Lentera Hitam Part 29

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 28

The Days Before The Doomsday Part II

NARASI MICHELE

Syberia merupakan tempat tinggalku. Apalagi salju adalah kehidupanku. Di sini salju tak pernah mencair. Aku adalah seorang Mist. Bisa saja aku jauh dari salju, tapi kekuatanku akan menurun. Aku sudah lama tinggal di sini tanpa teman. Terus terang Ray merupakan temanku. Dan untuk pertama kalinya Lili van Bosch memintaku untuk mengajarkan ilmu kepada anaknya. Aku sangat senang sekali, selain untuk pertama kalinya aku akan ditemani di Syberia ini, juga aku senang bisa membagi pengetahuanku.

Nasib dunia sekarang berada di tangan para elemental dan juga Ray. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kalau misalnya memang akan terjadi kehancuran. Paling tidak aku mendapatkan kenangan yang paling manis bersama Ray. Entah kenapa ketika dia pergi, aku merasa kehilangan. Sangat kehilangan. Apakah Ray akan kembali lagi? Hadiah yang dia berikan kepadaku sungguh berharga. Aku tak tahu harus bilang apa lagi. Tapi sepertinya aku hamil. Aku bisa merasakan bagian dalam tubuhku bereaksi. Ada sesuatu yang lain. Sebuah awal kehidupan baru.

Ray, kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Apakah aku jatuh cinta? Aku tahu apa itu cinta, tapi tak pernah merasakannya. Aku tak pernah menduga Ray melakukanku sedemikian lembutnya. Tapi aku sudah tua, lagian….aku tak tahu kapan aku akan menghabiskan usiaku. Aku memang awet muda, tapi bukan berarti aku tak bisa mati. Aku lagi pula bukan highlander.

Setiap hari aku selalu disapa oleh para elemen. Berbicara dengan mereka. Berbicara dengan pohon, batu, sungai, salju. Akankah Ray akan bisa menyelamatkan semua ini. Dulu ketika aku diberitahu tentang Azrael, aku sendiri ketakutan. Kekuatannya mengerikan. Dia tak terpengaruh oleh semua hukum alam. Ia bisa menciptakan elemen sendiri. Dia lebih dari seorang Creator. Dia menyebut dirinya The Almighty. Iblis yang menganggap dirinya adalah dewa. Sombong dan angkuh.

Dulu sekali dia diusir dari bumi. Bertahun-tahun yang lalu sekelompok creator mengurung dia dan mengusirnya dari bumi. Namun para pemujanya masih saja ada di bumi. Namun ketika para pemujanya itu bangkit, Azrael merasuki mereka. Azrael butuh orang kuat dan Thomas van Bosch mendapatkan kehormatan untuk dirasuki olehnya.

Aku berharap Ray tidak melupakan semua pelajaran yang telah aku berikan. Dia harus banyak bicara dengan alam. Dia harus banyak berbicara dengan mereka. Karena kekuatan Azrael sangat mengerikan. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Azrael adalah Ray harus lebih cerdik dari dia. Manusia, sekarang nasib kalian ditentukan oleh seorang Creator bernama Ray. Sayang sekali keempat Creator lainnya telah tewas. Seharusnya mereka bisa juga mendapatkan pelajaran seperti Ray.

Aku kembali menelusuri jalan bersama para serigala. Mereka semua binatang yang baik sebenarnya. Hanya saja ketika lapar mereka sering lupa diri. Tapi mereka bersahabat baik denganku. Setiap saat aku meminta bantuan kepada mereka, maka mereka pasti datang.

Setelah kereta saljuku sampai di tepi pantai, aku kemudian duduk di sana melihat langit dari kejauhan. Jauh di ujung laut sana, pasti Ray sedang berjuang. Aku tak berharap banyak dia akan kembali. Tapi aku selalu berdo’a dan seluruh penghuni Syberia berdo’a untuknya agar ia bisa selamat. Tapi khusus untuknya aku berdo’a agar ia ingat kepadaku dan kembali ke Syberia.

Ohh…aku merindukanmu Ray. Tapi aku akan hargai keputusanmu. Kamu memang mencintai Maria. Entah kenapa air mataku mengalir. Kembali kuelus-elus perutku, aku akan menjaga hadiahmu Ray. Aku akan menjaganya. Cepatlah lahir ya nak, cepatlah lahir.

NARASI ANDRE

Ray telah kembali. Aku harus merelakan Maria sekarang. Ia sangat bahagia ketika Ray datang. Tapi brengsek, si Ray kuat sekali. Ketika aku pukul kemarin sebenarnya tanganku terasa sakit. Tubuhnya sangat keras. Dia mengalah. Sudahlah, yang penting Maria bahagia. Aku sudah merelakan Maria bersama Ray. Mereka saling mencintai, aku tak perlu lagi mengganggu mereka. Aku sekarang sudah punya Puri.

