Lentera Hitam Part 25

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 24

Sang Pewaris

Aku sudah berada di Syberia selama satu bulan. Rasa kerinduanku kepada Maria makin besar. Dan latihanku makin sulit. Aku berusaha untuk membuat objek dengan seluruh elemen yang aku kuasai.

Aku bisa membuat pedang dari batu, bisa membuat pedang dari api, aku bisa membuat macam-macam beda dari air, aku bisa membuat boneka salju dan seterusnya. Aku juga bisa bicara dengan petir. Aku bisa bicara dengan besi. Sejujurnya aku tak mengerti bagaimana dengan cepat aku bisa bicara dengan banyak elemen.

Hari ini, aku pun dijelaskan oleh Michele tentang sesuatu.

“Engkau mungkin ingin tahu tentang apa itu Elemental, Balancer dan Creator,” kata Michele.

“Mist adalah aku. Sedikit orang yang tahu tentang Mist dan jumlah mereka tidak banyak. Aku hidup tidak dengan memakan makanan yang kalian makan. Aku hanya hidup dengan minum air Ray. Karena itulah aku sangat bersahabat dengan banyak hewan.”

Ah, itu menjelaskan kepadaku kenapa serigala-serigala yang dulu itu bisa bersahabat dengan dirinya.

“Elemental seperti yang kamu tahu, mereka adalah manusia yang mempunyai kekuatan bisa bicara dan berkomunikasi dengan elemen-elemen yang sesuai dengan yang mereka bisa rasakan. Dan mereka mendapatkan berkah ini dari Balancer. Setiap tahun anak yang lahir akan terpilih untuk diberi berkah ini. Itulah salah satu tugas dari Balancer. Dia mendapatkan keistimewaan ini karena ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang sangat besar nantinya. Kemudian Creator. Jenis ini lebih bisa bicara dengan banyak elemen, seperti dirimu. Kamu adalah seorang creator Ray.

“Perbedaan yang mendasar antara Elemental dan Creator adalah dari cara mereka berbicara dengan unsur. Elemental hanya mengendalikan satu unsur saja. Sedangkan Creator bisa lebih dari satu, dan mereka bisa menciptakan unsur-unsur baru. Seperti kamu yang bisa membuat salju dan es dari air dan udara. Kamu juga bisa membuat magma dari tanah dan api. Tapi kamu lebih dari seorang Creator Ray. Lebih daripada itu.

“Kamu mempunyai sesuatu yang disebut cinta. Kamu masih ingat ketika kamu mengeluarkan kekuatan terbesarmu saat Bapa Joseph meninggal?”

“Iya, aku masih ingat,” jawabku.

“Sekarang keluarkan lagi kekuatanmu itu!”

“Di sini?”

“Iya, jangan takut.”

“Tapi bagaimana denganmu?”

“Tenang saja, aku tak apa-apa.”

Aku mengingat-ingat kembali bagaimana aku melakukannya. Saat itu aku penuh emosi, marah, karena orang yang aku cintai disakiti oleh orang lain. Iya, itu dia. Kemarahan. Tanganku sudah kembali memancarkan cahaya berwana biru.

Aku mengingat-ingat kembali orang-orang yang telah menyakiti Bapa Joseph, yang telah menyakiti Agni, yang telah menyakiti Maria. Angin dan Air mendengarkan kesedihanku. Mereka semua mendengarkan bisikan hatiku. Dengan seluruh kekuatan itu aku merasakan sesuatu yang bergetar di dalam dadaku. Ada sebuah energi yang tertahan di sana.

Kemudian ketika aku lepaskan energi yang tertahan itu. Aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri sebuah badai salju tiba-tiba berhembus menjauh dari hadapanku. Michele tampak duduk dengan tenang di depanku. Dia seolah-olah memakai sebuah pelindung yang tidak terlihat. Badai salju itu tidak membekukan dirinya, sedangkan di sekitar tempat itu semuanya sudah menjadi es.

“Luar biasa, tak ada yang bakal selamat dari ini,” ujarnya. “Kecuali mereka yang mempunyai perlindungan api.”

Aku tiba-tiba saja lemas. Energiku seperti terkuras habis.

“Duduklah Ray. Istirahatlah. Aku akan menceritakanmu tentang sesuatu,” kata Michele.

Aku pun duduk di atas batu sambil mengatur nafasku.

“Tentang keluarga van Bosch,” ujar Michele.

Michele kemudian bercerita tentang keluarga Van Bosch, asal mula kenapa para elemental sampai ada di dunia.

Pada jaman dulu dikenallah keluarga para ksatria. Mereka adalah keluarga Van Bosch. Ada Thomas, William dan Lili. Mereka bertiga adalah para ksatria yang disebut dengan Defender. Walaupun perempuan Lili sangat tangguh, bahkan ia memiliki pasukan sendiri yang mana di seluruh wilayah Eropa, ia tak terkalahkan. Demikian juga Thomas. Dia sangat kuat.

Pada zaman itu kegelapan masih menguasai manusia. Mereka masih sibuk untuk melawan para tukang sihir dan makhluk-makhluk dari dunia kegelapan. Sang raja akhirnya mengutus ketiga ksatria itu untuk menaklukkan raja Iblis Azrael.

Sebelum pergi mereka diberkati oleh orang-orang suci untuk bisa mengendalikan elemen. Dari sinilah awal mula seseorang disebut sebagai elemental.

Ketiga bersaudara itu pun akhirnya menjelajahi seluruh daratan untuk menemukan keberadaan Azrael yang selalu mengirimkan makhluk-makhluk kegelapan.

Ada sebuah sumpah yang diucapkan oleh keluarga Van Bosch, mereka akan saling melindungi, saling percaya dan tidak boleh saling bunuh. Hal itu menjadi komitmen mereka. Namun pada suatu misi ada persinggungan antara Thomas dan Lili.

