Lentera Hitam Part 17

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 16

The Hunting Party part I

NARASI ALEX

Namaku Alex. Alex saja. Hidup dari seorang anak yatim. Kemudian dipekerjakan sebagai seorang penjual atraksi di sebuah sirkus dan diberlakukan tidak adil. Tapi setelah itu kami lari. Aku, Agni dan Troya. Kami lari dari mereka hingga mendengar khutbah Bapa Joseph. Kami pun tertarik kepada beliau dan akhirnya beliau mau menerima kami. Terlebih lagi kami mengenal seorang anak yang mempunyai kekuatan yang sama dengan kami. Namanya Ray.

Anaknya pendiam. Tapi orangnya baik. Dia asyik saja sih kalau diajak bicara. Hanya saja memang pendiam. Satu-satunya yang dekat dengan Ray adalah Agni. Bahkan Agni sudah pacaran dengannya walaupun usia mereka tidak seimbang. Agni lebih tua dua tahun dari Ray. Kedekatan mereka sudah aku rasakan sejak pertama kali bertemu. Agni sudah suka dengan Ray. Aku sih menghormati Agni sebagai kakakku. Dia adalah pemimpin kami. Di panti asuhan kami adalah empat sekawan yang tak terpisahkan. Hingga kemudian Agni harus pergi. Lalu Troya.

Semuanya karena Dark Lantern. Setidaknya itulah yang aku ketahui dari Ray. Kelompok sekte sesat yang sekarang membuat sebuah divisi di kepolisian dengan nama ATFIP. Sekarang kami diburu. Tidak, selama ini orang-orang seperti kami diburu tanpa diketahui apa sebabnya. Pertama Troya.

Kalau saja waktu itu aku bersama Troya, seharusnya tak terjadi seperti ini. Salah apa Troya? Membunuh orang? Troya membunuh semut saja tidak tega. Kalau toh ada orang yang meninggal gara-gara ia tak bisa mengendalikan kekuatannya bukan salah dia tentunya. Memang ada beberapa orang yang tewas akibat kekuatannya, tapi ia sama sekali tak sengaja.

Tapi itu sudah berlalu. Aku berinisiatif mengumpulkan semua orang dengan kemampuan yang sama. Aku sudah dapat banyak orang. Ada Tim, Jack, Purple, Jin, Mega, Andi, Yogi, Rama, Toni. Mereka semua adalah Valiant. Kemampuan mereka berbeda-beda, tapi semuanya menguasai unsur-unsur yang tidak biasa. Tim memang menguasai unsur air, Jack api, Purple tanah, Jin udara sama seperti aku, Yogi dan Toni petir, Rama agak berbeda. Dia menguasai unsur kegelapan. Kami dari keluarga yang berbeda-beda. Ada yang memang anak yatim. Ada yang memang anaknya alim sekali seperti Yogi. Ada yang berandalan seperti Jack.

Aku sudah bersama Valiant selama tiga bulan terakhir semenjak Ray pergi mencari ibunya. Tugas kami adalah memburu. Kalau mereka memburu kami para “elemental” (sebutan mereka kepada kami), maka kami juga bisa memburu mereka. Lagipula jumlah kami makin banyak dari waktu ke waktu. Kami satu pemikiran, satu perasaan dan perang terhadap Dark Lantern telah dimulai.

****

Namanya adalah Powel Graham. Usianya 40 tahun. Dia orang yang terpilih masuk ke divisi ATFIP. Dengan kepintaran Tim kami sudah melacak salah satu komandan ATFIP tersebut. Tim berhasil masuk ke salah satu server dengan kemampuan hacking yang dia punyai. Dan hari ini kami berencana akan menghabisi orang ini.

Sehari-hari orangnya bertingkah seperti biasa. Punya keluarga seorang istri dan anak. Pagi hari sebelum mengantar anaknya sekolah. Dia pasti menghabiskan waktu ngopi, baca koran dan sarapan sepotong roti sandwich bakar. Setelah itu ia akan menghabiskan waktu ke kantor ATFIP yang mana merupakan sebuah gedung tinggi yang di dalamnya juga ada kantor untuk divisi-divisi lain dari kepolisian. Kenapa dia jadi target kita? Karena orang ini yang memimpin penyerbuan terhadap Troya. Kami sudah menyelidikinya selama satu minggu. Dan sekarang adalah saatnya.