Hari-hari sebelum kiamat? Ngapain enaknya? Orang mau kiamat biasanya banyak yang tobat. Banyak yang jadi mendadak alim. Tapi kami bingung mau bagaimana. Mungkin seperti diriku yang sering-sering minta maaf ke ayah dan ibuku. Karena aku pasti akan ikut dalam peperangan yang akan terjadi sebentar lagi. Aku sudah putuskan itu.

Ayah dan ibuku heran, ngapain sih melankolis gitu? Mereka tak sadar kalau bumi dalam bahaya. Iya, yang ada dipikiran mereka bagaimana bumbu baksonya, bagaimana rasanya, bagaimana para pelanggannya.

Aku juga pernah punya salah kepada ibu karena salah dalam membuat adonan. Hal itu membuat rasa baksonya jadi aneh. Aku pura-pura tidak tahu dan ngotot bukan aku pelakunya. Hal itu membuat pelanggan sepi hari itu. Aku sangat kacau dan akhirnya baru bisa minta maaf sekarang. Beliau pun memaafkanku. Aku senang sekali entah kenapa aku bisa jadi terharu saat itu. Mungkin ketika menyadari bahwa sebentar lagi tak ada satupun dari kita yang akan selamat menyebabkan kita jadi lebih melankolis.

Aneh memang ketika mengetahui seminggu lagi kiamat aku malah pergi ke sekolah, bercanda dengan teman-teman sekolah. Aku hari ini melihat Ray masuk sekolah lagi, juga Maria. Mungkin semuanya kaget melihat Ray dan Maria bisa bersama.

Kali ini Ray tidak lagi menutup dirinya. Dia lebih banyak bicara dengan teman-teman. Dia berubah. Mungkin karena dia merasa dirinya sekarang lebih kuat dan lebih bisa melindungi teman-temannya.

Aku baru kali ini melihat Maria bisa bercanda lepas bersama dia. Apakah Ray melihat hal ini setiap hari? Meilhat bagaimana aku dan Maria dulu bercanda, tertawa lepas, sedangkan aku tak pernah berani untuk menegur mereka? Ya, seperti ini ya rasanya. Maria, engkau pernah mampir dalam hidupku. Pernah mampir di dalam hatiku. Tapi, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku pun menghampiri mereka.

“Hei, masuk sekolah juga kamu rupanya?” sapaku ke Ray.

“Emang maunya gimana? Tidur?” tanya Ray balik.

“Ah, ngeledek ya?” kataku. Aku langsung merangkul Ray dan menoyor kepalanya. “Rasain nih!”

“Aduh!” kata Ray.

“Udah, udah ah, kalian ngapain sih?” kata Maria.

Aku dan Ray bisa tertawa bersama. Sial, kenapa aku malah terharu? Ini baru pertama kalinya aku bisa tertawa bersama anak ini. Aku berusaha menahan diri agar tak mengeluarkan air mata dan menyembunyikannya lewat ketawa.

Setelah sekolah, aku langsung ke mall menjemput Puri. Ia hari ini ada kerjaan dan aku berjanji untuk menjemputnya. Setelah memarkir sepeda motor, aku langsung menuju ke dalam mall. Dia ada di lantai dua, menjual alat-alat kosmetik. Ketika melihatku dari jauh. Dia langsung menghampiriku. Rambut ungunya…udah berubah jadi hitam. Aku hampir tidak mengenalinya.

“Kamu…,” mulutku tercekat.

“Kenapa? Kaget?” tanyanya.

“Iyalah,” kataku.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri Ndre,” katanya. “Kamu tak keberatan kan?”

“Sama sekali tidak, aku justru lebih senang melihatmu seperti ini. Kamu lebih cantik,” kataku.

“Duuuhh…aku jadi malu nih,” kata Puri. Ia jadi sedikit feminim sekarang. Biasanya agak tomboy.

“Serius koq, kamu lebih cantik,” kataku.

“Makasih Ndre. Boleh aku minta sesuatu,” katanya.

“Apaan?”

“Bilang lagi dong kalau kamu cinta ama aku.”

Eh, ini cewek. Melankolis banget.

“Kan kemarin sudah,” kataku.

“Aku kurang puas. Aku ingin kamu mengetakannya sekali lagi,” katanya.

“Baiklah,” kataku. Aku menghirup nafas dalam-dalam, kemudian dengan suara yang keras aku bilang, “PURI AKU CINTA KAMUU!”

Langsung deh seluruh penghuni mall menoleh ke arah kami.

