Lentera Hitam Part 22

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 21

All for One

Hari itu aku tak masuk sekolah. Bukan berarti aku melakukan sesuatu yang tidak ada artinya. Tapi aku berusaha menyelamatkan nyawa di sini. Setelah kejadian itu, aku bangun langsung mandi di tempatnya Puri. Setelah kami berdua membersihkan diri, segera meluncur ke distrik 5. Puri menghubungi Alex agar ketemu di sana. Dan agaknya kami sedikit terlambat.

Puluhan panser dan mobil lapis baja kami lihat mulai bergerak ketika hampir saja kami sampai di tempat yang dituju.

“Ndre, cepat Ndre! Kita terlambat!” kata Puri.

Aku makin cepat melajukan sepeda motorku mengambil jalan lain agar tak berpapasan dengan panser-panser itu. Mau apa mereka sebenarnya? Mau perang? Sampai ada sekompi polisi? Puri menunjukkan ke tempat pertemuan. Kami masuk ke sebuah gang. Di sana ternyata sudah banyak yang menunggu.

Melihatku membonceng Puri, Alex sepertinya sedikit kaget.

“Hoi, orang yang hampir nembak aku kemarin. Katanya kamu punya kabar buruk,” kata Alex.

“Iya, dan ini tidak baik,” kataku.

Aku turun dari motorku, kemudian segera aku jelaskan kepada Alex apa yang terjadi sebenarnya. Terutama tentang pola serangan Dark Lantern juga tentang sebuah tanda Pentagram itu. Alex tampak menggertakkan giginya.

“Kalau yang kamu katakan benar, kita benar-benar dalam masalah,” katanya.

“Apa maksudmu Lex?” tanya Puri.

“Semua ini, lihatlah! Kita berada di sini semua. Dan aku tadi melihat aparat yang berwajib sudah mulai mengepung tempat Yogi,” kata Alex.

“Tapi, Yogi bisa memakai elemen petir bukan? Ia pasti baik-baik saja,” ujar Puri.

“Baik-baik saja? Pure, setiap elemen punya kelemahan. Api bisa dilawan dengan air, bumi bisa dilawan dengan udara, listrik? Bisa dikalahkan dengan air! Kamu masa’ nggak ngerti?” kata Alex.

“Udah, yang penting kita harus selamatkan Yogi. Di mana dia sekarang?” tanyaku.

“Yogi itu anaknya baik. Dia orang yang ta’at ibadah. Sekarang pasti ia berada di mushola dekat dengan rumahnya,” ujar seorang anak kecil yang dipanggil Tim.

“Kita tak mungkin mendekat ke sana, mereka punya alat pendeteksi apakah kita seorang elemental atau tidak. Kalau sampai mereka tahu. Kita bisa celaka,” kata Puri.

“Kau benar, semuanya akan kacau kalau sampai ini terjadi,” kata Alex.

“Ah, kenapa kamu tak bantu kami saja?” tanya Tim ke aku.

“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri.

“Iya, Ndre! Bener kamu! Kamu bukan elemental kan? Artinya mereka tak akan menganggap kamu sebagai elemental. Kamu akan baik-baik saja. Selamatkan Yogi, bawa dia keluar dari tempat itu! Kamu bisa Ndre!” kata Puri.

“Bagaimana aku bisa?” tanyaku.

“Ayolah Ndre! Pliiiisss!” Puri memohon.

Akhirnya….ya udah deh. “OK, aku akan bantu. Di mana tempatnya?”

Singkat cerita Puri memberitahukanku di mana tempatnya. Aku pun melewati trotoar. Para agen ATFIP itu tak akan mungkin mengira aku adalah seorang elemental ya emang bukan sih. Dengan langkah santai, berjaket hoodie aku berjalan menuju ke sebuah perkampungan. Mushola tempat Yogi berada ada di tengah perkampungan. Aku bisa melihat kubahnya dari jauh. Di atasnya pula ada pengeras suara. Ini masih pagi, belum waktunya dzuhur. Pasti si Yogi ini ta’at dalam beragama.

