Lentera Hitam Part 15

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 14

VALIANT

NARASI RAY

Maria bersandar di bahuku. Dia tertidur pulas. Aku tak tega untuk membangunkannya. Dia mendengkur halus. Mungkin karena merasa nyaman di bahuku akhirnya ia tertidur. Aku belai rambutnya, rambutnya agak kemerahan dengan warna hitam yang lebih dominan mungkin karena terkena matahari. Bau parfumnya yang harum akan aku ingat selalu. Parfum ini sudah jadi ciri khasnya. Aku ingin melepaskan genggamannya tapi rasanya tak bisa. Ia erat sekali menggenggamku.

Aku melihat Detektif Johan berada di pintu. Melihat Maria tidur di bahuku dia tersenyum. Kulihat hujan sudah mulai reda.

“Biar aku angkat tuan detektif,” kataku. Dia mengijinkan aku.

Perlahan-lahan aku memaksa tangannya untuk melepaskan genggamanku. Lalu aku menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Kemudian aku angkat dia. Kubopong perlahan hingga dengan lembut aku letakkan di atas ranjang. Setelah itu, aku mengambil selimut dan menyelimutinya. Kubelai rambutnya dan kuusap dahinya. Dia sangat cantik ketika tidur.

Aku lalu keluar kamarnya.

“Terima kasih tuan detektif. Maaf, tadi putrimu tertidur di bahuku,” kataku.

“Ya, aku bisa lihat itu,” kata Detektif Johan.

“Saya permisi,” kataku.

“Ray, aku minta maaf kepadamu. Tapi…aku ingin bilang, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Maria. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan dirinya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap mereka bukan?”

“Aku mengerti. Aku selama ini berusaha menjaga jarak agar mereka tak menyakiti Maria. Aku juga menjaga jarak dengan seluruh teman-temanku.”

“Tina Einsburgh baru saja menghubungiku. Kalau kamu ingin bertemu dengannya dia ada di Syberia saat ini. Dia berpesan kepadamu gunakan uang yang dia pakai untuk menemuinya.”

“Rusia? Ibuku ada di sana?”

“Aku hanya menerima pesannya. Dan aku sudah sampaikan kepadamu.”

Aku memeluk Detektif Johan. “Makasih tuan detektif. Setelah aku bertemu dengan ibuku, aku akan berikan bayaranmu.”

“Tak perlu,” katanya.

Aku melepaskan pelukanku. “Kenapa?”

“Setidaknya karena kamu teman putriku, lagi pula uang pemberian ibumu sudah lebih dari cukup.”

“Sekali lagi terima kasih detektif.”

“Ah, nggak usah dipikirkan.”

“Boleh aku minta satu hal?”

“Silakan.”

“Setelah ini mungkin aku tak akan bertemu lagi dengan Maria. Dan bisa jadi ini adalah perjumpaan terakhirku. Aku ingin jujur kepada Anda, aku sangat mencintai putri Anda. Kalau boleh, ijinkan aku menciumnya untuk terakhir kali. Kumohon!”

Detektif Johan mengerutkan keningnya.

“Aku tak akan minta apa-apa lagi selain ini. Sekali saja.”

Detektif Johan menghela nafas.

“Sekali!”

“Iya, sekali.”

“Silakan!”

Aku segera berbalik menuju Maria yang sedang tertidur pulas. Detektif Johan melihatku.

“Sayang mana temannya Marr…,” istri Detektif Johan kaget ketika suaminya membekapnya. Setelah ia melihatku ada di dalam kamar Maria ia pun diam.

Aku membungkukkan badan dan kucium bibir Maria untuk yang terakhir kali. Apakah aku akan bisa menciumnya lagi suatu saat nanti? Maafkan aku Maria, aku harus pergi. Ini adalah ciuman perpisahan kita. Aku harap aku bisa kembali menemuimu. Setelah itu aku berdiri dan menuju keluar kamar.

“Terima kasih detektif,” kataku.

“Hati-hati, kamu tahu kamu berurusan dengan siapa bukan?”

“Ya, aku tahu.”

“Ray jangan pergi!” tiba-tiba suara Maria terdengar. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata dia hanya mengigau. Ayah dan ibunya juga kaget tadi. Aku harus pergi.

***

Setelah dari tempat Detektif Johan, Alex menghubungiku. Menyuruhku untuk datang ke sebuah gedung yang tak terpakai. Dia ingin memperkenalkan teman-temannya. Karena aku tak tahu harus kemana, maka aku pun menuruti dia. Gedung itu terletak jauh dari keramaian. Aku ke sana menggunakan taksi dan tentu saja jalan raya juga jauh dari tempat ini. Sepertinya gedung itu terbengkalai. Ada dua puluh lantai tapi gedung itu mangkrak, baru setengah jadi. Tiang-tiangnya saja sudah berkarat.

Aku masuk ke gedung itu. Di lantai pertama aku sudah disambut Alex.

“Yo, bro. Selamat datang! Kawan-kawan! Kenalkan, namanya Ray. Dia sama seperti kita,” kata Alex.

