Lentera Hitam Part 28

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 27

The Days Before The Doomsday Part I

Hari-hari menjelang kebangkitan Azrael. Aku sendiri tak tahu seperti apa kekuatan Azrael itu. Michele sendiri tak memberitahkanku seperti apa kekuatan Azrael. Tapi, katanya kekuatannya lebih dari sekedar Creator. Apalagi Thomas van Bosch, kakak dari ibuku. Sudah pasti akan menyerap seluruh kekuatan Azrael.

Apa yang kami lakukan menjelang akhir zaman ini? Semua orang tampaknya tenang-tenang saja. Jelas, mereka tak tahu apa yang terjadi. Dari bentuk Pentagramnya, lokasi yang mana tepat di tengah adalah Tugu Monas. Di sanalah Azrael akan dibangkitkan. Siapa yang menyangka tempat itu nantinya yang akan dipilih oleh Dark Lantern.

Aku akhirnya bertemu dengan ayah dan ibuku. Detektif Johan tampak shock ketika mengetahui bahwa Inspektur James adalah ayahku dan Lili van Bosch sang Balancer adalah ibuku. Tapi Detektif Johan pun berkata, “Semuanya masuk akal sekarang”

“Masuk akal bau parfumnya Lili sama seperti bau parfum di mayat William van Bosch. Dan kamu bilang tidak menciumnya sebenarnya kamu ingin menghilangkan jejak istrimu bukan?” tanya Detektif Johan.

“Pantas saja. Dan disaat kami sibuk menyelidiki mayat itu, istrimu menitipkan bayinya ke panti asuhan. Dan William van Bosch itu dibunuh oleh Thomas dan kamu berada di sana menyaksikannya. Lalu kamu memanggilku untuk meyakinkan diri bahwa ditemukan mayat orang yang tidak dikenal. Sialan kamu James. Dan aku pun jadi tahu kenapa cek-cek itu tidak bisa diketahui alamatnya oleh polisi, semuanya karena kamu yang memang tak ingin orang-orang tahu siapa yang memberikan Ray uang. Arghh…James, kamu benar-benar membuatku kesal.”

“Maaf, Piere. Aku terpaksa melakukannya untuk melindungi dia dari Dark Lantern,” ujar ayahku, inspektur James sambil menepuk pundakku.

Kami semua sekarang berada di rumah Detektif Johan. Aku berbaring di pangkuan ibuku. Ia membelai rambutku. Aku nyaman sekali dibelai seperti itu. Karena sudah lama aku tak pernah mendapatkan belaian seorang ibu.

“Baiklah, kalau begitu hari ini sepertinya aku harus mentraktirmu Piere, sebagai permohonan maafku,” kata ayahku.

“Hahahaha, siapa takut?” kata Detektif Johan. “Aku perlu mengajak istriku kalau begitu.”

“Silakan saja!” kata ayahku.

“Sayang! Ayo kita pergi ditraktir oleh James!” katanya.

“Kamu ikut sayang?” tanya ayah ke ibuku.

Ibuku menggeleng. “Ray masih kangen dibelai seperti ini.”

Aku lalu bangkit. “Nggak apa-apa ibu, kalau ibu ingin pergi dengan ayah. Aku akan di sini saja.”

“Di sini?” gumam ibuku.

“Iya.”

“Mau berduaan ama Maria?” goda ibuku.

“Tahu aja,” aku nyengir.

“Ya sudah, ayo James, sepertinya anak kita tak ingin diganggu,” kata ibuku.

“Hahahaha!” ayahku lalu berdiri menggandeng ibuku.

Mereka seperti tak menyadari bahwa sebentar lagi akan terjadi peristiwa besar. Tapi paling tidak mungkin ini saat-saat terakhir mereka bisa bergembira. Detektif Johan mengajak istri dan Justin. Aku dan Maria berada di rumahnya.

Hubunganku dengan Maria tampaknya direstui oleh mereka, apalagi Detektif Johan dan ayahku sudah menjadi teman akrab sejak lama. Aku dan Maria berada di kamarnya.

Rumah sangat sepi. Yah, mau bagaimana lagi. Emang semuanya keluar koq. Dan kalau sepi seperti ini pasti akan terjadi hal-hal yang….ehm..apalagi kita sama-sama muda, saling dimabuk cinta.

