Lentera Hitam Part 18

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 17

The Hunting Party Part II

NARASI BALANCER

Siapa yang takut kepadanya? Sudah pasti semuanya harus takut. Siapa yang mengendus kehadirannya pasti harus takut. Diam mengawasi malam. Mencari hausnya darah. Dahaga dengan rasa aroma psikopat yang menggelora. Telah habis ratusan nyawa di tanganku. Telah hilang ratusan nyawa dengan tangan ini. Aku seorang elemental. Aku penyendiri. Aku juga sudah lama hidup, dengan kutukan yang tidak habis-habisnya.

Andai waktu itu aku tidak menghalangi Thomas meneguk cawan suci, pasti permintaannya tak akan terkabulkan. Kini semuanya lebih parah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin sibuk. Sibuk menghabisi nyawa mereka satu per satu. Baik elemental ataupun Dark Lantern. Para elemental sudah menyadari keberadaan mereka dan mereka mulai bersatu membentuk aliansi. Aku tahu mereka akan kuat suatu saat nanti.

Malam itu aku menggoda seorang Dark Lantern. Salah seorang yang penting. Anak buah dari Robert. Namanya Marcus. Orangnya hidup sendiri di sebuah apartemen. Dengan langkah yang menggoda aku pura-pura menabrak dia. Aku tahu Dark Lantern punya alat untuk bisa mendeteksi seseorang itu elemental ataukah tidak.

Awalnya alat itu ada pada bros baju mereka ketika di jaman pertengahan. Sebuah jimat yang akan memancarkan panas ketika dekat dengan seorang elemental. Tapi ketika jaman telah modern. Mereka memakai sebuah arloji. Mungkin itu alasannya mereka bisa memburu para elemental itu.

Tapi tidak bagiku. Aku berbeda. Karena elemental yang aku pakai juga berbeda. Aku bisa berbicara dengan logam. Setiap logam. Aku bisa bicara dengan logam yang ada pada tubuh manusia. Dan aku tak pernah terdeteksi dengan alat itu. Karena aku diberkati. Tak ada satupun yang tahu keberadaanku.

Ketika aku pura-pura menabrak Marcus, ia tahu aku bukan elemental. Kemudian aku minta tolong untuk diantarkan pulang. Tapi dengan sedikit menggoda, aku pun menciumi dia. Dasar lelaki kalau sudah dicium dan kemaluan mereka diremas, mereka pasti takluk.

Dengan tak sabar ia pun mengajakku ke apartemennya. Begitu masuk ia langsung nyosor. Bibirku diciuminya dengan ganas, seolah-olah bibir ini adalah sesuatu yang tak bisa disia-siakan. Ia juga meremas payudaraku dari luar blazer.

Aku melepaskan bajunya. Terpampanglah dada bidang berbulu. Kuciumi dadanya dan kujilati putingnya. Ia makin bernafsu saja. Dia melepaskan bajuku. Agaknya terkejut ketika melihat ukuran buah dadaku. Ia pun berusaha menciumi payudaraku. Kudorong dia hingga berada di atas ranjang. Aku mengeluarkan parfumku dan kusemprot di leherku. Aromanya sangat menggoda para pria. Tentu saja.

Aku lepaskan semua bajuku dan hanya menyisakan g-stringku. Marcus sudah menelan ludah berkali-kali. Apalagi kini ia tak memakai baju. Sebenarnya aku bisa saja membunuhnya saat ini. Tapi itu terlalu menyakitkan. Setidaknya aku biarkan ia melayang dulu. Aku pun merangkak, mengendusi betisnya, pahanya lalu aku menangkap buah dzakarnya. Ia mengerang. Lelaki mana yang bakal tahan buah pelernya ditangkap mulut wanita sesensual aku?