“Hai, apa kabar?!” aku mendengar sebuah suara dari atas.

Ternyata Alex tak sendiri ada kurang lebih sepuluh orang di tempat ini. Salah seorang dari mereka bermain kerikil tapi kerikil itu melayang-layang di atas udara. Beberapa di antaranya ada yang merokok tapi menyalakan api dengan jarinya.

Salah seorang turun. Dia seorang anak kecil, rambutnya berombak. Tampangnya sok jagoan.

“Bisa apa dia?” tanyanya.

“Ray, kenalkan. Timoti, panggilannya Tim,” kata Alex. “Kamu jangan menguji Ray, dia kalau marah bisa membekukan seluruh kota ini jadi es.”

“Oh ya? Sama seperti aku dong. Aku juga bisa berbicara dengan air,” kata Tim.

“Beda! Kamu hanya bisa bicara dengan air, dia bisa bicara dengan lebih dari satu elemen. Dia angin dan air,” jelas Alex.

“Hah? Dua elemen? Kukira kita semua hanya bisa bicara dengan satu elemen,” kata yang lainnya.

“Iya, bagaimana dia melakukannya? Aku juga mau,” sahut yang lain lagi.

“Itu sudah bawaan dari lahir. Kalian juga bukan? Ray, coba tunjukkan kepada mereka!” pinta Alex.

Aku mengulurkan tanganku, cahaya biru keluar dari telapak tanganku. Kuperintahkan angin dan air untuk membekukan kaki mereka sementara. Kukibaskan tanganku ke udara, menyapu seluruh ruangan.

“Woi! Lo apain kaki gua?!” seru Tim.

“Tahu bukan perbedaannya?” tanya Alex. “Tapi Ray, kakiku juga ya jangan dong!”

Seluruh kaki mereka sekarang sedang tertanam di dalam balok es. Seorang yang mempunyai kekuatan api mencairkan balok es itu. Ia lalu membantu temannya yang lain. Kekuatannya seperti Agni. Dia seorang cowok kulitnya gelap dan rambutnya ikal.

“Oh, untung kita ada Jack, Jack bisa membantu kalian. Jangan khawatir!” kata Alex.

“Tak usah bingung, aku hanya sementara memasang balok es itu di kaki kalian. Lima menit lagi juga mencair,” kataku.

“Kereeen! Aku tak menyangka bisa bertemu dengan orang dengan dua elemen sekaligus,” kata Tim.

“Jadi, ini kelompokmu?” tanyaku

“Iya, begitulah. Kami menamakan diri VALIANT,” ujar Alex.

“Nama pasaran. Apa nggak ada nama yang lain?” tanyaku.

“Emang kamu mau ngusulin apa?” tanya Alex.

“Nggak tahu. Aku nggak ada ide,” kataku. “Oh ya, aku ingin memberitahumu sesuatu Lex.”

“Apa?”

“Aku ingin pergi ke Syberia, menemui ibuku,” kataku.

“Kamu sudah ketemu dengan ibumu?”

“Iya, detektif itu sudah menemukan ibuku. Aku takut ibuku juga akan diburu oleh mereka, aku mohon maaf tidak bisa membantu kalian di sini,” kataku.

“Kamu bilang apa bro, kita saudara. Aku sudah menganggapmu sebagai sudara, tak perlu begitu. Kami akan membantumu, karena tujuan dari Valiant adalah kita bersatu, menyatukan kekuatan untuk menghadapi Dark Lantern,” kata Alex.

Aku sangat menghargai idenya. Tapi aku harus pergi.

“Aku harus pergi Lex, aku akan do’akan perjuangan kalian berhasil,” kataku. “Ini ada sesuatu untukmu dari ibu kepala.”

Aku mengulurkan kalung salib pemberian ibu kepala. Alex menerimanya.

“Dari Ibu kepala ya?” tanyanya.

“Selama aku pergi, jagalah beliau! Juga anak-anak panti lainnya,” kataku.

Tangan Alex tampak gemetar. Ia mencium kalung salib itu lalu memelukku. “Bro, aku nggak mau kamu pergi! Ayolah bro, aku sendirian di sini.”

“Aku harus pergi. Aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu semua ini berawal. Setelah ini mungkin aku tak akan kembali lagi. Tapi aku masih berharap bisa kembali lagi,” kataku.

Alex lebih erat lagi memelukku. “Jangan pergi bro! Setelah Agni, Troya, masa’ kamu juga harus pergi? Lagipula kamu masih lemah. Kamu belum kuat.”

Aku menepuk-nepuk punggungnya. Ia lalu melepaskan pelukannya.

“Aku sudah berbeda dari sebelumnya,” kataku. “Sampai jumpa kawan-kawan, semoga kita bertemu lagi. Sampai jumpa.”

Aku lalu berbalik meninggalkan mereka.

“Ray! Ray!” Alex berkali-kali memanggilku. Tapi maaf kawan, aku harus pergi.

Bersambung