Love Never Takes Sides Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Tamat

Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Love Never Takes Sides Part 9

Tragedi

” Sialan lo Vik kenapa gw yang jadi kena sasaran amuk lo ” protes Adi sambil mengusap-usap lengannya.

” Tuh gara2 si lutung gunung satu ini ” oceh Vika menunjuk mukaku.

” Sorry dah, udah yuk kita mulai bahas tugasnya ” ucapku seraya mengobati luka tusukan di tanganku.

Kami mulai membuka laptop masing2 untuk membahas tugas. Kulihat tugas Adi di laptopnya ” Widihhh makin keren aja desain lo Di ” pujiku.

” Dra gimana nih database gw, kok table master barang sama detail barang gk bisa sinkron sih jadi buntu gw ” tanya Vika.

” Kata lo udah beres tadi ”

” Jleebbb ” Vika menusukan garpu ke meja kami ” Masih berani protes lo ” angker sekali tampangnya Vika.

” Ya ya ya. Bentar gw liat dulu ” ku perhatikan database Vika, ku kutak katik

” Bingo. Lo perlu penambahan script di kolom primary key nya. Baru tarik ERD nya. Sip coba kita execute, sukses ”

” Waaaahhh hebat juga lo Dra ”

” Klo ada masalah yang sama pada table2 yang lain lo copy aja scriptnya, tinggal ubah source nya aja ” ucapku mengerlingkan mata.

” Oke kita coba penggabungan tugas2 kita, ini yang agak ribet nih, copy tugas lo2 pada ke flashdisk ? ” ucapku.

Setelah kupindahkan tugas mereka berdua ke laptopku mulailah ku satukan tugas kami. ” Perlu koding tambahan untuk penyatuannya nih ”

” Nah selesai, sekarang gw jelasin kinerja web kita ”

Ku mulai menjelaskannya sementara mereka menyimak dengan seksama.

Sekitar 30 menit ku menjelaskan alurnya, sepertinya mereka sudah paham. Memang belum selesai tugas kami, masih 50 % saja tapi kerangkanya sudah terbentuk.

Kami pun selesai membahas tugas kami. Hhhmmm dari pada bosan.

” Eh pesut main PES yuk ” ajaku pada Adi.

” Boleh sapa takut, taroan yuk ” ucap Adi lebih menantangku.

” Vik jadi wasit ya ” ucapku menoleh pada Vika

” Ogah ah, gw mau ketemu cowok gw aja ”

” Ya udah, makanan lo tinggalin ya, itu kan jatah gw ” ucapku.

” Lo masih anggap itu jatah lo ? ” ucap Vika sambil memperlihatkan garpunya yang mengkilap seolah hendak menusukku kembali.

” Gk deh ” jawabku gemeteran. Ternyata Vika masih marah padaku.

***

Waktunya pulang, ku berjalan menuju parkiran dan ku pacu motorku menuju tempat biasaku bertemu Dina.

Di kejauhan ku lihat Dina seorang diri menungguku. Sepertinya bete menungguku, suruh siapa main tunggu2an di tempat sepi.

Tiba2 saja ada sebuah mobil kijang warna merah berhenti tempat di depan Dina.

” Masuk sini ” ucap seorang pria yang tiba2 keluar dari dalam mobil, menutup mulut Dina lalu menyeretnya masuk kedalam mobil, Dina coba melawan tapi tak berdaya. Lalu mobil itu melaju kencang.

Ku kejar mobil itu, ku berusaha menolong Dina dan sialnya mobil itu masuk Tol. Tidak mungkin motorku masuk ke dalam tol. Ku tetap kejar mobil itu melalui jalur umum di samping jalan tol. Tapi mobil itu melaju sangat kencang hingga ku kehilangan jejaknya.

Posisiku jelas tak mampu mengikuti mobil itu. Aku pun tak memperhatikan plat nomor mobil itu, apa aku harus melapor polisi. Tapi apa benar itu penculikan, pasti benar ah, Dina langsung dipaksa masuk gitu, jika bukan penculikan lalu apa.

Ahaaa cring aku bisa tahu di mana lokasi Dina diculik. Ku mulai pergi menuju tempat Dina berada.

Sesampainya di tempat yang ku duga tempat Dina disekap. Ku perhatikan lokasi sekitar, ku cari tempat aman untuk memarkir motorku.

Setelah menemui tempat aman ku berlalu menuju lokasi Dina.

