Love Never Takes Sides Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 14

Part 15 ( Dibalik Senja Merah )

Dirinya dirikmu
Tergila-gila padaku

Cintanya cintamu
Sama besar kepadaku

Mungkinkah kiranya
Cinta segi tiga
Kan mencapai bahagia

Reff :

Tentu saja dia tak mau mengalah
Melepas diriku untukmu
Dan begitu juga kamu tak kuasa
Melepas diriku untuknya

Sedangkan kutahu cintaku padamu
Sama seperti kepadanya
Hingga aku ragu bahkan tidak mampu
Untuk menentukan yang mana

Dia atau kamu

( Cinta segitiga Rhoma Irama )

Alunan musik dangdut menghiasi pagi hari ( tepatnya subuh ). Terhampar 2 orang insan sedang dimabuk birahi bergumul di sebuah ranjang.

” Masukin Dra udah lama nih memek gw gk kemasukan kontol lo ” pinta wanita binal bernama Dina, memohon hujaman batang kenikmatan.

” Sabar napa Din, baru mulai pemanasan ” ucapku seraya mengecupi bongkahan payudara Dina, coba mengulur waktu agar Dina makin terbakar birahi.

” udah basah banget memek gw nih ” ceracau Dina yang semakin tak kuat menahan nafsu.

Aku tak pedulikan permohonannya. Bibirku masih merayap di kedua bukit indah yang telah lama tak kukunjungi. Seperti bernostalgia, Dina terus saja meronta-ronta membuatku sedikit kesulitan menguasai payudaranya.

Tangannya yang sedari tadi mencari penisku yang masih tertutup rapat oleh celana pendekku. Selalu kuhindari agar dia semakin penasaran. Kuraba pinggiran vaginanya dengan jariku. Lendir vaginanya telah membasahi hingga ke pinggir. Pinggul Dina bergoyang2 seolah pencari posisi jemariku berada agar masuk ke dalam vaginanya.

” Sialan lo Dra ” Dina yang mulai kesal dengan permainanku, mulai bangkit dan membalikkan tubuhku hingga kuterbaring di tempat tidur.

Bagai srigala lapar yang mencabik mangsanya, Dina mencabik seluruh pakaianku hingga tak bersisa. Kini tubuh kami sudah tak berbusana sama sekali. Diraihnya penisku yang sudah tegang dengan tangannya, tak lama ” hap ” penisku sudah masuk seluruhnya ke dalam mulutnya.

Dikulumnya penisku dengan sepenuh nafsu yang bergejolak. Aku hanya bisa pasrah menghadapi Dina yang sudah dikuasai oleh iblis birahi. Diremasnya kedua pahaku, sementara mulutnya menghisap serta menaik-turunkan penisku.

” Ooouuuuggghhhh ” penisku menjadi tegang setegang-tegangnya diperlakukan sekejam itu oleh Dina. Tak lama Dina mengulum penisku, lalu ia memposisikan penis tepat di bawah Vaginanya, duduk di atasku. Siap untuk memasuki babak utama dalam percintaan kami.

” AAAAAAAAAAakkkkkkkkhhhhhhhh ” erang kami berdua saat penisku amblas sepenuhnya kedalam vagina Dina. Langsung mencengkram penis yang sudah lama tak bertamu ke vagina Dina. Walaupun cengkramannya tak sekuat Vika tapi masih sangat nikmat.

” Ooooohhhhhh udah lama banget Dra, gw kangen kontol lo ” Dina langsung menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan yang luar biasa, seolah ingin menguras habis spermaku.

” Din jangan cepet2, nanti kontol gw patah ” pintaku yang nampak tak dipedulikan oleh Dina.

” Aaaahhhh ooooohhhhh gila enak banget Dra ” Bagai joki pacuan kuda yang sedang mengincar mendali emas, terus menggerakkan pinggulnya agar dapat ke podium tertinggi.

Kugenggam tangan Dina, kutarik hingga seluruh tubuhnya menindih tubuhku. Kulumat bibir manisnya, kucari-cari lidah liarnya agar dapat beradu keliaran dengan lidahku.

” HHhhmmmmmm ” bak dua satria pedang yang beradu pedang, lidahku dan lidah Dina saling beradu menentukan siapa yang menang.

