Lentera Hitam Part 31

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 30

The Doomsday

Narasi Ray

Gempa bumi. Seluruh Jakarta digoncang gempa bumi yang dahsyat. Orang-orang panik, kaca-kaca gedung pecah. Sudah saatnya. Sebuah bangunan aneh muncul di tengah kota Jakarta. Bangunan itu besar, terbentuk dari elemen-elemen tanah dan es. Sebuah istana besar tiba-tiba saja terbentuk tepat di Senayan.

Seluruh televisi menyiarkan fenomena aneh ini. Aparat dari kepolisian dan militer pun mensterilkan Senayan. Kami semua bisa melihat bangunan itu dari jauh. Hawa pun berubah. Kota ini semakin diliputi kegelapan. Hawanya kian terasa. Aku dan ibuku melihat itu semua dari atas gedung apartemennya.

“Kamu sudah siap Ray? Inilah saat-saat terakhir,” kata beliau.

“Emang ada cara lain?” tanyaku.

Ibuku tersenyum.

“Aku kemarin bertemu dengan Thomas,” kataku.

Ibuku sedikit terkejut, “Lalu apa yang dia lakukan?”

“Ia menyapaku. Dia…sangat kuat, aku saja tak bergerak ketika berhadapan dengan dia. Aku bahkan tak tahu apakah aku bisa mengalahkannya atau tidak. Ini semua seperti mimpi.”

“Ray, yakinlah kepada dirimu sendiri. Ingatlah semua yang telah diajarkan oleh Michele. Hanya itu senjata yang kita punyai.”

Michele, bagaimana keadaan dia? Apakah dia baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja Ray, kamu tak perlu khawatir, teruslah berjuang!” aku dengar suara hembusan angin. Ini suara Michele. Aku melihat beberapa elemen angin mengitariku. Mereka menyampaikan pesan dari Michele. Kenapa aku malah merindukan Michele sekarang? Kenapa juga aku meninggalkannya di sana? Apakah aku bisa kembali kepadanya suatu saat nanti? Tapi,….di sini aku ada Maria. Aku bingung kenapa aku kemarin melakukan itu kepadanya?

“Kamu tak perlu khawatirkan Michele, ibu sudah tahu semuanya,” kata ibuku sambil menaruh tangannya di atas pundakku.

“Ibu??”

“Ya, aku tahu. Michele yang bilang semuanya kepadaku. Kamu jangan khawatirkan dia, dia akan baik-baik saja,”

“Entah kenapa saat ini wajahnyalah yang ingin aku lihat untuk terakhir kali,” kataku.

“Dia berpesan kepadaku Ray, jagalah Maria. Kamu tak perlu mengkhawatirkannya.”

“Andai aku bisa membawanya ke sini.”

“Sudahlah,” ibuku memelukku. Dia mengusap-usap kepalaku seperti anak kecil. “Kamu telah memberikan hadiah yang tidak akan terlupakan baginya. Dan dia sangat senang sekali dengan itu. Kita akan lihat saja nanti, setelah ini. Ibu akan mendampingimu untuk masuk ke sana menemui Thomas.”

Kami semuanya dari para elemental, termasuk Alex, Purple, Tim dan yang lainnya berkumpul di sebuah jalan menuju senayan. Para elemental sudah bertambah, semuanya berkumpul untuk momen ini. Kemungkinan ada dua ratusan orang.

Wajah-wajah mereka menunjukkan bahwa mereka siap mati hari ini. Ibuku sudah berdiri di sebelahku sejak tadi. Dia menunggu mereka. Di sudut lain kulihat Andre dia juga ikut? Kulihat dia dan Purple bergandengan tangan. Apa mereka jadian? Di sudut lain, aku melihat Maria yang berdiri di samping Detektif Johan.

Aku menghampiri Maria.

“Kau datang?” tanyaku.

“Setidaknya aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kali kalau dunia benar-benar kiamat hari ini,” ujarnya.

Aku tanpa basa-basi menciumnya. Mungkin ciuman untuk yang terakhir kalinya sebelum aku berangkat bertempur.

“Aku akan kembali, aku akan kembali Maria. Kalau aku kembali, aku ingin hidup bersamamu dan aku tak akan meninggalkanmu lagi,” kataku.

