Love Never Takes Sides Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 15

Satu Moment

Pagi hari saatnya bersiap untuk kembali ke Jakarta. Kami berkemas merapikan barang2 bawaan kami berdua.

” Gw masih pengen di sini Dra ” ucap Vika lemas karna akan menyudahi kebersamaan kami berdua. Ya aku juga masih ingin bersamanya tetapi aku sudah berjanji week end ini pergi bersama Dina. Aku perlu mengistirahatkan tubuhku dulu.

” Next time kan bisa ” ucapku coba memberi harapan kepadanya. Entah apa yang kupikir saat ini. Aku mencintai 2 orang wanita.

Perjalanan yang lumayan panjang dengan sesekali beristirahat untuk melemaskan otot-otot yang kaku di atas sepeda motor. Vika seperti biasa dengan keceriaannya, walaupun sedikit bodoh untuk urusan geografi. Sepanjang perjalanan dia memelukku sangat erat, menyandarkan kepalanya pada punggungku.

Sesampainya di gang dekat rumahnya kami berpisah. Aku perhatikan langkahnya menuju rumah, nampak tak ada kelelahan pada tubuhnya. Dia memang gitu sih.

Saat aku tiba di kosanku, kulihat kamar Dina terbuka. Ternyata dia sedang asik menonton TV. Dina menoleh kearahku saat mendengar suara langkah kaki.

” Eh baru pulang Dra ” ucap Dina dengan senyuman khasnya menyapaku.

” Iya Din. Lo udah makan Din ” tanyaku sedikit berbasa-basi.

” Oh iya, lo kan abis perjalanan jauh pasti laper Dra ” ucap Dina dengan wajah berseri lalu bangkit dan mengambil beberapa makanan yang tersedia di kamarnya.

” Taruh dulu tas lo di kamar lo terus makan di sini ” ucap Dina kembali.

Setelah ku taruh tasku di kamar kosku, aku langsung menuju kamar Dina. Tak bisa aku ingkari bahwa aku merindukannya.

” Kemaren lo di sini apa di rumah lo Din ” tanyaku membuka pembicaraan sambil menyantap hidangan yang tersedia.

” Di sini, bete gw di rumah. Di sini banyak temennya jadi gk bete, ada bu Maria juga yang bisa gw aja ngobrol ” jawab Dina.

” Ohh gitu. Gimana Din persiapan lo untuk acara di sukabumi nanti ”

” Gw udah pesan kue-kue, gitu buat cemilan, nah untuk menu utama katanya si sember yang mau masak sendiri pas di perkemahan. Tapi kemaren gw mau pastiin dianya gk bisa dihubungi ”

Dina dengan kaos putih berpadu rok biru berenda selutut nampak lebih cantik dari biasanya. Baru kali ini kulihat dia menggunakan rok. Dengan rambut yang digerai berwarna kemerahan membuat kesan anggun di mataku.

***

Malam hari di kamar kosku, aku berdua Dina sedang membaca sebuah majalah fasion. Dina nampak antusias memperhatikan lembar demi lembar model-model pakaian yang tercetak di majalah itu. Meminta pendapatku bila Dina menggunakan pakaian seperti yang tertera di majalah. Ya tentu saja komentarku selalu diprotes olehnya.

” Heh sembleb ngapain lo berduaan dikamar Andra ” teriak Vika dari depan pintu kamar kosku. Mengagetkan kami berdua dan langsung menoleh kearahnya.

” Lagi mesra-mesraanlah, lo kira lagi mancing apa ” ucap Dina dengan nada ketus.

” Bohong lo, pasti lo lagi ngomongin gw kan, jelek-jelekin gw di depan Andra ” omel Vika yang selalu mencurigai Dina. Lalu menghampiri kami berdua.

” Ogah amat gw. Nyebut nama lo aja gw anti, apalagi ngomongin lo semberrr ”

Ku mengendap-ngendap pergi menuju kamar mandi. Menghindari peperangan antara mereka. Walaupun suara mereka masih terdengar. Ku perhatikan saja gerak-gerik mereka dari balik pintu kamar mandi.