Kubalikkan posisi kami, sehingga kini Dina di bawah kendaliku. Mulut kami masih dalam keadaan saling lumat, kugenjot vaginanya yang telah mekar karna hujaman penisku dengan RPM yang tinggi. Dina yang tak mau kalah juga ikut menggerakkan pinggulnya, bahkan tubuhnya ikut bergerak tak karuan.

” OOOOOOuuuuuuuugggghhhhhhh, ssssssssshhhhhhhhhh, aaaaaaaaaakkkhhhhhhhhhhhhhh ” erangan2 kenikmatan yang tersamarkan oleh suara musik dangdut, bergemuruh di balik tembok2 bisu. Decit2 ranjang yang bergoyang kencang seolah tak mampu menahan luapan nafsu kami berdua.

” Hah, hah, hah ” deru nafas yang semakin berat, menandakan nafsu yang semakin tinggi melayang. Kecupan2ku dileher dan dada meninggalkan bercak2 merah. Keringat yang mengalir tanpa henti mengaliri setiap inchi tubuh kami.

” OOOOuuuugggghhhhhhhhh ” erang Dina yang telah mencapai puncak persenggamaannya. Terasa jelas olehku semburan cairan orgasme pada penisku. Tubuhnya langsung lunglai tergeletak dihamparan seprei berwarna putih. Gerakannya semakin lama semakin pelan hingga terhenti.

” Bentar Dra, gw cape banget nih ” ucap Dina dengan nafas yang tersengal.

” Lo sih main liar amat, jadi cepet cape ” ucapku memandangi wajah Dina yang penuh dengan peluh. Sementara penisku masih tertancap keras di dalam vaginanya.

” Gara2 si IT sember nih kita jadi susah punya waktu berdua ” ucap Dina nampak kesal dengan ulah Vika. Mungkin Vika juga kesal dengannya karna aku dan Vika juga sulit untuk berdua.

Kucabut penisku, lalu kuangkat tubuh Dina dan kuposisikan tubuhnya menungging. Tak lama langsung kuhujam penisku dari belakang.

” AAaaaahhhhh Dra buru2 amat sih lo. Mana posisinya begini lagi, aturan mah tadi pas gw belum cape ” protes Dina yang tak kuhiraukan. Kupompa penisku ke vagina yang berlumuran cairan kenikmatan itu.

Kuangkat tubuhnya, kuremas payudaranya, sementara bibirku mengecupi bagian leher lainnya yang masih belum mendapat cap merah olehku.

Kuplintir2 kedua putting payudaranya yang mengeras sedari tadi. Kujilati punggungnya yang begitu mulusnya. Pompaan penisku semakin k percepat, Dina hanya bisa pasrah menerima hujaman nafsu liarku yang semakin membara.

Kuturunkan tubuhnya, lalu kumiringkan, kuangkat satu kakinya bertumpu pada pundakku. Langsung kembali kuhujamkan penisku masuk menerobos vagina yang memerah.

” Aaaaaaakkkkhhhhhhhhh Dra terus Dra, enak banget Dra ” ceracau Dina yang mulai kembali bergairah. Pinggulnya mulai ia gerakkan walau tak sekencang tadi. Entah sudah berapa liter keringat yang telah kami produksi, terus saja mengaliri tubuh bugil kami.

” Ooooohhh Din enak banget memek lo ” kupacu gerakan penisku menjadi tak beraturan, menggelitik syaraf2 vagina Dina yang semakin kencang berkedut, menandakan orgasmenya tinggal menunggu hitungan menit.

Penisku juga mulai terasa berkedut, cairan spermaku telah bersiap menyembur vagina Dina. Terus mengalir menuju puncak luapan lahar birahi kami berdua.

” OOOOOOOOOOOOOOOuuuuuuuuuuuuuuggggggggghhhhhhh, aaaaaaaaaaaaaaakkkkkkhhhhhhhhhhhh ” jeritan kami berbarengan ” crot crot crot crot crot ” semburan cairan kenikmatan kami saling melumuri kelamin kami.

Tubuhku terhempas di samping Dina, menatap langit2 meresapi kenikmatan yang baru saja diraih. Basah sangat basah tubuh kami bermandikan peluh. Deru nafas yang berat terdengar dari mulut kami.

Tak terasa mata kami pun terpejam, kami tertidur pulas untuk mengembalikan energi kami yang terkuras habis.

