Lembaran Yang Hilang Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Lembaran Yang Hilang Part 7

Start Lembaran Yang Hilang Part 7 | Lembaran Yang Hilang Part 7 Start

Dua hari berikutnya atau dihari sabtu akhirnya aku benar-benar jadi meninggalkan rumah. Dibantu Rein, aku pindah ke rumah baru. Tidak banyak barang yang kubawa hanya pakaian dan perlengkapan Kuliah. Aku sudah menjelaskan kepada Rein tentang ideku atau seharusnya idenya Jessica mengenai menjadikan rumah baru ini sebagai tempat kost. Rein tidak begitu mempermasalahkannya yang penting aku tidak tinggal bersama anggota HIMA. Dia juga ingin disediakan satu kamar untuknya, karena dia akan mengusahakan setiap akhir pekan untuk berkunjung dan menginap di rumah ini. Aku sih yakin yang dia maksud dengan berkunjung itu adalah mengawasiku. Tapi aku senang dengan itu, aku lebih senang lagi kalau dia menemaniku tinggal di rumah ini setiap hari.

Rein akan menempati kamar utama di lantai satu yang ukurannya cukup besar itu. Sedangkan aku akan menempati kamar yang dulu dipakai Jessica di lantai dua, yang ada kamar mandi di dalamnya. Tersisa tiga kamar lagi untuk disewakan. Agar orang-orang pada tau kalau di rumah ini ada kamar disewakan, untuk sementara aku dan Rein membuat tulisan besar “Menerima Kost” beserta nomor handphoneku pada sebuah kertas karton dan kutempelkan di pagar depan. Minggu depan aku akan mengganti tulisan itu dengan Banner agar lebih menarik. Selain itu aku juga akan membuat brosur yang akan aku tempelkan di setiap mading atau papan pengumuman di kampus. Aku jadi semakin tidak sabar dengan siapa siapa yang akan tinggal bersamaku di rumah ini.

Setelah menemaniku menginap pertama kalinya di rumah ini, hari berikutnya aku dan Rein harus berpisah. Di minggu sore Rein harus berangkat menuju kampusnya untuk mempersiapkan semester baru esok hari. Sendirian dirumah,tidak banyak yang kulakukan di malam hari, hanya menonton TV di ruang keluarga sambil berbalas pesan dengan Bu Fiona dosen waliku.

.

.

Keesokan paginya, tepat pukul delapan kurang lima menit aku tiba di Gedung “L” atau gedung Fakultas Ekonomi berbarengan dengan para mahasiswa ekonomi yang lain. Saat akan memasuki gedung, aku melihat Bu Fiona Dosen Cantikku, eh maksudku Dosen Waliku yang juga akan masuk ke dalam gedung bersama beberapa dosen yang lain. Nanti setelah kuliah jam pertama usai, aku diminta menghadapnya di ruang dosen. Sudah pasti dia menyuruhku menemuinya untuk membahas nilai IPK ku yang turun drastis. Bu Fiona sempat melihatku.

Lembaran Yang Hilang Part 7

Namun hanya sebentar saja kemudian dia masuk ke dalam lift gedung bersama dosen lain. Sebenarnya lift itu masih cukup luang untuk dimasuki beberapa mahasiswa. Tapi tidak ada satupun mahasiswa yang mau naik lift bersama para dosen itu.

Setelah itu aku langsung menuju ke kelas L-503 tempat kuliah pertama hari ini akan di mulai. Kelas L-503 berarti letaknya ada di Gedung “L” lantai 5 dan ruangan ke 3. Mata kuliah pertama yang kuambil di semester tiga ini adalah Pengantar Ekonomi Pembangunan. Kali ini aku tidak sekelas dengan Dicky dan sepertinya semester ini jadwal kuliahku dan dia agak berbeda, hanya satu atau dua kelas yang sama. Semester ini aku tidak bisa mengambil lebih dari 18 sks akibat nilai IP ku semester kemarin yang sangaaaaaat jelek. Aku harus memperbaikinya semester ini agar semester depan aku bisa mengambil SKS maksimal. Ya, aku harus benar-benar fokus untuk memperbaiki nilaiku.

Kuliah pertama berlangsung hampir dua jam lamanya. Aku tidak menyangka akan selama itu, padahal biasanya kuliah hari pertama itu hanya sekedar pengenalan dosen dan pengantar mata kuliah. Hampir kurang dari dua jam tersebut Dosen Pengantar Ekonomi Pembangunan berbicara banyak tentang topik yang memang sedang hangat-hangatnya yaitu tentang serangan hacker pada sebuah Bank. Penjelasan dosen hampir sama dengan apa yang pernah dikatakan Luna mengenai dampak serangan itu terhadap perekonomian negara.

Setelah usai mengikuti kelas pertama hari ini, aku bergegas menuju ruang dosen ekonomi yang ada di lantai bawah Gedung L untuk menemui Bu Fiona. Dan sudah hampir satu jam aku sudah duduk bersebelahan dengannya di sebuah deretan kursi yang ada samping ruang kepala program studi manajamen. Sengaja dia mengajakku kesini karena disini lebih tenang dan sepi, dan juga karena tidak semua dosen mempunyai ruangannya sendiri. Hanya para dosen dengan gelar professor yang mempunyai ruangan sendiri. Sedangkan meja Bu Fiona jadi satu bersama dosen lainnya di ruang dosen.

Aku hanya duduk terdiam sambil mendengarkan penuturan dan nasihat Dosen cantik ini kepadaku. Inti dari apa yang dia katakan kepadaku hampir satu jam ini adalah tidak ada pilihan lagi bagiku kecuali belajar lebih giat lagi daripada semester sebelumnya. Bu Fiona juga sempat menakut-nakuti tentang ancaman DO jika nilai IPK ku dibawah 2.00. Dia sempat merangkum nilai-nilai mata kuliah yang kuambil selama dua semester kebelakang yang kebanyakan mendapatkan Nilai C dan D. Hanya satu mata kuliah aku mendapatkan nilai sempurna A+, itupun karena dosennya hyper-sex.

