Lentera Hitam Part 35

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 35 BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 34

The Happinest

“Ray, aku bahagia, bahagiaaa sekali,” kata Maria.

“Kamu benar-benar hamil,” kataku.

Ia mengangguk. “Makasih Ray, tapi….bagaimana dengan Michele?”

Aku tak menjawabnya.

“Aku tahu kamu mencintaiku Ray, tapi….bagaimana dengan dia? Dia akan tersiksa hidup selama ribuan tahun tanpa dirimu. Tapi aku juga tak ingin melepaskanmu Ray,” kata Maria.

“Kalau aku bisa mengumpulkan kalian berdua, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin. Michele butuh salju untuk tetap hidup. Dan kamu dengan penyakit asmamu tak akan bisa hidup di salju. Kamu tak marah?”

Maria menggeleng. “Buat apa aku marah? Aku hanya tak tahu harus berbuat apa.”

“Michele tidak akan apa-apa. Walaupun dia mungkin akan sangat merindukan aku,” kataku. “Maria, sekarang ini aku memilihmu. Dari Michele aku mendapatkan banyak pengetahuan yang tidak akan bisa aku balas dengan apapun. Dan dari dirimu, aku mendapatkan cinta sejati. Maria. Aku ingin bersamamu di sini.”

Maria memelukku lagi. Dia bersandar di dadaku. “Aku…aku tak tak tahu harus bilang apa Ray.”

Michele menghampiri kami berdua. Salju tampak masih menyelimuti tubuhnya. Lalu dia menyentuh punggung Maria.

“Michele, aku…, akuu…,” Maria ingin bicara tapi mulutnya sepeti tersekat.

“Aku mengerti Maria, aku mengerti. Tak perlu kamu risaukan diriku. Salahku sendiri sepertinya yang mencintai muridku sendiri. Tapi, aku tak apa-apa Maria, aku tak apa-apa. Ray sudah tahu keputusannya, dan ini adalah keputusan terbaik,” kata Michele.

“Tidak Michele, tidak. Aku, aku tak bisa membiarkanmu sendirian di Syberia, biarkan Ray bersamamu, aku tak apa-apa. Ada banyak teman aku di sini, ada ayah, ada ibu, ada Justin, ada Andre, ada kawan-kawan yang lain,” kata Maria.

“Tidak Maria, tidak. Aku tahu bagaimana keadaanmu ketika Ray tidak di sampingmu. Hatimu sudah terkunci di hatinya. Kamu tak akan bisa melawan ini. Kamu sangat mencintai Ray, melebihi cintaku kepadanya. Kalian harus bersama,” kata Michele.

“Tidak, Michele. Aku, aku merasa bersalah,” kata Maria.

Telunjuk Michele diarakan ke bibir Maria agar Maria tak bicara. “Cukup Maria, jagalah anak Ray. Aku yakin kalian akan bahagia di sini. Aku tak akan mampu melihat Ray kehilangan dirimu lagi. Selama latihan dalam tidurnya dia selalu memanggil namamu. Bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan dia terus menyebut namamu?”

Air mata Maria meleleh. “Aku…maafkan aku Michele, bolehkah aku memanggilmu Kak Michele?”

“Boleh, silakan! Silakan Maria,” kata Michele. Dia ikut menangis.

“Kak Michele, maafkan aku. Maafkan aku,” kata Maria sambil memeluk Michele.

Dua orang ini. Sama-sama mencintaiku. Dan aku tahu keduanya berharap kepadaku. Tapi aku tetap harus memilih satu pilihan.

Setelah itu aku mengantarkan Michele untuk pulang ke Syberia dengan elemen Spark. Sebab dia tak punya kekuatan lagi. Sama seperti ketika dia berada di pulau tropis itu. Kekuatannya adalah salju, kalau ia jauh dari salju kekuatannya akan melemah. Setelah sampai di Syberia, Michele memelukku erat.

“Maafkan aku Ray, maafkan aku,” katanya.

