Lentera Hitam Part 32

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 31

Azrael

NARASI RAY

Thomas sangat kuat, aku akui itu. Dan pertarungan kami cukup berimbang. Sebagai seorang creator aku bisa mengimbangi cara bertarung dia. Cara bertarungnya sama seperti aku. Aku berdiri di atas platform yang terbuat dari es ketika aku mengimbangi dia membentuk golem raksasa bersenjatakan tombak bertarung dengan golem raksasa yang dia buat juga dengan bersenjatakan pedang.

Pertarungan kami aneh sekali, memang kami tidak bersentuhan, saling melempar elemen. Membuat berbagai bentuk macam benda. Berbagai macam seperti robot, meriam, tank, pesawat, dan semuanya seperti bermain-main.

Aku bisa mengimbangi cara bertarung seperti itu. Kalau ada kesempatan aku selalu melempar sesuatu kepada dia. Dan dia juga demikian. Sial. Kuat sekali dia. Setelah itu ia menghentikan sejenak pertarungannya.

“Hahahaha, sudah aku duga. Kemampuanmu luar biasa Ray. Keluarga van Bosch memang berdarah ksatria. Tak mudah ditaklukkan,” kata Thomas. “Sudah lama aku tidak bertarung seperti ini Ray, dan….wah…matahari mulai redup.”

Aku melihat di langit, bayangan bulan mulai mendekat ke matahari. Apakah aku terlambat? Sigh. Aku harus mengalahkan orang ini. Kalau sampai gerhana Azrael akan datang.

“Aku sebenarnya mengujimu Ray. Dan kamu punya sebuah kelemahan. Kelemahan yang juga dimiliki oleh ibumu. Kelemahan itu bernama cinta,” ujar Thomas.

“Kelemahanku?”

“Akulah yang mengirimkan lima orang elemental itu ke teman-temanmu, dari situ aku tahu bahwa kelemahanmu adalah dia!” Thomas menunjuk ke sudut ruangan. Dan aku sangat terkejut ketika di sana ada seorang gadis yang sedang berdiri. Ia tampak linglung.

“Maria??”

“Lho, koq aku ada di sini?” gumam Maria.

“Thomas! Jangan libatkan dia dalam pertarungan ini. Lawan aku!” kataku.

“Ray??!” panggil Maria.

Tiba-tiba dari bawah tubuh Maria ada sebuah akar pohon yang merambat dengan cepat mengikat seluruh tubuhnya.

“Raaayyyy!” teriaknya.

“Thomas! Lepaskan dia!” kataku.

“Sudah kubilang bukan ini kelemahanmu. Dan satu lagi,” kata Thomas. Satu lagi? Tidak, jangan! Jangan!

Sebuah kilatan petir tiba-tiba berada di sebelanya. ZAP! ZAP! ZAP! Kemudian seorang gadis tampak juga kaget tiba-tiba ia bisa berada di tempat ini. Michele!

“Thomas! Aku akan benar-benar membunuhmu kalau kamu menyakiti mereka,” kataku.

“Ray?? Apa yang??! Thomas?!” Michele terkejut.

“Kita bertemu lagi Michele,” kata Thomas.

Michele pun diberlakukan sama seperti Maria. Dari bawah tempat dia berdiri tampak akar-akar pohon merambat dan mengikat kaki dan seluruh tubuhnya.

“Aaaaahhkk!” jerit Michele.

“Tenang saja, sampai Azrael bangkit aku tak akan menyakiti mereka. Apalagi dari mereka keturunan keluarga van Bosch juga akan diteruskan,” kata Thomas.

“Keturunan?” gumamku. Aku melihat ke arah Maria dan Michele. Mereka berdua tampak terkejut.

“Yang satu dari Mist, yang satu manusia biasa. Hmm,…menarik,” kata Thomas.

“Ray…? Kamu?” Maria melihat ke arahku. Kemudian Michele.

“Tidak Maria, tidak! Thomas berbohong. Dia berbohong!” kata Michele. “Ray mencintaimu, dia mencintaimu. Thomas! Kamu teganya berkata seperti ini. Apa yang kamu inginkan?”

“Aku tidak pernah berbohong Michele. Sebagai seorang ksatria aku tidak pernah berbohong. Demikian juga Ray. Ray mencintai kalian. Aku bisa melihat itu. Lihatlah sekarang dia! Kemarahannya benar-benar sudah meledak,” kata Thomas.

Ya, kemarahanku sudah meledak. Dan aku membuka kedua tanganku. Kalau selama ini aku hanya menggunakan satu tangan, kini aku menggunakan kedua tanganku. Kedua telapak tanganku mengeluarkan cahaya berwarna biru. Seluruh elemen besi terkumpul di tangan kananku, seluruh elemen es ada di tangan kiriku. “Aku bunuh kau Thomas!”