***

” Tok tok tok tok ” suara pintu di ketuk membangunkan tidur kami.

” Dra…. Andra lo ada di dalam gk ” teriak suara wanita yang kukenal. Yup Vika sedang berada di depan kamar kosku. Untunglah aku dan Dina sedang berada di kamar kos Dina. Walaupun hanya berjarak 1 pintu.

Aku langsung mengenakan semua pakaianku, sedangkan Dina ke kamar mandi dan keluar hanya dengan berbalut handuk biru. Langsung membuka pintu kamar kosnya.

” Woi sember nyari Andra lo ” tanya Dina dari pintu kosnya.

” Udah tau gw manggil Andra pake nanya lagi ” ucap Vika sewot.

” Dia lagi ada di kamar gw nih mber ”

” Wah ngapain lo berdua satu kamar ” Vika yang geram langsung menghampiri Dina.

” Lo liat gw Cuma pake handuk, lo tebak aja sendiri ngapain gw sama Andra ” ucap Dina setengah berbangga.

” Jangan bikin gw emosi dah, mana Andra ” omel Vika seraya matanya berkeliaran memandangi isi kamar kos Dina.

” Cari aja sendiri di kamar gw ” ucap Dina setengah sombong

Vika langsung memasuki kamar Dina untuk mencariku. Di lihat kolong tempat tidur, kamar mandi, di buka lemari pakaian Dina dan di balik jendela kamar tetapi tak menemukan diriku.

” Eh sembleb Andra gk ada tuh, jangan bohong ya, manas2in gw aja ” omel Vika kembali.

” Ada tadi sama gw, beneran dah ” ucap Dina yang yakin akan keberadaanku. Dicarinya diriku di tempat2 yang tadi di cari oleh Vika. Tapi tetap tidak menemukan aku.

” Lo jangan ngibul deh bleb, mau nunjukin betapa hebatnya diri lo apa ” ejek Vika yang tak mempercayai kata2 Dina.

” Beneran tadi sama gw di sini. Nih lo liat bekas cupangan Andra. Berani sumpah demi apapun deh gw ” ucap Dina berusaha meyakinkan Vika. Seraya menunjukan tanda merah di leher.

” Bodo amat ah, gw gk percaya, paling itu juga hasil kerokan ” ucap Vika yang tetap tak percaya.

” Kemana ya si Andra, padahal gw bawa makanan yang gw masak sendiri nih, banyak lagi ” ucap Vika nampak lemas.

Hah makanan, tidak2 hampir saja kutergoda dan langsung turun dari atas lemari. Untunglah kubisa menahan diri, klo Vika sampai tahu aku di kamar Dina bisa gawat nih. Kutetap memperhatikan gerak-gerik kedua wanita itu dari atas lemari.

” Ya udah gw titip makanan buat Andra bleb, klo dia dateng bilangin nanti siang suruh kerumah gw. Penting ” ucap Vika seraya memberi rantang ke Dina lalu pergi berlalu pulang ke rumah.

Setelah Vika pergi Dina langsung menutup pintunya. Setelah kurasa kondisi cukup aman, Aku pun langsung turun dari atas lemari.

” Woiii kudanil sempet2nya lo naik ke atas lemari. Pantesan di cari2 gk ketemu ” omel Dina yang terkejut melihatku turun dari atas lemari.

” Ini buat gw kan Din ” kuambil rantang dari Vika yang ada di tangan Dina.

Kami berdua menyantap makanan yang diberikan Vika. Dina nampak begitu cantik saat dia tersenyum penuh arti padaku.

” Dra, lo cinta gw ? ” pertanyaan yang mengejutkan jantungku. Hampir saja makanan yang berada di mulutku menyembur keluar. Tak ada kata yang mampu kuucap untuk menjawab pertanyaan Dina.

” Andai waktu itu gw gk lupa sama lo, mungkin Vika gk akan masuk di hati lo. Tapi gw tau kok klo lo juga punya rasa sama gw ” ucap Dina lirih. Vika sudah ada sejak dulu di hatiku, justru aku yang baru ada di hati Vika.

” Din gimana perkembangan kasus bokap lo ? ” kucoba mengalihkan pembicaraan.

