Lentera Hitam Part 27

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 26

Hello My Love

NARASI ALEX

ZRRRTTT! ZRRTTT! suara elemen petir di kaki Mark.

Gerakan orang yang bernama Mark ini sungguh cepat. Dia berelemen petir, tentu saja. Dengan gerakan kilatnya ia menghempaskanku ke dinding apartemen. Sialan. Bertubi-tubi pukulannya mengenai tubuhku. Beberapa orang membantuku seperti Tim. Tapi sama saja, dengan tubuhnya yang kecil dia jadi bulan-bulanan, belum sempat mengeluarkan apinya ia sudah dihajar sampai tidak bisa berdiri.

Dan, aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Seorang cewek yang tak asing ada di tengah pertarungan ini. Maria?? Ceweknya Ray. Ngapain dia ada di sini??

“Ray?! Aku di sini Ray! Kamu di mana?!” kata Maria. Eh??? Di mana Ray??

“Hoi cewek! Ngapain lo ada di sini??!” seruku. “Pergi! Ini bukan tempatmu!”

“MARIA PERGI!” seru Andre yang kelihatannya masih sulit berdiri akibat dihajar oleh Fei.

“MARIA! Jangan di situ!” kulihat Detektif Johan berteriak dari atas gedung.

Yuzak menoleh ke arah Maria. Tidak, apa yang akan kamu lakukan brengsek? Dia tak bisa bertarung. Yuzak dengan tangan raksasanya mencoba menghantam Maria. Dia mengayunkan tangan raksasanya itu ke arah Maria. Ibu kami sang Balancer pun turun dengan baju besinya. Mencoba menyelamatkan Maria. Arrggh…shit! Aku juga dengan dorongan angin dari kakiku berusaha menolong Maria. Terlambat. Tidak, ini tak mungkin terjadi. AKu sudah bersumpah kepada Ray akan melindungi Maria. ARrrgghh!

ZAPP! ZAPP! Tiba-tiba sebuah petir menyambar-nyambar di sebelah Maria. Tangan raksasa Yuzak tiba-tiba saja hancur menjadi debu. Aku terjerembab di atas tanah. Anginku…hilang?? Elemen anginku hilang? Balancer juga merasakan sesuatu yang sama. Baju besinya tiba-tiba lepas. Tiba-tiba kami semua para elemental kehilangan kekuatan kami.

ZAP! ZAPP! Sekali lagi dua petir menyambar di tempat yang sama. Tepat di sebelah Maria.

“Mariaaa!” seru ayahnya.

“Ray, kamu datang!” kata Maria. Apakah itu Ray??

ZAP! ZAP! ZAPP! ZAP! Bagaimana mungkin petir menyambar di tempat yang sama selama delapan kali?? Dan ZAP! Sekali lagi, tapi kali ini ada seorang pemuda. Berdiri di dekat Maria. Brengsek! Ray!? Itu benar dia???

“Ray?!” sapa Maria.

“Hello My Love, you missed me?” tanyanya. Hah?

“Yes, off course!” Maria langsung memeluk Ray.

Hei, ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa bicara dengan angin?? Kenapa ini??

“Ray, aku sangat merindukanmu. Aku dengar seluruh suaramu Ray. Aku dengar semuanya. Dengar seluruh pesanmu,” kata Maria.

“Aku tahu kamu mendengarkan semuanya,” kata Ray.

“Kenapa? Kenapa aku tak bisa bicara dengan elemenku!” kata Yuzak. “Siapa kau? Siapa kau ini?”

“Maria, pegangan sebentar ya!” kata Ray.

Maria langsung memeluk Ray dengan erat. Dari punggung Ray tiba-tiba terbentuk sesuatu. Seluruh elemen air dan udara bersatu di punggungnya, lambat laun di pungungnya tumbuh sepasang sayap. Ray mendekap kekasihnya itu dan dia terbang ke atas. Hah? Bagaimana ia melakukannya? Ia terbang ke atas atap apartemen. Dia….kuat sekali. Aku bisa merasakannya. Ray benar-benar menjadi kuat sekarang.

“Kamu di sini saja, sekarang aku punya kekuatan untuk melindungimu,” kata Ray.

Tampak sang ayah, Detektif Johan naik ke atap untuk menemui putrinya. Tentu saja sebagai seorang ayah ia sangat khawatir sekarang.

“Aku akan di sini Ray, aku percaya kepadamu,” kata Maria.