“Ihhh…siapa yang bilang harus keras-keras, malu tauk!” Puri mencubit aku. Pipinya memerah. Ia pasti malu.

Beberapa pengunjung mall bertepuk tangan menyoraki kami.

“Naah, kaaaan. Kita jadi tontonan. Norak ih!” katanya.

“Pulang yuk!?” ajakku.

Ia mengulurkan tangannya dan aku pun menggandengnya. Selama di atas motorku Puri merangkulku dengan erat. Ia bersandar di punggungku. Tak pernah aku seperti ini sebelumnya. Perasaan yang nyaman, lembut, aku bisa merasakan dari cara dia menyentuhku.

Setelah sampai di rumah kontrakannya. Puri langsung menciumku. Kami berpanggutan panas. Saling membelai dan memeluk. Aku remas-remas pantatnya.

“Kalau misalnya tidak ada hari esok, aku ingin sekarang bercinta denganmu Ndre,” katanya.

“Aku juga Puri,” kataku.

Kami berciuman panas, tak seperti ini sebelumnya. Aku langsung masuk ke kamarnya. Aku melucuti pakaiannya satu persatu. Ia juga menuntunku melucuti bajuku satu per satu. Aku tak malu-malu lagi merengkuh gundukan daging yang ada di dadanya. Dadanya Puri memang menggairahkan, siapapun mata pasti akan tertuju ke dadanya. Tubuh Puri sangat wangi, aku benamkan wajahku di belahan toketnya.

“Ohh..Andre, hhmm…,” desahnya.

Aku menciumi setiap lekukan kulitnya, kucupangi buah dadanya itu serasa menggeser lidahku ke puting susunya. Aku kemudian meremas-remasnya. Dia mendorongku untuk duduk di atas kasur. Dan kini Puri menaiki pahaku dipasangkannya ujung kemaluanku di lubang senggamanya. Kemudian ia menekan ke bawah. Ternyata Puri sudah becek, pelumasnya memulusan batangku untuk bisa masuk ke dalam.

“Ahhh…Puri, hhhmmmmhhhh…,” desahku.

Puri kini memutar-mutar pantatnya. Aku imbangi dengan mengisap puting susunya.

“Ndree….oohh…,” Ia menaikkan wajahku dan kami berciuman. Puri gadis yang kucintai. Sekarang dia berusaha mengobok-obok kemaluannya sendiri dengan batangku. Gesekan kulit kami membuat dia makin kesetanan.

“Puri…aku cinta kamu Pur, mencintai semuanya yang ada pada dirimu,” kataku.

“Aku juga Ndre, sejak pertama kali bertemu aku sudah menyukaimu….Ndre…maukah kamu bersama denganku selamanya sampai maut memisahkan kita?”

“Tentu saja Puri.”

Puri pun melenguh, tubuhnya melengkung saat orgasme itu melanda. Kami mengulangi berkali-kali seolah-olah ini adalah saat-saat terakhir kita. Sebab kita tak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Kalau toh besok Kiamat, setidaknya kami berdua telah merasakan bagaimana mencintai dan dicintai.

***

Aku terbangun dari mimpi. Mimpi buruk bahwa aku akan kehilangan Puri. Kuterbangun dengan diriku memeluknya dari belakang. Kami tertidur dalam satu selimut setelah bertempur di atas ranjang tadi malam. Mimpi itu sepertinya terlihat nyata. Apakah ini adalah pertanda?

Di dalam mimpi itu aku melihat Puri diserang oleh banyak musuh. Dia terus bertahan dengan elemen buminya. Aku berusaha menolongnya tapi musuhku sendiri terlalu kuat sehingga aku tak bisa menggapainya.

Kemudian mereka mengeluarkan panah-panah yang terbuat dari elemen besi. Sebuah panah mengenai tubuhnya dan dia tertembus panah itu. Aku tak mau kehilangan dia. Kuciumi leher Puri.

“Kamu mimpi buruk?” bisik Puri.

“Sudah bangun?” tanyaku.

“Kamu tadi memanggil-manggil namaku.”

“Iya, aku bermimpi kehilangan dirimu.”

Aku makin erat mendekapnya. Dia mengusap-usap lenganku.

“Semua akan baik-baik saja Ndre, akan baik-baik saja,” katanya. Mencoba memberikanku ketenangan.

“Aku tak akan membiarkanmu pergi Puri, tidak akan,” kataku.

NARASI ALEX

Kalung pemberian Ray itu masih aku simpan. Kalung berliontin salib pemberian suster kepala. Gila, tak terasa aku sudah lama tidak ke panti asuhan. Ingin rasanya pergi saja tak usah kembali, tapi itu sama saja dengan aku tidak berterima kasih kepada mereka yang selama ini sudah mendidikku.