Kujilati buah dzakarnya itu dengan lembut. Rasanya pasti menggelitik. Geli dan itu membuat batangnya makin tegang. Kukocok lembut batang yang sudah mengeras itu. Lalu kuciumi dan kuendus dengan hidungku. Aroma laki-laki sangat khas. Lidahku sudah menjilatinya. Dia mengerang berkali-kali. Apalagi setelah itu kicium pionnya dan kuemuti seperti lolipop.

“Sudah sayang, aku nggak tahan kamu gituin,” kata Marcus.

Aku tiba-tiba mengocoknya dengan cepat, pantatnya bergoyang tak karuan. Kepala pionnya langsung aku lahap dengan mulutku. Enak banget ya? Hihihhi. Dia benar-benar melayang. Apalagi lidahku memutar-mutar kepala pionya. Efeknya pasti dahsyaat.

Setelah itu kepalaku naik turun. Kubenamkan sedalam-dalamnya batang kemaluannya itu. Pantatnya bergetar. Ia memohon-mohon untuk diteruskan. Baiklah. Aku pun makin cepat mengocoknya dengan mulut dan tangan. Sambil aku sedot kuat-kuat.

“Aaagghhh…sayang aku mau keluar, keluar..keluuuuaaaarr!” erangnya.

Penisnya mengeras dan mau keluar sepertinya. Tentu saja, aku seorang yan sangat pintar menservis lelaki. Bahkan kekasihku sendiri tak akan kuat kalau menahan cara bercintaku. Aku kocok dengan cepat hingga memancarlah cairan putih kental miliknya.

“Enak?” tanyaku.

Marcus mengangguk. Aku kemudian bersihkan tanganku yang terkena belepotan spermanya. Aku tersenyum dan kuciumi bibirnya. Tanganku ku arahkan ke udara. Sebuah kabut gelap berwarna kelabu menyeliputi telapak tanganku. Dalam hati aku berbicara, ‘Hai besi, apa kabar? Kalian sudah merindukan aku? Bagaimana kalau kalian bersatu dan memberiku jari jemari yang terbuat dari pedang?’

Dalam sekejap tanganku ada sesuatu yang membungkusnya. ITu adalah serpihan-serpihan besi. Dengan mudah juga serpihan itu bersatu. Kini seluru jari tangank terlapisi besi dan kemudian lambat laun berubah menjadi pedang panjang. Lebih tepatnya jemariku sekarang tidak berukuran normal. Sangat panjang dan kuku-kukunya seperti pedang.

Aku pun mundur. Marcus kaget ketika kumelepaskan ciuman. Tangan kiriku langsung menebas lehernya. Dia langsung memegangi lehernya. Darah segar muncrat seperti air mancur dari lehernya yang cukup kekar. Setelah itu aku putar dan jambak rambutnya kemudian aku cabik-cabik tubuhnya dengan nafas memburu seperti orang gila. Iya, gila.

GILA. Aku gila kepada orang yang telah berani-beraninya menyakiti anakku. Berani-beraninya dia menyerang anakku. Menugaskan lima orang ATFIP untuk menyakiti anakku. Robert kuharap kamu melihat ini. Aku memang seorang Balancer, tapi aku juga seorang ibu. Aku sudah bilang kepada kalian untuk menjauhi keluarga van Bosch.

Aku pun menjilati darah yang keluar dari bibir Marcus. “Ooww…kasihan ya, sudah puas mati. Hihihihi…’

Kumelihat matanya masih terbelalak. Ia terkejut melihat perempuan seksi dan menggoda ini menghabisi nyawanya begitu saja. Kucongkel kedua matanya dan kubuang di lantai. Setelah itu kuletakkan kepalanya di atas kasur. Aku pergi ke kamar mandi, kusempatkan membersihkan tubuhku di sana. Dan tiba-tiba aku pun teringat dengan anakku. Sedang apa dia di Syberia ya? Kuharap dia mendapatkan pelajaran yang sangat berarti hingga nanti dia bertemu lagi denganku.

Aku memang termasuk keluarga van Bosch, tapi aku tidak mengikuti jalan mereka. Aku adalah aku. Aku, seorang Balancer.

