Lentera Hitam Part 14

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Lentera Hitam Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Lentera Hitam Part 13

Di Ambang Perasaan

NARASI RAY

“Itulah mereka,” kataku. Kutelah menceritakan semuanya tentang Dark Lantern kepada Alex.

“Bro, sebaiknya kita bergabung,” kata Alex. “Kita tak mungkin melawan mereka sendirian!”

“Aku tak bisa Lex!” kataku. “Kamu sendiri tahu berapa banyak yang sudah aku korbankan?”

Alex menundukkan wajahnya. “Bukan kamu saja yang kehilangan Ray. Aku juga. Agni sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Troya juga sudah kuanggap sebagai adikku. Kamu juga sudah kuanggap sebagai saudaraku. Aku tak mungkin tinggal diam Ray.”

“Aku belum siap Lex, aku belum siap,” kataku.

“Halah, benar kata Agni. Kamu itu lemah Ray, lemah!” kata Alex.

Ibu kepala panti muncul. Ia melihat Alex dan aku sedang berada di gerbang. “Alex?” panggilnya.

“Aku pergi Ray,” kata Alex. “Makasih atas semuanya.”

“Alex?!” panggil Ibu kepala.

“Ray, kenapa nggak mau ajak masuk?” tanya ibu kepala.

“Dia tidak mau,” kataku singkat.

“Oh, Alex. Padahal ibu mau beri dia sesuatu,” kata ibu kepala. “Bisa minta tolong?”

Aku menoleh ke arah beliau.

“Berikan ini ke Alex nanti kalau kalian ketemu,” kata Ibu kepala. Sebuah kalung salib kecil beliau berikan kepadaku.

“Aku akan berikan,” kataku.

“Aku tahu hubungan kalian erat, tolonglah jangan bertengkar. Kembalilah lagi ke sini,” kata Ibu kepala.

“Ibu tahu kenapa ia pergi, kenapa kami harus berpisah. Karena kami sangat menyayangi tempat ini. Kami takut kalau-kalau tempat ini akan kena juga,” kataku.

“Tapi yah,…,” Ibu kepala menghela nafas.

“Saya tahu perasaan ibu, berat memang. Kita juga sama. Alex juga merasakannya. Itu sebabnya ia tak mau lama-lama di sini,” kataku.

“Semoga tuhan melindungi kalian,” kata beliau sambil mengusap kepalaku dengan mata berkaca-kaca. Wajah beliau yang sudah sepuh ini memberikan keteduhan tersendiri.

****

Sang detektif menghubungiku lagi. Sebenarnya tak ada yang lebih membuatku senang sekarang kecuali aku bertemu dengan Maria. Aku harus mengakui bahwa aku makin menyukainya. Hujan masih turun saja. Hari-hari menjelang natal. Aku memakai mantelku ketika pergi ke rumahnya. Menurutku lebih praktis daripada membawa payung.

Aku melihat mobil ayahnya terparkir di luar. Kudekati rumahnya. Kemudian kuketuk pagarnya.

Tak berapa lama kemudian wajah Maria muncul, “Hai Ray. Masuk!”

Aku kemudian masuk, kutanggalkan mantelku dan kulepas sepatuku lalu masuk ke ruang detektif yang berada di sebelah ruang keluarga. Di ruang detektif tampak Detektif Johan sudah menunggu. Dia tampak benar-benar suntuk sekarang. Apakah dia berhasil?

“Duduklah!” katanya.

Maria rupanya ikut masuk ke ruang detektif. Dia pun mengambil tempat di sebelah ayahnya. Aku pun duduk di sofa.

“Aku kemarin bertemu dengan ibumu walau tidak secara langsung,” jawab Detektif Johan.

“Whaa…? Benarkah? Lalu bagaimana?” tanyaku.

“Dia belum bisa bertemu. Aku ingin tahu sekarang kenapa mereka mengejarmu?”

Detektif Johan rupanya sudah tahu.