Sebenarnya aku sudah tau semua yang akan dikatakan Bu Fiona. Karena semalam aku dan Bu Fiona saling berbalas pesan mengenai pertemuan ini. Kenapa bisa begitu? Alasan sebenarnya dia mengajakku bertemu disini itu karena hanya ingin menunjukkan kepada Kepala Prodi Manajemen kalau dia bisa menjadi dan menjalankan tugasnya sebagai dosen wali dengan baik. Karena ini pertama kalinya dia menjadi seorang Dosen Wali dan aku adalah mahasiswa pertama dan satu-satunya yang dia bimbing. Dan juga, Kepala Prodi Manajemen dulu adalah dosennya Bu Fiona saat dia kuliah di kampus ini. Jadi semalam dia menjelaskan kepadaku melalaui pesan tentang garis besar dari apa saja yang akan dia sampaikan kepadaku, dan dia bilang kalau akan sedikit menceramahiku.

Bukannya merasa bersalah atau sedih meratapi kondisi karena sedang dinasehati tentang nilai IPK ku yang rendah, daritadi aku tersenyum mendengarkan dia berbicara sambil memandang wajah cantiknya. Malahan, dari jarak sedekat ini semakin bisa kulihat dengan jelas betapa cantiknya wajah Bu Fiona.

Lembaran Yang Hilang Part 7

Dosen yang masih muda ini mengajar Matkul statistik seluruh mahasiswa fakultas ekonomi. Bu Fiona memang menjadi idola para mahasiswa karena kecantikannya, termasuk aku. Pesonanya yang anggun dan wajahnya yang cantik sudah pasti bisa menggetarkan hati para mahasiswa ataupun para dosen pria. Bukankah sudah pernah kubilang kalau selain Luna, Bu Fiona juga kupuja-puja kecantikannya. Apalagi dia selalu tampil elegan dengan pakaian mewah yang selalu dia pakai saat ke kampus. Bu Fiona memang selalu terlihat sempurna dimataku. Rumor mengatakan kalau dia masih belum menikah.

Sungguh beruntungnya aku, Sudah pasti banyak mahasiswa lain yang iri denganku mendapatkan Dosen Wali seperti Bu Fiona. Karena tidak hanya berparas cantik, Bu Fiona juga mempunyai tubuh yang langsing cenderung seksi dengan payuduara wowwww banget. Bentuk payudara idaman kebanyakan cowok sih. Semakin kupandang payudara Bu Fiona, semakin ingin rasanya membelaikan tanganku ke belahan sepasang payudaranya yang bulat . Dengan pakaian yang dia kenakan sekarang, aku bisa melihat sebagian bulatan payudaranya yang putih dan mulus saling menempel satu sama lain. Iseng Kubayangkan pakaian itu terlepas dari tubuhnya.

Lembaran Yang Hilang Part 7

Terbayang di otakku payudara besar Bu Fiona membusung indah dihadapanku yang masih tertahan bra. Ahhhhh, pasti gede dan empuk banget, pikirku dalam hati. Saat sedang asik memandang dan membayangkan payudara Bu Fiona, tiba tiba Tangan Bu Fiona memegang bagian bawah daguku lalu menggerakkan wajahku agar aku menatap wajahnya.

“Fokus” ucap Bu Fiona pelan hampir tidak bisa kudengar dengan jelas, lalu dia tersenyum. Sial, aku ketahuan. Aku jadi malu padanya setelah dia memergoki aku sedang memandang payudaranya. Kemudian dia melanjutkan lagi bicaranya.

Tak lama kemudian Kepala Prodi Manajemen keluar dari ruangan sebelah kami dan melewati kami berdua. Beliau sempat memandang kami dan mengangguk ke arah Bu Fiona lalu berjalan menuju ke ruang dosen yang terhubung dengan ruangan ini.

“bagaimana menurutmu?” tanya Bu Fiona setelah Kaprodi sudah hilang dari pandangan kami berdua.

“Great!!. Pak Kaprodi pasti akan bangga dengan Ibu” Jawabku, sambil mengacungkan dua jempol ke arahnya “Tapi.. beneran Ibu tidak pengen memarahiku karena nilaiku?” Tanyaku. Dia tersenyum manis banget mendengar pertanyannku.

“tugas dosen wali itu untuk membantu mahasiswa menyusun KRS, memberi pertimbangan pilihan studi dan memantau progres studi mahasiswa yang dibimbingnya. Aku tidak akan memarahimu, Aku juga pernah menjadi mahasiswa sepertimu Rega, pernah merasa Down, jenuh dan hilangnya semangat untuk Kuliah. aku juga tau susahnya untuk 100 persen fokus pada kuliah, apalagi bagi mahasiswa seperti kamu, pasti ada hal-hal lain yang membuat fokusmu terganggu, misalnya masih ingin bermain, terlalu aktif di organisasi dan pacaran. Kamu sudah punya pacar?”

Aku menggelengkan kepalaku pelan setelah mendengar pertanyannya.

“Yakin cowok seperti kamu ini belum punya cewek?” Tanya dia, seakaan tidak percaya kalau aku tidak punya pacar “Intinya, kamu boleh saja bersenang-senang dengan Dunia kampus, teman-teman baru, pacaran, ataupun aktif di organisasi tapi kamu harus ingat tanggung jawab utama seorang mahasiswa adalah mempersiapkan diri sebagai orang dewasa. Apalagi kamu adalah seorang cowok, suatu saat nanti kamu akan menjadi pria yang punya tanggung jawab besar kepada istri dan anak-anakmu. Apakah kamu siap dengan tanggung jawab sebesar itu? kamu aja belum bisa memenuhi tanggung jawabmu sebagai mahasiswa dan menelantarkan kuliahmu”

Aku terdiam dan tak tau harus bagaimana menanggapi Ucapan Bu Fiona. Menjadi dewasa? Kukira aku sudah menjadi dewasa saat lulus sekolah. Tanggung jawab seorang pria? Masa depan? Aku bahkan belum memikirkannya. Apakah aku harus memikirkan masa depanku dari sekarang?. Huaaaa, kepalaku langsung terasa berat saat memikirkannya.

“Hahaha, jangan terlalu terbebani dengan masa depan, karena kita tidak tahu ada apa di masa depan, tapi kamu bisa mengusahakan masa depan yang lebih baik dari sekarang” Ucapnya.

Aku tersenyum mendengar ucapan Bu Fiona. Dulu Kak Neta juga mengatakan hal yang hampir sama. Aku semakin mengagumi dosen waliku ini. Dia tidak hanya seorang wanita Dewasa yang cantik, tapi juga pintar dan sudah pasti matang secara emosi. Masa depan yang kuinginkan adalah punya istri seperti Bu Fiona yang tidak hanya cantik dan seksi, tapi juga pintar dan dewasa, hihihi.