Saat itu aku duduk di lantai kamarnya memeluk Maria dari belakang. Tanganku kulingkarkan di perutnya. Dan ia memeluk lenganku.

“Kamu…selama di Syberia ngapain aja?” tanya Maria.

“Latihan, hampir tiap hari,” jawabku.

“Ketemu wanita lain?”

“Iya, satu-satunya wanita itu cuma guruku.”

“Ohh…cantik orangnya?”

“Cantik.”

“Berapa usianya?”

“Seribu tahun kurang lebih.”

“Hah? Bohong!”

“Nggak bohong.”

“Hmm….”

“Kamu cemburu?”

Maria mengangguk.

“Nggak apa-apa kalau kamu cemburu. Aku makin yakin kamu cinta kepadaku.”

“Ray, kenapa kamu kembali?”

“Karena ada kamu di sini dan ini adalah rumahku.”

Aku menciumi rambut Maria yang wangi. Sambil sesekali kuciumi pundaknya. Maria menoleh ke arahku. Kami lalu berciuman. Hangat. Tapi cuma dua detik. Saat itu Maria memakai rok tipis selutut, dan kaos berwarna putih. Ia pasti sudah merasakan sesuatu yang mengganjal di belakangnya.

“Aku koq merasa ada yang keras ya?” tanyanya.

“Kenapa? Kan ya wajar aku juga cowok,” jawabku.

“Hihihihi, iya iya,” katanya. “Aku ngerti koq. Ray, kamu cemburu nggak sih waktu aku jalan sama Andre?”

“Sangat, aku cemburu sekali.”

“Oh ya?”

“Iya.”

“Aku mengerti semuanya sekarang, kamu selama ini sangat perhatian kepadaku. Kamu yang selalu menjagaku selama ini, peduli kepadaku. Aku jadi mengerti semua perasaanmu ketika kamu sendiri, ketika kamu menjauhi teman-temanmu lantaran kekuatan yang engkau punyai. Tapi aku sadar Ray, kamu orang yang baik.”

“Aku boleh menciummu lagi Mar?”

Maria mengangguk. Aku menciumnya lagi. Kali ini agak lama dan basah. Masih dalam posisi membelakangiku. Maria sekarang bersandar di dadaku sepenuhnya. Ciumanku beralih ke lehernya, Maria mendesah.

“Ray…oohhh,” desahnya.

Aku belaikan jari telunjukku ke lehernya, lalu menurun ke dadanya. Aku ciumi lehernya, lalu jakunnya, turun ke bawah. Lalu naik lagi ke dagunya. Kembali lagi ke bibirnya. Maria lalu berbalik menghadapku. Kedua kakinya ditaruh di atas pahaku dan kini selakangannya berada di depan selakanganku. Ia merangkul leherku dan menciumiku.

“Ray…kalau memang besok akan jadi kiamat, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu,” kata Maria.

“Kamu yakin?” tanyaku.

Dia mengangguk. “Aku sangat rindu kamu Ray, aku juga mencintaimu. Aku tak akan menyesal melakukan ini denganmu. Aku juga tak takut kalau ayah dan ibu tahu. Aku sudah cinta mati ama kamu. Kamu gunain pelet apa sih sampai aku seperti ini?”

Aku mengangkat bahuku. Kening kami kembali bertemu. Maria mencari-cari bibirku lagi. Kukecup manis bibirnya. Ia makin mepet ke tubuhku. Karena roknya tipis, jadi tak begitu menghalangi dia untuk makin merapat ke tubuhku.

Punggungku menempel di ranjangnya sekarang. Didorongnya halus diriku untuk bersandar. Ia mengusap-usap dadaku. Dan menciumiku. Ia kemudian menarik kaos itu dari pinggangku ke atas dan melepaskannya. Aku bantu dia untuk melepas kaosku. Ia benamkan wajahnya ke dadaku. Ia ciumi dadaku. Dihirupnya aroma tubuhku.

“Aku suka baumu Ray,” katanya.

“Aku juga suka baumu Mar,” kataku.

“Aku siap bercinta denganmu malam ini,” katanya.

“Maria,” desahku.

Maria memejamkan matanya. Kuciumi kedua kelopak matanya, hidungnya, pipinya dan bibirnya. Aku perlahan-lahan menaikkan kaosnya. Ia sudah faham, membantuku melepaskan kaosnya. Tangannya ke atas.