Aku serang Thomas dengan membabi buta. Dia aku tembakkan panah-panah dari besi. Thomas dengan mudah membuat pelindung dari besi dan menahannya. Dengan tangan kiriku aku memegang lempengan besi yang ia buat untuk melindungi tubuhnya.

Lempengan besi itu membeku dengan cepat sehingga aku bisa menghancurkannya dengan membentuk palu besi yang kuayunkan ke perisai itu.

“Ray! Ingat semua yang telah aku ajarkan! Ingatlah semua, jangan dengan emosi. Kamu akan kalah Ray!” teriak Michele.

Tiba-tiba setelah perisai buatan Thomas itu hancur, aku dikejutkan dengan sebuah panah kecil yang meluncur menembus dadaku. Ugh! Sakitnya. Perih. Nyeri. Panah itu benar-benar menembusku dan membuatku mundur beberapa langkah.

Darah segar mengucur deras di dadaku yang berlubang. Lukanya untung tidak mengarah ke jantungku, tapi paru-paruku tembus. Mulutku pun keluar darah.

Air, air aku butuh air. Siapa yang ada di sini. Ahh…Karbunkle, aku butuh bantuanmu. Ya, aku mengarahkan elemen air Karbunkle ke lukaku untuk penyembuhan tapi…..tiba-tiba Karbunkle….Karbunkle??

“Kamu tahu sekarang?” kata Thomas. “Kemampuanku bukan sekedar Creator, Ray. Lebih dari itu, aku juga seorang Destroyer. Kamu tahu apa itu destroyer? Aku bisa menghancurkan seluruh elemen. Elemen apapun. Air, Udara, Api, Tanah, Besi, Kegelapan, Cahaya, semuanya bisa aku musnahkan. Karbunkle? Hahahahaha….dia baru saja pergi. Musnah,” kata Thomas.

Aku tengkurap. Merasakan sakit di dadaku, sedangkan darah terus mengucur dari lukaku. Aku melihat matahari. Sedikit lagi akan terjadi gerhana. Siaaaaaaaal!

“Ray! Bertahanlah Ray!” teriak Maria. “Ray, aku percaya kepadamu. Aku percaya kepadamu. Aku tetap mencintaimu Ray, bertahanlah! Aku akan berdo’a agar kamu menang, aku berdo’a untukmu!”

“Ray! Ingatlah semua yang pernah aku ajarkan. Kemampuanmu sebagai seorang Creator tidak hanya begini saja. Lebih dari itu, lebih lagi,” suara Michele berubah. Aku melihat ke arah Michele. Wajahnya….dia…menjadi keriput.

Rambutnya memutih. Iya, dia jauh dari salju. Kekuatan Mist ada pada salju. Siapa lagi yang ada di sini? Air, siapa yang ada di sini? Angin, siapa yang ada di sini. Aku sedikit demi sedikit mencoba bangkit, menggerakkan badanku yang rasanya lumpuh. Aku harus menolong Michele. Salju, aku harus membuat salju.

Ada elemen air yang menyapaku. Dia bernama Virion. Dia akan menolongku. Tidak, ada lagi, Hum, Veiz, Ciz, Tro, mereka menyapaku. Dan angin aku bertemu lagi dengan Windia, Gretz, Lotz, Bor, dan Koz. Aku memerintahkan mereka untuk menolong Michele. Aku berbicara kepada mereka dengan hatiku. Tolong Michele! Tolong Michele! Tolong Michele!

Namun, tiba-tiba suasanya gelap. AKu melihat ke arah matahari. Oh tidak. Matahari sudah seperti tertutup sempurna oleh bulan.

“WAHAHAHAHAHAHAHAHAHA, sudah saatnya. Ray, aku akan berikan ketakutan yang tidak pernah engkau rasakan sebelumnya. Ketakutan yang menakutkan bahkan bisa-bisa engkau tidak akan sanggup lagi untuk hidup. Ketakutan yang menyebabkan engkau lebih memilih kematian daripada kehidupan. Selamat datang Azrael, selamat datang!” kata Thomas dengan suara lantangnya.

Planet-planet telah sejajar. Dan bumi dalam kegelapan total. Thomas merapalkan mantranya dan seluruh tempat yang ditandai oleh pentagramnya menyala. Langit berwarna hitam kemudian memerah seperti darah. Apa yang akan terjadi dengan bumi ini? Kegelapan yang sempurna. Bahkan aku tak bisa melihat siapapun sekarang. Tiba-tiba tepat dari tengah kegelapan matahari sebuah kilat berwarna merah menyambar.