NARASI ALEX

“Wow, siapa yang melakukan ini?” tanyaku kepada Purple.

“Apa? Pembunuhan?” tanyanya. Aku menyerahkan koran yang aku baca kepadanya.

“Gilaaaakkk, keren banget. Siapa ya?”

“Yang jelas ia ada di pihak kita. Tapi sepertinya ada yang memang masih malu-malu untuk bergabung dengan kita dan bekerja sendirian,” kataku.

“Bukan Ray?” tanya Purple.

“Tidak, Ray tidak akan sesadis itu membunuhnya. Dia lebih soft, makanya dia aku bilang lemah,” kataku.

“Kamu masih marah ya sama Ray?”

“Iya, tentu saja. Sudah tiga bulan dan dia belum kembali, siapa yang nggak marah? Aku jadi penasaran, Syberia itu seperti apa sih?”

Purple menepok jidatnya. “Kamu nggak tahu?”

Aku menggeleng.

“Makanya baca itu buku, baca! Dasar!” Purple lalu beranjak pergi.

“Kemana lu?” tanyaku.

“Aku ada urusan, kerja tauk! Emangnya aku cuma ngurusin ini aja tiap hari?”

“Oh, ok,” kubiarkan dia pergi. Aku sekarang ada di distrik 7. Purple ada di distrik 8. Dan pekerjaannya adalah sebagai seorang SPG. Itupun didapatnya dengan tidak mudah, apalagi ia seorang yang tomboy, tapi modis. Bagaimana menggambarkan tomboy tapi modis? Ibaratnya engkau melihat Lara Croft dengan balutan busana lolita.

Lara Croft dengan balutan busana lolita? What the Fuck was that?

NARASI ANDRE

Setelah kemarin melihat-lihat mayat. Aku agaknya harus menyingkirkan rasa mualku. Memang aku harus terbiasa dengan pola hidup yang tidak sehat ini rasanya. Pagi makan, siang ke TKP muntah, malamnya harus makan lagi. Tapi besok juga muntah lagi. Argh..kalau lihat darah hewan sih nggak masalah. Ini darah manusia. Mana nginjak bola matanya lagi kemarin. Ewww….

Hari ini hari Minggu dan aku membantu orang tua jualan bakso. Yah, ngeladenin pembeli kalau bakso mah gampang. Yang susah itu bikinnya.

Hari itu sebenarnya sama sih seperti hari-hari biasa. Hanya saja ada yang spesial kali ini. Ada seorang cewek, cakep sih. Rambutnya dicat ungu. Aneh nggak tuh? Tiap hari minggu pas makan siang pasti ke warung ini. Dia pakai pakaian seksi. Seorang SPG dan kadang ganti-ganti perusahaan tempat ia memasarkan barangnya. Yang bikin aku tertarik ama dia itu adalah sekalipun dia pakai baju seperti itu, tapi polahnya malah mirip laki-laki.

Aku beberapa kali ngobrol ama dia. Kerja di mana, tinggal di mana. Namanya Puri. Dia sudah lulus SMA dan sedang kerja banting tulang buat keluarga. Dan kali ini dia datang lagi makan siang. Sekarang ia memakai jeans ketat dan kaos T-Shirt bertuliskan merk rokok. Sekarang jadi SPG rokok dia. Dia sendirian dan tampaknya tak ada temannya. Sama seperti sebelum-sebelumnya.

“Hai Puri,” sapaku.

“Hai Mas,” sapanya. “Mas pesen satu ya, seperti biasa.”

“Ok,” kataku. Dia suka makan bakso dengan isi bakso besar satu, tahu satu, siomay dan bihun. Ditaburi bawang goreng dan kuahnya banyak. Trus dia tak suka saos dan sambel. Aneh, biasanya cewek-cewek demen banget ama saos dan sambel. Tapi dia tidak. Pesanan pun aku antarkan langsung ke tempat dia duduk.

“Makasih ya,” katanya.

