Lembaran Yang Hilang Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14END
SEASON 2
S2 Part 1S2 Part 2S2 Part 3S2 Part 4S2 Part 5S2 Part 6S2 Part 7S2 Part 8
S2 Part 9S2 Part 10

Lembaran Yang Hilang Part 6

Start Lembaran Yang Hilang Part 6 | Lembaran Yang Hilang Part 6 Start

3 JAM SEBELUMNYA

—-POV REGA—-

Tidak membutuhkan waktu lama, hanya setengah jam perjalanan dari Rumah aku sudah tiba di depan sebuah rumah sesuai dengan alamat yang diberikan Rein. Mencari alamat rumah ini ternyata tidaklah sulit karena komplek perumahan ini lokasinya tepat diseberang pintu barat tempatku kuliah. Dari sini, seharusnya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit jalan kaki aku sudah tiba di gedung Ekonomi. Sungguh sebuah lokasi yang strategis sebagai tempat tinggal mahasiswa. Terutama untuk mahasiswa sepertiku yang tak jarang datang terlambat ke kelas.

Tetapi begitu melihat bangunan rumah ini, Gilaaaaaaakk ini sangatlah berlebihan. Meskipun tidak sebesar rumahnya Rein, tapi rumah ini masih bisa disebut sebagai rumah mewah. Begitu memakirkan mobil, kudekati pagar rumah yang masih tertutup rapat dan terkunci gembok. Aku tidak melihat siapapun di dalam rumah, sepertinya Pak Gunawan pemilik rumah belum datang. Tulisan 7-H pada sebuah plat persegi menghiasi salah satu balok pagar. Sebuah papan pengumuman kalau rumah ini dijual atau disewakan juga terpajang di pagar.

Dari tempatku berdiri, kuamati keadaan sekitar rumah ini. Halaman rumah yang dipenuhi dengan rumput hijau yang cantik dan terawat ini tidaklah seluas halaman rumahnya Rein. Jarak pagar depan dan beranda rumah hanya sekitar kurang dari lima meter. Terhitung enam undakan tangga mengarah ke beranda rumah, langsung mengarah ke pintu utama rumah ini. Terdapat juga sebuah garasi yang cukup besar. Menurutku cukup untuk parkir dua mobil.

Setelah melihat dan mengamati kemegahan rumah ini dari luar, kukirimkan pesan kepada Rein, kukatakan kepadanya kalau aku tidak mau tinggal di rumah ini. Bukan karena aku tidak suka dengan rumahnya, tetapi untukku ini sangatlah berlebihan. Aku mengerti kalau setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? hanya untuk tempat tinggalku selama kuliah papa harus menyewa rumah sebesar ini? Damn, harga sewanya pun pasti sangat mahal. Lebih baik aku tinggal di tempat indekos mahasiswa yang banyak tersebar disekitar kampus atau kalau perlu aku tidak jadi meninggalkan rumah.

Saat aku akan membuka pintu mobil bermaksud untuk pergi meninggalkan rumah ini , Tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah. Tak lama seseorang keluar dari mobil itu dan menghampirku. Eh? Dia kan?

Lembaran Yang Hilang Part 6

“Jess…?”

Ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Jessica. Dia satu tingkat diatasku. Sebenarnya Aku tidak begitu mengenalnya tetapi beberapa kali kami berada di satu kelas yang sama. Selain itu Jessica adalah sahabat baiknya Luna. Mereka selalu terlihat bersama saat Jessica sedang tidak bersama pacarnya. Siang ini Jessica terlihat begitu rapi dengan pakaian putih lengan panjang motif bunga dipadu dengan rok span pendek warna hitam yang tidak bisa menutupi sebagian besar pahanya yang putih mengkilap terkena sinar matahari. Tidak jauh berbeda dengan penampilannya sehari hari di kampus. Meskipun kali ini dia tampil dengan full make up.

“Kamu ngapain disini?” Tanya dia heran, sebenarnya aku ingin menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya. Apakah dia tidak sengaja lewat dan menghentikan mobilnya saat melihatku? Ahh sepertinya tidak mungkin

“ehm aku–“

Sebelum aku menjelaskan maksud keberadaanku disini. Dia memotong ucapanku “Wait, kamu jadian sama Luna?” tanya Jessica, sambil berjalan menghampiriku.

Jadi dia sengaja berhenti dan turun dari mobilnya hanya untuk menanyakan itu? Sebagai sahabatnya Luna, wajar dia menanyakan kejelasan hubunganku dan Luna karena beberapa hari ini Luna lebih banyak terlihat denganku daripada bersamanya. Tapi kenapa dia tidak bertanya langsung pada Luna?

“Enggak, ehm belum.. ” Jawabku.

“BELUM? Jadi ada rencana untuk jadian?”

“Maybe. Kenapa? gak boleh aku jadian dengan Luna?” Mendengar ucapanku, Jessica semakin mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku sambil menatap wajahku.

“semua cewek di kampus tau kalau kamu itu playboy, kamu nggak pantes buat Luna, dia berhak mendapatkan cowok yang lebih baik. Bukannya kamu masih kumpul kebo sama cewek berwajah bule itu? Siapa namanya? AL..?”

“Aa..aku tidak bersamanya lagi” Ucapku terbata, aku begitu kaget dengan ucapan Jessica. Bagaimana dia bisa tau? “lagipula dia tidak selalu tidur dirumahku” terutama saat Rein sedang di rumah.

“Why?? Kamu sudah bosan dengannya lalu kamu meninggalkannya?”

“sebaliknya, dia yang pergi meninggalkanku,” Ucapku.

“ha ha ha Lucu. kamu pikir aku akan percaya? tipe cowok seperti kamu ini yang biasanya menghancurkan hati dan perasaan seorang cewek. Heran, apa sih yang dilihat Luna darimu selain good looking” Ucapnya mencela dan memujiku di waktu yang bersamaan.

“ehm thanks,, mungkin karena aku spesial, sudah hak setiap cewek cantik seperti Luna mendapatkan cowok spesial sepertiku“ jawabku ngasal penuh dengan kepercayaan diri, Jessica tersenyum sinis. “Oke aku memang bukan cowok sempurna, tapi bukan berarti aku tidak pantas menjalin hubungan dengan Luna. Sejujurnya Aku juga tidak tau kenapa akhir-akhir ini dia dekat denganku Semenjak kembali dari Dreamfields”

“Aku sudah dengar dari anak anak HIMA tentang ciuman panas kalian berdua ditengah tengah jutaan orang.” Ucapnya

Sepertinya cerita tentang malam itu sudah tersebar. Untungnya mereka hanya tau tentang kejadian ciuman itu. Tidak ada yang tau apa yang aku dan Luna lakukan di malam sebelumnya.

“Selain ciuman. Kamu juga tidur dengan dia?” tanya Jessica.

“eh,, Enggak, haha mana mungkin Luna mau tidur dengan cowok sepertiku” Jawabku sedikit panik.