” Hmmm itukan mobil yang tadi membawa Dina, aku ingat ciri2nya ” gumamku saat menemukan mobil yang membawa Dina terparkir di depan sebuah rumah minimalis berlantai 2 di suatu komplek perumahan.

Ku mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah itu. Penjagaannya tidak terlalu ketat, ada seorang pria sedang tertidur di teras depan, air liurnya tanpa sadar mulai menetes, ku bersihkan ilernya itu dengan baju pria itu dulu kasian sepertinya dia.

Saat ku masuki rumah itu upss ada seorang pria lagi, sedang asik menonton girl band sambil bergoyang-goyang mengikuti gerak tari. Dasar maho, ku mengendap-ngendap mengambil remot yang ada di meja.

” Hah kok berubah sendiri ” ucap pria itu kebingungan saat ku ganti saluran televisinya ke breaking news.

Pria itu clingak clinguk mencari tahu siapa yang mengganti, aku bersembunyi di belakang kursi yang ia duduki.

” Lama gk di tempatin nih rumah kayaknya, sepertinya ada penunggunya nih ” ucap pria itu setengah ketakutan.

” Jlebbb ” ku bekap mulut pria itu dengan sapu tangan yang sudah ku berikan obat bius. Saat di perjalanan ku sempatkan mampir membeli obat bius itu, walaupun Cuma membuat orang tertidur tapi lumayanlah untuk melumpuhkan sementara.

Ku kembali mencari lokasi Dina, ah ketemu tasnya Dina ada di suatu bipet rumah ini.

” Tak tak tak tak ” terdengar suara langkah kaki seseorang, langsung ku bersembunyi di balik tembok. Ku lihat ada orang muncul dari sebuah ruangan membawa sepiring makanan. Waaaahhhh di mana lokasi dia mengambil makanan itu ya, dari aromanya sepertinya enak. Ah tidak2 aku harus fokus menyelamatkan Dina.

Ku ikuti orang itu melangkah dan sampai di sebuah ruangan, dia memasuki ruangan itu.

” Oh ternyata lo yang nyulik gw. Lepasin gw begooooooo ” teriakan Dina terdengar olehku, pasti di situ lokasi Dina di sekap. Ku ambil kursi lalu ku intip melalui celah di atas pintu ruangan itu.

” hai sayang aku tuh bawain makanan kesukaan kamu, kok kamu malah marah2 sih ” ucap pria itu. Setelah ku perhatikan pria itu sepertinya aku pernah melihat. Hhhmm oh dia pria yang waktu itu kulihat difoto yang ada di mobil Dina. Berarti dia itu Bagas mantannya Dina.

” Gw gk suka makanan dari lo setaaaann ” teriak Dina yang sedang terikat oleh tali di kursi kayu.

” Ini kan makanan kesukaan kamu, lihat tuh bistick sapi lada hitam yang pedesss banget masa kamu gk suka sayang ” ucap pria itu menaruh piring yang ia bawa ke meja.

” Jangan panggil gw sayang bangsat ”

” Heh lo udah gw baikin malah bentak2 gw lagi ” bentak pria itu sambil menekan pipi Dina keras.

Ku yang kesal melihat pria itu memperlakukan Dina, mulai mengambil ancang-ancang 1…2…3 dan meluncur ku dobrak pintu itu sekencang-kencangnya……….. Sialan pintunya ternyata tidak dikunci, aku jadi meluncur tajam menabrak Bagas hingga kami berdua jatuh tersungkur, ku menindih tubuh Bagas.

” Andra ” ucap Dina terkejut melihatku.

” Wah Din mantan lo kayaknya mati nih ” ucapku santai saat melihat Bagas tak bergerak setelah ku tabrak. Sepertinya kepalanya terbentur lantai.

” Eh gk deh masih ada nafasnya ” ucapku kembali saat memastikan nafas di hidungnya.

Ku bergegas bangkit dan membuka ikatan Dina ” Helo Din apa kabar ”

” Tau dari mana lo gw diculik di sini ”

” Nanti aja gw ceritain, yuk cepetan cabut nih tas lo pake ”

Kami berdua pergi dari rumah itu langsung berlari menuju lokasi parkir motorku.

” Dra lo bisa gk sih lebih keren sedikit kalo jadi pahlawan. Udah buang napa itu makanan, suasana lagi genting nih ”

” Saywang Din kalow dibuwang, lo sih gk mauw makan tadiw ” ucapku sambil memakan makanan yang disediakan Bagas untuk Dina tadi.