” Mungkin hukumannya bisa lebih ringan dari tuntutan, soalnya bokap gw ikut membantu tugas penyidik. Apa lagi nyokap gw punya rekaman siapa2 aja yang terlibat ” ucap Dina

” Eh Dra lo kan udah santai nih gk ada tugas, jalan yuk ” ajak Dina bersemangat.

” Kemana Din ”

” Enaknya kemana ya Dra ”

” Ke cigamea yuk, bogor. Di sana banyak curugnya ” ucapku memberi ide.

” Air terjun gitu ya. Boleh2 week end ya Dra ”

***

Siang hari saat aku berkunjung ke rumah Vika.

” Hai Vik lagi pain nih ” sapaku yang melihat Vika sedang duduk di teras rumahnya.

” Lagi nyulam ”

” Nyulam apa lo, dasar emak2 ” ejekku yang disambut tusukan jarum ke jidatku.

” Sembarangan lo klo ngomong ” omel Vika. Aku hanya bisa mengelus2 jidatku saja.

” Eh Dra tadi pagi lo kemana, gw kok ke kosan lo gk ada ”

” Lari pagi biasa ”

” Ohhh gitu. Enak gk masakan gw ”

” Enak banget kok Vik. Nih gw balikin rantangnya ” ucapku mengembalikan rantang yang kubawa dari kosanku.

” Tapi lo gk kenapa2 kan abis makan tadi ? soalnya tadi makanan gw titipin si sembleb, takut di racunin aja, dia kan seneng klo nama baik gw tercemar ” tanya Vika yang mencurigai Dina.

” Gk kenapa2 kok Vik. Ada apa lo minta gw dateng ke sini ”

” Gk ada apa2, Cuma pengen lo dateng aja, abis tadi pagi lo gk ada di kosan ”

” Hah gk ada hal yang penting donk ” ucapku terkejut.

” Lo gk peka banget sih, Cuma dateng aja harus pake hal yang penting ” omel Vika seraya menunjukan jarum yang berkilau di tangannya.

” Dra jalan yuk, bete gw nih Cuma di rumah aja ” ajak Vika

” Boleh. Kemana nih enaknya ya ”

” Gw mau ke pantai Dra ”

” Bosen gw ke ancol Vik ”

” Ke anyer gimana Dra ”

” Jauh, klo Cuma sehari mah bikin cape doank ”

” Gimana ya izinnya sama bokap gw ” Vika mulai berfikir agar dapat jalan denganku.

” Klo gw yang izin pasti gk bakal diizinin Vik ” ucapku.

” Ah gw ada cara. Udah lo balik aja ke kosan lo, nanti gw ke sana ” ucap Vika penuh semangat.

Akupun kembali menuju kosanku. Eh kan di sana ada Dina, dia pasti penget ikut klo aku dan Vika jalan2 nih.

” Eh Dra lo mau kemana lagi ” tanya Dina melihatku membawa tas keluar kamar kos.

” Sodara gw di Bogor ada yang meninggal, gw mesti ke sana sekarang ” sejak kapan ku memiliki saudara di Bogor.

” Ya udah hati2 ya. Kabarin gw ya klo udah sampe ” ucap Dina. Aku pun langsung pergi menuju sekitar rumah Vika.

” Vik gw udah ada di depan gang rumah lo, lo gk usah ke kosan gw ” smsku pada Vika.

Tak beberapa lama Vika datang menemuiku, dengan membawa tas juga. Kamipun pergi menuju anyer.

” Eh Vik lo alesan apa sama bokap lo ” tanyaku penasaran dengan alasan Vika.

” Gw suruh temen gw cewek ke rumah gw, izinin sama bokap gw ” ucap Vika. Ada saja akalnya wanita yang satu ini.

***

Malam hari kami sampai di anyer, kami menyewa kamar hotel yang berada di sekitar pantai. Pemandangan yang menarik dari atas balkon kamar hotel, mengarah pada lautan.

Deru ombak lautan yang memecah kesunyian malam, di pinggir pantai berselimutkan angin malam. Kuberdua Vika memandangi pantai. Gemerlap bintang di langit bagai mata dewa yang menyaksikan 2 insan yang saling di mabuk asmara.

Diam selama beberapa saat, akhirnya Vika membuka obrolan ” Dra, kita kan udah lulus nih, rencana lo apa kedepannya ”

” Gw mau menikmati masa2 kelulusan gw ini, urusan kedepannya gimana, nanti aja gw pikirin. Gw males memikirkan hal merepotkan seperti itu ” ucapku santai.