Maria menggenggam tanganku erat. Seolah ia tak ingin melepaskannya. “Kembalilah Ray, aku akan menunggumu di sini. Aku tahu, kamu mencintaiku.”

Ibuku kemudian berkata, “Wahai anak-anakku, di depan kita adalah masa depan. Azrael sebentar lagi akan datang. Kalian adalah para elemental. Satu-satunya harapan bumi ada pada kalian. Kalau kita tidak berhasil hari ini untuk mengalahkannya, maka tidak akan ada lagi hari esok. Bumi dipenuhi dengan kegelapan, kedukaan, kehancuran. Ingatlah orang-orang yang kalian cintai untuk terakhir kali. Jadikan itu sebagai penyemangat kalian untuk mengalahkan mereka.”

Semua para elemental bersorak. Kita sudah melihat masa depan di depan sana.

“Detektif Johan, kutitipkan Maria kepadamu,” kataku.

“Tentu saja, aku ayahnya,” katanya.

Aku melihat inspektur James ayahku, dia mengepalkan tinjunya ke arahku. Dan aku mengepalkan tinjuku. Kedua tinju kami bertemu lalu aku memeluk dia.

“Jaga ibumu di dalam sana,” katanya.

“Aku tak bisa berjanji,” kataku.

“Yah, aku mengerti. Setidaknya, kalian harus saling bantu,” katanya. “Piere, kalau boleh habis ini kita bisa jadi besan. Hahahahahahahaha.”

Ayahku dan detektif Johan tertawa terbahak-bahak. Maria tampak malu-malu. Aku hanya tersenyum saja dan meninggalkan mereka.

***

Kami sudah berada di depan bangunan aneh yang ada di sekeliling Tugu Monas. Pukul dua belas nanti akan terjadi gerhana. Sebelum itu kita harus bisa mengalahkan Thomas, paling tidak menghalangi dia. Tapi kami rasa itu tidak akan mudah. Semua bangunan ini sudah dipersiapkan oleh mereka. Membangun dengan elemen tanah dan besi.

“Kita harus bisa bertemu dengan Thomas sebelum gerhana matahari,” kata Ibuku. “Kalau sampai terlambat, kita akan binasa.”

Aku yang berada di depan masuk ke bangunan itu. Di dalamnya ada sebuah ruangan yang sangat besar serta anak tangga yang menjulang sampai ke atas. Aku bisa mengetahui bahwa puncaknya itu adalah tugu Monas. Azrael sengaja membuat ini karena ia ingin dianggap yang paling tinggi. Baru saja aku melangkah masuk dari bawah tanah, muncullah sesuatu. Tidak hanya satu tapi banyak. Suara bedebum juga terdengar.

Baiklah, ini kejutan. Aku melihat makhluk-makhluk aneh yang pernah aku lihat di pulau aneh itu di sini. Dari Elk, Troll, Minotaur, Chimera dan Titan.

“Apaan ini?” gumam Alex.

“Kawan-kawan mereka makhluk-makhluk yang ada dalam mitos. Tak perlu susah payah mengalahkan mereka, soalnya otak mereka kerdil koq. Aku sudah pernah melawan mereka,” kataku.

“Yang benar saja?!” kata Alex.

“Tenanglah, aku dan yang lainnya akan menghadapi mereka. Kalian dan yang lain naik saja!” kata Tim.

“OK!” kata Alex.

“Let’s Rock!” kata Tim. Dia dan sebagian elemental sudah bergelut di bawah sana melawan monster-monster aneh itu.

Aku dan yang lain yang masih tersisa naik ke atas. Di lantai ini kami bertemu dengan orang-orang dari Dark Lantern. Mereka ada tiga orang dan sepertinya mereka anggota elit. Mereka memakai sarung tangan Jolt.

“Ohohoho, sepertinya ini bagian kami Ray,” kata Alex.

“Yup, serahkan kepada kami!” kata Andre.

“Kalian yakin? Aku bisa dengan mudah mengalahkan mereka,” kataku.

“Jangan sombong lu!” kepalaku digetok oleh Alex. “Udah sana ke atas!”

