Lentera Hitam Part 19

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 18

The Hunting Party Part III

NARASI ALEX

“Lex, masalah Lex!” seru Tim.

“Apaan?” tanyaku.

“Jack, si Jack dikepung!” jawabnya.

“Di mana?”

“Di tempatnya. Distrik 1!”

“Ngapain di sini ayo ke sana bantu dia!” seruku.

Setelah itu aku dan kawan-kawan yang lain bergerak untuk ke distrik 1. Pasti bukan perkara yang mudah untuk bisa mendekat ke sana. ATFIP benar-benar melakukannya. Dalam radius 1 km tempat itu diblokir. Bagaimana bisa masuk ke sana? Kalau kita menyerang dan menerobos masuk, itu sama saja dengan bunuh diri.

Apalagi yang ada di sana bukan saja ATFIP. Tapi ratusan personil kepolisian dari tim Gegana juga tim Anti Huru Hara. Mereka membawa pentungan dan sebagian sudah bersenjata lengkap. Bagaimana dengan Jack?

“Mana yang lain?” tanyaku.

“Yang lain tak mungkin ke sini Lex, kamu tak lihat apa? Mereka bersenjata lengkap gitu,” kata Tim.

“Sial, panggil Purple!” perintahku.

Tim segera mengambil ponsel. Ia pun menghubungi Purple. “Purple, Jack. Di distrik satu sedang terjadi penggerebekan. Kamu bisa datang? OK!”

Aku tak tahu bagaimana bisa menyelamatkan Jack. Tapi yang jelas gedung apartemen tempat Jack berada beserta kawan-kawan lainnya sudah terkepung rapat. Tak ada lagi tempat mereka untuk lolos.

“Purple akan ke sini secepatnya. Kamu punya rencana Lex? Kita semua menunggu,” kata Tim.

Aku menoleh ke arah semuanya. Ada kurang lebih dua puluh orang di sini dan mereka semua menunggu instruksiku. Para elemental ini menunggu komandoku. Entah mereka sudah siap mati atau tidak. Yang jelas, aku tak ingin kehilangan orang lagi sebenarnya.

“Tim, kamu tunggu Purple di sini. Yang lain sebagian ikut aku. Coba cari jalan memutar untuk bisa masuk ke apartemen itu. Misi kita adalah kecoh perhatian musuh dan bunuh orang sebanyak-banyaknya. Kalian mengerti?!” ujarku.

“Lex, itu sama saja dengan bunuh diri!” kata Tim.

“Kita cuma membuat jalan. Hubungi Jack, kita buat jalan agar dia bisa keluar,” kataku.

“Oh, begitu,” Tim mulai mengerti.

“Tahu yang kalian lakukan?” tanyaku kepada semuanya.

“Yaaa!” seru semua.

“Berpencar. Buat barikade mereka berantakan!” kataku.

Belasan orang mengikutiku kemudian berpencar. Kami mulai mendekat dan membuat kekacauan. Elemen-elemen mulai digerakkan. Para aparat yang berwajib itu kaget ketika terdengar ledakan dan melihat Air tiba-tiba meluap di belakang mereka.

Aku pun bergerak untuk menyerang beberapa anggota polisi dengan kekuatan angin. Tembakan-tembakan pun berdesingan. Mereka tak lagi memakai peluru karet, tapi benar-benar timah panas. Ini serius. Benar-benar serius.

Kulihat di depan apartemen mereka pun bergerak masuk. Tunggu dulu! batinku.

Ketika aku sampai di dekat halaman apartemen, beberapa anggota polisi melepaskan tembakannya ke arahku. Peluru-peluru itu aku alihkan dengan kekuatan angin yang sudah melindungiku sejak tadi. Hasilnya tidak bagus, hampir saja aku terkena peluru.

Tapi aku masih bisa selamat. Kurang! Angin lebih banyak lagi, aku ingin bisa menghancurkan barikade ini. Aku bisa merasakan bisikan angin di seluruh tanganku. Walaupun tidak terlihat, aku bisa melihat angin telah membentuk sebuah pedang yang sangat besar sekarang. Pusaran angin kini berputar-putar di kedua tanganku.

Tanganku sekarang seperti bor yang siang menerjang apapun. Aku langsung menghantam orang-orang bersenjata itu. Mereka pun terhempas.

Kulihat teman-temanku yang lainnya juga melakukan hal yang serupa. Ada yang membentuk palu bumi dan menghantamkannya ke kerumunan polisi yang memblokade tempat ini. Tapi karena mereka memakai senjata api, maka kami harus benar-benar hati-hati.