Suatu ketika mereka sedang menggempur benteng Azrael. Peperangan terjadi 10 hari 10 malam tanpa henti. Tapi pihak Thomas dan kawan-kawan akhirnya menang walaupun dengan banyak pengorbanan. Di benteng Azrael terakhir itu mereka menemukan sebuah harta yang tidak ternilai. Di sinilah akhirnya Thomas terpengaruh oleh kekuatan gelap Azrael.

Azrael yang sangat membenci para elemental mempengaruhi Thomas untuk menyerang para elemental balik. Lili terutama. Ia tentu saja tak bisa melawan kakaknya karena telah bersumpah untuk tidak menyakiti kakaknya. Akhirnya sejarah dimiliki oleh orang yang menang.

Thomas yang terpengaruh sisi gelap Azrael pun kemudian berbalik menyerang para elemental tanpa ampun. Pembantaian terjadi di mana-mana, hingga Lili pun putus asa untuk bisa mengalahkan kakaknya.

Dia dan William kemudian menghindar mencari tempat yang selamat. Sementara itu Thomas mendirikan perkumpulan bernama Dark Lantern. Dia memutar balikkan fakta bahwa elemental adalah kekuatan dari Iblis yang harus ditumpas. Sedangkan dia sendiri perlahan-lahan, sedikit demi sedikit membangun kekuatan untuk kebangkitan Azrael.

Lili dan William pun berdo’a di sebuah tempat suci. Mereka berdo’a dengan tulus untuk diberikan kekuatan agar bisa mengalahkan Thomas dan Dark Lantern. Akhirnya do’a mereka dikabulkan. Mereka berdua menjadi Balancer.

Mereka punya kekuatan untuk memberkati bayi-bayi agar menjadi elemental. Berharap mereka akan menjadi generasi yang bisa menyelamatkan dunia dari Azrael. Azrael belum bangkit karena ia menunggu saat yang tepat. Saat yang tepat itu adalah ketika planet-planet, bulan, satelit dan matahari berada dalam satu garis lurus. Saat itulah dengan lima titik pentagram yang telah ditandai, dia akan bangkit.

Lili dan William berusaha untuk menghalangi kebangkitan Azrael walaupun harus melanggar sumpah mereka. Keduanya bisa hidup lama karena kekuatan elemental yang mereka punyai. Namun tidak ada yang abadi di dunia ini.

Lili bertemu dengan James dalam sebuah penandaan pertama yang dilakukan oleh Thomas. Sebuah tempat yang disebut dengan 8 Miles. Di sanalah awal mula Lili akhirnya berhubungan dengan James. Mereka berdua kemudian menjadi kekasih dan akhirnya lahirlah seorang bayi bernama Ray.

Namun nahas. Kelahiran Ray diketahui oleh Thomas. Bayi itu pun diburu. William sampai mengorbankan dirinya agar Ray selamat. Bayi itu kemudian dititipkan oleh James ke panti asuhan. Untuk mengingat siapa Ray, maka James dan Lili memberikan sapu tangan 8 Miles yang mereka dapatkan dari perjumpaan mereka.

Selama ini Ray mendapatkan perlindungan dari James. Jameslah yang mengirimnya uang, yang melindungi identitasnya dari Dark Lantern. Dan sekarang sudah saatnya Ray bertemu dengan kedua orang tuanya. Tapi sebelum itu ia harus kuat terlebih dulu menjadi seorang Creator. Ray adalah orang yang ditakdirkan untuk mengalahkan Azrael.

Michele selesai bercerita.

Michele memegang pundakku, “Ray, menangislah kalau kamu ingin menangis. Memang semuanya tak seperti apa yang kita duga. Kehidupan ini, semuanya telah terjadi. Tinggal bagaimana kita menjalaninya. Kamu harus kuat, kamulah harapan kami satu-satunya.”

Aku lalu memeluk Michele. “Aku tak pernah meminta ini, aku hanya ingin bisa bertemu dengan ayah dan ibuku.”

“Aku tahu, aku tahu,” kata Michele.

Saat memelukku aku bisa merasakan banyak kebijaksanaan dari Michele. Dia memang kelihatan seperti seorang anak remaja, tapi aku bisa merasakan jiwanya telah mengarungi lautan asam dan garam melebihi aku. Mungkin ratusan tahun aku tak akan sanggup melawan kebijaksanaan yang ada pada dirinya.

***

Aku berada di dalam sungai glester. Suhunya jelas saja dingin. Dan aku disuruh oleh Michele untuk berada di dalamnya. Ini memang gila. Tapi aku harus bisa mengontrol kekuatanku. Bersahabat dengan seluruh elemen.

Aku harus konsentrasi, memang ini bukan ide yang bagus. Seorang anak manusia yang masuk ke dalam sungai glester dalam waktu setengah jam bisa terkena hypothermia. Tapi inilah yang aku lakukan. Dengan salamander aku berusaha mengontrol suhu tubuhku. Tapi ini juga tak bisa berlangsung lama. Karena aku sendiri yang tidak kuat.

Hari-hariku sebagai seorang creator dimulai. Aku lebih banyak membuat objek dengan menggunakan elemen-elemen dan berlatih keras untuk itu. Apa yang ada diimajinasiku maka itulah yang bisa aku buat.

Seperti membuat boneka salju dengan memerintahkan air dan udara. Lalu membuat bunga api dengan memerintahkan salamander. Aku juga berlatih untuk bisa menyembuhkan luka dengan elemen air. Membangun bangunan-bangunan dengan elemen tanah. Membuat listrik dengan bantuan elemen listrik.