Ray kemudian terbang lagi dan turun ke bawah. Setelah itu sayapnya menghilang menjadi kristal-kristal salju yang berterbangan di sekeliling tempat pertarungan ini. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Ia membentangkan tangannya seolah-olah sudah lama tak pernah menghirup nafas.

“Maaf, terpaksa aku menyuruh seluruh elemen melepaskan diri dari kalian. Aku tak ingin Maria disakiti. Sekarang kalian bisa menggunakannya lagi,” kata Ray.

Apa dia bilang? Menyuruh elemen? Emang bisa seperti itu??? Dan benar. Aku bisa merasakan, elemen angin kembali mengelilingi tubuhku. Ray, kekuatanmu benar-benar mengerikan.

“Kamu ini siapa?” tanya Black.

Ray kemudian berjalan dengan tenang ke arah Balancer. Balancer dengan tatapan teduh tersenyum kepadanya.

“Ibu,” Ray memeluk Balancer.

“Selamat datang kembali, Ray,” kata Balancer.

“Ibu, aku merindukan ibu,” kata Ray.

“Iya, ibu tahu,” kata Balancer.

“Ibu pergi dulu ya, biar aku yang akan menghadapi mereka semua,” kata Ray.

Balancer mengangguk. Ray melepaskan pelukannya. Dan Balancer dengan tenang berjalan meninggalkan Ray.

“Teman-teman, menyingkirlah. Mereka berlima akan menjadi lawanku,” kata Ray.

“Ray, kau yakin?” tanya Purple.

“Sombong sekali kamu,” kata Fei. Kini Fei, Yuzak, Mark mengepung Ray.

“Kawan-kawan! Mundur!” perintahku. “Ray kini lebih kuat dari pada yang dulu.”

“Kau ini siapa?” tanya Mark.

“Aku seorang Creator,” jawab Ray.

“Creator? Hahahahaha, kami telah membunuh empat orang Creator. Apakah kamu mau jadi yang kelima?” tanya Mark.

“Aku tahu, kalian membunuh mereka semua. Tapi kalian main keroyokan. Seperti saat ini,” ujar Ray. “Tapi sayang sekali, Creator yang kalian bunuh belum tahu kekuatan mereka seperti apa. Sekarang kalian sedang berhadapan dengan seorang Creator yang memahami kekuatan dirinya.”

“Serang dia!” seru Elena.

Fei menghirup nafas dalam-dalam kemudian, menghembuskan nafas apinya ke arah Ray. Mark melemparkan petirnya ke arah Ray, dan Yuzak membentuk sebuah tangan raksasa lagi kemudian dia hantamkannya juga ke arah Ray. DUARRR! Gabungan kekuatan itu mengenai Ray. Apakah Ray selamat? Aku pun jadi ikut berdebar-debar. Dari tempat Ray berdiri hanya terlihat kepulan debu. Dan setelah itu tak ada bayangan Ray di sana. Di mana dia?

“Kalian tak akan bisa melawanku,” kata Ray. Dia tiba-tiba sudah berada di dekat Andre. Sejak kapan??

Semuanya terkejut. Dia menolong Andre berdiri.

“Kau tak apa-apa Andre?” tanya Ray.

Andre lalu melayangkan sebuah tinjunya ke arah Ray. BUAK! Ray bergeming.

“Sialan lo, itu buat Maria! Gara-gara lo pergi dia jadi senewen! Huh, puas gue sekarang,” kata Andre.

Ray tersenyum, ia mengusap pipinya. “Terima kasih telah menjaga Maria selama ini.”

“Sigh! Dasar, ngerebut cewek orang,” kata Andre. “Awas, kalau sampai kamu nyakiti Maria lagi, gue nggak akan ngampunin lo.”

Ray tersenyum. Dia menepuk pundak Andre, kemudian berjalan dengan tenang ke arah tiga orang elemental tadi.

“Fei, kamu tahu siapa nama elemen apimu?” tanya Ray.

Fei mengerutkan dahi.

“Kurasa tidak, elemen apimu bernama Fury. Dan dia sedang marah kepadamu, karena kamu menggunakannya untuk kejahatan. Sama, kalian semua, elemen-elemen yang kalian gunakan sekarang marah,” kata Ray.

Tangan Ray menyala dan mengeluarkan cahay berwarna biru.

“Apa gunanya mengetahui nama elemen? Aku toh tetap bisa menggunakan mereka,” kata Fei.

“Kamu ingin lihat kemarah elemenmu? Lihatlah tanganku,” kata Ray sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Dan di atas tangan kanannya tampak sebuah api meliuk-liuk. Apinya makin lama makin besar, nyalanya berkobar dan sangat terang. Api itu kemudian membentuk sebuah bola. Makin lama bola api itu makin besar, besar dan besar. Bahkan hawa panasnya sampai terasa di kulitku.

