Lentera Hitam Part 26

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 25

Elemental vs Elemental

NARASI ANDRE

Aku dan Puri berada di tempat Alex. Kami membahas tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kalau para aparat bisa membantu ATFIP sepeti itu, mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa. Maka tinggal menunggu waktu saja hingga itu terjadi kepada para elemental ini. Mungkin memang ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Puri.

Mungkin karena rasa jengkelku kepada Maria, mungkin juga karena aku ingin pelarian, aku jadi makin dekat dengan Puri. Dia memang memperlakukanku dengan khusus, lebih tepatnya sangat spesial.

Mungkin ibarat gayung bersambut, aku pun tidak menolak perlakuannya. Gila apa? Udah ngasih keperawanannya buat aku. Aku jadi nggak enak. Tapi berkali-kali ia mengatakan bahwa ia sadar aku masih suka ama Maria.

Dan ada kejutan khusus hari itu. Aku mengajak Detektif Johan dan Inspektur James ke tempat Alex. Ada yang ingin diberitahukan oleh Inspektur James. Kedantangan keduanya tentu saja membuat para elemental sedikit terkejut. Tapi mereka harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tempat Alex ini merupakan sebuah gedung tua yang tidak terurus. Tapi karena para elemental tinggal di sini, akhirnya tempat ini pun sedikit terawat. Inspektur James tampak tertarik dengan para elemental itu, mungkin karena dia baru saja melihat hal ini. Atau mungkin saja tidak.

“Yo, detektif?! Apa kabar?” sapa Alex. Ia memang sedikit ugal-ugalan.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” tanya Detektif Johan balik.

“Seperti yang kalian ketahui, kita siap perang,” ujar Alex.

“Inspektur James ingin menyampaikan sesuatu,” kata Detektif Johan.

“Hmm??” Alex menoleh ke pria berkumis yang ada di samping Detektif Johan.

“Ada apa inspektur?” tanya Alex.

“Mungkin kalian sudah tahu bahwa selama ini ATFIP disusupi oleh Dark Lantern. Sebuah sekte yang katanya sebagai pembawa kabar dari Mesiah. Dan mereka berusaha untuk menghabisi para elemental. Sebenarnya persoalannya tidak seperti itu, tapi lebih rumit,” kata Inspektur James.

“Kami mendengarkannya inspektur,” kata Alex.

“Ada sebuah ajaran bahwasannya barangsiapa yang bisa menumpahkan darah di lima titik yang terbentuk dengan pentagram, maka dia bisa memanggil Iblis. Itulah yang terjadi sekarang. Kalian memang tak pernah tahu atau memang tahu tapi tidak mengerti, tapi itulah yang terjadi.

Dulu ada 8 Miles. Di mana di sana ada pembantaian yang dilakukan oleh Dark Lantern dengan berkedok untuk menghabisi para elemental. Tapi sebenarnya tidak demikian. Yang terjadi justru para elemental berusaha melindungi orang-orang yang tidak bersalah.

Namun mereka semuanya dibantai dengan sadis oleh Dark Lantern. Peristiwa itu dikenal dengan nama 8 Miles. Polisi menandai kasus ini sebagai kasus yang tidak terpecahkan, karena tak ada saksi mata, tak ada barang bukti, karena tiba-tiba satu apartemen telah dibantai semua. Tidak tua, juga tidak muda, bahkan anak-anak tewas di tempat ini.

“Peristiwa berikutnya adalah di titik kedua, kejadiannya sama persis seperti 8 Miles. Kami menyebutnya 8 Miles kedua. Semuanya sama persis korbannya pun sama. Dan kejadian ketiga memang tidak melibatkan para elemental secara langsung, tetapi tetap sama adanya pertumpahan darah. Kejadian keempat yaitu teman kalian, berkedok penggerebekan terhadap teroris, kalian secara tak langsung terlibat di sana. Pertumpahan darah terakhir terjadi baru-baru saja. Itu adalah titik terakhir sebelum mereka akan menyambut sang Iblis.”

“Jadi maksudmu Dark Lantern adalah kelompok yang ingin membangkitkan Iblis?” potong Alex.

“Dari semua peristiwa ini sebuah syarat yang harus dilakukan oleh Dark Lantern adalah mengorbankan anggotanya paling tidak lima anggota agar pesta darah itu bisa diterima oleh sang Iblis Azrael. Dulu kalian, para elemental yang berjuang mengurung sang Iblis.