” Lo parkir motor jauh amat sih, keburu kekejar kita nih ”

” Gw cari lokasi yang aman lah. Nah tuh dia motor gw ”

Akhirnya kami sampai di lokasi motorku terparkir. Kami berdua menaiki motorku itu.

” Tolong pegangin donk Din ” pintaku menyodorkan piring berisi makanan.

” Lo mang gk tegang apa, jantung gw aja udah mau copot Dra ”

” Gw mana bisa nyetir klo megang piring. Lo suapin gw ya Din ”

” Ya udah sini, ribet ya punya pahlawan kayak lo ”

Ku pacu motorku secepat-cepatnya membelah jalan raya ” Dra kayaknya kita di ikutin deh ”

” Sial ada 2 orang pake Satria FU ngejar kita Din mana pake ban cacing lagi ” ucapku seraya merauk semua makanan yang ada di piring dengan tangan kiri, lalu ku masukan semuanya ke mulutku.

Ku pacu lebih cepat lagi tetapi kecepatan motor mereka lebih unggul dariku, sehingga mereka makin mendekat.

” Din ambilin botol air minum di tas gw donk ” pintaku pada Dina.

” Jiaaah masih aja sih lo disaat seperti ini, gw lagi megang piring nih ”

” Lo buang napa piringnya udah kosong ini. Udah cepet ambilin botol air gw ”

” Nih ” ucap Dina menyodorkan botol air minum padaku.

” Lo siram rem belakang gw Din ”

” Rem belakang lo dimana Dra ”

” Di ujung berung sono, ya di roda belakang lah ”

” Udah gw siram Dra ” ucap Dina setelah melaksanakan perintahku.

” Siapp ” ke dua orang itu semakin dekat dan di depan sebuah gang sempit ku injak dalam2 pedal rem belakangku ” Ngggiiiiitttttttt ” decit suara remku, motorku pun langsung berhenti seketika.

” Gubraaaaaaaaaaaakkkkkkk ” salah satu pengejar kami jatuh di sebelah kananku karna rem mendadak yang iya lakukan dan menabrak mobil yang ada di depannya.

Ku banting stir ke kiri dan kuturunkan posisi gear dari 4-3-2-1 lalu memasuki gang sempit di sebelah kiriku. ” Gubraaaaaakkkkkkkkkk ” satu lagi pengejarku terjatuh dan terpental saat ban depannya beradu dengan ban belakangku.

” Huh sepertinya sakit banget tuh Din ” merasa aman ku mulai turunkan kecepatan motorku.

” Lo hebat Dra, salut gw ”

” Melihat motor mereka yg lebih cepet dari motor gw, apalagi mereka pake ban cancing pasti lebih cepat. Di sinilah otak musti di pake. Rem belakang klo kena air pasti daya remnya sangat pakem, saat gw rem medadak pasti mereka juga ikut rem mendadak, tapi karna gw ngerem pake rem belakang gw gk bakal jatuh, sedangkan mereka klo Cuma pake rem belakang yang kondisinya kering gk mungkin bisa ngerem mendadak ”

” Mau gk mau mereka optimalkan rem depan, itu kesalahan mereka ditambah ban cacing yg mereka pake. Gk mungkin gk jatuh. Gw sengaja ngerem di depan gang, karna posisi mereka berada di kanan dan kiri. Yang kanan sudah pasti jika rem mendadak pasti sulit menghindari mobil yang ada di sebelah kanan, makanya dia jatuh dan nabrak mobil juga, klo gk mati paling koma ”

” Yang di sebelah kiri gw lihat udah oleng2 gitu mau jatuh, untuk memperparah jatuhnya dia, gw banting stir ke kiri masuk gang sempit. Pasti efek dari jatuhnya lebih dahsyat karna ban depannya beradu dengan ban depan gw ”

” Widiiiihhh ternyata lo udah menganalisa terlebih dahulu ya. Eh gimana cara lo tau lokasi gw sih ? ” tanya Dina yang masih heran.