Apa ini? Kekuatan api sebesar ini.

Fei tampak terkejut. Ia kebingungan, “Kenapa aku tak bisa mengeluarkan apiku? Kenapa?”

“Karena seluruh apimu ada di sini, dan mereka sangat marah kepadamu!” kata Ray. “Bersiaplah menerima kemarahan mereka.”

Yuzak dan Mark segera berlari menjauh ketika Ray melemparkan api itu ke arah Fei. Fei hanya melotot melihat elemennya sendiri menghantam tubuhnya. BLAAAARRRRRR! Hangus sudah tubuhnya. Fei tampak meronta-ronta dalam api itu. Benar-benar api itu membakar tubuhnya.

Ray, inikah kekuatanmu? Benar-benar mengerikan.

Melihat temannya hangus terbakar oleh elemennya sendiri, Yuzak kemudian mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ia membuat sebuah bola raksasa. Sebagian besar tanah dan bebatuan yang ada di tempat itu ia satukan seluruhnya, melayang di atas kepalanya. Terus ia timbun dan makin lama makin besar makin besar. Bahkan sekarang tanah itu sudah sebesar kendaraan bus.

“Siapapun kau, aku akan menghantammu dengan ini!” kata Yuzak.

“Stop! Gugu jangan lagi patuh kepadanya!” kata Ray.

Yuzak terkejut. Ia yang tadinya mengangkat tanah itu ke atas tiba-tiba kebingungan sendiri. “Hei, aku…kau apakan aku? Kenapa elemenku tidak bicara lagi denganku?”

“Karena aku menyuruh mereka untuk berhenti patuh kepadamu. Namanya Gugu, dan dia sangat ingin menimpamu sekarang,” kata Ray.

Yuzak menoleh ke atas. Tanah dan bebatuan yang ada di atasnya pun terjun bebas menimpanya. BUUUMMM! Dia terkubur sendiri oleh elemennya. Fuck! RAY! YOU’RE AWESOME!

Mark yang mengetahui kekuatan Ray masih nekat saja melawan. Kini ia memegan sebuah tombak yang terbuat dari petir. Dia tak takut kepada Ray. “Aku tak takut kepadamu.”

“Aku tahu Mark, engkau orang yang pemberani. Bahkan Kraz nama elemenmu mengakuinya. Kamu orangnya sebenarnya baik, tapi karena kamu mengikuti teman-temanmu akhirnya kamu seperti ini. Kraz…kemarilah!” kata Ray.

Lagi-lagi, Ray mengulurkan tangannya. Tiba-tiba tombak yang ada di tangan Mark berpindah ke tangan Ray. Kemudian seluruh tubuhnya mengeluarkan kilatan listrik dan kesemuanya menuju ke Ray. Semuanya menyatu di tangan Ray. Ray kemudian membentuk sebuah busur dan anak panah yang mengarah ke Mark.

“Tidak, tidak mungkin! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa??!” Mark sekarang menjadi ketakutan. Dia pasti terkejut karena tak bisa mengendalikan elemennya lagi.

“Selamat tinggal Mark!” kata Ray. Dia pun melepaskan panah petirnya dan dengan telak Mark merasakan panah itu. Tubuhnya tersengat listrik berjuta-juta volt dan ia pun kalah dengan elemennya sendiri.

Tinggal Black dan Elena. Keduanya menelan ludah. Tak menyangka bertemu dengan Ray.

“Ray, aku pernah diberitahu bahwa ada seorang Creator bernama Ray. Tak kusangka engkau orangya. Baiklah, kamu sudah menunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya. Aku sadari itu. Aku tak bisa melawanmu. Tapi….Aku bisa menghancurkan apapun dengan kekuatan elemen kegelapanku,” kata Black.

“Kuro,” kata Ray.

“Apa?”

“Nama elemenmu, Kuro. Dia sedang bersedih,” ujar Ray. “Dia sedang bersedih karena kamu menggunakannya untuk menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.”

“Hehehehe, kamu tahu apa? Baiklah, aku akan menghukummu Ray. Inilah kekuatanku yang sesungguhnya. Lawanlah aku kalau kamu bisa,” Black mengangkat tangannya ke udara. Dari telapak tangannya muncul sebuah kilat berwarna hitam. Makin lama dia pun membentuk sebuah bola yang sangat besar.

