Love Never Takes Sides Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 12

Lebih Dari WOW

” Curut….curut……..curut ” ponselku berdering. Ah hanya sms kosong dari Dina, apa maksudnya. Sudahlah sepertinya dia memang tidak niat menghubungiku.

Senin pagi di kampus

” Di gimana ade lo udah baikan ” tanyaku pada Adi yang sedang duduk di salah satu kursi taman.

” Udah Dra. Eh Vika gk bisa ke kampus Dra, adenya sakit, ortunya lagi pergi ke bogor sodaranya ada yang nikahan, jadi Vika yang rawatin adenya ” ucap Adi memberitahu tentang Vika.

” Iya tadi dia juga kabarin gw Di. Kita ke rumah Vika ngerjain tugas di sana aja nanti ”

” Oke ”

Siang hari di rumah Vika. Tugas yang ku perkirakan sebulan lagi kelar tapi hanya dalam sehari semalam dapat aku kelarkan, begitu juga dengan Vika. Apa ini karna aura cinta yang telah kami keluarkan.

” Kayaknya semua udah beres deh tinggal masalah desain aja Di lo rapiin lagi ” ucapku

” Yakin nih Dra gk ada penambahan script lagi ” ucap Vika.

” Iya. Lo semua udah paham kan keseluruhan tugas kita ” ucapku kembali.

” Paham sih, nanti tinggal pemolesan terakhir aja desainnya gampang kok ” ucap Adi.

” Saatnya kita pesta untuk selesainya tugas kita ” ucapku bersemangat lalu berdiri dan pergi menuju dapur Vika.

” Eh Dra mau kemana lo, seenaknya aja masuk ke dapur orang ” protes Vika.

” Widiiiiihhh banyak amat makanannya Vik. Lo semua yang masak nih ” teriakku dari dalam dapur.

” OOhh iya donk, Vika gitu lho ” ucap Vika dengan bangganya.

” Bawa semuanya aja Dra ” teriak Adi.

” Lo berdua jangan seenaknya deh ” protes Vika kembali.

” Klo gw gk boleh makan masakan lo, berarti masakan lo gk enak ” ucapku keluar dari dapur seraya membawa piring2 berisi makanan.

Kamipun larut dalam suasana makan2 yang menyenangkan, tapi tetap tidak mengganggu adiknya Vika beristirahat di kamarnya. Hingga sore menjelang semua makanan di rumah Vika habis kami makan.

” Enak banget Vik masakan lo ” pujiku.

” Lo berdua kebangetan ya di rumah gw ” omel Vika

” Lo juga ikut makan aja, pake protes ” ucapku mengejek Vika.

” Udah sore gw balik ya Vik ” ku bangkit untuk kembali ke kosanku.

” Balik yuk Di ” ku bangunkan Adi yang sedang tidur bersandar di kursi.

” Woiiii Di ” ku guncang2kan tubuh Adi membangunkannya.

” Tidur apa mati nih bocah ” ku tendang2 tetap gk bangun2.

” Lo kasar banget sih Dra ” ucap Vika yang tak tega melihat perlakuanku.

” Abis kagak bangun2 nih orang ”

” Gk mati kok Dra ” ucap Vika setelah memastikan nadi di tangan Adi masih berdenyut.

” Ya udahlah gw cabut dulu Vik ”

” Eh jangan balik Dra, gw sama ade gw cewek, dia cowok bisa bahaya nih klo lo tinggalin dia di sini ”

” Oh iya ya, dia kan bujang lapuk. Hati2 lo Vik ”

” Makanya lo di sini dulu sampe dia bangun ”

” Iya deh ”

Kami berdua duduk dilantai beralaskan karpet menonton TV sambil menunggu Adi bangun sampai sore berganti malam, tapi tetep saja si pelatih pesut yang satu ini belum bangun2. Padahal suara TV sudah ku keraskan, lalu ku siram air agar Adi bangun.

” Vik ortu lo ko belum pulang ”

” Nginep mereka Dra, besok pagi baru balik ”

” Lo ada air keras gk Vik ”

” Buat apa Dra ? ”

” Buat bangunin noh si pelatih pesut ” ucapku kesal menunjuk Adi yang masih sibuk dengan mimpinya.

