Lentera Hitam Part 23

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 22

Mother of Elemental

“Anak-anakku, pergilah!” kata sang wanita. “Aku akan menghadapi mereka seorang diri. Aku sudah bersumpah, setiap darah anak-anakku yang kalian tumpahkan aku akan mengambil darah juga dari kalian.”

Robert yang terjatuh tadi kembali berdiri. Dia tampaknya juga terkejut.

“Balancer?! Lama tidak bertemu,” kata Robert. “Kamu masih seksi seperti biasanya.”

“Dan kamu masih haus darah seperti biasanya. Aku sudah bersumpah akan menghabisi seluruh keluarga Van Bosch hingga tak akan ada lagi keluarga Van Bosch, juga para pengikutnya. Kamu telah menyakiti anak-anakku. Aku tak akan bisa memaafkan kalian,” katanya.

“Siapa, kamu?” tanya Alex.

“Aku adalah ibu dari para elemental. Aku adalah Balancer. Apa kabar anak-anakku semuanya? Akulah yang memberikan kalian kekuatan elemental. Semuanya berasal dari aku, aku akan balaskan rasa sakit yang kalian terima. Akan aku berikan kepada mereka pembalasan yang setimpal,” katanya.

Aku berlari mendekat ke arah para elemental. Kulihat Puri di sana, ia juga kebingungan. Melihatku datang, Puri langsung menggenggam lenganku. Ia tampak ketakutan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tatapan matanya, mengerikan. Dia bukan wanita biasa,” jawabnya.

“Perjanjiannya, apa kamu ingin melanggar sumpahmu Balancer?” tanya Robert.

“Aku sudah tak terikat dengan sumpah apapun, semenjak anakku kalian incar untuk dibunuh,” jawab Balancer.

Robert menggertakkan giginya. “Kalau begitu tak ada yang bisa kita bicarakan lagi sepertinya.”

Tangan kanan balancer diangkat. Aku bisa melihat tangannya yang tertutup sarung tangan dari besi itu tiba-tiba jemarinya memanjang membentuk kuku-kuku panjang seperti pedang dan pisau. Dia ini…elementalnya apa? besi?

Robert mengeluarkan sebuah sarung tangan. Sarung tangan itu tidak biasa. Kelima jarinya ada beberapa lampu indikator. Dia memakai sarung tangan itu.

“Semuanya, bersiap! Brace your self!” komando Robert.

“Perasaanku tidak enak,” kata Puri. “Dia, bukan orang biasa. Lex, ayo Lex! Kita pergi Lex!”

Alex tampak masih terbengong-bengong. Dia tak beranjak dari tempat dia berdiri.

“Kenapa kakiku tak bisa digerakkan?” kata Puri. Tak hanya Puri, aku juga. Apa ini???

“Aku juga, kenapa ini?” kataku.

Dari bawah Balancer, aku melihat sebuah retakan kecil terbentuk. Tanah di bawahnya retak-retak kemudian muncullah darinya sebuah benda hitam seperti debu, berputar-putar hingga kemudian mengeras membentuk sesuatu di sekitar tangan Balancer.

Tangan kirinya tampak ada sebuah kabut berwarna hitam. Kabut itu terus berputar-putar. Aku tak pernah melihat elemental yang seperti ini sebelumnya. Gumpalan-gumpalan hitam tadi kemudian membentuk sesuatu di samping Balancer. Panah. Banyak panah, ratusan mungkin siap mengarah ke arah para agen ATFIP.

“Rasakan!” kata Balancer.

Ratusan panah itu bergerak meluncur dengan cepat membelah udara. Sebagian lainnya berlindung ke balik mobil panser. Agen-agen ATFIP yang tidak mujur tertembus panah itu. Mereka bergelimpangan. Robet membuat pertahanan dengan elemen tanah. Dia lalu menyerang Balancer dengan elemen petir yang muncul dari sarung tangannya. Sebentar. Bagaimana dia bisa mengendalikan dua elemen sekaligus tanpa tongkat Jolt. Jangan-jangan sarung tangan itu??

Robert dan Balancer bergerak dengan cepat seperti kilat. Keduanya berbenturan kekuatan. DUAR! DUAR! CLANG! DUAR! Ugghh…kekuatannya luar biasa. Robet bergerak dengan elemen petir. Balancer bisa mengimbanginya.

