Lentera Hitam Part 30

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 29

The Days Before The Doomsday Part III

NARASI BALANCER

Untuk pertama kalinya James dan aku berjalan bersama di taman. Banyak orang-orang yang memperhatikanku, bisa jadi karena panjangnya rambutku, bisa jadi karena penampilanku. Aku memang masih terlihat sangat muda, karena memang ada kekuatan khusus yang menyebabkanku seperti ini.

Mungkin juga karena pasanganku, James. Tiga hari lagi gerhana akan datang. Azrael akan datang ke bumi ketika seluruh planet-planet sejajar. Dan tepat di Tugu Monas titik tergelap dari matahari. Apakah kita bisa mengalahkannya?

Kami berdua duduk di sebuah bangku kosong. Aku menyandarkan kepalaku di pundak James. Tangannya pun melingkar ke pundaku. Mungkin karena melihat aku lebih banyak menerawang, maka ia pun penasaran terhadap apa yang sedang aku pikirkan.

“Apa yang kamu pikirkan Lili?” tanya James.

“Banyak. Di antaranya apakah aku bisa tetap hidup setelah Azrael dikalahkan? Karena aku tahu kekuatan elemental ini akan hilang seiring Azrael kalah. Aku hanya takut berpisah denganmu James,” jawabku.

“Setiap yang hidup pasti mati, itu sudah menjadi suratan takdir yang tidak bisa diubah. Kamu juga harusnya mengerti. Kamu sekarang sudah bisa bersama anakmu lagi, selama kalian bisa bersama apalagi ditambahkan kekuatan Ray yang luar biasa. Tak akan ada yang berani mengganggumu.”

“Aneh ya James, setelah kita bisa bersama malah kita harus berpisah sebentar lagi.”

“Semuanya akan kita lihat sebentar lagi. Semoga Ray dan kawan-kawannya bisa mengatasi semua ini. Kamu akan ikut juga?”

“Aku harus mendampingi Ray, lagipula aku ada urusan dengan Robert.”

“Orang yang membunuh William?”

“Iya.”

Kami semua terdiam. Hanya terdengar suara desiran angin. Terlihat di depanku pemandangan taman yang hijau. Beberapa orang lalu lalang menikmati pagi ini. Udara sedikit basah. Namun aku sudah bisa melihat tanda-tanda yang tidak baik.

Beberapa burung tampak terbang meninggalkan kota ini. Mereka terbang berkelompok. Mungkin kebanyakan orang senang melihat burung-burung itu terbang karena merupakan pemandangan yang tidak biasa. Tetapi bagiku itu adalah pertanda buruk.

Tentu saja, kabar buruk. Aku sejak dulu mengetahui kalau kawanan burung terancam bahaya mereka akan pergi menuju ke tempat yang lebih aman. Yang aku ketahui adalah, kota ini sudah tidak aman lagi bagi siapapun. Semoga saja keadaan ini segera berakhir dan dunia bisa terselamatkan.

Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Ray untuk mengalahkan Azrael. Kami semua tak tahu bagaimana kekuatan Azrael yang sesungguhnya, tapi menurut mitos yang ada dia sangat kuat. Mampu menggerakkan planet-planet dan bintang, bahkan mampu membuat materi sendiri yang tidak pernah ada sebelumnya.

Ketika ia turun maka dia akan menyelimuti dunia dengan kegelapan hingga tak ada lagi satupun yang tersisa. Para elemental telah mengurungnya lalu mengusirnya ribuan tahun yang lalu. Hanya gara-gara satu kesalahan yang dilakukan oleh Thomas, semuanya menjadi kacau seperti ini.

“Kamu mau pulang Lili?” tanya James membuyarkan lamunanku.

“Iya, sepertinya menikmati coklat panas lebih enak sekarang ini,” kataku.

Kami pun beranjak dari taman itu. Moga setelah ini benar-benar kami bisa tidur dengan nyenyak.

NARASI DETEKTIF JOHAN

“Maria?! Dicari!” panggilku. Anakku yang cantik itu sekarang sudah berpakaian rapi. Pakai jeans, kemeja, jaket. Aku melihat Ray sedang duduk di ruang tamu setelah tadi aku ijinkan masuk.