Sebenarnya mudah kalau orang ini adalah orang biasa yang aku bisa saja memotong-motong dia dengan kekuatan elemen angin. Masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah ATFIP ini mempunyai sesuatu yang disebut Jolt. Jolt adalah sebuah alat, seperti tongkat ukurannya kurang lebih 30 cm. Kalau dilihat seperti sebuah tongkat yang ada lampu spiral di ujungnya. Lampu tersebut berwarna warni.

Ini adalah senjata milik ATFIP yang didesain untuk memerintahkan elemen, sehingga mereka bisa menggerakkan elemen seperti kami. Kami cukup kewalahan melawan mereka kalau sendirian, karena tongkat ini mampu menghadapi elemen apapun dan dalam kondisi apapun. Tapi dalam kondisi keroyokan, mereka tak akan ada yang bisa bertahan.

Aku, Tim dan Purple membuntuti dia. Tujuan kami hanya satu, serang ketika dia lemah. Rencana kami cukup matang. Ini adalah perburuan kami yang pertama. Kami selama ini hanya berlari dan bertahan tapi sekarang kami tak boleh diam.

Pukul enam sore mobil Paul sudah melaju meninggalkan gedung. Jack menghubungiku lewat ponsel, “Dia keluar!” aku segera memberi aba-aba kepada Tim dan Purple.

“Seperti rencana,” kataku.

Mobil Paul terus melaju melewati jalan raya yang macet karena banyak orang pulang kerja. Baguslah dia berhenti. Aku segera memanggil Purple.

“Pure, giliranmu!” aku memanggil Purple dengan sebutan Pure.

Purple ini cewek tangguh. Dia tak memberitahukan nama aslinya siapa. Dandannya sembarangan. Kadang pakai celana kombor, jaket dan kaos. Kadang rambutnya direbonding, seminggu kemudian diblow. Ciri khas dia adalah rambutnya berwarna ungu. Dia tidak seperti seorang cewek pada umumnya. Ketika dia tahu gilirannya tiba, maka dia pun berlari mendekati mobil Paul. Rencananya simpel. Dia harus membuat mobil itu melayang di udara dengan cara menghantam mobil itu dari bawah.

Aku pun mendekat ke arah mobilnya. Karena macet, jadi aku tak perlu repot untuk menyebrang jalan. Tim menyerang dari sisi kanan, aku dari sisi kiri. Paul belum menyadari bahaya yang mengancamnya. Purple langsung naik ke atas mobil yang ada di depan mobil Paul. Sopir mobil yang dinaikinya marah-marah.

“Woi, turun lo dari mobil gue!” kata sang sopir. Purple tak menghiraukannya. Ia melampai ke arah Paul. Menyadari bahaya Paul bermaksud keluar mobil. Tapi Purple menghentakkan kakinya seketika itu juga dari bawah mobil Paul tanah tiba-tiba naik membuat mobilnya terangkat beberapa meter ke atas. Aku mengulurkan tanganku. Aku berbicara kepada angin. Mereka menyapaku lagi. Kali ini memerintahkan kepada angin untuk memotong mobil itu. CRASH! Mobil terbelah menjadi dua. Paul tambah kaget, dan dia sudah mengeluarkan tongkat Jolt-nya. Ia keluar dari mobil dari berdiri di atas tanah yang menjulang tinggi itu.

Semua orang panik. Mereka menghindar, kabur, lari. Paul masih shock, dan karena itulah Tim membentuk pisau air dan menyerangnya. Kaget tentu saja, karena tak diberi kesempatan berpikir Paul terjatuh dari ketinggian lima meter. BRAK! Ia mendarat dengan tidak mulus di atas sebuah mobil yang kosong ditinggalkan pemiliknya karena takut. Aku berlari menuju ke arahnya, harus cepat sebelum ia menggunakan Jolt, pikirku.