Dari kejauhan para polisi sudah bersiaga. Apa mereka gila? Mau nyerbu perkampungan ini? Aku menyusup ke gang-gang. Aku melihat orang-orang masih melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Ada yang berprofesi sebagai tukang jahit ada pula yang membuka warung. Mereka tak menyadari bahaya yang mengancam. Di perkampungan itu aku juga melihat seorang anak kecil berlari-larian. Mereka bermain-main sebagaimana biasanya. Ini gila, kalau sampai tempat ini terjadi perang. Akan banyak korban yang tidak bersalah. Tapi, inilah yang terjadi. Aku berada di titik terakhir.

Setelah berbelok-belok melewati gang dan rumah-rumah, aku pun sampai di depan mushola kampung itu.

“Yog??! YOGI!?” panggilku.

Dari dalam mushola muncullah seorang pemuda memakai peci warna putih. Ia keheranan melihatku.

“Siapa ya?” tanyanya.

“Yogi?” tanyaku.

“Iya, saya sendiri,” jawabnya.

“Aku diutus oleh Alex dan Puri, kawan-kawan sesama elementalmu. Kamu harus pergi dari tempat ini!” kataku.

“Kenapa?” tanyanya.

“Mereka akan menyerbu tempat ini! Tak ada waktu lagi Yog, tempat ini sebentar lagi akan dikepung kamu tak akan bisa keluar!” kataku.

“Sudah saatnya yah?” katanya. Ia menghirup nafas dalam-dalam. “Pergilah, aku tak akan pergi dari sini.”

“Tapi Yog?! Teman-temanmu membutuhkanmu,” kataku.

“Aku tahu, tapi siapa yang akan menolong penduduk kampung ini kalau mereka menyerang tempat ini?” tanyanya.

Benar kata dia. Siapa yang akan menjaga penduduk kampung ini?

“Kita ungsikan mereka semua. Kita kabarkan kalau tempat ini akan digerebek!” kataku.

“Jangan bodoh. Kamu ingin membuat satu kampung panik? Biarkan aku yang akan menghadapi mereka sendirian,” katanya. “Aku bisa menggunakan petir. Aku tak selemah Jack. Mereka akan butuh banyak orang untuk mengalahkanku.”

“Yog, jangan bodoh! Walaupun aku bukan elemental, tapi aku berusaha agar tak terjadi pertumpahan darah yang tidak berarti di sini,” ujarku.

“Tenanglah, sebaiknya kamu pergi dari tempat ini!” perintahnya.

“Tapi…,” sial, aku tak bisa apa-apa. Akhirnya aku nekat. Aku paksa dia. “Ayo kita pergi Yog!”

JRREEETTTTT! Aduh! Tiba-tiba tanganku seperti tersengat listrik.

“Nah, sudah kubilang kan? Tidak mudah untuk menangkapku,” katanya.

Dia menggunakan elemen listriknya. Aku tersengat sedikit tadi. Dia ternyata kuat.

“Setidaknya katakanlah sesuatu kepada mereka!” kataku. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Puri. “Pur, coba kamu bicara langsung dengan Yogi!” Kutekan loudspeaker.

“Yog? Yogi?! Kamu di sana?” tanya Puri.

“Purple?” tanya Yogi.

“Syukurlah, cepat pergi Yog! Mereka datang!” kata Puri.

“Aku tak bisa,” kata Yogi.

“Kenapa? Kamu jangan mati konyol. Sudah cukup Jack saja, jangan kamu juga.”

“Tapi, siapa yang akan melindungi penduduk kampung ini Pur? Siapa? Jelaskan kepadaku! Kalau aku tidak ada di sini melindungi mereka, apakah mereka akan selamat?” tanya Yogi.

Puri terdiam. Lalu muncul suara Alex.