Kaos putih itu pun lolos dari tubuhnya. Kulihat sebuah bra berwarna krem terpasang melindungi sebuah gundukan daging kenyal yang kulitnya putih. Saking putihnya aku bisa melihat urat-uratnya yang berwarna hijau kebiru-biruan di sana.

“Tubuhmu indah Mar, apakah kamu ini bidadari?” tanyaku.

“Aku bidadarimu Ray, peluklah aku!” katanya.

Aku pun memeluknya.

“Ohh…Ray..,” desah Maria. Kami masih posisi duduk dan saling berhimpit. Aku berciuman lagi dengannya. Hangat tubuhnya, terasa sangat nyaman memeluk Maria. Kemudian aku mendorongnya sejenak. Kami kemudian berdiri.

Setelah itu dalam posisi berdiri kami berciuman lagi, sasaran kami adalah merebahkan diri di atas ranjang. Dan kami pun berada di atas ranjang. Ranjang tempat tidur Maria tepatnya.

Di atas ranjang aku mengusap-usap tubuhnya. Jari telunjukku menelusuri dahinya, hidungnya, lalu bibirnya. Ia menghisapi jariku itu. Kemudian jari telunjukku terus turun ke leher ke dada dan masuk ke belahan toketnya yang sekal. Lalu jariku bergerak ke samping, mengintari buah dadanya, menyentuh putingnya yang sedikit tercetak di branya yang menutup rapat buah dadanya itu.

“Kamu ingin melihatnya?” tanyanya.

“Kalau diperbolehkan,” jawabku.

“Tentu saja Ray, boleh,” katanya.

Dia menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung, lalu terlepaslah bra yang menutupi buah dadanya itu. Ia lalu membuang bra itu. Ohh..sungguh indah buah dada Maria. Bentuknya bulat sempurna, putingnya terlihat berwarna pink. Aku tak henti-hentinya melihat pemandangan indah ini. Inilah buah dada orang yang aku cintai. Aku lalu menyentuhnya. Maria memejamkan mata. Tanganku mulai meremasnya, putingnya pun aku sentuh dengan seluruh jari-jariku. Ku usap dengan lembut. Maria menggelinjang.

“Geli Ray,” bisiknya.

Aku ulangi lagi mengusap putingnya, dan kali ini dengan pijatan-pijatan lembut di putingnya.

“Ahhkk….Rayyy….kamu nakal…ohh..,” keluh Maria.

Aku kemudian menurunkan wajahku ke dadanya. Kupegang buah dadanya lalu bibirku sudah mencium putingnya. Kuhembuskan nafasku melalui hidung ke sekeliling putingnya.

“Raayy…hhhhmmmhhh…,” desahnya.

Lalu kupegang puting itu dengan kedua bibirku. Lidahku mencolok-colok putingnya yang sudah mengeras itu. Lalu mulutku kubuka sedikit, kumasukkan puting susu itu ke dalam mulutku lalu kuhisap. Lidahku pun menari-nari menyentil-nyentil puting susu itu di dalam mulutku.

“Aahhh….aahhh…Ray…enak…enak Ray, ohh..cintaku….aku sayang ama kamu…..Terus Ray….hhhmmm….geli….tapi enak,” kata Maria.

Aku gembira sekali. Dan makin bersemangat melakukannya. Aku pun bergantian melakukannya kiri dan kanan. Maria mengeluh sambil meremas kepalku. Kuhisap dan kucupangi buah dadanya itu. Dua sampai tiga cupangan tampak membekas di buah dadanya.

“Rayy…itu tadi enak banget,” katanya.

“Aku juga puas menikmati dadamu Mar,” kataku.

“Oh…Ray, lepas yuk!” katanya.

Aku menurut. Aku melepaskan seluruh pakaianku yang tersisa. Maria juga. Ia agak lama melihat kemaluanku. Sekarang kemaluanku sudah mengeras dan tegak menantang. Kami duduk dan sama-sama saling melihat tubuh kami. Maria perlahan-lahan memegang batangku. Ia mengelus-elusnya. Aku tentu saja enak banget digituin. Ia tersenyum melihatku yang merem melek.

“Ray, enakkah?” tanyanya.

“He-eh,” jawabku.

“Keras banget punyamu,” katanya. Dia lalu menggenggam batangku dan mengocoknya lembut. Buah pelerku tak luput pula dari remasannya.

