Lentera Hitam Part 20

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 19

8 Miles

NARASI DETEKTIF JOHAN

Pagi sudah menjelang. Pertempuran telah selesai. Sirine ambulance meraung-raung. Aku melihat kantong mayat tergeletak berjejer di mana-mana. Bau anyir darah mulai menusuk hidup. Meskipun di sini ada pemandangan yang tidak enak untuk dilihat, tetapi sang mentari tetap dengan indahnya memancarkan sinarnya di pagi hari. Ironis memang. Aku, James dan Andre melihat langsung dari dekat. Kami diperbolehkan masuk sekarang. Apartemen itu tampak sedang disemprot oleh pemadam kebakaran.

Aku melihat seseorang yang sangat aku kenal membunuh sang Elemental, Robert. Dia tampak menghadap ke jasad orang yang bernama Jack, sang Elemental api. Kepala orang ini seperti diputar 360 derajat. Ekspresi matanya mengerikan. Dan aku cukup senang karena Andre sekarang tidak mengotori TKP lagi. Cukup jengah juga melihat dia muntah setiap kali melihat darah atau isi perut yang keluar.

Namun perbuatannya tadi malam adalah sangat konyol. Kenapa juga dia turun ke medan pertempuran hanya karena melihat temannya. Aku marah sekali ke dia dan dia minta maaf berkali-kali. Ia juga tak tahu kenapa bisa melakukan itu. Ia bilang, semua itu adalah insting. Kalau kubilang sih itu sinting.

“Pagi detektif,” sapa Robert.

“Pagi,” kataku kecut.

“Kau tampak tak suka dengan kehadiranku di sini,” kata Robert sambil tersenyum. “Tapi aku bisa maklumi itu. Inilah pekerjaan kami detektif memburu para elemental. Mereka juga akhir-akhir ini menyerang anggota kami ketika lengah, kami akhirnya bisa membalas.”

“Empat puluh dua mayat, dua puluh mayat dari pihak kepolisian, lima mayat darimu, sisanya orang-orang yang kamu sebut elemental itu. Kau bilang itu pembalasan? Ini sudah kategori perang,” sanggahku.

“Nah, itu dia. Perang. Tepat sekali. Dalam perang apapun bisa terjadi detektif, apapun bisa terjadi,” kata Robert. Ia pun meninggalkan aku melangkah menuju mobilnya dengan diikuti oleh beberapa orang.

James menepuk punggungku untuk menahan diriku agar tidak emosi. Lagi-lagi pembunuhan terjadi di depanku tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Piere, ini seperti 8 Miles. Kamu sudah pergi ke alamat yang aku beritahukan dulu?” tanya James.

“Iya, tapi di sana tak ada apa-apa. Sepi. Bahkan tempatnya kini sudah jadi pemukiman. Kepana?” kataku

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kejadian hari ini mengingatkanku kepada 8 Miles. Mayat-mayat bergelimpangan, darah mengalir tanpa mengetahui kenapa mereka bisa mati. Ayo, aku sudah muak berada di sini,” katanya. Iya James, aku juga.

Kami pun pergi dari tempat itu. Andre masih tidak berbicara. Pikirannya pasti berkecamuk melihat ini semua.

“Bisa aku diantar ke rumah saja Om? Aku harus masuk sekolah hari ini,” katanya.

James mengangguk. Kami melaju di atas jalanan yang makin padat dengan aktivitas orang-orang di pagi hari. Mereka tak menyadari bahwa tadi malam ada perang yang mengerikan. Mereka yang tidur nyenyak mungkin bagai terbangun dari mimpi, entah mereka akan memberitakan apa lagi pagi ini. Penggerebekan teroris? Atau apa?

James menurunkan Andre di rumahnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini agak jauh. Kami bahkan sempat pergi ke restoran fast food untuk membeli kopi dan sepotong burger agar tidak mengantuk karena sepanjang malam kami tidak tidur. Kopi pun terasa pahit di lidah, jantung mulai terpacu lebih kencang, sehingga membuat efek vit kepada kami. Mata langsung terbuka seperti baru saja melihat matahari.

Kurang lebih setelah dua jam kami berkendara, sampailah kami ke sebuah tempat di pinggiran kota. Sebuah gedung apartemen tua yang sudah mau roboh sepertinya. Sepertinya bangunan itu terbengkalai.

“Tempat apa ini?” tanyaku.

“Inilah tempat yang dinamakan 8 Miles kedua,” jawab James.

“Maksudmu ada dua 8 Miles?”

“Tepat sekali. Ini tempat kedua di mana pembantaian itu berlangsung. Sebenarnya ada satu tempat lagi, juga berada di pinggiran kota. Kenapa kami menamakannya 8 Miles? Ada alasannya. Setiap pembantaian di tempat itu selalu direkam oleh sebuah rol film. Dan anehnya diberikan kepada pihak kepolisian,” ujar James. “Akhirnya kami menganggap pasti ada komunitas khusus yang melakukan ritual pembantian seperti ini. Awalnya kami menganggap seperti itu. Tapi sepertinya tidak. Ditambah dengan peperangan yang terjadi tadi malam. Artinya sudah ada empat tempat yang dikategorikan sebagai 8 Miles.”