“Jangan mengelak, Luna sudah menceritakan semuanya”

“whattt? Sial, padahal dia yang minta agar aku merahasiakannya”

Jessica tertawa setelah mendengar ucapanku “Hahaha, sebenarnya Luna belum cerita apapun tentang acara itu. dasar cowok idiot, gampang banget ditipu. hmm. bakalan menjadi sebuah obrolan yang menarik saat nanti aku bertemu dengan dia. hahaha”

Faaaaaaaaaaakk, Dia menjebakku dengan perkataannya. “please, jangan katakan apapun kepada Luna, dan jangan sampai orang lain tau tentang itu. nanti Luna marah kepadaku” Ucapku semakin panik.

“Why ?? bukannya kamu akan merasa bangga jika orang2 tau kalo kamu pernah tidur dengan cewek seperti Luna” Serunya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku “kamu sungguh beruntung bisa tidur dengan Luna, kamu tau kan semua cowok dikampus sangat ingin menidurinya. Aku jadi semakin penasaran apa yang membuatnya rela membuka bajunya untuk cowok sepertimu, dan membiarkanmu menikmati tubuhnya. Tapi Meskipun begitu, bukan berarti dia punya perasaan padamu. Percaya deh, kamu itu bukan tipenya. Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap. Seperti yang kubilang tadi, kamu nggak pantes buat Luna” Ucapnya.

Aku sangat tau tentang itu. Meskipun aku dan Luna sempat mempunyai moment intim bersama, bukan berarti dia jatuh hati kepadaku. Aku akui kalau aku tertarik dengannya, siapa coba yang tidak tertarik dengan cewek sesempurna Luna. Meskipun aku masih ragu dengan alasan kedekatannya denganku, tapi tidak ada salahnya kan? Barangkali saja dia memang ingin benar-benar dekat denganku. Selain cantik, dia juga pintar dan baik. Rein pasti sangat setuju aku menjalin hubungan dengan Luna. Tetapi masalahnya, apakah aku siap untuk mencintai lagi?

“bytheway, ngapain kamu disini? rumahmu tidak berada dikomplek ini kan? Itu mobilmu? Aku baru tau kalau kamu punya mobil se keren itu.” Tanya Jessica sambil melihat mobilnya Rein.

“Ahh, ini mobilnya kakakku. Dan ya, rumahku bukan di sekitar sini, seharusnya aku bertemu dengan seseorang disini untuk melihat rumah itu” Ucapku sambil menunjuk rumah disamping kamu “sepertinya dia tidak jadi datang. Aku pergi dulu ya Jess. ” Ucapku lalu membuka pintu mobil.

“Wait wait !! itu rumahku, aku kesini untuk bertemu dengan Mr Justin yang akan menyewa rumahku. Sangat jelas kalau kamu bukan Mr Justin”

Mendengar ucapannya membuatku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam mobil “Mr Justin adalah papaku, seharusnya aku bertemu dengan Pak Gunawan. Sudah pasti kamu bukan Pak Gunawan” tanyaku.

“Pak Gunawan itu papaku !!” Seru Jessica.

“woww, kebetulan banget”

“kamu jadi menyewa rumahku kan” tanya dia.

“ ah soal itu.. uhmm sorry sepertinya aku.. maksudku papaku tidak jadii menyewa rumahmu Jess”

“KENAPAAA?” tanya dia dengan cepat seperti kilat di waktu badai dengan nada meninggi. “Papamu sudah setuju dengan harga sewanya. Wait wait, papaku bilang kalau rekan bisnisnya akan menyewa rumah ini sebagai tempat tinggal anaknya selama kuliah, tapi keputusan finalnya tergantung anaknya suka atau tidak dengan rumah ini. Dan ternyata kamu adalah anak dari teman papaku. Kamu nggak suka dengan rumahku?”

“Suka, rumahmu sangat bagus, besar dan mewah. Tapi itu masalahnya, rumah ini terlalu mewah dan besar untukku. Aku tidak membutuhkan rumah sebesar ini. Sorry,,”

“Sumpah kamu idiot banget, dikasih fasilitas yang bagus bukannya seneng malah nggak mau. Yang sewa dan bayarin itu orang tuamu, sama sekali tidak ada ruginya buatmu”

“Orang tuaku memang kaya dan banyak uang, tapi Aku gak suka memanfaatkan kekayaan mereka. Meskipun orangtuaku tidak keberatan dan akan dengan senang hati memanjakanku dengan memberikan yang terbaik pada semua yang aku ingingkan. tapi sejak dulu aku sudah terbiasa dengan kesederhanaan.”

Walaupun beberapa kali aku menghabiskan tabunganku untuk bersenang senang di klub malam. Itupun karena aku ingin melupakan kesedihanku.

“Kamu benar, aku sama sekali tidak menyangka.. Aku baru tau ternyata kamu itu anak orang kaya” ucapnya.

Tiba-tiba Jessica mengambil dengan paksa kunci mobilnya Rein dari tanganku lalu dia berjalan cepat mendekati pagar rumah.

“Jesss !! apa-apan sih? kembalikan kunci mobilku !!” Ucapku sambil berjalan mendekatinya, Jessica sudah membuka kunci pagar dan masuk ke dalam halaman rumah langsung menuju beranda. Kupegang tangannya saat dia berusaha membuka pintu utama.

“Kamu hanya melihatnya dari luar, akan aku tunjukkan interior rumah ini. siapa tahu kamu akan berubah pikiran” Ucapnya.

“Sama aja Jess. Sebagus apapun itu, Aku tetap gak mau tinggal di rumah sebesar ini” Ucapku.

“please !! Biarkan aku menunjukkan bagian dalam rumah ini terlebih dulu, setelah itu terserah kamu jadi menyewa rumah ini atau tidak”

Perlahan kulepaskan tangannya dan membiarkan dia membuka pintu utama. Kupikir tidak ada salahnya sebentar saja melihat bagian dalam rumah ini agar dia senang. Setelah dia mengajakku keliling rumah, aku akan pamit dan segera pergi dari sini. Karena keputusanku sudah bulat, aku tidak mau tinggal di rumah ini. Aku tidak akan tergoda dengan kemewahan rumah ini.

Begitu melewati pintu utama dan masuk ke dalam rumah. Aku terpana.

Ternyata tidak hanya fisik bangunan luarnya yang mewah. Interior di dalam rumah ini begitu menakjubkan dengan desainnya yang mewah dan futuristik. Tema interior modern terlihat dari penataan ruang yang pas dengan segala furnitur mewah dan ornamen ornamen yang dipilih. Warna cat didalam rumah yang cerah Semakin membawa kesan mewah dan elegan. Mungkin ini bisa disebut dengan hunian idaman. Tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ruang tamu letaknya sebelah kanan setelah memasuki pintu utama. Meskipun tidak besar, ruang tamu rumah ini tetap kelihatan stylish dengan perpaduan furnitur dan aksesoris yang modern.

Sebuah tangga penguhubung lantai satu dan dua menempel di salah satu sisi dinding ruang keluarga. Walaupun hanya sekedar penghubung antar lantai, tetapi desainnya dibuat sangat kece dengan pegangan dari kayu dan penyangga terbuat dari kaca transparan yang terhubung sampai ke selasar di lantai dua.