Kuku-ukunya yang panjang itu mencoba menembus pertahanan Robert. Tapi karena gerak mereka terlalu cepat, aku tak bisa mengtahui siapa yang kena. Siapa yang terluka. Anehnya adalah kenapa kami semua tidak bisa bergerak??

Kami sekarang hanya bisa melihat pertarungan antara Robert dan Balancer. Ternyata hanya dengan sarung tangannya saja Robert bisa bertarung dengan imbang dengan Balancer. Aku cukup takjub ketika Robert bisa berjalan di tembok, mereka bertarung seperti menggunakan senjata saja. Robert membuat pedang yang terbuat dari bebatuan yang ia bentuk dengan sarung tangan yang berfungsi mirip seperti Jolt.

Agaknya aku melihat ini semua seperti mimpi. Persis seperti film-film ketika mereka semua bertarung.

Robert menyerang Balancer dengan unsur tanah. Dia menerbangkan banyak bebatuan untuk menghantam Balancer tapi Balancer dengan pedang-pedangnya tak bisa diremehkan begitu saja. Hanya menggerakkan kelima kukunya yang panjang seperti pedang itu. Dia sudah membelah banyak hal.

“Ini efek ketakutan!” kata Alex.

“Maksudmu apa Lex?” tanya Tim.

“Efek ketakutan?” gumam Puri.

“Kalian tidak faham? Ini kemampuan dari wanita yang bernama Balancer ini membuat kita tak bisa bergerak. Ini kemampuannya. Sama seperti Ray, Ray mampu memberikan rasa takut ke semua orang dengan kehadirannya. Wanita ini juga mempunyai kemampuan itu tapi ketakutan berasal dari kekuatan elemen air dan angin yang dia punyai. Tapi wanita ini ketakutannya lebih gelap. Kawan-kawan konsentrasi hilangkan rasa takut itu, kalau kalian ingin bisa bergerak,” kata Alex.

Alex tahu tentang Ray? Berarti mereka kenal dengan Ray?

“Kalian tahu Ray?” tanyaku.

“Iya, dia kawannya Alex. Satu-satunya kawan kami yang bisa mengendalikan dua unsur elemen,” jawab Puri. “Kenapa? Kamu kenal?”

“Tentu saja aku kenal, dia yang merebut Maria dari aku,” kataku. Aku pun mulai emosi ketika mendengar nama Ray. Entah kenapa aku bisa menggerakkan kakiku sekarang, walau sedikit.

“Oh, jadi Ray ya?” gumam Puri.

“Rasa takut, aku tak pernah takut kepada apapun!” Alex mulai bisa menggerakkan kakinya. “Ayo! cepat pergi!”

Aku sekarang bisa menggeser kakiku, makin lama makin lebar. Aku pun bisa berjalan mundur. Puri sepertinya masih kesulitan. Mau tak mau dan terpaksa aku pun menggendong dia. Kumasukkan tongkat Joltku ke sela-sela ikat pinggang. Kemudian kuangkat Puri ke punggungku.

“Ndre?!” katanya.

“Jangan tanya! Ini insting!” kataku.

Dia tersenyum. “Iya, aku tahu.”

Aku segera berlari meninggalkan tempat itu sambil menggendong Puri. Pertarungan antara Balancer dan Robert benar-benar mengerikan. Mereka tak melihat kalau kami berada dekat dengan mereka. Apalagi kekuatan Balancer benar-benar mengerikan. Awalnya aku yang berlari, lalu Alex, dan disusul yang lainnya. Aku sesaat menoleh ke arah Yogi yang sudah tak bernyawa itu. Kulihat di dahinya sebuah lubang menganga dan dia tersenyum. Tangan dan kakinya masih tertahan oleh bebatuan.

Dari kejauhan tampak sebuah mobil warna putih baru saja datang. Detektif Johan! Aku segera berlari menuju ke arahnya. Dari dalam mobil keluarlah dua orang pria yang sangat aku kenal. Detektif Johand dan Inspektur James.

“Puri, Puri!? Engkau ikut mereka yah?!” kataku.

“Kamu?” tanyanya.