” Eh sembleb lo kemaren kemana gk bisa gw hubungin ” tanya Vika ketus. Untunglah saat tiba di hotel pantai terlebih dahulu aku blokir nomor Dina di ponsel Vika saat Vika sedang di kamar mandi, sehinga mereka berdua tak dapat saling menghubungi.

” Lo tuh yang kemana gw telpon gk bisa, di sms gk masuk ” ucap Dina tak kalah ketus.

” Oh klo gw kemaren jalan sama Andra berduaan gitu di pantai, satu kamar lagi di hotel ” ucap Vika pongah

” Bohong lo mana buktinya ” tanya Dina tak percaya.

” Nih cupangan si Andra ” ucap Vika seraya menunjukan cap merah di leher.

” Ah gk percaya, paling itu bekas bekam ” Dina tetap tak percaya.

” Klo bekas bekam tuh bulet-bulet semblebbb gk kayak gini ” Vika semakin sewot menghadapi Dina.

” Penyakit lo kan aneh, sama kayak orangnya ” Ejek Dina

” Nih gw punya foto gw sama Andra di pantai ” ucap Vika tak mau kalah, seraya mengambil ponsel dari tasnya. Di kutak-katik ponselnya mencari foto kami berdua

” Mana lama amat sih buka foto doank, hp baru ya, belum bisa makenya ” Ejek Dina yang melihat Vika hanya mengutak-atik ponselnya saja.

” Selama di pantai gw foto-foto lho sama Andra, kok sekarang fotonya gk ada ya ” ucap Vika keheranan karna tak menemukan 1 fotopun saat kami di pantai. Untunglah saat mau pulang ku sempatkan menghapus foto-foto kami berdua terlebih dahulu.

” Aduh aduh dasar tukang ngibul gagal ” ejek Dina kembali.

” Eh sember lo udah pesen kue-kue belum ” tanya Vika mengalihkan pembicaraan

” Udah bleb. Lo gimana, mau masak di perkemahan apa pesen katering aja ? ” tanya Dina

” Masaklah, klo katering takut basi soalnya kan kita 1 minggu. Klo masak kan kita bisa masak hari ini seperlunya, terus besok masak lagi. Bahan-bahan mentah yang belum mau dimasak dipress aja biar gk busuk. Gitu bleb, dasar lo oon juga ya ” ucap Vika menjelaskan diiringi ejekan.

” Bener juga kata emak-emak satu ini ” ucap Dina setengah mengejek.

” EH LO NGOMONG APA BARUSAN ” teriak mereka berdua berbarengan.

” Eh ngomong-ngomong si Andra kok lama amat di kamar mandi ” ucap Vika kebingungan.

” Jangan-jangan dia kena diare mber ” ucap Dina kwatir.

” Wah lo kasih makan apa bleb dia sampe diare. Lo kan gk bisa masak, pasti beli makanannya asal deh ” omel Vika.

” Lo tuh pake segala dateng, Andra mules liat muka lo tau ” omel Dina tak kalah galak.

” Ada apaan sih berisik amat ” ucapku keluar dari kamar mandi.

” Lo dikasih makan apa Dra sama si sembleb ” ucap Vika.

” Gw gk kenapa – kenapa ” ucapku.

” Eh sember lo gk balik, udah malem nih ” ucap Dina ketus.

” Lo juga sembleb balik ke kandang lo sono ” ucap Vika tak kalah ketus.

Huft jika mereka berdua bertemu selalu saja ribut begini. Saat Vika pulang dan Dina kembali ke kamar kosnya saatnya ku beristirahat, mengembalikan energiku yang hilang karna ulah mereka berdua. Yah walaupun Dina kembali lagi ke kamar kosku saat memastikan Vika sudah tak ada jejaknya di kosan.

” Lo balik lagi Din ”

” Klo si sember tau gw tidur di sini, dia pasti mau nginep juga. Terus minta gw telponin bokapnya ” ucap Dina ketus

***

Jumat sore aku bersiap mengemas barang yang akan dibawa pergi bersama Dina.