Belum sempat aku sampai ke arahnya ia mengayunkan Jolt yang lampunya ujungnya berwarna kuning. Warna kuning? Warna kuning artinya dia mengendalikan bumi. Dari bawahku tampak tanah bergetar. Ohh…tidak, terlambat sudah. Tapi ada yang aneh. Tanah itu seperti terangkat tapi dengan cepat turun lagi. Ternyata Purple tahu dan dengan cepat menahan tanah agar tidak bergerak. Aku berlari ke arah Paul dan melayangkan pisau angin ke arah tangan Paul yang memegang tongkat Jolt. SLASHH! CURR! Terpotonglah lengannya. Disusul Tim dengan pisau airnya SLASH! Dengan mudah ia sudah memutilasi kaki Paul.

Aku mendekat ke arah Paul yang mengerang kesakitan. Aku naik ke atas mobil tempat ia jatuh tadi. Kuangkat lengannya yang membawa tongkat Jolt. Kuambil tongkat itu dan kulempar potongan lengannya.

“Ini untuk Troya!” kataku. Aku memberi aba-aba ke Purple. Dari atas mobil Purple memanggil tanah. Sekarang di tangannya terkumpul bebatuan aspal yang menurut kepadanya membungkus tangannya menjadi sebuah palu raksasa. Lalu Purple melompat menghantamkannya ke kepala Paul.

Tak perlu diceritakan bagaimana otaknya berhamburan dengan hantaman sekeras itu. Misi kami selesai. Dengan ini maka Dark Lantern akan ketakutan dengan sendirinya. Kami bersatu dan kami kuat. Cobalah lawan kami. Setelah itu dengan tanpa dosa kami pun pergi dari tempat itu sebelum bala bantuan datang.

***

Esoknya berita headline surat kabar menyebutkan sebuah kecelakaan. Padahal kita tahu bahwa itu bukan kecelakaan. Seperti biasa mereka masih menutupi keberadaan kami. Entah apa maksudnya.

“Lex, lihat!” kata Tim. “Anggota kita makin banyak. Jumlah kita yang awalnya cuma sepuluh orang kini sudah puluhan. Nggak ada ide buat membagi-bagi wilayah? Kalau kita cuma di sini terus maka mereka akan dengan mudah menemukan kita.”

Aku pun berpikir ada benarnya juga. Tiga bulan terakhir ini kucatat mungkin sudah ada tujuh puluh orang yang ikut bersama kami. Mereka juga para elemental. Kekuatan mereka juga tak bisa dianggap remeh. Ada yang datang dari luar kota, bahkan dari lain dunia…maksudnya dari negeri lain.

Keputusan pun aku ambil. Kita membagi wilayah kekuasaan. Kunamakan dengan sebutan distrik. Kubagi menjadi 10 distrik, masing-masing distrik dipimpin oleh para anggota senior dari Valiant. Dan dari sinilah peperangan sebenarnya dimulai.

NARASI ANDRE

Anak penjual warung bakso. Itulah aku. Hampir tiap hari aku membantu ibuku dan ayahku jualan bakso di warungnya. Entah beli bumbu, entah beli ini beli itu. Walaupun mereka penjual bakso tapi tak ada niatku untuk meneruskan usaha mereka. Entahlah.

Aku punya pacar sebenarnya namanya Maria. Anaknya cakep, cantiklah di atas rata-rata. Kulitnya putih. Rambutnya lurus, hitam agak coklat gitu. Bibirnya tipis, pokoknya gambaran wanita ideallah. Hanya saja, entah kenapa dia akhirnya berkata jujur kepadaku bahwa dia cinta ama lelaki lain. Dan itu bikin aku emosi, marah, nggak tahu harus bagaimana. Tapi aku masih sayang ama Maria. Aku aja nggak tega buat nyakitin dia, marah aja nggak tega. Aku justru benci sekali dengan Ray sekarang. Ya, cowoknya itu bernama Ray.

Ray itu orangnya pendiam. Jarang banget dekat dengan kita-kita. Entah kenapa Maria bisa deket dengan Ray. Bagaimana ceritanya aku juga tidak tahu. Tapi aku akhirnya mulai menyelidiki. Hal pertama yang aku selidiki adalah laci di bangkunya.

Ada sebuah buku tulis yang tertinggal di sana. Dari halaman depan sampai halaman akhir berisi gambaran wajah Maria. Jadi anak ini dari dulu suka ama Maria. Aku marah dan aku robek-robek itu buku tulis. Dan sekarang setelah liburan akhir tahun ia tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Dan Maria? Dia tergolek lemah di atas tempat tidur, menunggu dia.