“Aku ambil sepeda motorku dulu, itu barang cicilan soalnya ibuku belum lunas bayar kreditnya,” jawabku.

Puri tertawa geli. “Iya, sanah! Hati-hati!”

“Om, jagain dia!” kataku. Kuturunkan Puri di depan Detektif Johan.

“Hah? Ngapain? Kamu mau kemana?” tanyanya.

“Nggak tahu instingku saja yang bilang begitu. AKu mau ambil motorku dulu!” kataku.

“Siapa yang bertarung itu?” tanya Detektif Johan.

“Balancer dan Robert. Sebaiknya jangan mendekat! Kekuatan mereka mengerikan,” kataku.

“Aku bisa lihat itu,” kata Detektif Johan.

Entah pertarungan itu kapan berakhir. Yang jelas, aku sudah pergi ketika Balancer dan Robert bertarung. Misi kita gagal. Pertumpahan darah tetap berlangsung, tapi aku berhasil menyelamatkan penduduk kampung. Kampung itu benar-benar diratakan oleh aparat. Bahkan sampai dibakar. Kenapa aparat yang berwajib melakukan hal itu? Di mana rasa kemanusiaan mereka? Ataukah karena pengaruh Dark Lantern? Kenapa Balancer mengatakan bahwa para elemental adalah anak-anaknya?

Satu jam kemudian aku, Detektif Johan, Inspektur James dan Puri sudah berada di kantor Detektif Johan. Kami semuanya terdiam. Aku bersandar di sofa, Puri tampak duduk sambil memeluk dirinya sendiri. Inspektur James duduk di seberangku. Dan Detektif Johan duduk di kursinya.

“Kalau saja aku tahu lebih awal hal ini tak akan terjadi,” kata Detektif Johan.

“Sudahlah, ini sudah terjadi. Mereka telah melakukan apa yang mereka perlukan. Kita harus tahu apa langkah selanjutnya,” kata Inspektur James.

“Siapa Balancer ini? Dia kuat sekali,” kataku. “Kenapa dia menyebut para elemental sebagai anak-anaknya?”

“Aku harus ke kantor dulu, ada sesuatu yang ingin aku cek di sana. Mungkin kalian akan suka nantinya,” ujar Inspektur James.

“Kamu, tak apa-apa?” tanya Detektif Johan ke Puri.

“Iya, Om. Aku baik-baik saja,” jawabnya.

“Aku pulang!” terdengar suara Maria dari pintu sebelah. “Lho, ada Andre di sini?”

Tak berapa lama kemudian Maria muncul dari pintu belakang ruang detektif. Pandangannya menyapu kami semua.

“Oh, ada banyak tamu rupanya?” katanya. Wajahnya Maria sudah ceria. Sepertinya tak ada apa-apa. “Koq belum dibuatin minum sih yah?”

“Oh iya, mau minum apa kalian?” tanya Detektif Johan.

“Terserah deh,” kataku.

“Aku tak perlu, karena aku akan pergi,” kata Inspektur James.

“Wah, Inspektur James. Keburu kemana?” tanya Maria.

“Ada berkas yang harus aku baca-baca, kamu makin cantik saja Maria. Sudah sehat?” tanya inspektur James.

“Iya, sudah sehat,” jawabnya.

“Maria? Jadi itu?” bisik Puri. Aku mengangguk. “Cakep yah, pantes kamu tergila-gila ama dia.”

“OK, pesanan segera tiba. Eh iya, Ndre! Kamu dicariin Pak Yunus guru Kimia. Katanya ‘Mana tugasnya’ gitu,” kata Maria sebelum pergi ke dapur.

“Aaarrghh!” aku menepok jidatku. “Aku lupa!”

“Ya sudah, aku pergi dulu Piere, sampai nanti!” kata Inspektur James. Ia kemudian keluar dari kantor Detektif. Kami tinggal bertiga sekarang. Lalu apa selanjutnya? Sebenarnya apa rencana Dark Lantern itu?