Dengan bantuan Michele aku makin dekat dengan para elemen. Dengan serigala-serigala yang selalu bersamanya. Juga dengan pepohonan-pepohonan, yang mana mereka bisa bicara juga denganku. Michele cukup kagum denganku karena kemampuanku berbicara dengan alam melebihi ekspetasi dirinya. Aku pun sekarang merasa lebih lembut, tapi lebih keras, lebih kuat.

Michele pun mengajariku berkelahi. Dia mengajariku bagaimana caraku bertarung dengan menggunakan elemen besi. Bagaimana bertarung dengan menggunakan seluruh elemen. Hampir setiap hari aku mendapatkan ilmu baru. Dan sampailah aku kepada sebuah pelajaran yang membuatku bisa berkomunikasi dengan semua orang di seluruh dunia.

“Kamu ingin bisa berbicara dengan Maria?” tanyanya.

“Emang bisa?” tanyaku.

“Kalau memang bisa, apakah kamu mau bicara dengannya?”

“Tentu saja,” kataku dengan wajah gembira.

“Kamu sebenarnya bisa melakukan ini. Kamu pernah dengar lagu yang syairnya kurang lebih seperti ini, ‘Wahai angin sampaikan cintaku kepadanya’?”

“Hmm..mungkin.”

“Kenapa kamu tak mita bantuan angin saja untuk bicara dengan kekasihmu itu?”

“Bisa?”

“Ayolah Ray, kamu seorang creator. Cobalah!”

Aku sekarang tak perlu lagi menggunakan kekuatanku hanya untuk bicara dengan semua elemen. Aku pun bertanya kepada elemen angin. Apakah mereka bisa membantuku. Mereka mendengarkanku. Mereka bisa membantuku.

“Angin, kabarkanlah kepada Maria, bahwa aku mencintai dia. Aku akan kembali. Dan Maria kamu harus sehat, kamu jangan sakit. Aku akan bertemu lagi denganmu wahai cintaku,” kataku.

Beberapa elemen angin tampak saling berebut untuk mendapatkan mandat dariku. Aku bisa melihat beberapa pusaran angin bertiup meninggalkanku.

“Seperti itu?” tanyaku.

“Iya, tampaknya mereka senang sekali,” jawab Michele. “Selamat Ray. Kamu sudah bisa masuk ke latihan berikutnya. Dan ini adalah latihan terakhir untukmu.”

***

“Ray, ini adalah ujian terakhir. Setelah ini sebagai seorang Mist ilmuku sampai di sini untuk membimbingmu menjadi seorang Creator,” ujar Michele.

“Jadi, setelah ini….?”

“Iya, setelah ini kamu harus pergi dari tempat ini, kembali ke rumahmu. Dan kamu siap menemui ibumu. Kamu sudah siap melakukan tugas terakhirmu setelah ini.”

Benarkah? Aku akan sangat merindukan tempat ini. Tempat yang sudah aku tinggali selama kurang lebih tiga bulan. Selama itu pula aku sudah bersahabat dengan banyak hal. Bersahabat dengan angin, sungai, api, pepohonan, bebatuan. Rasanya waktu terlalu cepat untuk ini.

“Kamu siap?” tanya Michele.

“Aku siap,” jawabku.

“Ikuti aku, kita akan pergi ke sebuah tempat,” kata Michele.

Michele memejamkan matanya. Ia berbicara dengan sesuatu. Di kakinya aku melihat sebuah percikan listrik. Dia berbicara dengan Spark nama elemen listrik yang ada di alam ini. Dan aku melihat kilatan menjulang tinggi ke langit namun membentuk sebuah lengkungan parabola ke suatu tempat jauh di sana. Mau tak mau aku juga berbuat serupa.

Ternyata Spark juga berniat menolongku. Maka aku pun berjalan dengan elemen petir ini. ZAP! aku sudah pergi jauh. Sebenarnya yang aku lihat adalah aku hanya berjalan biasa di sebuah jembatan. Jembatan itu terbuat dari kilatan cahaya listrik memanjang jauh ke depan. Di saat yang sama aku melihat Michele, ia tersenyum kepadaku.

“Apa yang kamu rasakan Ray ketika semua yang ada di sekitarmu melambat?” tanyanya.

“Fantastis,” jawabku.

“Kamu sekarang seribu kali lebih cepat dari apapun di dunia ini,” katanya.

“Aku bisa merasakan itu,” kataku.

Dalam waktu singkat kami sudah tiba di sebuah pulau. Di pulau ini ada sebuah gunung berapi yang aktif. Michele tiba-tiba raut wajahnya berubah.

“Di depan sana, kamu akan bertemu dengan banyak sekali makhluk-makhluk yang tidak pernah engkau lihat sebelumnya. Tujuanmu cuma satu, temui dua elemen yang berada di dalam gunung itu. Kalau kamu mujur, kamu akan bertemu dengan keduanya. Tapi untuk bertemu dengan salah satu dari keduanya tidak mudah. Yang pertama bernama Dark Matter, materi kegelapan yang ada di dunia ini. Kalau kamu tidak kuat, maka dia akan menyerapmu.

Kalau kamu cukup beruntung maka kamu akan menjadi sahabatnya. Lalu Void, aku yakin yang satu ini tidak mudah. Aku saja sampai sekarang tidak bersahabat baik dengan Void. Dari seluruh elemen dialah yang paling sombong, yang paling kuat dan yang paling menakutkan. Jika kamu kembali dengan membawa dua elemen ini. Kamu lulus. Ingat-ingatlah apa yang aku ajarkan kepadamu selama ini. Dan satu lagi. Jangan pernah putus asa,” Michele menasehatiku seolah-olah ini adalah saat-saat terakhir kita bertemu.