“Akulah yang harus minta maaf kepadamu,” kataku.

“Tapi, aku tidak pantas Ray. Aku seharusnya tidak malah mencintaimu. Hadiah yang kamu berikan kepadaku ini sudah lebih dari cukup sebenarnya. Tapi aku malah berharap kepadamu, aku malah mencintaimu, akulah yang salah Ray. Maafkan aku,” kata Michele dengan menangis.

Aku kemudian mencium bibirnya. Dia membalasku. Tangannya pun memegang wajahku. Ciumanku dibalasnya dengan sangat dalam. Saat bibir kami berpisah. Ia terus memegang wajahku. Aku sedikit lebih tinggi darinya sehingga aku sedikit menunduk. Matanya menatapku dengan tatapan sayu.

“Ray, bercintalah denganku untuk terakhir kalinya kalau engkau memang tak tinggal di sini lagi. Bercintalah denganku untuk yang terakhir kali. Kumohon,” katanya mengiba.

Aku menciumnya lagi. Kini aku menciumnya dengan lebih lembut dan penuh perasaan. Perasaan cinta kah? Aku tak tahu. Tanganku mulai melolosi ikat pinggangnya. Baju tebalnya pun sedikit demi sedikit longgar. Kemejaku pun dilepasi kancingya satu persatu hingga ia bisa melihat dadaku.

“Ohh…Ray, aku akan merindukan dadamu,” katanya. Dia menciumi dadaku, masih ada bekas lukaku di sana akibat pertarunganku dengan Azrael. Tapi dia menciuminya juga.

Tanganku merengkuh baju Michele, perlahan-lahan aku melepasnya. Aku sentuh pundaknya, ia tak memakai bra. Putingnya yang berwarna merah muda itu mengeras. Entah karena hawa dingin ataukah karena yang lain. Tanganku pun menggeser mengelus-elus bahunya kemudian lengannya. Ku cium keningnya.

Tangan Michele beranjak ke bawah, dilepaskannya kancil celanaku. Dia pun meloloskan semua penutup tubuhku bagian bawah. Aku pun memasukkan telapak tanganku ke dalam celananya bagian belakang. Aku bisa merasakan kekenyalan pantatnya yang bahenol.

Michele dengan tubuh remajanya ini benar-benar sempurna. Kutanggalkan pula celananya yang mana ia tak memakai celana dalam pula itu. Kami sudah telanjang bulat. Sama-sama saling memandang ketelanjangan. Dia memegang kemaluanku.

“Aku akan sangat merindukan ini Ray, bercintalah dengan hebat denganku sekarang. Rontokkanlah tulang-tulangku Ray. Aku ingin kamu berikan aku beribu-ribu orgasme!”

“Aku tak akan kuat kalau sampai seribu kali.”

Michele tertawa kecil, “Itu cuma majas, bodoh!”

Aku tersenyum. “Baiklah Michele, aku akan bercinta kepadamu sekarang. Aku akan berikan semuanya sampai aku kering.”

Kami berciuman hebat, melakukan Fench Kiss, sambil kuremas-remas payudaranya yang sekal itu. Kami pun ambruk di atas salju. Bercinta di atas salju? Aku pernah melakukannya koq. Kurasa tak ada masalah. Kemudian aku menciumi dan menghisap lehernya yang jenjang itu.

“Ohhh…Raaayyy….hhmm.”

Aku kemudian beranjak dan mengarahkan batang kemaluanku ke mulutnya. Michele sangat faham,ia lalu melahap dan mengulum kepala penisku. Ouuuhhh…dia hebat. Dia menghisapnya, menggelitiki setiap sudut kepala kemaluanku membuatku melayang. Kepalanya sudah maju mundur dan sesekali berusaha menelan seluruh batangku membuatku serasa melayang. Ia sampai tersedak.

“Michele, jangan terlalu dalam kalau kamu tersedak,” kataku.

