Love Never Takes Sides Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 11

Awal yang manis

” Dra gw harus gimana Dra ” ucap Vika seraya menguncang-guncangkan tubuhku.

” Biasa aja kali gw gk bisa makan nih ” protesku menahan guncangan dari Vika.

” GW KACAU DRA KACAUUUUUUUU ” teriak Vika sekencang-kencangnya. Membuat semua mata orang2 di sekitar kami melihat kearah kami.

Ku jalan perlahan-lahan di tengah pandangan orang2 di sekitar kami ” Bukan temen saya lho ”

” Lo mau kemana Dra ” Vika berdiri coba menyusulku. Aku mulai berlari kecil menghindarinya.

” Dra lo musti tanggung jawab ” teriak Vika mengejarku.

” Jiiaaaahhh mang apa yg gw perbuat kok harus tanggung jawab ” ku percepat lariku menghindari Vika.

Vika terus saja mengejarku, kenapa dia jadi stress begini sih. Yang enak sapa yang susah siapa. Aku yang sudah mulai kelelahan pun berhenti di salah satu sudut taman.

” Hos…hos….hos. Lo jangan stress napa Vik ”

” Abis gw bingung Dra ” kami berdua kembali duduk di kursi taman

” Lo tenang dulu donk Vik. Bukannya lo berdua sepakat fokus ke tugas akhir masing2, kenapa lo malah kencan ? ” tanyaku memandang wajah Vika yang terdapat guratan bekas air matanya.

” Itu dia gw nyesel kenapa gw mau waktu itu ke ultah temennya. Tadinya gw gk mau karna kita udah sepakat, tapi Rudi bilang Cuma sebentar aja ”

” Klo lo mau lanjut gw pikir lo harus merubah paradigma dia sekarang. Jangan mementingkan hawa nafsunya aja ” ucapku coba memberi masukan.

” Klo dia gk mau, maksa2 gitu terus ngancam putus gimana Dra ? ”

” Tidak ada manusia yang sempurna, klo dia memang bukan untuk lo ya udah ikhlasin aja. Nanti lo juga dapet penggantinya ”

” Mang ada yang mau Dra ”

” Ada sih yang mau sama lo, mau muntah gitu ”

” LO BISA GK SI SERIUS SEDIKIT ” kembali Vika marah.

” Ada lah yg mau kok. Gk semua cowok juga perjaka Vik ” Contohnya aku, Modus mode on.

” Jadi gw cari cowok yang gk perjaka gitu ” yessss kesempatan untukku.

” Maksud gw, gk semua cowok juga masih suci. Jadi udah gk usah sesali yang sudah terjadi ” ku coba memutar jalan pikiran Vika.

” Jadi gk papa nih klo gw putus sama cowok gw ” yuhuuuuuuuuuu akhirnya masuk tahap2 krusial.

” Klo cowok lo maksa lo terus ngancem putus, ya sudah biarin aja. Sekarang lo fokus aja deh sama tugas lo ” ku tepuk2 pundak Vika agar dia lebih tenang.

” Oh iya ya. Sebentar lagi harus udah kelar tuh ” Vika mengangkat badannya sembari mengepalkan tangannya mulai bersemangat.

” Nah gitu donk, itu baru Vika yang gw kenal ”

” Tapi mood gw lagi jelek hari ini Dra ”

” Terus biar bagus gimana caranya ? ”

” Gw pengen nonton bioskop Dra, gw butuh hiburan ”

” Ya udah lo nonton aja ”

” Lo gk mau ajakin gw nonton gitu ? dasar gk peka ”

” Mau lo apa sih, dari tadi bilang gk peka mulu ? ”

Vika kembali tertunduk lemas memandangi tanah.

” Ya udah. Nonton yuk Vik ”

” Ayo, karna lo salah lo yang bayar ya ” Vika kembali bersemangat. Sialan seenaknya saja dia memutuskan

” Ya udah gw balik dulu ke kosan. Nanti siang gw jemput lo ”

” Oke ”

” Mas buburnya belum dibayar ” ucap seorang pria menepuk punggungku dari belakang.