” Udah ah biarin aja ” Vika mulai merebahkan kepalanya di pundakku.

Ah aku jadi gemetar, ku coba beranikan diri membelai rambutnya yang hitam mengkilap dan harum. Pake sampo apa ya kira2 si Vika.

Tubuh kami semakin merapat, terasa sekali kehangatan dari tubuhnya. Ku angkat dan ku tatap wajahnya. Wajah yang selalu terbayang dalam mimpiku, kini tepat di depanku.

Ku tempelkan keningku dengan keningnya, ku tatap matanya dan ku sentuh rambutnya ” gw sayang sama lo ” bisikku perlahan. Seketika itu wajahnya nampak memerah.

Hembusan nafasnya sangat terasa mengaliri wajahku. Perlahan bibir kami mulai bersentuhan, kelembutan yang kurasakan di pantai waktu itu kembali kurasa.

Lama kami berkecup hingga tanpa disadari bibir kami saling terbuka, memberi kesempatan lidah kami untuk saling berpagut. Permainan lidahnya masih terasa kaku bila dibanding dengan Dina, tetapi lidahnya masih sangat lembut daripada Dina.

Vika mulai melingkarkan tangannya ke leherku, ku juga mulai melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Ku peluk erat, ingin kurasakan kehangatan yang lebih dari tubuhnya.

Tak ada kata yang keluar dari mulut kami, melainkan pancaran rasa yang muncul dari dalam hati kami berdua. Entah aku yang mendorong atau Vika yang menarik, hingga tubuh Vika kini terbaring di bawahku. Sementara Lidah kami masih sibuk dengan pagutan2nya.

Deru nafas kami semakin memburu menandakan birahi cinta mulai menyelimuti. Ku telusuri tubuh Vika mencari ujung pakaiannya. Setelah jemariku menemukannya, Vika mengangkat kedua tangannya seolah isyarat bahwa dia mempersilahkanku melepaskan pakaiannya.

Tubuh indah berbalut bra berwarna merah terpampang jelas olehku. Tonjolan payudaranya terlihat begitu halusnya. Ku kecupi dadanya yang sangat halus, Vika menaikkan tubuhnya memberi kode untuk membuka kaitan branya. Oohh payudara yang begitu indah menjulang kearahku. Tak sebesar milik Dina, dan lingkaran putingnya masih kecil berwarna pink. Berbeda dengan Dina yang coklat kemerahan.

” Hhhmmmm ” lenguh Vika saat lidahku menelusuri bukit payudaranya. Lebih lembut dari Dina, lebih kencang pula. Ku permainkan putingnya yang masih mungil, jelas karna baru beberapa kali payudaranya dinikmati lelaki.

” Dra ” ku tatap wajah Vika merespon panggilannya. Ku liat matanya terpejam tak lama tangannya menekan kepalaku untuk kembali mempermainkan payudaranya.

” Ssssshhhh ” desahan Vika mulai keluar dari mulutnya. Membelai-belai rambutku, menahan rasa nikmat yang ku berikan. Ku hisap2 putingnya, ku gigit2 perlahan, tanganku mulai menjelajahi bagian pinggang Vika.

Perlahan ku buka kancing dan sleting jeans yang Vika kenakan. Ke cupanku turun ke arah perutnya berbarengan dengan turunnya celana Vika oleh tanganku. Vika menekuk kakinya membantuku melepas celana dan juga CDnya. Sekarang tubuh bugilnya ada di hadapanku. Indahnya tubuh wanita yg ku kagumi.

” Sorry Vik ” ku tersadar, aku bangkit dan langsung ku tutupi tubuh Vika dengan pakaiannya.

Vika bangkit dan menyingkirkan kain yang menutupi tubuhnya. Dengan tersenyum Vika melingkarkan tangannya pada leherku.

” Gw juga sayang sama lo ” Vika menariku kembali hingga dia rebahan di bawahku. Di lepaskannya bajuku, lalu dibuka kancing dan sleting jensku. Ku turunkan jens dan cdku. Saat ini tubuh kami sudah tak mengenakan apapun.

” Gw gk mau lo nyesel Vik saat selesai “ku coba mengingatkan Vika, tapi tubuhku makin ku dekatkan.