“ada saran untukku Bu Dosen? agar aku bisa pintar” tanyaku.

“ Kamu tidak perlu pintar di setiap mata kuliah, yang penting kamu mengerti. Karena pintar saja tidaklah cukup, banyak orang pintar memanfaatkan kepintarannya untuk merugikan orang lain, seperti yang terjadi pada UNI-BANK. Tapi orang yang mengerti, mereka akan lebih banyak mengambil manfaat dan pelajaran.”

Aku hanya mengangguk anggukkan kepala mendengar nasehat Bu Fiona. Bener juga sih, siapapun orang di balik SHUTDOWN! Pasti sangatlah pintar hingga bisa menembus keamanan sebuah Bank. Tapi sayangnya dia menggunakan kepintarannya untuk keuntungan pribadi dan merugikan banyak orang. Sangat sangat banyak orang.

“pokoknya kamu jangan sampai DO dari kampus ini, banyak mahasiswa cewek yang akan kehilangan jika itu terjadi” Ucapnya sambil berdiri dari kursinya.

Hah? Maksudnya? Aku tidak mengerti arti dari ucapannya.

“aku yakin selain bersenang senang, kamu bisa kok fokus belajar. Buktinya daritadi kamu bisa fokus memandang secara intens dan posesif ke satu titik” Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan lalu berjalan meninggalkanku. Sial, pasti yang dia maksud adalah saat aku terlalu fokus pada belahan payudaranya. Salah sendiri punya aset yang begitu indah.

Tapi selain semua itu, Bu Fiona adalah wanita dewasa yang sangat menawan.

“Bytheway” Ucap Bu Fiona menghadapku setelah berjalan beberapa langkah “Kapan kamu akan mengambil kelasku?” tanya dia.

Hmm? Kelas statistik?

.

.

.

.

“iya2 Kakakku yang bawel. Byee.”

Kututup sambungan teleponku dengan Rein, dia meneleponku hanya untuk mengingatkan agar aku tidak lupa makan siang.

Tadi setelah meninggalkan Gedung ekonomi aku berjalan menuju gedung G. Disini aku duduk sendirian pada sebuah anak tangga yang biasa digunakan untuk menuju ke lantai dua gedung G yang dijadikan sebagai perpustakaan. Disini cukup teduh karena sinar matahari yang terik terhalang oleh tingginya bangunan gedung.

Dari atas sini aku bisa melihat jelas mahasiswa-mahasiwa berlalu lalang keluar masuk dari dan menuju gedung G. Ada yang sendirian, ada juga yang berjalan bergerombol. Beberapa diantara mereka ada yang kukenal karena pernah satu kelas di mata kuliah yang sama. Dan banyak dari mereka yang tidak kukenal. Banyak wajah-wajah baru yang masih terlihat muda dan polos. Selain itu, Gedung G ini dipakai oleh semua mahasiswa dari segala jurusan di kampus ini.

Di ujung lain gedung ini juga terdapat anak tangga yang sama persis bentuknya. Sengaja aku duduk disini untuk menghindari bertemu dengan anggota HIMA yang lain. Lebih baik aku tidak bertemu dengan mereka terlebih dahulu, apalagi Beni sedang kesal denganku karena dia melihat aku dan Luna berciuman di Dreamfileds. Biasanya sih mereka berkumpul di sebelah gedung Ekonomi. Aku yakin mereka tidak akan iseng mendatangi perpustakaan, apalagi awal-awal semester seperti ini. Kalaupun memang mereka harus ke perpustakaan, mereka akan melewati anak tangga yang lain karena lebih dekat dengan gedung Ekonomi.

Aku bisa saja langung pulang ke rumah kos karena hari ini kuliahku hanya sekali. Tapi percuma juga aku pulang kesana karena disana tidak ada siapa-siapa. Jadi aku memutuskan untuk tetap di kampus lebih lama lagi sambil membaca Hand Out yang tadi dibagikan oleh Dosen Pengantar Ekonomi Pembangunan. Aku harus fokus belajar seperti yang dikatakan Bu Fiona kepadaku tadi. Meskipun pasti tidaklah mudah. Sejujurnya aku lebih suka membaca novel atau komik daripada membaca buku ilmiah. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca novel ataupun komik. Tapi saat membaca buku ilmiah, baru membuka beberapa halaman mataku pasti terasa berat dan mengantuk. Ada yang pernah merasakannya?

“Dicariin kemana-mana gak taunya malah disini, ngapain Lu?” Tanya Dicky dari arah bawah, lalu dia mendatangiku dan langsung duduk di sebelahku.

“Belajar” Jawabku singkat tanpa menolehnya.

“Eluu lagi bercanda kan?” Tanya dia lagi. “lihat sekelilingmu !! Lihat semua mahasiswa itu !! Ada yang sedang memikirkan tentang seks, ada yang sedang membayangkan sedang ngentot dan bahkan ada yang sedang ngewe di lantai 9. Elu ngapain belajar ?? Belajar itu nanti aja deket deket UTS”

Aku tidak menghiraukan ucapan Dicky yang kotor, aku masih diam sambil fokus membaca hand out setebal 25 lembar ini.

“Oiya, malam minggu kemarem gue jadi ke SKY HIGH bersama anak-anak HIMA yang lain, semua cewek mencarimu. Laras, Mala, Yulia, Danisa, Gwen, Inggrid, Anisa dan lain lain”

“Kamu bilang apa kepada mereka?” tanyaku.

“Ya Gue bilang elu lagi sakit, kenapa sih elu ga mau dateng? Elu inget dua cewek yang pernah ngajak kita gila-gilaan di POD? Helen dan Laura? Mereka juga mencarimu”

“Aku tidak akan lupa dengan mereka” karena mereka pernah mengajak aku dan Dicky foursome di POD. POD adalah ruangan ruangan VIP yang terdapat di koridor paling atas SKY HIGH.

“gue yakin kalo elu dateng, mereka akan ngajak kita seneng seneng lagi. Bagaimana kalau nanti malem kita kesana? Hari senin pasti gak terlalu ramai dan gak bakal ada yang pesen POD”

“Nggakk. Aku nggak akan mendatangi tempat tempat seperti itu lagi” jawabku tegas. Seperti janjiku kepada Rein dan kepada diriku sendiri untuk meninggalkan semua pengaruh buruk dan merubah hidupku menjadi lebih baik lagi.