“Aku bertemu mereka tiga kali. Dan aku tak suka melihat mayat-mayat bergelimpangan sedangkan aku tak bisa berbuat banyak. Aku akan menemukan kedua orang tuamu dan mempertemukan kalian. Bahkan sekarang ia menyewaku untuk melindungimu dari mereka.”

“Betulkah detektif?”

“Iya. Aku bahkan tak menyangka rekeningku bertambah ratusan juta hari ini sebagai biaya melindungimu.”

Entahlah, aku bingung. Antara perasaan senang, bahagia, campur jadi satu. Ternyata mereka masih hidup. Harapanku tidak sia-sia. Apalagi harapan seorang anak yatim piatu kecuali bertemu dengan kedua orang tua mereka? Dan aku harus jujur kepada Detektif Johan akan kekuatanku. Tapi ada Maria di sini. Tak apa-apa deh. Aku juga mencintai Maria. Dia harus tahu siapa diriku sebenarnya.

“Maaf detektif, aku akan tunjukkan kepadamu,” kataku.

Aku mengulurkan tangan kananku. Aku disapa oleh angin dan air yang ada di sekelilingku. Tanganku memancarkan cahaya biru sekarang. Telapak tanganku menyala.

“Whaa…apa ini?” Detektif Johan terkejut. Hampir saja ia melompat. Maria juga.

“Ray, kamu..?” Maria terbelalak tak percaya.

“Jangan takut, lihatlah!” kataku.

Seluruh air hujan yang melekat di tubuh dan bajuku kemudian melayang mendekat ke atas telapak tanganku, berkumpul di sana jadi satu, lalu membeku membentuk kristal-kristal kecil lalu meledak menjadi butiran-butiran salju. Detektif Johan seakan-akan tak percaya akan semua yang baru saja dilihatnya.

“Inilah alasannya aku menjauh dari teman-temanku. Aku takut tak bisa mengendalikan kekuatan ini,” kataku. “Maafkan aku, aku bisa jujur sekarang kepada kalian.”

“Oh tidak, aku tak percaya. Tak sadarkah kamu Ray kalau mereka orang-orang berbahaya yang mengincarmu?” tanya Detektif Johan.

“Aku tahu. Mereka menganggap kekuatan ini adalah kekuatan iblis,” kataku.

“Tidak! Itu bukan kekuatan Iblis!” tiba-tiba Maria menyanggahku. “Aku tahu siapa kamu. Kamu orangnya lembut, bahkan dengan teman-temanmu kamu sampai punya perasaan tak ingin menyakiti mereka. Aku yakin itu bukan kekuatan iblis Ray.”

“Dengan begini, aku sekarang tahu apa yang terjadi,” kata Detektif Johan. “Well, trust me, We are doomed. ATFIP mengunjungiku sudah tiga kali. Dan yang terakhir mereka bisa mendapatkan video CCTV ketika putriku lari di sebuah gang. Dan aku agak terkejut bagaimana mereka bisa mendapatkannya.”

“Detektif, Anda salah dengan satu hal,” kataku.

“Apa?”

“Ibuku salah menyuruh Anda untuk melindungiku. Tapi akulah yang akan melindungi kalian,” kataku.

Suasana setelah itu hening.

“Baiklah, mungkin itu saja. Kamu sudah dapatkan informasi bahwa orang tuamu masih hidup. Dan aku yakin sebentar lagi kalian akan bertemu,” kata Detektif Johan.

“Terima kasih banyak,” kataku.

Aku kemudian beranjak.

“Mau kemana?” tanya Detektif. “Masih hujan deras di luar. Masuk saja ke ruang keluarga. Tunggu sampai hujannya reda! Maria, temani dia!”

Aku pun menurut. Kuikuti Maria pergi ke pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan ruang kerja ayahnya. Aku belum pernah masuk ke ruang keluarganya. Di sana ada sebuah sofa yang berbentuk seperti kacang. Karpetnya juga cukup luas. Tampak kulihat seorang wanita sedang menonton tv dengan serius.