***

Di gedung bioskop sebuah mall

” Wiiiiihhhh keluar juga nih film. Kita nonton ini yuk Vik, gw udah nonton yang pertama, musti nonton yang kedua ” ucapku menunjuk sebuah poster film action.

” Klo film tembak2an gitu kuping gw pengeng Dra. Yang ini aja ” ucap Vika menunjuk sebuah poster film drama romantis.

” Jiiaaahh lo kan lagi galau nontonnya yang beginian tambah galau nanti ”

” Kan lo yang salah, jadi lo harus turutin kemauan gw ”

” Siapa yang mutusin klo gw salah ? ”

” Lo marah sama gw Dra ” ucap Vika lirih menundukkan kepalanya.

” Ya udah kita nonton film yg lo mau aja ” dasar wanita selalu memutuskan seenaknya.

***

Di dalam teather bioskop

” Hiks hiks hiks hiks ” Vika tersendu-sendu menatap serius layar lebar di sebelah kiriku.

” HEH LO KLO NANGIS, NANGIS AJA GK USAH NGELAP PAKE BAJU GW DONK ”

” Sedih Dra sedih filmnya ”

” Eh popcorn gw kok jadi tambah asin sih Vik…. Jiaaahhh lo sonoan napa duduknya, air mata sama ingus lo netes nih ” ku dorong Vika agar menjauh dariku.

” Apaan sih lo Dra, gk peka banget ”

” Bodo amat sama yang namanya gk peka, makanan gw jadi tambah asin nih ”

” PPppsssssssstttttttt ” suara beberapa orang penonton lainnya yang merasa terganggu dengan ulah kami.

” Lo gk pernah nonton film di bioskop ya Dra ” bisik Vika mengejekku

” Abis lo rese sih ” bisikku

” Udah jangan ribut Dra, kita nonton aja ”

” Tapi jangan netes lagi tuh kecap asin lo ”

***

Selesai menonton film

” Haaaahhh akhirnya keluar juga ” ucapku lega telah keluar dari neraka kesedihan.

” Sekarang kita mau kemana lagi nih Dra ? ”

” Pulang lah ”

” Gw masih bad mood nih. Kita keliling dulu yuk, gw mau ke toko boneka, mau liat2 ”

” Ya udah ” sepertinya dia minta dibelikan boneka nih. Kenapa jadi Vika yang modusin aku.

***

” Ih lucu amat bonekanya Dra ” ucap Vika memeluk sebuah boneka beruang berwarna pink yang lumayan besar.

” Hmmmmmm ” aku tidak akan terjebak lagi kali ini.

” Klo ada boneka ini di kamar gw, pasti gw gk bad mood nih. Terus semangat deh ngerjain tugasnya ” Vika melirikku dengan mata yang berkaca-kaca.

” Gitu ya ” ucapku membuang pandangan kesana kemari menghindari tatapan penuh harapannya.

” Ohhh jadi lo berdua pacaran ” ucap seorang pria.

” Rudi ” ucap aku dan Vika menoleh kearah suara itu. Rudi sedang memegang minuman bersama 3 orang pria dan 2 orang wanita berada di belakang kami.

” Aku Cuma…….. ”

” Jangan banyak alesan. Jadi ini alasan lo nolak kemauan gw. Jadi ini yang lo bilang mau fokus ke tugas ” ucap Rudi memotong penjelasan Vika.

” Lo salah sangka Rud ” ucapku coba menjelaskan.

” Jangan banyak omong lo cowok gagal ” bentak Rudi padaku.

” Byurrrr ” air minum yang ada di tangan Rudi disiram kewajahku. Membuat emosiku memuncak.

” Jangan Dra, jangan buat keributan ” ucap Vika menahanku.

” Lo gk berani sama gw, cowok gagal ? ” ucap Rudi kembali padaku.

” Lo gagal deketin Dina, sekarang lo deketin cewek gw. Dina Cuma mau lo deketin saat orang2 menjauhinya. Tapi saat semua orang sudah mendekati dia, lo dilupain gitu aja. Dasar cowok yang malang ” Rudi mulai mengejekku. Sebenarnya aku sangat emosi tapi demi Vika akan ku tahan amarahku.