Kemudian Jessica mengajakku memasuki kamar utama di lantai satu yang dulu dipakai kedua orang tuanya. Ukurannya cukup luas dengan kamar mandi dalam beserta segala fasilitasnya.

“kalau kamu tipe orang yang suka dengan kamar tidur di lantai dua, kamu bisa menggunakan kamar yang dulu kupakai diatas, tidak seluas kamar ini tapi ada kamar mandi didalam” Ucapnya.

Jessica menjelaskan kalau di lantai satu hanya ada satu kamar. Sedangkan di lantai dua tersedia empat kamar. Namun diatas hanya ada satu kamar yang ada kamar mandi didalamnya. Di salah satu dinding ruang keluarga terdapat sebuah pintu dengan beberapa anak tangga menurun yang terhubung dengan garasi, ruang laundry dan dua kamar untuk ART dan sebuah kamar mandi kecil. Kemudian di bagian belakang rumah terdapat ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Lalu di bagian rumah paling belakang terdapat halaman dengan sebuah gazebo berdiri diatas rumput liar yang hijau. Jessica mengatakan kalau dulu keluarganya sering barbeque di halaman belakang rumah ini.

Sambil mengajakku melihat lihat setiap sudut didalam rumahnya yang menurutku.. nice banget, Jessica bercerita kalau setahun yang lalu keluarganya pindah ke rumah baru yang lebih besar di pusat kota. Karena kakaknya tidak mau menempati rumah ini dan lebih memilih tinggal di apartemen, sejak saat itu rumah ini dijual atau disewakan

“Sampai sekarang, tidak ada yang membeli rumah ini ataupun menyewanya. Sebenarnya sudah banyak yang datang melihat dan mengatakan suka, tapi kebanyakan dari mereka tidak cocok dengan harga yang ditawarkan papaku. Papamu satu-satunya orang yang setuju dengan harganya tanpa sedikitpun menawarnya” Jelas Jessica kepadaku sambil mengajakku duduk di ruang keluarga.

Lembaran Yang Hilang Part 6

Jessica duduk dihadapanku menyilangkan kakinya. Karena roknya Jessica sangat pendek sekilas aku bisa melihat celana dalamnya yang berwarna cerah. Entah dia lupa kalau siang ini dia memakai rok yang sangat pendek atau dia memang sengaja menunjukkan isi di balik roknya dan sebagian besar pahanya kepadaku.

“So. Bagaiamana menurutmu?” tanya Jessica.

“Mulus. Ahh maksudku baguss.. baguss” Fakkk. Otakku jadi kacau gara-gara pahanya Jessica.

“Kamu tidak perlu repot-repot membawa banyak barang, karena Rumah ini dan seluruh isinya bisa kamu gunakan, tempat tidur, furnitur, elektronik dan semuanya. Kamu hanya perlu membawa pakaian. Dan Luna pasti suka kamu ajak bermesra-mesraan disini” Ucapnya.

“Jadi sekarang kamu merestui aku jadian dengan Luna?”

“Tentu, asal kamu jadi menyewa rumah ini”

Padahal tadi dia mencela dan mengatakan kalau aku gak pantes jadian dengan sahabatnya. Sekarang dia mendukungku jadian dengan Luna dengan syarat aku menyewa rumahnya ini. Sahabat macam apa sih dia? Tapi, aku tidak membutuhkan restu darinya untuk dekat dengan Luna.

“Jess. Jujur aku tidak menyangka rumahnya bakal sebagus ini, aku sangat suka dengan rumah ini–“

“tapi?” Potong Jessica

“Seperti yang aku bilang tadi, bagiku ini berlebihan. Sejujurnya aku tidak memerlukan semua ini, tidak membutuhkan tempat tinggal lain hanya untuk Kuliah, aku masih nyaman tinggal di rumahku meskipun tidak sedekat ini dengan kampus. Sebenarnya kakakku yang merencanakan ini, dia menginginkan agar aku tinggal bersama teman-temanku biar aku tidak kesepian karena dia tinggal di asrama mahasiswa dan kedua orangtuaku berada di Luar Negeri. Kakakku tidak akan membiarkan rumahku, atau sebenarnya rumahnya ditinggali banyak orang asing, itu sebabnya dia dan kedua orangtuaku berencana menyewa sebuah rumah untukku. Tapi, kamu tau kan selama ini aku seringnya bergaul dengan siapa? Anak-anak Hima. Dan aku yakin kamu juga sudah tau apa saja yang dilakukan sebagian anak-anak HIMA didalam maupun diluar kampus. Aku sudah selesai dengan mereka, aku gak ingin berurusan dengan mereka lagi. Jadi aku tidak punya teman lagi untuk kuajak tinggal bersamaku.”

“ya, aku sudah dengar rumor tentang kegilaan anak-anak HIMA. Aku juga tidak akan suka jika rumahku ini kamu jadikan sarang kegilaan mereka, tapi bukankah selain bersama mereka kamu selalu bersama Billa dan temanmu yang rada ga waras itu?”

“Maksudmu Billa dan Dicky?” tanyaku balik “memang benar Dicky tidak seperti anak HIMA yang lain, tapi dia masih sering keluar bersama mereka, bukan ide yang baik mengajak Dicky tinggal bersama. Sedangkan Billa, meskipun dia bukan anggota Hima, tapi dia.. dia itu, uhm, pokoknya enggak banget kalau sama dia. Jadi sorry aku tidak bisa tinggal disini Jess.. aku akan berusaha meyakinkan kakakku untuk tidak khawatir meninggalkanku sendirian dirumah”

Jessica terlihat tidak senang dengan penjelasanku. “jika kamu tidak punya teman lagi untuk kamu ajak tinggal bersama, bagaimana kalau kamu mencari teman baru atau mahasiswa lain?” Ucapnya.

“Maksudnya? Bagiamana aku bisa tinggal bersama orang yang tidak kukenal?” tanyaku heran.

“kamu tidak perlu mengenalnya, malahan kamu bisa mendapatkan uang dari mereka” Ucap Jessica sambil berdiri lalu duduk di sebelahku “Dari lima kamar di rumah ini, Kamu hanya perlu satu. sisanya kamu bisa sewakan kepada orang lain, mahasiswa lain. Aku yakin masih banyak mahasiswa yang membutuhkan tempat kost”

Eh? Aku tidak menyangka Jessica mempunyai ide seperti itu. Menyewa rumah ini untuk dijadikan tempat kos? Menjadikan rumah ini sebagai alternatif pemasukan. Dengan begitu aku bisa mandiri dan tidak perlu lagi meminta uang bulanan dari Bunda ataupun Papa. Aku tetap bisa tinggal disini bersama mahasiswa lain yang tidak kukenal. Paling tidak pada akhirnya aku akan mengenal mereka karena tinggal di satu rumah yang sama. Sebuah kesempatan untuk mendapatkan teman baru.

