kami akhirnya terhembas, tergeletak di atas kasur angin yang menjadi alas persenggamahan kami berdua. Nafas kami yang berat menandakan betapa lelahnya kami bercinta di tengah udara pegunungan yang tipis ini.

” Dra….Dra dimana sih lo ” terdengar suara Vika sedang mencariku, sepertinya telah berada di depan tenda tempat aku dan Dina berada.

” Eh ada lo disini sembleb ” ucap Vika ketika membuka tenda dan melihat Dina berada di dalam.

” Kok lo main buka aja si sember ” omel Dina yang terkejut dengan kedatangan Vika.

” Ihhhh lo abis ngapain kok toket sama meki lo kebuka gitu. Abis onani ya lo ” tanya Vika yang heran melihat kondisi Dina. Buru-buru Dina menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.

” Gw abis berdua sama Andra, lo tebak aja sendiri gw sama Andra abis ngapain ” ucap Dina

” Andra ? mana Andra gk ada. Dari tadi gw nyari gak ada, setiap tenda gw liat gk ada Andra ” ucap Vika bingung dengan ucapan Dina.

” Lho ngilang kemana tuh si Andra, tadi ada di sini sama gw mber ” ucap Dina ikutan bingung.

” Kemana Andra ya padahal dagingnya udah mateng tuh ” ucap Vika

” Hah udah mateng Vik ” ucapku yang berada di belakang Vika. Untunglah saat mendengar suara Vika aku langsung keluar tenda menerobos bagian bawah tenda dan langsung merapikan pakaianku. Tenda memang mudah untuk di terobos jadi tak perlu khawatir.

” Heh kudanil sejak kapan lo ada di luar tenda ” ucap Dina kaget melihatku

” Lo kemana aja sih gw cari-cari baru nongol ” ucap Vika setengah mengomel.

” Ayo Din kita mulai makan-makannya ” ajakku seraya menarik tangan Dina agar bangkit dan menuju tempat makanan. Dina hanya bisa bengong melihatku.

Bersambung