” Lo mau sama dia Vik. Ya sudah silahkan ” ucap Rudi sambil melangkahkan kakinya.

” Tunggu bebs ” Vika memegang tangan Rudi berusaha menahannya.

” Gw udah gk mau sama lo dasar cewek murahan ” ucap Rudi seraya melepaskan tangannya dari genggaman Vika, lalu menampar Vika dan mendorongnya hingga jatuh.

” Jedas…braakkk….jebreeeettt ” secepat kilat 3 kali tendanganku menghantap perut, dada, dan muka lelaki biadab itu. Hingga jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah segar dari mulut dan pelipisnya.

” Dengar!! Gk masalah lo nyiram gw atau menghina gw seperti apapun. Tapi gk peduli apapun alasannya, gk akan gw maafin pria yang menyakiti seorang lady ”

Seketika itu ketiga orang lelaki yang bersamanya menyerangku. Ku hindari serangan dari ketiga lelaki itu lalu pukulan dan tendanganku mendarat di tubuh mereka satu per satu hingga mereka jatuh tersungkur.

Tak lama satpam mall datang menghampiri kami. Dan kamipun di lerainya. Akhirnya Rudi dan teman2nya pergi dari mall itu karna jelas mereka yang mencari masalah terlebih dahulu.

” Gw laper banget Vik abis berantem tadi ”

” Ya udah yuk makan, karna lo udah belain gw, gw traktir deh ”

” Vik lo gk sedih, pasti lo diputusin kan karna kejadian tadi ”

” Seperti yang lo bilang tidak ada manusia sempurna. Gk perlu lagi disesali yang sudah terjadi ”

Kami pun menuju food court mall. Kami memesan beberapa makanan.

” Dra jebol dompet gw Dra lo makannya banyak ” Vika kebingungan melihat pesananku yang lumayan banyak.

” Lo masih kaku aja sama gw Vik ” ucapku santai.

” Gk apa2 deh, buat seorang pahlawan ”

” Tolong ya, jangan labeli gw dengan sebutan pahlawan. Karna jika pahlawan selesai menolong seorang wanita dia akan pergi begitu saja, sedangkan gw mengharapkan imbalan berupa peluk dan cium dari seorang wanita ”

” Ohh bukan makanan nih yang lo harapin. Jadi lo mau gw peluk dan cium ? ” Vika menggeser kursinya mendekatiku. Sejak kapan modusku berhasil.

” Nihhh makan peluk dan cium ” hantaman kepalan tinju Vika telak mengenai kepalaku.

Selesai makan ku antar Vika ke rumahnya. Hari sudah sore sebentar lagi malam menjelang.

” Gw langsung cabut aja ya Vik. Besok kita bahas tugas di kampus ”

” Iya Dra. Makasih ya Dra ” tatap Vika ke arahku.

” Gk usah sungkan2, klo lo mau berterima kasih, ucapkan saja pada pipi gw ” ucapku seraya mataku melirik kanan dan kiri

” Hati-hati ya Dra ” Vika berlalu tanpa memperdulikan ucapan terakhirku.

” Semangat ya ngerjain tugasnya Vik ” aku pun berlalu menuju kosanku.

Sekembalinya dari rumah Vika. Di kosanku, ku lihat kamar Dina masih terkunci. Ku lihat dari jendela kamarnya, barang2nya masih ada.

” Dra tadi pembantunya si Dina kemari, kasih uang kos untuk bulan depan. Dina sebenernya ke mana sih. Kosan Cuma dijadiin tempat titip barang ” tanya Bu Maria yang entah kapan berada di belakangku.

” Saya juga gk tau bu, dia jarang masuk kampus. Sibuk syuting kali ” ucapku lemas mengingat Dina kembali.

” Iya bisa jadi, sering saya liat Dina nongol di tv ” bu Maria berlalu pergi meninggalkanku.

Setelah memasuki kamar kosku, ku rebahkan tubuhku. Ku lihat gadget GPSku untuk mengetahui lokasi Dina berada. Sepertinya dia sedang tidak di rumah.