“Bro, kalau kamu tidak kesana dan kamu khawatir terhadap nyawa para penduduk, fine! Kami akan paksa kamu untuk pergi dari sana. TuuuT..tuuutt….tuuuttt!” Ehh? Alex menutup teleponnya.

“Dasar Alex, seperti biasa. Dia berbuat semaunya. Kamu bukan elemental bukan? Pergilah. Kamu pasti tak ingin dirimu celaka,” katanya.

Sial. Seandainya aku punya sesuatu untuk menolong mereka. Akhirnya dengan langkah putus asa dan menyerah aku pun pergi meninggalkan Yogi. Aku kembali ke tempat semula, tapi ternyata di depan sudah dikepung oleh barisan polisi. Mereka juga sudah membuat barikade seolah-olah akan menyerang kampung itu. Salah seorang penduduk kampung melihat itu langsung memanggil para penduduk lainnya.

Dalam sekejap para penduduk kampung berkumpul di muka gang. Mereka bertanya-tanya, “Apa yang terjadi, ada apa ini?”

Para aparat yang berwajib ini sepertinya sudah disusupi oleh Dark Lantern. Mereka sepertinya tak ada lagi rasa kasihan, iba atau semacamnya. Bahkan tatapan mata mereka dingin sambil menodongkan senjata mereka. Sial, aku tak bisa kembali kalau seperti ini caranya. Para penduduk kampung mulai emosi. Mereka tak tahu salah apa, karena tiba-tiba para polisi sudah siap untuk menyerbu. Mereka pun mengambil senjata apa adanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Mana wartawan? Mana mas media? Kenapa tak ada satupun yang meliput?

Aku menghubungi Puri lagi.

“Halo Pur?” sapaku.

“Kenapa Ndre?”

“Mereka sudah siap menyerang,” kataku.

“No shit!”

“Beneran. Aku tak bisa keluar sekarang. Sebentar lagi kalau polisi maju, para penduduk kampung akan menyerang mereka dan terjadilah pertumpahan darah,” kataku.

“OK, kami akan ke sana,” kata Puri.

Para polisi yang memakai perisai pelindung mulai memukul-mukulkan pentungan mereka ke pelindungnya. BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! suara mereka menabuh perisai mereka ke aspal membikin para penduduk kampung yang tak tahu apa-apa itu bersiaga. Dan mereka pun maju. Pertempuran pun tak bisa dielakkan lagi. Dari kampung terlemparlah batu-batuan ke arah polisi yang merangsek masuk.

Penduduk kampung dan para polisi ini saling pukul memukul. Sebagian berlarian, sebagian berlindung. Aku tak sanggup melihatnya. Tiba-tiba aku melihat nyala kilat berpijar membelah barisan para polisi.

Aku lihat Yogi sudah ada di sana. Hah? Sejak kapan ia ada di sana?

Kecepatan. Yogi menggunakan kecepatannya untuk menghancurkan barisan polisi. Dia melumpuhkan mereka satu persatu dengan sengatan listriknya. Aku menyaksikan pertempuran itu dari jauh. Perlahan-lahan dari kejauhan aku juga mulai melihat panser-panser berdatangan. Mobil-mobil truk pengangkut bataliyon pun mulai datang. Yogi berjuang sendiri menghadapi para polisi itu. Para penduduk pun ikut membantunya. Sambaran kilat besar tiba-tiba keluar dari kedua tangannya dan menghantam ratusan polisi itu hingga mereka kejang-kejang di atas aspal.

Aku tidak bisa tinggal diam saja di sini. Dari arah lain, kudengar suara orang-orang. Oh, mereka para elemental. Mereka mulai menyerang dari arah yang tidak terduga. Bumi bergetar, tiba-tiba air bah datang dari berbagai arah. Api menyambar ke mana-mana. Yup, pertempuran sudah dimulai. Lalu disambut juga dari arah lain, pasukan ATFIP dengan tongkat Joltnya sudah masuk juga. Pertempuran sengit ini tak bisa dielakkan lagi. Pecahlah pertumpahan darah.