“Pergi dulu ya yah,” katanya.

“Hati-hati, jaga dia ya Ray,” kataku.

“Siap om,” kata Ray.

Maria masih berdiri saja di tempat. Kenapa?

“Ada apa?” tanyaku

“Tumben ayah nggak ngasih jam pulang,” jawabnya. “Biasanya bawel banget harus pulang jam segini, nggak boleh telat kalau telat tidur aja di luar.”

Aku tertawa. Iya, aku selalu memberitahukan dia seperti itu. “Ray pasti bisa menjagamu. Aku percaya kepadanya. Lagipula dia anaknya James, kalau ada apa-apa aku tinggal menghubungi James.”

Maria tersenyum dan langsung mencium pipiku, “Makasih ya ayah.”

Dia lalu berbalik dan langsung merangkul Ray. Mereka kemudian keluar rumah. Hahhh…putriku sudah dewasa. Jagalah Maria Ray, aku tahu kamu pasti bisa. Semoga kehancuran dunia bisa ditunda. Kasus ini hampir berakhir. Semoga saja bisa segera berakhir dengan baik.

Aku tak akan mungkin mau mengorbankan semuanya. Maria, Justin dan istriku. Ada baiknya mungkin sekarang ini aku mempersiapkan diri. Entah ngapain kek. Lagipula kalau toh besok kiamat, paling tidak aku akan melakukan sesuatu yang berguna.

Aku kembali melihat tumpukan berkas-berkas yang ada di mejaku. Berkas-berkas tentang kasus-kasus yang telah kutangani. Kasus yang kutangani sekarang ini sangat aneh, bahkan aku yang selalu berfikir rasional saja tak pernah bermimpi akan menangani sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau supranatural. Mungkin suatu saat aku akan ceritakan salah satu dari kasus-kasus itu.

NARASI MARIA

Hari ini aku jalan-jalan dengan Ray. Bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget. Aku memeluk lengannya sepanjang perjalanan. Menggelayut manja gitu. Kami awal mula beli eskrim di pinggir jalan. Trus saling menyuapi dan seperti biasa, dia membentuk es krim itu seperti boneka salju dengan kekuatannya. Hihihi, lucu.

“Hei Ray, menurutmu apakah kita semua akan selamat?” tanyaku.

“Aku tak tahu Maria, aku saja tidak pernah bertemu dengan Azrael seumur hidupku. Aku pun bingung. sekuat apa dia. Aku pun berdebar-debar, kalau misalnya aku tidak selamat nanti bagaimana? Apakah aku tidak akan melihatmu lagi? Ataukah bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuiku,” kata Ray.

Aku terdiam. Ray sekarang ini sedang galau rupanya.

“Tapi kamu tak perlu khawatir Mar, aku akan menjagamu. Aku akan berjuang sampai titik darah terakhir,” katanya.

Entah kenapa dia kadang membuatku terharu, juga membuatku gembira di saat yang bersamaan.

“Yuk, kesana!” kataku. Aku menunjuk ke seseorang yang menjual balon. Kami pun membelinya selama berjalan-jalan, kami bercanda dan bercerita banyak hal. Dan akhirnya kami pun sampai di taman. Dengan langkah santai kami menikmati suasana taman ini.

“Ray, kamu punya pacar nggak sih sebelum aku?” tanyaku.

“Ada.”

“Oh ya? Dia bagaimana? Lebih cantik dariku? Atau bagaimana?”

“Dia…yang jelas lebih dewasa. Dia lebih kuat. Dialah yang membuatku sadar bahwa aku harus lebih kuat untuk melindungi orang-orang yang aku cintai,” jawab Ray.

“Siapa namanya?”

“Namanya Agni. Dia seorang elemental. Hanya saja….dia sudah tiada,” aku bisa melihat raut kesedihan di mata Ray. Apakah dia seberarti itu baginya?

“Maaf Ray,” kataku.

“Tak apa-apa.”

