Lentera Hitam Part 21

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 20

The Pentagram

“Jadi begini Ndre, aku jelaskan dulu dari awal sebelum melangkah ke tugasmu. Pertama tentang pembunuhan yang terjadi beberapa tahun lalu. Kita menyebutnya sebagai 8 Miles. Dan ternyata tidak hanya terjadi sekali itu. Tapi berikutnya dan berikutnya lagi. Total sekarang sudah ada empat kejadian yang serupa, hanya saja yang kemarin itu sedikit berbeda karena diramu dengan penggerebekan oleh aparat kepolisian. Tapi tetap saja sama, yaitu adanya pesta darah,” kata Detektif Johan.

Baiklah ini menarik aku pun mendengarkan dengan seksama.

“James menjelaskan kepadaku tentang arsip-arsip ini,” Detektif Johan menunjukan berkas-berkas yang ada di mejanya.

“Semuanya klop, semuanya benar-benar cocok. Aku awalnya curiga kenapa tempatnya berbeda-beda. Namun setelah aku cek dari peta akhirnya semuanya jelas.”

“Sebentar. Aku belum mengerti tentang 8 Miles, jelaskan pelan-pelan!” kataku.

“8 Miles adalah julukan kami untuk sebuah komunitas berdarah. Kejadiannya beberapa dekade lalu. Sebuah pesta darah pembunuhan terjadi di sebuah apartemen. Seluruh penghuninya tewas, termasuk ada lima orang agen ATFIP yang ada di sana. Besar kemungkinan ada pertarungan antara mereka dengan elemental. Tapi sepertinya tidak begitu, karena orang-orang yang tidak bersalah juga jadi korban. Kejadian kedua terjadi beberapa tahun setelahnya. Sama, disebuah apartemen, banyak dari penghuninya juga tewas. Termasuk lima orang agen ATFIP. Kejadian ketiga juga demikian. Penghuninya tewas dan lima orang agen ATFIP juga tewas. Ajaibnya adalah kemarin malam sedikit mirip tapi bentuknya berbeda. Aparat kepolisian dan para elemental banyak yang tewas. Termasuk juga lima anggota ATFIP. Kamu bisa mengerti hubungannya?”

Aku rada bego sih, tapi koq agen ATFIP selalu lima yang tewas kebetulan kah?

“Koq selalu lima agen yang tewas?” tanyaku.

“Tepat sekali!” kata Detektif Johan. “Awalnya aku tak percaya, tapi setelah aku melakukan sesuatu yang iseng, akhirnya aku dapati sesuatu. Lihat ke sini!”

Detektif Johan menunjukkanku ke sebuah peta. Peta Jakarta sih. Dan dia menandai keempat titik dengan spidol warna merah.

“Lihat! Keempat titik ini!” katanya. Setelah itu ia menandai satu titik di bawah. Jadi ada lima titik. “Dan. Aku sekarang akan menggambar sesuatu.”

Detektif Johan kemudian menggambar garis lurus yang menghubungkan satu dengan yang lainnya. Tunggu. Koq bikin pentagram sih? Maksudnya??

“Ngerti maksudnya?” tanya Detektif Johan.

“Nggak ngerti,” jawabku yang otaknya agak dodol ini.

“Artinya kasus ini ada polanya. Dan polanya seperti ini. Berarti kejadian berikutnya ada di titik terakhir ini!” kata Inspektur James sambil menunjuk ke sana.

“Oooo…begitu?” kataku.

“Kamu kenapa punya partner koq bego gini?” gerutu Inspektur James.

“Trus, hubungannya dengan aku?” tanyaku.

“Aku ingin kamu menolongku untuk memperingatkan para elemental agar jangan sampai ini terjadi lagi,” jawabnya.

“Kita tahu bagaimana Dark Lantern sebenarnya. Mereka menyusup ke dalam ATFIP untuk kemudian melakukan rencana ini. Kamu tahu apa berita yang disiarkan untuk kasus kemarin?”

Aku kemudian berikan sebuah koran. Aku kemudian membaca headlinenya, ‘Penggerebekan sarang teroris 60 orang tewas. Pihak kepolisian dipuji oleh Presiden’. Aku menaikkan alis. Ini berita omong kosong!

“What the hell..??” gumamku.

“Kamu bilang kemarin ada temanmu di sana yang menjadi elemental bukan? Peringatkan mereka. Sasarannya ada di titik ini!” kata Inspektur James. “Kali ini kita harus gerak cepat.”

“Kenapa yakin bahwa pembantaian akan ada di titik itu?” tanyaku.