Vika hanya menjawab dengan senyuman, vaginanya yang masih segaris ditumbuhi bulu2 yg rapi dan sedikit, terlihat sudah terlumasi oleh lendir. Dengan rasa ragu ku mulai melakukan penetrasi. Vika membuka kedua pahanya yang putih mulus mempersilahkan penisku untuk memasuki vaginanya.

” AAAaakkkhhhhh ” erangku saat kepala penisku mulai memasuki vaginanya, masih begitu sempit vaginanya karna baru beberapa kali tercicipi. Vika hanya memejamkan mata dan menggigit bibir bagian bawahnya.

Ku jilati putting payudara Vika yang telah mengeras, menambah rangsangan terhadapnya. ” Ooouuuuggghhh Dra ” desah Vika saat seluruh batang penisku memasuki liang vaginanya. Tubuhnya dinaiki hingga payudaranya lebih menekan wajahku yang sedang bermain dengan putingnya.

Ku diamkan sejenak penisku di dalam vaginanya, kurasakan kedutan2 yang sangat mencengkram erat penisku. Untunglah ada lendir vagina, jika tidak mungkin penisku tidak akan bisa ku lepas. Andai bisa ku dapati perawannya mungkin akan terasa sangat sempurna.

Melihatku hanya berdiam saja, Vika yang sudah tak tahan mulai menggerakkan pinggulnya. Ku ikuti gerakan pinggulnya seirama. Ku tatap wajahnya yang sedang dilanda birahi….. oh begitu cantiknya wajah pasra meresapi kenikmatan yang mulai menjalar seluruh tubuhnya.

” Vika ” ku pandangi pipi merahnya yang mulai teraliri keringat. Hujaman penisku makin ku percepat. begitu pula dengan gerakan pinggulnya. Lebih nikmat dari pada petualanganku bersama Dina. Mereka berdua wanita yang berbeda, Dina dengan keliarannya dan Vika dengan kelembutannya.

Ku jilati leher jenjangnya yang harum seharum bunga2 di taman surga. Oh walaupun belum pernah ku ke surga tapi harumnya dapat kurasakan di tubuh Vika. Bagai sekuntum bunga dari surga, yang bahkan jika bunga itu terjatuh ke neraka terdalam dan terombang ambing dalam lahar api sekalipun akan menyejukkan seisi neraka.

Dekat dengannya adalah suatu keindahan tapi menyatukan tubuh dengannya adalah hasrat tak terucap. ” OOooouuugggghhh ” Vika aura cintamu telah membakar birahiku, hingga ke tulang2ku ikut merasakan betapa indahnya bersamamu di tengah malam yang beratapkan langit, berselimutkan angin, dan bercahayakan bintang2.

” Aaaaakkkkhhhhh Dra, gw sadar sepenuhnya berada dalam dekapan lo sssshhhhhhh ” ucap Vika diiringi desahan dan gerakan2 erotisnya yang semakin menerbangkan kami. Mungkin dia coba meyakinkanku bahwa nanti tidak akan ada penyesalan.

Vika membalikkan posisi kami, hingga saat ini dia berada di atasku. Digenggam kedua tanganku lalu direntangkan. Dengan bibir merahnya yang menyentuh bibirku, dia kembali menggerakkan pinggulnya. Lidahnya kembali menerobos bibirku yang masih terkatup, dicarinya tempat lidahku bersemayam lalu memainkan permainan yang tadi kami lakukan.

Kurasakan kedutan vagina Vika makin kencang mencengkram penisku, hingga membuat gerakan kami menjadi pelan. Kurasakan pula penisku mengejang, sepertinya sebentar lagi kami akan mencapai puncak percintaan kami.

” OOooooouuugggggghhhh Draaaaaaaaaa ” erang Vika diiringi semburan cairan orgasmenya membasahi penisku.

” AAAAAAAAAkkkkkkhhhh Viiiiiiiiik ” tak lama aku pun menyusul ” crot crot crot crot crot ” semburan spermaku membasahi liang vagina Vika. Rasa yang begitu nikmat menjalari tubuh kami yang menegang setengang – tegangnya. Vika tergeletak lemas di atas tubuhku, penisku masih berada dalam dekapan vagina Vika menikmati sisa-sisa kenikmatan seolah sayang untuk ditinggalkan walau sedetik.