“OHhhh…Marr enak!” kataku.

Ia menciumi dadaku lagi, lalu turun ke bawah dan ia menghentikan kocokannya. Lidahnya sekarang diletakkan di kepala pionku. Iya, cuma diletakkan begitu saja. Perlahan-lahan air liurnya menetes. Lalu lidahnya mengitari kepala pionku, kemudian seluruh kepalaa pionku masuk ke mulutnya.

“Ohh….Marrr….hhmmhh,” keluhku.

“Enak Ray?” tanyanya sambil melirik ke arahku.

“Iya Mar, enak,” kataku.

“Slluuuurrrppp…..Cruk! Cruk! CRuk…! Sluuurrrpp…..ahhh…batangmu manis Ray,” ujarnya.

“Masa’ sih?” tanyaku.

“Hm-hmm …,” ia mengangguk sambil mengulum pionku. Kepala Maria naik turun kadang ia benamkan batangku sedalam-dalamnya ke mulutnya. Lalu ia naik turun lagi. Kemudian ia cukupkan dengan mengulum kepala pionku sambil mengocok batangku dengan jarinya yang lembut.

“Mar, kamu belajar di mana sih?” tanyaku.

Maria menyudahi sepongannya. “Ada deh.”

Aku kemudian menciuminya lagi. Bibir kami berpanggut, kami berfrench-kiss sebelum giliranku yang mengerjai dia. Aku mulai menghisap dan menjilati kemaluannya yang berbulu tipis di atasnya itu. Liang senggama Maria sangat merah. Rasanya pun manis. Entah kenapa rasanya manis. Lidahku mulai menggelitik bibir vaginanya yang merekah itu. Rongga vaginanya kucolok-colok dengan lidahku.

“Raayyy…hhhhmmmmhhh.., kamu apain itu? Enak gilaaak…ahhh…!” katanya.

Lidahku lalu menari-nari di klitorisnya, kemudian kuhisap tonjolan daging itu.

“Raaayy….udah Ray, aku nggak kuat,…ahhh…Rayy….udah…aku mau pipis niih..ahh…Ray, koq dijilati terus sih….yahh..yaaahhh ahahah….duuuhhh..enak Ray…hhmmm….Ray…Ray udah…udah…pipis…aku pipisss…..Rayyy cintaku…hhmmm pipis aku sayang enak bangeetttt…..aaahhkkk!” pantat Maria terangkat dan bersamaan itu ada sesuatu yang keluar. Lendirnya yang menyemprot. Kuhisap semua yang keluar dari tempat itu.

“Rayy…koq disedot sih…aduhhhh….udah Ray….jangaan! HHmmm….aahhhkkk…aku tambah keenakan Ray! Masukin Ray, masukin!” kata Maria mengiba.

Aku lalu menciumi pahanya, kuhisap-hisap lembut kedua pahanya. Aku kemudian sudah berada di atasnya lagi. Kuposisikan batang pionku ke belahan kemaluannya. Hal itu membuatku geli-geli nikmat. Tangan Maria membantuku untuk memposisikannya dengan pas. Pahanya terbuka lebar. Ia sudah siap dimasuki.

“Ray,…janji ya, jangan ninggalin aku lagi,” katanya.

“Aku janji Maria. Aku tak akan meninggalkan kamu,” kataku.

“Ohh…Ray, aku senang sekali. Aku ingin bisa menikah denganmu Ray. Aku ingin bisa punya banyak anak denganmu. Aku ingin jadi ibu dari anak-anakmu. Kamu mau kan Ray?”

“Tentu saja, aku mau. Aku akan berikan segalanya untukmu Maria. Segalanya.”

“Ray, masukanlah! Aku akan tahan seluruh rasa sakitnya. Buatlah dirimu puas sayangku. Gagahi aku malam ini!”

“Aku cinta kamu Maria, aku akan selalu ada untukmu.”

Aku dorong perlahan kemaluanku. Rongga vagina Maria sudah sangat becek, membuatku sedikit mudah untuk masuk. Sekarang sudah seperempat. Seluruh kepala pionku sudah masuk. Hhhgggkkk…sempitnya. Rasanya seperti dijepit dengan kuat. Aaaghh…aku tarik perlahan, lalu aku dorong lagi.