” Hmmmm waktu di Villa lo, gw denger suara HP lo bunyi terus, penasaran gw liat ternyata ada beberapa telpon dan sms, semua itu dari mantan lo. Gw iseng2 gw baca smsnya ternyata isinya ancaman kepada keluarga lo, supaya bokap lo tutup mulut jangan seret2 bokapnya mantan lo itu ”

” Dari situ gw mulai kwatir sama lo, gw taruh alat pelacak di hp lo tanpa lo sadari. Supaya sewaktu-waktu saat lo dalam bahaya gw bisa tau lokasi lo ”

” Lo hebat banget sih Dra ” Dina mulai terkagum-kagum dengan kepandaianku.

” Sejak lahir kaliiiiiiiiiii, eh Din botol minum gw mana ? ”

” Nih ” Dina menyodorkan botol padaku.

” Kok udah abis Din ”

” Kan lo nyuruh gw siram ke rem lo ”

” Iya tapi kan gw gk nyuruh sampe abis, mana pedes banget lagi makanan dari mantan lo ”

***

Di tengah perjalanan ” Pak Satya tolong ke rumah saya sekarang ya ” terdengar Dina sedang menghubungi seseorang.

” Siapa yg lo telpon Din ”

” Pengacara gw, gw mau kasusin si Bagas, biar rasa dia, gw juga masih nyimpen sms ancaman dia ”

” Bagus tuh Din, wah seru nih kayaknya ”

” Makanya selama ini gw gk mau ada orang yang liat kita sering bareng ke kampus. Yang nabrak gw dan tukang ojek itu, pasti si Bagas gw yakin tuh tapi gw gk punya bukti waktu itu ”

” Gw gk mau lo kenapa2 Dra, bukannya gw gengsi sebenernya ”

” Ohh jadi gitu. Udah gak usah kwatirin gw, mulai sekarang kita ketemuanya ya di kampus aja. Gk usah tunggu2an lagi di tempat sepi. Nanti lo diculik lagi ” ucapku

” Tapi klo ada apa2 sama lo gimana Dra ”

” Jiaaahhhh gw gk takut kok ” ucapku tersenyum lebar.

” Ya udah nanti kita lapor polisi sama pengacara gw. Lo jadi saksi ya Dra ”

” Oke ”

Sesampainya di rumah Dina sudah ada Pak Satya, kami bertiga ngobrol2 membicarakan tentang kejadian penculikan Dina.

” Hah saya mau diperiksa polisi pak ? saya gk mau dipenjara pak, makanan dipenjara katanya gk enak ” ucapku ketakutan.

” Siapa yang mau menjarain kamu, Cuma diperiksa sebagai saksi aja kok ” ucap Pak Satya memperjelas.

” Saya mau Bagas dipenjara Pak, waktu saya disekap di mobil, penculiknya udah ngancem2 saya aja. Katanya mau kasih peringatan untuk Ayah saya ” ucap Dina kesal.

” Oke saya sudah paham dengan kasus ini. Ayo kita ke kantor polisi sekarang ” ajak Pak Satya.

Di kantor polisi kami menjelaskan seluruh kronologinya dan menunjukkan bukti2 terkait kasus ini. Setelah menunjukan TKP penculikan kami bergegas pulang. Semua akan ditangani polisi dan pengacaranya Dina.

Di tengah perjalanan ku minta Dina mampir sejenak ke toko elektronik.

” Lo beli apa si Dra ? ” Tanya Dina saat ku masuk ke dalam mobil sekembalinya dari toko tersebut.

” Pinjem kalung lo dulu donk Din ”

” Mau apa sih lo Dra ? ” tanya Dina kembali sambil menyerahkan kalung yang ku berikan waktu itu.

” Liat aja nanti ah ” ucapku seraya menempelkan sesuatu di kalung Dina.

” Nih kalung udah gw kasih pelacak dan juga tombol hazard, jadi klo lo dalam masalah lo teken nih tombol merah ” ucapku seraya menunjukan alat yang tertempel di kalung Dina.

” Coba nih gw pencet ya ”

” Net not net not net not ” suara gadget di sakuku berbunyi.

” Alat yang di kalung lo ini tersambung di gadget gw ini. Gw bisa tau lokasi lo dari alat ini, klo lo lagi dalam bahaya lo tekan tombol merah ini. Otomatis alarm di gadget gw bunyi. Jangkauan gadget ini sekitar radius 200 km, jadi lo jangan berpergian jauh2 tanpa gw. Klo masih daerah Jakarta gk masalah lah.