“Minumnya ambil sendiri ya, seperti biasa,” kataku.

Ia lalu memakan baksonya. Karena pengunjung rada sepi, aku coba deh untuk ngobrol ama dia. Aku lalu duduk di depannya.

“Sekarang jadi SPG rokok nih,” celetukku.

“Iya mas, ada yang nawarin. Lagian lumayan honornya,” katanya. “Gimana sekolahnya mas?”

“Halah ya gini-gini aja.”

“Nggak ada rencana kuliah?”

“Ada juga sih.”

“Mau ngelanjutin usaha orang tua?”

“Nggak. Mau kerja yang lain ajah.”

“Waah…nanti nggak bisa ketemuan sama mas dong.”

“Jadi tiap kali makan bakso kepengen ketemuan ama aku?”

“Ihh…Ge-er!”

Kami pun tertawa.

“Itu rambutmu emang ungu gitu apa dicat sih?”

“Ya dicatlah mas, emangnya aku alien?”

“Ye, kirain beneran alien,” kataku. “Aduh!” aku dicubit ama Puri.

“Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar Ndre?” tanyanya.

“Punya sih….tapi…,” aku tak melanjutkan. Bingung mau ngomong apa.

“Tapi kenapa? Cerita aja lagi gak papa,” kata Puri sambil mengunyah potongan simoay.

“Ceritanya panjang sih. Sebenarnya aku sudah lama pacaran ama dia. Tapi di tengah jalan dia bilang sebenarnya suka sama orang lain. Duh gimana ya….,”

“OOhh…dikhianati begitu?”

“Bukan dikhianati, duh bingung aku ngomongnya. Intinya aku cinta banget ama dia, cinta mati. Apapun aku lakukan demi dia. Tapi aku bingung juga ketika dia minta maaf kepadaku bahwa ia juga mencintai orang lain.”

“Ohh…cinta segitiga ya?”

“Iya sih.”

“Trus? Kamu perhatian nggak sama dia?”

“Iya dong, aku perhatian banget sama dia.”

“Bukan begitu maksudku. Kamu perhatian sama dia ketika dia butuh ataukah ketika dia tidak butuh.”

“Maksudmu?”

“Gini Ndre, kadang itu cewek itu akan lebih mencintai orang yang lebih memperhatikan dia disaat dia tidak bilang harus diperhatikan. Contoh nih ya, misalnya dia sebenarnya kepengen banget suatu barang, eh…dianya tiba-tiba ngasih. Atau gini, sebenarnya dia sakit eh tiba-tiba cowoknya tahu keadaan dia kalau sakit. Kamu begitu nggak?”

Deg! Aku baru sadar. Aku selama ini tak pernah berbuat itu ke Maria. Dia kesukaannya apa aku nggak tahu. Dia hanya tahu apa yang aku suka. Bahkan dia kena asma aja aku baru tahu setelah dia sakit ini. Aku sadar sekarang. Dia mendapatkan hadiah itu. Hadiah dari Ray, sebuah bola kristal yang isinya boneka salju. Itu yang diinginkannya sejak dulu.

Kenapa aku bodoh? Kenapa aku tak tahu? Dan ketika dia pingsan di gym, aku baru ke sana ketika dia sudah ada di ruang UKS. Sedangkan Ray tidak, aku melihat Ray ada di luar ruang UKS dengan tampang seperti tak tahu apa-apa sementara teman-temanku berlarian menuju ruang UKS. Dia sudah ada di sana duluan. Dia yang menolong Maria.

Shit! Sialan….pantas saja selama ini seperti itu. Pantas Maria lebih memilih Ray. Aku makin benci kepada Ray. Ingin kutonjok saja dia. Dan buku-bukunya semuanya berisi tentang Maria, semua wajah Maria dia gambar di bukunya hingga penuh. Aku kira selama pelajaran dia menulis apa yang diterangkan guru, ternyata tidak. Lalu kenapa dia tidak mencoba merebut Maria dari aku kalau memang dia jantan?