“Duh, ada ibu. Ke kamarku aja yuk!” ajak Maria.

“Hah? Emangnya nggak apa-apa?” bisikku.

“Aku ajak Ray ke kamarku ya yah? Ibu sedang sibuk dengan acara tv!” kata Maria. Tak ada jawaban.

Aku digeret oleh Maria naik ke atas.

“Nggak apa-apa, kadang juga teman-temanku mampir ke sini ku bawa ke kamarku koq,” katanya.

“Tapi aku temen lelaki Mar!”, bisikku.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Toh di sebelah kamarku ada kamar adikku koq.”

Aku melihat sebuah pintu kamar terbuka. Ada Justin yang sedang main video game dengan dua orang temannya. Mereka tampak ramai sendiri. Aku pun diajak oleh Maria masuk ke kamarnya. DEG! jantungku berdegup kencang sekali. Apa yang akan terjadi setelah ini? Kamar Maria sangat rapi, di dindingnya ada hiasan Hello Kity. Ada beberapa boneka di bawah dan di atas kasur. Kulihat tumpukan buku tertata rapi di rak. Sebuah meja belajar berwarna pink terlihat sangat mencolok dengan hiasan stiker warna-warni.

Warna wallpapernya pink bergaris putih. Khas kamar khas cewek. Ada sebuah poster dari serial anime.

“Sejujurnya aku baru pertama kali ini masuk kamar cewek,” kataku.

“Hihihihi. Duduk sini!” katanya.

Kami pun duduk di bawah. Pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka. Aku makin takjub dengan Maria. Dia makin terlihat sisi feminimnya. Aku tahu dia udah punya cowok, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Biar bagaimana pun, aku tak ingin merusak hubungan dia dengan Andre. Dan aku tahu itu dia tak akan mau.

“Hei, bengong aja!” katanya.

“Eh, iya,” aku pun terlepas dari lamunanku.

“Ray, tunjukin lagi dong yang tadi. Aku pengen lihat!” katanya.

Dia ternyata suka dengan kemampuanku tadi. Aku tersenyum. Ku perlihatkan sekali lagi. Telapak tangan kananku kujulurkan. Kemudian cahaya berwarna biru muncul. Dengan mudah aku berbicara dengan angin dan air agar membentuk sebuah boneka salju kecil. Maria tampak sangat antusias. Matanya berbinar-binar.

“Kereeeennn…cantiknya!” katanya sambil tersenyum. Wajahnya itu wajah paling manis yang pernah aku lihat.

Dia menyentuh boneka salju kecil di telapak tanganku.

“Dingin ya?” katanya ketika mencolek boneka salju mini itu.

Kemudian boneka salju itu hancur menjadi serpihan-serpihan salju kecil.

“Ray?!” katanya.

“Ya?”

“Maafin aku ya.”

“Kenapa?”

“Sebab aku tak tahu kalau kamu ternyata selama ini tak pernah dekat kami karena menanggung beban segitu berat. Hanya karena ingin agar kekuatanmu ini tak melukai kami kamu berbuat seperti ini.”

“Tak apa-apa. Kalian tak salah koq.”

“Tapi aku merasa bersalah. Aku tak pernah memperhatikanmu, kamu selalu duduk di sana memperhatikan kami. Kamu habiskan waktumu untuk membaca buku, aku bisa merasakan rasa kesepianmu Ray. Entah kenapa aku bisa. Dan aku…aku merasa….”

“Merasa apa?”

“Merasa aku selama ini telah salah menilaimu. Kamu anak yang baik. Kamu juga bisa jadi teman yang baik. Harusnya kamu berbagi dengan kami.”

“Aku tak bisa Mar, kamu tahu kenapa.”

Aku beranikan diri mengusap rambutnya. Ia tak menolak. Mata kami beradu pandang. Wajahku mendekat ke wajahnya.

“Maria, aku ingin jujur kepadamu. Aku sudah mencintaimu sejak lama, sejak pertama kali kita bertemu di kelas itu. Sejak pertama kali kamu tersenyum kepadaku dan aku berikan kamu sebuah permen lolipop.”