” Vik ” aku baru sadar jika kami tak menggunakan pengaman.

” Gw lagi gk subur kok Dra ” ucap Vika yang sudah mengerti dengan apa yang ku pikirkan.

Setelah penisku mengecil dan keluar sendiri dari vagina Vika, kami langsung bergegas memakai semua pakaian kami. Kami sadar sedari tadi Adi ada di dekat kami tertidur pulas.

Kami duduk kembali saling bertatapan, ku lihat tak ada penyesalan dari wajah Vika. Lama kami termenung saling pandang dan akhirnya kami berdua tertawa. Lalu Vika merebahkan kepalanya di pahaku, ku belai rambut indahnya sambil kami kembali menonton tv yang sedari tadi menyala. Tak ada kata yang terucap dari mulut kami, seolah ada sesuatu yang sangat berat di bibir kami yang membuat lidah kami gugup tak bergerak. Aku hanya membelai, menikmati lembutnya rambut hitam mengkilap dari seorang wanita pujaanku.

Malam semakin larut nampak Adi tak ada tanda2 akan bangun. Akhirnya ku siram dengan air seember juga.

” Stresss lo Dra, gk bisa pelan2 apa bangunin gw ” omel Adi yang terkaget bangun dari tidur karna siraman air dariku.

” Dari sore gw sama Vika bangunin lo, tapi lo gk bangun2, gw kira lo mati ” omelku tak kalah sangar.

” Udah malem ya ” Adi sudah mulai menyadari.

” Yuk pulang, lo mau di grebek ” ucapku seraya menyeret Adi pergi meninggalkan rumah Vika.

” Vik kita pulang dulu ya ” ucapku pamit pada Vika

” Hati2 ya lo berdua ” ku lihat wajah Vika tersenyum sumringah melambaikan tangannya.

***

Pagi hari yang cerah secerah hatiku. Burung2 berkicau melantunkan tembang untuk sang matahari, yang dengan gagah mulai menyinari bunga2 yang layu terkena angin malam.

Seorang wanita yang kupuja dari awal ku melihatnya, kini telah berada sangat dekat di hatiku. Wanita itu kini tersenyum manis setiap menatapku.

Tanpa peduli dimana keberadaan Adi sekarang. Di taman kampus, di depan laptop kami masing2 yang terbuka, kami saling berbicara. Bukan tugas yang saat ini kami bicarakan…..

” Dra lo kok jago banget sih, bagi gw weapon donk ” ucap Vika yang makin kesulitan memainkan game online yang kembali kami mainkan, setelah beberapa waktu tidak main karna fokus ke tugas.

” Kan tadi udah gw kasih, berusaha donk jangan ngandelin gw aja ” ucapku memberi semangat pada Vika.

” Lo gk peka banget sih Dra ” rungut Vika padaku.

” Muncul lagi tuh si gk peka ”

” Ayolah Dra masa lo tega sama seorang lady ” rayu Vika mengharapkan pertolongan dariku.

” Gw gk konsen nih klo lo bawel begini ”

” Ya udah tinggal kasih gw weapon, terus gw diem deh ”

” Ya udah, ya udah ” akhirnya aku menyerah dan memberinya bantuan kemanuasiaan.

” Eh Dra gw diserang nih, musuhnya kuat banget lagi, tolong donk lo mainin game gw ” pinta Vika kembali heboh.

” Gw juga lagi diserang nih Vik ”

” Lo pause dulu napa Dra. Gk peka banget sih ”

” MANA BISA GAME ONLINE DIPAUSE ” omelku pada Vika.

” Ternyata lo galak banget ” ucap Vika tersendu-sendu

” Sorry2 Vik, gw lagi konsen nih jadi sedikit emosi ” ku coba menenangkannya.

” Ya udah mainin game gw ” pinta Vika manja. Terpaksa ku relakan kekalahanku demi seorang bidadari.

” Eh Vik lo semalem gk nyesel setelah kita …………. ” aku bingung menyebut yang semalam kami lakukan.

” Entah kenapa ya Dra, gw gk ada penyesalan. Mungkin karna gk ada paksaan, atau jebakan kayak obat perangsang gitu ” ucap Vika dengan senyumnya yg khas.