“Baiklah, aku akan berjuang,” kataku. Aku melakukan streching sejenak. Pulau ini agak aneh. Bisa jadi juga tidak pernah ada di peta. Pulaunya berada di kutub utara, tapi….kenapa seluruh tumbuhannya adalah tumbuhan tropis?

Tanpa basa-basi lagi dan tanpa menunggu, aku segera pergi. Dan benar apa yang dikatakan Michele. Baru beberapa puluh meter berlari di sini aku langsung bertemu dengan sesosok makhluk besar matanya satu. Titan?? Ini pulau apaan sih?

Raksasa bermata satu ini sudah menginjakkan kakinya seperti aku tidak ada apa-apa baginya. Angin dan Air bekukan dia! Perintahku dan kusentuh kaki Titan yang menginjakku itu. Tapi dia terlalu lambat. Aku saja bisa dengan mudah menghindar dari injakan kakinya dengan bergeser dua langkah ke kiri.

Dan setelah aku sentuh kakinya ia langsung membeku tak bergerak. Baiklah aku baru tahu kalau makhluk raksasa yang bernama Titan itu emang ada. Aku sempat shock.

Aku makin masuk ke dalam pulau dan kali ini aku bisa melihat monyet-monyet bergelantungan dengan posisi yang aneh. Tangan mereka? Iya, tangan mereka ada empat dan kakinya ada dua. Mereka tampak senang melihatku dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain mengiringi perjalananku.

Tak berapa lama kemudian aku dihentikan lagi oleh makhluk yang besar, tingginya dua kali tinggiku. Dan dia gemuk, besar, wajahnya jelek. Tampak taringnya diperlihatkan kepadaku. Troll?? Ada juga makhluk seperti ini? Kukira cuma dongeng saja. Trollnya tidak cuma satu. Aku melihat lima Troll.

Baiklah, Troll terkenal dengan makhluk paling dungu dalam sejarah dan dalam cerita-cerita fiksi. Kalau memang mereka sama dungunya, maka mereka akan dengan mudah ditaklukkan. Satu Troll tampak menunjuk ke arahku, ia memanggil teman-temannya. Mereka langsung mengerumuniku. Aku berkelit untuk bisa lepas dari cengkraman mereka. Mereka berjibaku untuk menangkapku. Aku berlari dan menyelinap di antara pepohonan, akar dan semak belukar. Para Troll itu jelas bodoh. Mereka benar-benar bodoh.

Belum sempat terhenti keterkejutanku aku sudah disambut lagi dengan burung-burung besar yang hampir saja aku ditangkap oleh mereka. Aku berguling-guling di atas tanah bersembunyi di sela-sela pepohonan sebelum kemudian pohon itu malah bergerak. Hah? Ini seperti Elk? Manusia pohon.

Aku bisa melihat wajahnya tampaknya tak senang aku ada di atasnya. Aku langsung turun dan berguling. Aku bersiap-siap untuk menghadapi kejutan selanjutnya. Tidak hanya satu Elk, puluhan Elk tiba-tiba bangkit. Ini apa-apaan sih? Sepertinya satu pulau ini tidak ingin bersahabat denganku.

Salamander, kamu dengar aku? Jadilah pedangku. Dari tanganku muncul sebuah api yang bisa aku pegang, api itu membesar membentuk sebuah golok atau pedang ya? Para Elk itu mulai menyambarkan dahan mereka ke arahku. Aku berkelit. Aku mulai meyerang dengan pedang apiku, aku dengan mudah memotong dahan dan kaki-kaki akar mereka. Mereka murka kepadaku, hanya saja gerakannya sangat lambat. Aku bahkan sekarang sudah pergi lagi menjauhi tempat itu.

There’s too many surprise here.

Pulau itu benar-benar penuh makhluk yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Tapi pertanyaannya adalah kenapa hanya di hutan ini makhluk-makhluk ini ada? Ataukah mereka terisolasi di sini?

Aku sudah di kaki gunung. Ada sesuatu yang mendesak tapi aku hanya bisa merasakannya di dalam dada. Perasaan aneh pun mulai menyelimutiku, seperti rasa takut yang luar biasa, gelap, jahat.

Aku mulai naik, cukup terjal jalannya. Hingga aku menemukan sebuah jalan masuk ke dalam gunung. Jalan masuk ini seperti sebuah jalan yang emang sudah dibangun. Aku melihat bebatuan tertata rapi di sana. Aku berusaha mengusir rasa takut itu. BRUK! Di depanku ada makhluk yang cukup aneh dan mengerikan.

Kepalanya seekor singa, mempunyai sayap, dan ekornya adalah seekor ular. Makhluk apaan ini?? Dia mengaum. Air liurnya menetes seolah-olah menandakan bahwa dia lapar. Aku diibaratkan adalah makan malamnya yang sangat lezat.

Kenapa aku sekarang jadi gemetar? Aku pernah melihat makhluk ini sepertinya di dalam buku-buku yang aku baca. Dia mirip Grifon, tapi bukan. Ahh..iya…dia mirip Chimera. Makhluk ini membentangkan sayapnya seolah-olah tak mengijinkanku lewat. Tiba-tiba dari kedua sayapnya muncul sebuah bola air. Heh? Dia elemental juga?

Tidak cukup satu tapi banyak. Makin lama makin banyak bola-bola air yang melayang di sayap Chimera. Bola-bola air itu kemudian meluncur ke arahku. Dengan cepat aku membuat pertahanan dari balok Es. SPLAASHHH! Bola air itu mengenai balok esku dan langsung mencair. Ini bukan bola air biasa. Ini asam! Sial.