BLAARRR! BLARRR! BLAARRR! Tiga kali menghantam tepat ditubuh Thomas. Mata Thomas kemudian berubah menjadi merah menyala. Dia pun diselimut aura kegelapan. Aku melihat sebuah siluet di atas kami. Siluet yang sangat besar, seperti seekor burung, pesawat? Tidak, lebih besar lagi. Kemudian aku melihat sebuah cahaya yang menyala terang dari sosok itu.

Ketakutan. Itulah yang aku rasakan sekarang. Ketakutan yang sangat besar melebihi apapun.

“AZRAEL TELAH DATANG!” ucap Thomas.

Kulihat sesosok seperti burung raksasa sebesar lapangan istora senayan mungkin dengan baju zirah berwarna emas dengan ukiran-ukiran di baju zirahnya. Beberapa batu dan zamrud menghiasi leher burung raksasa itu. Burung raksasa itu mempunyai empat pasang mata berwarna merah menyala. Sayapnya besar. sangat besar seolah-olah melingkupi langit. Di ekornya tampak nyala api berwarna biru, bentuknya seperti ekor burung Phoenix, tapi lebih halus dan seperti seolah-olah membakar apapun yang dilewatinya.

“Kemarilah Azrael, ambillah tubuh ini, ambillah!” kata Thomas.

Kemudian sosok Azrael yang sebesar itu menyusut, mengecil kemudian disekeliling tubuhnya diselimuti kilat berwarna hitam. Kilat itu masuk ke dalam mulut Thomas. Tubuh Thomas kejang-kejang. Dia seperti merasakan hentakan yang sangat keras. Kekuatannya benar-benar meledak. Kubisa merasakan energi yang dahsyat aku pun terdorong terseret hingga menghantam tembok.

“Ray, bertahanlah!” lagi-lagi suara Maria.

“Ray, bertahanlah!” sekarang suara Michele.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

NARASI BALANCER

Ray telah pergi ke atas. Sekarang aku kembali berhadapan dengan Robert. Robert, lelaki yang telah membunuh William adikku, kemudian melemparkannya ke bawah jembatan. Aku masih ingat saat-saat terakhir William. Ia berusaha melindungiku dari orang ini. Ketika aku dan baru saja melahirkan Ray ke dunia ini. Keberadaanku telah diketahui oleh Thomas. Thomas akhirnya menyuruh orang ini untuk membunuhku.

“Balancer, akhirnya kita selesaikan sesuatu yang tertunda,” kata Robert.

Aku memanggil kekuatan elemenku, besi. Seperti biasa, aku dengan kuku-kuku besiku sudah siap mencabik-cabik Robert. Dia juga memakai kekuatan elemen besinya. TRANG! Dua besi berbenturan.

Pertempuran kami berlangsung dengan cepat seperti biasa. BlAM! kepalan tinju kami beradi. BLAM! BlAM! Aku tak menyangka dia bisa dengan mudah mengimbangi pertarungan ini. Dia membentuk baju besi ke seluruh badannya dan lagi-lagi benturan kekuatan kami. Sesaat membuat baju zirahku juga bergetar hebat.

“Kamu masih kuat juga Lili,” ujar Robert.

“Usia tak akan mengubah aku Robert,” kataku.

“Aku mengerti. Kalau begitu aku sangat senang sekali bertarung dengan cara yang lebih,” kata Robert. “Aku menamakannya Rimba Besi”

Tiba-tiba lantai tempat aku berdiri bergetar hebat. Dan dari dalamnya muncul satu, dua, banyak sekali tombak-tombak, bahkan pepohonan seperti pohon pinus atau cemara tapi semuanya terbuat dari besi. Gila, kekuatan apa yang dimiliki oleh Robert ini? Dia bisa membuat elemen besi sebanyak ini.

Aku melompat, menghindar, dan mencari celah di antara tumbuhnya pohon-pohon besi ini. Kalau saja aku terkena sedikit saja aku akan tercabik-cabik. Aku pun sudah berada di tengah-tengah pepohonan rimba yang terbuat dari besi.

“Bagus, sekarang kamu sudah masuk ke dalam perangkapku,” kata Robert.

“Perangkap?”

Robert mengayunkan tangannya, segera kulihat pohon-pohon besi itu membengkok ke arahku. Ujung-ujungnya yang runcing seolah-olah siap menggilingku. Aku benar-benar terperangkap.