“Trus, apa cowok itu ngerebut dia dari lo?”

Aku menggeleng.

“Berarti pacar lo yang bilang?”

“Iya, dia bilang dia lebih cinta cowok itu daripada aku.”

“Wah, susah tuh. Yang tabah aja ya. Kamu toh tak bisa apa-apa kalau itu sudah keputusannya.”

“Tapi kan juga nggak segampang itu.”

“Coba kamu pikir sendiri, selama ini cowok itu berusaha merebut pacarmu nggak?”

“Enggak.”

“Nah, kan. Berarti emang itu keputusan dari pacarmu. Mungkin cowok itu tahu kamu lagi jalan sama dia. Dan nggak mungkin merebut dia dari lo. Dia gentle nggak mau ngerusak hubungan orang. Tapi akhirnya pacar lo yang milih keputusan itu. Capek juga tahu jadi secret admirer”

“Emang mbaknya pernah jadi pengagum rahasia?”

“Pernah dong. Cuma bisa ngawasin dari jauh orang yang disuka jalan dengan cewek lain. Duuuhh…nyeseknya di sini. Mungkin cowok itu juga merasain hal yang sama, tiap kali kamu jalan ama pacarmu. Udah deh move on aja!”

“Ya nggak bisa gitu dong mbak. Aku masih cinta ama dia. Masih berharap.”

“Yah, terserah deh. Cewek di dunia inikan ada milyaran, masa’ cuma ngejar satu itu aja?”

Ada beberapa pembeli datang.

“Eh bentar mbak ya, ada pelanggan!” kataku permisi.

Aku kemudian melayani pelanggan itu. Mereka pesan beberapa mangkok dan sebagian di bungkus. Puri menghabiskan semangkok baksonya dan meminum teh botol. Ia lalu berkata, “Uuufff…kenyaaaangg.” sambil mengelus-elus perutnya.

Setelah selesai meladeni pelanggan aku kemudian duduk lagi di meja Puri.

“Habis ini ke mana mbak?” tanyaku.

“Ya balik lagi ke mall, nih!” ia memberiku uang untuk baksonya.

“Bentar yah, kuambilkan kembaliannya,” kataku.

“Nggak usah Ndre, nggak usah!” katanya. “Ambil aja!”

“Waduh, terima kasih mbak,” kataku.

“Kamu ada waktu nggak besok?” tanyanya.

“Hmm…nggak tahu ya, kenapa?”

“Aku mau pindahan nggak ada yang bisa nolong. Yah, siapa tahu kek kamu bisa bantu. Ntar aku kasih ongkos deh,” katanya.

Wah, lumayan nih.

“Oke deh mbak, besok yah?”

“Iya, eh, ini nomorku catet deh!”

Aku langsung mengeluarkan ponselku.

“081944122xxx,” ujarnya.

Aku lalu mengulanginya, “081944122xxx? Bener?”

“Iya bener. Coba misscall!”

Aku kemudian menekan Yes untuk menelponnya. Ponselnya berbunyi.

“Makasih, ntar aku SMS deh alamatnya,” katanya.

“Lho, emangnya mbak tinggal sendiri? Nggak ada orang tua?” tanyaku.

“Aku nggak punya orang tua. Sejak kecil udah mandiri,” jawabnya.

“Waaahhh…hebat ya.”

“Hebatan kamu dong, bisa bantu orang tua kaya’ gini. Ini anugrah terbesar lho.”

Benar juga sih.

“Sampai besok ya Ndre,” katanya.

“Eh, iya mbak. Makasih lho ya.”

Puri lalu pergi. Wah, mana uangnya gedhe lagi. Satu mangkok bakso harganya cuma 10ribu dikasihnya 100ribu. Weleh-weleh. Aku hanya terpesona dengan langkah cewek SPG itu meninggalkan warung baksoku. Pantatnya goyang kiri kanan.