Aku mundur dan menghindari lemparan bola-bola air lebih tepatnya bola-bola asam. Bagaimana bisa makhluk ini mengeluarkan bola-bola asam? Apakah dia punya kombinasi agar melakukannya? Kemudian dari ekornya yang berbentuk seekor ular itu juga menembakkan sesuatu ke arahku.

Argghhh….hampir saja, kalau aku tak segera membuat pertahanan dari tanah. Iya, tanah memang yang paling kuat untuk menghadapi serangan zat asam ini.

Aku berpikir sekarang. Mengingat semua pelajaran yang pernah diajarkan oleh Michele. Aku adalah seorang Creator. Dan Creator bisa membuat sesuatu dari gabungan semua unsur. Baiklah. Sepertinya aku tahu poinnya. Seluruh bola-bola asam tadi sepertinya sudah ditembakkan oleh sang Chimera.

Aku keluar dari persembunyianku. Makhluk itu masih menampakkan wajah ketidak sukaannya kepadaku. Kepala singanya itu menyeringai lebar. Kakinya dihentakkan di tanah, suara bedebumnya menggetarkan sekitar tempat itu.

Aku sang Creator. Berarti aku bisa membuat baju tempur sendiri. Tanah, baju tempur dari batu dan tanah akan bisa menahan cairan asamnya. Siapa yang ada di bawah sana? Aku diberitahu namanya adalah Por. Ia dengan senang hati membuatkanku baju tempur.

Dengan sekejap tanah-tanah dan bebatuan yang ada di dekatku mengerubungiku. Dan kini aku sudah punya baju tempur. Walaupun terkesan aneh dengan bentuk baju tempur ini. Listrik, apakah aku bisa memakaimu Spark? Dia bersedia. Aku akan gunakan Spark untuk membuatku cepat bergerak. Api, air, angin, jadilah senjataku.

Kalau dilihat sekarang aku ini seperti golem. Di tangan kananku ada pedang es, di tangan kiriku ada pedang api. So, you wanna try?

Chimera kembali mengembangkan sayapnya, tapi kali ini tidak menyerang melainkan terbang. What? Dia melesat ke udara. Aku menoleh ke atas. Dan tiba-tiba dia sudah menghantamku. Ughh…Aku seperti terhempas oleh kekuatannya yang besar. Dia masih melayang lagi, kali ini dia menyerang lagi dengan bola-bola asamnya.

Aku berlindung dengan baju tempurku. Bisa, berhasil, aku tak terluka. Sekarang rasakan ini! Kuayunkan pedang esku. Chimera tampak terkejut ketika melihat pedang esku bertambah panjang dan panjang. Makhluk itu berkelit ketika pedang esku makin mengejar dia. Pedang es yang aku bayangkan adalah, sesuatu yang tumbuh dan bisa mengejar makhluk aneh ini.

Dan pedang api, dia bisa mengejar sang Chimera seperti peluru homing. Aku lemparkan pedang api itu. Sang Chimera sekarang dikejar dua elemen, dia tak bisa menghindar dan dari arah kanan dia menancap di glester-glester es yang tumbuh mengejarnya tadi, dari sisi kiri ia dihantam oleh pedang apiku. Kudengar aumannya. Auman terakhirnya sebelum ia jatuh ke tanah dengan tubuh yang sudah hancur.

“Terima kasih kalian!” kataku kepada seluruh elemen yang membantuku. Aku pun melepaskan baju tempurku yang kelihatan norak itu.

Perjalanan aku lanjutkan. Kuikuti jalan tadi. Kini aku masuk ke dalam sebuah gerbang. Gerbang ini tinggi. Mungkin ada kalau sepuluh meter. Tinggi sekali. Memangnya siapa yang akan masuk ke tempat ini? Di dalamnya ada bangunan-bangunan besar, yang dipahat.

Ukiran-ukiran kuno tampak menghiasi dinding dan beberapa bangunan itu. Iya, semuanya serba tinggi tak ada yang seukuranku di sini. Aku terus berjalan hingga bertemu dengan magma panas yang menyala-nyala. Aku sudah sampai di dalam gunung? Trus? Apa yang harus aku lakukan di sini.

BUM! BUM! BUM! BUM! Ada sesuatu yang datang. Aku bersiaga. Ini seperti langkah kaki. Dan, benar aku melihat raksasa. Dia besar, badannya kekar. Tapi kepalanya adalah kepala kerbau. Di tangannya dia membawa sebuah palu raksasa. Minotaur? Makhluk ini ada juga? Tapi ini tingginya sekitar sembilan meter. Matanya yang berwarna gelap itu menyorot ke arahku.

“Siapa kamu wahai manusia lancang masuk ke mari?” tanyanya. Suaranya sangat berat dan mengerikan.

Tiba-tiba aku pun merasa takut. Takut bukan karena bentuk tubuhnya, takut karena suaranya. Suaranya saja bisa bikin aku ketakutan? Tidak-tidak soal memberi rasa takut, aku juga bisa. Aku tidak takut!

“Aku Ray, datang kemari karena ingin mencari Dark Matter,” kataku.

“Dark Matter? HAHAHAHAHAHAHAHAHA!” suara tawanya menggema ke seluruh ruangan.

Magma yang ada di belakangku tampak meliuk-liuk ketika sang Minotaur tertawa. Getarannya sampai masuk ke dalam dadaku.

“Apanya yang lucu?” kataku.

“Kamu apa tidak salah tempat? Di sini tidak ada Dark Matter. Selama ribuan tahun aku tinggal di tempat ini tak pernah aku temui Dark Matter,” katanya.

“Oh ya? Tapi Michele tak pernah salah. Dia pasti memberitahukanku yang benar. Di sini ada Dark Matter. Ini sudah di dalam gunung bukan?”

“Iya, ini di dalam gunung. Sudahlah tak ada yang bisa kamu cari di tempat ini. Pergilah sebelum aku melumatmu dengan paluku,” Minotaur mengancamku.