“Raayy…ayo Ray! Aku akan tahan rasa sakkhh…aahhhgghh…periihh…Aahgghh….Heegghhhh!” keluh Maria.

Kemaluanku berusaha menerobos sesuatu yang sangat rapat. Aku tarik lalu dorong perlahan, kutarik, dan kudorong perlahan. Dengan dorongan seluruh tenaga pantatku pun akhirnya menerobosnya. SREEETTTT! Langsung seluruh kemaluanku seperti tiba-tiba masuk ke sebuah lubang yang hangat, basah dan nyaman. Kemaluanku semuanya tenggelam ke dalam lubang memeknya.

“Aaaggggkhhh…Rraayyy….Ohhhhh……rrrRraaayyyhh!” Maria memelukku eraaat sekali.

“Aku sudah merobeknya Maria,” kataku.

“Ayo Ray, siramkan benih-benih cintamu. Ayo, jadilah ayah buat anak-anakku Ray!” kata Maria.

“Maria….aku goyang ya,” kataku.

Kami lalu berciuman hangat sebelum aku menggenjotnya. Kutarik pantatku perlahan, lalu kudorong, tarik perlahan, lalu dorong, teruss,,teruuuusss dan teruuuss…makin lama aku makin cepat. Karena aku sudah tidak lagi melihat Maria kesakitan. Ia sudah terbiasa menerima kemaluanku yang baru saja merobek kemaluannya. Cepat dan makin cepat seperti ngedrill. CLEK! CLEK! CLEK! CLEK! Suara kami sangat becek.

“Ray…basah sekali ya di bawah sana?” tanya Maria.

“Iya Mar, memekmu enak banget,” kataku.

“Kamu juga Ray, batangmu gedhe…penuh banget rasanya. Tanggung jawab ya kalau aku ketagihan,” katanya.

“Tentu saja sayang,” kataku. “Sebab aku cinta kamu.”

“Aku juga Ray. Ayo Ray…cepat!” katanya.

Aku pun menggenjotnya lebih cepat.

“Aaahh…ahhh…Mar…enak banget …aahhh….aahhh,”

“Raaay…hhmmmm….terus….burungmu enak Ray…..menerobosku…aahhhkkk…!”

Aku bergoyang naik turun, mulai lama mulai cepat. Aku sudah hampir klimaks ternyata. Hal itu juga dirasakan oleh Maria.

“Rrray…batangmu makin keras….mau keluar ya?”

“Iya Mar…mau keluar.”

“Ayo Ray, aku juga kaya’nya mau keluar, udah mentok….gatel banget!”

“Mar…Mar…ini Marr…sampe…sampe.”

“Aku juga Ray…ahhh….sampe…aku nyampe…Ohhh…Ray….batangmu enak Ray…menyodokku….aaahhh….Ahh…iyaaa….aahhh…aku disemprot, aaduuuhh….banyak banget Raayy…”

“Aaahhhkk…..Maarrriaaa….aaahhh…ohhh….penisku berkedut-kedut, enak. Memekmu juga meremasku. Aku keluar banyak Mar…uuuhhh!”

Aku kemudian menciumi Maria. Persenggamaan yang hebat. Aku lalu ambruk di samping tubuhnya, tanpa kucabut kemaluanku. Sebab Maria tak ingin aku mencabutnya dulu. Setelah ia puas, aku mencabutnya.

Kemaluanku sekarang bercampur cairan putih dan bercampur darah merah. Nafas Maria ngos-ngosan. Matanya terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku lalu menyelimuti tubuh kami berdua. Maria kemudian tidur di dalam pelukanku. Bagaimana kalau nanti ayahnya datang? Ah masa bodoh.

***

NARASI DETEKTIF JOHAN

“Sebaiknya kita tak mengganggu mereka,” kataku.

“Lho, koq begitu?” tanya istriku.

“Sudahlah, sayangku. Mereka sedang dimabuk cinta,” jawabku.

“Jadi ayah sengaja ya membiarkan mereka?” tanya istriku.

“Iya. Asal itu membuat putriku bahagia, aku akan melakukan apa saja,” kataku.

“Ya sudah deh, hari ini kita nginap di hotel,” kata istriku.

“Aku setuju. Apalagi Justin sudah tidur di kursi belakang,” kataku.

“Yuk,” kata istriku sambil menciumku.

bersambung