Mata Maria terpejam. Dan dengan sedikit dorongan, kedua bibir kami bertemu. Ciuman kami sangat lembut, selembut salju. Bibirnya basah. Kedua mataku terpejam, menikmati momen yang langka ini. Akhirnya aku pun mencium wanita yang aku puja ini. Secret admirer ini pun telah mencium wanita pujaan hatinya.

Aku perlahan-lahan melepaskan ciumanku. Tapi Maria tidak ingin. Dia mencari-cari bibirku lagi. Maka aku dekatkan bibirku, dia menciumku lagi. Hingga akhirnya kening kami bertemu. Ia mengusap pipiku.

“Apa yang harus aku lakukan Ray? Aku juga jatuh cinta kepadamu. Tapi aku tak mau menyakiti Andre. Kenapa kita harus bertemu di saat seperti ini?”

Kami pun berciuman lagi beberapa saat. Setelah itu aku bersandar di tepian ranjang. Dan Maria bersandar di bahuku. Kami membisku, namun kedua tangan kami saling menggenggam erat. Menyimpan kegalauan tinggi yang tak sukar diungkapkan dengan kata-kata.

NARASI MARIA

Hari ini Ray datang. Ayahku telah memberikan sebuah clue tentang orang tua Ray yang masih hidup. Aku bisa melihat sinar kebahagiaan terpancar dalam dirinya. Namun inilah hal yang terbodoh yang aku lakukan. Hujan belum reda dan ayah menyuruh Ray tinggal sejenak. Awalnya aku mengajak dia ke ruang keluarga. Tapi ada ibu di sana. Akhirnya aku ajak dia ke kamarku.

Dan di sini ada sedikit kecelakaan. Hmm…bukan kecelakaan sih tepatnya. Tapi unforgiven moment. Kami awalnya hanya duduk bersama di lantai kamarku. Dan aku sama sekali tak pernah mengajak cowok masuk ke kamarku bahkan Andre sekali pun. Hanya teman-teman cewekku saja yang pernah.

Aku suruh dia menunjukkan lagi kekuatannya tadi. Sungguh aku sangat terpukau. Indahnya sinar biru yang keluar dari tangannya itu. Dan lucunyaa ia bisa membuat boneka salju kecil. Aku sentuh boneka salju itu dan booom….jadi salju beneran. Aku serasa masuk ke dalam alam fiksi, tapi….dia masih ingat momen pertama kali kita bertemu waktu itu.

Ray berkata, “Maria, aku ingin jujur kepadamu. Aku sudah mencintaimu sejak lama, sejak pertama kali kita bertemu di kelas itu. Sejak pertama kali kamu tersenyum kepadaku dan aku berikan kamu sebuah permen lolipop.”

Dia usap rambutku. Dan wajahnya makin maju…maju…oh tidak Ray, jangan cium aku. Aku sudah punya cowok. Tapi aku tak melawan kenapa aku ini? Dan lucunya mataku terpejam membiarkan bibirku diciumnya. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk….tidaaaaaaakkk! Aku diciumnya. Ray sadar Ray…hoi sadar kamu Maria! Sadar! Bibirnya terasa lembut, dingin seperti mint. Ia menghisap bibirku yang basah. Aduuuhhh….wajahku memerah nih mau meledak. Waduuuhh….eh…dia menarik bibirnya. Sudahan?

Lho, lho, koq aku mencari bibirnya lagi. Ini reflek saudara-saudara reflek. Siapa sih yang kepengen melewatkan ciuman cowok semacam Ray? Aku ingin dicium lagi. Ayo Ray cium aku lagi. Nahh…bibirku diciumnya lagi. Jantungku berdebar-debar. Rasa sesak didadaku makin terasa. Aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini ketika Andre menciumku. Aku tak pernah merasa sesesak ini, senyaman ini, sehangat ini, sedingin ini. Kenapa hangat dan dingin? Ah…aku tak bisa mengungkapkannya.