“Yaelah , kenapa elu jadi gak asik gini sih bro?”

“Aku sudah selesai dengan semua itu Dick. Aku gak ingin mengecewakan kakakku lagi.”

“Aneh tau nggak sih, dulu lu bilang kalau kakakmu udah gak peduli lagi denganmu, Hmm Atau jangan-jangan lu beneran udah jadian sama Luna? Makanya elu gak bisa bebas bersenang-senang lagi??” Tanya Dicky lagi.

“Sama sekali gak ada hubungannya dengan Luna, lagipula aku nggak pacaran dengan dia” Seruku.

“Lah Nunggu apa? Tembak langsung aja. Daripada elu nungguin cewek gak jelas itu. Dia sudah pergi, lupain dia”

“Dia? Siapa?” tanyaku.

“You Know Who” Jawab Dicky.

“siapa sih? Voldemort?”

“Fackk you!! elu sendiri yang bilang jangan nyebut nyebut nama dia lagi” Mukanya langsung terlihat Bete,

Aku tertawa puas. “Aku tau kok siapa yang kamu maksud,,”

“Udah lupain dia, mendingan juga Luna. Jelas-jelas Luna udah ngasih lampu hijau, akhir akhir ini dia ndeketin elu mulu kan?, ahh elu gak peka banget.”

“aku juga gak tau mengapa Luna seperti itu akhir-akhir ini kepadaku. Kami sering berbalasan pesan dan bahkan dia selalu reply tweetku, Tapi, bukan berarti dia punya perasaan kepadaku kan? Bisa saja dia hanya menganggapku teman”

“teman? Lalu arti ciuman panas kalian di Dreamfields sampai bikin heboh anak HIMA dan bikin Beni kesel itu apa?”

“Malam itu kami cuman terbawa suasana Dick, nggak lebih.”

“kalau begitu tanyakan padanya langsung tentang perasaannya kepadamu, atau langsung saja lu bilang kalau suka kepadanya!!” Seru Dicky.

“hah? Bagaimana caranya? Aku tidak pernah menembak seorang cewek” Ucapku.

Dicky terlihat heran dengan ucapanku. “Seorang Playboy sepertimu yang sudah meniduri semua cewek anggota HIMA tidak tau cara menembak seorang cewek? Bener-bener dah. sejak elu pulang dari Rumah Sakit, elu jadi semakin aneh. Itu sebabnya elu harus minum-minum bir lagi biar kepercayaan dirilu balik lagi. Udah Ayo nanti malem ke SKY HIGH”

“Tidak peduli Dengan cara apapun kamu memaksaku. Aku gak akan minum-minum lagi” Ucapku.

“Takut dimarahin kakakmu lagi ya? Gua yakin suatu saat nanti elu pasti mau gue ajak minum-minum lagi. Kalau gitu, elu ajakin Luna Dinner aja. Kalau dia mau elu ajakin dinner. Fix. Dia pengen elu nembak dia”

“Eh, tapi aku—“

“Apa? Elu mau bilang gak pernah ngajak cewek kencan? Gua gampar lu, gemes gua lama lama. Padahal ini kesempatan bagus buat lu. Bayangin seandainya elu jadian sama Luna, akhirnya elu bisa ngerasain cewek secantik Luna, tiap hari ada yang bisa elu ajakin ngewe. Elu gak pengen kayak gitu?”

Aku udah pernah ngerasain bercinta dengan Luna, dan itu memang menyenagkan. Tapi…

“itu bukan alasanku untuk menjalin sebuah hubungan”

Semua orang menyuruhku untuk belajar mencintai lagi. Tapi Sebenarnya aku masih ragu dengan diriku sendiri. Apakah aku sudah siap untuk memulai suatu hubungan lagi setelah pengalaman pahit yang pernah kualami?. Bukan karena aku takut merasa kehilangan lagi, tapi aku tidak ingin menyakiti hati seorang cewek lagi. Seperti yang dikatakan Jessica beberapa hari yang lalu. Aku tidak ingin mengecewakan Luna seperti aku pernah mengecewakan seseorang yang sangat mencintaiku. Sejujurnya aku takut mencintai lagi, aku takut pada akhirnya aku hanya akan mengkhianati cintaku.

“sayangkuuuuhhhh” Terdengar suara cempreng meninggi dari seorang cewek yang sedang menaiki anak tangga menuju kearahku dan Dicky. Oh Nooo, kenapa dia dan Dicky datang disaat aku pengen fokus belajar!!

Kuperkenalkan kepada kalian, dia adalah Billa. Dia satu tingkat diatasku, seangkatan dengan Luna. Aku mengenalnya sejak hari pertama OSPEK, kebetulan saat itu kami berada di grup yang sama. Bagaiamana mungkin, Billa yang berada satu tingkat diatasku tapi kami mengikuti OSPEK diwaktu yang sama? Suatu hari nanti akan kuceritakan kepada kalian kisahnya.

“tumben kamu duduk sendirian disini?” tanya Billa. Dia memaksa duduk di sebelahku menggeser Dicky lalu mengistirahatkan kepalanya di pundakku.

“Lu kira gua apaan ??” Ucap Dicky kesal.

“Kamu denger suara gak Beb? Kayak ada yang ngomong” Tanya Billa pura pura begok.

“hoi, hoi,” Dicky, menyentuh nyentuh lengan Billa.

“ihh, ini apaan sih? Ada makhluk astral yang colek colek aku.” Billa malah memelukku “Dibilangin jangan sering-sering main kesini, disini itu nyeremin banyak setannya, terutama setan cabul yang suka colek colek cewek cantik kayak aku ”

Meskipun Billa sedang bercanda, tapi memang gedung G ini terkenal di kalangan mahasiswa sebagai gedung yang paling menyeramkan di kampus ini. Apaagi sejak kejadian setahun lalu, saat seorang mahasiswi satu angkatan denganku loncat dari atap gedung tanpa memakai pakaian apapun. Semakin menambah kesan angker pada gedung ini. Tidak ada satupun mahasiswa yang berani berkeliaran di dalam ataupun di sekitaran gedung ini pada malam hari. Sudah banyak cerita, pengalaman dan rumor beredar tentang penampakan ataupun di malam malam tertentu ada yang mendengar suara teriakan wanita yang begitu memilukan.