Pertempuran benar-benar seru dan mencekam. Senjata ditembakkan. Peluru melayang kemana-mana. Tempat itu benar-benar jadi ajang perang. Hingga kami pun ditembaki oleh gas air mata. Tapi sebagai elemental angin aku bisa menghalau gas air mata itu.

Sadarlah aku ingin bisa bicara dengan angin. Aku makin menggila. Aku bergerak cepat untuk menangkap salah seorang polisi lalu ku hentakkan tanganku yang sudah ada spiral angin hingga menembus dadanya. Darah segar pun menyembur seperti air mancur.

Lebih dari itu aku pun menangkap yang lainnya dan kulakukan serupa. Namun itu tak berlangsung lama ketika semburan api tiba-tiba menghantam dadaku. Aku terpelanting ke belakang beberapa meter. Di depan aku melihat seorang dengan jas hitam dan membawa Jolt.

“Perkenalkan, namaku Ralph. Aku dari divisi ATFIP. Kalian menyingkirlah, dia bukan lawan kalian,” katanya. Ada yang lain dari dia. Di tangan satunya ia juga membawa tongkat Jolt. Ada dua?? Tanpa bilang-bilang ia sudah mengacungkan saja tongkat itu ke arahku. Ternyata tongkat yang satunya adalah elemen petir. Segera saja kilatan cahayanya hampir saja menyambarku kalau aku tidak segera beranjak dari tempatku berada.

Ralph tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku. Hah? Sejak kapan? Aku pun ditendang dengan kakinya. Ugh, rahangku serasa mau copot. Aku terjerembab di atas aspal. Aku pun gusar dan segera berdiri. Hah? kemana dia. Belum sempat aku sadar ternyata dia sudah ada di atasku. Hei?? Dia memakai Jolt apinya untuk melompat, apa yang dilakukannya sama persis seperti Agni yang mengeluarkan api dari kakinya. Brengsek! pikirku.

Aku terdesak. Makin mundur dan menjauh dari barikade. Jack! Bertahanlah!

Kenapa dia bisa bergerak cepat? Apakah pengaruh dari Jolt yang dia bawa? Tunggu dulu, berarti dia memakai elemen petir untuk mempercepat gerak tubuhnya. Bukankah itu sama saja dia mengendalikan elemen petir? Kalau memang demikian, gerakannya bakal lebih cepat dari sekedar ini.

Aku belum sempat menyadari semuanya ketika dia sudah memukul diagfragmaku. Aku langsung mengaduh dan meringkuk di atas aspal. Mengerang kesakitan. Aku tak bisa bernafas. Seolah-olah paru-paruku ditekan. Kakinya pun menginjak kepalaku.

“Elemental, siapa namamu? Setidaknya aku ingin tahu orang yang aku bunuh bernama siapa,” kata Ralph.

“Apa pedulimu tahu namaku segala?” kataku.

“Kamu tahu ini apa bukan?” dia menunjuk ke tongkat Jolt miliknya. “Ini namanya Jolt. Manusia berubah, manusia berevolusi, pengetahuan mereka pun berevolusi. Awal mula kami menghadapi kalian dengan menggunakan pedang dan mesiu.

Namun seiring berkembangnya jaman, kami mengetahui bahwa setiap elemen baik air, udara, tanah, api semuanya mempunyai frekuensi. Tentu kalian tahu bahwa batu yang besar saja bisa hancur dengan frekuensi tertentu. Dan kami pun mengetahui hal itu.

“Dengan berbekal pengetahuan itulah tongkat Jolt diciptakan. Awalnya hanya bisa menguraikan elemen. Tapi lambat laun, kami bisa memerintahkan mereka sebagaimana kalian bisa memerintahkan elemen. Dan lebih daripada itu kami juga bisa membuat diri kami memiliki sifat-sifat seperti elemen itu.

Sebagai contoh adalah gerakanku tadi. Kamu pasti bertanya-tanya bagaimana gerakanku bisa secepat itu bukan? Ya, itu semua dari pengaruh Jolt petir yang ada di tangan kiriku. Aku bisa memerintahkan elemen petir untuk membuatku bergerak lebih cepat. Kalian hanya bisa menggunakan satu elemen, tapi dengan diriku yang memiliki dua unsur elemen sekaligus pada kedua tongkat Jolt ini, kalian tak akan bertahan melawanku.”