Gila, emang SPG gitu semua ya nyarinya biar pembeli minat? Tapi ngomong-ngomong cakep juga sih Puri ini. Awal mulanya dulu dia emang sering makan di sini. Trus kenalan ama aku. Akhirnya ya jadi akrab karena sering ketemu. Katanya bakso buatan orang tuaku ini nggak ada yang ngalahin. Aku sih udah eneg makan hampir tiap hari.

Akhirnya hari itu aku bantu-bantu jualan sampai sore. Sore harinya ibu dan ayahku gantiin aku. Warung kami makin besar, bahkan sekarang ada dua pekerja yang membantuku. Satu jadi pelayan, satunya tukang bikin bumbu-bumbu. Sorenya aku ke tempat Detektif Johan. Niatnya sih kepengen jenguk Maria.

Aku mengetuk pagar sore itu. Tampak di pintu sang ibu membuka.

“Hei Andre, masuk! masuk!” katanya.

Aku pun langsung membuka pagar dan masuk.

“Marianya gimana kondisinya, Tante?”

“Yah, masih seperti itu. Naik saja langsung!” katanya.

Aku memang sudah terbiasa ke rumah ini sekarang. Mereka sudah menganggap aku seperti keluarga. Hanya saja sudah tiga bulan ini Maria seperti itu. Masih terbaring lemah. Dan sampai sekarang aku belum menemukan titik temu di mana keberadaan Ray. Ataupun bagaimana sebenarnya inti dari permasalahan orang-orang elemental ini.

Aku naik ke kamar Maria. Kamarnya masih tertata rapi. Terlihat tak pernah disentuh olehnya. Dia tertidur. Makin kurus saja kelihatannya. Aku lalu duduk di sampingnya. Sampai tiga bulan seperti ini. Bener-bener gila nih anak. Masa’ sebegitu besar sih cintanya ama Ray? Dan memang kalau dia bangun yang dicarinya pasti cowok itu. Sedih rasanya kalau begini terus. Memang sih, cinta tak bisa dipaksa. Tapi…akukan sudah jadian ama dia. Masa’ dia memutuskanku begitu aja? Sigh…Maria Maria.

Tiba-tiba ia terbangun. Matanya terbelalak. Ia melihatku.

“Ndre? Kamu di sini?” tanyanya.

“Iya, seperti biasalah. Menjenguk orang yang paling disayang,” jawabku.

“Kamu bisa dengar itu Ndre?” tanyanya.

“Apaan?”

Maria seperti mendengar sesuatu. Ia pasang telinganya.

“Aku bisa dengar. Iya….Ndre, masa’ kamu ndak dengar?”

Aku juga memasang telingaku. Nggak ada suara apa-apa kecuali suara angin dan suara jam dinding di kamar ini. “Apaan sih?”

“Ndre…aku dengar suara Ray….,” kata Maria. Lagi-lagi Ray, lagi-lagi Ray. Aku pun mendongkol.

“Udahlah Mar, dia sudah pergi. Kamu nggak boleh begini terus! Kasihan tuh kedua orang tuamu!” kataku.

“Nggak Ndre, aku nggak bohong…aku bisa dengar, suara itu…suara Ray. Dia bilang, ‘Aku akan kembali secepatnya Maria’. Begitu, iya aku dengar,” kata Maria. Tampak wajahnya bahagia. Apa dia berhalusinasi sih? Ia melanjutkan lagi. “Iya Ray, aku akan menunggumu. Cepatlah kembali! Cepatlah kembali!”

Nyonya Johan masuk ke kamar anakya.

“Maria?! Kenapa Maria?!” tanya ibunya.

“Ibu, Ray akan kembali. Dia bilang akan kembali,” kata Maria.

“Oh….Maria,” ibunya memeluk erat sang anak. “Iya, dia akan kembali sayang. Dia akan kembali.”

Aku makin benci kepada Ray. Kenapa Maria sampai seperti ini? Ini semua gara-gara dia. Gara-gara dia.