Aku dan ibuku berjalan melewati tiga orang itu. Soalnya tangganya ada di belakang mereka.

“Balancer, Robert sudah menunggu di atas,” kata salah seorang dari mereka.

“Aku tahu,” kata ibuku.

Kami berdua pun naik ke tangga. Terus ke atas hingga aku bertemu dengan Robert di lantai selanjutnya. Dia tampak duduk dengan segelas anggur di tangannya. Wajahnya tampak menunjukkan rasa ketidak sukaan.

“Well, well, well, anak dan ibu akhirnya bertemu. Tak kusangka keluarga van Bosch akhirnya punya keturunan lagi setelah sekian lama,” kata Robert.

“Kita masih punya urusan yang belum selesai, Robert,” kata Ibuku.

“Tentu saja Lili sang Balancer, tentu saja. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini,” ujar Robert. “Aku akan kembali membunuh seorang Balancer lagi.”

“Boleh jadi William saat itu lengah karena berusaha melindungiku dan anakku. Tapi sekarang, aku sendirian yang akan membalaskan William,” kata Ibuku.

“Aku pergi dulu ibu,” kataku.

“Iya, temuilah Thomas!” kata ibuku.

Aku berjalan melintasi Robert.

“Hei Nak! Siapa bilang kamu boleh lewat?” tanya Robert, dia langsung berdiri dan mencengkram lenganku.

“Siapa yang memperbolehkanmu menyentuhku?” tanyaku.

Lengan Robert telah dipasang sarung tangan Jolt. Aku menatap mata Robert. Kupegang pergelangan tangannya dan kutarik dari lenganku, setelah itu ia kulempar semudah aku melempar bola hingga ia menghantam dinding. Pasti sakit menghantam dinding sampai jebol seperti itu. Aku melanjutkan langkahku menunju tangga.

Robert dengan angkuh masih bisa berdiri, “Si..sialan!”

“Robert, tak perlu mengganggu Ray, kamu adalah lawanku,” kata ibuku.

“Kurang ajaaarr!” teriak Robert.

Aku tak menghiraukan mereka lagi. Aku sudah semakin naik ke atas. Dan aku bisa sadari sekarang sudah berada di puncak monas. Di dekat bangunan puncaknya itu kulihat seseorang sedang duduk di atas singgasananya. Dia Thomas.

“Selamat datang keponakan! Apa kabar?” tanyanya.

Aku tak banyak bicara, langsung saja aku membentuk tombak terbuat dari es dan melemparkannya ke arah Thomas. Thomas sedikit mengelak karena kalau tidak maka kepalanya akan terkena tombak es itu.

“Tanpa basa-basi eh?” katanya.

“Aku tak punya waktu, karena sebentar lagi gerhana datang, maaf paman. Hari ini aku akan mengalahkanmu,” kataku.

Thomas berdiri dan langsung bergerak dengan elemen petirnya. Di tangannya ia membentuk sebilah pedang dengan elemen besi. Aku juga demikian. Kedua pedang kami berbenturan. TRANG! Dan terjadilah pertarungan pedang, kadang aku menyelinginya dengan menghantamkan api Salamander ke arahnya, tapi ia bisa menangkisnya. Ada yang aneh. Aku tak tahu apa.

Aku terus berkelit, ketika dia menyerangku bertubi-tubi dengan elemen besinya. Kemudian ia aku balas juga dengan elemen-elemen besi, es dan api. Thomas tetap bisa menangis semuanya. Ia tentu saja lebih berpengalaman dalam menggunakan elemen dari pada aku. Hanya saja aku tetap merasa ada yang aneh. Dan sampai aku bertarung dengan menggunakan seluruh macam elemen tetap saja aku tak tahu apa yang aneh.

NARASI ANDRE

Kami sekarang berhadapan dengan tiga anggota ATFIP.

“Namaku John,” kata orang pertama.

“Namaku Scarlet,” kata orang kedua yang memang cewek.

“Namaku Hund,” kata orang ketiga.

“Kami jumlahnya ada banyak, sanggup kalian melawan kami?” tanya Alex.

“Mau coba?” tanya John. “Sebanyak apapun kalian, tak akan mampu melawanku. Terutama sarung tangan Jolt ini bisa mengeluarkan berapapun elemen secara bersamaan.”