Aku pun menghubungi Detektif Johan. Ia harus tahu tentang hal ini.

“Halo?” sapaku.

“Ya, ada apa nak?” tanyanya.

“Sudah terjadi! Pertempurannya sudah terjadi!” kataku.

“Apa?”

“Iya, aku berada di tengah-tengahnya,” kataku.

“Dasar, apa yang kamu lakukan di sana bodoh?!”

“Maaf Om, tapi aku berusaha menyelamatkan nyawa yang aku bisa!” kataku.

“Arrghh…tunggu di sana. Aku kan ke sana bersama James,” kata Detektif Johan.

Setelah itu aku mencari cara agar bisa menyelamatkan para penduduk yang lemah. Ya, aku memimpin mereka yang lemah seperti wanita dan anak-anak untuk pergi dari perkampungan itu. Satu-satunya tempat untuk menyelamatkan diri adalah dengan menyeberangi sungai. Tapi sayang sekali, tak ada perahu, tak ada jembatan. Sebagian dari mereka nekat berenang. Tapi arusnya terlalu kuat dan berbahaya apalagi untuk anak-anak.

Damn. Apa yang harus aku lakukan?

Kalau saja aku bisa punya sesuatu, atau bisa mengendalikan elemen. Ah itu dia, tongkat Jolt. Kenapa aku tak pernah berpikir ke sana? Aku harus merebut tongkat Jolt dari salah seorang agen ATFIP. Tapi untuk ke sana….bagaimana? Bisa-bisa aku kesambet ama pertarungan mereka. Persetan, ini untuk kemanusiaan. Aku tak akan membiarkan timbul korban jiwa lagi.

Aku berlari mencari jalan untuk bisa mendekat ke pertempuran. Para polisi itu benar-benar brutal. Mereka menggebuki para penduduk kampung, bahkan ketika terkapar di jalan raya pun mereka tetap memukul-mukulnya. Apa mereka terhipnotis sampai bisa sebrutal itu? Aku melihat pertarungan antara elemental dengan agen ATFIP sekarang. Aku melihat seorang agen terkapar di tanah. Ada tongkat Jolt di tangannya. Wah, bisa aku ambil nih. Aku berlari sambil menunduk dan bersembunyi di antara mobil-mobil panser yang terpakir. Mungkin karena aku bukan elemental sehingga agen ATFIP yang berpapasan denganku membiarkan aku begitu saja melewati mereka. Aku ambil tongkat Jolt itu. Gimana ini cara gunainnya.

Aku tekan sebuah tombol di tongkat itu, lalu aku kibaskan. Ada warna kuning. Kuning? Elemen tanah. Kalau tongkat ini bisa memerintahkan elemen maka kucoba gerakkan tanah. Tanah, naik! Tiba-tiba tanah di depanku naik ke atas. Seorang agen ATFIP yang sedang bertarung dengan salah seorang elemntal kejedok batu yang tiba-tiba muncul dari tanah. Dia pun jatuh. BRUK! Eh, dia bawa tongkat Jolt. Aku ambil aja. Kini aku punya dua.

Teringat dengan penduduk kampung yang berada di tepi sungai. Aku segera kembali masuk ke kampung. Salah seorang polisi membiarkanku ketika mengetahui aku membawa tongkat Jolt. Eh? Mereka menganggap aku agen ATFIP. Sebentar, tongkat Jolt yang satunya apa ya? Aku tekan tombolnya, ada lampu berwarna biru. Biru?? Apa itu biru. Aku goyangkan tongkat itu. Dan….tampak di atas tongkat itu bulir-bulir air melayang di atasnya. Ohh..ini air ya? Oke deh.

