Lentera Hitam Part 34

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 34 BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 33

Last Fight

Aku berlari ke arahya. Dan segera aku menerjang Azrael. DUESH! Ia sekarang menjadi manusia yang tidak berdaya. Azrael terpelanting. Dia mengeluarkan elemen tanah dan membentuk palu besar. Diayunkannya palu itu ke arahku. Aku membentuk palu juga tapi lebih besar. Palunya pun hancur ketika menghantam palu yang aku buat.

Dia bergerak secepat kilat dengan elemen petir. Aku pun mengejarnya. Dan terjadilah kejar-kejaran antara aku dan Azrael. Tapi aku berhasil menarik bajunya dan aku tonjok lagi wajahnya. Aku membentuk sebilah pedang di tanganku dengan elemen besi.

Aku pun mengayunkan pedang itu ke arahnya. Azrael pun membuat pedang dan pedang kami saling membentur, TRANG! TRING! Tangan kiriku kemudian membuat lantai yang ia pijak berubah menjadi rantai dan mencengkram kakinya.

Dia sempat terkejut, tapi ketika melihatku mengayunkan pedang ke arahnya. Dia tiba-tiba membuat tanah yang ada di bawahnya bisa bergerak ke atas sehingga lolos sudah tebasanku. Dia cukup kuat walaupun dengan kekuatannya yang sudah melemah.

Ada perubahan yang terjadi kepadanya, separuh matanya sudah redup menjadi mata seorang manusia biasa.

“Thomas, bantu aku!” kata Azrael kepada dirinya sendiri. “Aku tak bisa! Apa yang harus aku lakukan?!”

Aku membentuk tombak dari petir. Kali ini aku melemparkan tombak itu ke arahnya. ZRRRRRRTTT! Kena.

“GYAAAAAAHHHHHHHH!” jerit Azrael yang suaranya kini berkolaborasi dengan suara Thomas. Bagaimana rasanya terkena sengatan listrik seperti itu?

Aku kemudian berlari ke arahnya dan kucengkram lengannya lalu aku lempar dia. Azrael terbelalak, ia pun membuat sayap dari elemen angin. Dan dengan elemen itu ia ingin melarikan diri. Tidak semudah itu.

Aku menggabungkan kekuatan tanah dan air. Muncullah akar-akar pohon yang menjulang tinggi mengejar Azrael. Akar-akar pohon itu saling berebut untuk tumbuh dan mengejarnya seperti ular derik yang bergerak cepat.

Akhirnya tertangkap. Azrael pun dihempaskan oleh akar-akar pohon itu ke bawah. Aku pun mengeluarkan api Salamander. Kubakar akar-akar itu hingga apinya pun membakar sampai ke arah Azrael. Azrael kembali membentuk pedang dan memotong akar-akar pohon itu sehingga ia terlepas.

Kemudian aku menggunakan elemen api Salamander untuk kubuat sebagai tenaga pendorong agar sampai ke tempat Azrael yang semakin terdesak. Besi, api, aku menggabungkannya hingga membentuk sebuah pedang api. Kuayunkan pedang itu ke arahnya. Pijaran apinya membakar ke sekeliling tempat dia berdiri. Kuayunkan lagi, lagi, lagi dan lagi.

“Azrael, apa kamu tak pernah menyangka akan dikalahkan oleh manusia biasa sepertiku?” tanyaku.

“Thomas!” panggil Azrael. “Aku tak punya kekuatan lagi!”

“Semua elemen, menyingkirlah dari dia!” kataku.

Tiba-tiba pedang yang ada di tangannya pun menjadi abu. Menjadi serpihan-serpihan besi kecil yang tak berbentuk.

“TIDAAAAAAKKKK!” jerit Azrael.

Aku kemudian kembali menonjok Azrael. Dia sudah tak punya kekuatan lagi. Lagi, lagi, lagi!

“Ray! Terus! Hajar dia!” teriak Maria. Dia menyemangatiku.

“Ray, keluarkan seluruh kekuatanmu!” kata Michele.

Aku menoleh ke arah Maria dan Michele. Tampak keduanya sedang bersama ibuku. Tiga wanita yang aku sayangi sekarang menyemangatiku.

“OKE, maaf Azrael, tapi….pertarungan harus berakhir, Ares!” kataku.

Dari kedua tanganku muncul cahaya biru. Sebuah bola hitam kecil keluar dari tubuhku.

“Ares, hancurkan dia sampai engkau yakin bahwa dia telah benar-benar hancur,” kataku.

“Tentu saja kawanku,” kata Ares.

Elemen Dark Matter pun kemudian membesar. Dia membentuk sesuatu yang tidak penah aku sangka sebelumnya. Sebuah busur dan panahnya. Aku pun memegang busur berwarna hitam itu. Anak panahnya memancarkan kilatan-kilatan gelap dan ujungnya mengeluarkan cahaya putih yang memijar.

“Azrael, kamu tidak akan ada lagi,” kataku.

“AAAAARRRGGHH!” jeritnya.

Aku pun melepaskan anak panah itu dan dengan sukses anak panah itu menancap di tubuhnya. Tubuhnya pun seperti meledak, pertama mulutnya mengeluarkan kabut hitam. Dia adalah Azrael, ingin mencoba keluar, tapi kekuatan Dark Matter terlalu kuat untuk dilawan. Dia pun terhisap ke dalam tubuh Thomas.

Tubuh Thomas lebih aneh lagi sekarang, tubuhnya tertekuk, seperti sebuah mainan yang kemudian memutar seperti spiral, kepalanya kini kebawah terlipat, kakinya pun sekarang seperti membungkus seluruh tubuhnya lalu dengan cara yang aneh tubuhnya mengeluarkan kegelapan yang amat pekat, kemudian menghilang begitu saja.

“Selesai,” kata Ares.

Aku sekarang hanya melihat sebuah bola hitam berukuran kecil sedang melayang-layang di sana. Dia pun kembali masuk ke dalam tubuhku. Riwayat Azrael pun berakhir.

Setelah itu Maria datang berlari memelukku. Aku dipeluknya.

“Oh Ray, Ray, Ray!” katanya. Ia pun menciumi pipiku, bibirku, semua wajahku diciuminya. “Aku cinta kamu, aku cinta kamu.”

Aku hanya melihat Michele yang sedang dipeluk oleh ibuku. Dari wajahnya terlihat sendu. Maafkan aku Michele. Aku mencintai kalian, aku mencintai kalian. Aku pun memeluk Maria. Kupejamkan mataku. Mereka berdua sekarang mengandung anakku. Dan aku bingung sekarang.

***

Pertarungan telah selesai. Aku turun ke bawah dan melihat Purple sedang sekarat. Aku pun menolongnya. Ku cabut elemen besi yang menancap di tubuhnya dan aku pun menyembuhkannya dengan elemen air. Dia pun akhirnya tertolong. Andre memeluk Purple yang dipanggilnya Puri itu.

“Puri, aku akan selalu bersamamu. Aku tak ingin kehilanganmu,” katanya.

Semua pertarungan telah selesai. Ketika kekuatan Azrael sudah lenyap semua pertarungan pun berakhir. Kami menang. Para agen ATFIP yang tersisa melarikan diri. Makhluk-makhluk aneh yang ada di lantai bawah pun lenyap semuanya. Setelah kami keluar, aku menghancurkan bangunan yang menutup Tugu Monas. Semuanya kembali ke normal lagi.

Bersambung