” Hebat ya, udah kayak macgyver aja lo Dra ” puji Dina tersenyum melihat alat yang kuberikan.
” Yoiiii gw gitu ”

” Tapi suaranya kok gk asik banget Dra, bisa di setting yang lebih asik gk ? ”

” Bisa Din ada beberapa pilihan nada nih lo pilih aja ” ucapku menyodorkan gadget itu.

Dina mendengarkan satu persatu nada alarm di gadgetku itu ” Gk ada yang asik Dra, bisa ngerekam gk ? ”

” Bisa2, coba aja lo rekam terus dijadiin nada utama ”

” Nanti aja di rumah, gw ngerekam suara gw ”

Sesampainya di rumah Dina, aku duduk2 dulu sejenak menghilangkan lelah. Dina langsung mengambil gadgetku dan pergi berlalu entah kemana.

” Dra lo tidur sini aja ya, gw takut nih ” ucap Dina sekembalinya dia.

” Gw gk bawa salin Din ”

” Lo ambil dulu deh baju lo terus balik lagi ke sini ”

” Ya udahlah gw balik dulu ambil baju ya ”

” Hati2 ya ”

Aku kembali ke kosanku untuk mengambil beberapa baju dan buku pelajaran. Ku kembali lagi ke rumah Dina. Ku kerjakan tugasku di rumahnya, sesekali Dina menjahiliku saatku serius dengan tugasku.

” Eh cumi bakar, bisa gk sih lo gk iseng ”

” Abis gw dicuekin, gw kan jadi bete ”

” Kapan kelar tugas gw klo lo gangguin mulu ”

” Giliran ngentot aja lo semangat ”

” Aduh jadi ngaceng nih Din ”

” Bodo ha ha ha ha ” huft dasar tukang kentang goreng.

Lama mengerjakan tugas mataku jadi berat sekali, lebih baik ku tidur saja. Ku beranjak menuju tempat tidur. Disana sudah ada Dina yang tertidur sedari tadi. Ku tidur dengan memeluk Dina, hmm kenapa kehidupanku jadi bebas gini ya. Sudahlah nikmati saja.

Tiba2 saja Dina membelai penisku dari luar celana yang ku pakai ” Din lo belom tidur ”

” Gw nunggu lo dari tadi tau ”

” Tadi di ajakin gk mau ”

” Siapa yang gk mau, lo aja yang gk langsung beraksi malah sibuk sama tugas lo ” Dina memasukan tangannya ke dalam celanaku. Mencari-cari batang idamannya.

” Gw udah ngantuk berat lagi Din ”

” Nanti juga gk ngantuk Dra ” Dina mulai membelai lembut penisku.

” Oooohhhh enak Din ” penisku seketika langsung tegang.

Ku sergap bibir manisnya, ku lumati bibirnya dengan penuh nafsu. Ku permainkan lidahnya dengan lidahku.

” Ssssssstttttttt ” Dina memainkan kedua biji zakarku.

” Hhhmmmm geli Din ” ku yang tak mau kalah, tanganku menerobos celana bagian belakang Dina. Ku belai pantatnya yang mulus.

Ku cari2 lubang vaginanya tetapi kok malah lubang anusnya yang ku dapat.

” Din lo gk cebok ya ” ejekku sambil ku cium jariku yang menyentuk lubang anusnya.

” Sialan lo kudanil, jangan bikin mood gw ilang deh ” protes Dina.

Dina merebahkan tubuhku lalu Dina menindihku dan dia memposisikan vaginanya di mulutku dan penisku di mulutnya.

Langsung saja penisku dilahapnya hingga masuk seluruhnya di mulutnya. Aku juga tidak tinggal diam, langsung kusapu vaginanya, ku jilati seluruh bagian vaginanya. Ku sentil2 klitorisnya dengan lidahku.

Perlahan Dina menggerakkan pinggulnya, hisapan Dina di penisku makin lama makin kencang. Aku pun tak mau kalah, ku masukan telunjuku ke vaginanya, sementara lidahku asik memainkan klitorisnya.

” Ooouuuggghhhh Dra enak banget ” Dina mengurut-urut penisku sambil menjilati kepala penisku yang sudah sangat mengkilap.

” Sssshhhhhh geli Din ” ku percepat kocokan jariku di vagina Dina

Dina makin menggelinjang tak karuan. Tak lama Dina pun bangkit dan membalik posisinya, sekarang posisi vaginanya tepat berada di atas penisku siap untuk menyeruak masuk.