“Sialan !! lu itu yang Setan, dateng dateng bawa aura negatif” Ledek Dicky.

Dicky dan Billa mengingatkanku dengan Adit dan Ressa temanku saat sekolah dulu. Bagaimana ya kabar mereka sekarang? Terutama Ressa, aku sangat merindukannya dan ingin sekali bertemu dengannya. Apakah dia baik baik saja? Terakhir kali kulihat dia masih belum terbangun dari tidur panjangnya.

Dicky dan Billa masih saling mengejek. Mereka memang sering seperti itu kalau lagi bersama sama. Saling mengejek satu sama lain dan perang celetukan celetukan yang semakin membuat mereka saling membenci. Padahal dulu Dicky pernah jatuh hati dan nekat nembak Billa di depan banyak orang, tapi dia ditolak mentah-mentah.

Wajar sih dulu Dicky tergila gila dengan Billa, karena memang sebenarnya menurutku Billa itu cantik dengan rambutnya yang indah panjang hitam lurus sempurna. Bola mata yang cokelat dan bulu mata yang lentik. Tingginya hampir nyamain tinggi badanku, bahkan mungkin lebih tinggi dari Luna ataupun Rein. Apalagi dia memiliki tubuh yang super langsing dengan bentuk payudara yang bulat sempurna. Tidak sebesar payudara Rein, tapi bentuknya pas dengan tubuh langsingnya. Dengan profil seperti itu, dia sering mendapatkan job sebagai SPG pada event event tertentu seperti pameran mobil, motor dan lain sebagainya. Kuakui Billa memang cantik, tapi..

“Beb, udah makan? Kita makan siang sambil ewe yukk, lagi pengen nihh, lagian uda lama kita enggak ngewe, kamu nggak kangen doggy-in aku?” Tanya BIlla sambil tangannya meraba raba pahaku.

Glekkk. Cantik sih, tapi dia itu seperti Dicky versi cewek yang otaknya tidak pernah berhenti memikirkan tentang hal hal mesum. Billa selalu memikirkan tentang seks sepanjang waktu. Bahkan hari pertama ospek dimana aku kenalan dengannya, hari itu juga aku bercinta dengannya. Gila kan?

“Percuma lu ngajakin dia ena-ena, dia ga bakal mau, orang dia udah jadian sama Luna,” Mendengar ucapan Dicky, Billa langsung menatapku tajam dan mencengkram lenganku.

“SEJAK KAPAN? Dreamfields? Apa yang terjadi disana? ihhh.. Kamu kok tega selingkuh dibelakangku sih??” Ucap Billa kesal,

“Jangan percaya !! .aku gak pacaran dengan Luna Bill. Lagipula kita juga gak pacaran.,”

“Belum. kita belum pacaran” Ucap Billa “Karena Suatu hari nanti entah kapan, kamu akan jadi pacarku,!! huhhh sebel, apa sih bagusnya Luna? Cantikan juga aku”

”Rasain Lu, sok cantik sih” Celoteh Dicky “elu akhirnya ngerasain apa yang gue rasain. Udah mending pacaran sama gue aja, sebenarnya gue masih kesel elu tolak, tapi yaudahlah gapapa.` elu pengen ngewe kan? Elu minta, gue bisa ngasih yang lu pengen. Yuk, ke lantai 9.!!

“Jangan ngimpi. Ogah jadi cewekmu. Kontolmu kecil, segini, apa enaknya? Gak bakal kerasa.” Ucap Billa ceplas ceplos sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepada Dicky “Kontol kecil aja belagu ngajakin ngentot”

“Ngaco lu, kata siapa?” Tanya Dicky

“Rega yang bilang, dia pernah cerita saat kalian berdua diajak dua cewek seksi ngewe di SKY HIGH”

“Beneran tega lu bro. ini nih yang namanya pembunuhan karakter, ”

“eh, suer Dick, aku gak bilang seperti itu. gak sekecil itu, tapi segini..” Ucapku sambil menunjukkan jari jempolku. Billa tertawa geli setelah mendengar ucapanku.

“pokoknya nanti kalo kamu beneran jadian sama Luna atau dengan siapapun, kita bisa tetep ewe kan Ga? Aku rela kok jadi simpananmu atau cadangan saat Luna lagi mens.” Ucap Billa.

“Udah gila nih cewek. Kenapa sih elu begitu mudahnya memberikan tubuhmu kepada Rega? Heran gua”

“kamu ngiri kann? “ Ucap Bill, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Karena selain punya dia itu panjang dan tebel, selain itu, dia pandai menggunakan jari dan lidahnya“ Ucapnya tepat dihadapanku. “yuk ke lantai 9! Udah ga tahan nih, please, aku akan mendesah dan berteriak sekencang-kencangnya sampai semua orang di gedung G tau kita lagi ena ena” Bisiknya di telingaku.

Glek. “jangan sekarang ya Bill” Ucapku.

“Terus kapan? Keburu kamu beneran jadian sama Luna” Ucapnya Bete.

“Nanti aku kabari, oke?”

Meskipun sebenarnya aku gak serius dengan ucapanku. Tapi aku harus mengatakan seperti itu agar dia senang dan berhenti mengajakku bercinta. Sebenarnya enak kali yah mengajak Billa ke kost, bercinta disana sampai malam. Tapi, aku tidak ingin Billa tau kalau aku tinggal dekat sini, dan juga aku harus bisa menahan diri akan dorongan untuk bercinta dengan banyak wanita. Jika aku benar-benar serius ingin menjalani sebuah hubungan, aku harus bisa menghentikannya. Tapi entah kenapa aku tidak akan pernah bisa menahan diri jika bersama dengan Rein. Huftt

“Yaudah deh, kalau gitu aku ke kantin dulu. Laper nih. ikut?” Tanya Billa.

“uhmm, aku belum begitu laper kok, lagipula aku udah gak ada kuliah lagi, biar nanti aku makan di rumah aja”

Padahal udah laper banget, tapi untuk sementara aku tidak akan ke kantin agar tidak bertemu dengan anggota HIMA yang lain. Billa pun pergi meninggalkan kami. Aku melanjutkan membaca Hand Out sedangkan Dicky sedang asyik dengan handphonenya.