“Tidak, aku tak akan pergi,” kataku.

“Dasar manusia, sudah masuk tanpa permisi pakai keras kepala juga,” katanya. “Baiklah rasakan ini!”

Palu besar itu mengayun dan menghantam tepat ke arahku. Aku berjalan beberapa langkah ke samping, karena aku lihat gerakan makhluk ini sangat lambat. Dan ketika kusadari Spark sudah bersamaku. Dan benar, gerakan Minotaur sangat lambat. Aku bahkan bisa naik ke atas palunya dan berjalan menelusuri lengannya dan sampai di atas pundaknya.

“Ba..bagaimana kamu bisa?” ia heran karena aku sudah ada di pundaknya. Dengan tangan kirinya ia mencoba menepisku. Spark membantuku lagi. Kini aku kembali turun ke bawah dan berada di hadapannya.

Aku bisa memberikan rasa takut kepada semua orang. Aku sekarang sudah memberikan rasa takut kepada monster ini. Semua karena kemampuan elemen yang sudah aku pelajari selama ini.

“Kamu…bagaimana kamu bisa melakukan itu?” tanya Minotaur dengan tubuh yang menggigil.

“Aku seorang Creator,” jawabku singkat.

Berikutnya aku menahan tubuhnya dengan elemen tanah. Bebatuan dan tanah yang ada di bawahna naik dan mengurung separuh badannya. Dan aku tutup sekalian dengan es. Aku pun berpikir, dengan kekuatanku yang sekarang aku bisa membuat apa saja. Aku hanya perlu berimajinasi. Aku hanya perlu bicara dengan banyak elemen.

Sang Minotaur merintih-rintih karena tak bisa bergerak. Berisik. Ku acungkan tanganku ke arahnya lalu kubekukan dia. Selesai.

Aku berjalan ke pinggir kawah. Apa yang bisa aku cari di sini? Mana Dark Matter? Apakah ia ada di dalam kawah? Hahaha…bodoh banget kalau aku harus terjun ke sana. Mau cari mati? Aku hanya bisa duduk di atas tanah. Aku pejamkan mata.

Pasti ada, pasti ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya perlu bicara. Bicara. Semua elemen menyapaku. Aku bisa rasakan bagaimana para elemen menyambutku sang Creator. Dari magma, bebatuan, air, udara. Semuanya menyambutku. Sepertinya mereka senang dengan kehadiranku di tempat ini. Tapi…aku bisa merasakan satu..tidak. Dua! ya, ada dua. Dua yang tidak menyapaku.

Sebuah elemen gelap. Sangat gelap. Dia berjalan mendekat. Tunggu, bagaimana sebuah elemen bisa berjalan? Aku membuka mataku. Dan di hadapanku ada sebuah bola berbentuk hitam. Bukan bola biasa. Seperti kegelapan yang hitam pekat. Di dalamnya kulihat bintik-bintik kecil berputar-putar mengelilingi permukaannya. Percikan-percikan listrik kecil mengelilingi bola gelap itu.

“Ada apa kamu mencariku?” tanya bola gelap itu.

“Kamu Dark Matter? Kamu bisa bicara?”

“Baiklah, aku pergi,” bola gelap itu menyingkir.

“Tunggu!” kataku. Ih ini bola sewot amat sih? Bola gelap itu kembali kepadaku.

“Ada apa? Kalau memang penting katakan saja kepadaku!”

“Aku butuh bantuanmu.”

“Hmm?? Kamu butuh bantuanku? Bantuan apa?”

“Aku ingin menyelamatkan dunia. Ada sebuah kekuatan besar yang akan bangkit.”

“Kekuatan besar? Siapa?”

“Azrael.”

“Lagi? Azrael lagi? Aku dulu pernah dipegang oleh seorang elemental, tapi dia tak bisa mengalahkan Azrael.”

“Tapi aku bukan seorang elemental, aku seorang Creator!”

Tak ada jawaban. Bola gelap itu mengelilingiku. Dia sepertinya ingin melihatku dari dekat.

“Creator?” katanya. “Aku belum pernah dipakai oleh seorang Creator sebelumnya. Karena kebanyakan mereka sombong. Bahkan karena jengkel aku pun membakar salah satu dari mereka.”

“Jadi, apakah kamu bisa menolongku?”

Dia terdiam.

“Siapa namamu? Aku ingin tahu,” kataku.

“Kenapa nama itu penting?” tanyanya.

“Setiap elemen yang bekerja sama denganku, aku tahu siapa nama-nama mereka. Dan mereka suka dipanggil namanya. Katakan siapa namamu!” kataku.

“Hmmm…namaku….Ares.”

“Ares, kamu mau membantuku? Di sana ada orang-orang yang aku cintai sedang dalam bahaya. Aku yakin dengan bantuanmu aku akan jadi lebih kuat untuk melindungi mereka.”

Ares terdiam lagi.

“Sial, kamu bikin aku malu. Baru kali ini ada yang memanggil namaku. Sigh…aku tak bisa menolaknya. Baiklah, hei Vivi! Kemari!”

Ares sepertinya memanggil seseorang. Dari kejauhan kulihat cahaya putih mendekat dengan cepat. Mereka berdua seperti menggambarkan kegelapan dan terang. Apa cahaya putih ini?

“Dia Void, namanya Vivi. Kami berdua tercipta sejak jutaan tahun yang lalu. Sejak semuanya diciptakan, sejak benturan-benturan antar planet, sejak terjadinya alam semesta kami sudah ada. Kami dua elemen yang tidak pernah dipakai oleh seorang creator manapun dan tidak pula diinginkan oleh siapapun. Aku sungguh tersentuh olehmu Ray. Aku melihat kemurnian hatimu. Kami akan ikut membantumu. Dan kamu akan mendapatkan kekuatan yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya.”