Aku setiap hari pergi ke tempatnya. Menjenguknya. Tapi sebagaimana hari-hari biasanya, dia selalu mengingau menyebutkan satu nama “Ray”. Aku benci, rasanya menusuk di hati. Sayang, tak tahukah kamu aku tak pernah mengkhianatimu selama ini.

Kamulah satu-satunya wanita dalam hidupku, kenapa juga kamu harus menyukai cowok pendiam yang nggak pernah ngasih kamu apa-apa. Aku tak habis pikir, apa yang engkau lihat dari Ray. Tiba-tiba seenaknya saja kamu bilang kamu juga cinta ama dia. Tapi aku masih berharap kamu melihat diriku Maria.

Mulai saat ini aku bekerja dengan Detektif Johan. Dia menjelaskan kepadaku semua tentang Ray. Tentang para elemental, tentang Dark Lantern. Apalagi peperangan antar keduanya telah dimulai. Dan baru saja kemarin mayat seorang anggota ATFIP tergeletak di jalan raya dengan sangat mengenaskan.

Peperangan telah berlanjut ke level yang lebih tinggi. Aku dan detektif Johan menyelidiki tentang kasus lama yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu yaitu penemuan mayat William van Bosch. Kami pun mulai menyelidiki tentang keluar van Bosch.

Insting detektifnya mengatakan bahwa Ray akan bertemu dengan keluarga van Bosch. Kalau misalnya tidak salah maka kami pasti akan bertemu Ray suatu saat nanti dan aku akan menjadi orang pertama yang menghajar dia karena telah membuat Maria seperti itu. Terus terang sampai sekarang aku tetap berharap kepada Maria. Aku peduli kepadanya dan aku akan buktikan bahwa aku lebih baik dari Ray.

“Pesta perburuan sudah dimulai rupanya,” kata Detektif Johan.

Aku berada di kantor detektifnya. Di ruangan ini aku melihat papan kerjanya dipenuhi dengan klipingan berita tentang pembunuhan. Walaupun kebanyakan menyebutkan kecelakaan, tapi sebenarnya tidak. Semuanya adalah pembunuhan yang dilakukan oleh ATFIP dan juga oleh Valiant nama kelompok para elemental. Dari semua kejadian ini, sepertinya ATFIP tidak menyentuh Ray sama sekali. Dan juga tak ada tanda-tanda Ray melakukan penyerangan terhadap ATFIP.

“Apa yang harus kita lakukan terhadap peperangan ini? Ini seperti api dalam sekam, Om,” kataku.

“Kita tetap fokus, cari tahu tentang van Bosch,” katanya.

“Om yakin itu kunci jawaban dari semua ini?”

“Tentu saja yakin. Semuanya berawal dari sana.”

“Korban makin banyak saja. Tapi heran, kenapa mereka memalsukan berita ya?”

“Itu karena divisi ATFIP tidak banyak diketahui. Dan kalau pun sampai terekspos oleh media, polisi akan menjadi bulan-bulanan. Adanya Densus 88 saja membuat mereka jadi bulan-bulanan karena tindakannya yang main tembak seenaknya. Apalagi ini yang lebih sadis, main bunuh seenaknya,” jelas Detektif Johan.

Aku manggut-manggut. Ponsel Detektif Johan berbunyi ada SMS masuk.

“Ada panggilan klien. Ikut?” tanya sang detektif.

“OK aja deh,” kataku.

Aku sudah bekerja sama dengan detektif Johan. Bukan saja untuk menyelidiki tentang keluarga van Bosch, tapi juga untuk kasus-kasus yang lain. Kali ini kami harus pergi ke tempat klien. Lebih tepatnya klien kita ini adalah polisi sebenarnya. Dan tak jarang sang detektif dimintai tolong oleh pihak kepolisian. Dan aku tahu siapa yang meminta tolong ini, Inspektur James. Siapa lagi?

Kami tiba di sebuah apartemen. Langsung saja detektif naik ke lantai tujuh. Di sini kami masuk ke sebuah apartemen yang banyak garis polisinya di sana. Sebelu masuk Detektif memberiku sarung tangan yang langsung aku pakai.