“tapi Jess–“

“Empat kamar dengan harga yang tepat, dalam satu tahun kamu bisa mendapatkan hampir setengah dari uang sewa rumah ini yang bisa kamu gunakan untuk senang-senang, atau kebutuhanmu selama kuliah, ataupun kamu bisa berikan kepada orang tuamu”

“Aku ragu kakakku akan setuju dengan idemu. lagipula aku tidak tau caranya mengelola ataupun menjalankan sebuah tempat kos. Sorry aku bener bener gak bisa” Ucapku sambil berdiri. Jessica terlihat semakin bete.

“Apa yang bisa kulakukan untuk mengubah keputusanmu? Aku sudah putus asa menunggu rumah ini laku” Ucapnya dengan lemas sambil menatapku.

“Kenapa?” Tanyaku. Kenapa dia begitu menginginkan rumah ini kusewa?. Jessica tidak menjawabku, dia hanya menatapku kemudian berdiri lalu menarik tanganku.

“Kamu belum lihat lantai dua, siapa tahu kamu akan berubah pikiran setelah melihatnya” Ucapnya sambil menarikku menuju tangga.

“Jess.. aku meragukannya, aku tidak akan merubah keputusanku meskipun kamu mengajakku keatas”

“aku akan memastikanmu untuk merubahnya..” ucapnya.

Setelah tiba di lantai dua, Jessica mengajakku melihat kamar-kamar yang ada di lantai atas rumah ini. Ruangan kamar di lantai atas ini dibuat bersebelahan, masing masing dua kamar saling bersebelahan dan saling berhadapan dengan dua kamar yang lain. Seperti kamarku dan kamarnya Rein dirumah yang pintunya saling berhadapan dan terpisah beberapa meter. Satu kamar dibelakang jendelanya menghadap ke bagian samping rumah ini, sedangkan satu kamar lain jendelanya menghadap ke halaman belakang rumah. Tidak ada balkon di dua kamar paling belakang. Namun di lantai atas ini tersedia balkon terpisah dari kamar menghadap ke halaman belakang rumah dan halaman depan rumah.

Dua kamar didepan, jendelanya menghadap ke depan rumah dan tersedia balkon di masing-masing kamarnya. Tersedia juga kamar mandi yang cukup luas di lantai atas ini. Didalam kamar mandi terdapat tempat shower dan bathtub secara terpisah jadi orang bebas memilih ingin berendam atau merasakan guyuran air diatas kepala mereka. Aku melihat anak tangga melingkar menuju keatas disamping kamar mandi.

“diatas ada sebuah ruangan yang dulu dijadikan kakakku sebagai studio musik. Kalau kamu suka dengan seks yang berisik atau Kalau kamu ingin gila-gilaan dengan Luna tanpa takut didengar orang lain, kamu bisa gunakan ruang itu karena disana kedap suara. Kakakku sering mengajak ceweknya ke ruangan itu”

Hmmm Rein pasti suka berada disana, karena dia sangat senang mendesah kencang saat bercinta. Membayangkan itu membuat tubuhku merinding, aku jadi ingin segera pulang dan bertemu dengan kakakku dan mendengarkan suara rintihannya yang selalu membuatku bergairah. hehe

Kemudian Jessica mengajakku masuk ke dalam kamar depan yang dulu dia pakai.

“Dan ini kamarku, satu-satunya kamar di lantai dua yang ada kamar mandi di dalamnya” Ucapnya

Hampir sama seperti kamar-kamar yang lain di rumah ini tapi yang membedakan adalah adanya sebuah pintu lain di dalam kamar yang bisa kutebak adalah kamar mandi. Jessica membuka pintu kamar mandi itu, masuk kedalam kemudian menutupnya. Mungkin dia sedang buang air kecil. Sedangkan aku melihat lihat kamarnya. Cahaya sinar matahari yang cerah masuk melewati pintu geser yang terbuat dari kaca yang menghubungkan dengan balkon. Dari balik pintu itu aku bisa melihat view jalanan depan rumah, komplek perumahan dan aku bisa melihat gedung-gedung tempatku Kuliah. Terutama gedung G yang paling tinggi.

“Rega, Sini !! kamu gak ingin melihat kamar madinya?” Teriak Jessica dari dalam kamar mandi.

Akupun menuju kamar mandi dan dikagetkan oleh Jessica yang berdiri dekat pintu kamar mandi yang kini telah melepas pakaian warna putihnya tadi menyisakan tanktop warna putih yang tidak bisa menutupi belahan payudaranya. Aku tidak melihat tali bra di pundaknya.

Lembaran Yang Hilang Part 6

“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya dia setelah melihatku memandang tubuhnya yang kali ini terlihat jelas kalau Jessica mempunyai pinggang yang langsing.

“kenapa kamu lepaskan pakaianmu?” tanyaku balik.

“oh ini, kamu ga merasa kepanasan? Diluar matahari terik banget, sudah lama hujan tidak turun”

Aneh, meskipun memang diluar cuaca begitu terik dan panas tetapi didalam rumah hawanya cukup dingin karena AC yang dia nyalakan tadi. Yang ada otakku yang kepanasan disuguhi pemandangan bagian dada Jessica yang sedikit terbuka.

“masuklah” perintahnya.

Kuturuti keinginanannya untuk masuk ke dalam kamar mandi tapi dia tetap berdiri di dekat pintu dan hanya memiringkan tubuhnya, jadi aku harus berhati-hati agar tubuhku tidak bersentuhan dengannya. Dia menatapku sambil tersenyum ketika melewati tubuhnya.

Di dalam kamar mandi terdapat wastafel, kloset duduk dan sebuah ruang dengan dinding kaca yang didalamnya terdapat bathtub yang jadi satu dengan shower.

“meskipun bathtub-nya tidak sebesar kamar mandi diluar, tapi cukup kok untuk berendam berdua jika duduknya berpangkuan” Ucapnya dari belakangku “ingin mencobanya?” ucapnya sambil tiba-tiba tangannya merangkul lenganku.

“ah, tidak terima kasih…” ucapku lalu dengan cepat melepaskan tanganku dari dekapan tangannya lalu berjalan keluar kamar mandi. Sepertinya aku mulai tau apa yang direncanakannya. Idenya untuk mencoba bathtub berdua dengannya itu sangat menggoda, bahkan sebenarnya alasan dia melepaskan pakaiannya itu bermaksud untuk menggodaku. Aku harus segera pergi dari rumah ini sebelum aku tidak bisa menahan godaan makhluk Tuhan yang paling pintar memanfaatkan tubuhnya untuk memperdaya otakku yang sangat lemah terhadap rangsangan-rangsangan visual maupun rangsangan fisik.

Tetapi begitu aku membuka pintu kamar, eh? Pintunya tidak mau terbuka alias terkunci. Sial, kapan dia mengunci pintu ini?. Jessica keluar dari dalam kamar mandi, melihatku sebentar tanpa berkata apa-apa lalu berjalan menuju ke tempat tidur.

“Jess Pintunya?”

Dengan santainya tanpa merasa berdosa dia duduk diatas tempat tidur. Aku mendekatinya.

Lembaran Yang Hilang Part 6

“Apa ini maksudnya?” Tanyaku.