Aku jadi kepikiran kata2 Rudi tadi di mall. Apa benar Dina sudah benar2 melupakanku. Apa aku hubungi saja Dina menanyakan kabarnya. Ah tidak mungkin dia sibuk dan tidak ingin diganggu.

” curut….curut…..curut ” suara ponselku berbunyi menandakan ada sms masuk.

” Dra lagi pain ” tulis Vika dalam pesan singkatnya. Tumben nih cewek smsku pake basa basi, biasanya langsung aja ke masalah.

” Lagi tidur ” Balasku.

” Tidur kok bisa bales sms gw ”

” Kan yang bales tangan gw ”

” Apa bedanya combro ”

” Enak tuh Vik klo dimakan anget2 ”

” Gw bete nih Dra ”

” Klo gw laper Vik ”

” Gk peka banget sih lo ”

” Bosen gw sama yang namanya gk peka ”

” YM aja yuk Dra, pulsa gw udah mau abis nih ”

” Buzz ”

” Dra ”

” Buzz ”

Beberapa kali Vika kirim pesan melalui YM. Ponselku terus2an berbunyi mendakan ada YM yang masuk.

” Iya2 bentar napa, gw ribet nih klo OL di hp ”

” Pake laptop aja napa ”

” Ya udah bentar ”

Ku buka laptopku dan berchat ria bersama Vika. Baru kali ini aku chat dengan Vika membicarakan hal2 yang tidak penting. Dari ngerumpiin mahasiswa2 gk jelas sampai kejadian2 konyol waktu Vika SMA. Kami chating sampai tengah malam hingga ku ketiduran dengan laptop masih menyala.

***

Saat ku bangun di pagi hari kulihat layar laptopku masih menyala, dan kulihat ada beberapa chat Vika yang belum sempat terbaca olehku karna ketiduran.

” Dra
Buzz
Lo udah tidur Dra
Ya udah met bubu ya. Have a nice dream ”

So sweet banget sih tuh cewek, biasanya galak. Ku tutup laptopku dan merapikannya ke tasku. Lalu ku mandi dan bersiap menuju kampus. Sebelum ku pergi ke kampus ku sempat melihat kamar Dina, ternyata masih kosong.

Jujur saja aku jadi merasa kehilangan Dina. Aku udah terbiasa dengan suaranya, tawanya, amarahnya. Apa di sana dia juga memikirkanku, apa dia masih ingat memori tentangku. Apa dia masih menyimpan kenangan antar kita berdua. Kehangatan peluknya masih terasa di tubuhku, kelembutan kecupannya masih menempel di bibirku, aroma tubuhnya masih hinggap di hidungku.

***

Siang hari di kantin kampus setelah kelas selesai. Aku bersama Vika dan Adi membahas tugas kami. Tapi pandanganku sesekali menoleh kearah dimana Dina berada bersama teman2nya. Dia nampak ceria berbicara bersama temannya.

” Dra semalem bokap gw dari muara karang bawa ini ” Vika menyodorkan kotak makannya lalu membukanya.

” Cumi bakar ” ucapku lirih teringat panggilanku untuk Dina saat melihat isi kotak makan Vika.

” Woiiii tumben Cuma dipandangin aja tuh makanan ” ucap Adi langsung mengambil cumi bakar.

” Ih jangan banyak2 Di ” Vika menepak tangan Adi yang merauk sebagian besar isi kotak makanannya.

” Tugas kita sebentar lagi selesai, semoga bulan depan udah kelar jadi kita bisa sidang sesuai jadwal ” ku beranjak dari kursi kantin.

” Gw cabut dulu ya ” ucapku seraya meninggalkan mereka berdua.

Ku pergi menuju tempat yg dulu dijadikan pertemuan aku dan Dina saat pergi dan pulang bareng kuliah. Walaupun sejak penculikan itu kami sudah tidak saling tunggu2an di tempat ini, tapi tempat inilah moment2 antara kami berdua tercipta.

” curut…..curut….curut ” suara ponselku berdering.