“Terima kasih Ares, Vivi,” kataku.

“Ahhh…kamu bikin malu kami lagi,” kata Ares.

Ternyata itu sebabnya Michele mengajarkanku untuk memanggil nama-nama elemen. Karena mereka suka dipanggil dengan nama mereka. Dan kedua elemen itu lalu masuk ke dalam tubuhku. Uggghh….rasanya ada yang hangat ada yang dingin. Tubuhku jadi lebih bertenaga. Tiba-tiba rasanya panas. Tapi dalam sekejap tubuhku menggigil. Apa ini??

“Bertahanlah sebentar Ray, tubuhmu sedang menyesuaikan diri dengan kami. Hai Salamander, kamu ada di dalam sini ya?” kata Ares.

Ares berbicara dengan seluruh elemen yang ada di dalam tubuhku. Rasanya aku seperti dipingpong. Dan kudengar keriuhan suara mereka. Seperti pasar, tidak seperti pasar bursa saham yang orang-orangnya bersorak-sorai ketika harga saham mereka naik. Kemudian aku merasa mual. Kukeluarkan isi perutku saat itu juga. Uggh…aku mencoba berdiri sekarang.

Ada yang aneh. Aku makin ringan. Tubuhku makin ringan. Dan seluruh panca indraku sangat sensitif. Aku pun bisa mengetahui ada apa saja di sekitarku. Panca indraku seperti sebuah radar yang mendeteksi ribuan macam jenis makhluk yang ada di sekitarku.

Kucoba berlari lagi. DaSH! Aku bergerak lebih cepat dari biasanya. Spark? Iya, dia membantuku. Dia sudah membuat sebuah jalur listrik sehingga aku tinggal berjalan di atasnya. Jembatan itu menuju ke tempat tepat di sebelah Michele. Aku melihat Michele dan secepatnya aku berlari ke arahnya.

Michele tampak kagum kepadaku. Dia senang.

“Selamat datang kembali,” katanya.

“Iya, aku berhasil,” kataku.

“Aku bisa lihat itu. Kamu gunakan seluruh pelajaran yang sudah aku berikan,” kata Michele.

Aku melihat tubuhnya tiba-tiba berubah. Kulitnya tiba-tiba mengeriput.

“Michele? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Kekuatan Mist melemah apabila terlalu lama di luar salju. Aku belum mengatakannya kepadamu ya?” kata Michele. Rambutnya kini tiba-tiba memutih dan ia dalam sekejap menjadi nenek-nenek.

“Ayo, aku akan menggendongmu. Kita akan kembali,” kataku. Kugendong Michele. Dan dengan bantuan Spark, aku kembali lagi ke Syberia.

Setelah sampai ke Syberia, tubuh Michele seperti mendapatkan energi baru. Ia kembali lagi menjadi Michele yang sebelumnya. Seorang gadis muda yang cantik.

“Jadi, ini alasannya kamu tidak pergi dari Syberia?” tanyaku.

“Iya, salah satu di antaranya adalah ini,” ia tersenyum kepadaku.

“Jadi….setelah ini aku harus pergi?”

“Iya, kamu sudah dapatkan semua pelajaranku. Kamu sudah siap menghadapi Azrael. Aku hanya bisa melihatmu dari sini,” katanya. Ia mengusap rambut dan pipiku.

“Aku…tak tahu harus bagaimana, bagaimana caraku berterima kasih?”

“Selamatkan dunia ini. Itu sudah cukup bagiku.”

Aku langsung memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggungku. Aku lalu menatap wajahnya. Wajah ini akan aku rindukan. Pengetahuannya, pengajarannya, kebijaksanaan dari seorang guru.

Aku tak akan melupakannya. Dan sebagai hadiah aku berikan ciumanku kepadanya. Ciuman yang dalam dan lembut. Michele tidak menolaknya. Ia bahkan merangkulku. Setelah ciuman itu. Kening kami bertemu. Ia masih mencari bibirku. Dan menciumku lagi beberapa kali. Setelah itu, hanya kepulan uap air yang keluar dari kedua mulut kami.

“Ray…jangan, kamu punya Maria,” katanya.

“Aku tahu,” kataku.

“Aku juga sudah tua, kamu lihat sendiri tubuh asliku seperti apa,” katanya.

“Aku tahu, anggap saja ini hadiah dariku,” kataku.

“Ray….,” aku menciumnya lagi. Kali ini kuhisap salivanya. “Ray…hhmmmhh….”

Aku melepaskan baju tebal Michele. Ia menatapku sayu, sebagai seorang wanita ia juga pasti merasakan birahi. Selama ini aku adalah satu-satunya lelaki yang ia lihat. Satu-satunya lelaki yang bersamanya hingga saat ini.

“Ray,..aku tak pernah disentuh lelaki sebelumnya,” kata Michele.

Kucium lehernya. Tubuhnya dingin, tapi aku sudah biasa merasakan dingin, bahkan kini tubuhnya menghangat. Michele, ini hadiah dariku, terimalah. Aku buka pakaianku, hingga kini aku bertelanjang dada. Michele mengusap dadaku, menciumi dadaku.

Aku melucuti baju terakhir yang melekat di tubuhnya. Dia benar-benar terlihat seperti gadis abege, tubuhnya polos tak ada bulu.

Aku kemudian rebahkan dia di atas salju. Michele menatapku lekat-lekat. Kembali kucium dia. Tangannya merangkulku, tubuh kami sudah tak berbusana sehelai benang pun. Aku memerintahkan salju untuk menutupi kami, sehingga sekarang aku seperti ditutupi oleh sebuah kubah. Hawa dingin ini membuatku makin erat memeluk Michele.