” Dra jangan ke curugnya ya, kita ke pemandian air hangat aja. Kan nanti di sukabumi juga kita ke curug jadi sekarang gk usah ” pinta Dina yang juga telah siap dengan tasnya yang lumayan besar.

” Ya boleh ” ucap seraya memasukan pakaianku ke dalam tas.

Dina menggandeng erat tanganku menuju parkiran mobil di area kosan. Tangannya begitu hangat dan lembut. Lagi-lagi Dina mengenakan rok, ya rok berwarna pink berenda selutut bermotifkan bunga-bunga, dipadukan kaos ketat berwarna putih polos berlengan panjang. Rambut yang tergerai berhiaskan bandana berwarna serupa dengan kemejanya. Benar-benar terlihat cantik.

” Hai makhluk cantik yang berada di sampingku, sudahkah kamu siap pergi denganku ” sapaku dari depan kemudi pada Dina, sedikit gombal.

” Makhluk ? lo kira gw apa ” protes Dina.

” Karna gw gk tau bidadari itu termasuk manusia atau malaikat ” ucapku dengan senyuman kearahnya. Langsung saja muka Dina memerah dan tertunduk. Bisa juga aku ngegombal

” Udah yuk ah berangkat ” ucap Dina dengan wajah masih tertunduk.

Ku pacu mobil berwarna putih itu, menuju tempat tujuan. Ternyata Dina bisa juga berpenampilan anggun seperti ini. Fokusku dalam menyetir jadi berkurang karna sesekali kupandangi wajah cantiknya itu. Setiap ada kesempatan selalu pandanganku tertuju padanya, saat macet, lampu merah.

” Sejak kapan lo ganjen begini Dra, lirik-lirik gw mulu ” ucap Dina yang tertunduk, tak mampu melihatku yang sedang menatapnya. Kedua tangannya dirapatkan dan dijepitkan dikedua pahanya.

” Low hawriw iniw cantiwk bangewt Dwin ” ucapku dengan mulut penuh makanan. Ternyata mengasikkan juga makan sambil melihat bidadari.

” BISA SERIUS SEDIKIT GK SIH KLO LAGI MEMANDANG LADY ” omel Dina, wajah yang merah merona berubah menjadi merah padam. Wujud aslinya keluar juga.

***

Sesampainya di kawasan gunung bunder, udara sudah terasa menusuk tulang. Suasana sudah gelap, kami penginap pada sebuah resort. Ku parkir mobil dan langsung memasukan barang bawaan kami ke dalam Villa yang tersedia di resort itu. Villa yang lumayan untuk kami berdua, dengan 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi serta 1 ruang keluarga.

” Kok serem ya Dra ” ucap Dina clingak-clinguk

” Namanya juga nuansa alam pedesaan ” ucapku santai

” Villa gw di lembang gk gini-gini amat ” ucap Dina masih ketakutan

” Udah ah, tidur yuk biar besok kita bisa bangun pagi-pagi ” ku tuntun Dina menuju kamar tidur. Kamar tidur yang luas, dengan kamar mandi berada di samping kamar tidur.

Ku rembahkan diriku ke atas ranjang yang cukup luas untuk kami berdua setelah mengganti pakaian, begitu juga dengan Dina. Ku coba pejamkan mataku, aku lelah setelah perjalanan yang lumayan jauh.

” Dra gw gk bisa tidur nih ” ucap Dina gemetar merangkul tubuhku.

” Kan ada gw, gk usah takut napa. Lagian juga ada temen lo juga tuh di sebelah lo, pake baju putih, rambutnya panjang ” ucapku santai

” Apaan sih lo Dra ” tubuh Dina makin bergetar, keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Walaupun suhu di tempat ini sangatlah dingin.

” Udah tidur ah, gk ada apa-apa kok ” ucapku seraya kembali memejamkan mataku. Masih kurasakan rangkulan Dina yang bergetar kencang. Sampaiku tertidur pulas

***

Di tengah mimpiku tiba-tiba ku terbangun ingin pipis. Dengan mata masih sangat berat kuberanjak dari tempat tidur, lalu kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi……..

” Gubrrrraaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk ” tubuhku terhepas ke lantai, sialan si Dina lagi-lagi merantai kakiku. Apa maksudnya coba.

” Lo mau kemana Dra ” tanya Dina yang terbangun dari tidurnya. Kulihat kakinya juga terantai terhubung dengan kakiku.

” Pipis. Lo apa sih maksudnya ngerante kaki gw di kaki lo ” ucapku sedikit sewot.

” Gw ikut, klo kaki kita gk di rante nanti lo main pergi ninggalin gw sendirian ” rengek Dina sedikit manja.

Ku berdua Dina menuju kamar mandi, padahal dia tidak ingin pipis. Dasar penakut. Kok kami berdua kayak tawanan perang sih kakinya di rantai gini. Setelah pipis aku dan Dina kembali tidur. Dina masih saja gemeteran memeluk erat tubuhku.

” Dra suara apa tuh ” ucap Dina yang mendengar suara lolongan binatang.

” OOhhhh, lo masih inget cerita gw di tol cipularang ” ucapku santai

” Tentang kompeni yang di congkel matanya terus di makan srigala itu ”

” Ya betul, gw baru inget ternyata kejadiannya bukan disana, tapi di sekitar sini dan yang lo denger itu adalah para arwah srigala lapar yang dulu mencabik tubuh para menir ”

” Bleeekkkkkkk ” Dina langsung terpejam lemas tak berdaya.

” Akhirnya tidur juga nih cewek ” heh tidur apa pingsan ya, biarlah yang penting dia sudah tak mengganggu tidurku lagi.

***

Sabtu pagi yang cerah, suara burung-burung bernyanyi menyambut pagi, kabut yang tebal membatasi pandangan. Tapi tetap terlihat pemandangan yang begitu indah. Ku hirup udara segar pagi hari dalam-dalam. Tiba-tiba Dina merangkulku dari belakang.

” Dra ” ucapnya mesra. Kehangatan tubuhnya dapat menghilangkan hawa dingin pegunungan.

” KENAPA LO SEMALEM BIARIN GW PINGSAN HAH ” teriak Dina, pelukannya semakin kencang. Ini sih bukan meluk tapi mencengkram tubuhku layaknya seorang pesumo.

” Sa…sa….sakit Din ” ucapku terbata tak dapat bergerak.

” Lo tega ya buat gw pingsan, bangun-bangun kepala gw pusing tau ” omelan Dina tak berhenti, begitu juga dengan cengkraman tangannya.

” A…a…abis lo rese sih ”

” Gw kan takut Dra ” ucap Dina lirih, cengkramannya sudah melemah. Dina menyandarkan kepalanya pada punggungku. Ku genggam erat tangan yang melingkar di tubuhku.

” Kan ada gw Din, gk usah takut ” ucapku coba menenangkan Dina.

” TAPI KOK LO MALAH NAKUTIN ” teriakan Dina kembali hadir, tangannya mencubit kedua sisi pinggangku dengan sangat kencang.

Ternyata fasilitas resort ini lumayan lengkap, ada pemandian air panasnya pula. Aku tak sempat memperhatikannya saat sampai disini karna sudah lelah dan hari sudah malam. Setelah sarapan kami menuju lokasi pemandian air hangat.

Di tempat itu terdapat pemandian privat juga, pemandian terbuka dengan view pemandangan alam yang indah. Walau terbuka tetapi bisa dipastikan tak ada yang bisa melihat aktifitas kami berdua karna sifatnya yang privat. Dengan ditemani segelas lemon tea hangat dan beberapa biskuit aku bersama Dina berendam pada kolam air panas. Tak memakai apapun, ku peluk Dina dari belakang, dia bersandar pada dadaku seraya pandangan kami tertuju pada hamparan hutan pinus yang berada di bawah area resort.

Kupeluk erat tubuh Dina, kukecup pundaknya. Indah sekali hari ini, aku tak ingin waktu berlalu cepat. Aku masih ingin menikmati kebersamaanku.

” Dra apa ini ” ucap Dina merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang agak aneh.