” Dra lo kenapa sih, kok aneh ? ” ternyata sms dari Vika. Kenapa Dina tak pernah lagi menghubungiku.

” Gk apa2 Vik ” balasku singkat.

” Lo lagi dimana Dra ? ”

” Masih disekitar kampus Vik ”

” Laptop lo nih ketinggalan ”

” Oh iya, ya udah tunggu ya ” aku lupa dengan laptopku, padahal di laptopku itu ada beberapa foto ku berdua dengan Dina. Kalo mereka lihat bisa gawat nih. Mana fotonya banyak yang vulgar lagi.

Sesampainya kembali ku di kantin kulihat laptopku masih pada posisi terakhir kutinggalkan. Dan reaksi Adi dan Vika pun tak menunjukan jika mereka melihat2 isi laptopku.

” Gimana si lo Dra ” ucap Adi masih memakan cumi bakar dari Vika.

” Dra yakin lo gk mau nih ” Vika kembali menyodorkan kotak makanannya.

” Biarin aja napa Vik klo dia gk mau, udah sadar kali dia ” protes Adi

” Eh ini buat gw nih ” ku mulai mengambil makanan yang tersedia.

” Lo mikirin apa sih Dra baru nyadar sekarang ada makanan” tanya Vika yang keheranan denganku.

Tiba2 Adi menerima telpon entah dari mana, sepertinya ada sesuatu yang gawat dan dia mesti segera pulang.

” Gw cabut dulu ya ade gw kecelakaan ” ucap Adi terburu-buru lalu meninggalkan kami.

” Hati2 bro, konsentrasi di jalan ” ucapku.

” Eh Dra sebenernya lo kenapa sih ? ” Vika seperti penasaran denganku. Tapi aku enggan untuk bercerita.

” Gk kenapa2 kok, Cuma kucing kesayangan gw mati aja ” ah kenapa jadi kucing yang dijadiin alasanku.

” Sejak kapan lo punya kucing ”

” Udahlah jangan dibahas ” aku sudah kehabisan alasan sepertinya.

” Dra gw udah resmi putus sama Rudi. Semalem dia sms gw ”

” Terus lo gimana Vik ”

” Gk gimana2 sih, kan gw udah tau pasti bakal seperti ini. Daripada gw harus turutin keinginan dia tanpa peduli kondisi gw ”

” Baguslah ”

” Eh Dra kita ke ancol yuk sabtu ”

” Saat seperti ini lo malah mau jalan2 mulu ”

” Ya ela tugas juga tinggal sedikit lagi ini selesai ”

” Boleh deh, tapi naik busway yuk gw lagi bosen naik motor ”

” Oke gk masalah ”

***

Sabtu pagi ku bersiap untuk pergi ke ancol bersama Vika. Entah kenapa setiap keluar kamar kos, aku selalu menoleh ke arah kamar kos Dina yang sudah tak pernah disinggahi. Mengapa aku jadi selalu memikirkannya, bukankah saat ini aku memiliki kesempatan bersama Vika, wanita yang aku kagumi diam2.

Sesampainya di rumah Vika ku pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengajak putrinya pergi. Oke ku coba buka lembaran baru bersama Vika. Walaupun dia sudah tak perawan, itu bukan masalah buatku, toh aku juga tak perjaka. Dia lebih baik dariku karna bisa jujur denganku sedangkan aku tak tahu bisa jujur terhadapnya atau tidak.

” Waaaaaaahhhhhh semriwing angin pantai. Udah lama gw gk ke pantai Dra ” Berdua kami duduk di bawah payung tenda di pinggir pantai.

” Jangan nora deh ”

” Apa maksud lo Dra ” Vika melotot padaku.

” Sluruppppppppppppp ” segarnya menikmati kelapa muda di pantai.

” Lo kok jadi cowok gk peka banget sih ” Vika memonyongkan mulutnya ke arahku.

” Apa lagi sama si gk peka ” omel melihat Vika yang cemberut.