“kamu tau apa maksudku. Sini duduk “ Ucapnya sambil menyuruhku duduk disebelahnya, tidak kuturuti kemauannya “aku benar-benar putus asa menunggu rumah ini laku. Karena sebelum rumah ini ada yang membeli atau menyewa, papaku tidak akan membelikan atau menyewakan apartemen untukku”

Akhirnya dia menyebutkan alasan sebenarnya kenapa dia sangat sangat mengingnkan rumah ini jadi kusewa. Memang sudah menjadi fenomena dan trend kalau mahasiswa jaman now lebih suka tinggal di apartemen daripada tinggal di tempat kos.

“Aku bersedia melakukan apa saja agar kamu menyewa rumah ini” ucap Jessica lalu berdiri dan mendekatiku “apa saja” ucapnya sekali lagi sambil membuka kancing rok span yang dia pakai dan dengan gerakan perlahan sambil menatap mataku dia menurunkan rok itu sampai lepas dari kakinya.

Shit, Kini Jessica hanya memakai TankTop yang panjangnya sampai menutupi pahanya. Membuatku semakin penasaran seperti apa yang tersembunyi di balik tanktop itu.

Jessica meraih tangan kananku dengan kedua tangannya “kamu sudah tau apa yang kuinginkan dan jika kamu memberikan apa yang kuinginkan, maka aku akan berikan apa yang kamu inginkan” Ucapnya sambil membimbing tanganku menyentuh payudaranya yang sebelah kiri.

Tanpa dia arahkan lagi, tanganku dnegan sendirinya membelai dan meremas payudara Jessica. Tidak besar tapi sangat lembut, entah kenapa saat meremasnya semua keraguan didalam kepalaku hilang, banyak yang bilang meremas payudara cewek itu bisa membuat perasaan senang dan mampu menghilangkan stress. Dan itu sangatlah benar.

“kamu bisa merasakan detak jantungku?” tanya dia, aku mengangguk pelan.

“ka..kamu kan sudah punya cowok Jess. Kenapa kamu–“ Ucapku sambil mengangkat tanganku dari payudaranya tapi dia menahan tanganku.

“No.. stay !!” Ucapnya sambil menahan tanganku untuk tetap menyentuh payudaranya “kenapa? kamu belum pernah bercinta dengan pacar orang lain?”

Bener-bener gila ni cewek. “kenapa kamu rela melakukan ini hanya demi–”

“Uang bisa membuatku bahagia, aku aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanku. Aku juga tau apa yang bisa membuatmu bahagia..” Kali ini tanganku diarahkan untuk menyusuri bagian bawah tubuhnya, semakin ke bawah sampai tanganku tiba di titik diantara kedua pahanya, menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhnya yang masih tertutupi kain.

“enghhh..”

Jessica mengerang saat jariku mengusap belahan memeknya yang masih terhalang celana dalamnya.

“Deal?” Tanya dia, “achh,, shhhh sebagai bonus, aku akan menemanimu tidur setiap sebulan sekali selama masa sewa berlangsung“ Ucapnya. sebenarnya aku sudah tidak fokus lagi dengan apa yang dia ucapkan. Karena aku merasakan memeknya Jessica susah mulai basah, hangat dan sepertinya enak untuk ditusuk dalam berbagai macam posisi. Faaakk, godaan ini terlalu berat untukku. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak tergoda dengan rumah ini.

“Bagaimana jika Luna sampai tau?” tanyaku. Aku tidak bisa membayangkan jika Luna tau aku tidur dengan sahabatnya.

“maka sebaiknya jangan beritahu dia, ini akan menjadi rahasia kecil kita” Ucapnya “Apakah kita sudah sepakat?” tanya dia

Sepertinya aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menolak godaan ini, semoga suatu saat aku tidak akan menyesali keputusanku ini.

“fakkk…” Ucapku sambil menganggukkan kepala. Jessica tersenyum puas.

“Yes. Fuck Me Rega…!!” Ucap Jessica lalu dia naik ke atas ranjang. Tubuh mungil Jessica terlentang diatas tempat tidur, Kulit tubuhnya bersinar terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca. Matanya pasrah penuh gairah menatapku.

Aku ikut naik ke atas tempat tidur dan merangkak di atas tubuhnya.“Pertama kali selingkuh?” Tanyaku saat aku sudah berada diatas tubuhnya.

“kamu tidak tau apa-apa tentangku Rega, lebih baik tetap seperti itu. tapi aku sudah tau semua tentangmu”

Tak kupedulikan ucapannya langsung kuserang mulutnya dengan mulutku. Jessica menyambut mulutku, membuka mulutnya. Kami berciuman, merasakan rasa dari bibir kami satu sama lain. Bibirnya Jessica yang imut terasa manis di bibirku. Tangannya yang kecil merangkul pundakku dan menekan tubuhku agar menindih tubuhnya secara penuh. Aku bisa merasakan payudaranya yang lebar dan detak jantunya di dadaku. Aku terlena dengan hangat payudaranya, mulutku terbuka dan Jessica mengambil alih atas ciuman kami. Lidahnya yang tak kalah manis dengan bibirnya masuk ke dalam mulutku, membelai lidahku sesekali kurasakan giginya yang putih membelai bibirku.

Beberapa saat kemudian ciuman kami terlepas. Deru nafas kami sudah tidak teratur. Kami saling berpadangan.

“seandainya bukan aku yang datang melihat rumah ini, tapi papaku. Apa kamu akan tetap seperti ini?” tanyaku.

“sudah kubilang, aku akan melakukan apa saja. Aku sudah melihat foto Mr Justin bersama dengan papaku. Aku yakin dia bukan orang tua kandungmu. Kamu harusnya beruntung, sebenarnya aku ingin merasakan bersama Bule.” Ucapnya lalu tersenyum.

“Gilaak. kamu cewek nakal” Ucapku.

“hahaha,ya aku memang cewek nakal. hukum aku karena kenakalanku!!” Ucapnya lalu dia menegakkan kepalanya dan berhasil meraih bibirku lagi.

Jessica begitu binal, Kami berciuman panas sekali lagi, bergantian saling mengulum lidah satu sama lain. Kemudian bibirku turun menciumi leher jenjang Jessica dan menjilatinya dengan lidahku membuat Jessica kegelian.

“jangan tinggalkan tanda apapun, dari sini aku akan bertemu dengan Rafli” Ucapnya memperingatiku. Rafli adalah nama cowoknya yang juga kuliah ditempat yang sama denganku.

Sambil tetap mencumbu leher dan wajahnya, tanganku menyentuh payudara Jessica yang masih tertutup tanktop tipisnya. Sedikit kusingkap bagian dada tanktopnya sampai terlihat puting payudara Jessica yang berwarna merah muda yang sudah terlihat tegak. Kukecup sekali bibirnya Jessica lalu kualihkan bibirku untuk mengulum puncak payudara Jessica yang sudah mengeras.

“enghhh…” Dia mengerang.

