Lentera Hitam Part 36

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 36 BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 35

Ending

Aku dan Maria akhirnya menikah. Bagaimana sekolah kami? Yah, tetap sekolah dong. Walaupun bagi sebagian orang agak aneh juga masih sekolah udah menikah, tapi untungnya sekolah kami tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan Maria bisa cuti hamil dan melahirkan anak kami. Aku bekerja di sebuah kantor kontraktor. Aku tidak kuliah dan langsung bekerja. Gimana harus kuliah kalau aku harus mengurusi anak dan istriku.

Awalnya kehidupan kami agak kacau juga sih. Tapi Maria tahu pengorbananku. Dia selalu memberikanku semangat. Kami saling mendukung satu sama lain. Lambat laun aku pun bisa mempunyai perusahaan sendiri, walaupun tidak begitu besar.

“Sayang, hari ini pulang jam berapa?” tanya Maria di telepon.

“Hmmm….nggak tau deh. Ntar aja dilihat,” jawabku.

“Jangan malem-malem lagi lho, kasihan dedeknya,” katanya. Iya, dia telah mengandung anak keduaku.

“Iya sayang, kalau terlalu malem maaf ya, maaaaaf banget,” kataku.

“Aku berdo’a supaya suamiku pulang cepet,” katanya. “Sampai nanti suamiku chuby cumi mini manimu muuuuaachhh.”

“MMmmuuaacchhh….sayangku,” kataku.

Setelah pekerjaan yang melelahkan aku pun pulang. Ternyata di rumah ramai sekali dengan orang-orang. Eh, ada apa ini? Ada ayah, ibu, kedua mertuaku, Justin, Andre, Purple, Alex, Tim??

“Ada apa ini?” tanyaku.

“Surpriseee! Kejutan Ray, selamat ulang tahun ya,” kata ibuku yang sekarang tampak berbeda. Kecantikannya mulai memudar karena kekuatan Balancernya telah diambil oleh Azrael. Tapi ayah tetap mendampinginya sampai sekarang. Luar biasa.

“Kalian ingat ulang tahunku? Pasti diberi tahu Alex,” kataku.

“Yah, bro. Siapa lagi kalau bukan aku. Istrimu saja nggak pernah tahu koq,” kata Alex.

Andre tampak membawa seorang bayi juga. Wah, aku sudah lama tak bertemu dengannya.

“Wah, anakmu Ndre?” tanyaku.

“Iya dong, hebat kan? Kalian mau punya anak berapa? Ntar kita banyak-banyakan anak,” kata Andre.

“Ih..papa, enak disitu nggak enak di sini,” Purple mencubit pinggang Andre.

Kami pun tertawa. Setelah itu aku meniup kue ulang tahunku. Dan harapanku? Apa ya??? Harapanku agar Michele hidup bahagia di Syberia sana.

***

Setelah menikah dengan Maria, perasaanku makin tak menentu. Aku bingung sekarang. Di sini aku punya keluarga yang bahagia. Tapi hati kecilku mengatakan aku mencintai Michele.

Hari-hari berlalu, tahun demi tahun. Bagaimana kabar anakku di Syberia sana? Bagaimana kabar Michele? Aku selalu mengirimkan pesan kepada angin untuk memberitahukan kabarku baik-baik saja. Michele tidak bisa memberikan kabar kepadaku karena ia tak cukup kuat untuk mengirimkan pesan. Ingin sekali aku menemuinya, tapi tak bisa.

Kegalauanku tiap hari makin menjadi. Hal ini pun dirasakan oleh istriku, Maria.

“Kamu masih ingat kepada Michele?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Pergilah sayang, temuilah dia sekali-kali,” katanya.

“Tapi, aku tak bisa Maria. Aku tak mau meninggalkanmu,” kataku.

“Suamiku, bagaimana aku bisa bahagia kalau kamu tidak sepenuhnya berada di sini? Pikiranmu selalu tertuju ke Syberia. Pergilah, jenguk dia!” kata Maria.

“Maria, aku….,”

“Shhhh…,” Maria menyentuhkan jari telunjuknya ke arahku. “Jangan ada alasan khusus. Aku tahu kamu masih mencintai dia. Aku tahu Ray. Aku pun demikian, mencintaimu. Tapi, aku akan lebih bahagia kalau kamu sekali-kali pergi ke sana. Jenguklah dia. Atau kalau kamu mau tinggallah bersama dia di sana.”

“Lalu kamu?”

Maria tersenyum. “Di sini ada ibumu bukan? Ada ayahmu juga, ada ayah, ibu dan yang lainnya. Aku akan baik-baik saja. Pergilah sambutlah cintamu. Engkau memang ditakdirkan untuk bersamanya.”

“Lalu anak kita?” tanyaku.

“Tak apa-apa, aku akan merawatnya. Kamu juga boleh koq mengunjungiku. Kamu tetap suamiku Ray, tetap sebagai cintaku dan tak akan ada yang mengubahnya,” kata Maria.

Aku peluk dia. “Maria, terima kasih.”

Setelah itu, aku menggunakan Spark untuk pergi ke Syberia. Berat rasanya aku meninggalkan Maria, tapi…aku telah memilih Michele. Dan aku pun tiba. Salju, sudah lama aku tak berada di sini. Aku pun berjalan menuju ke pondok Maria. Dan…ia ada di sana. Ia terkejut ketika melihatku. Ia menutup mulutnya. Dan segera ia berlari ke arahku. Dan langsung ia terjun ke arahku. Mendekapku dengan erat, erat sekali.

“Ray….aku kira kamu tak akan pernah datang lagi,” ia menangis.

“Aku datang Michele, aku sudah datang dan tak akan pergi lagi darimu,” kataku.

“Ohh..Ray…,” ia makin memelukku lebih erat lagi. Kami pun berciuman hangat dan lembut.

Aku pun tinggal di Syberia bersama Michele dan Yuki, anakku. Kami entah sudah tinggal di sini berapa lama. Kami memang keluarga kecil, tapi kami bahagia di sini. Michele sangat gembira sekali ada yang menemaninya sekarang.

Aku masih menjenguk Maria setiap sebulan sekali. Lagipula, aku tetap sebagai suaminya bukan? Sekalipun dalam hal cinta aku lebih memilih Michele.

…..The End….