NARASI BALANCER

Aku berada di kegelapan kamar. Pertarungan dengan Robert menghabiskan banyak tenaga. Ia cukup hebat walau menggunakan satu sarung tangan Jolt. Levelnya sudah meningkat, tapi aku berhasil melukainya. Ketika aku tak melihat anak-anakku lagi, aku pun lega. Kuputuskan untuk pergi dari tempat itu. Ini tempat tinggalku. Sebuah rumah yang aku sewa dengan identitas palsuku. Aku membersihkan diriku di shower. Tak ada satupun luka di tubuhku, seperti biasa. Mereka tak akan mampu menembus baju besiku.

Setelah aku selesai mengguyur badanku. Aku berjalan ke kamar. Dan kulihat seseorang di sana sudah menungguku. Aku ingat dia. Tentu saja. Selama ini aku menyuruhnya untuk bekerja di balik layar. Kumisnya, itu sudah aku rindukan semenjak perjumpaan terakhir kita. James.

“Lili?” sapanya.

“James?” balasku.

Ia berdiri di hadapanku. Aku lalu memeluknya. Aku rindu dia.

“Kamu tak apa-apa tadi?” tanyanya.

“Tak apa-apa. Mereka tak akan sanggup melukaiku,” jawabku. “Hanya saja kita gagal ya?”

“Iya. Satu langkah lagi Sang Penghancur akan dibangkitkan. Apakah anak kita sudah siap dengan ini semua?”

“Ia pasti siap. Dia memang sudah ditakdirkan untuk itu.”

“Rambutmu makin panjang semenjak terakhir kali kita bertemu.”

“Apa yang kamu perlukan sekarang James? Tak biasanya kamu menemuiku.”

“Aku harus menceritakan hal yang sesungguhnya tentang Dark Lantern kepada Johan. Juga tentang van Bosch kalau kamu tidak keberatan. Sebab kita tak punya cara lain untuk menghentikan Azrael.”

“Silakan, apapun keputusanmu aku tak akan menentangnya. Setiap tahun aku melepaskan kekuatan elementalku untuk kuberikan kepada bayi-bayi yang diberkati dengan harapan mereka akan mampu menghentikannya. Aku seorang Balancer. Itu sudah tugasku. Hanya saja, aku tak tahu kalau Ray adalah anak pilihan. Michele pasti senang melatih Ray sekarang.”

“Tentu saja. Jarang sekali Mist mendapatkan kehormatan melatih seorang Creator. Dia pasti akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk melatih dia hingga siap menghadapi perang yang sesungguhnya.”

Dadaku kemudian dipegang oleh tangannya yang kasar. Walaupun kasar, entah kenapa ia selalu memperlakukanku dengan lembut. Aku diciumnya lagi.

“James, sudahlah. Aku tak mau kita begini lagi. Aku sudah tua,” kataku sambil mengusap pipinya.

“Walaupun kamu sudah tua, tapi aku tak peduli Lili. Kamu tetap terlihat muda di mataku,” katanya.

“James,…merupakan takdir bahwa aku bisa mempunyai anak darimu. Selama ribuan tahun aku tak pernah berpikir bahwa aku akan mendapatkan anak darimu. Apakah kamu ingin punya anak lagi?”

“Kalau kamu mengijinkan sayang.”

Aku hanya punya satu keturunan. Ray adalah anakku dengan James. Selama ini dialah yang melindungi Ray, memberikan uang kepada Ray. Semuanya dari keluarga van Bosch. Aku hidup selama ribuan tahun karena sebuah kutukan. Dan aku setiap tahun harus melepaskan kekuatan elementalku kepada bayi-bayi yang diberkati. Sehingga mereka bisa mempunyai kemampuan elemental. Kalau aku tidak melakukannya, tubuhku akan terasa sakit bahkan aku akan dihukum oleh elemental yang ada di dalam diriku sampai aku mati. Maka dari itulah, setiap tahun aku melakukannya. Hal ini karena, kekuatan jahat akan datang sebentar lagi. Kami sudah terlambat menghadangnya.

James malam ini memanjakanku. Ia suka dengan rambutku yang panjang. Ia rengkuh kenikmatan bersamaku malam ini. Dia tetap perkasa walaupun usianya tidak muda lagi. Aku dipuaskannya malam ini, setiap hentakan kemaluannya ke tubuhku menandakan ia masih mencintaiku. Dan ketika kami sama-sama merengkuh puncak kenikmatan, perasaanku bahagia sekali. Aku pun bisa tidur di dalam pelukannya.

bersambung.