“kamu gak ke kantin Dick?” Tanyaku sambil tetap membaca.

“Bentar. Bro Dari arah jam 11, deket tiang bendera, ada dua cewek cantik sedang mendekat” Ucap Dia.

“Oh yah? Bagaimana kamu bisa tau kalau mereka cantik? Tiang bendera kan jauh” Ucapku.

“Mataku ini sangat tajam, aku bisa melihat cewek cantik dari jarak seratus kilometer”

Aku tidak begitu percaya dengan ucapannya, tapi beberapa saat kemudian ternyata benar ada dua cewek mendekati kami dan salah satu dari mereka menyapaku.

“Hai kak Rega”

Aku yang sedang serius membaca Hand Out, kaget setelah mendengar seseorang menyapaku. Begitu aku melihat mereka yang sedang berjalan menaiki anak tangga, keterkejutanku semakin bertambah. Ternyata yang menyapaku adalah,

“Mira??,,,” Dan berdiri dibelakang Mira,

“Winry?”

“Senior..” Sapanya kepadaku, lalu tersenyum.

Aku berdiri dari dudukku. “Ngapain kalian disini?” Tanyaku heran kepada mereka.

“Uhmm Winry ngajakin ke perpus untuk daftar jadi anggota, Nggak taunya ketemu Kak Rega disini” Ucap Mira.

“Whatt? Kalian kuliah disini?? ambil jurusan apa??”

“sama seperti kamu kak, ekonomi-manajemen” Jawab Mira

“Aa,,aku tidak menyangka kalian akan kuliah disini,”

“Hihihi Selain karena sadar diri tidak akan lulus ujian masuk PTN, aku memilih kuliah disini karena rumahku tidak jauh dari sini Kak, dan katanya disini peraturannya tidak terlalu ketat. Pokoknya persentase kehadiran tidak kurang dari tujuh puluh persen tiap semesternya. Pasti lulus” Jelas Mira.

Apa yang dijelaskan Mira bukanlah sebuah rumor lagi. Sebagai kampus swasta, universitas ini memang menjadi destinasi favorit para calon mahasiswa yang ingin lulus kuliah dengan mudah. Pokoknya rajin kuliah dan melunasi semua kewajiban administrasi pasti mahasiswa akan lulus dan mendapatkan ijasah.

“Itu juga alasanku kuliah disini sih.” Ucapku sambil terkekeh, “kalian berdua masih tetap kompak bersama-sama” Dari sekolah dulu mereka selalu bersama-sama. Aku salut dengan persahabatan mereka.

“Sebenarnya Winry itu nggak mau kuliah kak, dia itu pengennya setelah lulus sekolah ada pangeran tampan dari luar angkasa yang datang menyelamatkannya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari sini dan nikah diatas bukit dibawah sinar bintang-bintang”

“MIRAAA !!” Bentak Winry kepada sahabatnya.

“ihh, kamu kan dulu ngomong kayak gitu Win” Mereka berdua masih saling berbisik-bisik.

“ehem-ehem” terdengar suara dari sampingku.

“oiya, Mira, Winry, kenalin ini temanku Dicky” Ucapku memperkenalkan Dicky. Dicky berdiri dan menyalami mereka berdua.

“Senang berkenalan dengan kalian, kampus ini semakin cerah dengan kehadiran dua bidadari cantik seperti kalian” Ucapnya sok puitis “Panggil aku apa saja selain–”

“DICK ?” Ucap Mira, Dicky langsung lemas.

“Senior apa kabar?” Tanya Winry kepadaku,

“Baik, kalian juga terlihat baik-baik saja. Terakhir kita ketemu dii… dimana yah?” Tanyaku, “aku lupa kapan terakhir kali kita bertemu. Sepertinya udah lama banget”

“Minggu kemarin waktu ospek kami ngelihat Kak Rega” Ucap Mira, “sebenarnya aku dan Winry juga ngelihat Kak Rega di acara Reuni”

“Ja,,jadi, kalian juga ada disana?” Aku sedikit kaget dia menyebut acara Reuni. Sudah pasti mereka melihat kelakuanku dan apa yang terjadi padaku di acara reuni itu. Sial.

“Iya, kami juga ngelihat saat kak Rega–“ Mulut Mira langsung dibungkam Winry dari belakang, dan mendorongnya secara paksa menuju keatas.

“Sorry, Kami harus ke perpus dulu–“ Ucap Winry saat melihatku sambil tetap memaksa mendorong Mira yang masih ngomel-ngomel kepad Winry.

“ii-iya”

Aku melihat mereka berdua berjalan menaiki anak tangga, sebelum akhirnya mereka berdua hilang dari penglihatanku Winry menoleh ke arahku kemudian tersenyum.

“lumayan juga..” Seru Dicky.

“maksudmu?” tanyaku

“Dia lumayan cantik”

“Siapa? Mira?” tanyaku lagi

“bukan !! satunya yang berambut pendek. Lu gak lihat senyumnya? Manis banget, gue suka cewek yang seperti itu”

“Wow, tumben kamu suka cewek yang seperti Winry. Kayak bukan kamu Dick, biasanya kamu kan lebih tertarik dengan cewek yang lebih.. gede”

“Daya tarik seorang cewek itu tidak dinilai dari seberapa besar teteknya. Dia tetap menarik meskipun teteknya kecil. Lagipula, cewek dengan tetek kecil itu biasanya nafsunya gede tau, pasti enak” Ucap Dicky.

Astaga “please, jangan bicara seperti itu, mereka berdua itu itu temanku”

“Kenapa? orang gua lagi memuji kecantikannya kok, matanya, gua belum pernah lihat mata seperti itu. begitu tajam, tapi daritadi dia menggunkan mata indahnya itu untuk menatapmu”

Eh? Winry menatapku? “benarkah? Cuma perasaanmu saja kali” Seruku

“Jelas-jelas daritadi dia menatapmu, tatapan wanita cantik padamu itu sangat membuatku jengkel, bikin jeles aja. Memangnya dulu kalian sempat dekat??” tanya Dicky.

Aku dan Winry sempat mempunyai moment, tapi setelah yang kami lalui bersama sampai sekarang aku belum begitu mengenalnya, cewek seperti apa dia sebenarnya. Bagiku, Winry masih misterius dan sebuah teka-teki. Dulu memang sering kudapati dia menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak kumengerti artinya. Tapi tatapan Winry kepadaku sungguh berbeda dan selalu meninggalkan perasaan aneh dalam diriku.