Desahannya semakin keras saat putingnya kugesek gesekkan dengan gigiku. Dia merasa kegelian sampai menjambak rambutku. Pada saat payudaranya kuhisap dengan sangat kuat, dia semakin mendesah keras dan semakin menjambak rambutku dengan kuat.

“Achhhhhh..”

Desahan Jessica semakin membuatku bersemangat menghisap, menggigit dan menjilati setiap inchi payudara dan puting Jessica. Tanganku tidak tinggal diam. Kugunakan tanganku untuk meremas payudara Jessica yang lain sambil sesekali menjepit puting payudaranya dengan jari-jari tanganku, membuat Jessica semakin kegelian karenanya.

Puas bermain-main dengan payudara Jessica, kulepaskan semua pakaianku. Jessica masih terdiam memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Begitu dia membuka matanya, Jessica terlihat kaget dengan penisku yang sudah menegang.

“astaga, gede banget..” tanya dia. “bawa sini, aku ingin melihatnya dari dekat” Pintanya.

Seperti yang dia minta, aku duduk bersila dan mendekatkan penisku ke wajahnya. Dia langsung memegang dan mengocok penisku.

“bahkan ini belum tegang maksimal” Ucapnya.

“Achhh..” aku mendesah merasakan gerakan tangan Jessica yang dingin pada penisku. Jessica tersenyum melihat ekpressiku yang sedang merasakan nikmatnya kocokan tangannya.

“Jess.. maukah kamu.. ehmm ahhh”

“apa? Mau minta diemutin?” tanya dia. Tanpa ragu aku mengangguk dengan cepat.

Perlahan Jessica mendekatkan wajahnya pada penisku lalu pertama dia menjilatkan lidahnya ke ujung kepala penisku. Lidahnya yang basah beberapa kali mengusap ujung penisku. Kemudian Jessica mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dia awali dengan menghisap ujung kepala penisku sambil tetap menggerakkan tangannya mengocok penisku. Lalu dia ulangi gerakan menjilati ujung penisku dengan lidahnya, memasukkan penisku ke dalam mulutnya, menghisap ujungnya, lalu mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya. Dia melakukan gerakan seperti itu selama beberapa saat hingga perlahan lahan dia mulai memasukkan penisku lebih dalam lagi di dalam mulutnya. Sampai penisku hampir semuanya masuk di dalam mulutnya Jessica yang hangat. Penisku terlihat mengkilap karena air liurnya Jessica.

“sshhh ahhh..”

Kuakui Dia sangat hebat melakukannya. Sementara Jessica sedang asik mengulum penisku seperti sedang mengulum permen lolipop, tangan kiriku menelusuri bagian bawah tubuhnya. Kusingkap keatas bagian bawah tanktopnya lalu kutarik kebawah celana dalamnya sampai ke pahanya. Dia membantuku melepaskan celana dalamnya sendiri sampai lepas dari kakinya. Kini terlihat jelas memek Jessica yang bersih tanpa bulu. Kusentuhkan tanganku diatas belahan memeknya dan kuusap pelan.

Beberapa kali mengusap belahan memeknya kuberanikan diri memasukkan jari tengah tangan kiriku ke dalam memeknya yang sudah basah. Jessica langsung merintih di sela sela emutannya pada penisku.

“enghhhhh ahhhhh.. ssshhh”

Jariku mulai keluar masuk kedalam memeknya dengan pelan. Bagian bawah tubuh Jessica perlahan terangkat keatas dengan sendirinya. Sambil masih mengulum penisku, Jessica menatapku penuh dengan gairah. Dia sudah tidak kuat lagi merasakan getaran kenikmatan di pangkal pahanya sampai dia menghentikan aksinya mengoral penisku.

“Ahhhh,, iya disitu,,uhhhh”

Memeknya Jessica semakin basah, padahal gerakan jariku masih sangat pelan. “Sssh, lebih kenceng lagi please” Pintanya. Aku tau gerakan jariku yang lambat ini pasti sangat menyiksanya.

“kenceng,,,ngin” Pintanya. Aku hanya tersenyum sama sekali tidak menghiraukan permintannya.

Aku menggelangkan kepalaku “No. bukankah tadi kamu minta untuk dihukum?”

Jessica menangkap tangaku yang sedang fingering di memeknya lalu dia berusaha menggerakkan jariku dengan lebih cepat. Tapi, aku malah menghentikan gerakan jariku. Jessica menatapku kesal. Aku tertawa puas.

“gak lucu. Masukin sekarang !!” Pintanya.

“Tunggu dulu. Masih belum !!” Ucapku menggodanya.

Mendengar ucapanku dia menegakkan badannya lalu mendorong tubuhku sampai aku jatuh terlentang kebelakang diatas tempat tidur. Kini Jessica naik diatas tubuhku kemudian melepaskan tanktopnya. Tubuh mungil Jessica yang polos tanpa ada yang menutupi terlihat jelas di mataku. Lekuk tubuhnya yang mulus, putih tanpa cela terlihat sangat indah, aku baru menyadari kalau sebenarnya Jessica itu cantik. Apalagi saat ini dia sedang merapikan rambutnya, dadanya membusung kedepan, terlihat pangkal lengannya atau bagian ketiaknya yang juga bersih dan terawat.

Lalu Jessica menunduk menempelkan payudaranya di dadaku, perutnya yang hangat ada diatas perutku dan penisku berada tepat di belahan memeknya yang basah.

“kalau kamu cowokku, sudah kuputusin kamu karena berani mempermainkan gairahku” Ucapnya. aku tersenyum.

Jessica mulai menggerakkan tubuhnya, menggesek gesekkan kulit tubuhnya pada tubuhku. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan keinginan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia semakin menekankan tubuhnya pada tubuhku sambil mencumbu bibir dan wajahku. Sesekali bibir Jessica turun mengecup dan menghisap puting payudaraku lalu kembali mencium bibirku. Segala rangsangannya padaku membuat penisku semakin tegak dan semakin menekan bagian atas memeknya Jessica. Aku sudah tidak tahan lagi, kuselipkan tanganku diantara tubuh kami, meraih penisku dan mengerahkannya pada memek Jessica.

“wait.” Cegah Jessica “Kamu bawa kondom?” tanya dia.

“aku tidak pernah memakainya..” Ucapku . masa iya dia tidak mau melanjutkannya karena tidak memakai pengaman? Ahh nanggung banget, sial apa mungkin dia sedang membalasku?.

“Yauda deh gapapa, pokoknya nanti jangan lupa diangkat” Ucapnya.

“ii..iyaa”

Dengan sekali gerakan penisku sudah masuk sangat dalam didalam memeknya Jessica. Dia mengerang keras sambil mendongakkan kepalanya keatas. Kemudian dia ambruk diatas tubuhku dan hanya terdiam sambil memejamkan matanya.

“Jess.. kamu gapapa?”