“Kami juga punya banyak elemen, ayo teman-teman!” kata Alex.

Pecahlah pertempuran kami. Aku dan Puri sama-sama mengincar seseorang Hund. Karena, menurut kami dia orang yang terlemah di antara mereka. Potongan tubuhnya pendek dan tak meyakinkan sebagai seorang agen. Aku langsung melemparkan serangan bebatuan ke arah Hund. Hund menahannya juga dengan sebuah tembok yang ia bentuk dari elemen tanah. Puri bekerja sama denganku kali ini ia menyerang dari atas. Satu dua batu berbentuk panah dilemparkan ke Hund.

Hund bergerak dengan cepat pergi dari tempat itu. Dan tahu-tahu sudah berada di belakangku. Aku yang sigap tak akan tertipu oleh trik ini. Segera aku bentuk sebuah pisau besar dari elemen air. Puri melemparnya dengan tombak dari bebatuan. Kena. Hund terdorong beberapa langkah ke belakang. Oh, dia sudah memakai perisai dari…besi? What?? Aku melihat warna ungu menyala di sarung tangan Joltnya. Elemen ungu, elemen besi.

“Kalian hanya bisa elemen tanah dan air. Aku punya banyak. Tanah, api, listrik, besi. Empat elemen dalam satu sarung tangan Jolt. Hahahaahaha. Kalian bisa melawan ini semua?” tanya Hund. “Kalian cukup beruntung aku membawa empat elemen, kedua temanku yang lain hanya punya dua elemen. Itu karena akulah yang paling kuat daripada mereka berdua.”

Oh tidak, apakah kami salah mengambil lawan?

“Jangan takut Ndre, dia pasti bisa dikalahkan!” kata Puri.

“Hahahahaha, tahu apa kamu wanita jalang?!” kata Hund.

DUESSSHH! Aku sudah memukul Hund dengan tanganku saat ia lengah. “Jangan menghina cewek gua, brengsek!”

Hund sudah terkapar menerima pukulanku. Beberapa saat kemudian dia berdiri. “Pukulanmu boleh juga.”

“Aku akan hajar dirimu sampai kamu menyesal telah berada di Dark Lantern, Hund!” kataku.

Pertarungan dimulai lagi. Kini Hund lebih banyak menggunakan elemen besinya. Dia membentuk sebilah pedang. Aku juga dengan gelang Joltku, membentuk sebilah pedang terbuat dari bebatuan yang ada di sekitar tempat itu. Dan kami saling menghantam, saling menebas, aku menghindar, berkelit. Kali seolah-olah sedang bermain anggar. Saat ia akan menebaskku, aku sudah membentuk pertahanan dengan menggunakan elemen tanah.

Puri pun juga membantuku, dia membentuk palu yang besar sekali kemudian berusaha menghantam Hund dengan palu itu. Namun Hund membentuk sebuah perisai yang tiba-tiba saja muncul dari tanah hingga palu besar itu tak bisa menembusnya.

“Sepertinya kuduga, kalian tak akan bisa mengalahkanku. Dengan elemen besiku aku bisa membuat sebuah pedang yang sangat tajam dan sanggup memotong apa saja. Tak ada yang bisa yang tidak bisa aku potong dengan pedang ini,” Hund membentuk sebuah pedang dengan gagang yang sedikit panjang. Kemudian dia menebas pedang batu yang aku bentuk dengan tanganku tadi. Palu milik Puri pun bisa terpotong menjadi dua.

Dia kuat. Apa benar kami salah milih lawan?

Hund sekarang membentuk baju zirah ke seluruh badannya. Dia membawa pedang di tangannya. Walaupun dengan pedang dan baju zirah kecepatannya masih saja seperti tadi. Tapi dia tidak memakai kekuatan elemen petirnya. Bagaimana aku bisa mengalahkan dia? Pedangnya benar-benar bisa memotong pertahanan elemen tanahku. Puri juga demikian. Tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengalahkan Hund. Aku harus berpikir. Bukankah selain kemampuan mengendalikan elemen, elemen-elemen itu juga bisa digunakan untuk pertahanan dan kemampuan khusus. Kalau Ray bisa memberikan rasa takut, demikian juga Balancer. Maka aku juga harusnya bisa.