” Hmmmmm ” aku tak mampu berkata-kata

” Hah kok ada daging dibungkus plastik sih Dra ” ucap Dina keheranan menemukan daging dalam plastik ada di kolam pemandian.

” Enak tau daging yang direbus di air belerang ” ucapku clingukan

” Dapet teori dari mana lo, dari si sember ya ” ucap Dina ketus.

” Teori sendiri Din. Kita aja klo berendem di air panas yang mengandung belerang tubuh kita pasti jadi lebih segar. Apalagi daging ” ucapku berargumen

” Dasar asal. Ini kan pemandian bisa aja lo apa gw kencing disini ” omel Dina

” Makanya itu Din gw masukin ke plastik biar gk langsung kena air ”

” Sejak kapan lo naruh daging disini sih ” ucap Dina tertunduk lemas.

” Jangan marah mulu donk cantik ” ucapku menggodanya, dagunya kunaikan lalu kukecup pipinya.

” Ah Dra ” muka Dina mulai memerah, oh betapa cantiknya Dina saat dia malu seperti ini.

” Kita makan berdua yuk dagingnya ” ajakku.

” Ogaaaaahhh, mending mateng apa, jorok lagi ” omel Dina kembali. Huft dasar wanita labil, selalu berubah-rubah suasana hatinya.

Setelah selesai mandi kami berkeliling area resort menikmati udara segar dan suasana yang indah. Kami bergandengan tangan menatap pegunungan yang mengelilingi wilayah ini. Walaupun makanan disini gk ada yang enak, di resort makanannya gitu-gitu aja. Sekitar sini juga Cuma warung-warung kelontong gitu aja.

” Klo setiap hari hidup gw seperti ini pasti menyenangkan sekali Dra ” ucap Dina yang ceria.

” Bosen juga kali Din klo Cuma gini-gini aja ” ucapku.

” Iya juga sih. Hhhmmm gimana klo sebulan sekali kita ke tempat-tempat seperti ini Dra ” ucap Dina penuh semangat.

” Boleh ja sih. Tapi lo fokus juga sama kuliah lo Din ”

” Sebenernya gw udah males kuliah Dra. Asal bersama dengan lo, gw udah senang ko ” Dina tersenyum menatap wajahku. Aku hanya dapat memandang wanita yang ada di hadapanku ini. Betapa cantiknya dia hari ini, hari-hari lain juga sih tapi hari ini lebih dari kemarin.

” Dra kok lo bengong. Muach ” kecupan Dina di pipiku menyadarkan lamunanku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Wajahnya kini berbeda seperti saat pertama kami mulai dekat, Wajah murung Dina tidak pernah kulihat lagi. Kini wajah yang berseri kemerahan yang selalu kulihat.

Semilir angin pegunungan melewati tubuh Dina, hinggap di hidungku sehingga tercium aroma wangi bunga dari tubuhnya. Kudekap tubuhnya yang nampak sedikit menggigil walau sudah mengenakan jaket yang cukup tebal.

” Din perasaan kita belum pernah malem minggu jalan keluar ” ucapku

” Iya Dra ” wajahnya mulai merona kembali

” Ke puncak yuk nanti malem Din, siang jam 2an kita berangkat ”
” Asik tuh Dra, oke deh nanti siang kita cek out ” ucap Dina nampak bersemangat dengan pipi yang kemerahan

” Iya kita nongkrong di pinggir jalannya, kan banyak tuh warung-warung makan di puncak. Ada jagung, ikan bakar juga ada, ayam bakar pasti ada, pokoknya ada banyak deh makanan enak disana dari pada disini ” ucapku bersemangat.

” Oh jadi karna makanan alasan lo ngajak gw ke puncak ” ucap Dina tertunduk lemas.

***

Malam minggu di puncak, udara yang sangat dingin hingga menusuk ke tulang. Banyak pula muda-mudi memadu kasih bercengkraman mesra di setiap sudut area peristirahatan.

Begitu pula aku dan Dina berdua di sebuah lesehan yang terbuat dari bambu, Dina merebahkan tubuhnya, kepalanya bertumpu pada pahaku. Pandangannya sangat tajam mentapku yang sedang terduduk menopang kepalanya.