“Black, kamu mau membunuh kita?” kata Elena. “Oh, tidak. Aku harus pergi dari sini.”

Elena tampak segera berlari menjauh. Ray tetap tegak berdiri tak bergeming. Ini tidak bagus. Bola hitam itu makin besar, bahkan sekarang mungkin besarnya sudah separuh lapangan sepak bola. Ray, apa yang akan kamu lakukan?

“Sejujurnya, aku tak pernah bicara dengan elemen kegelapan. Satupun tidak pernah. Tapi…aku bisa merasakan kesedihan mereka sekarang. Black, hentikanlah!” kata Ray.

“Aku tidak bisa berhenti Ray, ini adalah kekuatanku yang sesungguhnya!” kata Black.

Aku melihat Bola hitam raksasa itu hampir saja menghantam apartemenku. Ray menaikkan tangannya, lalu ia seperti menyerap seluruh bola hitam itu. Black tentu saja terkejut. Ray menyerap kekuatan elemen hitam itu hingga bola yang besar tadi sekarang menjadi kecil di tangan Ray. Black langsung lemas ketika bola hitam di atasnya tadi sudah hilang diserap oleh Ray semuanya.

“Kamu….apa yang kamu lakukan?” tanya Black.

Ray berjalan ke arah Black.

“Tidak! Kamu mau apa?” tanyanya.

“Aku hanya mengembalikan kepunyaanmu,” ujar Ray. Tangan kanannya yang ada sebuah titik kecil energi elemen kegelapan tadi disentuhkan ke badan Black.

Black tampak terkejut. Ray memasang pelindung dari elemen es. Dan sebuah pemandangan yang membuat perut mual terjadi di hadapanku. Tubuh Black meledak, semuanya tercerai berai. Ray dengan pelindung esnya sengaja demikian agar tak terkena cipratan darahnya. Tubuh Black tak akan mungkin bisa disatukan lagi. Ia telah tewas lagi-lagi dengan kekuatannya.

Elena yang melihat itu semua jadi berang. Ia berlari ke arah Ray melemparkan cahaya-cahaya putih ke arah Ray. Pemuda ini pun membuat langkah Elena terhenti. Kakinya sudah dibekukan oleh Ray. Tangan kanannya Ray menangkap cahaya putih itu.

“Aku tahu kemampuanmu mengerikan. Kamu bisa meledakkan satu kota dengan cahaya sekecil ini. Sayangnya itu tak berlaku kepadaku. Seharusnya kamu bisa memanfaatkan kekuatan ini untuk kebaikan. Maafkan aku,” kata Ray. Ray pun mengembalikan kekuatan elemen yang dia tangkap tadi ke wajah Elena. Elena pun menjerit. Melengking. Lengkingannya sangat menyakitkan.

“Aarrghhh….Tidaaaaakkk…! Aku buta! Aku buta!” kata Elena. Sekarang matanya berwarna putih semua, pupil hitamnya sudah tidak terlihat lagi.

Ini pertarungan yang tidak seimbang, benar-benar sinting. Ray telah jauh lebih kuat. Jauh dari apa yang aku perkirakan sebelumnya.

NARASI RAY

Setelah aku menghabisi kelima elemental tadi. Aku kembali menemui Maria. Kali ini detektif Johan ada di sampingnya.

“Siang detektif,” sapaku.

“Kamu….hrrgghhh!” Detektif Johan tampak gemas sekali lalu ia memelukku. Setelah itu ia melepaskanku.

“Piere!” panggil Inspektur James.

“Ya?”

“Biarkan mereka berdua,” kata Inspektur James sambil memberikan kode.

“Oh iya,” Detektif Johan mengerti. “Kamu sekarang udah bertemu dengan dia, sudah sana melepas rindu. Tapi jangan kelewatan!”

Detektif Johan mengedipkan mata ke arah Maria. Lalu dia dan Inspektur James pergi meninggalkan kami berdua yang ada di atap gedung. Setelah itu Maria langsung berlari memelukku. Ia memukul-mukul dadaku.

“Jahat! Jahat! Jahat!” katanya. “Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja?”

“Aku sudah ada di sini. Aku tak akan meninggalkanmu lagi,” kataku.

Kami saling berpandangan. Maria tersenyum kepadaku. Senyuman yang paling manis yang pernah aku lihat. Kembali lagi aku mencium bibirnya. Maria memanggutku, kami berciuman mesra sekali, seolah-olah dunia milik berdua. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Kami habiskan siang hari itu dengan berciuman di atas atap. Bodo amat. Emang udah kangen koq.

Bersambung