***

Besoknya setelah sekolah aku ke tempat Puri yang sudah memberitahukanku alamatnya lewat SMS. Ternyata rumahnya lumayan jauh sih. Hampir di pinggiran kota. Untung aja aku punya motor jadi bisa cepat sampai ke sana. Sesampainya di sana aku melihat kardus-kardus ada di depan rumahnya.

“Wah, Andre! Masuk masuk!” katanya ketika melihatku datang. Anjir meeeeennn…itu dia nggak salah pake baju? Pake tanktop, hotpants?? Mulus banget itu paha. Dan What the hell? Dia nggak pake bra sampai-sampai putingnya kelihatan menonjol gitu, apalagi ia berkeringat. Kesannya sensual banget. Aku menelan ludah. “Lho? koq bengong aja?!”

“I…iya,” kataku.

“Eh, sorry ya kalau pakaianku terlalu seksi, habisnya gerah sih angkat-angkat sendirian,” katanya. “Bentar deh aku ganti baju dulu, nggak enak ada kamu. Hihihihi.”

Aku cuma mengangguk.

Akhirnya hari itu kubantu Puri masukin kardus-kardus itu. Sebagian isinya perabotan dan pakaian. Rumah kontrakannya ini lumayan luas. Aku bantu Puri dari menata perabotan, sampai menyapu. Total kami selesai malam hari, semuanya akhirnya sudah tertata rapi dan kami capek banget. Puri memang sudah ganti baju, tapi cuma ditambah Kaos. Yak apa sih? tetep aja kelihatan seksi.

“Mau minum?” tanyanya.

“Ya iyalah, dari tadi kek,” kataku.

“Hahahaha, bentar-bentar!” ia cepat pergi ke dapur mengambil air es dingin yang ada di dalam botol gelas bekas sirup lalu kembali. “Nih, cuma punya ini.”

Aku lalu menuangkan air itu ke dalam gelas. Trus meminumnya. Waaahhhh….segerrrrr!

“Makasih ya Ndre,” katanya.

“Sama-sama,” kataku.

Kami pun hening. Bingung juga mau ngomong apa. Puri bersandar di kursi.

“Emangnya mbak selama ini tinggal sama siapa?” tanyaku. Aku menoleh. Ealaaah…malah tidur. Gimana sih? Kecapekan mungkin. Ya sudahlah. Aku bingung sekarang mau ditaruh di mana ini anak? Belum juga berdiri tiba-tiba Pluk! kepalanya bersandar di bahuku. Waduh. Dadaku berdegup kencang sekarang. Koq jadi gini?

“Mbak, mbak Puri?” aku menggoyang-goyang tubuhnya. Aku mendengar dengkuran kecilnya. Waduh pules banget yak?

Akhirnya ya udah deh. Aku tahan dengan posisi itu. Lagian aku juga capek. Hingga akhirnya aku juga tertidur. Tapi tak lama kemudian aku bangun. Aku sudah tak mendapatkan Puri di sana. Aku lalu berdiri. Mungkin dia ada di kamarnya.

“Ndre?! Sudah bangun?” tanyanya. Ia keluar dari kamarnya memakai baju youcansee. Apa cewek ini nggak ada baju yang normal ya? “Nih ongkosnya!”

Dia memberiku uang tiga ratus ribu. Walah. Ini nggak salah?

“Banyak banget mbak? Cuma angkat-angkat gitu aja,” kataku.

“Nggak apa-apa kan?” tanyanya.

“Kalau mbak nggak keberatan sih ya nggak masalah,” kataku.

Tiba-tiba Puri mendekat. Pipiku diciumnya. Eh, apaan ini?

“Maaf ya, sekali lagi makasih,” katanya. Aku jadi canggung sekarang. Untuk apa coba ciuman tadi?

Aku pun keluar dari rumahnya. Dengan seribu pertanyaan yang tak terjawab aku pun menyalakan sepeda motorku untuk pergi dari rumahnya. Apa dia suka ama aku? Wah, gawat dong.

Bersambung