” Oh gitu ”

” Nah lo sendiri apa rencana lo Vik ”

” Gw sih ditawarin kerja sama temen bokap gw. Tapi gw juga masih pengen menikmati masa2 ini ” jawab Vika santai.

” Dasar remaja alay pikirannya senang2 mulu ” ucapku santai.

” JAWABAN LO SAMA JAWABAN GW APA BEDANYA ” omel Vika

Malam semakin larut, kuberdua Vika melepas rasa. Aku semakin hanyut dalam suasana remang malam.

” Dra, gw seneng di dekat lo ” bisik Vika meletakkan kepalanya pada bahuku. Dipeluk erat tanganku.

” Gw juga Vik ” ucapku, kurebahkan pipiku di ujung kepalanya. Menatap indahnya suasana malam di pantai, di terangi sinar bulan dan gemerlap bintang2. Biarlah hati kami saling menyapa, karna begitu dekatnya.

Dina sedang apa ya di kamar kos sendiri, atau dia sedang berada di rumahnya saat ini. Ah kenapa aku jadi kepikiran Dina saat bersama Vika. Tak bisa kubohongi bahwa hatiku kini terisi oleh kedua wanita itu.

” Dra ” Vika mengangkat wajahnya, menatapku sayu. Kuhanya bisa membalas tatapannya. Bibir kami pun saling tarik, hingga menempel satu sama lainnya. Kelembutan bibir Vika begitu dapat kurasa, sangat lembut hingga menyentuh kedasar hatiku.

Kugenggam erat jemarinya, tak ingin kulepas kelembutan itu dari tubuhku. Hingga tubuh kami tergeletak di hamparan pasir pantai. Dari kecupan bibir kami menjadi lumatan, serta lidah2 kami ikut dalam permainan cinta yang bergejolak.

Tanpa sadar tangan kami sudah melucuti habis pakaian kami. Yang tersisah hanyalah tubuh2 tanpa busana yang bertaburan pasir pantai. Lidahku yang mulai bergerilya ke arah leher Vika, sementar tanganku menjelajahi kehalusan tubuhnya.

Vika hanya bisa tergeletak menikmati jamahanku, menatap indahnya bintang2 merangkai gugusan. Lidahku akhirnya sampai di sebuah gundukan indah, putih nan mulus lengkap dengan putting berwarna pinknya.

Ku permainkan putingnya dengan lidahku sementara tanganku meremasi bongkahan payudaranya yang kencang itu. Hingga membuat Vika menggelinjang menahan rasa geli bercampur nikmat.

Kuturunkan jilatanku menuju vaginanya. Kujilati dari ujung ke ujung bagian vaginanya hingga keluar cairan dari dalam vagina.

” OOoouuugghhh Dra enak banget, baru kali ini gw dijilatin sssssssshhhhhhhh ” erang Vika yang ternyata baru merasakan nikmatnya oral sex.

Tak lama Vika memiringkan tubuhnya, otomatis aku pun ikut miring, lalu Vika memposisikan mulutnya tepat di depan penisku.

” Ooooohhhh ” hisapan Vika walau tak sedahsyat kuluman Dina tapi tetap lembut sekali. Aku yang tak mau diam saja Ku permainkan klitorisnya sedangkan lidahku masih asik menjilati vaginanya.

Vika mulai menggelinjang menahan amukan birahi. Di percepat kuluman pada penisku, aku juga makin liar mempermainkan vaginanya. Berguling-guling di tengah hamparan pasir, mencari-cari mutiara yang bernama kenikmatan.

Lama kami saling menyicipi kelamin satu sama lain, hingga ku bangkit dan berada di atas Vika. Penisku sudah bersiap menusuk ke dalam vagina Vika yang telah basah.

” Blesssssss ” seluruh penisku masuk ke dalam vagina Vika dan disambut dengan cengkraman yang luar biasa ketatnya. Ini yang ku suka dari tubuh Vika, vaginanya terasa lebih menggigit dibanding Dina.

” Oooooouuuggggggghhhhhh Dra ” Vika yang tak kuasa mulai menggerakkan pinggulku, serta tangannya menarik rambutku agar bibir kami dapat bersatu kembali.