“Robert, kamu kira sebagai Balancer aku akan dikalahkan dengan cara seperti ini? Aku akan berikan kepadamu kengerian yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Aku bukan hanya memakai elemen besi saja, kamu perlu tahu itu ada sebuah elemen yang kamu tidak pernah mengetahuinya sebelumnya. Kamu ingin mencobanya?”

“Kamu hanya membual Lili, coba saja,” kata Robert dengan sombongnya.

Aku sebenarnya bisa mengendalikan satu elemen lagi. Tapi aku tak pernah memakainya. Karena elemen ini hanya sekali digunakan. Apabila aku sudah menggunakannya maka aku tidak akan pernah bisa menggunakannya lagi. Aku menamakannya Spirit. Elemen ini tak mempunyai nama. Tidak seperti Dark Matter ataupun Void. Spirit lebih mengerikan dari mereka. Dan aku pun memanggilnya.

“Elza, keluarlah dan bantulah aku sekarang!” kataku.

“Kamu yakin? Kamu belum bertemu dengan Azrael, Lili,” kata Elza yang berada di dalam tubuhku.

“Aku tahu. Tapi aku tak punya cara lain. Aku sekarang hanya bisa berharap kepada Ray agar dia bisa mengalahkan Azrael dengan caranya sendiri. Aku hanya menggunakanmu sekali saja bukan?” tanyaku.

“Iya, cukup sekali. Hmm…aku akan merindukanmu setelah ini Lili,” katanya.

“Aku tidak akan pernah merindukanmu Elza, karena kekuatanmu sangat mengerikan,” kataku.

“Hihihihihi, baiklah. Selamat tinggal Lili, apa boleh buat aku memang tak bisa disentuh oleh siapapun kecuali olehmu,” katanya.

Aku memejamkan mata. Kubuka kedua tanganku. Kabut gelap mulai muncul di kedua tanganku.

“Ayo Lili, mana senjata terakhirmu? Mana?” tanya Robert.

“Kamu tidak mengerti Robert. Dia sudah aku keluarkan,” jawabku.

“Mana? Aku tak melihat apa-apa,” katanya.

“Kamu tidak mengerti Robert,” aku membuka mataku. “Elemen ini bernama Spirit. Tapi sebenarnya ia tak punya nama. Dia dipanggil Elza. Sekali menggunakannya aku tak bisa menariknya, sekali aku mengeluarkannya aku tak akan bisa menggunakannya lagi.”

“Hoo? Trus? Apa yang terjadi?”

“Elza sudah bekerja, kamu masih tak sadar juga? Baiklah. Lihatlah besi-besimu!”

Robert mulai merasakan sekarang. Elemen-elemen besinya tiba-tiba saja layu, kemudian sebagian menjadi abu. Serpihan-serpihannya sebagian terbang, sebagian lagi jatuh ke tanah. Elza, dia elemen yang mengendalikan inti dari materi.

Sebagai seorang Balancer telah lama aku dilarang menggunakannya kalau tidak benar-benar dibutuhkan. Aku memang berencana untuk menggunakannya melawan Azrael.

Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin. Setiap makhluk, setiap benda, punya inti dari materi. Elza bisa mengurai semuanya, semuanya. Benar-benar semuanya. Ia bisa mengurai planet, bisa mengurai udara, bisa mengurai sesuatu yang tak terlihat sekalipun. Dan sebentar lagi dia akan mengurai Robert.

“Apa? Apa yang terjadi?” Robert mulai merasakan ia tak akan bisa mengendalikan elemen besinya.

“Kamu tak akan bisa mengendalikannya lagi Robert. Karena seluruh elemenmu sudah terurai, dan sebentar lagi kamu akan terurai,” kataku.

“Itu tidak mungkin!” Robert kemudian menggerakkan elemen tanah, namun elemen tanah itu pun tiba-tiba menjadi debu. Ia mengeluarkan elemen api, tiba-tiba api pun menghilang. Sarung tangan Joltnya sudah tak berfungsi lagi sekarang. Dia mulai melihat tangannya sedikit demi sedikit menjadi abu.

“APA YANG KAMU LAKUKAN WANITA JALANG!?!” teriak Robert.

Dengan langkah tenang aku melepas baju besiku. Kemudian aku melihat keadaan menjadi gelap. Sudah terjadi kah? Kita terlambat. Azrael sudah bangkit. Aku harus segera menemui Ray. Robert berusaha menggapaiku, tapi tangannya hancur menjadi abu. Ia mencoba melangkah, tapi kakinya hancur menjadi abu.

“Tidaak! Kurang ajar! Aku tidak terima ini! Kenapa ada elemen seperti itu? Kenapaaaaaa???” itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia menjadi abu sepenuhnya dan hilang tertiup angin.

Berakhir sudah riwayat Robert.

Bersambung