“Hahahahahahaha,” aku tertawa. Ralph ini, dia bodoh. Dia bodoh. Sok tahu.

“Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?” dia lagi-lagi menginjak-injak kepalaku. Sakit tahu, brengsek orang ini!

“Satu elemen? Berarti kamu tidak tahu orang yang bisa mengendalikan lebih dari satu elemen bukan? Hahahahaha, kamu sok tahu,” kataku.

“Oh, yang kamu maksudkan spesial target? Iya, kami sudah tahu itu. Dan jumlah mereka sedikit, hampir semuanya sudah kami habisi. Satu saja yang masih lolos. Namanya Ray, itukah yang kamu maksudkan? Dia memang kasus spesial. Kekuatannya yang sampai membekukan satu kota dalam semalam merupakan sebuah hal yang tidak biasa. Hal itu adalah keanehan yang tidak pernah terjawab oleh sebagian orang kecuali kita. Kita tahu siapa yang menyebabkan hal itu. Maka dari itulah ATFIP berusaha melacak keberadaannya sampai sekarang. Kami juga tahu kalian tumbuh bersama-sama, kalian sudah kami incar sejak lama. Kami tak pernah menyerang kalian ketika berada di panti asuhan itu karena kami tidak sembarangan membunuh orang. Dan ketika tahu kalian membentuk aliansi apa namanya Valiant, kerjaan kami lebih gampang. Kami tinggal bersihkan kalian dalam sebuah operasi yang bernama ‘The Hunting Party’. Kami tahu kalau satu di antara kalian diserbu, yang lainnya akan muncul. Sekarang siapa yang tertawa anak muda? Hahahahahahaha.”

“Brengsek!”

BUAK! Tiba-tiba dari arah yang tidak terduga Ralph terkena lemparan batu. Langsung saja tubuhnya terhempas ke sebuah tumpukan sampah.

“Hah, ternyata tanpa bantuanku kamu tak bisa apa-apa,” aku kenal suara itu. Purple! “Aku kebetulan ada job di dekat sini, jadi segera datang ke sini.”

“Heheh, siapa yang butuh bantuan?” kataku sok. Aku pun bangkit dan berusaha berdiri. Aku lihat Ralph terbaring di atas tumpukan sampah yang ada di pinggir jalan. Kebetulan di dekat situ ada tempat sampah. Ewwhh…bau dia pasti.

Purple tampak berkacak pinggang. What the hell? Bajunya seksi banget. Oh iya, dia kerja sebagai SPG sih. Kulihat dia pake rok mini warna putih dan baju lengan pendek warna putih juga. Sebuah logo perusahaan rokok ada di bajunya.

“Pure, Kamu bisa bergerak dengan baju seseksi itu?” tanyaku.

“Bukan urusanmu,” jawabnya. Dia menggerakkan tanah dan dengan santai menuju ke arah Ralph yang susah payah bangun.

Hei, dia bisa melakukan itu, harusnya aku juga bisa. Aku bertanya kepada angin. Apakah kalian bisa membawaku berjalan di udara? Dan mereka pun menjawabnya. Dari kakiku kubisa rasakan pusaran angin yang menyelimutinya. Tak cuma itu, sang angin makin kencang mengelilingiku. Aku sekarang melayang di udara. Baiklah, kali ini saatnya menyerang balik.

NARASI DETEKTIF JOHAN

Aku menerima telepon dari Inspektur James. Kenapa petang ini ia menelponku? Aku saat itu sedang menyuapi Maria untuk makan. Tumben hari ini anakku itu mau makan. Akhir-akhir ini dia mengigau bahwa Ray membisikinya agar ia harus sehat, ia harus kuat. Dan dia pun makan dengan lahap hari ini. Aku senang tapi juga sedih. Ia mulai berhalusinasi seperti itu.

Sejak kapan Ray bisa membisiki dia? Katanya dia mendengar suara Ray. Aku khawatir dia mulai terkena scizophrenia. Tapi dia bilang, “Aku tak apa-apa ayah, aku tak gila. Aku masih waras.” Itu makin membuatku bersedih.

“Apa James?” tanyaku.

“Ada penggerebekan di jalan Hayam Wuruk,” ujar James.

“Hah? Penggerebekan apa?” tanyaku.

“Tim gegana, pasukan anti huru-hara dan ATFIP. Mereka semua bersatu untuk menggerebek para elemental,” jawab James.