” Udah abis berapa ekor itu ikan sama udang bakarnya, terus kelapanya udah abis berapa biji ? Gw gk ditawarin ”

” Nih masih ada tulang sama batoknya. Mau lo ”

” Gw jalan sama cowok yang salah ” Vika tertunduk lemas

” Eh Vik lo bawa baju ganti kan ? Berenang yuk ”

” Yuk, gw bawa kok ” Vika nampak bersemangat kembali, wajahnya nampak merah merona.

” Tapi Dra gw gk bisa berenang, apa lagi berenang di pantai gw ngeri ”

” Sewa ban aja, lagian kan ada gw tenang aja ” wajah Vika tambah memerah, apa karna matahari ya.

Setelah kami ganti pakaian dengan kaos dan celana pendek serta memakai sunblock, kami segera menuju pantai.

” Cprat cprit cprot ” cipratan air yang Vika lempar2kan ke arahku.

” Vik perih nih airnya asin ” ku tutupi mukaku agar tidak terkena air laut.

Kami bermain, bersenang-senang di pantai. Membuat istana pasir yang selalu hancur terkena ombak. Berenang kesana kemari, Vika menggunakan ban sementara aku mengejarnya dari belakang. Lama kami bermain di pantai hingga menjelang sore hari. Kami yang kelelahan berbaring di atas pasir pantai.

” Huffttt cape banget gw Dra ”

” Sama gw Vik ”

” Dra ” Vika menatapku tajam

” Vik ” ku balas tatapannya tak kalah tajam.

Kami hanya saling berpandangan tanpa mengucap sepatah kata. Biarlah mata kami yang berbicara memberi tahu isi hati kami masing2. Tanpa sadar wajah kami saling mendekat, dapat kurasakan deru nafasnya.

Cantik sekali wanita yang ada di hadapanku, yang selama ini ku kagumi. Perlahan semakin dekat wajah kami, entah siapa yang mendekat, ku rasa perasaan kami yang menarik kami.

Senja semakin rendah, matahari semakin memerah hendak berganti giliran dengan rembulan. Mengiringi bibir kami yang bersatu tanpa perintah dari otak kanan maupun otak kiri. Lembut, ya sangat lembut, bahkan lebih lembut dari Dina.

” Sorry Vik gw kelepasan ” ku bangkit terduduk memandang ombak pantai yang mulai meninggi.

Vika ikut bangkit menyandarkan kepalanya di bahuku ” Lo percaya takdir Dra ”

” Hhmm ” ku menoleh ke arah Vika.

” Semua yang kita alami sampai saat ini adalah takdir ” Vika menggenggam erat tanganku.

” Ya gw percaya ” ucapku perlahan memandangi Vika yang masih bersandar di bahuku.

” Tuhan tidak menjanjikan kita langit selalu biru Dra, tapi Tuhan selalu memberi pelangi setelah badai ”

” Gw gk tau sedekat apa hubungan lo sama Dina. Mungkin Dina adalah langit biru bagi lo dan kehilangannya adalah sebuah badai untuk lo. Tapi gw berharap gw bisa jadi pelangi untuk lo ”

Ternyata Vika sudah mengerti tentang kegundahan hatiku selama ini. Memang perasaan wanita tak bisa diremehkan. Tapi mengapa Vika berkata seperti itu, apa dia mulai mencintaiku. Huftt jadi cowok tampan memang menyenangkan, tapi sulit dijalani.

***

Setelah puas bermain di pantai kamipun bergegas pulang. Karna week end busway jadi penuh sesak, dan kami tak mendapat tempat duduk. Vika yang sangat lelah tertidur dipelukanku sambil berdiri.

Setelah turun dari busway ku bangunkan Vika tapi sepertinya dia sulit untuk bangun. Akhirnya ku gendong dia di punggungku menuju rumahnya.

Setelah mengantar Vika pulang, ku berjalan menuju kosanku di tengah gelapnya malam. Ku mulai berfikir tentang Vika……..

” Bau apa ini ” ku endus2 sekitarku mencari sumber bau. Kenapa bajuku jadi lepek ya, perasaan Vika gk berat2 amat, tak perlu mengeluarkan keringat…………. Sialan ternyata bau jigongnya Vika yang membasahi bajuku.

Bersambung