” Lo bisa gk Dra makan jangan blepotan. JATOH DI MUKA GW NIH MAKANAN LO ” omel Dina.

” Udah tau gw lagi makan, ngapain lo tiduran di paha gw ” protesku.

” Kenapa gw bisa jalan sama lo sih ” ucap Dina lemas

” Sorry deh Din ” ku belai wajah cantiknya coba menenangkannya.

” CUCI TANGAN DULU KLO MAU MEGANG MUKA GW ” omelan Dina kembali bergema. Lalu bangkit dan mencekik leherku.

” WWweeeeeeekkkkkkkkk, g….g…gw gk bisa makan Din ” sepertinya dia mulai kemasukan iblis penunggu pegunungan.

Dina yang nampak kesal menyandarkan kepalanya di bahuku, sepertinya untuk menghilangkan amarahnya. Dilingkarkan tangannya pada pinggangku. Dengan sura lirih Dina berbisik padaku ” Suapin donk Dra ”

Akhirnya Dina mulai bermanja-manja denganku. Dengan segenap perasaan, ku ambil makanan dengan tanganku lalu kusuapi Dina dengan penuh kasih sayang.

” AAAAAAauuuuuuuuuuwwwwwwwwww ” tiba-tiba Dina mengigit jemariku yang masuk kedalam mulutnya untuk menyupinya.

” Sorry Dra gw laper ” ucap Dina santai dengan senyuman iblisnya.

Aku hanya bisa meniupi jemariku yang nampak bengkak karna gigitan wanita monster satu ini. Ternyata Dina sadis juga, apa karna sering bertengkar dengan Vika jadi ketularan sadisnya.

” Udah ah jangan cemberut gitu. Muaaacchhh ” Dina mencium tanganku yang tadi dia gigit.

” Sembuh kan ” ucap Dina dengan senyuman manisnya.

” Apanya yang sembuh klo Cuma dicium doank. Mana gigi lo taring semua lagi, gk bisa makan gw nih ” ucapku sewot.

” Ya udah sini-sini gw suapin deh. Tapi jangan bales dendam ya ” ucap Dina lembut.

Dina mulai menyupaiku dengan sangat lembut. Perlahan-lahan takut jika aku tersedak. Dengan wajah yang selalu memerah, sangat menyenangkan untuk dipandang. Siluet-siluet petir yang menghiasi langit seolah mengabadikan moment indah kami.

” Din lo klo nyuapin gw yang banyak sekali suap. Terus jangan tunggu sampe mulut gw kosong baru nyuap lagi ” protesku dengan cara Dina menyuapiku.

” Lo ya bikin gw sewot mulu, nih makan semuanya ” ucap Dina kesal, lalu menuangkan semua makanan yang ada di piring ke dalam mulutku.

” Oooiiii Dwiiiinnnn gw gk bi…bi…bi sa na……fas nih ”

Kami menghabiskan malam berdua di puncak, dengan berbagai hal romantis yang kami lewati ( menurutku entah menurut Dina ). Sekitar pukul 4 pagi kami kembali ke Jakarta, Dina yang sudah sangat lelah tertidur di mobil. Wajah polosnya saat tidur sangat menggemaskan.

Sekitar pukul 6 kami tiba di kosan, kugendong tubuh Dina menuju kamar kos ku, ku tidurkan dia di ranjangku. Aku yang lelah juga ikut tertidur.

Perjalanan kali ini benar-benar berbeda, Dina yang terlihat anggun di mataku dan lebih cantik dari biasanya. Pipinya selalu memancarkan cahaya kemerahan ( walau kadang merah padam ), kelembutannya yang sangat terasa sampai ke titik terdalam hatiku ( walaupun terdapat beberapa lebam di tubuhku ). Moment terbaikku bersama Dina.

Dina!!! aku rela menjadi jembatan batu, dan menderita 500 tahun oleh angin, 500 tahun oleh panas matahari serta 500 tahun oleh hujan. Aku hanya ingin agar kau selalu melewati jembatan batu itu.

Bersambung