” Sleeepppppp ” Dina menurunkan pinggulnya dan masuklah batang penisku yang telah berdiri tegak menyambut vagina Dina yang sudah basah dan licin.

Payudaranya naik turun mengikuti irama goyangan pinggul Dina. Tangannya diangkat mengacak-ngacak rambutnya sendiri sehingga nampak ketiak mulusnya membuat Dina terlihat makin seksi. Betapa binalnya perempuan yang sedang beradu birahi di atasku ini.

” Oooouuuugggghhhhhh ” Dina mempercepat goyangannya, desahannya membelah kesunyian malam di rumahnya itu.

” Aaaakkkhhhhhhh terus Din ” Aku bangkit lalu menjilati dada lalu hinggap di payudaranya yang makin terasa mengeras. Tak lupa puting2 imutnya ku lumat, ku hisap2 hingga Dina meronta-ronta menahan rasa nikmat yang tak terkira.

Ku arahkan jilatanku pada ketiak mulusnya itu. Bulu2 halus Dina nampak berdiri menahan geli yang menjalar kesekujur tubuhnya.

” Sssssssshhhhhhhhhhhhh nikmat banget Dra ” Tiba2 Dina menghentikan goyangannya.

Setelah berhenti terasa olehku vaginanya berkedut-kedut seperti menghisap isi penisku. ” Ooouuugggggggghhhhhhhhhhhhhh ” Dina mengeluarkan jurus andalannya empot ayam.

Dina mulai menggerakan kembali pinggulnya perlahan, vaginanya masih berkedut2 menarik2 penisku.

” Aaaaaaaaakkkkkhhhhhh ” desah kami berbarengan, kami merasakan kenikmatan yang mengantarkan kami meluncur bebas menuju awan2. Seluruh rasa, tenaga dan juga pikiran berpusat di kelamin kami yang sedang beradu nikmat lalu menyebarkannya kembali keseluruh tubuh kami.

Lama kami berpacu dalam birahi, menggerakkan tubuh kami ke segala arah untuk mendapatkan sebongkah kenikmatan. Tubuh kami mulai menegang mendakan kami akan sampai pada puncak tertinggi pendakian senggama.

” Ooooooooouuuuuuugggghhhhhhh Dra ” lenguh Dina, sementara tangannya mencakar dadaku.

” AAAAAAakkkkkkkkhhhhhhhhhh Din ” Desahku seraya tanganku meremas kedua payudara Dina.

” Ooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhh ” jerit kami berbarengan disertai semburan2 cairan kenikmatan dari kelamin kami masing2 ” crot crot crot crot crot ”

Cairan spermaku bercampur lendir orgasme Dina bercampur menjadi satu dan meluber hingga membasahi selangkangan kami.

Dina langsung roboh disampingku dan memelukku. Kamipun tertidur pulas hingga pagi menjelang.

***

Keesokan harinya, saat di kampus bersama Vika dan Adi. Kami membahas tugas kami. Tugas kami mengalami kemajuan yang memuaskan, aku yakin kami dapat lulus dengan nilai yang memuaskan pula.

” Oooouuuggghhh Dra, gw dalam bahaya nih. Tolongin gw please, gw udah gk kuat nih sssssssssshhhhh ” terdengar suara desahan Dina memanggilku.

” Suara apaan tuh ” Ucap Adi dan Vika berbarengan melihatku penuh tanda tanya di wajah mereka.

Sialan ternyata suara gadget tanda bahaya untuk Dina. Kurang ajar tuh si cumi bakar nada alarmnya dibuat seperti itu. Tapi dia dalam bahaya nih aku harus buru2.

Tanpa meperdulikan mereka aku langsung berlari menuju lokasi Dina berada dengan bantuan gadgetku itu. Sepertinya Dina berada di kantin kampus nih sesuai arahan gadgetku.

Sesampainya di kantin ku lihat Dina duduk manis sambil menyeruput jus apel. Di sebelah Dina ada seorang wanita. Tumben ada yang mau duduk di sebelahnya.

” Haii Dra apa kabar ” sapa Dina manis saat melihatku.

” Eh cumi bakar ngerjain gw aja lo, gw kira lo kenapa. Kenapa suara alarmnya gitu sih ? ” omelku.

” Seksi kan suara gw Dra hi hi hi hi ” Dina nampak tersenyum puas sehabis mengerjaiku.

Bersambung