Lentera Hitam Part 24

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 23

The Training

NARASI RAY

Syberia. Butuh waktu selama dua hari setelah aku mendarat di Moskow. Perjalanan ke tempat ini menggunakan sebuah kereta. Dan satu-satunya kereta. Aku tak tahu bahasa yang digunakan orang Rusia. Komunikasiku dengan mereka hanya memakai bahasa Inggris.

Kereta ini kereta khusus. Aku membayar mahal untuk bisa naik kereta ini. Syberia sendiri adalah daerah yang berada di sebelah utara benua Asia. Mungkin di sini aku bisa ketemu dengan orang-orang Eskimo. Mulutku sudah terbiasa mengeluarkan kepulan asap. Dan aku harus terbiasa dengan menu daging yang kusantap hampir tiap hari. Juga coklat panas tentunya.

Setelah hampir 24 jam berada di kereta. Aku pun tiba. Dingin sekali, apalagi ini bulan Desember dan sebentar lagi Natal. Setelah sampai di pemberhentian terakhir, aku tak tahu lagi harus ke mana. Total aku hanya berdiri mematung sambil membawa ranselku yang berisi perbekalan dan pakaian.

Aku tak takut dengan hawa dingin karena aku sudah terbiasa. Hanya saja aku tak tahu harus kemana. Aku hanya diberitahu ke Syberia, tapi menemui siapa, atau ke mana aku tak diberi tahu. Kemana sebenarnya ibuku menyuruhku? Apakah aku akan bertemu dengan beliau di sini?

Dari jauh, aku melihat seorang wanita sedang naik kereta salju dengan digeret oleh anjing-anjing. Eh, bukan anjing. Serigala! Serigala berbulu tebal itu menyalak kepadaku. Sang wanita itu memakai jaket kulit tebal berwarna kuning. Dia tersenyum sambil menatapku.

“Kamu Ray?” tanyanya.

Aku cukup terkejut ia tahu namaku. “Ya, aku.”

“Ayo ikut!” katanya.

“Bagaimana kamu bisa tahu namaku?” tanyaku.

“Tak usah bingung. Aku tahu sebagian besar rahasia di dunia ini. Aku juga tahu siapa ibumu dan ayahmu. Hanya saja ada hal penting yang harus kita lakukan, ayo! Jangan takut!” katanya.

Aku pun berjalan menuju ke arahnya dan naik kereta saljunya. Aku duduk di tempat duduk yang ada.

“Kenalkan namaku Michele,” ia mengulurkan tangannya. Aku menyalaminya. Ia masih muda, mungkin sebaya denganku.

“Ray,” kataku.

“Aku tahu. Pegangan ya. Kita akan menembus badai salju sebentar lagi. Maklum ini sudah natal soalnya.”

Kereta salju yang ditarik serigala-serigala itu berjalan lagi meninggalkan stasiun Syberia. Aku tak banyak bicara. Dan ketika berjalan ini aku disambut banyak sekali salju. Dan entah kenapa aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Mereka menyambutku, mengucapkan selamat datang.

“Wah, mereka sudah menyambutmu ya?” kata Michele. Apa dia tahu?

“Maksudmu?”

“Aku tahu koq, aku juga bisa mendengar mereka. Kamu seorang elemental. Kamu bisa bicara dengan angin dan air,” katanya.

“Jadi kamu tahu kemampuanku?” tanyaku.

“Iya, tentu saja. Dan aku adalah seorang Mist. Kamu tahu di dunia ini ada banyak sekali ras. Aku akan jelaskan nanti kalau sudah sampai,” kata Michele.

“Kamu sepertinya tahu banyak hal,” kataku.

“Ya, karena aku seorang Mist dan aku juga tahu kamu suka sama Maria bukan?”

Aku kaget tentu saja. Bagaimana dia bisa tahu?

“Tak perlu terkejut. Aku tahu banyak hal.”

Setelah berkendara lebih kurang setengah jam, kami pun sampai di sebuah pondok. Pondok terbuat dari kayu, seluruh atapnya tertimbun salju. Ada cerobong asap di atapnya. Di sekelilingnya banyak pohon-pohon sepertinya ini di tengah hutan.

Michele kemudian melepas tali-tali yang mengekang serigala-serigala itu. Entah bagaimana ia menggunakan isyarat. Serigala-serigala itu mengangguk-angguk. Lalu dia berbicara dengan bahasa yang sangat asing sekali. Serigala-serigala itu segera pergi.

“Kamu bisa bicara dengan mereka?” tanyaku.