“Kamu nggak mual lihat darah kan?” tanya Detektif Johan. Sebenarnya iya. Aku mual kalau lihat darah. Tapi untuk menjaga profesionalisme maka aku menggeleng.

“Aahh…Piere, lama tidak bertemu,” seorang berkumis tebal langsung menyambut Detektif Johan dan memeluknya. Dia lalu melihat ke arahku, “Siapa?”

“Asisten,” jawab Detektif Johan.

“Tumben punya asisten,” kata Inspektur Johan.

Aku lalu berbisik ke ayahnya Maria ini, “Koq dipanggil Piere?”

“Ceritanya panjang,” jawabnya.

Aku masuk ke kamar apartemen itu. Beberapa tim penyidik ada di sana. Kamar itu sangat berantakan. Dan….bau anyir darah. Aku mencoba menahan sedapat mungkin agar tidak membuat malu dan mengotori TKP. Dan baru aku masuk terdengar suara CROTT! Detektif Johan dan Inspektur James menoleh ke arahku. Aku bingung, apaan sih? Aku lalu melihat ke bawah.

Ada sesuatu di bawah sana yang kuinjak. Aku melihat telapak sepatuku. Aku baru saja menginjak sebuah bola mata. Ngapain juga ada bola mata berwarna putih kekuningan dengan leleran darah di bawah sana. HOOOEEEKK! Aku langsung berlari ke arah wastafel yang ada di dekat kamar. Muntah sukses di sana.

“Ini bagaimana sih, tim forensik! Koq potongan tubuhnya nggak disatuin?” tanya inspektur James.

Setelah itu aku melihat di cermin terpantullah bayangan sebuah kepala terlepas dari tubuhnya dengan kedua matanya sudah tidak ada di sana. Badannya tercabik-cabik. Aku bahkan bisa melihat bagaimana isi dari tubuhnya sebagian keluar. Aku pun makin mual. HOOEKKK!

“Dasar, katanya nggak bakal mual,” kata Detektif Johan.

Aku mengangkat tangan tanda menyerah. Lalu aku membersihkan makan siangku yang keluar lagi itu di wastafel. Sialan.

Korban adalah salah seorang anggota ATFIP ternyata. Itu diketahui setelah kami menemukan sebuah kartu identitas di laci kamarnya. Dan bagaimana korban bisa tewas? Kepalanya dipenggal terlebih dulu, lalu dicabik-cabik hingga isi tubuhnya berhamburan keluar. Kemudian dicongkel matanya. Pembunuhan yang sangat sadis. Senjata yang digunakan, bukan pisau, bukan pedang, bisa jadi para elemental itu menggunakan sesuatu untuk membunuh orang ini.

“Ada yang aneh,” kata Detektif Johan.

“Kamu merasakannya?” tanya Inspektur James.

“Kenapa korban tidak memakai baju?”

“Ini rumahnya kan ya semaunya dia dong,” kataku.

“Hmm…bau apa ini? Parfum….,” kata Detektif Johan sambil mengendus. “Aku ingat sekarang. Bau parfum ini…”

Detektif Johan mengendus-edus, hingga ia sampai di sebuah meja dekat tempat tidur. Sebuah botol parfum tergeletak di sana. Ia mengambilnya.

“Inspektur James, cek sidik jarinya!” ia melemparkannya ke arah inspektur.

“Kenapa dengan parfum ini?” tanya Inspektur James.

“Aku yakin pemilik parfum ini adalah pelakunya. Dan, ini bukan ulah seorang elemental biasa. Lihat bekas cabikannya, seperti kuku yang panjang tahu kan? Lihat, seperti ada empat jari yang mengoyak, tapi ini kuku atau…apa ya….hhhmmmm…..pernah tahu orang dengan kuku yang terbuat dari pisau??” tanya detektif Johan.

“Manusia gunting?”

“Tepat, sekali. Tapi ini bukan gunting. Mungkin dalam cerita komik X-men seperti Wolverine, tapi ini lebih seperti Lady Death Strike, dengan kuku lebih besar dan panjang,” jelas Detektif Johan.

“Sebentar, menurutmu bukan ulah elemental? Lalu siapa?”

Detektif Johan mengangkat bahu. “Yang jelas pelakunya pasti ada hubungannya dengan parfum itu dan…..kasus kita 17 tahun yang lalu.”

Bersambung