Namun sekarang sejarah adalah milik orang yang menang. Mereka sekarang di atas kemenangan. Karena itu mereka akan menggunakan momen ini untuk memuluskan maksud mereka memanggil sang Iblis, Azrael.

“Hari ini aku akan memperkenalkan kalian kepada orang yang disebut sebagai ibu dari semua elemental. Dia adalah Lili van Bosch seorang Balancer. Lilis, keluarlah!” kata Inspektur James.

Dari bawah bangunan, kami melihat seseorang wanita berambut panjang, bahkan sampai menyentuh lututnya. Wanita itu bermata teduh, wajahnya sangat cantik, gaunnya panjang sampai ia seret. Diakah wanita yang muncul waktu itu?

“Wanita itu…aku bisa merasakannya, dia yang kemarin datang melawan Robert,” kata Puri. Ia tiba-tiba saja menangis. Kenapa?

“Puri? kenapa kamu menangis?” tanyaku.

“Entahlah, tiba-tiba saja aku menangis, seolah-olah ada rasa kerinduan di dalam dadaku,” jawab Puri.

“Anak-anakku, semoga kalian selalu diberkati,” kata Balancer.

“Ke..kenapa aku menangis?” kata Alex.

Semua para elemental yang ada di ruangan itu juga ikut menangis.

“Aku adalah Lili van Bosch, seorang Balancer. Akulah yang memberikan kekuatan elemental itu kepada kalian ketika kalian masih bayi. Aku memberkati kepada kalian semua kekuatan itu agar kalian bisa bersatu saat ini untuk mengalahkan Azrael. Aku terlambat untuk muncul, bukan berarti aku tak ingin menolong kalian, tapi aku ingin kalian lebih kuat lagi ketika bertemu denganku. Sekarang adalah saat yang tepat,” kata Balancer.

“James, kamu tak pernah bicarakan tentang hal ini,” kata Detektif Johan.

“Ada banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan Piere,” kata Inspektur James.

“Anak-anakku, aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan kalian sekarang ini. Alex, kemarilah nak!” kata Balancer.

Alex entah kenapa ia menangis dan langsung memeluk Balancer, “Ibuuuu….huaaaaaaaa…!”

Dan kemudian diikuti oleh para elemental lainnya. Balancer menyapa mereka satu per satu. Puri juga ikut-ikutan, ada sebuah ikatan aneh di antara Balancer dan para elemental ini yang tidak bisa aku jelaskan. Tapi sungguh ini adalah pemandangan teraneh yang pernah aku lihat seumur hidupku.

***

Balancer menjelaskan kepada kami bahwa kurang lebih seminggu lagi saat planet-planet dan satelit-satelit sejajar saat itulah dimulainya kebangkitan Azrael. Kami semua sekarang seperti bersiap untuk berperang. Banyak dari kami berlatih, dan Balancer mengajari semua elemental untuk menggunakan kekuatan elemental mereka secara maksimal. Puri pun sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Alex juga, aku bisa merasakan kekuatan mereka. Dan aku?

Aku cukup tertarik dengan sarung tangan yang robet pakai kemarin itu. Aku akhirnya mencoba membentuk sarung tangan sendiri seperti Robert. Kuutak-atik tongkat jolt yang aku bawa dari tangan orang-orang ATFIP itu, dan aku modif sendiri. Sekarang bentuknya aku modif seperti gelang agar aku lebih mudah untuk menggunakan kekuatan elementalnya.

Hari itu perasaanku tidak enak, seolah-olah akan terjadi sesuatu.

“Kita pergi yuk,” ajak Puri.

“Kemana?” tanyaku.

“Kemana kek gitu, agak bosan aja di sini,” jawabnya.

Aku setuju. Kami pun akhirnya jalan-jalan keluar dari gedung. Kami menyusuri halaman apartemen yang sudah tak terpakai itu. Halamannya cukup luas, tapi sudah ditumbuhi semak belukar dan ilalang. Beberapa orang elemental tampak sedang berlatih di luar gedung.

“Kamu kenapa sih?” tanya Puri. “Koq kaya’nya wajahnya suntuk?”

“Perasaanku nggak enak Pur,” jawabku.

Puri mengangguk-angguk, “Aku juga. Sepertinya akan ada sesuatu yang datang.”

Aku menggandeng tangannya sekarang. Puri tersenyum saja.

“Ndre, kamu punya wasiat nggak?” tanyanya.

“Wasiat?”

“Yah, kalau misalnya kamu tidak selamat dalam pertempuran terakhir kita nanti.”