Di persimpangan kehidupan kita memang sering bertemu dengan orang-orang yang tak terduga. Kini persimpangan kehidupan mempertemukanku kembali dengan Winry dan Mira. Aku belum tau apakah tujuan mereka berdua atau salah satu dari mereka akan sejalan denganku. Atau aku hanya dipertemukan dengan mereka dipersimpangan ini saja tetapi jalan kami berbeda. Entahlah, seperti yang dikatakan Bu Fiona, tidak ada yang tau apa yang terjadi di masa depan, kita hanya perlu menjalaninya dan mengusahakan yang terbaik dari sekarang.

Tiba-tiba Dicky menyenggolku dengan lengannya beberapa kali.

“tuh. Luna.!!!” Ucapnya. dan benar saja, aku melihat Luna sedang berjalan berdua bersama dengan Jessica di halam gedung G.

“udah cepet sana ajakin dia kencan malam ini” Perintah Dicky.

“Tapi Dick..”

“ahhh lama.. LUN..LUNAAAAA !!” Ah sial, Dicky malah berteriak memanggil Luna. Luna dan Jessica pun melihat ke arah kami berdua, kemudian Dicky mendorongku agar aku menuju ke arah Luna.

Dengan perasaan bingung aku berjalan mendekati Luna dan Jessica.

“hey..” Sapa Luna kepadaku.

“uhmm bisa minta waktumu sebentar,,? Aku ingin menanyakan sesuatu” Tanyaku kepada Luna.

“nanti aku susul..” Ucap Luna pada Jessica, kemudia Jessica meninggalkan kami berdua sambil dia menatapku tajam.

“Tanya apa?” tanya Luna.

Sial, melihat kecantikan Luna membuatku kebingungan harus berkata apa. Seketika keberanianku untuk mengajaknya dinner yang tadi sangat kecil kini sudah tidak ada. Padahal aku dan Luna pernah berciuman bahkan aku pernah berada diatas tubuhnya yang telanjang. Tapi setiap melihat wajah Luna, rasa gugup seketika menyerangku.

“kok diem? Mau tanya apa?” Tanya Luna.

“ah ini, anu ehm, menurutmu apa aku harus mengambil matkul statistik semester ini? tanyaku.

“hah?” Luna terlihat kebingungan dengan pertanyaanku. Memang sebuah pertanyaan yang sangat sangat bodoh, sudah jelas-jelas penyusunan KRS sudah ditutup. Mahasiswa sudah tidak bisa mengambil mata kuliah lagi sampai dengan smeseter depan. Sial,,sial.. pasti karena gugup.

“STEAK” Ucapku dengan nada agak tinggi karena gugup “Kamu suka Steak atau pasta?”. Hadeehh, aku semakin terlihat seperti orang bodoh. Luna tersenyum melihat keanehanku.

“Aku suka keduanya. kamu mau ngajakin aku Dinner? Malam ini?” Tanya dia. Aku mengangguk malu.

“Maaf, aku gak bisa.”

Penolakan. Aku sudah tau hal seperti ini bakal terjadi, mana mungkin Luna mau aku ajakin Dinner. Seperti yang dikatakan Jesssica, aku tidak pantas buat Luna. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah terlanjur malu.

“malam ini aku gak bisa, tapi Akhir pekan nanti ayahku mengadakan acara pesta bersama rekan-rekan bisnisnya dirumah. Datanglah !! aku harap kamu bisa menyelamatkanku” Ucapnya lalu tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkanku.

Dia menyuruhku datang kerumahnya akhir pekan nanti? Astaga, aku gak salah denger kan? Yesss.yess yessssssss. Eh tapi apa yang dia maksud dengan menyelamatkannya?.

.

.

.

Dan haripun berganti malam. Sama seperti malam sebelumnya, aku duduk sendirian di ruang keluarga rumah baru. Menonton TV sambil mengecek cuitan teman temanku di Twitter. Sebenarnya di tahun 2014 ini Twitter sudah mulai ditinggalkan, orang-orang kini beralih ke Path dan Instagram. Hal itu tidak terlepas dari stigma buruk dari Twitter sebagai media sosial penebar kebencian, bullying dan spam. Aku sih menggunkan sosial seringnya hanya untuk melihat cewek-cewek cantik. Xixixi

Ngomong-ngomong soal cewek cantik, senang sekali rasanya hari ini di kampus aku bertemu dengan dua cewek yang kecantikannya membuatku tergila-gila. Bu Fiona dan Luna. Seandainya salah satu dari dua cewek cantik itu menemani kesendirianku malam ini, pasti seru. Kulihat sekeliling rumah ini, begitu sepi. Timbul perasaan aneh karena suasana rumah yang sunyi. Aku tersadar kalau aku sedang sendirian di rumah sebesar ini. Saat aku melihat ke lantai dua, gelap. Aku lupa menyalakan lampu. Gawat, kenapa tiba-tiba aku tidak berani naik ke lantai dua?

Sial. Kenapa suasananya menjadi mencekam seperti ini sih?. Entah kenapa badanku merinding dengan sendirinya. Aku berusaha menghilangkan perasaan takut pada diriku dengan berkali kali mengganti saluran televisi. Tapi tetap saja aku masih takut dengan kesepian ini,. lalu tiba-tiba,

TRINGGGGGGGGGG TRINGGGGGGGGGGG

“Huuuuuuuuuaaaaaaaa,,,,,” Aku berteriak sangat keras saat mendengar suara bunyi bel. Faaaak, ngaget ngagetin aja. Siapa sih ?

Aku bergegas menuju keluar rumah dan melihat dua orang berdiri balik pagar. Aku bisa melihat jelas keduanya saat mendekati pagar.

“Loh Kak Rega?”

“kalian?” betapa terkejutnya aku ternyata yang datang adalah Mira dan Winry. Langsung kubuka pintu pagar dan mereka berdua masuk ke dalam halaman.

“kak Rega ngekost disini?” tanya Mira.

“ii,,iya. Sebenernya sih aku yang mengelola tempat ini” mendengar ucapanku, Mira dan Winry saling berpandangan.

“Winry mau ngekost disini Kak” ucap Mira cepat. Hehh? Winry?