Tapi tunggu dulu. Ray bisa mengendalikan lebih dari dua elemen secara bersamaan. Aku sekarang punya dua gelang bukan? AKu bisa mengendalikan dua elemen. Harusnya kombinasinya pasti ada. Aku akan mencoba. Aku pun gerakkan elemen air dan tanah, secara mengejutkan di hadapanku muncul….pohon?? hah? Pohonnya kecil, dan merambat. Namun berhenti ketika aku hentikan gerakannya. Kayu, elemen kayu. Dan kemampuan khususnya….kalau aku bisa membuat elemen kayu, maka aku tahu sekarang cara untuk mengalahkan Hund. Hund, bersiaplah!

Selama Puri menghadapi Hund, aku mencoba-coba kekuatan baruku. Aku bisa menumbuhkan pohon dengan menyatukan kedua tanganku. Semudah itu? Aku mencoba lagi berimajinasi sebuah bentuk. Aku pun terkejut ketika mengetahuinya. Aku bisa membentuk pohon dengan bentuk yang sangat aneh. Seperti manusia, raksasa. Whoaaa! Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi tapi ini keren.

“Ndre?! Apa itu?” tanyanya.

“Entahlah, tapi sepertinya aku tahu cara untuk mengalahkan orang ini,” kataku. “Dan aku tahu kelemahan dari sarung tangan itu. Setidaknya demikian.”

“Kamu membual anak muda!” kata Hund.

Hund melepaskan anak panah yang terbuat dari besi. Aku membentuk elemen kayu lagi. Tiba-tiba beberapa puluh pohon menghadang panah itu sehingga aku tidak terkena. Dengan elemen kayu juga aku membentuk makhluk-makhluk aneh yang terbuat dari kayu. Hahaha, aku suka sekali kekuatan gabungan elemen ini.

Hund kemudian menebas seluruh manusia pohon buatanku dengan pedangnya. Kemudian dia melepaskan baju zirahnya dan menyembur seluruh kayuku dengan elemen apinya. Pohon-pohon itu pun terbakar. Dengan cepat aku menyiram api-api itu dengan air. Puri tak tinggal diam ia tetap konsisten menyerang Hund. Hund menghentikan semburan apinya dan membuat pertahanan dengan batu. BLEDUG! Suara bebatuan saling menghantam.

“Puri, tak usah takut ama dia!” kataku. “Kelemahan sarung tangan Jolt adalah, dia tak bisa mengkombinasikan dua elemen sekaligus. Selalu bergantian. Jadi kalau kamu mengeluarkan elemen tanah, sekarang aku bisa menangkap kakimu.”

Hund terkejut karena kakinya sudah aku tangkap dengan akar pohon. Dia buru-buru memanggil elemen besi, belum sempat dia mengambil Puri sudah menghantam tubuhnya dengan palu yang terbuat dari batu. Hund langsung terhempas beberapa meter.

Di tempat yang agak jauh aku melihat Alex dan yang lain sedang kewalahan menghadapi dua orang agen ATFIP itu. Aku pun berteriak kepadanya.

“LEX, MEREKA TAK BISA MENGGUNAKAN DUA ELEMEN SEKALIGUS! JANGAN TAKUT MEREKA TIDAK SEPERTI RAY!” teriakku.

Alex yang mendengar itu tiba-tiba bersemangat. Dia kemudian dengan teman-temannya segera menghajar seorang agen ATFIP itu dengan kombinasi elemen. Sementara itu Hund benar-benar kuat. Dia masih bisa berdiri setelah dihantam palu besar tadi. Sekarang ia tertawa.

“Hahahahaahahahaha….bagus sekali, aku suka pertarungan ini. Jadi, kamu tahu apa kelemahanku. Baiklah pertarungan kita akan jadi lebih menarik. Aku lebih suka menggunakan elemen besi. Karena unsur ini adalah yang terkuat yang pernah aku miliki. Aku tak suka dengan unsur api karena bisa menghancurkan segalanya. Aku akan memotong-motong kalian!” kata Hund.

Bersambung