Ku mulai pompa penisku, naik turun secara perlahan. Lidah kami saling berpagut menambah rasa yang dalam di tengah percintaan kami. Vika menurunkan kepalaku menuju lehernya.

” Dra kecupi leher gw donk ” pinta Vika sepertinya ingin kubuatkan cap yang sama seperti Dina.

Kembali lidahku menjelajahi leher mulusnya. Dengan sedikit tarikan oleh bibirku, kini lehernya tampak memerah. Tubuh indah bertabur pasir itu kini makin mempercepat gerakannya.

” Vik ” ucapku lirih, kupandangi wajahnya yang sedang dilanda birahi. Nampak keringat mulai membasahi wajahnya manisnya itu. Sejauh inikah hubunganku dengan Vika. Ada sedikit rasa bersalahku pada Vika, karna telah menikmati tubuhnya, walaupun dia sangat enjoy dengan percintaan kami ini.

Kubalikkan tubuh Vika, hingga kini posisinya menungging membelakangiku, bertumpu pada tangan dan lututnya. Kumasukan penisku dari belakang, ku remasi payudaranya, ku plintir2 putting payudaranya.

” Ooooouuggghhh enak banget Dra ” erang Vika menaikkan kepalanya. Lidahku mulai menggeliat menelusuri punggungnya hingga ke payudaranya, kutarik kulit payudaranya dengan bibirku. Cap2 merah pada payudaranya menandai perkelanaan bibirku di tubuhnya.

Beberapa saat dalam posisi itu, kurasakan vagina Vika makin kencang berkedut, dan mencengkram penisku begitu kuat. Diperlakukan seperti itu penisku juga ikut berkedut karna begitu kencangnya hisapan vagina Vika.

” AAAAAAAkkkkkkkhhhhhhh oooooooooooouuuuuuuuggggggggghhhhhhhhhh ” lenguhan panjang kami mengiringi semburan cairan2 kenikmatan yang diproduksi oleh kelamin kami. Lenguhan yang mengalahkan suara deburan ombak yg memecah bebatuan pantai.

Hingga kami terbaring lemas di atas pasir. Menatap gemerlap bintang2 yang menyaksikan percintaan kami yang begitu dahsyat. Dinginnya angin malam yang menerpa tubuh bugil kami tertutupi oleh panasnya pergumulan kami berdua. Masih terngiang di tubuh kami betapa nikmatnya rasa yang begitu dalam.

Setelah cukup beristirahat kami memakai pakaian kami lalu kembali ke hotel. Di sana kami tidur hingga pagi menjelang.

***

Subuh saat ayam2 mulai berkokok.

” Dra bangun Dra ” ucap Vika yang terlebih dahulu bangun

” Masih ngantuk gw Vik ” ucapku lemas, mataku masih terpejam.

” Gw mau liat sunrise ” ucap Vika bersemangat membangunkanku.

Dengan mata yang masih berat ku ikuti kemauan. Suasana masih gelap, kami duduk berdua berpelukkan menikmati suara deburan ombak, menyambut sang mentari datang memberi kehangatan bagi bumi. Hingga tibalah saatnya matahari menampakkan sinarnya.

” Dra kok udah terang gk keliatan mataharinya ya ” ucap Vika kebingungan tak melihat wujud dari matahari, walaupun sinarnya sudah menerangi bumi.

” Heh anyer kan di sebelah barat, matahari terbit sebelah timur. JELAS AJA GK BISA LIAT SUNRISE ” ucapku sedikit sewot, aku baru sadar.

” Yah jauh2 gk bisa liat sunrise donk ” ucap Vika yang kecewa.

” Nanti sore baru bisa liat sunset ” ucapku setengah kesal.

” Oh gitu ya ”

” Udah ah, gw mau tidur lagi ” ku beranjak dari kursi dan hendak kembali ke kamar meneruskan tidurku yang terganggu.

” Dra lo gk peka banget sih, malah mau tidur lagi ” omel Vika menarik bajuku agarku kembali duduk bersamanya.

” Cuci muka dulu gih Vik, iler lo kemana-mana tuh. Pantesan ada bau2 gk enak ” ejekku melihat jejak2 liur di pipi Vika.

………………………………………………………..

Di pantai ku berdua Vika menghabiskan waktu bersama.