“Empat tempat?” aku terkejut jelas. Dan ini gila.

“Ayo kita masuk ke dalam!” ajak James.

Kami pun mulai masuk ke apartemen yang tak terpakai itu. Bangunannya sebenarnya bagus. Catnya pun masih terlihat bagus. Hanya saja dari luar tampak bangunannya terbengkalai dan hampir roboh. Aku berjalan memasuki lorong panjang, hingga kemudian sampai ke sebuah tangga memutar. Beberapa temboknya terlihat berlubang, air tampak merembes dari atas lalu menetes ke lantai memberikan satu-satunya efek musik natural di tempat ini.

Langkah kakiku dan James satu-satunya suara yang bisa membahana di apartemen ini. Beberapa pintu kamarnya pun terbuka. Tampak ruangannya pun sudah usang, jaring laba-laba pun menghiasi beberapa sudut. Beberapa eternit jebol dan kulihat binatang pengerat lari tunggang langgang ketika mengetahui keberadaan kami. Nyamuk pun sepertinya berpesta menyambut kedatangan kami, karena kudengar dengungan mereka sekarang. Kami naik ke lantai atas. James menunjukkanku sebuah lorong di lantai tiga.

“Dulu, di sepanjang lorong ini mayat-mayat bergelimpangan. Sepertinya mereka semua adalah elemental. Tapi aku juga tak yakin. Karena bagiku mereka juga sama seperti kita, manusia,” ujar James.

“Kenapa kamu bisa berkata begitu?” tanyaku.

“Aku sukar mengungkapkannya. Perasaanku mengatakan yang dibantai di sini bukan saja para elemental. Tapi juga manusia biasa. Korbannya selalu banyak, puluhan. Seperti yang kamu lihat tadi malam, itu sungguh sesuatu yang mengerikan pikirku.”

“Jadi tempat terjadi hal yang sama?” gumamku. “Semuanya dilakukan oleh ATFIP? Kenapa pemerintah membiarkannya?”

“Tentu saja karena ATFIP punya alasan khusus dan wewenang khusus sehingga terjadi pembantaian seperti ini.”

“Kenapa kita tak bisa memprotesnya? Ini sama saja dengan pembunuhan masal.”

“Masalahnya tak semudah itu Piere. Bagaimana kamu bisa mengubah undang-undang yang sudah dibuat pemerintah? ATFIP punya wewenang langsung di bawah pemerintah. Kita tak bisa berbuat apa-apa.”

“Kalau memang mereka punya wewenang langsung lalu kenapa berita-berita tentang pembunuhan ini tidak tersiar?”

“Itulah masalahnya! Aku tidak tahu kenapa mereka menyembunyikannya. Alasan politis mungkin atau alasan yang lain.”

“Berapa korban di sini?”

“Enam puluh lima, lima orang dari ATFIP. Sisanya para penghuni apartemen.”

“James, kamu punya berkas-berkasnya? Aku ingin mempelajari semuanya. Bisa jadi ini merupakan jalan terang kepada sesuatu.”

“Sesuatu apa?”

“Entahlah, aku harus melihat dulu.”

NARASI ANDRE

Aku masih ngantuk gara-gara tidak tidur semalaman. Akhirnya aku pun nekat meminum kopi pahit. Ini baru pertama kalinya aku minum kopi sepahit ini. Tapi efeknya aku melek. Aku masih shock mengetahui bahwa Puri adalah seorang elemental. Dan aku merasa diriku sangat bodoh karena entah kenapa aku turun ke bawah.

Dan hari ini ketika di sekolah aku dikejutkan dengan Maria. Dia masuk hari ini setelah beberapa bulan nggak masuk. Aku langsung menyapanya.

“Mar?” sapaku.

“Hai Ndre,” jawabnya.

“Kamu masuk?” tanyaku.

“Iya dong, udah lama nggak masuk nih. Ketinggalan banyak pelajaran,” jawabnya enteng.

“Tapi…kamu yakin udah sehat?”

“Nggak sih, daripada di rumah terus. Lagipula tiap hari Ray menyemangatiku agar kuat dan harus sehat.”

Lagi-lagi dia bicara dengan Ray. Aku pun sedikit emosi, “Mar, udahlah Ray udah pergi. Kamu cuma berhalusinasi, Ray nggak ada Mar.”

“Ada koq, tiap pagi dia berbisik kepadaku. Dia menyemangatiku untuk terus kuat dan terus berusaha agar selalu sehat,” kata Maria dengan wajah ceria. Syukurlah ia bisa ceria tapi ya tidak begini juga kali.

“Mar, kamu ….,” aku tak bisa melanjutkannya.

“Kenapa Ndre?” tanyanya.