“Rayy….ohhh…,” Michele begidik ketika kusentuh telinganya.

Lidahku menjelejahi leher jenjangnya, lalu turun ke buah dadanya yang sekal. Kuhisapi putingnya. Michele makin erat memelukku. Buah dadanya kuciumi, kucupangi. Aku pun memijat-mijatnya, kuremas, dan kurengkuh buah dada yang belum pernah disentuh lelaki ini. Berkali-kali Michele memanggil namaku.

Puas sekali aku mengelamuti dadanya itu. Benar-benar seperti perawan.

“Ray…masukkan saja,” katanya. “Kalau kamu yakin memberikan ini kepadaku. Masukkanlah!”

Aku mengangguk. Kuciumi dia lagi. Entah apakah nanti akan sempit atau tidak ketika kemaluanku masuk ke sana. Aku gesekkan kepala pionku di bibir kemaluan Michele. Ia sangat basah. Dia tadi benar-benar terangsang oleh perlakuanku. Perlahan-lahan aku mendorong pinggangku ke depan.

“RRrraaayyyyyy……aaahhhkk!” pekiknya.

“Sakit?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Tapi teruskan. Ray..teruskan!”

Aku tarik dan aku tekan lagi. Separuh mulai masuk.

“Raay…sakiitt…ehhhmm.”

Aku tarik perlahan dan kudorong ke depan lagi.

“Aaahhhkk…Ray…aahh…aaahh….!”

Michele memelukku erat. Bersamaan dengan itu pinggulnya gemetar. Kemaluanku serasa dijepit. Liang senggamanya menyiramkan kehangatan. Aku seperti disedot-sedot oleh vacum. Kini seluruh kemaluanku masuk sepenuhnya.

Efek ektasi yang aku rasakan dari peristiwa ini sungguh tak bisa aku bayangkan. Michele, inilah hadiah dariku. Aku pertama kali masuk ke seorang wanita. Dan engkau adalah yang pertama. Kita sama-sama pertama. Aku tahu setelah ini mungkin aku tak akan lagi bertemu dengannya. Paling tidak inilah hadiahku yang paling berharga untuknya.

Aku tak bisa mencintai Michele. Bahkan hidup bersamanya juga tak mungkin. Cintaku hanya kepada Maria. Michele adalah seorang Mist, tak mungkin ia tinggal di luar tempat ini. Begitu juga aku, tak mungkin aku selamanya tinggal di sini. Michele, mungkin setelah ini kita akan sama-sama bersedih, tapi inilah yang terjadi.

Jangan pikirkan dulu apa yang akan terjadi ke depan. Rasakanlah sejenak apa yang bisa aku berikan sekarang.

Aku mulai menggoyangkan pantatku. Michele mengeluh, ia sudah tak merasakan sakit lagi. Dia mungkin menahan rasa sakit itu. Matanya terpejam dan kami berciuman. Ciuman yang hangat. Aku bisa merasakan kehangatan menjalar di tubuh kami.

Gesekan itu membuat tubhu kami makin hangat. Kemaluanku serasa ingin copot rasanya merasakan betapa sempitnya rongga kemaluan sang wanita Mist ini. Aku tak kuat, terlalu nikmat, terlalu enak. Ujung kemaluanku sepertinya mentok menyentuh rahimnya. Ahh…aku akan keluar.

“Ray, jangan keluarkan di dalam!” katanya.

“Tak apa-apa, aku akan keluarkan di dalam,” kataku.

“Tidak Ray, aku bisa hamil.”

“Kalau misalnya hamil, jagalah anak kita. Ini adalah hadiahku untukmu.”

“Ray, kamu sudah punya Maria. Harusnya kamu berikan ini untuk Maria.”

“Maafkan aku Michele, terima kasih atas segalanya.”

Aku makin cepat bergoyang. Aku sudah mentok, tak bisa lagi kutahan. Michele makin erat memelukku. Dada kami makin berhimpit. Kaki Michele makin dirapatkan, kemaluanku serasa dijepit kuat. Hinggaa….CROOOOTTTT! keluarlah seluruh yang tertahan selama ini. Michele melenguh dan menciumku.

Kami berdua sama-sama orgasme. Kemaluanku terus berkedut di dalam rahimnya. Agaknya sperma yang aku keluarkan ini sangat banyak. Aku tak mencabutnya, kubiarkan batangku mengecil dengan sendirinya. Aku lalu berguling ke samping Michele. Tubuhnya terlentang, lemas.

Entah apa yang baru saja aku lakukan. Tapi aku melihat keteduhan di wajah Michele. Guruku, yang mengajariku semuanya, kini tenggelam dalam kenikmatan orgasme. Aku bangkit dan kulihat dari lubang kemaluannya keluar cairan putih yang menggumpal. Dan di bawahnya ada sebercak darah segar.

Aku baru saja memerawaninya. Michele tertidur. Salju adalah kekuatannya, ia tak akan kedinginan di salju ini. Kuusap rambutnya. Kuberikan ciuman terakhirku sebelum aku memakai bajuku. Aku menggendongnya. Kuselimuti tubuhnya dengan bajunya, lalu kubawa ke pondok.

Ketika kuturunkan di atas sofa. Dia terbangun.

“Aku akan merindukanmu Ray,” katanya.

Aku mengusap perutnya, “Jagalah anak kita kalau memang jadi. Aku tak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Aku harus kembali kepada Maria.”

“Aku tahu, terima kasih Ray,” katanya.

“Tidak, akulah yang harus berterima kasih,” kataku. Kucium kedua pipinya. Bibir dan keningnya. “Sampai jumpa guruku.”

Bersambung.