” Dra naik banana boat yuk ” ajak Vika menuntun tanganku berlari menuju orang yang menyewakan banana boat.

” Lo kan gk bisa berenang Vik, nanti tenggelam ke dalam lautan luka dalam lho ”

” Kan pake pelampung Dra, ada lo juga ” ucap Vika tersenyum manis padaku. Manisnya lebih manis dari madu terbaik sekalipun.

Kupeluk erat Vika dari belakang, memberinya rasa aman. Teriakan2 Vika di atas banana boat seakan memecahkan gendang telingaku.

” Byyuuuuurrrr blub blub blub ” akhirnya seluruh penumpang banana boat dijatuhkan ke dalam laut.

” Seru banget Dra, gw mau lagi donkkkk ” rengek Vika manja. Kamipun mengulanginya beberapa kali, sampai mata Vika nampak memerah terkena air laut.

” Dra mata gw perih banget nih ”

” Temen gw pernah kayak lo juga tuh Vik ”

” Terus gimana nyembuhinnya Dra ”

” Dicongkel matanya, dari pada infeksi nyebar keseluruh tubuh ”

” Yang bener lo Dra ”

” Pandangan lo kabur kan Vik ”

” Iya ”

” Waduhhh gawat tuh Vik ”

” Gw lemes nih Dra jangan nakut2in apa ” Vika nampak semakin gemeter tubuhnya.

” Udah yuk kita ke kamar ” ucapku menuntun Vika yang nampak begitu ketakutan.

Di kamar hotel kuteteskan obat mata lalu kukompres matanya. Kubelai rambut hitam mengkilapnya hingga Vika tertidur. Sebenarnya tidak ada masalah dengan matanya, hanya iritasi saja.

***

” Curut……curut……curut ” suara ponselku berdering.

” Dra lagi pain, gw bete nih di kosan sendirian ” tulis Dina dalam smsnya.

” Lagi duduk2 aja ” balasku.

” Week end lama amat ya, gw udah pengen jalan2 nih ” tulis sms Dina kembali.

” Sama Din ”

” Lo pulang kapan Dra ”

” Besok paling ”

” Ya udah hati2 ya Dra ” tulis Dina diakhir smsnya dengan beberapa emoticon kiss.

Aku jadi kepikiran pertanyaan Dina tadi pagi. Apa benar dia mencintaiku, ah dia kan menanyakan ” apa aku cinta dia ” bukan berarti dia cinta padaku. Tapi masa sih dia gk ada rasa padaku, melihat apa yang dia lakukan untuku. Sudah2 aku malas memikirkan hal merepotkan seperti ini.

***

Sore hari

” Vik bangun Vik ”

” Ada apa Dra ” ucap Vika lemas

” Mau liat sunset gk ”

” Mau mau ” ucap Vika beranjak dari tempat tidur lalu menggandengku untuk menuju balkon.

” Tapi lap dulu tuh iler, jangan merusak suasana deh ” ucapku ketus.

” Bentar ya ”

Selesai cuci muka aku dan Vika duduk di balkon menunggu terbenamnya matahari bertukar tempat dengan bulan.

” Vik enakan juga liatnya dari pinggir pantai ” ucapku seraya bangkit dari dudukku lantas menuntun tangan Vika berjalan menuju pinggir pantai.

Ketinggian mentari sudah sejarak jengkal. Kami berdua duduk di sebuah tumpukan bebatuan yang memecah ombak pantai. Di tengah hembusan angin semilir, ku lingkarkan tanganku pada pinggang Vika dari arah belakang tubuhnya.

Kuhembuskan nafas cintaku merasuki sela-sela telinga mungilnya. Lalu kubisikan ” Jangan jauh dari dekapan ini “. Vika menggenggam erat tangganku seraya menyandarkan kepalanya pada dadaku. Sesosok wanita lembut berbalut kaos merah kini berada dalam dekapanku. Menatap mentari yang semakin rendah mulai menampakkan sinarnya yang memerah, semerah wajah Vika saat ini.

Seleret petir yang jauh nampak membelah langit, tapi jauh sebelumnya petir cinta Vika sudah lebih dulu membelah dadaku. Yah walaupun bukan hanya petir cinta Vika saja, melainkan ada juga badai cinta Dina yang mengobrak-abrik isi dadaku.

Bersambung