Lentera Hitam Part 33

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 33- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 32

Next Form

NARASI ANDRE

Saat kami bertarung dengan Hund. Tiba-tiba semuanya berubah gelap.

“Sudah saatnya kedatangan Azrael,” kata Hund. “Kamu masih sanggup menerim kekalahan ini?”

“Heh, bodoh! Aku belum kalah!” kataku.

“Sudahlah, percuma saja kamu menyerangku dengan akar-akar pohon bodohmu itu. Tetap akan aku tebas dengan pedang besiku. Tak ada yang bisa mengalahkanku. Pertahanan elemen tanahmu pun tidak akan ada apa-apanya bagiku,” ujar Hund.

Aku tahu itu. Aku tahu. Besinya cukup kuat. Tapi….aku punya kemanpuan yang lebih baik daripada ini. Kemampuan dari elemen kayu. Kemampuan ini adalah…..

“Ndre, bagaimana sekarang?” tanya Puri.

“Jangan takut! Aku akan melindungimu sekarang,” kataku sambil memegang tangan Puri.

Hund dengan baju besi dan seluruh senjatanya siap menyerang. Aku menyatukan kedua tanganku. Kembali aku membuat akar-akar yang kuat kemudian bersatu dengan elemen tanah sekarang membentuk seperti seekor naga yang mulutnya terbuka lebar yang sudah siap untuk memakan bulat-bulat Hund.

Tentu saja Hund dengan pedangnya menebas naga itu. Tapi aku tak kehabisan akal. Kalau dia bisa menebasnya maka aku buat lagi, lagi, lagi dan lagi. Puri pun membantuku, dia membentuk bebatuan menjadi seperti tombak dan melemparnya ke arah Hund. Terus diserang tanpa henti, Hund tidak merasa kewalahan bahkan seluruh serangan kami bisa dimentahkan.

KLANG! Terdengar suara dari baju besi Hund. Tampak baju besinya terbelah dengan sendirinya. Ada bercak coklat yang ada di pecahannya itu.

“Apa ini?” gumamnya.

“Pelajaran biologi, kamu lupa satu hal, besi juga bisa berkarat. Dan karat itu karena apa?” tanyaku.

“Air?”

“Tetooot. Tidak hanya air, karat adalah bakteri. Kemampuanku bisa menumbuhkan akar-akar pohon membuatku mendapatkan ide untuk bisa membuat karat pada baju besimu. Dan berhasil. Sekarang bagaimana manusia kaleng? Kita melangkah ke pelajaran selanjutnya?” kataku.

“Impresive. Menakjubkan. Kamu bisa melakukan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya,” katanya.

“Kalau begitu. Bagaimana kalau kita sekarang melangkah ke level selanjutnya. Kamu tahu kemampuan dari elemen kayu?”

“Membuat benda-benda aneh dari akar pohon seperti tadi?”

“Tidak, lebih dari itu. Kamu tak lihat ternyata. Kamu tak merasa mereka tumbuh lebih cepat, tumbuh lebih besar dan tumbuh lebih kuat?”

Hund masih keras berpikir.

“Baiklah, aku tak tahu kamu pelajaran biologi dapat berapa. Tanaman bisa tumbuh karena air, tanah dan mineral. Mineral-mineral yang berada dalam tanah tidak selamanya dipunyai. Namun, itu berbeda kalau ketika mereka tumbuh kemudian mati, maka bagian tubuh yang mati itu menjadi pupuk. Pupuk bisa membuat tanaman kuat, tanaman lebih subur. Inilah kemampuanku, REVERSE!”

Dari tanah, tumbulah sesosok ular raksasa lagi. Dan kini tidak memakan Hund, tapi membelitnya. Bagus ia tak bergerak sekarang. Bahkan karena belitannya sangat kuat baju besinya pun remuk. Aku melihat darah keluar dari mulutnya. Ia tak bisa menggunakan sarung tangan Joltnya.

“Keparat! Brengsek!” umpatnya.

“Puri, bagianmu!” ujarku.

Puri pun melemparkan tombak batunya dan akhirnya tombak itu menembus tubuh Hund. YES! Berakhirlah riwayat Hund. Aku pun melakukan tos bersama Puri. Kulihat Hund matanya terbelalak dan kosong. Seperti inilah cara menggunakan elemen. Tunggu rasanya ada yang aneh.

Suasana makin gelap entah apa yang terjadi. Tapi aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di bangunan ini. Entah apa.

“Puri, kamu kenapa?” tanyaku ketika melihat ia tiba-tiba berdiri mematung. Oh tidak, tidak, tidak! Sebuah panah menancap di tubuhnya. Panah dari besi. Aku menoleh ke arah Hund. Ternyata di saat-saat terakhirnya ia melemparkan panah besinya.

Apa yang harus aku lakukan? Puri pun lunglai. Aku segera menangkapnya.