“Iya, Mist bisa bicara dengan banyak hewan, tumbuhan dan elemen. Tapi kami lemah. Kami tak punya kekuatan seperti kalian,” katanya. “Kami hanyalah seorang yang bisa berbicara dengan banyak hal, dari situlah kami dapatkan pengetahuan. Dan dengan itulah kami melatih kalian.”

“Melatihku? Apakah artinya aku tak akan bisa bertemu orang tuaku di sini?”

“Aku akan jelaskan kepadamu banyak hal. Tapi pertama kali yang harus kamu lakukan adalah istirahat. Silakan, istirahatlah di dalam pondok. Aku ada di luar. Kalau butuh apa-apa panggil saja!” katanya.

Aku pun masuk ke dalam pondok itu. Pintunya kubuka. Lumayan hangat. Aku melihat perapian yang menyala. Aku pun menghangatkan diri di depannya. Kuletakkan ranselku di lantai aku pun duduk di depan perapian. Mungkin karena aku terlalu capek, akhirnya tak sengaja aku pun tertidur.

***

Maria tersenyum kepadaku. “Kamu nggak apa-apa Ray?”

“Nggak apa-apa,” jawabku.

Bayangan Maria pun menghilang. Kemana dia?

Tiba-tiba aku berada di gym. Saat itu aku melihat sesosok seorang cewek sedang menggelepar-gelepar di lantai. Itu Maria. Aku segera menghampirinya. Tangannya menggegam erat. Dia kena asma! Aku berusaha agar jemari tangannya tidak menggenggam terus, karena kalau sampai terjadi dia bisa koma. Aku tekan jemari tangannya agar terbuka. Dia pun pingsan. Tak ada nafas. Celaka.

Aku lalu membuka bibirnya. Itulah pertama kalinya bibirku dan bibir Maria bersentuhan. Ketika ia pingsan dan tak bernafas. Aku memberikannya CPR. Hal itu aku lakukan sebagaimana yang aku pelajari dari buku. Setelah dua kali aku melakukannya ia terbatuk-batuk. Ia sudah bisa bernafas sekarang. Aku segera membopong dia.

“Bertahanlah Maria! Bertahanlah!” aku terus mengulang-ulang kata-kata itu.

Ketika sampai di ruang UKS aku langsung masuk dan menaruhnya di ranjang pasien. Dokter yang saat itu sedang piket langsung memeriksa keadaan Maria. Ia lalu mengambil tabung oksigen dan memasangkannya ke mulut Maria. Syukurlah selamat. Aku bernafas lega. Kemudian aku keluar dari ruang UKS. Aku bersandar di dinding tampak beberapa teman sekelasku datang ke UKS.

“Ada apa Ray?” tanyanya.

“Maria pingsan,” jawabku.

“Panggilin Andre! Panggilin Andre!” katanya ke yang lain. Tak berapa lama kemudian Andre datang. Ia tampak khawatir dengan keadaan Maria. Semoga kamu baik-baik saja Maria.

Aku pun kembali ke kelas seperti tak terjadi apa-apa. Tak berapa lama kemudian Maria kembali ke kelas. Tampak wajahnya sedikit pucat tapi dia baik-baik saja. Aku sangat gembira ia bisa kembali ke kelas.

***

“Ray?! Ray??!” ada yang memanggilku. Aku pun terbangun.

“Oh,…maaf, aku tertidur di sini,” kataku.

“Engkau mengigau. Mimpi tentang Maria?”

Aku mengangguk.

“Dia sekarang sedang sakit.”

“Benarkah?” aku terkejut. “Sakit apa?”

“Sakit ini,” Michele menunjuk ke dadanya. “Sakit cinta.”

“Hah? Kamu serius?”

“Aku sudah bilang Ray, aku tahu banyak hal.”

“Jadi dia??….”

“Dia merindukan kamu sampai sakit. Tiap hari manggil-manggil kamu terus. Kamu kasih apa sih dia?”

“Aku nggak ngasih apa-apa koq.”

“Hahahaha, aku tahu. Ciuman terakhir kalian itu yang bikin dia seperti itu. Benar-benar anak muda. Hahahaha.”

“Kamu tahu juga?”

“Duh, ini anak. Sudah aku bilang aku tahu semuanya.”

Aku bangkit dari tidurku. Tampak hari masih malam.

“Tempat ini matahari terbit enam bulan sekali. Jangan heran yah. Ini sudah pagi sebenarnya,” kata Michele.

“Ah, aku lupa,” kataku.