“Karena, kalau titiknya terkahirnya ada di atas. Itu artinya di laut partner! Pembantian di laut? Pembantaian ikan di lautan??” kata Detektif Johan. sambil menggambar satu titik di atas, tepat di kepulauan seribu.

“Oh iya, bener juga,” jawabku polos sambil nyengir.

“Jadi, kau bisa?” tanyanya.

“Aku akan coba,” kataku.

Berarti yang harus aku lakukan adalah menemui Puri. Aku mengeluarkan ponselku. Kemudian kuhubungi Puri.

“Kamu punya nomor ponsel mereka?” tanya Detektif Johan.

“Bukan, ini nomor telepon cewek kemarin,” jawabku. “Oh, halo. Puri??”

“Apa Ndre?” tanyanya di telepon.

“Bisa ketemuan hari ini?” tanyaku.

“Bisa aja sih, kenapa?”

“Pokoknya ketemuan aja, penting banget!” kataku.

“OK, kamu tahu kan harus ke mana, aku di rumah koq,” jawabnya.

Singkat cerita, aku langsung melajukan partnerku ke tempat Puri. Nguantuk banget sebenarnya gara-gara nggak tidur kemarin. Tapi apa boleh buat?? Kalau memang yang dikatakan Detektif Johan benar, maka pertempuran selanjutnya akan terjadi di titik yang dijelaskan. Aku saja sampai membawa peta yang dicorat-coret Detektif Johan tadi di ranselku. Setelah beberapa lama berjibaku dengan lalu lintas yang tidak bersahabat aku pun sampai di tempat Puri.

Sebelum masuk aku menelpon ibuku. Aku mengabarkan aku akan telat pulang sama seperti kemarin. Sebenarnya ibuku boleh-boleh saja sih aku bersama dengan Detektif Johan ngurus kasus-kasusnya, apalagi Detektif Johan juga membagi uang honor dari hasil jerih payahnya ke aku. Ibuku menganggap aku jadi asisten detektif dan digaji. Dan gajinya cukup besar menurut beliau. Setelah menghubungi ibuku, aku segera turun dari sepeda motor dan kutuntun sepedaku masuk ke kontrakan Puri. Puri langsung menyambutku.

“Hai Ndre! Masuk!” katanya.

Aku pun masuk. Rumahnya bersih, rapi. Gila apa cewek ini rajin banget ya? Rumah kontrakan sebesar ini bisa dirapiin sendiri. Mana orangnya tinggal sendiri lho.

“Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu,” kataku.

“Oh ya? Apa?”

Aku pun mengeluarkan peta yang dicorat-coret oleh Detektif Johan. Kemudian aku jelaskan semua yang aku dengar dari Detektif Johan. Puri mendengarkanku dengan seksama.

“Aku tak tahu apa yang dimaksud tapi kalau memang targetnya di titik ini aku tahu siapa yang akan jadi korban berikutnya,” kata Puri.

“Kamu tahu?” tanyaku.

“Iya, aku tahu. Ini adalah tempat Yogi, distrik 5,” jawabnya.

“Distrik?”

“Kami membagi wilayah kekuasaan. Valiant membagi wilayah kekuasaan menjadi 10 distrik. Dan pemimpin distrik pertama baru saja dibunuh tadi malam. Dan selamat deh, kami dikatakan teroris sekarang,” kata Puri.

“Yah, aku cuma memberitahukanmu tentang hal ini. Cepat atau lambat mereka akan menyerang tempat itu berarti,” kataku.

“True,” katanya.

Kami pun terdiam sejenak. OK, tugas sudah selesai. Tapi rasanya koq aku enggan ya untuk pergi. Aku pun bersandar di sofanya.

“Oh iya, lupa. Belum nawarin minum. Mau minum apa?” tanyanya.

“Apa aja deh,” jawabku.

Setelah itu ia pun beranjak. Entah karena nyaman atau emang aku terlalu capek sehingga aku pun tertidur di sofa itu. Padahal niatku hanya menyandarkan kepalaku di sofa. Tahu-tahu aku sudah tidak sadar. Aku baru bangun ketika malam sudah larut. Sedikit kaget ketika aku terjaga. Kulihat aku sudah memakai selimut. Oh, aku diberi selimut oleh Puri ternyata. Aku lebih kaget ketika melihat Puri juga tidur di sofa. Waduh…gimana nih? Masa’ aku harus pulang tanpa permisi. Nggak enak jadinya.

Aku lihat ia tak memakai selimut. Wah jangan-jangan selimutnya cuma ini. Trus dipakaikan ke aku. Hadeeh… aku lalu beranjak mendekat ke cewek berambut ungu ini. Dia pake kaos ama celana legging warna coklat. Hal itu makin menampakkan lekukan tubuhnya. Ternyata dia kalau tidur cakep juga ya. Aku lalu menyelimuti dia. Tiba-tiba matanya terbuka.