“Tidak apa-apa Ray,” katanya. “Sebab aku akan merindukan benda ini lagi.”

Dia melakukannya lagi. Kemudian dia mengulum lagi batangku. Lidahnya kemudian membasahi kulit batangku. Tangannya aktif mengocok batangku yang sudah mengeras seperti batu. Ia lalu menghisapi dan menjilati buah dzakarku.

Ohhh…nikmat sekali. Dia hisap kiri dulu, diemutnya buah itu, lalu lidahnya menari-nari lagi di antara kedua buahnya. Setelah itu buah satunya juga dihisap. Aku lemas, aku melayang. Apalagi ia sambil melihat ke mataku. Ahh…bikin horni aja.

“Sudah Michele, aku bisa jebol kalau kamu gituin,” kataku.

“Keluarkan saja sayangku, cintaku,” katanya.

Ia pun mengocoknya dengan cepat. Tu..tunggu dulu. Aduh, selagi mengocok dia meremas-remas buah pelerku. Ahhhhkkk….akhirnya keluar juga. Dia membuka mulutnya semua sperma itu masuk ke mulutnya. Ia pun menyedot-nyedot kemaluanku sampai kering spermanya. Aku lemas. Lemas sekali.

“Hahh..hahh..hahh..enak banget Michele,” kataku.

“Gantian Ray, aku juga ingin,” katanya sambil mulutnya masih belepotan air maniku. Ia mengecapnya dan menelan semuanya sampai habis. Kemaluanku masih tegang. Sepertinya masih bisa sanggup main lagi.

Aku kemudian menuju ke bawah. Kuciumi dadanya dulu, kuhisap teteknya. Lidahku menjilat, menjilat, lalu menggelitiki putingnya.

“Aaaahhhh…Ray,…sudah dong, jilati yang bagian bawah sana!” katanya.

Aku tak pedulikan dia. Michele menggeliat ketika aku mengerjai puting susunya. Lidahku menghisapnya lembut, menghisapnya penuh perasaan.

“Aaahhh….Ray,…aku melayang. Aku bisa merasakannya. Kamu menghisapnya dengan cintamu bukan? AKu bisa merasakannya,” kata Michele.

Aku kemudian menjilati pangkal susunya, lalu bergerak kesamping. Kucupangi dadanya. Hingga membekas cupangan itu di sana.

“Ohhh….ssshhhh….hhhhmmmm….,” pantat Michele makin menggeliat.

Aku kemudian menjilati ketiaknya yang berwarna putih dan kuhisap.

“Aaahhh….Raaayy….aahhh…nikmat Ray…aahhh…geli!” katanya. Puas di ketiak kanannya. Aku pun melakukannya di ketiak kirinya. “Sudah Ray, jilatin dong! Kumohon!”

Aku tersenyum. Kucium dulu bibirnya, baru kemudian aku berangkat ke bawah. Bibir vaginanya merekah sudah. Sejak terakhir aku memerawaninya kemarin. Benar-benar berwarna merah, pink. Menggairahkan. Tampak ada tonjolan sebesar kacang kecil ada di ujungnya. Ini klitorisnya pasti. Aku sentil dengan lidahku.

“Aaaaaa….aaaaahhh…itu..itu….itu Ray!” katanya. Aku terus menyentilnya dengan lidahku. Sambil aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya. Kemudian bibir kemaluannya aku sapu. Klitorisnya kemudian aku kenyot. “aaaaahhhh….Ray, ray….sampe aku Ray….sampee….!”

Michele menyemprotkan cairan di kemaluannya. Pinggulnya mengejang. Dia orgasme hebat. Pantat Michele terangkat sejenak lalu turun lagi. Aku membuka pahanya dan kuposisikan pionku di depan liang senggamanya. Kemudian kudorong. Uggghhh….rapet banget. Kemaluanku serasa diremas-remas, padahal masih setengahnya. Kudorong lagi perlahan hingga mentok.