“Sekarang, aku akan berikan pengetahuan kepadamu. Dengar baik-baik. Aku adalah Mist. Sudah aku jelaskan kepadamu kemarin. Keberadaanku di sini adalah untuk melatihmu agar kamu menjadi seseorang yang siap. Ibumu melarangku untuk melepasmu sebelum engkau benar-benar siap. Kamu akan bertemu dengan ibumu setelah ini, tapi kamu harus melewati latihan yang tidak biasa.”

“Kenapa harus begitu?”

“Ray, keberadaan Elemental, bukan saja kebetulan ada. Semuanya berawal dari beberapa abad yang lalu. Ayo ikut!”

Michele pun mengajakku untuk mengikutinya. Kami pun keluar pondok. Salju cukup tebal. Tapi sepertinya ada yang aneh. Bagaimana Michele bisa berjalan dengan enteng di atas salju? Aku saja langsung ambles kakiku ketika menginjaknya. Akhirnya aku berkomunikasi dengan air dan udara agar aku bisa mengangkat tubuhku di atas salju. Tanganku menyala dan mengeluarkan cahaya biru. Dan aku pun terangkat dari bawah sehingga bisa berjalan di atas salju.

“Kamu terlalu banyak menggunakan kekuatanmu!” kata Michele.

“Hah? Masa’?”

“Kamu hanya belum menyadarinya. Semakin banyak kamu menggunakan kekuatanmu, kamu akan lemah. Kamu bukan seorang Elemental biasa Ray, kamu ini seorang Creator.”

“Creator? Apa pula itu?”

“Nanti akan aku jawab,” lagi-lagi dia berkata nanti. Huh, aku jadi makin penasaran saja.

“Aku lanjutkan. Kami Mist bisa bicara dengan banyak elemen. Hampir semua elemen kecuali satu.”

“Elemen apa?”

“Void.”

“Void?”

“Di dunia ini banyak elemen Ray, kamu hanya mengetahui sebagian kecil saja. Ada air, udara, tanah, api, listrik atau petir, besi, magma, Aura, cahaya, kegelapan, Dark matter, Void dan lain-lain. Dari elemen-elemen itu ada yang disebut elemen pembentuk dan ada yang disebut elemen pengurai. Elemen pembentuk biasanya akan membuat unsur baru. Seperti air dan udara akan membentuk es.

Kamu sudah punya pengalaman seperti itu. Elemen yang lain seperti api, maka dia adalah pengurai elemen. Ada juga elemen yang bisa membentuk dan mengurai dia disebut Dark Matter. Juga Void. Kedua elemen ini adalah elemen tertinggi yang bisa dikendalikan manusia saat ini, sekalipun ada yang lebih tinggi lagi sebenarnya. Tapi kebanyakan orang yang ingin mengendalikan lebih tinggi lagi akan hancur.Kamu bisa berbicara dengan banyak elemen. Air misalnya. Bagaimana caramu bicara dengan mereka?”

“Aku…tak bisa bicara dengan bahasa langsung, lebih bicara dengan bisikan dada.”

“Ya, tentu saja. Tapi apakah kamu pernah bertanya siapa nama mereka?”

“Bagaimana bisa? Apa mereka punya nama?”

“Di dalam dunia ini semuanya adalah makhluk hidup Ray. Bebatuan, tumbuhan, angin, air, api, semuanya adalah makhluk hidup. Semuanya bisa bicara. Mereka pun memiliki kehidupan, hanya saja takdir mereka berbeda. Coba kamu bicara dengan elemen yang sekarang ini menolongmu. Siapa namanya?”

Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Aku kira mereka tak punya nama. Baiklah angin, kamu punya nama?? Aku merasa ada yang membisikiku namanya Lotz. Hah? Beneran. Aku bisa tahu nama mereka. Apakah ada nama lain? Dan aku dibisiki nama-nama yang lain, banyak sekali.

“Mereka banyak sekali,” kataku.

“Tentu saja. Kamu sekarang sudah mengerti bukan?”

Aku mengangguk. “Ya, aku faham sekarang.”

“Kalau kamu berteman baik dengan mereka, kamu hampir sudah pasti tak akan menggunakan banyak tenaga dalam mengendalikan elemen. Lihatlah, aku bukan elemental, tapi aku bisa bicara dengan mereka. Mereka menolongku untuk tidak sampai masuk ke dalam salju. Cobalah!”