“Bentar, sshhh, biarkan punyaku membiasakan diri dulu dengan punyamu yang besar” Ucapnya

Sepertinya sebuah kesalahan mengawali dengan posisi dia diatas. Karena gravitasi, dia tidak bisa mengontrol masuknya penisku kedalam memeknya. Apalagi kurasakan memeknya Jessica masih sangat sempit atau memang punyaku yang terlalu besar baginya? Dia pasti merasakan kesakitan pada Memeknya. Kuusap punggung Jessica yang berkeringat, kuremas pelan pantatnya, kuciumi pipinya yang ada di samping wajahku supaya rasa sakitnya hilang. Perlahan Jessica mulai menggerakkan pinggulnya.

“ahhhh,, sshh”

Jessica sedikit menegakkan tubuhnya,kedua tangannya menopang tubuhnya diatas tubuhku. Sepertinya Dia sudah mulai merasakan nikmatnya, pinggulnya semakin bergerak seirama dengan desahan keluar dari mulutnya. Tanganku mencengkram kedua bongkahan bokongnya lalu kubantu pinggulnya untuk bergerak maju mundur diatas tubuhku.

“Ahhh enak banget Gaa,, shhhh”

Sekali merasakan nikmatnya, Gerakan pinggul Jessica semakin cepat. Ekpressi wajah Jessica terlihat sangat seksi saat dia menggigit bibir bawahnya ketika merasakan penisku menusuk memeknya sangat dalam. Payudaranya yang menggantung bergerak indah mengikuti gerakan pinggulnya. Sesekali kutegakkan kepalaku untuk mengecup dan menghisap puting payudaranya.

Tak terasa pinggulku ikut bergerak ke atas. Kuangkat tubuhku keatas bersamaan Jessica menurunkan pinggulnya. Kami berdua saling menabrakkan tubuh kami, membuat semakin nikmatnya pertemuan kelamin kami.

“Ssshhhh,, Masukin jarimu Ga” Perintahnya, tapi aku belum tau maksudnya.

“masukin kemana?”

“ahh,, pantat,,”

Hah? Dia ingin jariku masuk di dalam lobang pantatnya?. Kuturuti kemauannya dengan memasukkan jari tangah tangan kiriku ke dalam lobang pantatnya Jessica. Begitu hangat di dalam sana. Dia semakin kesetanan menggerakkan pinggulnya.

“achhhhhhhhh,, achhhhhhh.. shhhhhh sumpah enak banget..”

“ka,,mu pernah anal?” tanyaku. Dia mengangguk.

“sering,, achh,, tapi jangan coba-coba melakukannya padaku,, achhh, seandainya kamu membeli rumah ini, baru kamu boleh meng-analku” Ucapnya.

Pinggul Jessica masih bergerak indah diatas tubuhku. Kenikmatan yang terpancar dari cara goyangan tubuhnya dan ekpressi wajahnya terlihat begitu jelas. Masih kuamati wajahnya, melihat bibirnya yang sedikit terbuka serta mendengar erangan dan nafasnya yang pelan sambil sesekali menyebut namaku, Dia terlihat begitu luar biasa. Jessica bergerak semakin cepat dan menekan tubuhku semakin cepat. Membuat gesekan memeknya pada penisku terasa semakin nikmat.

“ahhh emmmhhhhhhh acchhh aku mau nyampek” Ucapnya.

Gerakan pinggulnya naik turun kini semakin cepat. Lobang pantatnya semakin kutekan dengan jariku supaya orgasme yang akan dia capai semakin klimaks. Suara gesekan penisku pada memeknya yang sudah basah terdengar begitu nyaring dipadu dengan rintihan mulutnya yang sangat pedas. Bebeberapa saat kemudian dia mengerang sangat panjang menandakan sebuah klimaks, sebuah kepuasan yang telah dia rasakan. Setelahnya dia mencium atau menekan bibirku dengan sangat kuat lalu tubuhnya terkulai lemas diatas tubuhku. Jessica sudah sampai pada orgasmenya yang pertama.

“hah hah hah shhh Kontolmu enak banget Ga” Ucapnya dengan nafas yang tersengal.

Kuusap punggungya yang licin karena keringat. Kukecup pipinya, menghirup aroma tubuhnya. Aku selalu merasa senang bisa membantu cewek mencapai orgasmenya. Bahkan terkadang aku tidak peduli dengan orgasmeku sendiri.

“punyamu juga sempit Jess,” Balasku memujinya.

Jessica masih tidak berdaya diatas tubuhku, berat tubuhnya tidak ada apa-apanya karena dia sangat mungil.

“Bentar ya sayang” Ucapnya. eh? Sayang? “Beri aku waktu untuk memulihkan tenagaku, baru pertama kali aku merasakan nikmat seperti ini” Ucapnya. Kupeluk tubuhnya agar dia merasa nyaman.

Beberapa saat kemudian dia bangkit langsung tengkurap dengan kepala tepat diantara kedua pahaku sampai setengah badannya harus barada dibawah ranjang. Kembali dia mengocok penisku dengan perlahan. Lalu dia mulai menjilati pangkal penisku, testis dan beberapa kali kurasakan lidahnya diusapkan di belahan pantatku.

“ahhh Jessss” Rasa geli tak tertahankan kurasakan saat lidahnya yang basah mengusap lobang pantatku, aku sampai kaget dia mau menjilati area situ. Dia tetap melakukannya sambil mengocok penisku. Perlahan penisku yang awalanya melemah kini mulai tegang kembali.

Aku bangkit, lalu kuraih tubuhnya untuk naik keatas tempat tidur lagi. Lalu kuposisikan tubuh mungil Jessica nungging diatas tempat tidur lalu kulebarkan kakinya agar lebih mengangkang. Belahan pantat Jessica terlihat sangat menantang, kussap belahan itu dengan lidahku. Dia mendesis pelan. Kubuka lebar belahan pantat Jessica, lalu Kubalas perbuatannya tadi dengan menjilati lobang pantatnya. Jessica semakin mengerang.

“enghhhh.. emmhh”

Beberapa menit aku merangsang Jessica dengan mengeksplor bagian pantatnya sampai memeknya basah lagi. Lalu Kuposisikan tubuhku nungging diatas diatas tubuh Jessica. Kukecup punggung, pundak dan lehernya nya di beberapa tempat. Waktu dia menoleh ke belakang langsung kekecup bibirnya yang lembut.

Aku yang sudah tidak tahan, mulai memasukkan penisku ke dalam memeknya secara perlahan dan sangat pelan supaya dia tidak lagi merasakan sakit seperti tadi. Hingga akhirnya memek Jessica sudah terbiasa dengan penisku dan aku mulai menggerakkan pinggulku sedikit lebih cepat.

“ohhh.. ssshh,, Gaaaaaa”

Beberapa menit kemudian aku masih menggenjot memek Jessica dari belakang. Kutekan pantat Jessica dengan kedua tanganku lalu pinggulku bergerak maju mundur dengan cepat. Rasa yang tercipta dari gerakan seperti ini semakin membuatku tergila-gila, itu sebabnya aku begitu menyukai posisi doggy.