Ray, kamu jahat. Kamu jahat. Kalau kamu suka ama aku kenapa tidak dari dulu kamu bilang? Mungkin aku akan menyukaimu sekarang. Mungkin kita sekarang sudah jadian. Dan aku akan menghiburmu dari rasa kesepianmu tiap hari. Aku bisa jadi orang yang akan selalu menghiburmu tiap hari. Ray, kamu jahat. Kenapa baru sekang kamu bilang cinta ama aku? Kenapa juga kamu masih ingat saja peristiwa pertama kali kita ketemu?

Aku masih ingat Ray, ingat dengan jelas. Betapa cakepnya dirimu waktu itu. Cowok pertama kali yang berkenalan denganku. Saat itu masih dalam masa orientasi sekolah, aku ingat kamu mengulurkan tanganku.

“Hai, namamu Maria?” tanyanya. Ia pasti melihat Tag Name-ku waktu itu.

“Iya, kamu…Ray?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya. “Kalau begitu boleh aku tahu apa yang kau inginkan sejak dulu dan sampai sekarang kamu belum dapatkan?”

Kami saat itu dapat tugas mencatat apa sih yang temanmu inginkan tapi belum kesampaian. Dan ternyata ia masih mengingatnya waktu itu.

“Aku ingin sebuah bola kaca yang di dalamnya ada boneka saljunya. Aku ngebet banget kepengen punya itu. Tapi di sini di mana ya yang jual?” tanyaku waktu itu. Dan Ray pun mencatatnya. “Kalau kamu?”

“Aku….aku tak punya keinginan khusus sih,” katanya.

“Bohong.”

“Benar, sebab setiap keinginanku pasti aku akan mendapatkannya.”

“Wah, trus masa’ aku tulis kamu tak punya keinginan? Ya bikin sesuatu yang baru dong.”

“Baiklah…hhhmmm…..,” Ray berpikir keras. “Ya udah deh, aku ingin memberimu lolipop.”

“Hah? Apaan itu? Masa’ itu keinginan?”

“Yah, tulis aja kek.”

“Hihihihi…ya udah,” aku pun menulisnya.

“Nih!” tiba-tiba Ray memberiku lolipop. Lucu nggak tuh?

“Lho? Koq?”

“Terima aja, kan keinginanku tadi ingin ngasih kamu lolipop, sekarang udah terkabul kan? Aku yakin suatu saat nanti keinginanmu akan terkabul seperti aku memberikan lolipop ini ke kamu.”

Dan iya, kamu masih ingat. Kamu berikan hadiah itu di hari ulang tahunku. Aku mengusap pipinya. Ciuman itu menggelora dalam diriku. Memberikan bekas di hatiku yang tak ingin hilang begitu saja.

“Apa yang harus aku lakukan Ray? Aku juga jatuh cinta kepadamu. Tapi aku tak mau menyakiti Andre. Kenapa kita harus bertemu di saat seperti ini?”

Kami berciuman lagi untuk ketiga kalinya. Aku bingung sekarang. Bingung. Apa yang harus aku lakukan. Tapi aku sekarang jatuh cinta kepadanya. Tapi aku juga ada Andre. Aku pun bersandar di bahunya. Please, tuhan, kalau misalnya ini saat terakhir aku bersama Ray, kumohon biarkan aku bersandar lebih lama lagi. Ray…tangan kami pun saling menggenggam. Kami tunggu hujan sampai reda. Nyaman sekali aku bersandar di bahunya. Sampai tak terasa aku pun tertidur.

Jangan pergi Ray!

Aku terbangun dan mendapati diriku sudah ada di ranjang dengan selimut. Aku sendirian di kamar. Ray pasti sudah pulang. Aku lihat dari jendela hari sudah gelap. Hujan telah reda. Aku pun merangkul guling. Aku ingin menganggap itu adalah Ray. Aku peluk guling itu. Ya tuhan, aku jatuh cinta kepadanya. Apa yang harus aku lakukan??

Bersambung