“Ndre?” katanya.

“Oh, kamu terbangun?” kataku.

“Hmm…kamu udah bangun ya? Tadi waktu aku bikinin minum eh, kamu tidur. Ya udah deh,” katanya. Ia pun duduk.

“Kalau begitu aku pergi yah,” kataku.

Puri memegang tanganku. “Kalau boleh temenin aku dong, tak ada orang di rumah ini. Jadi kalau kamu tak keberatan….”

Lha, diakan seorang elemental masa’ ya ada rasa takut sih? Tapi melihat dia takut seperti ini, aku jadi gemes. Apalagi wajahnya kiyut banget. Entah kenapa aku pun duduk di sampingnya. Ia lalu memelukku. Wah, kenapa ini anak?

“Ndre, gimana pacar kamu?” tanyanya.

“Yah, masih saja begitu. Sekarang ia berhalusinasi, katanya dibisiki oleh cowok itu,” jawabku.

“Kenapa sih kamu nggak move on aja?”

“Nggak bisa Pur, aku…aku sudah cinta mati ama dia.”

Puri makin memelukku lebih erat. Aku kemudian mengusap-usap rambutnya. Hal itu jadi mengingatkanku ketika aku melakukan hal yang serupa ke Maria. Aku perlahan-lahan meletakkan tanganku ke punggungnya, kini aku juga memeluknya.

Wajahnya mendongak ke arahku. Entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba saja bisa mencium dia malam itu. Ini adalah pertama kalinya aku mencium cewek selain Maria. Apa yang aku lakukan ini? Makin lama makin melekat bibir kami, seolah-olah tak mau dipisahkan. Aku mendorongnya dan Puri pun merebahkan diri di sofa. Aku mengikutinya. Wajah kami semakin mendekat dan berciuman lagi. Apa yang aku lakukan?

“Pur, kita ngapain ini?” tanyaku.

“Nggak apa-apa Ndre, lakukan aja. Ini instingmu bukan?” katanya.

“Tapi…aku..aku masih cinta ama Maria,” kataku.

“Apa kata hatimu sekarang?”

Kata hatiku? Aku tak pernah bertanya tentang kata hati. Aku sangat mencintai Maria. Tapi, kenapa aku tak menolak ketika Puri menciumku. Kata hatiku? Kenapa aku kemarin harus turun gedung segala ketika melihat Puri di sana? Kenapa? Apakah aku menyukai Puri sekarang? Aku lalu memeluknya, aku tak bisa berpikir lagi. Aku hanya mengikuti instingku, kata hatiku, dan kata hatiku sekarang adalah aku ingin memeluknya malam ini. Menciumnya.

Puri menerima ciumanku lagi dan kini aku juga membalas pelukannya. Aku merasa berdosa kepada Maria. Merasa telah mengkhianati cintanya. Tapi, dia juga telah mengkhianati cintaku. Kenapa juga tiba-tiba dia memutuskan hubungan kita hanya karena Ray? Secara de yure aku sudah tak ada hubungan lagi dengan Maria, jadi kalau toh sekarang aku berhubungan dengan Puri….ya tak masalah kan? Iya, tak masalah. Tak masalah sama sekali.

Aku menciumi Puri, makin ganas. Puri pun menerimaku. Ciumanku kini ke arah lehernya. Kuhisap lehernya yang jenjang itu. Puri menggelinjang. Aku bisa merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Payudaranya kupegang. Kubisa rasakan putingnya mengeras. Dia ternyata tak memakai bra.

“Oh, Ndre…lakukan apa yang instingmu katakan!” katanya.

Iya, aku sudah melakukannya sekarang. Perlahan-lahan kaosnya pun aku naikkan. Ia pun melepaskan kaosnya sekarang. Alamak baru kali ini aku melihat dada cewek ini. Aku walaupun petting ama Maria, tapi aku tak pernah melihat dadanya sepenuhnya. Ini untuk pertama kalinya aku merasakan kulit buah dada seorang cewek, bahkan aku bisa melihat putingnya yang coklat kemerahan mengacung, menantang, mengeras. Aku gemas sekali ingin mengisapnya.

“Aku boleh mengisapnya?” tanyaku.