“Hmm…apa ya, mungkin wasiatku aku ingin minta maaf kepada ayah dan ibuku, karena aku terkadang membuat mereka susah.”

“Itu saja?”

“Mungkin yang lainnya aku ingin bilang kalau aku suka ama Maria.”

“Hmm…, kamu masih ada perasaan ama Maria?”

“Ya iyalah.”

“Setelah semua yang dia lakukan kepadamu?”

Aku mengangguk.

“Setelah apa yang sudah kita lakukan?”

“I..itu…, soal lain.”

“Dan yang kamu lakukan selama ini ke aku? Kamu masih mengingkarinya?”

“Mengingkari apa sih?” aku tak mengerti.

“Kenapa kamu menolongku waktu itu? Kenapa kita bercinta malam itu? Kenapa kamu memegang tanganku sekarang?”

Aku kaget dan melepaskan tangannya. Puri langsung memelukku.

“Sudahlah Ndre, fahamilah kalau kamu sekarang ini menyukaiku. Iya bukan? Karena aku sekarang ini merasakannya. Rasanya di dadaku sesak Ndre. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Maria kepada Ray sekarang. Ndre…jangan pergi pliiss.”

Aku tak tahu harus berbuat apa. Puri sangat erat memelukku sekarang ini. Memang sih, ada yang aneh. Aku kenapa dulu menolong dia? Kenapa juga aku bisa bercinta dengan dia. Dan kenapa aku reflek memegang tangannya. Apa memang aku sekarang sudah menyukainya?

“Aku…mencintaimu Puri,” kataku sambil membalas pelukannya.

“Aku juga Ndre, aku juga,” katanya.

Kami berciuman hari itu, sungguh aku tak pernah merasakan ciuman seperti ini sebelumnya. Walaupun aku pernah berciuman dengan Maria, tapi tidak pernah sedalam ini, tidak pernah selembut ini. Rasanya nikmat, tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Bahkan rasanya manis. Apakah ini karena kami sama-sama mencintai?

NARASI MARIA

“Maria, aku akan pulang,” terdengar suaranya Ray.

“Iya Ray, aku tahu,” kataku.

Semenjak sebulan terakhir ini aku mendengar bisikan Ray. Aku yakin itu Ray. Suaranya sangat jelas. Mungkin orang-orang mengira aku berhalusinasi, tidak ayahku, tidak juga Andre, sama saja semuanya. Tapi aku benar-benar mendengarnya. Sangat jelas.

“Maria, kemarilah. Aku datang,” kata suara Ray lagi.

“Iya Ray, aku ke sana!” aku pun berlari. Mengejar suara Ray. Aku tahu itu dia, dia datang.

NARASI ANDRE

Kami semua mendengar keributan di luar sana. Segera aku, Puri, Alex dan Tim keluar, juga bersama beberapa elemental lainnya. Kami mendapati lima orang berseragam ATFIP sedang berdiri di depan apartemen. Apa yang terjadi? Mereka tak membawa tongkat Jolt, ataupun sarung tangan Jolt. Tapi aku melihat salah seorang dari mereka bisa memainkan bebatuan melayang-layang di tangannya.

“Siapa kalian?” tanya Alex.

“Kami dari ATFIP, namaku Fei,” kata orang pertama.

“Namaku Black,” kata orang kedua.

“Namaku Yuzak,” kata orang ketiga yang bermain-main dengan batunya.

“Namaku Elena,” kata orang keempat dia satu-satunya cewek.

“Namaku Mark,” kata orang terakhir.

“Oh, dari ATFIP, punya nyali juga kalian hanya mengirim lima orang kemari,” kata Alex.

“Sebenarnya kami tim penyapu ranjau. Anggap saja kami ini orang yang bekerja di balik layar. Tim berikutnya seolah-olah yang akan jadi pahlawan,” kata Fei.

“Kalian ini tak memakai Jolt, apakah kalian elemental?” tanyaku.

“Wah wah, tepat sekali. Kamu siapa?” kata Black.

“Aku Andre,” jawabku.

“Elemental? Elemental katamu? Bagaimana mungkin elemental bisa bergabung dengan ATFIP?? Kalian jangan bercanda!” kata Alex.

“Apakah ini tidak cukup?” tanya Black. Ia mengeluarkan kabut gelap di telapak tangan kanannya. “Elemenku adalah kegelapan.”

“Lex, mereka sungguh-sungguh,” kataku.

“Aku Fei, elemenku api,” kata Fei. Dia mengibaskan tangannya, seketika itu juga di depannya langsung menyala kobaran api yang besar.