Kami berdua terdiam tak ada kata yang mampu kami ucapkan. Ku pandangi langit, ku saksikan awan2 yang sedang bergerak, seolah memata-matai kami. Jantungku berdegup kencang, begitu pula jantung Vika hingga dapat terdengar jelas olehku suara detakan jantungnya ” Dug dug dug ”

” Dwaaarrrr ” hah kok meledak.

” Woii Dra kalah dah gw, lo gimana sih malah bengong mainin game gw, di bom dah tuh ” oh ternyata suara dari game yang kumainkan.

” S…s…sorry Vik gk sengaja ”

” Mana udah jauh lagi ” Vika nampak kecewa.

” Nanti gw bantuin lagi deh Vik ”

” Gk peka banget sih lo Dra ”

” Kok nongol lagi sih gk peka ”

Saat kami sedang asik bermain game, tiba2 hadir sesosok tangan menyodorkan sebuah kotak makan. Kotak makan yang masih ku ingat dengan jelas.

” Dina ” ucapku ketika ku menoleh wajah pemilik tangan tersebut.

Dina tersenyum manis menatapku. Aku hanya memandangnya terkejut melihat wanita yang menghilang begitu saja.

” Dra kira2 Adi dimana ya, ada yang mau gw tanyain nih tentang tugas. Gw cari Adi dulu ya ” ucap Vika seraya menutup laptopnya dan merapikan ke dalam tasnya lalu meninggalkan kami berdua.

Apa yang dirasakan Vika ya. Sepertinya dia nampak tak senang dengan kehadiran Dina di tengah kedekatan kami.

” Maaf Dra telah sedikit melupakan lo ” ucap Dina lalu duduk di sebelahku.

” Nih jatah makan lo dari gw, maaf ya udah gk pernah kasih lagi ” ucap Dina kembali menyodorkan kotak makan yang dulu biasa dia berikan padaku. Memoriku kembali ke masa2 saat bersama dengannya. Tapi aku memikirkan Vika, entah apa yang Vika rasakan saat ini.

” Lo marah sama gw Dra, kok diem aja ? ” tanya Dina memandangku

” Gk kok Din, gw Cuma kaget aja, tiba2 lo pergi, tiba2 juga lo dateng ” ucapku menoleh ke arah Dina.

” Maaf gw baru sadar, klo kebahagiaan gw tuh bukan ketenaran ”

” Hhhmmmm ”

” Kebahagiaan gw tuh saat sekarang ini, berada di samping lo. Apa lagi klo liat lo makan dengan lahap, seneng banget gw. Saat ini gw gk mau membuang satu detikpun atau satu meterpun di langkah pertama gw. Gw mau selalu bersama lo ” ucap Dina tersenyum lebar.

Aku terkejut mendengar ucapan Dina itu. Perasaan2ku serta ingatan2ku saat bersamanya terus menghujami kepalaku. Terkenang kembali masa dimana kami mengukir moment2 indah.

” Selama ini lo kemana aja sih sebenernya ” ucapku sedikit sewot memandang wajahnya.

” Maaf Dra ” sekali lagi dia mengucapkan kata maaf dengan kepala tertunduk.

” Ya sudahlah ” ucapku mengalihkan pandanganku kearah laptopku.

” Gw denger lo berantem sama Rudi ya, cowoknya Vika ”

” Lo kenal Vika? ”

” Iya lah dia sering di ajak Rudi nongkrong bareng sama anak hukum ”

” Rudi anak hukum juga mangnya ? ”

” Hah lo gak tau apa ? ”

” Peduli amat gw tau dia ”

” Katanya Rudi mergokin lo berdua pacaran di mall ya ? ” tanya Dina yang sepertinya penasaran.

” Salah paham aja, Cuma dia yang gk mau denger akhirnya kasar sama Vika. Sebagai lelaki ya gw hajar aja tuh si Rudi ”

” Salah paham gimana Dra ? ” sepertinya Dina makin penasaran

” Gw ke mall mau cari buku buat materi tugas kami, terus Vika ajakin mampir bentar liat boneka. Eh tau2 tuh si artis gagal dateng marah2 ” heh kenapa aku bilang cari buku. Kenapa tidak ku katakan aku habis nonton bareng Vika dan tidak ada hubungannya dengan tugas.