Dengan tatapan sayu, Puri mengangguk. Aku menundukkan kepalaku dan mencium putingnya. Puri menggelinjang. Perlahan-lahan bagian dada berujung kencang itu pun sudah terkurung dimulutku. Lidahku menyentuh kulitnya yang lembut. Kuhisap, kukenyot. Seolah-olah merasa telah menelan pil ektasi, Puri menggeliat keenakan. Tangannya menarik kaos dari punggungku, lalu ditariknya kaosku hingga aku pun melepaskan kaosku. Aku pun bertelanjang dada sekarang tubuh atasku terekspos menampakkan lekukan badanku yang yah…nggak atletis-atletis amat sih. Aku masih menikmati dua buah bukit kembar yang terpampang di depanku.

“Ndre, inilah instingmu bukan? Kamu kemarin turun ke gedung itu karena diriku bukan?” bisiknya.

AKu tak menjawabnya. Tanganku sudah turun ke celana leggingnya sekarang dan masuk ke pantatnya yang hangat dan seksi itu. Puri makin menggeliat. Ia pun membantuku untuk meloloskan celana leggingnya. Ahhhh fuck….akhirnya aku pun melepas celanaku sendiri hingga telanjang sekarang. Kami sekarang di atas sofa tanpa busana. Batang kemaluanku sekarang sudah tegak mengacung. Menampakkan keperkasaanku. Dan ini juga untuk pertama kalinya kemaluanku dilihat langsung oleh seorang Puri.

Dia menggenggam batangku di tangannya. Lembut sekali. Genggamannya mantap dan dia mengocoknya. Uugghh…ahhhhh Puri mengocoknya lembut dan eh…dia cium punyaku. Pur…anu…itu…ahhhh…enak banget. Mantab banget gerakan lidahnya di kepala pionku.

Dia pun mengulum kepala pionku yang sudah mengeras. Ahh…dia hisap-hisap. Aku hanya mengeluh dan mendesis merasakan kenikmatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Iya, Maria saja tak pernah melakukan hal seperti ini kepadaku. Emang aku awet-awet sih. Kepala Puri sudah maju mundur sekarang memberikan sentuhan oral sex kepadaku. Bibirnya mengapit batang penisku. Ahhh…..aku makin keras saja. Dia mengusap-usap perutku dan jemarinya menggelitik pinggangku.

“Purr…udah Pur!” pintaku.

Ia pun melepaskan batangku. Batangku sudah mengkilat dengan air liurnya. Dan sebuah garis panjang seperti benang terjulur di kepala pionku dengan bibirnya yang seksi. Ahh…gilaaakk…itu pemandangan erotis yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Kalau dia bisa memberikan kenikmatan kepadaku, aku juga bisa.

Aku langsung turun ke pahanya. Langsung aja deh aku sosor itu rambut yang ada di bawah perutnya. Puri seolah mengerti apa yang aku inginkan. Dia langsung merebahkan diri dan membuka pahanya lebar-lebar. Lidahku sudah langsung menyapu bibir kemaluannya. Aku buka kemaluannya, sehingga hal itu membuatku bisa melihat betapa merahnya kemaluan Puri. Apa dia masih perawan? Lidahku pun menari-nari disana sambil kuhisap.

“Ndree…aahhhh…kamu apain itu?” kata Puri.

Aku gelitiki lubang kemaluannya dengan lidahku, kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Ini pertama kalinya aku merasakan cairan kewanitaan seorang wanita. Rasanya agak sepet, agak asin, tapi entah kenapa aku merasa ini adalah rasa tergurih yang pernah aku rasakan. Bau kewanitaannya malah membuatku makin bergairah. Dan iya, aku ingin sekali menyedot semua cairannya. Hidungku menyentuh sesuatu yang menonjol diujung bibir kemaluannya. Ini klitoris ya? bibirku lalu menangkap tonjolan kecil itu.

“NDree…jangan di situ Ndre…aku…aku…nggak kuat,” katanya.

Aku tak peduli lidahku sudah menggelitik lembut klitorisnya yang sekarang memerah dan makin menonjol ketika kusentuh. Pantat Puri sudah tidak bisa tenang lagi. Dia makin seperti cicak kesetrum, bergerak kiri kanan dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya.

“Ndree….aku keluar Ndree…udah…udah..NDREEEEEEEEEEEE! AAAAhhhkk….!” Puri seperti hampir menangis ketika tak henti-hentinya kulakukan itu. Aku lalu menghentikannya. Cairan kewanitaannya aku isap-isap. Aku lalu duduk melihat ia terkapar karena orgasme.

“Pur, boleh ya?” tanyaku.

Dia mengangguk.