Aku melepaskan kekuatanku. Langsung saja aku ambles ke dalam salju. Ughh…aku konsentrasi. Lotz, mana Lotz. Apakah dia bisa membantuku agar bisa berjalan di atas salju? Apakah ada air? Siapa nama kalian? Aku dibisiki beberapa nama. Mereka adalah Neirh, Meihr, Anrh, dan Era. Aku berkomunikasi dengan mereka cukup lama, bahkan akhirnya aku bisa berjalan di atas salju. Mereka memberikan kemudahan kepadaku untuk berjalan di atas salju. Aku seperti menginjak sebuah jalan setapak yang keras.

“Bagus, kemajuan,” Michele tersenyum kepadaku.

Kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan aku bisa mendengar banyak elemen-elemen lain yang menyapaku. Kenapa sekarang aku bisa bicara dengan elemen lainnya? Ada yang bernama Mogne, dia adalah elemen bumi. Dia mengatakan bahwa ingin jadi temanku. Michele menghentikan langkahnya. Kami berhenti di sebuah sungai beku.

“Baiklah, stage pertama,” katanya.

“Stage pertama?”

“Iya, ini adalah sungai beku. Kita bisa berjalan di atasnya tanpa masalah. Tapi kalau cukup beku seperti ini juga nggak enak buat latihan. Kamu bisa membuatnya cair?”

“Bagaimana caranya?”

“Bicaralah dengan elemen api.”

“Tapi bagaimana caranya? Aku tak bisa.”

“Api adalah pencitraan dari panas Ray. Panas tubuhmu itu juga ada api. Di dalam tubuhku juga. Semua makhluk hidup di sekelilingmu punya api. Coba kamu bicara dengannya.”

“Apa aku bisa? Aku selama ini hanya bicara dengan air dan udara.”

“Tapi kamu baru saja bicara dengan Mogne kan? Dia elemen bumi.”

Gila ini Michele. Dia tahu juga.

Api…elemen api. Aku pun bicara dalam hati dan konsentrasi ke sekelilingku. Api? Apakah ada elemen api? Di dalam diriku ada yang berbisik. Namanya Salamander. Dia adalah hawa panas dalam tubuhku. Salamander? Seperti nama seekor naga. Benar katanya. Dia dulu adalah nafas dari naga api yang entah bagaimana bisa berada di tubuhku.

“Kamu mendengar Salamander?”

Aku mengangguk.

“Dulu dia adalah nafas raja naga Salamander. Tapi karena kalah pertempuran ia pun meninggalkan sang naga. Saat itu ibumu menyerap elemennya. Dan aku tak tahu ternyata bisa masuk ke dalam tubuhmu.”

“Michele, kenapa kamu bisa tahu banyak hal? Jangan-jangan tubuhmu ini juga menipu. Kau aku lihat seperti anak abege sebaya denganku.”

“Hahahaahah,” dia tertawa. “Maaf, maaf, kamu ini polos atau gimana sih Ray. Ya jelaslah. Usiaku sudah seribu tahun.”

“Nggak mungkin.”

“Pengetahuanku yang membuatku awet muda. Apalagi selalu berhubungan dengan banyak makhluk dan elemen tentu saja. Mist kekuatannya adalah salju. Selama aku ada di sini, maka inilah yang kamu lihat.”

Dan aku mengulurkan tanganku. Cahaya biru mulai muncul di tanganku. Aku pun meminta Salamander untuk berada di tanganku sekarang. Sebuah titik kecil api muncul, dan lama-lama mulai besar hingga aku bisa melihat api di tanganku menyala-nyala.

“Selamat, sekarang kamu bisa menggunakan api. Sekarang cairkan sungai beku ini!” kata Michele.

Aku lalu menghempaskan api itu ke atas sungai beku. Hanya sedikit saja yang menguap. Kenapa begini? Apakah apinya kurang?

“Kamu tahu Ray, api bisa besar karena apa?” tanya Michele.

“Dengan udara? Oh iya.” Kemudian kupanggil udara. Siapapun yang ada di sana. Kemudian ada yang menyahutku, angin yang bernama Axon. Aku meminta bantuan dia untuk memperbesar api yang ada di tanganku. Ia pun mau dan dalam sekejap api yang ada di tanganku berubah menjadi sangat besar. Aku pun membakar sungai beku ini. Lambat laun mencair dan mencair, hingga kemudian aku bisa melihat kepulan uap air yang sangat banyak menutupi sungai.

“Bagus, seperti itu.”

Setelah itu aku melepaskan kekuatanku. Aku cukup membuang energi ternyata.

“Sekarang kita masuk ke latihan yang selanjutnya.”

Bersambung