“Sebanyak itu? Apa mereka mau perang?”

“Sudah terjadi perang. Kamu mau ikut?”

“Tentu saja!” kataku bersemangat.

“Bersiaplah, aku akan menjemputmu! Saat ini aku sedang ke tempatmu,” katanya.

“Ada apa ayah?” tanya Maria.

“Ayah harus pergi, tugas memanggil,” kataku. “Kamu bisa makan sendiri?”

Maria mengangguk.

“Baiklah, cepet sembuh ya?”

“Aku besok akan masuk ke sekolah lagi,” katanya.

Sejenak aku tak percaya kata-katanya.

“Kamu yakin?” tanyaku.

Dia mengangguk mantab. “Ray bilang aku harus sehat, aku harus kuat, aku tak boleh lemah, dia akan kembali.”

Lagi-lagi dia berkata seperti itu. Ray, apa yang sudah kamu perbuat kepada putriku? Tapi sebaiknya aku biarkan dia. Karena entah bagaimana halusinasinya itu menyuruh dia berbuat baik. Baiklah, tugas sudah menunggu. Aku harus menitipkan dia kepada istriku. Aku segera menghubungi Andre untuk ke tempatku segera.

Aku mempersiapkan semuanya, pistol, magazine, rompi anti peluru. Sejak dari rumah aku sudah siapkan itu semua. Yang datang pertama adalah Andre, baru kemudian James. Aku tak beri kesempatan Andre bertanya ini itu langsung aku ajak masuk ke dalam mobil James.

“Kita nanti hanya melihat dari jauh, tidak diijinkan mendekat,” kata James.

“Kenapa sampai seperti itu?” tanyaku.

“Sekarang tempat itu sudah banjir darah. Kita justru akan menggangu para aparat yang bekerja kalau sampai mendekat,” katanya.

“Pasang ini Ndre!” aku memberikan rompi anti peluru kepadanya. Dan sebuah pistol.

“Apa ini Om?” tanyanya.

“Pasang saja. Kita pasti akan membutuhkannya nanti,” jawabku.

Mobil pun melaju ke sebuah daerah yang tiba-tiba saja para polisi memblokir tempat itu. James menunjukkan kartu pengenalnya, ia pun dipersilakan masuk. Kami berusaha sedekat mungkin tapi mendengar rentetan tembakan membuat kami langsung memarkirkan kendaraan kami jauh dari medan pertempuran.

Seorang anggota Tim Gegana langsung menemui kami.

“Maaf inspektur, sampai di sini saja kita mengijinkan Anda masuk,” katanya.

“Separah itukah?” tanya James.

“Iya, mereka sangat kuat. Kita telah kehilangan beberapa orang, tapi mereka terus kita desak. Target sudah kita ketahui keberadaannya, mungkin kita butuh tim bantuan,” kata anggota Tim Gegana itu.

“Dari mana aku bisa melihat dengan jelas?” tanya James.

“Dari gedung ini bisa,” katanya sambil menunjuk ke sebuah gedung yang menjulang tinggi di hadapan kami.

Tanpa banyak bicara, kami langsung masuk ke gedung itu dan naik dengan elevator. Kami sampai di lantai sepuluh di atap gedung. Dari atas itu memang kami bisa melihat ke bawah. Dan memang sedang terjadi sesuatu yang tak pernah kami sangka sebelumnya, yaitu pertempuran dahsyat.

Beberapa mayat bergelimpangan, sedangkan yang lainnya kami melihat pertempuran antara anggota ATFIP, Tim gegana dan kepolisian dengan para elemental. Api meliuk-liuk membakar dan meledak. Tanah bergelombang menghantam dan bertabrakan dengan kilatan cahaya petir. Suara gemuruh dan jeritan rasa sakit terdengar sampai di lantai teratas gedung ini.

“Mengerikan,” gumamku.

“Om, ini pertempuran model apa? Aku seperti melihat perang di dunia sihir saja. Batu melayang, api menghantam, rentetan peluru, desingan peluru, semuanya seperti mimpi!” kata Andre.

“Selamat datang di dunia nyata,” kata James. “Kita tak mungkin mendekat ke sana.”

Andre memicingkan mata dan tertarik kepada sesuatu di bawah sana. Ia sedikit terkejut.

“Maaf Om, aku terpaksa harus ke bawah,” katanya.

“Mau apa kamu?” tanyaku.

“Ada yang penting!”

“Hei! Kamu tak boleh ke sana!”