Kakiku sudah berada di pinggir sungai sekarang, setelah melewati jalan berkelok-kelok. Penduduk kampung masih berusaha mencari cara untuk bisa menyeberang sungai. Bahkan aku melihat sebagian memakai ban dalam bekas. Arus sungai itu cukup deras. Dan aku harus menolong mereka. Tongkat Jolt ini satu-satunya cara. Elemen tanah! Aku bisa bikin jembatan! Tanah naik! Aku acungkan tongkat Jolt itu ke depan seketika itu tanah dari bahwa sungai pun menaik.

Orang-orang kampung itu terheran-heran terhadap apa yang terjadi. Mungkin mereka mengira ini seperti mimpi. Aku bisa jadi dukun nih tiba-tiba.

“Sudah ayo, segera lari menyebrang! Cepat cepat cepat!” kataku.

Para wanita dan anak-anak tak berpikir lagi. Mereka segera menyeberang dengan jembatan buatanku. Aku jadi mengerti sekarang cara untuk menggunakan tongkat Jolt ini. Begitu ya. Tapi, aku seperti membuat bendungan bukan jembatan. Karena tanah yang ada menghalangi air sungai. Aku bodoh, kalau membuat jembatankan harusnya ada jalan airnya. Hadeeeh…aku pun menggerakkan tongkat Joltku untuk membuat lubang di bawah jembatan itu agar air bisa mengalir. Air pun mengalir sekarang. Yes….

Paling tidak, para penduduk desa sebagian sudah terselamatkan. Aku harus mengabarkannya kepada Yogi, ia bisa pergi sekarang karena sebagian besar penduduk kampung sudah menyelamatkan diri menyeberangi sungai. Aku kembali ke jalan. Ke tempat bentrokan tadi. Setelah keluar dari gang, aku melihat pemandangan yang menyedihkan. Para korban yang tidak selamat terkapar di trotoar, di aspal, bersimbah darah. Aku jadi lebih terbiasa sekarang melihat pemandangan ini. Ini terlalu menyedihkan.

Kali ini aku melihat lagi. Yogi. Dia tak bergerak. Kedua tangan dan kakinya tertahan oleh bebatuan. Ia meronta-ronta tapi tak bisa menggerakkan tubuhnya. Sementara itu di depannya ada seorang agen ATFIP. Orang yang sama dengan yang membunuh Jack. Dia mengacungkan sebuah pistol ke kepala Yogi.

Tunggu! Jangaaan!

DOR! Terlambat. Kepala pemuda itu sudah mengucurkan darah, tertembus peluru sampai menjebol peci putihnya. Ini mengerikan. Lagi-lagi pembunuhan terjadi di depan mataku. Dark Lantern! Kurang ajar. Tanganku menggegam rapat. Kurasakan seluruh emosi berada di dalamnya. Dengan wajah tanpa dosa orang yang pernah disebut Robert itu memasukkan pistolnya dan meninggalkan Yogi begitu saja.

Brengsek! Kurang ajar. Aku tak akan mengampuni mereka.

Tiba-tiba saja dari arah yang tidak terduga ada sesuatu bayangan berkelebat dengan cepat. Bayangan itu langsung menyerang para polisi yang masih bentrok dengan para penduduk kampung. Dan, bukan hanya itu saja, dengan kecepatan yang tak pernah aku lihat sebelumnya bayangan itu menghantam tubuh Robert. Robert belum sempat berbalik, ia sudah terpental beberapa meter ke depan.

Seorang wanita dengan rambut panjang sekaki. Memakai helm terbuat dari besi dengan hidungnya yang mancung serta bajunya seperti baju zirah berdiri di tengah medan pertempuran. Tampak para agen ATFIP sebagian lari tunggang langgang. Mereka sepertinya mengenali wanita ini. Para elemental pun terdiam. Pertempuran tiba-tiba berhenti begitu saja.

Siapa wanita ini?? Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh helm, tapi dari ekspresi bibirnya ia menunjukkan ketidak sukaan.

Bersambung