“Udahlah Mar, lupakanlah dia! Dia sudah pergi, sudah tiga bulan ini dia tidak kembali. Kamu terlalu berharap banyak ama dia. Aku selalu di sampingmu Mar, ayolah kembalilah kepadaku. Kamu tahu kalau aku sangat menyayangimu, aku cinta mati ama kamu Maria!” kataku.

Maria tersenyum, “Makasih ya Ndre, maaf. Sekali lagi maafkan aku.”

Damn, aku tak bisa apa-apa. Sepertinya aku powerless melihat senyumannya itu. “Mar, kenapa kamu seperti ini? Aku cinta ama kamu selama ini. Kita sudah pacaran bukan selama ini?”

“Apakah kamu pernah merasakan sakit ketika mencintaiku Ndre?”

“Maksudmu?”

“Apa yang kamu rasakan ketika mencintaiku?”

“Ya…,” aku tak tahu. Aku cuma senang saja ketika mencintai dia. Rasanya nyaman dan sangat senang sekali bisa bersama Maria. Perasaan yang berbunga-bunga, perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Aku …aku senang, nyaman, yang pasti kalau deket kamu aku berbunga-bunga gitu.”

Maria menggeleng. Dia masih sambil tersenyum, “Kalau kamu mencintai seseorang jangan pernah memikirkan perasaanmu saja. Ketika aku sakit, apakah kamu bisa merasakan sakit ini Ndre?”

Aku menggeleng.

“Itulah bedanya kamu dengan Ray. Sejak dulu Ray mengetahui semua tentang diriku, perasaanku, cintaku. Aku tahu kalau dia setiap hari menggambar wajahku, semua ekspresiku digambarnya. Dia tahu aku gembira, dia tahu aku sedih. Selama ini demi melindungi diriku dan kalian semua dia menjauhi aku dan kalian. Aku sekarang tahu rasanya sendirian. Aku sekarang tahu bagaimana perasaan Ray. Dia sangat ingin dekat dengan kalian, tapi kekuatannya memaksa dia tidak bisa mendekat kepada kalian. Setiap saat dia selalu melindungiku, melihatku, walaupun dia bilang bahwa dia mencintaiku dan terlambat, tapi aku sudah bisa merasakan bagaimana perasaannya selama ini. Seolah-olah aku sudah mengetahui dirinya selama ini. Dan dada ini sesak ketika mengerti perasaannya. Sakit sekali Ndre…jantungku berdebar, tidak seperti biasanya.”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. “Maria, aku….aku tahu aku tak bisa memaksamu mencintaiku. Tapi, aku akan tetap mencintaimu Mar. Walaupun kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Dan aku berjanji kepadamu. Aku akan tonjok si Ray itu karena telah meninggalkanmu begitu saja sampai kamu seperti ini.”

Maria menggeleng, “Dia tidak meninggalkanku Ndre, sebentar lagi dia datang. Sebentar lagi dia datang koq.”

Yakin sekali sih dia? Entah kenapa ia bisa seyakin itu. Aku nggak suka dengan sikapnya Maria itu. Ray, brengsek kamu. Udah ngerebut cewek orang, sekarang nyusahin orang lagi. Gue akan tonjok sekeras-kerasnya mukanya nanti. Brengsek bener.

Pelajaran pun di mulai dan sang guru sudah masuk. Kali ini pelajarannya bahasa Inggris.

“Waahh…Ada Maria. Gimana Maria? Sudah sehat?” tanya bu Guru.

“Siap ngejar ketinggalan Bu,” jawab Maria dengan ceria.

“Syukurlah, semangat ya,” kata Bu Guru.

Maria tersenyum sambil mengepalkan tangannya ke atas. Aduh, kiyut banget kalau dia begitu. Maria, maria, aku akan terus menjagamu Mar. Walaupun kamu tak menganggapku lagi.

Jam pelajaran pun usai akhirnya. Aku menawarkan diri kepada Maria untuk dianter pulang. Maksudku sekalian soalnya ayahnya nelpon aku untuk segera ke kantor detektifnya.

“Kuanterin pulang yuk! Aku sekarang mau ke tempat ayahmu,” kataku.

“OK,” katanya.

Seneng banget dong diriku. Dengan semangat 45 aku pun menstarter motorku. Tak berapa lama kuda besiku sudah meliuk-liuk di jalan raya. Walaupun kami tak bicara tapi aku sudah senang bisa membonceng Maria lagi. Orang yang aku cintai. Aku pun tiba di sana. Maria langsung turun.

“Makasih ya,” katanya.

Aku segera memasukkan sepeda motorku ke dalam. Setelah itu masuk ke kantor Detektif Johan. Di dalam kantor detektif kulihat ayahnya Maria sedang bersama Inspektur James. Tampak sekali kalau mereka sama-sama belum tidur. Apa yang mereka bahas sebenarnya.

“Oh, syukurlah kamu sudah datang Ndre. Ada tugas untukmu!” kata Detektif Johan.

“Tugas?” kataku.

“Iya, ini penting. Aku sudah tahu kenapa terjadi serangan kemarin malam dan di mana serangan berikutnya akan berlangsung,” katanya.

“Hah?”

Bersambung