NARASI ANDRE

Aku tak peduli terhadap apa yang dibicarakan oleh Detektif Johan. Aku sudah turun saja melalui elevator. Tidak salah lagi. Aku melihat Puri. Rambut ungunya, khas sekali. Apalagi pakai rok mini dengan baju SPG, itu pasti dia. Tapi kenapa dia ada di sini? Apakah jangan-jangan dia juga seorang elemental?

Dan bodohnya adalah kenapa juga aku turun? Kenapa juga aku nekat ke sana? Woi, yang benar aja! Tapi aku sudah terlanjur melakukannya. Mau tidak mau aku sudah berada di luar gedung dan berlari menuju ke pertempuran itu.

Aku berlari melewati gang dan beberapa belokan. Semuanya lengang, sepi. Kalau tak salah sebentar lagi aku bisa melihat dari dekat pertempuran mereka dan benar saja. Aku baru keluar gang tiba-tiba ada bola api melayang di atas kepalaku dan menghantam tembok. Sebuah percikan bunga api berhamburan di sekitar kepalaku. Ugfhh,…untung hampir saja.

Aku menoleh ke kanan, dari arah timur itu aku melihat Puri menggerakkan bebatuan, aspal dan tanah untuk dihantamkan ke seseorang yang sekarang ini sedang dihadapinya. Dia ada teman, temannya entahlah aku tak melihat apa yang dia kendalikan, kemungkinan itu adalah elemen angin.

“Puri?!” panggilku.

Puri langsung menoleh ke arahku. “Andre?! Ngapain kamu di sini?”

“Kamu sendiri ngapain di sini?” tanyaku.

Seorang dengan dua tongkat aneh tampak sedang menoleh ke arahku, dia sepertinya agen ATFIP. “Siapa kamu? Detektorku tidak mendeteksi dirimu sebagai elemental.”

“Detektor? Detektor apa? Koq aku tidak pernah tahu?” tanya seseorang elemental yang mempunyai tatto di tangannya. Tampaknya ia temannya Puri.

“Kalian memang bodoh, salah satu alasan kami selalu tepat sasaran adalah kami punya alat detektor untuk mendeteksi apakah seseorang itu elemental ataukah tidak,” kata agen ATFIP. “Kalian tak akan mampu mengalahkan kami. Jadi anak muda, siapa kamu?”

“Menyingkir dari mereka!” kataku sambil menodongkan pistol yang diberikan oleh Detektif Johan kepadaku.

“Hah? Kamu mau menembakku? Jangan bodoh!” kata sang agen ATFIP.

“Siapa lawanmu bodoh!” kata sang elemental bertatto sambil bergerak seperti menebas sang agen. Namun Sang agen ATFIP lebih gesit dan bergerak seperti kilat menghindar.

Puri berdiri di atas pijakan batu yang terbuat dari aspal. Batu itu melayang di udara. Jadi ia seperti naik ke sebuah platform melayang di udara dan bisa digerakkan seenaknya. Dia pun menghampiriku.

“Andre, tempat ini berbahaya, pergilah!” kata Puri.

“Aku tak bisa, aku datang dan melihatmu. Aku ingin menolongmu!” kataku.

“Kenapa? Ini berbahaya!” katanya.

“Nggak tahu, insting aja,” kataku. Dan entah kenapa aku jadi bego begini.

“Kamu bisa menggunakan itu?” tanya Puri sambil menunjuk pistol yang aku pegang.

Aku jujur menggeleng. Puri memutar matanya.

“Lalu kenapa kamu ke sini?” tanyanya.

“Aku tak tahu,” jawabku. “Insting saja.”

“Jangan bilang kamu peduli kepadaku,” katanya. Mungkinkah? “Kalau begitu tembak saja dia. Bantu aku, ayo!”

Aku pun menekan pelatuknya. DOR!

“WOI!” teriak seorang elemental temannya Puri. Ternyata aku hampir menembak dia. Ya sorry deh. “Kamu mau nembak siapa?!”

“Maaf!” kataku.

“Kamu di sini saja deh!” kata Puri. Dan dengan sekejap ia sudah melompat seperti hendak menerkam agen ATFIP tadi. Sang agen bergerak seperti kilat, menghindar dengan cepat.

“Alex, aku akan tangkap dia!” kata Puri.

“Menangkapku? Yang benar saja. Bagaimana cara kalian menangkapku?” tanya agen ATFIP.

“Kamu mau tahu caranya? Mudah sekali,” kata Puri.