“Puri! Puri! Tidak! Jangan!” aku memegangi tubuh Puri yang menatap kosong. Mimpiku. Mimpi itu, jadi kenyataan. Tidak mungkin.

NARASI RAY

Ruangan sekarang menjadi terang lagi. Dengan susah payah aku berdiri sambil memegangi dadaku yang terluka. Mataku mulai berkunang-kunang. Darah sudah banyak yang keluar sepertinya. Tapi aku masih harus berdiri.

“Creator?” kata Thomas. Tidak. Ia bukan Thomas. Dia Azrael yang telah mengambil alih tubuh Thomas.

“Azrael?! Kenapa kamu tidak menjadi tubuhmu saja yang besar itu?” tanyaku.

“Justru wujud manusia adalah wujud yang paling sempurna menurutku. Aku cukup menjadikan tubuhnya sebagai vesel untuk kebangkitanku. Segar sekali rasanya setelah lama terkurung di kegelapan oleh lima creator terkutuk itu selama ribuan tahun. Dan aku tak perlu membunuh mereka karena mereka sudah mati. Hahahahahah,” kata Azrael.

“Ugh!” rasa sakit didadaku. Ah…darah. Darah itu elemen air bukan? Aku terpaksa melakukannya. Obati lukaku siapa namamu? Dia tidak bernama. Tolonglah. Ahh…aku tertolong. Lukaku mulai tertutup.

“Menakjubkan, aku tak pernah melihat seorang Creator seperti dirimu. Tapi semuanya sudah terlambat. Kamu tahu perbedaan Creator dan diriku, Ray?”

“Apa?”

“Creator dia bisa mengkombinasikan elemen-elemen kemudian menjadi sesuatu yang baru. Sedangkan aku, aku tidak demikian. Aku bisa membuat materi, aku bisa membuat elemen baru, aku bisa membuat planet. Aku bahkan bisa menghentikan waktu, kamu ingin kembali ke zaman purba?” dengan menjetikkan jari tiba-tiba aku melihat keadaan berubah.

Kami berada di sebuah padang rumput yang luas. Aku melihat seekor Dinosaurus yang sangat besar ada di kejauhan. Azrael tersenyum melihatku terkejut. Ia menjentikkan jarinya lagi. Tiba-tiba kami berada di dalam air.

Aku gelagapan karena tiba-tiba saja tenggelam di dalam air. AKu pun menahan nafasku. Azrael menjentikkan jarinya lagi. Dan aku sekarang sudah berada di padang pasir. Ini Sinting. Tubuhku basah oleh air dan sekarang sudah berada di atas pasir, sampai-sampai bajuku terkena pasir. Azrael menjentikkan jarinya lagi.

Tiba-tiba aku sudah berada di luar angkasa. Aku tak bisa bernafas, tubuhku serasa terbakar. HEEEGGGGKHHHH! Tenggorokanku tercekat. Ia menjentikkan jarinya lagi aku pun kembali ke tempat semua.

Aku langsung ambruk ke lantai. Kurang ajar. Apa yang barusan itu? Bagaimana dia melakukannya? Aku….seperti melawan seseorang dengan kekuatan dewa.

“Kamu sadar sekarang perbedaan kekuatan kita? HAhahahahahaha,” Azrael tertawa puas.

Bagaimana aku mengalahkannya? Bagaimana aku mengalahkannya?

“Ray?!” panggil sebuah suara. Ibuku? Ibu?

Azrael menoleh ke arah ibuku. “Balancer?”

Ibuku segera berlari dan menolongku untuk berdiri. Dengan susah payah aku berdiri. Badanku rasanya sakit semua.

“Kamu tak apa-apa?” tanyanya.

“Dia kuat sekali,” kataku.

“Aku tahu. Sayang sekali aku sudah menggunakan Elza, kalau tidak aku pasti sudah membantumu mengalahkan dia.”

Azrael kemudian berdiri dengan sombongnya di hadapan kami. Keangkuhannya benar-benar membuatku bergidik. Matanya menatap kami dengan tajam, seolah-olah berusaha menusuk kami sampai ke jiwa.

“Balancer, aku pun bisa membebaskanmu dari tugasmu sekarang juga!” kata Azrael. Dia menjentikkan jarinya. Tiba-tiba ibuku mengejang hebat dan rambutnya sedikit demi sedikit memutih.

“HUaaaaaaaaaaaaaakkkhhhh!” jerit ibuku.

“Ibu?! Kau tak apa-apa?” tanyaku.

“Kekuatan Balancernya sudah hilang, dia sekarang hanya manusia biasa, Ray. Kamu pasti bahagia bukan begitu Lili?” tanya Azrael.

Ibuku gemetar. Aku berusaha menolongnya. Dia berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat.

“Reuni antara anak, ibu dan calon-calon cucu. Mengharukan sekali. Seorang Mist dan manusia, siapa yang akan kau pilih kira-kira Ray?” tanya Azrael.