“achhh..ahhhhh ahhh”

“akhh, ahhhh ahhhhhhhhhh”

Suara desahan kami saling beradu. Aku menunudukkan tubuhku diatas tubuh Jessica. Lalu kuraih kedua payudara Jessica dari belakang kemudian kutegakkan tubuhnya. Aku men-doggy Jessica dengan tubuhnya sedikit terangkat sambil kedua payudaranya semakin kuremas dengan kuat dari belakang. Walaupun posisi ini agak susah kami lakukan karena perbedaan tinggi badan kami. Namun tetap kutabrak tubuh Jessica dari belakang sampai tercipta suara bertemunya tubuh kami yang begitu nyaring.

Aku semakin tidak tahan ingin segera sampai ke puncak orgasme, tapi disatu sisi aku tidak ingin kenikmatan ini pergi begitu cepat. Aku harus bisa mengontrol diriku supaya kenikmatan ini bisa bertahan lebih lama lagi. Kutarik penisku keluar sepenuhnya dari memek Jessica lalu kubalikkan tubuhnya menghadapku. Dia menatapku heran, lalu kutuntun tubuhnya untuk terlentang di atas tempat tidur.

Kembali kumasukkan sepenuhnya ke dalam Memek Jessica yang sudah sangat basah. Kembali kugerakkan pinggulku. Jessica memejamkan matanya setiap kali penisku menghujam memeknya sangat dalam bersamaan keluarnya suara desahannya yang putus putus yang kini terdengar serak namun tetap menggiurkan.

Kenikmatan yang kurasakan pada penisku didalam memeknya Jessica semakin membuatku tergila-gila. Semakin kuhentak tubuh Jessica dengan kuat sampai membuat payudaranya tidak berhenti bergerak naik turun. Jari jemari Jessica mencengkram sprei diatas kepalanya, memperlihatkan padaku kulit ketiaknya yang mulus. Gesekan dan cengkraman memek Jessica yang hangat terasa semakin nikmat kurasakan. Ekpressi wajahnya yang sedang keenakan membuatku terpesona. Dan suara rintihan Jessica yang terdengar seperti orang yang sedang kepedesan semakin mebuatku bersemangat menggerakkan pinggulku dengan cepat. Benar-benar sebuah kenikmatan yang sempurna, rasanya selamanya tidak ingin menghentikan kenikmatan ini. Gelombang gairah dan hasrat telah menenggelamkan kami berdua.

Tapi sekuat apapun mencoba untuk mempertahankan kenikmatan ini aku tetap tidak bisa menahannya terlalu lama. Aku menyerah. Menyerah pada gelombang kenikmatan. Sepertinya sudah waktunya, pikirku. Aku sudah hampir tiba di puncak kepuasanku. Kulihat tubuh Jessica semakin melengkung ke atas dan semakin mengejang. Kepuasanku semakin memuncak. Sebelum terlambat, akhirnya kucabut penisku keluar dari memeknya. Tubuhku menegang hebat. Kurasakan perasaan yang sangat menakjubkan bersamaan dengan banyaknya sperma yang dikeluarkan penisku diatas tubuh Jessica. Kami berdua mengerang panjang bersamaan.

Perlahan kurasakan pinggulku melemah hingga membuatku ambruk diatas tubuh mungil Jessica. Dia memelukku sangat erat sambil menciumi bibirku. Kurasakan basah disetiap tubuh kami berdua karena bercampurnya keringat.

Beberapa menit kemudian aku baru tersadar kalau aku sedang menindih tubuh mungil Jessica. Aku langsung memindahkan tubuhku ke samping tubuh Jessica. Tidur miring menghadapnya, dia mengikuti posisiku dengan tidur miring menghadapku. Kami berdua saling memandang dan tersenyum sambil mengendalikan nafas. Kulihat spermaku diatas perut jessica, instingku sebagai cowok langsung bekerja.

“apakah ada handuk di kamar mandi?” Tanyaku padanya. Dia mengangguk.

Aku langsung berlari kecil menuju ke kamar mandi dan menemukan handuk kecil yang tersimpan rapi dibawah wastafel. Kubasahi handuk itu dengan air lalu kugunakan untuk membersihkan spermaku ditubuh Jessica.

“kamu sweet banget” ucapnya.

Beberapa menit kemudian kami sudah rileks dan berbincang bincang kecil dan bercanda sambil tiduran diatas tempat tidur masih dalam keadaan bugil.

“kukira kamu tadi akan meng-analku. Kenapa kamu tidak melakukannya? belum pernah?” Tanya Jessica.

“Pernah, tapi tadi kamu kan melarangku!”

“kamu terlalu idiot sebagai cowook playboy.. aku tidak akan marah meskipun tadi kamu memaksa untuk menganalku”

“hah? Mungkin lain kali.. uhmm tapi, kuyakin kamu tidak bersungguh sungguh dengan bonus yang tadi kamu katakan” Ucapku. Jessica menaiki tubuhku.

“Awalnya aku tidak bersungguh-sungguh. Tapi setelah tau rasanya, sepertinya aku yang bakalan mengingatkanmu tentang bonus yang tadi kutawarkan. Kontolmu enak banget Ga. Kamu juga hebat, lebih jago dari cowokku.” Ucapnya lalu mencium bibirku.

“Kamu tidak menipuku kan?” Tanya dia.

“Tenang aja, aku sudah memberitahu kakakku kalau aku jadi menempati rumah ini. Hari ini juga papaku akan membayar sewanya untuk satu tahun pertama” Ucapku meyakinkannya.

“Baiklah, makasih ya” Ucapnya tersenyum sangat manis “Aku harus segera pergi, kamu bisa meninggalkan rumah ini duluan aku mau mandi dulu”

“Uhmm, apakah tawaran mencoba berendam berdua di bathtub masih berlaku?” Tanyaku. Dia tersenyum lagi setelah mendengar pertanyaanku lalu dia mengangguk.

Dan akhirnya kami berdua berendam berdua selama 30 menit di bathtub. Hanya berendam dan mandi bersama, tidak ada lagi acara bercinta karena kami sudah cukup letih setelah pertempuran tadi. Selesai mandi aku sudah memakai lengkap bajuku dan Jessica sudah rapi dan wangi seperti pertama kali kami bertemu tadi. Dia sedang merapikan rambutnya di kamar mandi.

Setelah itu bersama-sama kami keluar dari rumah ini.

“Kamu tidak kan mengatakannya kepada Luna kan?” Tanyaku padanya saat kuantar dia menuju mobilnya.

“Luna itu sahabatku, aku tidak akan mengatakan kalau aku pernah tidur bersama cowok yang sedang dekat dengannya” Ucapnya sambil memasuki mobilnya “Luna itu cewek paling baik yang pernah kukenal, sangat baik. Please jangan sakiti dia. Tanyakan pada dirimu sendiri !! kalau kamu ragu tidak akan pernah menyakitinya, lebih baik kamu jauhin dia”

Tidak seperti kata-katanya tadi yang penuh dengan celaan padaku. Kali ini Jessica mengatakannya dengan tulus. Aku mengangguk pelan dan kamipun berpisah.

.

.

.

BERSAMBUNG

END – Lembaran Yang Hilang Part 6 | Lembaran Yang Hilang Part 6 – END

(Lembaran Yang Hilang Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(Lembaran Yang Hilang Part 7)