“Tunggu dulu, kan belum tau–“ Ucap Winry

“udah disini aja Win, ada Kak Rega” ucap Mira pada Winry.

“Senior, ini kosan cewek atau cowok?” Tanya Winry kepadaku.

“pasti cewek lah, mana mungkin Kak rega terima cowok dirumahnya, hahaha. Upss sorry kak” ucap Mira

Shit, aku lupa menentukan kosan ini untuk cowok atau untuk cewek. Kenapa aku bisa melupakan hal yang paling penting dari mendirikan sebuah tempat kost. Aku melihat Winry yang masih berdebat dengan Mira, kenapa dia lebih memilih tinggal di tempat kost? Padahal setahuku rumahnya tidak seberapa jauh dari sini. Tapi disatu sisi, aku akan sangat senang jika Winry tinggal disini. Karena dia temanku, Rein juga sudah mengenalnya. Mungkin ini juga kesempatan yang baik agar aku bisa lebih mengenal Winry lebih dalam lagi.

“Bebas” ucapku tiba-tiba “bebas untuk cowok atau cewek”

“Tuh kan.” Seru Mira.

“tapi harganya?” Tanya Winry.

“nanti aja harganya, kita lihat dulu kamarnya…” Ucap Mira sambil menarik tangan Winry menuju ke dalam rumah.

Kuajak mereka berdua berkeliling melihat lihat di dalam rumah dan kamarnya. Winry yang mau ngekost, tapi Mira yang terlihat begitu antusias dengan rumah ini. Berkali kali dia mengagumi setiap sudut rumah ini dan meyakinkan Winry kalau disini adalah tempat kost yang tepat untuknya. Dari obrolan obrolan itu juga aku baru tau kalau ternyata Rumahnya Mira ada di blok belakang rumah ini, sangat dekat. Itu juga yang menjadi alasan Mira memaksa Winry untuk mau negkost disini agar dia bisa sering main kesini. Mira juga menyuruhku untuk main kerumahnya.

Beberapa saat melihat lihat rumah. Winry meminta ijin menggunakan kamar mandi. Saat itu Mira menarik tanganku untuk menjauhi kamar mandi.

“kak, berapapun harga sewanya, plis kasih tau ke Winry setengah harganya saja. Setengah dari harga sewanya biar aku yang bayarin.” Ucapnya berbisik bisik.

“eh, kenapa?” tanyaku juga dengan nada suara yang pelan.

“Winry sedang membutuhkan tempat tinggal kak, dia sudah tidak bisa lagi tinggal dirumahnya”

“whatt? Kok bisa?”

Aku dan Mira mendengar suara pintu kamar mandi di lantai dua terbuka.

“Next time aku ceritain..!” Serunya, aku hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian Mira dan Winry pamitan, besok sepulang dari kampus mereka akan kesini lagi dengan membawa barang-barangnya Winry. Aku senang akhirnya tidak sendirian di tempat sebesar ini, ada Winry yang akan menemaniku. Meskipun sebenarnya aku penasaran dengan apa yang dikatakan Mira tadi. Malam itu juga aku menghubungi Rein dan mengatakan kepadanya kalau winry yang akan menjadi anggota kost berikutnya.

Hari berganti, aku membantu Mira dan Winry memasukkan barang-barangnya Winry ke dalam kamar. Winry menempati kamar depan yang lain, berhadapan dengan kamarku. Hari-hari berikutnya bukannya jadi semakian ramai karena kedatangan winry. Rumah ini masih terasa sepi karena Winry lebih banyak menghabiskan waktunya didalam kamar. Beberapa kali aku melihatnya di balkon kamarnya sedang membaca sebuah buku dari sore hari sepulang kuliah sampai senja. Saat berpapasan dengannya didalam rumah saat dia akan ke kamar mandi atau saat dia baru pulang kuliah, kami hanya saling menyapa dan berbasa basi, terkadang kami hanya saling melempar senyum tanpa ada satu kata yang terucap. Satu-satunya keadaan diamana aku dan Winry berbicara banyak adalah saat bersama Mira. Di kampus Ataupun saat Mira datang main kesini. Mungkin Winry memang individu yang mempunyai kepribadian introvert dimana dia merasa senang jika menyendiri. Sebenarnya melihat Winry aku seperti sedang berkaca. Aku merasa banyaknya kesamaan antara aku dan dia.

Tetapi malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini aku berada di balkon lantai dua bersandar pada penyangga balkon melihat bintang-bintang di langit malam. Kudengar sebuah pintu kamar terbuka lalu kulihat Winry datang mendatangiku. Kukira dia akan pamit keluar main ke rumahnya Mira. Diluar dugaan tiba-tiba dia ikut bergabung denganku menyandarkan tubuhnya pada besi penyangga balkon. Dia menatapku sesaat dan tersenyum.

Kemudian dia memandang bintang-bintang di langit. Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara, tentang masa lalu, banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Tetapi kulihat dia sedang terpesona dengan apa yang dia lihat. Meskipun malam itu kami tidak banyak bicara, tapi kami saling memahami betapa indahnya bintang-bintang di langit malam ini. Malam itu pertama kalinya setelah semua yang terjadi di masa lalu, aku dan Winry berada di tempat yang sama dalam waktu yang cukup lama dan hanya berdua. Ah tidak berdua, ada aku, Winry dan bintang.

.

.

.

Beberapa hari berikutnya di sore hari sepulang Kuliah aku melihat banyaknya dedaunan kering mengotori halaman rumah. Pftt, padahal setiap hari sudah kubersihkan. Segera aku bergegas mengganti pakaianku dengan kaos oblong dan celana pendek. Mengambil sapu dan memulai membersihkan halaman rumah. Rein menolak dengan keras saat kusarankan Mbak Tina membantuku di rumah ini. Dia bilang akan mencarikan ART yang lain tetapi belum ada kabarnya sampai sekarang. Akibatnya setiap hari aku harus membersihkan rumah ini, mulai menyapu, mengepel dan membersihkan kamar mandi. Huaaaa, tapi sampai kapan?

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Mobil itu?. Mobil mewah yang sering kulihat di kampus. Kalau gak salah itu kan mobilnya,,, seseorang keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah pagar.

Angela ?

Bersambung

END – Lembaran Yang Hilang Part 7 | Lembaran Yang Hilang Part 7 – END

(Lembaran Yang Hilang Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 8)