Aku menoleh ke arah Michele. Dia tertolong dengan salju yang aku buat untuk menyelimuti tubuhnya. Tapi itu tak akan bertahan lama. Kemudian aku menoleh ke Maria. Dia masih terus berdo’a sambil memejamkan matanya. Azrael apa yang akan kamu lakukan?

“Sebenarnya percuma saja kamu memilih, karena kehancuran dunia ini sudah pasti. Aku akan membuat seluruh manusia dan semua makhluk yang ada di dunia ini bertekuk lutut di hadapanku. Aku adalah dewa kehancuran, aku bahkan bisa membuat gravitasi yang ada sekarang bertambah berat,” kata Azrael.

Tiba-tiba tubuhku terasa berat. Aku dan ibuku langsung berlutut.

“Itulah yang terjadi ketika melawanku, berlutut!” kata Azrael. Aku mencoba berdiri lagi walau susah payah. Tubuhku seolah-olah beratnya hingga berton-ton. “Aku bahkan bisa membuat planet, ah bagaimana kalau kita lihat sedikit demonstrasi Ray.”

Tangan kanannya diulurkan dan telapak tangannya menghadap ke atas. Tiba-tiba di atas tangannya muncul cahaya kekuningan seperti bola api sebesar bola pingpong.

“Lihatlah! Aku bisa membuat matahari sendiri walaupun kecil. Dan….aku bisa membuat merkurius, venus, bumi, mars dan planet-planet lainnya. Lihatlah aku bisa membuat tata surya sendiri dalam bentuk yang kecil.”

Aku terbelalak, kekuatannya bisa membuat ini? Ini konyol. Dia sudah menganggap dirinya sebagai tuhan.

“Katakan kepadaku Azrael, apa jadinya kalau misalnya kamu tidak datang ketika terjadi gerhana matahari?” tanyaku.

“Yah, aku akan kehilangan kekuatanku. Karena satu-satunya yang membuat diriku kuat adalah kegelapan. Dengan aku muncul di saat gerhana matahari aku pun muncul dengan kekuatan penuh,” katanya.

“Begitukah?”

“Iya, tentu saja. Dan sekarang kalian terlambat. Seharusnya kamu bunuh saja Thomas sejak dari awal. Tapi kalian bodoh semuanya. Sekarang tak akan ada yang bisa menghalangiku.”

“Ibu, sudah selesai,” kataku.

“Iya, sudah selesai,” kata Azrael.

“Maksudku, sudah selesai permainan konyol ini!” kataku.

“Permainan konyol?”

“Ares, Vivi!” aku memanggil Dark Matter dan Void.

“Ares dan Vivi?” gumam ibu. “Kamu bertemu mereka?”

“Iya, Michele yang mempertemukanku dengan mereka,” kataku.

“Ares dan Vivi? Siapa?” tanya Azrael.

“Kamu tahu Azrael, sebelum kamu ada di dunia ini. Ada dua elemen yang sudah ada terlebih dulu. Kamu memang bisa menguasai semua elemen, tapi tidak dengan keduanya. Dan kamu tahu apa yang terjadi sebenarnya? Oh maaf, di bumi ini, ada yang namanya waktu. Kami selalu melihat jam untuk melakukan aktivitas, itu sangat menolong kami. Aku menyuruh Vivi untuk membuat sesuatu yang kamu tidak akan sangka-sangka sebelumnya,” kataku.

“Apa?”

“Vivi, turunlah, biarkan dia melihat apa yang terjadi sesungguhnya!” kataku.

Dan, tiba-tiba langit menjadi terang benderang. Karena terangnya sampai-sampai aku bisa melihat matahari yang berwarna kuning di ufuk timur.

“Apa yang sebenarnya terjadi??” tanya Azrael.

“Aku menyuruh Vivi beberapa hari yang lalu untuk membuat matahari tiruan. Dan aku menyuruh Ares untuk menutupi matahari yang asli. Aku tahu aku tak akan bisa mencegah terjadinya gerhana matahari, tapi aku bisa sedikit mempercepat seolah-olah terjadinya gerhana matahari betulan,” kataku.

“Apa? Jj..jadi????” Tiba-tiba Azrael melemah. Dia langsung berlutut dan muntah darah. “Ugghh…”

“Iya, benar. Ini masih jam tujuh pagi, bodoh! Sedangkan gerhana matahari akan terjadi pada pukul dua belas siang.”

Aku bisa merasakan sekarang gravitasi kembali ke normal lagi. Aku dan ibuku mulai bisa berdiri. Michele pun terlepas dari ikatannya, begitu juga Maria.

“Ibu, tolonglah mereka!” kataku. “Karena sekarang aku akan menghajar dia.”

Azrael menatap diriku dengan wajah yang ketakutan.

Bersambung