” Huftt, gitu toh ternyata ” Dina menghela nafasnya.

” Hhhmmmm ”

” Si Rudi jelek2kin lo mulu di depan gw, yang bilang lo ngejar2 gw mulu lah. Saat itu gw jadi kepikiran sama lo Dra. Ya udah gw maki2 aja dia, terus gw sadar klo selama ini gw udah ngelupain lo ”

” Biarin ajalah dia mau omong apa. Males gw berurusan sama banci ”

” Eh Dra tapi bener nih lo gk ada apa2 sama Vika ? ” pertanyaan yang sulit ku jawab

” Aaaaaaaaaaaaaaa ” ku kehabisan kata2 nampaknya.

” Tapi kayaknya lo tadi berdua seneng banget. Harusnya kan Vika sedih tuh ribut2 gitu antara lo sama cowoknya ”

” Gk tau ”

” Masa sih lo gk tau ” kenapa tiba2 Dina jadi kepo gini sih.

” Din kemaren bu maria nanyain lo tuh, kok gk di tempatin kamar kos lo ” ku coba mengalihkan pembicaraan.

” Hari ini gw mau tempatin lagi Dra ”

” Eh gw buka ya kotak makannya Din ” ucapku seraya membuka kotak makan yang Dina berikan tadi.

” Tumben lo pake basa basi, biasanya main buka aja ” ucap Dina ” buka baju gw ” bisik Dina tepat di telingaku.

Ternyata Dina tak pernah berubah, selalu bergairah seperti biasanya. Eh selama tidak bersamaku apa Dina bermain dengan lelaki lain ya. Membayangkan Dina bercinta dengan lelaki lain membuat dadaku terasa sesak.

” Selama gk ada lo gw tidur sendiri nih Dra, jadi sepi rasanya ” oh leganya tanpa perlu ditanya Dina sudah menjawab kegundahan hatiku.

” Lo masih sibuk syuting donk sekarang ? ”

” Gw udah gk mau, ngapain semua udah di setting, gw Cuma pura2 aja di depan kamera. Mending juga seperti waktu sama lo aja ”

” Ohh gitu, jadi gk terkenal lagi donk lo ”

” Gk apa2. Eh tugas lo gimana Dra ”

” Udah selesai, tinggal diajuin aja sama dosen pembimbing ”

” Berarti kita bisa jalan2 lagi donk ”

” Hah ”

” Hmmmm kemana ya enaknya ?? ” Dina nampak kebingungan memikirkan rencana perjalanan kami. Aku juga bingung tentang Vika, alesan apa aku sama Vika. Walaupun tidak ada kalimat pacaran antara aku dan Vika tapi pasti dia akan menanyakan keberadaanku. Masa aku harus bilang pulang kampung lagi.

” Tunggu dulu Din, gw harus bener2 mastiin klo tugas gw udah clear. Setelah itu baru kita jalan2 lagi ” ku coba ulur waktu untuk mengatur strategi.

” Klo gk kita jalan2 yang deket aja, sekitar Jakarta gitu ” Aduuuhhh makin bingung aja aku. Coba tenang dan berfikir.

” Klo di Jakarta mah gw bosen Din ” ku coba mencari-cari akal.

” Sama gw juga bosen, tapi kan yang penting kita berdua bisa jalan2 menghabiskan waktu bersama ” Huh ada aja sih alasannya.

” Ya sudah gw coba atur waktu dulu deh Din. Gw mau ke kelas dulu ya, mau cari Adi dan Vika ” ucapku seraya bangkit lalu berjalan meninggalkan Dina.

” Ya udah, besok kita bareng lagi ya Dra, naik motor lo ” jebretttttt sepertinya masalah baru akan timbul.

Memikirkan hal ini membuat kepalaku terasa berat. Terlebih beberapa hari ini aku makannya sedikit. Hanya 3 kali sehari. Membuat tubuhku terasa lemas. Ku berjalan tergopoh-gopoh, langit yang berwarna biru menjadi nampak kuning olehku. Pandanganku menjadi kabur, lalu berubah semakin gelap dan akhirnya kesadaranku hilang.

Bersambung