Aku masih mencintai mereka, aku masih menyayangi mereka. Mereka adalah keluargaku.

Sebentar lagi pertempuran dengan Azrael. Aku pun berdebar-debar. Bingung. Karena aku tak tahu kalau aku nanti misalnya mati, siapa yang akan menangisiku? Siapa yang akan peduli kepadaku? Ray? Ah, dia sudah punya Maria. Purple? Dia sudah bersama Andre.

Aku pertama kali mentatto tubuhku setelah keluar dari panti asuhan. Hidup di jalanan. Mengais rejeki dari orang-orang yang memberikannya. Aku tak cocok kerja di kantoran, kerja di restoran atau pun kerja yang ada shiftnya.

Total aku habiskan kerja sebagai kuli dan tukang. Penghasilannya cukuplah buat makan daripada tidak ada sama sekali. Tidur beratapkan langit sudah biasa. Aku bahkan terkadang tidur di sebuah bangku di taman. Terkadang juga tidur di emperan toko.

Semenjak kabur dari sirkus itu, aku sudah terbiasa hidup di jalanan. Agni, kalau saja dia sekarang masih hidup, tentu kami akan sangat bahagia sekali menghabiskan kenakalan kami setiap hari.

Dia sudah aku anggap sebagai kakak. Kalau saja Ray waktu itu lebih kuat seperti sekarang, mungkin Agni tak perlu pergi, tak perlu mengorbankan dirinya.

Hari itu aku berjalan mengunjungi tempat terakhir di mana Agni membakar dirinya. Semua kenangan tentang Agni mulai hadir lagi di dalam benakku. Sesosok gadis yang bisa menjadi kakak bagi kami. Bagi aku, Troya dan Ray.

Kalau dia masih hidup tentangu dia dengan Ray akan bersama sekarang. Mereka saling mencintai, mungkin sampai sekarang tak akan ada yang bisa menggantikan posisi Agni di hati Ray. Ya, kami juga tak ada yang bisa menggantikan posisi Agni di hati kami.

Lagi-lagi aku pegang liontin kalung itu. Bagaimana kabar suster kepala? Bagaimana kabar suster Elizabeth? Aku malu untuk kembali. Apakah Ray masih tinggal di sana? Pastinya iya. Aku melihat dia kemarin pergi ke sekolah.

Pastinya dia sekarang berada di panti. Aku masih malu. Akhirnya kubiarkan kakiku melangkah tanpa tujuan. Dari satu gang ke gang lain. Dari satu jalan ke jalan yang lain.

Ketika melintas ke sebuah taman, aku melihat seorang anak kecil sedang bermain bersama ayahnya. Ayahnya meniup gelembung-gelembung sabun sang anak mengejar gelembung-gelembung itu dengan riang gembira. Anak itu sangat beruntung mempunyai orang tua.

Tidak sepertiku. Beberapa hari lagi sebelum gerhana. Di mana Azrael akan bangkit. Entah apa yang bisa aku lakukan sekarang. Dan…aku pun tertawa ketika tahu aku sekarang berdiri di mana.

Sebuah gerbang pagar. Di atas gerbangnya aku lihat papan nama bertuliskan Panti Asuhan Kasih Ibu. Kenapa aku sampai di sini?

Lama aku berputar-putar di depan pagar. Bingung mau menyapa siapa? Ingin aku masuk saja ke dalam tanpa bicara. Tapi…..aku malu. Malu kalau Suster Elizabeth melihat tattoku. Malu juga kepada Ibu kepala panti.

Aku pun masuk. Kuberanikan diriku melangkah ke dalam. Angin menerpa wajahku, rasanya sejuk. Rambutku berkibar tertiup angin. Dan ketika aku sudah masuk ke dalam, aku pun melihat seseorang yang sangat aku kenal.

“Alex?” seru suster Elizabeth.

“Sore suster,” kataku.

Langsung suster Elizabeth berlari ke arahku. Lalu aku dijewernya. “ADudududududuh!”

“Kamu kemana saja? Kamu bikin kami khawatir tahu! Sama saja seperti Ray, pergi tanpa permisi pulang juga tiba-tiba. Dasaaarrr!” suster Elizabeth menjewer telingaku dengan gemas. Setelah itu tampak matanya berkaca-kaca. Ia kemudian memelukku. “Dasar anak nakal. Kamu pasti akan dihukum sama ibu kepala.”

“Aku pulang suster, aku pulang,” aku menangis dalam pelukannya.

Yah setidaknya si anak hilang ini telah kembali lagi. Dari dalam aku melihat Ray. Dia melambai ke arahku. Terima kasih bro. Terima kasih untuk segalanya.

Bersambung