“Aku Elena, elemenku cahaya. Kalian tak akan bisa mengalahkan kami. Bersiaplah menemui ajal,” ujar Elena.

Tanpa disangka-sangka sebelumnya kelima orang ini pun akhirnya mengeluarkan kekuatan elementalnya untuk menyerang kami. “Whoaaa!”

Puri dan aku langsung menghindar ketika sebuah bola batu raksasa melayang ke arah kami. BLAAR! Suaranya membuat gaduh semua orang. Alex sudah melompat ke udara dengan elemental anginnya. Aku memasang dua gelang Joltku di lengan. Elemen tanah dan air. Apa yang akan terjadi kalau aku memakai keduanya? Siapa tahu?

Tanpa disangka, di udara sudah ada orang di sana. Itu Mark. Ternyata dia memiliki elemen petir, karena aku bisa melihat kilatan cahaya listrik dari lompatan kakinya. Alex langsung disambut dengan pukulan keras ke perutnya. Pemuda bertato itu pun terpental menghantam tembok apartemen hingga remuklah tembok yang menahannya. Aku bingung sekarang harus melawan siapa. Puri menarikku, dia sekarang berhadapan dengan Fei.

Oh baiklah, ini lawan yang tepat sepertinya.

“Dua orang melawan satu, tak masalah,” kata Fei.

Karena dia berelemen api, maka kelemahannya sudah pasti air. Aku sudah menyerap air dengan gelang Jolt di tangan kiriku. Kuputar-putar air itu hingga membentuk piringan yang siap menghantam siapa saja.

Fei mengulurkan tangannya dan membentuk beberapa bola api, kemudian melemparkannya kepada kami. Puri membentuk blokade dengan elemen tanahnya, aku menyerang Fei dengan elemen air. Piringan air itu pun bertabrakan dengan bola-bola api milik Fei, tapi bola-bola api itu lebih kuat. Aku hampir saja kena kalau saja tidak tanggap membuat perisai dengan tangan kananku yang punya elemen tanah. Sigh!

Puri melayang dengan tanah yang dia buat pijakan sekarang. Dia terbang dengan platform tanah itu ke arah Fei sambil menembakkan peluru-peluru dari kerikil ke arah Fei. Pemuda berelemen api itu menghirup nafas dalam-dalam. Nggak mungkin, emang bisa? Ya, tentu saja dia bukan seorang elemental biasa, dengan mulutnya ia menyemburkan nafas api yang sangat besar. Puri hampir saja terpanggang kalau saja aku tidak cepat tanggap menutupi tubuhnya dengan air. Alhasil, Puri terjatuh, segera ia kutangkap. HUP!

Wajah kami saling bertatapan untuk sesaat. Ia tersenyum kepadaku. Mungkin, saat itu boleh dibilang sesuatu yang paling romantis yang pernah aku lakukan kepada seorang cewek. Tapi, kami tak boleh bermelankolis ria. Itu di depan kami ada musuh. Segera Puri berdiri dan siap dengan elementalnya.

“Ndre, musuh kita ini bukan elemental biasa. Elementalnya lebih kuat. Bahkan mungkin Tim bukan apa-apanya,” kata Puri.

“Aku bisa melihat itu,” kataku.

“Ndre, tolong ulur waktu. Aku ada rencana!” kata Puri.

“Maksudnya melindungimu? Oke.”

Fei berlari menuju ke arahku. Aku sudah bersiaga kalau-kalau ia akan mengeluarkan elemen apinya, ternyata aku keliru. Dia memukulku tanpa elemen apinya. Hah? DUESSH! Ughh..rahangku serasa mau copot. Keras sekali pukulannya. Kemudian perutku ditendangnya. Serangan ketiga sikunya menghantam pelipisku. Aku langsung ambruk ke tanah. Gila, apa orang ini jago kung fu juga? Pelipisku nyut-nyutan. Aku merabanya, beneran ini darah. Dia nggak cuma jago elemental tapi juga jago kung fu! Wadehel?

Puri sekarang yang diserang. Fei menghantamkan sikunya ke dada Puri. Puri mundur ke belakang namun tangannya ditarik lagi dan sebuah hantaman uppercut keras ke rahangnya membuat Puri harus ambruk ke tanah. Gila ini orang, nggak sadar apa yang dihajarnya itu cewek?

Emosi? Ya jelaslah. Itu cewek gua woi!