“Dia pasti sangat berarti bagimu ya?”

“Dia cinta pertamaku, darinya aku bisa mengerti arti cinta. Maka dari itu aku akan selalu mengingatnya.”

Hmm…menarik sekali kehidupan Ray. Coba tanya lagi ah, “Ada yang lain?”

“Aku tak punya pacar lagi setelah dia,” katanya.

“Bohong!”

“Beneran.”

“Orang yang disuka ada?”

“Kamu.”

“Masa’ sih?”

“Iya.”

“Kalau begitu aku tanya dan jawab dengan jujur. Kamu pernah ML?”

Ia mengangguk.

“Hmm…pantes dah, pengalaman banget kemarin.” Aku menjulurkan lidah.

“Siapapun juga bisa melakukan itu,” katanya.

“Nggak ih, aku aja nggak tahu koq.”

“Masa’, di bioskop saja petting ama Andre gitu koq.”

“Ih, kamu tahu ya waktu itu?”

Ray bersiul-siul.

“Ihhh…jahaat!” aku cubit-cubit dan pukul dia.

“Benerkan? Semuanya karena insting,” kata Ray sambil menangkis seranganku.

“Nggak juga kali,” kataku.

Kami lalu lanjutkan perjalanan kami hingga sampai ke sebuah bangku. Dan kami duduk di sana. Ray pun termenung. Dia kini tidak bicara. Aku juga menunggu dia bicara. Akhirnya kami sama-sama diam.

Terdengar olehku berisiknya suara dedaunan di taman ini. Aku masih tak percaya bahwa sebentar lagi dunia akan kiamat. Apakah semuanya akan hilang? Rumahku, sekolah, taman ini. Ray…

Kenapa sampai sekarang pacaran dengan Ray dia masih terlihat sok cool ya? Apa emang wataknya seperti ini. Dia sedikit bicara, aku yang paling banyak bicara. Dan sekarang pikirannya sedang menerawang.

“Mikirin apa sih?” tanyaku.

Tatapan mata Ray berubah. Seorang lelaki rambutnya agak keabu-abuan berdiri di hadapan kami. Pakaiannya tampak rapi dengan celana kain dan jas berwarna abu-abu. Hah? Sejak kapan lelaki ini ada.

“Apa kabar Ray? Keponakanku?” sapa lelaki ini.

DEG! Keponakan?

“Thomas….,” kata Ray. Dia berdiri. Walaupun menyebut Ray dengan keponakan tapi Ray sama sekali tak bergeming. Ada sebuah pembicaraan batin di antara mereka berdua.

“Aku hanya ingin menyapa saja,” kata Thomas.

“Kenapa?”

“Wajar bukan seorang paman menyapa keponakannya. Apalagi kalau basa-basi ini diperlukan sebelum kita bertemu lagi dalam pertempuran,” kata Thomas. Dia menoleh ke arahku, “Sore nona, pacarmu Ray?”

“Thomas, sudahi semua ini. Kamu tahu siapa Azrael bukan?”

“Aku tahu Ray, hanya saja aku lebih tertarik dengan kekuatannya.”

“Kenapa kamu melakukan ini? Apakah kamu tidak memikirkan bumi ini? Bagaimana kalau dunia nanti dipenuhi dengan kegelapan?”

“Aku sudah tidak lagi memikirkan apakah bumi ini berharga atau tidak. Aku bisa membentuk bumi sendiri dan kuisi dengan apa yang aku inginkan. Aku tidak butuh ini semua. Dengan membuat dunia baru yang damai, tanpa peperangan, tanpa kejahatan maka aku akan menjadi raja di dalamnya. Semua itu bisa aku wujudkan dengan kekuatan Azrael.”

“Kau sinting. Ingin menghancurkan semuanya demi membuat tatanan dunia baru?”

“Bukan tatanan dunia baru. Tapi benar-benar dunia baru. Semuanya akan musnah, planet ini akan musnah dan galaksi ini pun akan aku hancurkan dengan supernova.”

“Aku akan menghalanginya.”