“Bagaimana?”

“Kamu orang yang bodoh!” kata Puri.

“Bodoh bagaimana?” tanya sang agen.

“Kamu sudah tertangkap bodoh!” kata Puri.

Sang agen melihat ke bawah. Ternyata kakinya sudah tertanam di tanah. “What the ff…”

Sayangnya sang agen tidak sempat bicara karena tiba-tiba kepalanya sudah terpotong membujur menjadi dua. Temannya Puri yang dipanggil Alex tadi tertawa puas.

“Hah, emang dua orang bekerja lebih baik daripada satu orang,” kata Alex. “Siapa sekarang yang bodoh? Dasar agen ATFIP!”

Tubuh sang agen pun rubuh dengan kepala terpotong dan otaknya terburai. Aku bisa melihat bagaimana lendir otaknya meleleh bersama darahnya. Ugghhh…aku ingin muntah, tak bisa kutahan HOOOEEEEKK!

Puri menghampiriku. Ia menepuk-nepuk punggungku. “Kamu tak apa-apa?”

“Maaf, aku nggak tahan melihat otak terburai seperti itu,” kataku.

“Hahahaha, kamu akan lebih sering melihat ini nanti kalau tetap di sini,” kata Puri.

“Pure, si Jack!” kata Alex sambil menunjuk ke suatu arah.

Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Alex. Sebuah apartemen. Tapi di tingkat teratas. Tampak ada kepulan asap. Api??? Tapi api itu meliuk-liuk aneh. Kemudian terdengar ledakan.

“Jaaaacckk!” seru Alex.

“Sudah Lex, kita tak bisa menolongnya,” kata Puri.

“Fuck them! Fuck them! I’ll kill ya all!” Alex ingin berlari ke arah apartemen itu, tapi Puri mengurungnya dengan tanah dan batu. Hingga Alex tak bisa bergerak. “Purple! Lepaskan aku, aku akan menolong Jack.”

“Jangan bodoh! Kamu mau mati?” kata Puri.

Dari bawah, aku melihat sesuatu. Seseorang melayang di udara.

“Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk ke atas.

“Itu Jack, kenapa dia bisa terbang?” tanya Puri.

Jack seorang lelaki berkulit gelap. Dia melayang di udara, kenapa bisa melayang, kecuali….ada orang yang membuatnya melayang. Dan benar. Di atas apartemen ada seseorang bertubuh tegap. Dia mengacungkan sebuah tongkat ke arah Jack.

Kemudian kepala Jack memutar dengan aneh ke belakang lalu berputar 360 derajat. Lalu tubuhnya melemas. Jack….dibunuh??? Tubuh Jack kemudian meluncur ke bawah. Terjun bebas, dan terdengar suara bedebum. Sang pembunuh dengan santai melayang lalu mendarat ke bawah.

“JAAAAACCKK!” teriak Alex. “AKU AKAN BUNUH KALIAN SEMUAAA!”

“Itu…Robert!” kata Puri.

“Brengsek kalian Dark Lantern! Aku akan habisi kalian semua! Kalian akan membayar atas setiap darah yang kalian alirkan. AAAAAARRGGHHH!” Alex tampak marah, emosi. Kehilangan seorang teman. Aku bisa mengerti itu, apalagi dibunuh dihadapannya.

Dari arah lain tampak seorang anak kecil menghampiri kami. “Lari, lari! Mereka akan ke sini!”

“Tim?” kata Puri. Puri segera melepaskan Alex. Alex langsung ambruk berlutut.

“Alex, ayo pergi!” kata Tim.

Alex pun berdiri. Aku bisa melihat matanya memerah, air matanya mengalir. Dia sangat bersedih. Puri lalu menggeret Alex. Mereka pun kemudian pergi. Sebelum pergi Puri pun berkata, “Sampai nanti Ndre! Makasih ya” dia mengedipkan matanya kepadaku.

Damn. Apa yang sebenarnya aku lakukan di sini? Daripada nanti terjadi sesuatu, aku pun segera berlari pergi dari tempat itu.

NARASI BALANCER

Aku melihatnya dari jauh, betapa pengecutnya mereka semua. Menghabisi satu orang dengan beberapa bataliyon. Benar-benar memalukan. Kalau saja tidak ada manusia-manusia yang tidak berdosa aku akan membantu kalian anak-anakku. Robert. Lama tidak bertemu. Aku akan buat kalian membayar mahal terhadap anak-anakku.

Bersambung