Aku sudah tak menghiraukan rasa sakit. Segera aku bangkit dan melempar batu ke arah Fei. Tanpa menoleh ke arahku, Fei memukul batu yang aku lempar hingga hancur. Hah? Dia menoleh ke arahku dan dengan jurus kung fu-nya dia menendangku.

Aku bisa menghindar, tapi kaki yang satunya meluncur ke perutku. Dengkulnya sukses menghantam perutku lagi. Aku lalu menggerakkan tangan kananku untuk mengunci kakinya dengan kekuatan elemen tanah. Fei terjerembab. Dan sebuah batu melayang menghantam pipinya. DUASSHH!

Puri mengendalikan elemen tanah sambil sempoyongan.

“Arghh…aku bilang melindungiku, malah aku kena. Gimana sih?” katanya.

“Sorry, habis dia jago kung fu!” kataku. Aku masih meringis kesakitan. “Hajar saja udah, kalau yang seperti ini susah berpikir strategi.”

Puri membersihkan bibirnya yang berdarah. Di depan tampak Fei sudah bangun lagi. Tiba-tiba dari bawah kakinya muncul api. Eh, mau apa dia? Belum sempat aku berpikir dan bersiap ia sudah melesat ke arahku dan menghadiahkan lututnya ke wajahku. Uh, sakit! Aku salto terkena hantaman lutut si Fei ini. Kuat sekali dia.

Setelah itu aku merasa dunia ini berputar-putar. Pusing sekali kepalaku. Entah apa yang terjadi, yang jelas aku hanya bisa mendengar dentuman tanah, suara listrik, kobaran api dan entah suara apa lagi. Pusing sekali soalnya. Aku perlu memulihkan diri beberapa saat hingga pandanganku bisa fokus. Dan aku agak terkejut ketika melihat banyak para elemental melawan lima orang elemental itu. Ternyata pertempurannya sudah dimulai.

Aku hanya bisa melihat pertarungan ini. Puri tampak dibantu oleh teman-temannya untuk menghadapi Fei. Si Fei ini cukup tangguh, dia bahkan mampu melawan enam orang sekaligus, bahkan ia sedikit sekali menggunakan elemen apinya.

Sementara itu Alex dibantu oleh rekan-rekannya melawan Mark dengan kekuatan petirnya. Tapi ia tak bisa berbuat banyak karena kecepatan Mark sangat cepat. Dan Yuzak, orang ini lebih gila. Dia bisa membentuk sebuah tangan raksasa dan menghantamkan tangan raksasa itu ke lawan-lawannya seperti mengayunkan raket tenis. Beberapa elemental yang dihantam tampak terluka parah. Dan orang ini tertawa ketika melihat itu.

Elena dan Black, keduanya tampak hanya duduk bersantai sambil menikmati pertarungan yang tersaji. Apa? Kenapa mereka tak bertarung. Salah seorang elemental mencoba menyerangnya dan Black hanya menjentikkan jarinya ke arah elemental itu dan aneh, sang elemental itu tiba-tiba terjatuh.

Ia meraung-raung memegangi matanya. Kenapa? Apa yang terjadi? sang elemental itu meraba-raba sekarang seolah-olah ia tak bisa melihat. Hah? Memangnya ada kemampuan seperti itu?

Dan, sesuatu yang tak kuduga terjadi. Di saat semuanya sibuk bertarung…tiba-tiba ada Maria di sana. Dia …kenapa ada di sini?

“Ray?! Aku di sini Ray! Kamu di mana?!” kata Maria. Kenapa dia manggil-manggil Ray?

“Hoi cewek! Ngapain lo ada di sini??!” seru Alex. “Pergi! Ini bukan tempatmu!”

“MARIA PERGI!” seruku.

“MARIA! Jangan di situ!” seru sebuah suara. Itu Detektif Johan yang melihat pertarungan kami dari atas.

Lima orang elemental tadi menoleh ke arah Maria, terutama Black dan Elena. Mereka sepertinya ingin melukai Maria. Yuzak sudah bersiap dengan tangan raksasanya akan menghantam Maria.

“Celaka! Maria! Menghindar!” seru Balancer.

Sang Balancer tampak terkejut, dengan kekuatannya ia membentuk baju besi ke seluruh tubuhnya dan pergi ke arah Maria. Alex dengan kecepatan anginnya berusaha melindungi Maria. Puri juga membentuk tanah perlindungan ke sekeliling Maria. Sekarang hampir seluruh orang berusaha melindungi Maria. Tidak, sudah terlambat. Maria! TIDAAAAAKKKKK!

Bersambung