“Coba saja. Apa kamu bisa menggerakkan menahan perputaran planet? Sebentar lagi saat terjadi gerhana matahari total, saat itulah Azrael akan bangkit, dia akan bangun dengan kekuatan penuhnya, tak ada yang bisa menghalangi semua ini Ray. Aku juga tidak bisa.”

“Aku akan berjuang untuk menghentikanmu!”

“Sudah kubilang tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Kebangkitannya sudah pasti.”

Ray hanya terpaku di tempat dia berdiri. Aku juga. Kenapa aku hanya mematung? Apa yang terjadi? Aku mencoba untuk menggeser kakiku. Aku ingin menggerakkan tanganku…tidak bisa. Tu..tunggu dulu.

Aku melirik ke taman. Orang-orang yang berjalan….mereka hanya mematung. Semuanya berhenti. AKu melihat burung-burung yang terbang juga seperti terhenti. Air mancur di taman, semuanya berhenti. KEadaan seperti sebuah video yang sedang ditekan tombol pause. Apa yang terjadi?

Tangan Ray gemetar. Dia juga sepertinya tak bisa bergerak. Tapi ia berusaha untuk bergerak.

“Kamu sudah berubah menjadi kuat Ray. Selamatkanlah dunia kalau bisa. Hahahahahaha…” Thomas berbalik berjalan meninggalkan kami dan dia tiba-tiba menghilang dan menyisakan angin yang berhembus.

Ray tiba-tiba ambruk. Nafasnya terengah-engah. Ia seperti baru saja berlari.

“Ray? Kau tak apa-apa?” aku juga bisa bergerak sekarang. Dan aku melihat semuanya juga bisa bergerak.

“Dia…kk..kuat sekali. Aku saja tak bisa bergerak.”

Aku membantunya untuk berdiri. Ray agak sempoyongan. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Dia Thomas,” kata Ray. “Orang yang berada di balik semua ini. Makasih Maria aku tak apa-apa.”

“Maksudmu dia yang ingin menghancurkan dunia?”

“Iya. Dan dia adalah pamanku sendiri.”

Aku tak tahu harus bicara apa. Hanya terdiam mendengar Ray mengatur nafasnya. Kalau benar Thomas ada dibalik semua ini, berarti dia sangat kuat sampai bisa menghentikan waktu.

“Gerhana…sebentar lagi,” gumam Ray. Ia kemudian mengulurkan tangannya. Sebuah cahaya berwarna biru menyala di tangan kanannya. “Vivi aku butuh bantuanmu.”

Dari dalam dada Ray keluar sebuah bola cahaya kecil sebesar bola pingpong. Bola cahaya itu ada bintik-bintik hitam dan kilatan-kilatan listrik kecil. Apa ini?

“Kamu bisa bantu aku?” tanya Ray.

Ray bicara dengan benda itu? Sebenarnya kalau aku di kehidupan normal pasti akan menganggap Ray ini orang yang senewen. Bicara sendiri, ngomong sendiri, apalagi sekarang ngobrol dengan sesuatu yang aku tak mengerti benda apa itu.

“Pergilah, tolong ya!” kata Ray.

Bola kecil itu tiba-tiba melesat pergi ke angkasa meninggalkan kami. Cahaya di tangan Ray redup dan hilang. Dia menurunkan tangannya.

“Apa itu tadi?” tanyaku.

“Dia adalah Vivi, elemen Void. Aku meminta bantuannya semoga rencanaku berhasil,” kata Ray. “Maria?”

“Ya?”

“Apapun yang terjadi, aku akan berjuang. Aku akan kembali. Kembali kepadamu. Karena aku mencintaimu.”

“Aku tahu Ray. Aku akan menunggumu lagi.”

Ray kemudian memelukku. Dia pun memberikan kecupan hangatnya untukku. Aku merasa ini adalah saat-saat terakhir kami. Udara bergerak menghembuskan dedaunan yang gugur. Aku bisa merasakan mereka menyapaku dengan hangat. Dua insan yang sedang dimabuk cinta berciuman di suatu sore yang indah. Ahh…aku ingin saat-saat seperti ini terus ada.

Bersambung