“Raayy…penuh banget punyamu. Serasa mentok di dalam sana,” katanya.

Aku mengangguk. Kemudian pinggulku pun bergoyang. Aku menarik tubuh Michele agar duduk di pangkuanku. Sekarang wajah kami saling berhadapan. Ia tersipu-sipu.

“Ray, aku sudah menjadi wanita jalang. Aku menjadi binal seperti ini kepada muridku sendiri,” katanya.

“Tapi aku mencintaimu Michele,” kataku. Kusodok kemaluannya. Michele pun ikut bergoyang naik turun. Gesekan kemaluan kami menimbulkan suara becek. Uhhh…menggairahkan sekali.

“Aku juga Ray, tapi ini kesempatan terakhir kita,” kata Michle.

“Aku tahu, nikmatilah persetubuhan ini. Aku akan berikan segalanya untukmu saat ini,” kataku.

“Ohhh..Raay. Aku malu melihat diriku sendiri menaiki muridku,” katanya. “Apa nanti kata orang?”

“Tak perlu malu, aku mencintaimu Michele,” kataku. “Aku juga akan merindukan buah dada ini, bibir ini.” Kusentuh bibirnya dan kukecup. Aku juga akan merindukan semua tentang dirimu.”

Aku kemudian merubah posisiku. Ia kusuruh menungging. Aku sodok Michele dari belakang. Pantatnya yang padat itu benar-benar membuatku mabuk kepayang. Aku memegangi pinggulnya dan kugoyang kiri kanan selagi aku menyodoknya depan belakang. Aku menampar pantatnya.

“Aku akan merindukan pantatmu Michele,” kataku.

“Aku juga akan merindukan sodokanmu ini Ray,” katanya.

“Ohh…Michele, jagalah anak kita!” kataku.

“Iya RAy, pasti. Aku akan jadi ibu yang baik. Aku akan katakan kepadanya bahwa engkau adalah ayah yang hebat, seorang ayah yang telah menyelamatkan dunia…ohhhh….Rayy….batangmu enak sekali…penuh rasanya,” kata Michele.

Aku makin cepat menyodoknya.

“Raay…koq cepat Ray? Mau keluar?” tanya Michele.

Aku meraih dadanya dan kuremas-remas.

“Iya, aku mau keluar. Terima ya!?” kataku.

“Sebentar Ray!” katanya. Ia lalu mencabut penisku yang sudah hampir keluar itu. Kemudian ia berbalik, terlentang. “Keluarkan sambil menghadapku Ray. AKu ingin melihat matamu, melihat ekspresimu. Aku ingin ekspresi cintamu tergambar selalu di dalam ingatanku.”

Aku mengerti. Ku masukkan tanpa halangan ke kemaluannya. SLEEBB! Aoouuhhh….nikmat banget memek peretnya. Aku bergoyang lagi kini sambil menindihnya dan memeluknya. Aku tak serta merta menindihnya sih, karena aku bertumpu dengan kedua lenganku di punggungnya, tapi benar-benar menghimpitnya hingga kedua dadanya tertekan dengan dengan dadaku. Pantatku naik turun, hingga….hingga…

“Michele, aku keluar,” kataku.

“AKu juga Ray, yuuk..aaahhhh…ahhhh….AAHHH!” kami keluar bersama-sama dengan ledakan orgasme yang dahsyat. Wajah Michele sangat cantik ketika ekspresi orgasmenya muncul. Ia menatapku dalam-dalam, bibirnya terbuka seperti bilang huruf O. Kedua mata kami saling menatap. Dan setelah itu kami akhiri dengan ciuman hangat.

Aku mengulanginya berkali-kali dengan Michele, hingga ia benar-benar menyerah dan tertidur. Aku bawa dia kepondok dan kuselimuti. Setelah itu aku pun berpamitan. Kuelus-elus perutnya. Entah aku akan bisa melihatmu atau tidak anakku. Tapi, aku tidak akan melupakan Syberia, juga Michele.

Bersambung