Aku posisikan diriku berada di depannya. Kedua kakinya sedikit kuangkat. Pionku kupasang di depan bibir kemaluannya. Ia memejamkan mata, Puri sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Tangannya ia buka sambil berpegangan kepada pinggir sofa. Sepertinya ia tak pernah melakukan ini sebelumnya. Instingku berkata, perlahan-lahan. Aku mulai memasukkannya. Kudorong sedikit. Puri menggigit bibirnya. Ngilu sekali rasanya. Kepala pionku mulai masuk dan hilang ditelan liang senggama Puri. Kemaluannya berkedut-kedut seperti menyedot-nyedot batangku.

Aku tarik sedikit, lalu aku dorong. Dan sesuatu mengejutkan.

“Aaahhhkkk….NDree…hhmmm!” keluhnya.

“Kamu? Masih perawan?” tanyaku.

Ia menatapku sambil mengangguk. Aku kemudian berhenti sejenak. Merasakan penisku diremas-remas dengan kuat oleh liang senggama Puri. Ternyata ia masih perawan. Apa yang sudah aku lakukan ini? Argghhh..udah terlanjur. Lanjut deh.

Aku dorong lagi dan….SLEEBBBBBBBB SREEEETTTTT! Aku seolah-olah merobek sesuatu yang sangat rapat di sana. Uuuuffffhh…nikmatnya tak terkirakan. Kemaluanku ngilu sekali. Ngilu banget. Ingin rasanya aku meledak saat itu juga. Tapi aku ingin mengimbangi Puri. Ia belum keluar lagi. Paling tidak aku bisa menggoyangkan pinggangku. Tubuhku mulai menindihnya. Aku peluk dirinya.

“Ndre…aku cinta kamu Ndre…aku cinta kamu,” katanya.

Duh, apa yang harus aku katakan sekarang? Apa aku sudah move on ke Puri?? Aku bingung. Ahh…ntar dulu deh mikirnya. Masa’ harus kentang di tengah jalan. Udah masuk ini. Udah tegang. Nggak lucu kalau tiba-tiba sudah masuk semaput di tengah jalan. Akhirnya aku pun menggoyang pinggulku.

“Ahhhsssshhh…,” Puri mendesis. “Sakit Ndre…hhmmm.”

Aku terus menggoyang pelan-pelan hingga akhirnya aku tidak lagi mendengar rasa sakit keluar dari mulutnya. Dan kini ruang tamu itu jadi saksi di mana aku bercinta dengan Puri. Di mana aku merenggut keperawanan seorang gadis. Dan juga untuk pertama kalinya aku bercinta dengan seorang wanita dewasa. Genjotanku makin keras, makin cepat, Puri makin keenakan. Dia menggigit bibirnya, tangannya sudah dilingkarkan ke leherku. Aku menghimpit tubuhnya, entah berat badanku makin membuat ia keenakan atau kesakitan. Tapi ia juga mulai bergoyang kiri dan kanan. Kakinya sekarang melingkar ke pinggangku.

Aku lalu mencium bibirnya. Bibir kami saling menghisap. Lidah kami saling bertemu di langit-langit mulut kami. Sementara itu pinggangku makin kencang sekali goyangannya.

“Ndree…aku nyampe lagi nih, barengan yuk!” bisiknya.

“Aku keluarkan di dalem?” tanyaku. “Nggak apa-apa Pur?”

“I…iyaa..nggak…apa-apa..ahhkk,” Puri melengkung badannya. Bersamaan dengan itu, aku pun genjot makin kencang. Penisku sudah mentok diujung, gatal rasanya ingin menyemburkan milyaran sperma ke dalam rahimnya. Iya, kemaluanku seperti ditelan semuanya oleh liang senggama Puri. Penisku pun berkedut-kedut kencang dan keluarlah cairan itu ke dalam kemaluannya. Bersamaan dengan itu ia pun mengeluarkan cairan yang tak sedikit. Batangku rasanya hangat sekarang.

Peluh sudah membasahi dahiku. Gila, seperti inikah rasanya bercinta? Aku baru kali ini merasakannya. Nikmatnya sampai ke ubun-ubun. Aku diamkan batangku sampai menyusut dengan sendirinya. Lalu aku beralih berbaring di sampingnya. Puri menarik selimut dan kami pun berada di dalam satu selimut sekarang. Ia memelukku.

“Ndre…? Kamu menyesal?” tanyanya.

Menyesal? Kenapa ia bertanya seperti itu?

“Aku tahu kamu masih cinta ama dia, maafkan aku ya. Maafkan aku,” kata Puri.

Kalau sudah begini gimana aku bilang “Kamu salah”. Dia baru saja ngasih keperawanannya ke aku. Aku deh yang serba salah sekarang. Benarkah sekarang ini aku sudah move on? Maafkan aku Maria. Kami berdua pun tertidur pulas sampai pagi.

Bersambung